PERWAKAFAN DAN PARTISIPASI STAKEHOLDER DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN MANAJEMEN
C. Konsep Stakeholder dalam Good Governance 1. Good Governance
2. Stakeholder dalam Good Governance a. Pengertian Stakeholder
R. Edward Freeman tokoh Teori Stakeholder memberikan definisi yang sangat luas tentang stakeholder. Menurut Freeman, stakeholder dalam suatu organisasi adalah setiap kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi. Definisi ini diakui secara luas karena posisinya menonjol dalam teori stakeholder. Definisi tersebut banyak dikutip sebagai titik awal dalam memberikan pemahaman tentang stakeholder, yang dibedakan antara stakeholder yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perusahaan (Freeman, 2010:46).
Kategorisasi ini secara menyeluruh dianalisis oleh Mitchel, sebagaimana dikutip Abe J. Zakhem (2008:181), bahwa definisi stakeholder memiliki relevansi langsung dengan kepentingan inti organisasi atau kebutuhan mereka untuk kelangsungan hidupnya. Clarkson membuat perbedaan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) primer dan sekunder. Sebuah kelompok stakeholder utama sangat penting untuk kelangsungan hidup organisasi, yang tidak terjadi untuk kelompok stakeholder sekunder (Abe J. Zakhem, 2008:181).
b. Jenis Stakeholder
Dalam manajemen, identifikasi stakeholder dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu stakeholder primer (primary stakeholder) dan stakeholder sekunder (secondary stakeholder). Stakeholder primer adalah pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi ekonomik dengan perusahaan yang berkaitan dengan tujuan menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat (Warsono, 2009:28-29).
Stakeholder primer meliputi pemegang saham, kreditur, pemasok, pelanggan, karyawan, dan distributor. Hubungan antar stakeholder primer yang diilustrasikan Lawrence dan Weber sebagaimana dikutip oleh Sony Warsono (2009:32) dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2. Stakeholder Primer
Tiap-tiap hubungan didasarkan pada transaksi pertukaran dua arah. Pemegang saham melakukan investasi ke perusahaan. Atas investasi yang dilakukan, sebagai imbalannya, pemegang saham menerima dividen dan capital gains (Warsono, 2009:32). Pola hubungan saling menguntungkan ini terjadi karena perusahaan mendapatkan modal yang dapat ia usahakan, dan sebagai kewajibannya perusahaan harus memperhatikan investor selaku stakeholder.
Apabila dikaitkan dengan perwakafan, stakeholder primer ditempati oleh wa>qif, sebab posisi wa>qif identik dengan pemegang saham yang melakukan investasi. Meski demikian, penempatan wa>qif sebagai stakeholder primer tidak
Karyawan Pelanggan Distributor Kreditur Pemegang Saham Pemasok Perusahaan
bisa didentikkan penuh, sebab kalau investor menanamkan modal dan sebagai imbalan mendapat keuntungan materil (dividen dan capital gains), sedang wa>qif ketika berwakaf tidak mengharapkan keuntungan materiil. Sedangkan yang dimaksud stakeholder sekunder adalah pihak yang walaupun tidak terlibat secara langsung, tetapi menjadi pihak yang dipengaruhi atau mempengaruhi tindakan perusahaan. Pihak yang dikategorikan stakeholder sekunder yaitu komunitas, pemerintah, aktifis, media, dan masyarakat umum (Warsono, 2009:33).
Stakeholder sekunder meliputi komunitas, berbagai level pemerintahan, non government organization (NGO), media, kelompok pendukung bisinis, dan masyarakat. Hubungan antar stakeholder sekunder diilustrasikan Lawrence dan Weber seperti dikutip Sony Warsono (2009:34) digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.3. Stakeholder Sekunder
Pada gambar 1 dan 2 hubungan perusahaan dengan stakeholder digambarkan secara sederhana. Kedua gambar memperlihatkan perusahaan
Komunitas Kelompok pendukung bisnis Masyarakat umum Kelompok aktifis Pemerintah Media Perusahaan
sebagai pusat sistem. Gambar itu menunjukkan hubungan perusahaan dengan tiap stakeholder, tetapi tidak menunjukkan hubungan antar stakeholder. Karena itu, terdapat cara yang lebih tepat untuk memvisualisasikan hubungan, yaitu dengan menunjukkan bahwa perusahaan tertanam dalam suatu jejaring yang kompleks dari stakeholder, yang masing-masing mempunyai hubungan independen satu sama lain. Hubungan ini oleh Lawrence dan Weber sebagaimana dikutip oleh Sony Warsono (2009:35) ditunjukkan dengan gambar berikut:
Gambar 2.4. Hubungan Antar Stakeholder
Stakeholder sekunder tidak dapat diperlakukan sebagai pihak yang kurang penting bila dibandingkan dengan stakeholder primer, dengan alasan stakeholder sekunder tidak terlibat dalam pertukaran ekonomik secara langsung dengan perusahaan. Bahkan, interaksi perusahaan dengan stakeholder sekunder dapat mempunyai arti penting bagi keberhasilan dan kegagalan perusahaan. Misalnya, protes dari komunitas tertentu terhadap kebijakan lingkungan dan sosial perusahaan dapat menghambat kegiatan perusahaan, meskipun komunitas itu
Stakeholder Stakeholder Lembaga wakaf Stakeholder Stakeholder
tidak mempunyai hubungan ekonomik langsung dengan perusahaan (Warsono, 2009:36).
Beberapa individu atau kelompok dapat memainkan multi peran sebagai stakeholder. Peran ini disebut dengan role sets, seperti, seseorang dapat bekerja pada suatu perusahaan, dan sekaligus juga tinggal dalam komunitas di sekitar perusahaan, memiliki saham perusahaan, dan bahkan membeli produk yang dihasilkan perusahaan. Individu atau kelompok ini memiliki beberapa peran stakeholder perusahaan (Warsono, 2009:36).
Di dalam manajemen, argumen perlunya memberikan perhatian pada keberadaan stakeholder, didasarkan pada pemikiran bahwa stakeholder memiliki kontribusi dalam membangun Good Governance (Hetifah Sj. Sumarto, 2003:3). Penyelenggaraan Good Governance tidak akan terwujud apabila dalam proses pengambilan keputusan publik mengenyampingkan aspirasi komunitas stakeholder. Hal ini berarti bahwa proses pengambilan keputusan yang bersifat hirarkis berubah menjadi pengambilan keputusan dengan partisipasi seluruh stakeholder.
Teori stakeholder berpandangan bahwa sebuah perusahaan atau lembaga memiliki kewajiban melayani tujuan publik yang lebih luas, yaitu untuk menciptakan nilai bagi masyarakat, bukan sekedar untuk menghasilkan laba bagi pemiliknya. Istilah stakeholder (pemangku kepentingan) merujuk pada pihak-pihak atau kelompok yang mempengaruhi ataupun yang dipengaruhi oleh keputusan, kebijakan, dan operasi suatu organisasi. Stakeholder suatu perusahaan dapat meliputi karyawan, pemegang saham, pemerintah, dan lingkungan (Warsono, 2009:28-29).
Gagasan teori stakeholder didasarkan pada argumen-argumen yang memandang bahwa peran stakeholder memiliki peran yang strategis, yaitu (Warsono, 2009:28-29):
- Argumen deskriptif, menyatakan bahwa stakeholder merupakan sesuatu yang realistis bagi sebuah organisasi. Karena itu organisasi harus memberi perhatian penuh pada seluruh stakeholder dengan jalan; menghasilkan produk berkualitas, serta mentaati semua regulasi pemerintah.
- Argumen instrumental, menyatakan bahwa manajemen terhadap stakeholder merupakan strategi untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam jangka panjang. Temuan empiris ini rasional karena hubungan baik dengan stakeholder merupakan suatu sumber nilai bagi organisasi.
- Argumen normatif, menyatakan bahwa manajemen terhadap stakeholder adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan, karena mereka telah mendapat efek dari tindakan perusahaan.
Pembangunan Good Governance harus merupakan suatu usaha yang terintegrasi antara seluruh stakeholder yang terlibat. Hanya saja, selama ini masing-masing stakeholder masih berada dalam sistem yang terfragmentasi, seolah tidak pernah menyadari pentingnya integrasi sebagai syarat terbentuknya Good Governance. Karena itu, untuk membangun Good Governance, membutuhkan perubahan yang menuntut kepemimpinan pada masing-masing pihak yang memungkinkan terbangunnya partnership diantara stakeholder (Hetifah Sj. Sumarto, 2003:25). Pihak lembaga wakaf tidak dapat lagi menerapkan model kepemimpinan yang mengasumsikan stakeholder hanya
sebagai pengikut pasif, yang tinggal menerima setiap keputusan dan tindakan yang diambil pengelola.