VII. DAMPAK AGROPOLITAN TERHADAP MASYARAKAT
8.1.5. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan.
Kondisi aspek Tata Perintahan dalam Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi marjinal (pas-pasan). Hal ini didasarkan pada hasil analisis untuk indeks atau status Tata Pemerintahan dengan menggunakan analisis RALED ysng mencapai 51,09. Secara skematis status aspek Tata Pemerintahan di sajikan pada Gambar 21 berikut ini :
RALED Ordination GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability Ot her D ist ingi shi ng F eatures Real Fisheries References Anchors
Gambar 21 Status Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato
Selanjutnya dari indeks atau status tersebut sapat ditentukan faktor pengungkit (leverage factor) dari aspek Tata Pemerintahan. Dengan mengetahui faktor pengungkit maka akan dapat diketahui faktor sensitif ataupun intervensi yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan untuk dapat memperbaiki atau mningkatkan status aspek Tata Pemerintahan menuju status yang lebih baik. Gambar 22 berikut menunjukkan hasil analisis faktor/atribut pengungkit untuk aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato.
Adapun faktor pengungkit utama aspek Tata Pemerintahan berdasarkan hasil analisis adalah sebagai berikut :
(1) Manfaat asosiasi/organisasi bagi anggotanya
Hasil penelitian dilapang menemukan bahwa keadaan asosiasi dan organisasi industri yang dibentuk hanya untuk mencukupi syarat perlu saja. Keberadaan kelembagaan kelompok tani yang ada di kawasan agropolitan secara kuantitas memang mengalami kemajuan karena semakin meningkat tapi secara kualitas keberadaannya masih belum banyak memberikan manfaat untuk memberdayakan masyarakat tani. Hal ini disebabkan karena fungsi dan tujuan dari kelembagaan ini masih sebatas pada informasi untuk pengelolaan usaha tani belum menyentuh aspek pengolahan hasil dan pemasaran. Petani belum mampu
memanfaatkan kelembagaan ini sabagai wadah untuk memberdayakan diri misalnya kelompok tani yang ada membentuk suatu asosiasi petani jagung yang akan bermanfaat dalam menegosiasikan harga komoditi tersebut dengan pihak pembeli. Kelembagaan kelompok tani ini justru terlihat lebih banyak bermanfaat bagi pihak pemerintah, yaitu memudahkan kontrol dalam pemberian bantuan dan evaluasi.
(2) Peran asosiasi industri/komoditi/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL,
Kelembagaan KUD yang sudah ada di desa pun masih belum banyak memberikan manfaat bagi anggotanya karena masih bersifat top down, disamping keterbatasan SDM dalam manajemen dan SDM Petani yang masih rendah. Hal ini menyebabkan manfaat dari asosiasi dan lembaga tersebut tidak dapat dirasakan oleh anggota-anggotanya. Fenomena ini sudah sangat umum terjadi di Indonesia, dimana pembentukan suatu organisasi atau asosiasi hanya untuk melengkapi presyaratan semata saja bukan merupakan suatu kebutuhan untuk mencapai tujuan. Hal ini menyebabkan organisasi tidak bertahan lama dan hanya muncul disaat ada kegiatan saja. Keadaan ini menyebabkan manfaat asosiasi tidak banyak dirasakan oleh para anggotanya. Hal ini juga yang menjadi penyebab peran asosiasi/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL belum banyak. Karena kebanyakan para pengurus hanya berperan sebagai rent seeker untuk kepentingan sendiri.
(3) Prosedur pelayanan administrasi publik.
Masih lemahnya prosedur pelayanan administrasi publik merupakan masalah dan kendala dalam pengembangan ekonomi di Kabupaten Pohuwato. Pengurusan administrasi yang panjang dan berbelit menjadi penghalang masuknya investasi dan respek masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. Diharapkan dengan adanya intervensi atau perlakuan terhadap ke tiga faktor tersebut, sehingga masyarakat sudah dapat lebih merasakan manfaat dari asosiasi tempat mereka bernaung dan perbaikan terhadap pelayanan publik maka diharapkan dapat meningkatkan status aspek tata pemerintahan ke tingkat yang lebih baik.
Leverage of Attributes
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 Kemitraan di bidang infrastruktur
Kemitraan di bidang promosi dan perdagangan Kemitraan di bidang pembiayaan usaha Reformasi sistem insentif pengembangan SDM
aparatur
Restrukturisasi organisasi pemerintah Prosedur pelayanan administrasi publik Status Asosiasi industri/ komoditi/ Forum Bisnis Peran Asosiasi industri/komoditi/ Forum bisnis
terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di Manfaat asosiasi/organisasi bagi anggotanya
A
ttri
b
u
te
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 22 Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato
8.1.6. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen.
Kondisi aspek proses Manajemen dalam Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi baik. Data hasil analisis RALED di Kabupaten Pohuwato untuk aspek Proses Manajeman menunjukkan indeks yang mencapai 50,99 dimana merupakan batas range kategori aman, sehingga dapat dikategorikan dalam posisi marginal atau pas-pasan. Secara skematis status aspek Proses Manajemen terlihat dapam Gambar 23.
RALED Ordination GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Fisheries Sustainability Ot he r D is tingis hing Fe a tur e s Real Fisheries References Anchors
Gambar 23 Status Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato
Dari indeks atau status tersebut, selanjutnya dengan analisis RALED dapat diketahui atau ditentukan faktor faktor apa sajakah yang merupakan faktor pengungkit atau faktor yang sensitif yang dapat diintervensi sehingga dapat memperbaiki atau meningkatkan status aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan menjadi lebih baik lagi.
Hasil analisis faktor /atribut pengungkit (leverage attributes) untuk aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato ditunjukkan dalam Gambar 24 berikut.
Leverage of Attributes
0 0.5 1 1.5 2 2.5 Analisis dan pemetaan potensi ekonomi
Penilaian terhadap daya saing wilayah Kepastian Berusaha dan Hukum Identifikasi stakeholder PEL Penggunaan hasil diagnosis sebagai dasar
perencanaan PEL
Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL
Sinkronisasi lintas sektoral dan spasial dalam perencanaan PEL
Kesesuaian implementasi dengan perencanaan Keterlibatan Stakholder dalam proses
penyusunan indikator evaluasi Keterlibatan stakeholder dalam proses
monitoring dan evaluasi Frekuensi dilakukan evaluasi mandiri (self
evaluation)
Frekuensi dilakukan diskusi bagi proses pemecahan permasalahan Penggunaan hasil evaluasi dalam perbaikan
perencanaan
Attribute
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Gambar 24 Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato
Berdasarkan hasil analisis, sesuai dengan urutan prioritasnya yang menjadi faktor pengungkit utama untuk aspek Proses Manajemen PEL di Kabupaten Pohuwato adalah :
1) Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL.
Keterlibatan seluruh stakeholder yang terkait dalam perencanaan pengembangan ekonomi lokal sangat penting untuk keberhasilan program. Keterlibatan dari para pengusaha sebagai pelaku dan stakeholder utama serta dunia perbankan dan masyarakat petani sangat menentukan keberhasilan berkembangnya ekonomi lokal di satu wilayah. Disamping itu jajaran pemerintah sebagai pembuat kebijakan juga sangat menentukan dalam kelangsungan dan keberlanjutan ekonomi lokal. Belum maksimalnya partisipasi dari seluruh stakeholder dalam perencanaan pengembangan ekonomi lokal menjadi penyebab
faktor ini sebagai pemicu utama. Hal ini dapat dilihat dimana berdasarkan kajian partisipasi terlihat bahwa partisipasi masyarakat masih dalam taraf konsultasi. Diharapkan pemerintah sebagai pengambil keputusan dan pembuat kebijakan dapat melihat ini sebagai faktor penting yang dapat mendorong perkembangan ekonomi lokal wilayah, sehingga dalam setiap perencanaan kebijakan pihak dunia usaha mulai dari pelaku UKM, IKM sampai usaha skala besar dan perbankan sebagai pelaku dari dan penerima efek dari setiap kebijakan yang ada dilibatkan sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan kawasan. Kurangnya keterlibatan dunia usaha dan perbankan merupakan salah datu faktor penghambat berkembangnya ekonomi lokal suatu kawasan.
8.2. Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal di Kawasan Agropolitan
Berdasarkan hasil analisis kondisi dan status pengembangan ekonomi lokal di kabupaten Pohuwato berdasarkan aspek kelompok sasaran, faktor lokasi, kesinergian dan fokus kebijakan, pembangunan berkelanjutan, tata pemerintahan dan proses manajemen diketahui bahwa status pengembangan ekonomi lokal secara keseluruhan berada dalam kondisi baik. Namun untuk lebih meningkatkan kondisi pengembangan ekonomi kearah yang lebih baik lagi diperlukan rencana pengelolaan guna menciptakan kegiatan pembangunan yang dapat mengembangkan perekonomian kawasan secara berkelanjutan sebagaimana yang tertuang dalam Visi dan misi Pemerintah Kabupaten Pohuwato. Hasil-hasil analisis selanjutnya dibandingkan dengan keadaan eksisting yang ada sehingga dapat dilihat apa yang menjadi kebutuhan daerah, kebijakan mana saja yang belum dilaksanakan dan mana yang harus dioptimalkan.
Adapun visi Pemerintah Kabupaten Pohuwato adalah ”Terwujudnya masyarakat Pohuwato yang produktif, tangguh dan sejahtera yang dilandasi oleh iman dan taqwa”. Sedangkan misi Pemerintah Kabupaten Pohuwato adalah :
1. Meningkatkan kualitas pendidikan dan pengamalan ajaran agama dan budaya dalam segala aspek kehidupan.
2. Meningkatkan produktifitas dan daya saing ekonomi daerah 3. Mewujudkan pemerintahan yang baik
4. Meningkatkan peran masyarakat sebagai mitra dan pelaku utama pembangunan daerah.
Salah satu misi diatas adalah untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing ekonomi daerah. Untuk mencapai misi tersebut maka perlu ditingkatkan pengembangan ekonomi lokal di kawasan terbebut. Untuk mengembangkan ekonomi lokal, perlu disusun rencana pengembangan ekonomi lokal berdasarkan faktor-faktor pengungkit yang berpengaruh dalam keberlanjutan sumberdaya yang dikaitkan dengan rencana strategis dari pemerintah Kabupaten Pohuwato. Secara lebih lengkap, faktor-faktor pengungkit yang berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato ditunjukan pada Tabel 42. Tabel 42 Faktor-faktor Pengungkit yang Berpengaruh terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato
No Dimensi/Aspek Pel Faktor Pengungkit
1 Kelompok Sasaran • Pusat layanan investasi
• Promosi produk UKM dari pemda
• Kampanye peluang berusaha 2 Faktor Lokasi • Pelayanan perijinan satu atap
• Kualitas dari fasilitas pendidikan
• Fasilitas umum dan sosial 3 Kesinergian dan Fokus Kebijakan • Kebijakan pengembangan pusat
pertumbuhan di perdesaan (agropolitan)
• Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda 4 Pembangunan Berkelanjutan • Jumlah perusahaan yang melakukan
inovasi pengembangan produk dan pasar
• Kontribusi Pel terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal
• Jumlah perusahaan yang memiliki business plan
5 Tata Pemerintahan • Manfaat asisiasi /organisasi bagi anggotanya,
• Peran asosiasi industri/komoditi terhadap perbaikan kebijakan pemerintah dibidang Pel
• Prosedur pelayanan administrasi publik 6 Proses Manajemen • Jumlah stakeholder yang terlibat dalam
proses perencanaan Pel
8.2.1. Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran