• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Status Identitas Responden S

Hasil wawancara yang dilakukan pada responden S, pada area kesehatan, saat diwawancarai berkenaan dengan statusnya sebagai ODHA. Responden S melakukan tes pertama tahun 2003-2004, hasilnya negatif. Kemudian di Bandung S juga pernah menjalani tes (tahun 2005), hasilnya

positif, tapi S menyangkalnya. Namun setelah menjalani tes di Yogyakarta, Februari 2007, akhirnya S dapat menerima hasil tes tersebut. Berikut pemaparan S yang berhasil peneliti rekam.

Klo punya status HIV itu baru tahun ini. Tahun 2003-2004 mbak A dan dokter S datang, tapi hasilnya negatif. 2006 tes di Bandung.

Kok jauh sekali, kenapa gak disini saja?

Masalahnya tahun 2005 saya pindah ke Bandung. Tahun 2006 tes di Bandung, hasilnya positif tapi kita masih belum bisa percaya. Karena tes misalnya jam 11, jam 11.15 dah keluar hasilnya atau sekitar jam setengah 12 lah. Jadi kita tuh mikir..apa benar?? Trus waktu tes tahun 2007 hasilnya positif.

Tahun 2007 tesnya bulan apa? Bulan Februari klo gak salah.

Itu tahun 2006 bisa tes di Bandung itu, ada faktor apa?

Pertama kemauan sendiri, kedua ada yang ngajak.(W.S. 29-32).

Responden S menyangkal hasil tes di Bandung, namun tes bulan Februari 2007 di Yogyakarta ia terima dengan perasaan biasa saja. Mengenai informasi HIV dan AIDS, S pernah mendapatkannya, namun S merasa setelah positif HIV informasi yang dia dapat lebih mendetail terutama melalui pertemuan-pertemuan dengan sesama ODHA yang selalu rutin diikutinya.. Berikut penuturan Responden S.

Pertama kali tau klo positif HIVgimana? Maksudnya apa yang dirasakan?

Iya, apa perasaan S?

Biasa aja. Iya biasa. karena aku tuh dah sadar positif tapi masih normal aja meski dah kena HIV. Yang penting kita hati-hati.

Yang penting jaga perilaku ya. Perasaannya setelah positif memang biasa aja atau memang karena dah beberapa kali melakukan tes, awalnya negatif trus positif kemudian positif lagi.jadi memang dah gak kaget lagi ya? Itu dari bulan Februari sampai sekarang belum begitu lama ya? Tapi sebelumnya dah pernah dapat informasi tentang HIV? Pernah, tapi gak banyak sampai sedetail-detailnya.

Sebelum status positif sudah pernah? Sudah.

Dimana?

Setelah menjalani VCT dan mengetahui status HIV positif, responden S hingga kini belum menjalani tes CD-4. Hal ini terjadi sesuai dengan hasil pemeriksaan medis tentang kondisi S.

Saat ditanya perihal siapa saja yang mengetahui statusnya sebagai ODHA, S memaparkan, selain Mami (LS), dokter dan konselor, rekan sesama ODHA, pihak orang tua sudah mengetahui statusnya sebagai ODHA, namun pasangannya belum mengetahui statusnya.

Pada area seksual, meskipun berusaha berhati-hati, S secara jujur menuturkan ia terkadang lupa memakai pengaman. Berikut petikan wawancara berkenaan dengan status dan perilaku seksualnya.

Kamu terbuka dengan status positifmu itu sendiri dengan siapa aja? Ya dengan teman-teman yang sama tapi gak semuanya.

Dengan pasanganmu juga? Oh klo itu belum, nantilah.

Kamu pada saat melakukan perilaku seks pake pengaman? Iya pake pengaman.

Berarti tetap ya? Pasanganmu dengan perilakumu keluar malam gak apa apa?

Iya, gak masalah. Soalnya 1 minggu sekali kita ketemunya. Dia kerja di W. Ya kadang datang hanya 2-3 kali dalam seminggu, bantu membayari kebutuhan hidup, misalnya makan.

Tinggal di lingkungan sini gimana?

Enak, gak ada masalah. Semua orang-orangnya baik-baik aja. Memang ada beberapa orang yang gak ngenakin, tapi karena yang lain bisa terima kita apa adanya dan kita juga gak ganggu mereka, ya jadi cuek-cuek aja.

Yang penting kita baik ma mereka. Tapi pernah gak sih mengalami stres dalam menghadapi status ini?

Klo stres gak ya. Tapi kadang-kadang mikir juga, sedih juga, tapi gak terlalu sampai berlebihan gitu.

Sedihnya gimana? Kamu bisa cerita?

Sedihnya orang tua tau. Mereka khan tau tentang HIV, malah orang tua yang sakit bukannya kita.

Oh gitu.

Apalagi anak pertama gitu ya. Trus klo misalkan sedih gitu siapa yang diajak ngomong?

Teman.

Klo sama mami pernah?

Pernah, tapi gak begitu sering. Kadang misalkan gini3x tapi besok udah gak lagi. Jadi gimana ya, gak begitu jadi beban pikiran saya. Teman itu siapa?

Sesama ODHA.

Lebih nyaman dengan sesama ODHA gitu ya? Apa mungkin juga pengaruh karena sering pertemuan-petemuan gitu?

Ya, karena pertemuan juga.

Pada saat pertemuan, ngapain aja sih kalian?

Yah paling klo ada pembahasan, kita bahas masalah HIV buat ODHA lah. Tapi klo gak ada kita ngobrol-ngobrol biasa aja, ngerumpi.

Misalnya perilaku amannya dibahas juga?

Iya, misalnya pemakaian kondom dan sebagainya.

Tapi memang S pada saat pertama kali terjun ke jalanan dah pakai pengaman?

Untuk pertama kali ya, kadang-kadang pake kadang-kadang gak. Klo pake pas waktu bawa, klo gak minta sama yang lain. Tapi pada awal-awalnya sih masih belum begitu ya. Beda sama yang sekarang, yang dah memang ada pembagian-pembagian kondom. Klo saya ya, klo yang lain gak tau. Pertamanya saya belum.

Itu setelah positif HIV selalu pake pengaman gak sih? Atau memang kadang-kadang iya, kadang-kadang gak?

Kadang-kadang lupa juga ya, kadang gak pake.(W.S. 44 – 59).

Pada area pekerjaan, menyikapi statusnya, S saat penelitian dilakukan secara berangsur-angsur mulai mengurangi aktivitas malamnya dan berganti pekerjaan. Langkah yang dilakukan S merupakan suatu bentuk upaya perbaikan orientasi hidup. Responden S tidak hanya sekedar menjaga pola hidup, tetapi juga mulai mengurangi perilaku yang membawa resiko terhadap penyakitnya tersebut. Bahkan S menuturkan selain ingin mengembangkan ketrampilan, ia menuturkan bahwa orang tuanya menginginkan ia tidak menjadi waria lagi, berikut hasil wawancara peneliti dengan S.

Harapanmu, kamu kan masih muda 20 tahun, tadi khan mo keluar dari kerja malam, trus kursus, punya keterampilan. Selain itu harapanmu apa lagi?

Klo dari ortu tuh mintanya saya sadar.

Sadar maksudnya gak jadi waria lagi gitu? Kembali menjadi pria? Iya.(W. S 105 – 106).

Hal ini juga didukung oleh pernyataan Lay Support saat diwawancarai oleh peneliti. Pernyataan Lay Support adalah sebagai berikut :

Dari ketiga ini, yang mami lihat sudah ada kemauan gak sih mi untuk merubah dan kemudian mereka punya usaha lain gitu?

Dari ketiga ini, malah yang mami lihat yang muda sendiri ini (responden S) yang malahan banyak mau belajar. Karena yang muda ini sebetulnya masih segar, pikirannya masih enak diingatkan. Diingatkan itu, usaha untuk merubah pikiran itu ada dan itu memang bagus. Tapi klo yang tua-tua ini memang angel banget.(W.LS. 17).

Dokumen terkait