• Tidak ada hasil yang ditemukan

Standar Pelayanan Rehabilitasi

Dalam dokumen Skripsi. (S.Sos) Oleh: FAUZI RAHMAN NIM : (Halaman 62-75)

BAB IV HASIL TEMUAN

1. Standar Pelayanan Rehabilitasi

Panti Sosial Bina Remaja Taruna Jaya II Dinas Sosial DKI Jakarta sebagai institusi pelayanan publik berupaya untuk dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan mutu atau kualitas yang baik, sehingga pelayanan dalam bentuk Rehabilitasi sosial berperan dalam permberdayaan sosial dan pelayanan khusus kepada Warga Binaan sosial (WBS)/Orang dengan masalah sosial.

Dalam memberikan pelayanan rehabilitasi terdapat standar pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh PSBR Taruna Jaya II Dinas Sosial DKI Jakarta yang meliputi:

 

a) Pelaksanaan penerimaan meliputi registrasi, persyaratan administrasi, dan penempatan dalam panti.

Tahapan pertama bagi WBS untuk bisa mendapatkan pelayanan rehabilitasi di panti harus melalui proses registrasi dan memenuhi persyaratan administrasi. Jika persyaratan administrasi sudah terpenuhi, maka WBS akan ditempatkan kedalam asrama sesuai ketentuan.

Penempatan asrama bagi WBS terbagi menjadi 4 kategori, yaitu:

1) Primary (Teraupeutic Community)

 WBS hasil rujukan/penerimaan dari PSBI Bangun Daya 1 dan 2 sebagai pembinaan awal setelah dilakukan sosialisasi program dan internalisasi selama maksimal 1 (satu) minggu di Ruang Adaptasi.

 WBS dengan klasifikasi anak Jalanan, anak Punk, maupun Anak titipan keluarga/ IPWL untuk mendapatkan treatment/ program sebelum naik ke Re-Entry.

 Masa Pembinaan/treatment di Primary minimal 3 s/d 4 bulan atau melihat kondisi perkembangan WBS.

 

Gambar 4.1 Asrama Primary

Sumber : Hasil Observasi, 01 Februari 2018

Proses pengajuan WBS yang akan naik ke Re-Entry berdasarkan hasil musyawarah/ pertimbangan Koordinator Konselor, Pekerja Sosial, Komandan Piket dan mengetahui/ persetujuan Satuan Pelaksana, Pelayanan Sosial / Pembinaan Sosial.

2) Re-Entry 1

 Tempat bagi WBS yang dapat dan bisa

menjadi Role Model

(panutan/contoh/teladan) bagi WBS lainnya.

 WBS yang dapat diandalkan prilaku, sikap, nilai-nilai pribadinya, integritas/kepribadian untuk dapat berkembang dan berubah lebih baik.

 

 Pernah menjadi Chief/ Head di Asrama lain baik Primary maupun Re-Entry.

 Dapat diikutsertakan dalam pelatihan/pembinaan/ kegiatan lomba/

kegiatan luar lainnya ke luar PSBR Taruna Jaya II khusus klien/ WBS yang didakan Dinas Sosial maupun Kemensos ataupun BNN .

 Dapat diusulkan dan direncanakan sebagai pendamping WBS jika telah mengikuti Pelatihan Dasar Pendamping WBS (masa training).

 Dapat dilatih program-program

pembinaan, treatment,

kepemimpinan/leadership,

kemandirian, tanggung jawab, kedisiplinan, dan wawasan buat inspirasi/ motivasi WBS lainnya (Outbound, dll).

 Jika sudah mendapat pembinaan di Re-Entry 1 minimal 6-12 bulan dapat diberikan tanggung jawab (masa percobaan) sebagai pendamping WBS di Re-Entri 2 atau 3.

3) Re-Entry 2

 Merupakan WBS hasil tingkatan dari Primary/ TC yang telah mendapatkan

 

report (laporan) perkembangan dari Konselor/ Pekerja Sosial.

 WBS secara Fisik, Mental Spritual, Sosial, Psikologis dan Prilaku yang baik berdasarkan raport perkembangan.

 Adanya Pendampingan dari Konselor dan Pendamping. hasil penertiban/ razia (Anak Jalanan/

Punk) dan yang masih terapi obat (Berobat jalan RSKD Duren Sawit).

 Adanya raport perkembangan WBS.

 Bagi WBS yang melakukan pelanggaran berat dapat dikembalikan ke ruang Adaptasi dan atau Primary/

TC.

 Bagi WBS yang bagus perkembangannya dapat dimasukkan ke Re-Entry 1.

4) Re-Entry 3

 Secara umum merupakan WBS yang masih dalam perawatan/ pengobatan

 

dari Dokter Psikiater RSKD Duren Sawit (masih minum obat Psikotik/

terapi medis).

 Mengikuti semua program yang ada di Panti baik itu Morning Meeting, PBB, Bimbingan Kedisplinan, Bimbingan Mental Spiritual/ Agama Islam, Bimbingan Kadarkum, Bimbingan Olahrga ( Futsal/ senam ), Bimbingan Kesenian, Bimbingan Ketrampilan/

Vokasional, Bimbingan Konseling Individu, bimbingan Sosial Kelompok/

Statis Group, Pengajian malam Jum‟at.

 Adanya Laporan Perkembangan WBS tiap hari/ minggu/ bulan secara menyeluruh.

 Adanya Group piket untuk kebersihan dan aktivitas sehari-hari di sekitar asrama dengan pendamping konselor.

 Setiap Asrama/ kamar terdiri 10-11 orang WBS dengan didampingi konselor.

 Adanya Job Function setiap WBS (Chief, Head, Ekspeditor, Ramrod, Crew) untuk pembagian tugas agar berjalan sesuai tugas yang diberikan seperti Departement House Keeping,

 

Gastronomi, Laundry, Landscape/

taman.

 Diupayakan WBS hasil penerimaan dari Keluarga (IPWL).[1]

Berdasarkan penjelasan diatas, penulis menyimpulkan bahwa setiap calon WBS harus memenuhi persyaratan administrasi sehingga calon WBS tersebut tercatat dalam data PSBR Tarua Jaya II yang kemudian oleh panti WBS tersebut akan ditempatkan di asrama sesuai dengan ketentuan.

b) Pelaksanaan pendekatan awal meliputi, observasi, identifikasi, motivasi, dan seleksi.

Dalam melakukan observasi dan identifikasi terhadap WBS, pekerja sosial menggunakan form 12 untuk menggali dan menganalisa rencana rehabilitasi yang akan diberikan terhadap WBS.

Seperti yag disampaikan oleh Bapak Joko selaku Pekerja Sosial di PSBR Taruna Jaya II:

“Disini ada formulir baku (form 12), disitu ada aspek bpss lalu kita gali, rencana apa yg akan kita berikan, analisa kebutuhan yang mereka butukan.”[24]

 

Gambar 4.2 Pendataan WBS

Sumber : Hasil Observasi, 26 Januari 2018 c) Pelaksanaan assesmen meliputi penelaahan,

pengungkapan, dan pemahaman masalah dan potensi.

Dalam tahapan selanjutnya WBS akan bersosialisasi terhadap lingkungan di panti dan mendapatkan pembinaan selama di panti. Selain itu pekerja sosial dan atau pendamping bersama-sama mengawasi dan merencanakan pembinaan yang tepat bagi WBS dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Bapak Joko Selaku Pekerja Sosial di PSBR Taruna Jaya II:

“Disini kita juga menerapkan masa orientasi, setelah WBS melakukan pembinaan di primary kita turunkan di

 

bimbingan vokasional tapi kita ikut sertakan sehari ikut mobil, sehari ikut motor, dan yang lainnya sehingga WBS bisa menentukan mana sih yang cocok sesuai dengan minat dan bakat.”[24]

“Ada yang langsung dan tidak langsung, yang langsungnya itu bentuk motivasi dan konseling. Setiap WBS itu kan mendapatkan pendamping, fungsi pendamping itu sendiri untuk memberikan konsultasi kepada WBS ketika dia mengalami kesulitan selama mengikuti program disini. Kita asah si anak ini untuk bisa disalurkan sesuai dengan minat dan bakatnya, misal minatnya di bengkel.”[24]

 

Gambar 4.3 Assesmen WBS

Sumber : Hasil Observasi, 27 Januari 2018 d) Pelaksanaan pembinaan dan bimbingan

Tahapan selanjutnya WBS akan mendapatkan pembinaan dan bimbingan meliputi:

Bimbingan Sosial, Bimbingan Mental Spiritual, Pembinaan Fisik, Bimbingan Psikologis, Pelatihan Ketrampilan meliputi (montir mobil, motor, las, elektronika dan mix farming). Seperti yang disampaikan oleh Bapak Joko selaku Pekerja sosial di PSBR Taruna Jaya II:

“Pertama motivasi, pendidikan, psikis, pengubahan perilaku dan sikap, bimbingan rohani, pengembangan minat dan bakat serta vokasional. Pbk berdasarkan assesment minat dan bakat

 

wbs, disini ada 4 keterampilan las, motor, mobil, elektro.”[24]

Seperti juga yang disampaikan oleh WBS F dan WBS RR:

“Disini mah banyak kegiatannya, kalo pagi ada morning meeting, kadarkum, terus siang kita ada pelatihan, ada empat pelatihannya, motor, mobil, ngelas, sama elektro. Cuma kalo saya mah milihya ngelas bang.”[25]

“saya disini ikutnya kelas ngelas, selain ngelas ada mobil, motor, sama elektro. Terus selain itu kegiatannya kalo pagi beda-beda hari senin morning meeting, kamis kadarkum, minggu olahraga, terus shalat dhuha setiap pagi.”[26]

Berdasarkan informasi diatas bimbingan sosial yang didapatkan WBS disini berupa morning meeting, bimbingan spiritual berupa shalat dhuha berjamaah, bimbingan psikologis berupa konseling, pembinaan dan pelatihan yang diberikan berupa kadarkum (kelompok kesadaran

 

hukum) dan pelatihan 4 keterampilan (montir mobil, motor, las dan elektro).

Gambar 4.4 Kegiatan Kadarkum

Sumber : Hasil Observasi, 25 Januari 2018 e) Pelaksanaan resosialisasi meliputi praktek belajar

kerja/ magang dan pelaksanaan reintegrasi dalam bentuk kunjungan rumah, outing dan rekreasi.

Pada tahapan ini WBS yang telah mendapatkan pembinaan dan keterampilan akan dipertimbangkan oleh panti untuk diberikan kesempatan kerja/magang diluar panti. “iya setelah mereka mendapatkan pelatihan dan pembinaan maka panti akan mempertimbangkan apakah sudah siap untuk bekerja dimasyarakat kembali.”[27]

 

Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan setelah mendapatkan pembinaan yang cukup dan keterampilan yang mumpuni, maka WBS akan diberikan kesempatan untuk bekerja/magang ditempat-tempat yang sudah bekerja sama dengan PSBR Taruna Jaya II.

Gambar 4.5 Praktek Belajar Kerja

Sumber : Hasil Observasi, 29 Januari 2018 f) Pelaksanaan penyaluran meliputi: kembali ke

keluarga, bekerja dan bina lanjut /after care.

Setelah WBS mampu untuk mandiri maka panti akan memberikan dua pilihan terhadap WBS yaitu kembali ke keluarga atau hidup secara mandiri di dunia usaha. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Joko Pekerja sosial di PSBR Taruna Jaya II:

 

“Setelah mereka mengikuti kegiatan vokasional disini, kita sebagai pendamping berkoordinasi dengan bengkel-bengkel yang ada disekitar tangerang selatan untuk menyalurkan si anak yg notabennya untuk penyaluran ke usaha kemandirian. Disini penyaluran ada 2, ke dunia usaha dan keluarga.”[24]

Berdasarkan hasil informasi yang penulis dapatkan dapat disimpulkan bahwa pelayanan rehabilitasi yang diberikan PSBR Taruna Jaya II yaitu berfokus pada pemberian pembinaan keterampilan sesuai dengan bakat dan minat WBS sehingga WBS dapat mandiri dan siap untuk kembali ke masyarakat.

Dalam dokumen Skripsi. (S.Sos) Oleh: FAUZI RAHMAN NIM : (Halaman 62-75)

Dokumen terkait