• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Status Identitas Responden D

Hasil wawancara terhadap responden D, ditemukan pada area kesehatan, D melakukan tes pertama kali dua bulan setelah Ramadhan 2005. Namun tes kesehatan tersebut dilakukan bukan atas kemauan D. Berikut penuturan D kepada peneliti.

Trus setelah disini, berapa lama sih mbak, misalkan tes gitu?

Saya tuh kan mbak, datang kesini bulan Ramadhan tahun 2005. Setelah kira-kira 2 bulan di sini baru saya ikut tes. Itupun bukan karena kemauan saya sendiri. Ada yang ngajakin. Yang namanya saya khan gak tau penyakit itu apa. Trus ada perkumpulan, mas N dan mbak A itu. Mereka ngumpulin anak-anak trus wawancara dan

ngajakin tes darah itu rame-rame tuk tau penyakitnya. Yah namanya kita diajakin yah gak bakal nolak. Kita dikumpulin trus dites satu-persatu.(W. D. 51).

Responden D menuturkan hasil tes tersebut dia ketahui selang satu minggu setelah tes dilaksanakan dan langsung dari konselor. Setelah mengetahui statusnya, D terkejut dan sempat sakit serta mengalami stres atau bahasa D “goncangan jiwa”. Responden D merasa kurang berkenan dengan cara konselor menyampaikan statusnya. Hal ini juga dipengaruhi oleh ketidaksiapan responden akan hasil tes yang akan diterimanya. Namun pada akhirnya setelah satu minggu sakit, D bersikap pasrah karena menyadari kenyataan tersebut sudah menjadi resiko hidupnya,

Trus kita tuh ya mbak setelah sembuh kita sering membayangkan (terputus) yah kadang-kadang kita berdoa aja sama Yang Di Atas.” Yah Allah ya Tuhanku, berilah kami ketabahan”. Kita berdoa sebisa-bisanya kita aja. Setelah tau positif itu, kita datanglah ke pertemuan-pertemuan, kumpulnya ke yang sama-sama ODHA. Jadi kita mikirnya, penyakit ini bukan kita aja, tapi banyak. Jadi pikiran kita-kita jadi lega setelah pertemuan sesama yang sudah ODHA.(W. D. 58).

Setelah dinyatakan positif HIV, D kemudian sering mengikuti pertemuan-pertemuan untuk sharing dengan sesama rekan yang juga memiliki status sebagai ODHA. Saat ditanyakan perihal informasi HIV dan AIDS, meskipun D pernah mengikuti penyuluhan tentang informasi HIV dan AIDS, namun sebelum vonis HIV positif, D merasa belum mendapat informasi yang memadai tentang penyakit tersebut.

Responden D, tergolong orang yang menjalani hidup apa adanya meskipun telah mengubah pola makannya, namun karena desakan ekonomi dan tingkat pemahaman yang terbatas, sampai sekarang D tetap menjalankan

pekerjaannya sebagai PSK. Sejak divonis HIV positif, D menuturkan ia memakai pengaman (kondom) setiap melakukan aktivitas seksual. Berikut pemaparan D.

Perilaku klo sekarang udah mulai menggunakan atau memang dari dulu dah menggunakan?

Dulu gak

Sekarang juga gak?

Klo sekarang pake kondom. Sekarang selalu bawa, kadang sehari bawa 15-20 kondom. Yah klo dulu kan gak tau. Karena ada informasi yang seperti sekarang baru kita bawa. Klo dari dulu saya sudah tau, pasti saya selalu bawa. Semenjak di Y ini aja. Klo dulu ya gak ada kondom, jadi kita mau pake kondom darimana? Klo kehidupan malam kan kita Cuma cukup buat makan aja.(W. D. 87).

Penuturan responden D tentang penggunaan pengaman saat melakukan aktivitas seksual, disanggah oleh Lay Support, berikut penuturan Lay Support

kepada peneliti.

Ya, aku tetap gak yakin, gak bisa dimonitor. Ya bagaimana, meskipun statusnya sudah HIV positif ataupun tidak, tapi penggunaan kondom itu sudah kita lakukan. Satu contoh misalkan sudah hubungannya dengan keluar malam, hubungannya dengan klien, berarti dia sebetulnya Cuma butuh untuk uang, bukan untuk masalah amannya. Nah, klo sudah bicara masalah uang berarti dia mau gak mau, misalkan konsumen gak mau pake pangaman yah tetap daripada lari ke orang lain yah tetap mau gak mau harus melayani. Mami juga gak yakin dari sekian banyak yang HIV positif atau yang dari ketiga orang yang diwawancara itu melakukan sex aman, yah mami juga gak yakin, karena kita gak lihat sendiri. Karena bukan berati jawaban dari dia sendiri bukanlah jawaban yang sebenarnya. Bisa jadi memang ada hal-hal yang bisa jadi dia lupa. Hari ini saya butuh uang sekian, daripada dia gak dapat tamu, bisa jadi akhirnya dia mengambil jalan pintas. Mau gak mau, aman gak aman, orang lain toh juga gak tau, gitu. Nanti bilang aja aku sex aman.

Tapi memang pertumbuhan kesadaran mereka belum sepenuhnya ada ya?

Iya, begini klo saya melihat, kesadaran mereka akan ada, klo misalkan mereka udah gak keluar malam dan mereka punya usaha lain. Tapi klo mereka tetap keluar malam, kesadaran mereka tetap menjadi tanda tanya buat kita.( W. LS. 14).

Saat ditanyakan mengenai keinginan responden untuk berganti pekerjaan, berikut petikan wawancara peneliti dengan D.

Masih punya keinginan gak sih mbak, dengan status itu misalkan mo ganti pekerjaan? Beralih ke pekerjaan yang lain?

Klo rencana ya besar mbak. Tapi mikir lagi, kita khan dah tua. Klo dah kena penyakit ini, seharusnya ya mbak, kita keluar malam tuh dah harus berhenti. Harusnya, tapi ya karena kita gak punya pekerjaan lain yah mau apa? Klo rencana itu besar sekali mbak.

Apa sih rencananya mbak?

Ya pingin keluar malam itu, cari pekerjaan lain, jadi pembantu kek atau apa kek. Saya rela, saya mau.

Punya keahlian lain gak sih, misalnya salon?

Klo misalkan salon ya dikit-dikit ada. Tapi klo masak-memasak yah bisalah. Dalam hati kita jadi pembantu atau apalah gak papa yang penting kita keluar dari kerja malam.

Tapi selama ini hanya sekedar berpikir ya? Belum ada tuk mencoba benar-benar mencari?

Belum.

Kenapa mbak belum mencari?

Ya takut gak diterima orang. Yah kita serba salah ya mbak ya. Orang lain khan ada yang takut ma kitalah. Tapi khan klo orang yang dah tau kita khan memang dah tau status kita. Klo orang lain tuh mbak kadang takut atau apa, ada yang ngelempar batu dsb. Beda dengan orang yang dah benar-benar kenal ma kita. Jadi khan kita serba salah. (W. D. 123).

Pemaparan di atas menunjukkan, pada area pekerjaan, D memiliki keinginan untuk berubah, namun keinginan tersebut tidak didukung oleh motivasi yang kuat karena ketakutan D terhadap stigma masyarakat tentang ODHA.

Dokumen terkait