• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stoasisme Kuno

Dalam dokumen PRAKATA. Surabaya, Juni Xaverius Chandra (Halaman 35-47)

(abad IV SM)

1.Apakah arti etika bagi Kaum Stoa? Etika tampak sebagai seni hidup menuju kebahagiaan.

2. Bagaimanakah realitas dan kodrat manusia dalam pandangan Kaum Stoa? Dalam realitas yang duniawi dan yang ilahi menyatu. Ada jiwa semesta (logos). Stoa melihat realitas sebagai yang tunduk pada determinisme sehingga diakui adanya takdir. Bagaimanakah kodrat itu menurut Kaum Stoa? Menurut Zeno kodrat manusia itu secara esensial rasional sehingga “sesuai dengan kodrat” berarti hidup “sesuai dengan rasio.” Ini berarti manusia harus hidup sesuai dengan kesempurnaan dirinya sendiri sesuai dengan kodrat manusiawinya sebagai pengada rasional. Keutamaaan terletak di sini. Cleanthe menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kodrat di sini bukan kodrat partikular manusia, melainkan kodrat komunal universal manusia. Menurut Chrysippe kodrat hadir dalam “impuls” yang mengarah pada “tujuan.” Menurutnya ini impuls-impuls pertama yang menggerakkan secara natural manusia untuk berkembang sesuai dengan rasio dalam hidupnya. Bagi Kaum Stoa tujuan natural dan pengamatan empiris atas perilaku manusia menunjukkan bahwa kecenderungan pertama manusia adalah bukan mencari kesenangan, melainkan kegelisahan diri

35

sendiri, insting pemeliharaan dan perkembangan diri sendiri. Kodrat membuat diri manusia dekat akrab dengan dirinya sendiri secara instingtif yang mewujud langsung seketika itu melalui kesadaran. Bagi Kaum Stoa kebaikan disusun dari koherensi rasional antara pilihan-pilihan dan tindakan-tindakan yang sesuai dengan perwujudan kodrat itu sendiri yang rasional. 3. Apakah ada tujuan dalam Etika Stoa? Ya, seperti semua etika kuno Etika Stoa melihat semua tindakan manusia diarahkan pada tujuan yang pada waku yang sama dipandang sebagai apa yang diinginkan, dengan adanya tujuan-tujuan yang dilihat juga sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain yang lebih tinggi, sampai pada tujuan tertinggi, yaitu kebahagiaan. Sejarah etika stoisme juga berisi rangkaian rumusan tujuan (telos) ini. Misalnya, pada Zeno ada definisi tentang “telos” sebagai

“homo-logoumenos” (“hidup sesuai dengan”), yang menunjuk pada

suatu kesesuaian dengan rasio (logos). Tujuan manusia adalah hidup sesuai dengan kodrat. Ini menuntut orang mengerti dengan tepat apa yang dimaksud dengan kodrat. Ini menunjukkan etika stoaisme sebagai etika otonomi rasional di mana kebaikan tertinggi identik dengan tiadanya konflik internal dan kesesuaian dengan dirinya sendiri, yang dibuat ada karena rasio yang mengontrol pada jiwa. Emosi-emosi (passions) bukan dorongan yang antagonis maupun independen bagi rasio. Passion merupakan kesalahan dalam pertimbangan dan dorongan yang berlebihan. Terhadap passion etika tidak mencari cara untuk memoderasinya, tetapi untuk meniadakannya sepenuhnya. Bukan ekses dari passion itu yang berbahaya, melainkan passion itu sendiri karena passion itu sendiri ekses.

36

4. Apakah baik dan buruk bagi Kaum Stoa? Menurut Kaum Stoa ada hubungan seketika antara kebaikan dan kegunaaan (apa yang baik bagi pelaku). Semua hal dalam hidup sehari-hari seperti kesejahteraan, kesehatan, kekuatan, kekuasaan, kekayaan tidak bisa dinilai sebagai kebaikan. Itu semua dapat merugikan ketika orang menggunakannya dengan buruk. Orang juga dapat bahagia tanpa memiliki itu semua. Zeno menunjukkan bahwa nilai-nilai natural tidak ditiadakan, tetapi dipelihara dan dilampaui oleh nilai moral. Nilai-nilai natural itu tidak menyusun kebahagiaaan, misalnya kesehatan lebih diinginkan daripada penyakit dan secara rasional manusia berusaha memeliharanya, namun ini independen dari kehendak pelaku sehingga tidak mempengaruhi apa-apa bagi keutamaan dan kebahagiaan. Chrysippe menunjukkan bahwa kebaikan tertinggi adalah hidup dengan menggunakan pengetahuan akan benda-benda yang muncul dari kodrat, dengan memilih hal-hal yang sesuai dengan kodrat dan menolak apa yang bertentangan dengannya.

5. Bagaimanakah manusia yang ideal itu? Manusia yang ideal adalah manusia yang memiliki autarkia, yang diartikan sebagai kemandirian pada diri sendiri dalam segalanya, yaitu yang bisa sesuai dengan hukum alam. Orang yang berhasil hidupnya adalah dia yang bisa mempertahankan dirinya dengan menyesuaikan diri dengan hukum kodrat. Kemampuan menyesuaikan diri dengan hukum kodrat inilah yang mendatangkan kebahagiaan. Di sini pun ada “ataraxia” dan “apathia,” yaitu sikap tak tergoyahkan dalam bersatu dengan

37

hukum alam yang bebas dari nafsu. Ideal manusia adalah yang menundukkan nafsunya, yang selaras sempurna dengan hukum alam, dan yang memiliki ketenangan batin yang teguh. Dari sini bisa ditarik bahwa perbuatan baik adalah perbuatan yang disesuaikan dengan hukum kodrat. Di sini manusia dari kemauannya sendiri mengikuti hukum kodrat. Di sisi lain, kewajiban dapat dilihat sebagai ketundukan dari kemauan sendiri manusia pada hukum alam itu.

6. Bagaimanakah keutamaan dalam perspektif stoa? Keutamaan terletak dalam aplikasi kewajiban, yaitu kehendak yang disesuaikan dengan hukum kodrat, kebijaksanaan moral, keberanian, penguasaan diri, dan kemanusiaan. Keunggulan moral terletak dalam keutamaan rasional, yang juga merupakan syarat yang harus dan memadai dari kebahagiaan karena ia mewujudkan secara sempurna kodrat manusia.

38

6. ST. AGUSTINUS

(354-430)

1. Apa itu moralitas menurut St. Agustinus? Moralitas itu pemikiran tentang apa yang menyusun hidup yang baik dan bertindak yang baik, tentang perwujudan kebahagiaan. Moralitas juga ditunjukkan sebagai tuntuan yang tepat dari suatu tatanan di mana padanya ada subordinasi hirarkis yang lebih rendah pada yang lebih tinggi secara harmonis.

2. Apa peran kehendak manusia dalam moralitas? Dengan kehendak manusia bebas untuk memilih yang baik atau buruk. Kebebasan kehendak ini yang bagi St. Agustinus menentukan kualitas moral seseorang (bukan tindakan lahiriahnya). Yang dimaksud di sini adalah adanya niat untuk merealisasikannya. Akan tetapi, menurut St. Agustinus, kehendak, termasuk yang serius sekali berusaha mewujudkan keinginannya, bisa tidak terlaksana oleh karena faktor luariah. Di sini kehendak baik saja sudah berarti secara moral. Allah melihat hati manusia dan hati itu penentu. Kehendak atau sikap hati ini menentukan nilai moral. Kehendak membuat manusia memiliki keterarahan. Sebagai inti batiniah ia dapat melahirkan sikap yang bisa mewujud secara realistis. Dengan kehendaknya manusia bisa mengarahkan dirinya pada Allah. Makin hati manusia dalam cinta terarah pada Allah, maka tindakannya makin mencerminkan keterarahan itu: “cintailah, dan lakukan saja apa

39

yang kau kehendaki.” Cinta yang terarah pada Nilai Tertinggi lebih “tahu” yang benar sesuai hukum Allah. Cinta memberi pengetahuan tentang baik dan benar tanpa bergantung pada hukum. Selanjutnya, dengan mencintai Allah dengan mendahulukan Allah daripada diri sendiri ini manusia bisa mencintai diri sendiri karena mencintai Sang Pencipta membuat si pencinta makin menemukan diri sendiri dan mencintai dirinya. Cinta diri ini berbeda dengan cinta pada diri sendiri yang menghalangi cinta pada Allah dan karenanya menghambat untuk mencintai diri sendiri. Kehendak manusia bisa diperlemah oleh nafsu-nafsu dagingiah tak teratur (concupiscentia). Nafsu-nafsu rendah perlu dikalahkan untuk mengembangkan diri, mencapai identitas sepenuhnya, mengalami kegembiraan, dan mencapai kebahagiaan sejati serta agar berkenan di hati Allah. Tampak bahwa St. Agustinus terpengaruh katharsis neoplatonisme, yaitu pembersihan diri untuk bersatu dengan Yang Ilahi. Nafsu-nafsu rendah akibat dosa manusia pertama melemahkan kodrat manusia sehingga roh kalah kuat terhadap ”daging” dan karenanya tidak dapat menjadi tuan atas diri sendiri. Manusia tidak bisa menyelamatkan diri dari nafsu-nafsu rendah karena kehendaknya sudah dilemahkan. Ia dapat selamat karena rahmat atau belaskasih Allah yang menyembuhkannya dari dalam.

3. Apa itu hidup yang baik menurut St. Agustinus? Hidup yang baik adalah hidup yang menuju kebahagiaan. Kebahagiaan merupakan tujuan, sedangkan etika adalah jalannya. Etika merupakan ajaran tentang hidup yang bahagia.

40

4. Apa itu kebahagiaan menurut St. Agustinus? Kebahagiaan adalah menyatunya nilai objektif dan nilai subjektif dengan menyatunya cinta manusia dengan Allah. Kebahagiaan ditemukan hanya dalam Allah yang personal dan terlibat dalam sejarah manusia. Allah merupakan kebahagiaan manusia. Secara objektif Allah merupakan nilai tertinggi. Karena itu, manusia tertarik pada Allah, penciptanya. Secara subjektif Allah merupakan prinsip terakhir segala nilai moral. Persatuan dengan Allah yang membuat kebahagiaan, dan ini menyusun tujuan manusia. Kebahagiaan hadir berupa ketentraman. Tiap orang menginginkan ketentraman. Ketentraman sempurna dicapai tidak di dunia, tetapi dalam persatuan dengan Allah. Manusia bisa mencicipi kebahagiaan melalui keutamaan.

5. Apa itu keutamaan? St. Agustinus menunjukkan bahwa keutamaan itu menunjuk apda rasio yang tujuannya sesuai dengan kebahagiaan. (Solil, I, 6, 13) Keutamaan terletak dalam rasionalitas harmonis dari seluruh hidup manusia. “Hidup manusia berbahagia dan damai sepanjang seua gerakannya sesuai dengan rasio dan kebenaran.” (De Gen c. Man., I, 20, 31). Ini dimengerti dalam hubungan rasionalitas dan tatanan yang sangat erat dan kerap diidentikkan. Keutamaan sebagai rasionalitas dalam tindakan terarah mengikuti tatanan rasional atau tatanan yang ditulis oleh Allah dalam kodrat segala sesuatu. “Keutamaan adalah tindakan habitual dari roh yang sesuai dengan kodrat dan rasio.” (De div. Quaest., LXXXIII, 31, 1). Hidup selaras secara rasional merupakan hidup manusia yang penuh. Kesesuaian dengan tatanan selama hidup membawa manusia pada Allah dan sebaliknya ketidaksesuaian dengannya menghalangi sampai pada Allah (De ord., I, 9, 27). Di sini ada cara

41

pandang pula akan dunia sebagai suatu hirarki kosmis yang tertata yang merefleksikan rasionalitas ilahi yang di atasnya semua didirikan. Tugas moral manusia adalah menyesuaikan keinginan-keinginan dan tindakan-tindakannya dengan tatanan ini. Pernyataan St. Agustinus tentang keutamaan berikut meneguhkan ini: “Definisi singkat dan benar dari keutamaan adalah cinta akan tatanan.” (City of God, XV, 22) Pada kodrat ciptaan sudah tertulis nilai-nilai. Dapat dirumuskan bahwa keutamaan merupakan kemantapan kehendak manusia dalam sikap-sikap dan tindakan-tindakan baik sesuai dengan tatanan kodrati di mana padanya ada kebebasan kehendak dari keterikatan pada keinginan rendah yang tidak teratur (concupiscentia). Di sini ada penundukan semua gerakan jiwa (keinginan-keinginan tidak teratur dagingiah) pada intelek dan roh. Menurut St. Agustinus keutamaan itu pertama-tama berupa cinta pada Allah: “Jika keutamaan membawa kita ke jalan kebahagiaan, aku akan menegaskan bahwa keutamaan itu tak lain secara absolut daripada cinta tertinggi pada Allah.” (De mor, I, 15, 25) Keutamaan ini berkembang oleh karena rahmat Allah, bukan karena kekuatan manusia.

6. Apa maksud dari cinta pada Allah? St. Agustinus melihat suatu afinitas antara cinta akan Kesatuan, Kebaikan, dan Keindahan. Hanya cinta pada Allah yang dapat memberikan kebahagiaan. Dalam hubungan dengan cinta pada Allah ini dapat dielaborasi keutamaan sebagaimana ini tampak pada empat keutamaan kardinal tradisional menerima ekuivalennya masing-masing dalam diskursus St. Agustinus tentang cinta: “Ketahubatasan, demikian dapat kita katakan, adalah cinta Allah yang dipelihara seluruhnya dan tanpa henti; keberanian, cinta yang menopang

42

semua dengan mudah oleh karena Allah; keadilan, cinta untuk melayani Allah saja dan yang, untuk itu, memerintahkan yang baik pada hal-hal lain yang tunduk pada manusia; kearifan, cinta yang menilai dengan baik hal-hal yang membantu untuk Tuhan dari hal-hal yang membuat halangan.” (De mor., I, 15, 25) Di sini tampak korespondensi keutamaan tradisional dan suatu moralitas yang didefinisikan dalam perspektif cinta. Di samping itu, cinta kita distrukturisasi oleh pusat acuannya yang tepat yaitu Allah, Kebaikan tertinggi. “Aku menyebut cinta kasih gerakan roh menuju penikmatan Allah untuk diri-Nya sendiri dan dari dirinya sendiri dan sesama untuk Allah; konkupisensia gerakan roh menuju penikmatan diri sendiri, sesama dan badan apapun, tapi tidak untuk Allah.” (Doctr. Chret, III, 10, 16). Kualitas moral dari cinta manusiawi bergantung dari pusat acuan tertingginya, yang menentukan semua pilihan, evaluasi, dan tindakan yang lain. Di sini ada antitesis antara cintakasih dan konkupisensia yang ditempatkan dalam oposisi antara yang baik dan yang buruk, dan juga antara kekudusan dan dosa, kesombongan dan kerendahan hati, kerakusan dan keserakahan. Cinta kasih dan konkupisensia memberikan kunci bagi orientasi penggunaan dan penikmatan yang saling mengurangi dalam arti pertambahan penggunaan mengurangi penikmatan dan sebaliknya.

Bagaimana dengan cinta pada Allah manusia bisa mencapai Allah? Manusia adalah ciptaan Allah. Ia terarah pada Allah. Manusia sampai pada Allah karena kehendak. Pada kehendak ada cinta yang menggerakkannya untuk mencintai Allah di dunia. Lagipula, Allah berada dalam lubuk hati manusia. Karena itu, gerakan hati manusia menunjukkan adanya

43

kerinduan padanya akan nilai tertinggi (Allah) berupa cinta pada Allah yang memungkinkan manusia sampai pada Allah. Cinta pada Allah diungkapkan dalam skema tatanan cinta (ordo

amoris). Dalam tatanan ini tampak bahwa cinta pada yang

duniawi harus sesuai dengan kehendak Allah. Dalam tatanan cinta diutamakan yang nilainya lebih tinggi. Yang paling rendah adalah cinta pada barang-barang duniawi yang dapat hancur. Di atas ini adalah cinta pada sesama dan diri sendiri. cinta yang paling tinggi adalah cinta pada Allah. Cinta pada Allah itu tanpa ukuran.

Sehubungan dengan cinta ini dibedakan oleh St. Agustinus apa yang bernilai pada dirinya sendiri dan apa yang merupakan sarana. Benda-benda material fana lebih untuk dipakai alih-alih dinikmati. Semakin tinggi nilai barang, maka ia lebih untuk dinikmati alih-alih dipakai. Menikmati di sini bukan dalam arti inderawi atau pasif, melainkan terbuka pada nilai instrinsik objek dengan cara menyatukan kehendak manusia pada objek tersebut atau objek demi objek itu sendiri. Di sini objek tidak diperalat sebagai sarana. Menyatukan diri dengan nilai intrinsik sama dengan menikmati dan ini sesuatu yang aktif.

7. Apakah yang dimaksud dengan “Hukum Moral” dalam pemikiran St. Agustinus? Hukum Moral menunjuk pada Hukum Abadi Ilahi yang tertera dalam hati manusia. Tertarik pada Allah membuat manusia tertarik pada hukum-Nya yang diletakkan dalam ciptaan. Manusia tertarik pada yang baik, nilai-nilai, norma-norma. Menaati hukum moral dilakukan dengan dorongan hati yang menanggapi suatu nilai moral. Akan tetapi,

44

hukum ilahi bukan sesuatu yang otomatis dipenuhi manusia karena pada manusia ada kehendak. Manusia mempunyai kehendak bebas, termasuk untuk mentaati atau tidak hukum ilahi. Kehendak manusia inilah yang bisa mematuhi hukum abadi ilahi yang merupakan rasio tertinggi yang harus selalui dipatuhi. Hukum Abadi itu merupakan rasio ilahi atau kehendak Allah yang menata dan memelihara tatanan natural sehingga menuntut dipatuhi dan tidak dilanggar. Yang mematuhinya akan mengalami hidup yang membahagiakan, dan sebaliknya. Rasio ilahi atau Hukum Abadi itu berbeda dengan tatanan kodrati. Kehendak ilahi itu harus dipatuhi bukan hanya dalam lapisan kodrati, melainkan juga dalam tindakan manusia.

8. Apa yang dimaksud dengan dosa? Menurut St. Agustinus kekurangan kesesuaian dengan tatanan atau kekacauan tatanan merupakan dosa. Ia merupakan penyimpangan sengaja yang merusak tatanan yang ditulis oleh Allah dalam ciptaan. Kekacauan tatanan ini tampak pada jiwa yang berpaling dari penciptanya untuk mengarah pada ciptaan-ciptaan yang lebih rendah. (De div. quaest. ad simpl., I, II, 18). Penyimpangan ini berakar pada dosa dasar, yaitu kesombongan. Pada dasarnya penyimpangan ini merupakan pemberontakan jiwa (De mor., I, 12, 20) yang merupakan keinginan menjadi tuan yang setara dengan Allah, yang merupakan keinginan menjadi otonom dan tidak mau tunduk. St. Agustinus membedakan memakai (uti) dan menikmati (frui). “Kita menyebut menikmati sesuatu yang memikat kita oleh dirinya sendiri tanpa harus menghubungkannya dengan hal yang lain; dan menggunakan sesuatu yang kita cari untuk hal yang lain.” (City of God, XI, 25) “Menikmati itu melekat pada suatu hal demi cinta akan hal itu

45

sendiri; memakai itu menggunakan semua yang kita pakai untuk memperoleh apa yang kita cintai, suatu syarat orang seharusnya mencintai.” (Doctr, chret., I, 4, 4). Menurutnya hal-hal dalam hidup di dunia ini harus digunakan untuk mencapai penikmatan hal-hal abadi (Allah), sebagai satu-satunya objek dari penikmatan. Hal-hal duniawi merupakan sarana bagi tujuan abadi.

46

Dalam dokumen PRAKATA. Surabaya, Juni Xaverius Chandra (Halaman 35-47)

Dokumen terkait