• Tidak ada hasil yang ditemukan

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

STRUKTUR ORGANISASI

A. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

Standard Operating Procedures (SOP) adalah serangkaian instruksi tertulis yang dibakukan mengenai berbagai proses penyelenggaraan administrasi pemerintah tentang bagaimana, kapan, dimana dan oleh siapa harus dilakukan yang bersifat konsisten, komitmen seluruh eksponen organisasi, mengikat, memiliki peran penting dan terdokumentasi dengan baik serta menuju arah perbaikan yang berkelanjutan.

Secara umum SOP terdapat dua jenis, yaitu :

1. SOP Administratif merupakan standar prosedur yang diperuntukan bagi jenis-jenis pekerjaan yang bersifat administrastif dan meliputi lingkup makro. Biasanya digunakan untuk proses-proses perencanaan, penganggaran atau secara garis besar dalam siklus penyelenggaraan;

2. SOP Teknis merupakan standar prosedur yang sangat rinci bersifat teknis, yang diurai sangat rinci, teliti dan detil, sehingga tidak ada kemungkinan variasi atau penafsiran lain.

Adapun alur pekerjaan atau pelaksanaan Tugas dan Fungsi Pengadilan Tingkat Pertama dan Pengadilan Tingkat Banding pada Pengadilan Agama di lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Mataram telah ditetapkan untuk mereduksi Standar Operasional Prosedure yang telah disusun oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama bersama Pengadilan Tinggi Agama Se-Indonesia, yang dirinci sebagai berikut :

1. SOP Penerimaan Perkara Tingkat Pertama; 2. SOP Pendaftaran Perkara Prodeo;

3. SOP Register PMH dan PHS;

4. SOP Pemanggilan Para Pihak Oleh JS/JSP; 5. SOP Penyelesaian Perkara;

6. SOP Tata Persidangan;

7. SOP Pengembalian Sisa Panjar Biaya Perkara;

8. SOP Pengambilan Salinan Putusan Penetapan Akta Cerai; 9. SOP Penyampaian Salinan Putusan;

10. SOP Publikasi Putusan; 11. SOP Daftar Banding; 12. SOP Daftar Kasasi;

13. SOP Penerimaan Perkara PK;

15. SOP Pelaporan Perkara; 16. SOP Statistik Perkara; 17. SOP Prosedur Mediasi; 18. SOP Pelaporan Melalui NIR; 19. SOP Penanganan Pengaduan;

20. SOP Legalisasi Produk Pengadilan Agama; 21. SOP Jaminan Eksekusi;

21. SOP Pemanggilan Pihak Via Media Massa; 22. SOP Proses Pemberkasan dan Minutasi; 23. SOP Pengarsipan Berkas Perkara;

24. SOP Kesekretariatan Bidang Tata Usaha dan Rumah Tangga: a. Pengelolaan Surat Masuk

b. Pengelolaan Surat Keluar

c. Penyelenggaraan Pengadaan Barang dan Jasa; d. Pengelolaan Pengadministrasi BMN;

e. Pengelolaan Pemeliharaan BMN; f. Pengelolaan Penginventarisasian BMN; g. Pengelolaan Pelaporan BMN;

25. SOP Kesekretariatan Bidang Kepegawaian dan Teknologi Informasi: a. Penerimaan CPNS dan CAKIM;

b. Pendefinitipan PNS; c. Pendefinitipan Hakim;

d. Pengelolaan Mutasi Kepangkatan; e. Pengelolaan Mutasi Gaji Berkala (KGB); f. Pengelolaan Mutasi Alih Tugas; g. Pengelolaan Promosi Jabatan; h. Pengelolaan Cuti Pegawai.

26. SOP Kesekretariatan Bidang Keuangan dan Pelaporan: a. Penyusunan Anggaran dan Kegiatan;

b. Pengelolaan Realisasi Anggaran;

c. Pembuatan SPM (Surat Perintah Membayar); d. Pengelolaan Pelaporan Anggaran;

e. Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran;

27. SOP Kesekretariatan Bidang Rencana Program dan Anggaran : a. Penyusunan Perencanaan Anggaran;

c. Penyusunan Laporan Tahunan;

d. Penyusunan RKT (Rencana Kerja Tahunan), PKT (Penetapan Kinerja Tahunan) dan IKU (Indikator Kinerja Utama);

e. Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LkjIP).

B. SASARAN KERJA PEGAWAI (SKP)

Sasaran Kerja Pegawai yang selanjutnya disingkat SKP adalah rencana kerja dan target yang akan dicapai oleh seorang pegawai, yang disusun dan disepakati bersama antara pegawai dengan atasan pegawai.

Berdasarkan pasal 12 ayat (2) Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974, Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, dinyatakan bahwa untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang profesional, bertanggungjawab, jujur dan adil melalui pembinaan yang dilaksanakan berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karier yang dititik beratkan pada sistem prestasi kerja. Selanjutnya pasal 20 dinyatakan bahwa untuk menjamin obyektifitas dalam mempertimbangkan pengangkatan dalam jabatan dan kenaikan pangkat diadakan penilaian prestasi kerja.

Melaksanakan amanat pasal 12 dan pasal 20 undang-undang tersebut, Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil dilaksanakan untuk mengevaluasi kinerja individu Pegawai Negeri Sipil, yang dapat memberi petunjuk bagi manajemen dalam rangka mengevaluasi kinerja unit dan kinerja organisasi. Hasil penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan penetapan keputusan kebijakan pengelolaan karier Pegawai Negeri Sipil, yang berkaitan dengan :

a. Bidang Pekerjaan.

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam kebijakan perencanaan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia Pegawai Negeri Sipil, serta kegiatan perancangan pekerjaan Pegawai Negeri Sipil dalam organisasi (job design).

b. Bidang Pengangkatan dan Penempatan.

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam proses rekrutmen, seleksi dan penempatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan, sesuai dengan kompetensi dan prestasi kerjanya.

c. Bidang Pengembangan.

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan pengembangan karier dan pengembangan kemampuan serta keterampilan Pegawai Negeri Sipil yang berkaitan dengan pola karier dan program diklat organisasi.

d. Bidang Penghargaan.

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan pemberian penghargaan dengan berbasis prestasi kerja seperti kenaikan pangkat, kenaikan gaji atau tunjangan prestasi kerja, promosi atau kompensasi lainnya (performance related pay).

Penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil secara sistemik penekanannya pada pengukuran tingkat capaian Sasaran Kerja Pegawai atau tingkat capaian hasil kerja (output) yang telah direncanakan dan disepakati antara Pejabat Penilai dengan Pegawai Negeri Sipil yang dinilai sebagai kontrak prestasi kerja.

PTA Mataram telah Melaksanakan 71 SKP sebagai berikut :

a. Sejumlah 71 SKP yang telah disusun pada Pengadilan Tinggi Agama Mataram dengan rincian sebagai berikut :

1) Sasaran Kerja Pegawai untuk Fungsional (Ketua, Wakil Ketua,Hakim Tinggi dan Panitera sebanyak 28 (dua puluh delapan) SKP;

2) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Eselon II (Sekretaris), yaitu 1 (satu) SKP; 3) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Eselon III (Kepala Bagian.), yaitu 2 (dua)

SKP;

4) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Panitera Muda, yaitu 2 (dua) SKP;

5) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Eselon IV (Kepala Sub Bagian), yaitu 4 (empat) SKP;

6) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Panitera Pengganti, yaitu sebanyak 12 (dua belas) SKP;

7) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Pelaksana (staf), yaitu 22 (dua puluh Sembilan) SKP.

b. Pada Pengadilan Agama sewilayah Pengadilan Tinggi Agama Mataram telah disusun sebanyak 549 SKP, terdiri dari :

1) Sasaran Kerja Pegawai untuk Fungsional (Ketua, Wakil Ketua,Hakim Tinggi dan Panitera sebanyak 146 (seratus empat puluh enam) SKP;

2) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Sekretaris, yaitu 17 (tujuh belas) SKP; 3) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Panitera Muda, yaitu 51 (lima puluh satu)

SKP;

(seratus tiga puluh tiga) SKP;

5) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Kepala Sub Bagian/Kepala Urusan, yaitu 51 (lima puluh satu) SKP;

6) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Jurusita, yaitu 26 (dua puluh enam) SKP; 7) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Jurusita Pengganti, yaitu 87 (delapan puluh

tujuh) SKP;

8) Sasaran Kerja Pegawai untuk jabatan Pelaksana (staf), yaitu 38 (tiga puluh delapan) SKP.

BAB III

Dokumen terkait