V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4. Uji T-Statistik
Hasil uji t-ststistik terhadap penggunaan benih/bibit tanaman padi di kedua kelompok menunjukkan hasil yang tidak nyata. Indikator seperti luas lahan garapan, kualifikasi benih, jumlah benih dan nilai benih antara kelompok PUAP dengan Non PUAP memiliki T-Value yang lebih kecil dari nilai P-Value. Artinya anggota Puap dan Non PUAP memiliki luas lahan yang relatif sama, menggunakan jenis dan jumlah benih yang relatif sama, dan total nilai benih yang digunakan antara anggota Non PUAP dan PUAP juga relatif sama. Hasil pengujian t-statistik lebih lengkap disajikan pada tabel 19 berikut ini.
66
Tabel 19. Uji T-Statistik terhadap Penggunaan Benih/Bibit
No Indikator
Jenis Kelompok (X ± SB)
T-Value P-Value Ket
PUAP Non
PUAP 1 Luas lahan garapan 1,34 ±
0,88 1,33 ± 1,47 0,02 0,49 TN 2 Kualifikasi benih 1,30 ± 0,47 1,33 ± 0,48 - 0,27 0,61 TN 3 Jumlah benih 27,2 ± 14,7 28,4 ± 30,3 - 0,20 0,58 TN 4 Nilai benih 269.433 ± 215.020 276.533 ± 460.095 - 0,08 0,53 TN Keterangan : TN = Tidak berbeda nyata; N = berbeda nyata
Pada kegiatan usahatani padi di Gapoktan Kecamatan Rengasdengklok, rata- rata jenis pupuk yang digunakan yaitu pupuk Urea, SP 36 dan NPK. Kegiatan pemupukan dilakukan dua sampai tiga kali dalam satu musim tanam. Rata-rata penggunaan pupuk oleh petani responden di duaGapoktan yang telah dan belum menerima dana PUAP yaitu Urea sebesar 227 kg/ha untuk kelompok PUAP dan 316 untuk kelompok Non PUAP, SP 36sebesar 186 kg/ha untuk kelompok PUAP dan 230 untuk kelompok Non PUAP, NPK sebesar 482 kg/ha untuk kelompok PUAP dan 198 untuk kelompok Non PUAP.
Hasil wawancara dengan beberapa petani responden diperoleh informasi bahwa para petani responden di dua kelompok menggunakan dosis pupuk yang tidak sesuai karena mereka menganggap bahwa dengan memberikan pupuk yang banyak akan menyuburkan tanaman padi. Selain itu petani responden juga beranggapan bahwa teknik yang pemupukan yang dilakukan sudah benar. Sebenarnya pengaturan penggunaan dosis pupuk sudah disosialisasikan oleh petugas penyuluh pertanian lapang (PPL) yang bertugas di masing-masing desa baik di desa yang telah menerima maupun yang belum menerima dana PUAP, namun kebanyakan petani belum melaksanakan dengan benar apa yang telah dianjurkan pleh PPL tersebut. Hal ini terlihat dari besarnya simpangan baku dari masing-masing nilai rata-rata penggunaan pupuk per hektarnya.
67
Hasil uji T-statistik yang di lakukan terhadap penggunaan pupuk Urea, Sp 36 dan NPK, secara umum menyatakan bahwa penggunaan pupuk di kedua kelompok
tersebut tidak menunjukkan perbedaan secara signfikan. Uraian lengkap hasil T-Statistik terhadap penggunaan pupuk dapat dilihat pada Tabel 20 berikut.
Tabel 20. Uji T-Statistik terhadap Penggunaan Pupuk
No Indikator
Jenis Kelompok (X ± SB)
T-Value P-Value Ket
PUAP Non
PUAP
1 Urea 277 ± 153 316 ± 403 - 0,43 0,68 TN
2 SP 36 186 ± 118 230 ± 374 - 0,56 0,71 TN
3 NPK 482 ± 593 198 ± 150 1,47 0,09 N
Keterangan : TN = Tidak berbeda nyata; N = berbeda nyata
Berdasarkan Tabel 20 di atas disimpulkan bahwa kedua kelompok gapoktan tersebut menggunakan pupuk Urea dan SP 36 dalam jumlah yang relatif sama. Namun penggunaan NPK antara Gapoktan Non PUAP dan PUAP berbeda nyata secara signifikan pada taraf nyata 90%. Artinya, penggunaan NPK pada anggota Gapoktan PUAP relatif lebih tinggi dibandingkan anggota Gapoktan Non PUAP. Hal ini disebabkan pengetahuan penggunaan pupuk NPK di Kelompok PUAP lebih baik daripada kelompok non PUAP sehingga mereka lebih memilih menggunakan NPK yang diangap kandungan unsur haranya lebih lengkap dibandingkan jenis pupuk yang lain (Urea dan SP-36).
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan produksi tanaman padi sawah namun kenyataannya minat tenaga kerja produktif sangat kurang dan kita ketahui bahwa dalam budidaya padi sawah ini kebutuhan tenaga kerja sangat diperlukan dan setiap tahunnya biaya tenaga kerja selalu meningkat. Sehingga hal ini dapat membengkakkan biaya produksi sehingga dapat mengurangi pendapatan bagi petani.
Pada dasarnya pelaksanaan budi daya padi sawah yang dilakukan para petani responden di kecamatan Rengasdengklok tidak jauh berbeda dengan para petani
68
yang berada didaerah lainya di wilayah Kabupaten Karawang. Ada beberapa tahapan yang dilakukan para petani dalam malakukan budi daya padi sawah diantaranya yaitu : persemaian, pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, penyiangan dan pemangkasan, penyemprotan hama dan panen.
Kesemua tahapan tersebut menggunakan tenaga kerja, namun hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa sebagian besar indikator tidak memiliki perbedaan
secara signifikan diantara kedua kelompok. Perbedaan yang nyata secara signifikan hanya terdapat pada indikator penggunaan tenaga kerja manusia yang lebih besar pada kelompok PUAP dbandingkan dengan kelompok Non PUAP. Hal ini disebabkan karena ikatan organisasi (Gapoktan) yang kuat terhadap anggotanya, sehingga mereka banyak yang saling membantu sesama anggotanya. Tabel.... berikut menyajikan hasil uji T-Statistik terhadap penggunaan tenaga kerja.
Tabel 21 Uji T-Statistik terhadap Penggunaan tenaga kerja
No Indikator
Jenis Kelompok
(X ± SB) T-
Value P-Value Ket
PUAP Non PUAP 1 Tenaga kerja (TK) manusia 585 ± 571 364 ± 398 1,70 0,05 N 2 TK persemaian dan perbibitan 91,3 ± 63,4 152 ± 159 - 1,84 0,96 TN 3 TK penanaman 817 ± 520 903 ± 1455 - 0,31 0,62 TN 4 TK pemupukan 139,2 ± 74 168,0 ± 134 - 1,04 0,85 TN 5 TK penyiangan dan pemangkasan 392 ± 220 308 ± 354 1,03 0,16 TN 6 TK penyempotan 282 ± 227 267 ± 2 80 0,23 0,41 TN 7 TK panen 175.383 ± 566.176 2.457 ± 2.151 1,30 0,11 TN
Keterangan : TN = Tidak berbeda nyata; N = berbeda nyata
Berdasarkan Tabel 21 di atas, terlihat bahwa penggunaan tenaga kerja di tahapan persemaian dan perbibitan, penanaman, pemupukan, penyiangan dan pemangkasan, penyemprotan hama dan panen antara kelompok PUAP dan Non PUAP tidak berbeda secara signifikan. Hal ini artinya kedua akelompok tersebut menggunakan tenaga kerja dalam jumlah yang relatif sama nilainya.
69
Produksi padi secara angka dilapangan menunjukkan bahwa nilai produksi
pada kelompok PUAP lebih baik atau tinggi dibandingkan kelopok Non PUAP. Hal ini merupakan hasil adanya peran program PUAP dalam meningkatkan
kesejahteraan petani. Keberadaan PUAP dalam mendorong dan memotivasi petani dalam meningkatan kualitas dan kuantitas hasil produksinya menurut responden sudah cukup baik. Walaupun, secara uji T-Statistik nilai produksi antara kelompok PUAP dan Non PUAP tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Hasil lengkap mengenai uji T-statistik terhadap nilai produksi dapat dilihat pada Tabel 22 berikut.
Tabel 22 Uji T-Statistik terhadap Nilai produksi
No Indikator
Jenis Kelompok
(X ± SB) T-
Value P-Value Ket
PUAP Non PUAP
1 Produksi kotor 8.755 ± 6.185 7.769 ± 11.801 0,41 0,34 TN 2 Bawon 1.427 ± 957 1.284 ± 1.893 0,37 0,36 TN 3 Produksi bersih 7.328 ± 5.238 6.208 ± 10.110 0,54 0,30 TN 4 Harga jual 3.009 ± 185 2.900 ± 500 1,12 0,14 TN 5 Nilai hasil 22.178.328 ± 16.794.549 18.485.745 ± 31.778.682 0,56 0,29 TN
Keterangan : TN = Tidak berbeda nyata; N = berbeda nyata
Berdasarkan Tabel 22 menunjukkan bahwa indikator nilai produksi kelompok seperti Produksi kotor, Bawon, Produksi berih, harga jual dan nilai hasil produksi di kelompok PUAP maupun Non PUAP memiliki jumlah dan tingkat hasil yang relatif sama.
Berdasarkan keseluruhan hasil uji T-Statistik yang dilakukan secara umum disampaikan bahwa Program PUAP dinilai belum berhasil atau belum berjalan dengan baik karena berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Gapoktan Non PUAP dan PUAP, seperti kepemilikan lahan, jenis benih yang digunakan, jumlah pupuk yang digunakan serta produksi dan nilai hasil produksi yang diperoleh. Dengan demikian, tujuan dari diadakannya program PUAP belum tercapai. Sehingga diperlukan ketepatan dan kecermatan dalam merumuskan strategi untuk perbaikan program PUAP kedepan.
70