TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Status Sosial Ekonomi dan Lingkungan Petani
Setiap orang dalam masyarakat memiliki status sosial ekonomi yang berbeda-beda dan bertingkat, ada yang tinggi, sedang hingga rendah. Pengertian status sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1251) merupakan keadaan atau kedudukan (orang, badan dan sebagainya) dalam hubungan dengan
12 masyarakat di sekelilingnya. Status memiliki arti penting dalalm sistem sosial masyarakat. Menurut Luth dan Fernandez (1995: 141) status berarti posisi atau keadaan dalam suatu jenjang atau hirarki dalam suatu wadah sebagai symbol dari hak dan kewajiban dan jumlah peranan yang ideal dari seseorang. Status juga bisa dikatakan sebagai posisi yang diduduki seseorang dalam suatu kelompok.
Istilah sosial berasal dari Bahasa Inggris yaitu society asal kata dari socius yang berarti kawan. Secara umum sosial diartikan sebagai segala sesuatu mengenai masyarakat dan kemasyarakatan. Sedangkan istilah ekonomi sendiri berasal dari Bahasa Yunani yang berasal dari kata oikonomia atau oikos dan nomos yang berarti pengaturan rumah tangga. Kata ekonomi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 455) diartikan sebagai pengetahuan mengenai asas-asas penghasilan (produksi), pembagian (distribusi) dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti halnya keuangan perindustrian, perdagangan barang-barang serta kekayaan) di lingkungan tempat tinggal. Sedangkan menurut Gunadi (1990: 111) ekonomi merupakan studi mengenai tindakan yang paling erat berhubungan dengan memperoleh dan menggunakan barang-barang yang diperlukan bagi kesejahteraan.
Nasution (2008: 34) mengatakan bahwa status sosial ekonomi merupakan suatu tingkatan yang dimiliki oleh seseorang yang didasarkan pada kemampuan dalam memenuhi kebutuan hidup sehari-hari dasri penghasilan atau pendapatan yang diperoleh sehingga mempunyai peranan pada status sosial seseorang dalam struktur masyarakat. Nasution juga menjelaskan bahwa penghasilan atau pekerjaan tertentu juga menentukan tinggi rendahnya status seseorang. Sedangkan menurut
13 Maftuh dan Ruyadi (2005: 34) status sosial ekonomi adalah status seseorang dalam masyarakat dilihat dari segi kedudukan, pendapatan, dan kekayaan.
2.2.1. Ukuran Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi ditinjau dari penjelasan di atas diartikan sebagai kondisi yang menggambarkan kedudukan seseorang atau keluarga dalam masyarakat berdasarkan kondisi kehidupannya terkait kedudukan, memperoleh pendapatan dan menggunakan kekayaan untuk kesejahteraan. Warner dalam Indrawati (2009: 43) menyusun empat komponen sebagai ukuran untuk status sosial ekonomi seseorang, diantaranya yaitu pekerjaan, sumber pendapatan, tipe rumah dan kawasan tempat tinggal. Sementara Hollinghead dalam Indrawati (2009: 43) memberikan skala atas tiga komponen yaitu kawasan tempat tinggal, gengsi, pekerjaan dan pendidikan.
Dalam hal ini, penulis hanya membatasi dalam empat komponen status sosial ekonomi yaitu: status sosial (kedudukan), sumber pendapatan (penghasilan dan bantuan) serta kekayaan (sumber daya lahan).
2.2.2. Pengertian Lingkungan Petani
Manusia sebagai makhluk yang hidup di dunia tidak hanya memiliki kehidupan sendiri, namun manusia juga tidak bisa lepas dari manusia lainnya.
Manusia pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya dan karena sifat itu manusia disebut sebagai makhluk sosial (Wigna, 2009: 6). Begitu pula petani sebagai profesi seorang manusia, petani memiliki pergaulan dan perkumpulan baik dalam lingkup kecil maupun besar.
14 Dalam hal ini keluarga petani merupakan lingkup terkecil yang dimiliki oleh seorang petani, sementara masyarakat merupakan lingkup terbesarnya.
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal bagi seseorang begitu lahir di dunia. Secara prinsip, keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih berdasarkan pada ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga di bawah asuhan seorang kepala rumah tangga, berinteraksi di antara anggota keluarga dan setiap anggota keluarga memiliki peranannya masing-masing dalam menciptakan dan mempertahankan budaya keluarga. William Bennet dalam Hastuti (2008: 65) mengungkapkan bahwa keluarga adalah tempat paling efektif dimana seorang anak menerima kebutuhan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan bagi hidupnya, serta kondisi-kondisi biologis, psikologis dan pendidikan serta minat anak amat tergantung pada keluarga.
Sementara itu masyarakat merupakan sekelompok manusia yang secara relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, mendiami suatu temapt tertentu dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut (Horton dan Hunt dalam Rahayu, 2010: 7). Masyarakat merupakan lingkungan yang terdapat manusia-manusia lain yang ada disekitar seperti tetangga, teman sebaya dan bahkan orang lain di sekitarnya yang belum dikenal (Amsyari dalam Resmana, 2012: 9). Sehingga lingkungan petani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lingkungan keluarga petani dan juga lingkungan masyarakat atau keadaan sekitar atau tempat tinggal dari petani.
15 2.3. Pemuda
Pemuda adalah aktor kunci dalam sebagian besar proses perubahan ekonomi dan sosial. Dua tema penting dalam kajian-kajian makro perubahan sosial di Indonesia adalah proses urbanisasi (pergerakan spasial populasi) dan de-agrarianisasi (pergeseran sektoral dalam pekerjaan). Kedua pergeseran ini umumnya dilakukan oleh pemuda. Pemuda dan bukan orang tua yang pindah ke kota mencari pekerjaan, pemuda jugalah yang memutuskan bahwa masa depan mereka bukan di bidang pertanian (Naafs dan White, 2012: 90).
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam Naafs dan White (2012: 91) mendefinisikan pemuda sebagai mereka yang berusia 15–24 tahun. Berbeda dengan PBB, peraturan perundang-undangan Indonesia (seperti halnya di beberapa negara lain Asia, Afrika dan Amerika Latin) memperpanjang batas formal pemuda. Pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan mendefinisikan pemuda sebagai warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.
Hurlock (1980: 14) membagi rentang kehidupan dalam beberapa tahapan diantaranya, (1) Periode Pranatal, yaitu periode konsepsi kelahiran, (2) Bayi, yang dimulai sejak kelahiran sampai akhir minggu kedua, (3) Masa Bayi, dari akhir minggu kedua samapi akhir tahun kedua, (4) Awal Masa Kanak-kanak, dari 2 - 6 tahun, (5) Akhir Masa Kanak-kanak, dari 6-10 tahun atau 12 tahun, (6) Masa Puber atau Pramasa Remaja, 10 atau 12 sampai 13 atau 14 tahun, (7) Masa Remaja dimulai sejak 13 atau 14 tahun sampai 18 tahun, (8) Awal Masa Dewasa 18-40 tahun, (9)
16 Usia Pertengahan dari 40 sampai 60 tahun dan (10) Masa tua atau Usia Lanjut dari 60 tahun sampai meninggal.
Menurut Naafs dan White (2012: 96) perubahan pada predikat pemuda di Indonesia yang diperpanjang terjadi karena ketika orang muda menempuh pendidikan lebih panjang, rata-rata usia awal perkawinan akan naik dan waktu memasuki dunia kerja diulur. Batas-batas kepemudaan juga bergantung pada keadaan pemuda di masyarakat. Laki-laki atau perempuan yang menginjak awal dua puluhan menganggap diri mereka (dan dipandang sebagai) telah dewasa oleh masyarakat jika di umur 15 tahun sudah keluar dari sekolah, telah bekerja beberapa tahun dan menikah serta memiliki anak. Sedangkan laki-laki atau perempuan di akhir usia dua puluhan yang masih lajang, tinggal bersama orangtua mereka, menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dan belum memasuki dunia kerja profesional akan menganggap diri mereka (dan dipandang sebagai) pemuda oleh masyarakat. Setiap tahapan mempunyai interaksi dan tanggapan yang berbeda-beda terhadap nilai-nilai, maupun tantangan yang akan datang pada setiap diri individu.