PERWAKAFAN DAN PARTISIPASI STAKEHOLDER DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN MANAJEMEN
C. Konsep Stakeholder dalam Good Governance 1. Good Governance
3. Urgensi Pendekatan Stakeholder dalam Manajemen
Menurut A. Sonny Keraf (1998:89), pendekatan stakeholder adalah cara mengamati dan menjelaskan secara analitis, bagaimana unsur dipengaruhi dan mempengaruhi keputusan dan tindakan bisnis. Pendekatan stakeholder merupakan pendekatan baru yang banyak digunakan, terutama dalam etika bisnis yang mengintegrasikan kepentingan bisnis di satu pihak, dan tuntutan etika di pihak lain. Adapun tujuan pendekatan stakeholder untuk mempetakan hubungan dalam kegiatan bisnis dan memperlihatkan pihak-pihak yang memiliki kepentingan terkait, dan terlibat dalam kegiatan bisnis pada umumnya. Tujuan lain dari pendekatan stakeholder untuk menekankan pemahaman bahwa bisnis harus dijalankan sedemikian rupa, agar hak dan kepentingan semua pihak terkait yang berkepentingan dengan suatu kegiatan bisnis dijamin, diperhatikan, dan dihargai.
Mengapa sebuah perusahaan penting untuk menjalin hubungan dengan baik dan etis dengan kelompok stakeholder primer, Tjiptono Darmadji sebagaimana dikutip Yeni Untari (2012:13) menyatakan bahwa pemilik modal sebagai salah satu pihak dalam kelompok stakeholder primer, adalah penentu eksistensi sebuah perusahaan. Tanpa mereka, sebuah perusahaan tidak akan terwujud dan berkembang, sebab saham adalah penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan
surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.
Ada dua model pendekatan pengelolaan perusahaan yang selama ini diikuti, yaitu pendekatan dalam perspektif shareholder dan stakeholder. Pendekatan yang berbasis penciptaan nilai pada pemegang saham semata (shareholder value) dinilai memiliki kekurangan cukup serius dalam studi tata kelola korporasi. Untuk itu, banyak studi dilakukan dengan cara pandang lain, yaitu pendekatan yang lebih luas (stakeholder value). Pendekatan stakeholder value dinilai lebih kaya untuk memahami proses penciptaan nilai bagi perusahaan yang disertai dengan mekanisme koordinasi (Prasentyantoko, 2008:87).
Diskusi teoritis tentang tata kelola korporasi didominasi oleh pendekatan shareholder dan pendekatan stakeholder. Masing-masing penganut pendekatan tersebut berupaya meyakinkan dengan berbagai rasionalitas, argumen, dan alasan yang sama-sama kuat. Sebenarnya, perdebatan antara dua sudut pandang yang berlawanan tersebut tidak saja terjadi dalam ruang lingkup tata kelola korporasi, melainkan secara luas menyangkut eksistensi organisasi perusahaan itu sendiri.
Dengan demikian, kita disadarkan bahwa persoalan tata kelola korporasi juga menyangkut sesuatu yang luas dan mendasar, terkait dengan alasan keberadaan perusahaan, tujuan perusahaan, untuk kepentingan siapa perusahaan ada, serta siapa yang mengontrol perusahaan. Secara umum, kita bisa mendefinisikan tata kelola korporasi sebagai tatanan dan sistem di mana terjadi hubungan antara pihak-pihak yang menentukan, baik secara lagsung maupun tidak, jalannya organisasi perusahaan. Pihak-pihak tersebut diantaranya adalah
pemegang saham, pengelola perusahaan (eksekutif), pekerja, pemasok, konsumen, dan sebagainya (Prasentyantoko, 2008:87-88).
Secara sederhana kita bisa mengelompokkan pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan ke dalam dua cara pandang besar, yaitu perspektif shareholder dan stakeholder.
a. Perspektif shareholder
Perspektif shareholder sebagai cara pandang tradisional menganggap perusahaan merupakan instrumen legal bagi para pemilik modal untuk memaksimalkan kepentingan mereka, yakni memperoleh pendapatan dari investasi yang mereka lakukan (A. Prasetyantoko, 2008:88). Perspektif shareholder disebut tradisional karena pendekatan (perspektif) ini dianut sejak lama, yaitu dari awal diperkenalkannya konsep korporasi oleh Adam Smith pada tahun 1776, dan terus berlanjut hingga era korporasi modern menurut Berle dan Means pada tahun 1932 (Mal An Abdullah, 2010:35).
Paling tidak ada dua mekanisme yang dirancang untuk menjamin kepentingan mereka, yaitu:
- Rapat umum pemegang saham sebagai forum tertinggi untuk menentukan hal-hal strategis perusahaan.
- Kehadiran dewan pengawas atau komisaris dalam perusahaan yang bertugas mengawasi jalannya perusahaan agar selalu sesuai dengan kepentingan para pemilik modal.
Dalam pandangan klasik ini, satu-satunya tujuan berdirinya sebuah organisasi perusahaan adalah ‚melayani‛ kepentingan pemilik modal
(shareholder). Dalam hal ini, kepentingan utama para pemilik modal adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya melalui pembagian deviden.
Menurut Jensen dan Meckling sebagaimana dikutip oleh Prasetyantoko (2008:87-88), pendekatan shareholder mendapatkan legitimasi dari Teori Agensi yang berbicara tentang hubungan antara pemilik modal (principal) dan pengelola perusahaan (agent) yang diwarnai dengan konflik kepentingan. Pemisahan antara hak pengelolaan perusahaan dan hak kepemilikan, sebagaimana dikonsepsikan oleh Berle dan Means pada tahun 1932, adalah simbol dari sistem korporasi modern sebagai wahana pengakuan akan hak kepemilikan (property right). Sistem ini tumbuh subur di Inggris dan terutama di Amerika Serikat, hingga sistem shareholder ini sekaligus menandai apa yang disebut sebagai model tata kelola korporasi Anglo-Saxon.
Ciri khas lain dari perspektif shareholder ini adalah peran kekuatan pasar yang sangat besar. Ada tiga kekuatan pasar yang mampu mempengaruhi keberadaan perusahaan dalam sistem pasar sebagaimana terjadi dalam sistem Anglo-Saxon, yaitu: (1) Pasar modal (capital market), (2) Pasar tenaga kerja, terutama level manajer (managerial labour market), dan (3) Pasar yang berfungsi sebagai pengontrol korporasi (market for corporate control).
Pasar modal berfungsi mengontrol perusahaan lewat mekanisme valuasi harga saham. Jika perusahaan mengalami penurunan kinerja perusahaan, harga sahamnya di bursa akan menurun. Maka dari itu, salah satu orientasi pengelola perusahaan adalah menjaga agar penilaian pasar terhadap saham-sahamnya semakin membaik. Dengan demikian, pasar berfungsi ‚mendisiplinkan‛ para pengelola perusahaan.
Pasar tenaga kerja juga berfungsi sebagai alat kontrol. Jika menunjukkan kinerja jelek, manajer dapat dengan mudah diganti dengan manajer baru oleh para pemegang saham lewat rapat umum pemegang saham atau dewan pengawas. Asumsinya, pergerakan tenaga kerja level atas ini bebas sehingga bisa berpindah-pindah dengan mudah. Adanya agen pencari kerja tingkat tinggi (head hunter) membuktikan bahwa pasar tenaga kerja level manajer sangat cair sehingga jika tidak bekerja baik, manajer akan dengan mudah diganti (Prasetyantoko, 2008: 88).
b. Perspektif stakeholder
Perspektif stakeholder relatif baru karena baru muncul pada akhir abad ke-20, dengan diperkenalkannya Stakeholder Theory oleh Freeman pada tahun 1984 (Mal An Abdullah, 2010:35). Perspektif ini memiliki sudut pandang yang berbeda dengan perspektif shareholder, dengan memaknai perusahaan sebagai organ (locus) yang berhubungan dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan (stakeholder) yang berada di dalam maupun luar perusahaan. Menurut Freeman, karyawan, kreditur, pemasok, pelanggan, dan komunitas lokal sebagai bagian dari stakeholder suatu perusahaan.
Jadi yang diperhitungkan bukan hanya pemegang saham, melainkan semuanya harus dilindungi kepentingannya oleh perusahaan. Untuk itu proponen yang menganut perspektif ini memandang hubungan yang berbasis kepercayaan (trust relationship) dan etika bisnis (business ethics) merupakan prasyarat utama dan harus dijadikan acuan dalam setiap pengambilan keputusan melalui proses stakeholding management (Mal An Abdullah, 2010:36).
Sementara itu teoritisnya berlawanan dengan pendekatan tradisional yang telah menjadi aliran dominan dalam waktu cukup lama. Pada dasarnya, pendekatan stakeholder mendefinisikan perusahaan sebagai tempat ajang interaksi antar berbagai pihak secara luas. Dalam hal ini, interaksi tidak sekadar melibatkan pengelola perusahaan dan pemilik modal, tetapi juga pihak-pihak lain, seperti pekerja, pemasok, konsumen, masyarakat lokal, pemerintah daerah, dan sebagainya (A. Prasetyantoko, 2008:90)
Perhatian utama pendekatan ini adalah pola interaksi antar berbagai pihak dalam cakupan yang luas dari perusahaan serta dalam dimensi waktu yang panjang. Jika ditanya apa motivasi utama sebuah organisasi perusahaan, jawabnya bukanlah mencari keuntungan, melainkan hidup terus. Tujuan utama perusahaan pertama-tama adalah hidup terus dalam suatu kesinambungan jangka panjang. Salah satu prasyarat agar perusahaan bisa hidup terus adalah memperoleh keuntungan. Namun, keuntungan bukanlah tujuan utama dan pertama. Cara pikir ini merupakan salah satu implikasi penting dari pendekatan stakeholder (A. Prasetyantoko, 2008:90).
Perusahaan dapat hidup terus karena kemampuannya menyeimbangkan kepentingan berbagai pihak yang mempengaruhi perusahaan dalam cakupan luas dan dimensi panjang. Tanpa keseimbangan berbagai pihak, perusahaan akan jatuh pada siklus hidup yang pendek dan cepat mengalami krisis yang sulit dikendalikan, akibatnya bisa cepat mati. Pendekatan stakeholder mendorong cara berfikir yang luas serta memiliki visi yang panjang dalam mengelola perusahaan (A. Prasetyantoko, 2008:91).
Pendekatan stakeholder dalam manajemen strategik muncul pada tahun 1980-an. Pemikiran tersebut tertuang dalam buku R. Edward Freeman yang ditulis pada tahun 1984 dengan judul Strategic Management: A Stakeholder Approach. Buku ini lahir sebagai bentuk respon atas perubahan lingkungan bisnis yang makin cepat. Dalam konteks tersebut, stakeholder dipahami sebagai semua pihak yang mempengaruhi atau terpengaruh oleh aktifitas organisasi.
Dengan memposisikan pihak-pihak yang mempengaruhi atau terpengaruh oleh aktifitas organisasi secara luas, diyakini hasil yang mampu dicapai organisasi juga akan lebih tinggi. Secara sederhana pendekatan stakeholder diyakini memungkinkan terjadinya penciptaan nilai yang lebih baik bagi perusahaan.
Dalam strategi korporasi klasik, stakeholder hanya ditempatkan sebagai penyangga proses produksi dan hanya diperhatikan sejauh mendukung proses maksimalisasi sistem produksi, sementara perhatian utamanya tetap pada cara meningkatkan kemakmuran pemilik perusahaan, dan bukan pada kepentingan yang lebih luas, yaitu para pemangku kepentingan lainnya. Model tradisional menunjukkan bahwa pihak-pihak lain di luar perusahaan berfungsi sebatas sebagai penyedia produksi bagi perusahaan. Tujuannya untuk memaksimalkan nilai perusahaan tanpa memperhatikan meningkatkan nilai para pihak tersebut.