Satuan pengukuran dan indikator masing-masing peubah penelitian adalah sebagai berikut:
Peubah X: Karakteristik pegawai Dinas Sosial adalah sejumlah ciri pribadi yang terdiri atas:
X1 Jenis kelamin. Data skala nominal.
X2 Umur yang dinyatakan dalam tahun. Data skala rasio.
X3 Pendidikan formal adalah jenjang sekolah tertinggi yang diselesaikan hing- ga memperoleh ijazah sebagai buktinya. Data skala ordinal.
X4 Kejuruan pendidikan formal adalah jurusan atau program studi yang dipilih saat menempuh sekolah formal. Data skala nominal.
X5 Status sekolah adalah sebutan bagi lembaga pendidikan formal yang dibe- dakan dengan istilah negeri dan swasta. Data skala nominal.
X6 Motivasi kerja adalah dorongan dari dalam dan luar diri untuk bekerja, ka- rena adanya kepuasan yang ditimbulkan oleh prestasi, penghargaan, tang- gungjawab, promosi, pekerjaan itu sendiri, dan potensi bagi pertumbuhan, serta tiadanya ketidakpuasan yang ditimbulkan oleh kebijakan organisasi, pengendalian, gaji, dan kondisi kerja. Data skala interval.
X7 Curahan waktu mencari informasi adalah jumlah jam dalam satu hari yang digunakan untuk mencari informasi melalui media massa. Data skala rasio. X8 Gaji adalah upah kerja berupa sejumlah uang dalam rupiah yang diterima
setiap bulan. Data skala rasio.
X9 Status sosial adalah kedudukan dalam lapisan masyarakat berdasarkan u- kuran kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ilmu pengetahuan yang di- miliki. Data skala ordinal.
X10 Pengalaman kerja adalah jumlah tahun kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Sosial. Data skala rasio.
Peubah Y: Kebutuhan latihan pegawai Dinas Sosial dalam penyuluhan sosial adalah kekurangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mewujudkan kompetensi dalam :
1) Aksi sosial. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap dan kete- rampilan untuk (a) memahami elemen komunitas, (b) proses sosial dalam komunitas, (c) proses pemecahan masalah, (d) pengambilan keputusan da- lam pemecahan masalah, (e) menyiapkan masukan aksi sosial, (f) meran-
cang keluaran aksi sosial, (g) merancang dampak aksi sosial, (h) menginformasikan aksi sosial, (i) membentuk organisasi kerja,
(j) mengamati obyek, (k) membandingkan hasil pengamatan dengan pedoman, (l) mengambil keputusan penilaian. Data skala interval.
2) Keragaman budaya. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk memahami keragaman (a) nilai sosial, (b) norma sosial, (c) keyakinan sosial, (d) adat istiadat, (e) etika sosial, (f) standar mo- ral. Data skala interval.
3) Program penyuluhan. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk (a) mengumpulkan data PMKS, (b) mengumpulkan data lingkungan PMKS, (c) menilai taraf kesejahteraan PMKS, (d) menilai daya dukung lingkungan pada pemecahan masalah kesejahteraan sosial, (e) mengenali gejala masalah, (f) merumuskan masalah, (g) merumuskan akar masalah, (h) Menetapkan prioritas masalah, (i) merumuskan tujuan pemecahan masalah, (j) merancang alternatif pemecahan masalah, (k) me- nyusun rencana kegiatan, (l) menginformasikan rencana kegiatan, (m) me- mandu pembahasan kegiatan, (n) menggerakkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan, (o) mengamati untuk menilai kegiatan, (p) membandingkan hasil pengamatan dengan pedoman, (q) mengambil keputusan penilaian, dan (r) mempertimbangkan rumusan program. Data skala interval.
4) Sumber daya dan kebutuhan PMKS. Indikatornya kekurangan pengetahu- an, sikap dan keterampilan untuk (a) mengenali sumber daya finansial yang dimiliki PMKS, (b) mengenali sumber daya material PMKS, (c) mengenali sumber daya intelektual PMKS, (d) mengenali lembaga usaha kesejahtera- an sosial, (e) mengenali relawan sosial, (f) mengenali kebutuhan fisik PMKS, (g) mengenali kebutuhan keterampilan PMKS. Data skala interval. 5) Mengelola informasi. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap
dan keterampilan untuk (a) berbicara di depan publik / pidato, (c) membuat brosur, leaflet, booklet, poster, flipchart, (d) membuat bahan presentasi, (e) mengasuh siaran radio lokal, (f) mengasuh kolom/rubrik koran lokal, (g) mencari, mengolah, menyampaikan informasi dengan menggunakan internet, (h) memandu diskusi, (i) melakukan simulasi, (j) membuat slide film, (k) melakukan demonstrasi. Data skala interval.
6) Relasi interpersonal. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk (a) menjalin kontak sosial, (b) mengenali landasan kemitraan, (c) merumuskan visi, misi, tujuan kemitraan, (d) mewujudkan ko- mitmen kemitraan, (e) komunikasi interpersonal, (f) mengenali pihak-pihak
yang potensial dijadikan jaringan, (g) mengenali faktor-faktor kualitas jeja- ring, (i) membangun kepercayaan diri, (j) membangun salingketergantung- an dengan pihak lain. Data skala interval.
7) Landasan penyuluhan. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, si- kap dan keterampilan untuk (a) memahami sejarah penyuluhan, (b) mene- rapkan falsafah penyuluhan, (b) menerapkan prinsip penyuluhan, (c) mene- rapkan etika penyuluhan. Data skala interval.
8) Kepemimpinan. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk (a) menerapkan gaya orientasi tugas–hubungan, (b) menerapkan gaya otokratis–demokratis, (c) menerapkan gaya situasional, (d) komunikasi, (e) motivasi, (f) supervisi, (g) pengambilan keputusan, (h) menilai kesiapan kelompok, (i) memantapkan kelompok, (j) persuasi kelom- pok, (k) membangun komitmen kelompok, (l) memberi perhatian kepada ke- lompok. Data skala interval.
9) Organisasi kerja. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk (a) memahami struktur organisasi Pemda dan Depsos, (b) memahami kewenangan Pemda dan Depsos dalam penanganan masa- lah kesejahteraan sosial, (c) memahami tugas Pemda dan Depsos dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial, (d) memahami posisi penyuluh sosial dalam struktur organisasi Pemda dan Depsos, (e) memahami peran Penyuluh Sosial terkait posisinya dalam struktur organisasi Pemda dan Depsos, (f) memahami hak dan kewajiban Penyuluh Sosial, (g) memahami tanggung jawab Penyuluh Sosial, (h) memahami tugas Penyuluh Sosial, (i) memahami peluang pengembangan diri dan karir Penyuluh Sosial. Data skala interval.
10) Profesionalisme. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk (a) membangun kinerja unggul, (b) membangun komit- men pada pendidikan sepanjang hayat, (c) membangun komitmen ter- hadap visi, misi, tujuan penyuluhan, (d) bekerjasama dengan peneliti. Data skala interval.
11) Kompetensi teknis. Indikatornya adalah kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk (a) mengenali kondisi anak terlantar, (b) pengasuh- an anak, (c) kondisi fakir miskin, (d) merancang latihan teknis dan mana- jerial, (e) menumbuhkan kewirausahaan, (f) memfasilitasi perolehan dan pengembalian kredit mikro, (g) melakukan kegiatan persiapan prabencana,
(h) melakukan tindakan tanggap darurat, (i) melakukan tindakan pasca- bencana. Data skala interval.
Instrumentasi
Instrumen yang digunakan adalah angket yang terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berisi pertanyaan dan pernyataan untuk memperoleh data pe- ubah karakteristik responden dengan jawaban terbuka dan tertutup. Bagian ke- dua berisi pernyataan untuk menggali data peubah kebutuhan latihan pegawai Dinas Sosial dalam penyuluhan sosial yang jawabannya telah disediakan secara tertutup dalam lima kontinum.
Angket yang digunakan ada empat macam (Lampiran 1, 2, 3, 4). Keempat macam angket tersebut, mempunyai persamaan dalam bagian pertama untuk mengukur karakteristik pegawai Dinas Sosial. Persamaan lainnya adalah pada semua angket, baik bagian pertama maupun bagian kedua, menggunakan per- tanyaan dan pernyataan yang sama.
Perbedaan antar keempat macam angket tersebut, terletak pada struktur angket bagian kedua yang mengukur kebutuhan latihan, sebagai berikut:
1) Angket jenis pertama (Instrumen I) berwujud dua sisi. Sisi A mengukur ke- mampuan aktual menyuluh. Sisi B mengukur pentingnya kemampuan me- nyuluh.
2) Angket jenis kedua (Instrumen II) berwujud satu sisi yang mengukur pen- tingnya kemampuan menyuluh.
3) Angket jenis ketiga (Instrumen III) berwujud satu sisi yang mengukur ke- mampuan aktual menyuluh.
4) Angket jenis keempat (Instrumen IV) berwujud satu sisi yang mengukur ku- antitas kebutuhan latihan menyuluh.
Kesahihan dan Keandalan Instrumen
Kesahihan Instrumen
Kesahihan adalah tingkat kemampuan instrumen penelitian untuk meng- ungkapkan data sesuai dengan masalah yang hendak diungkapkannya (Hadari dan Martini, 1995:178). Validitas isi digunakan untuk memperoleh instrumen
penelitian yang benar-benar mengukur peubah kebutuhan latihan penyuluhan sosi-al.
Prosedur yang ditempuh adalah membuat kisi-kisi instrumen data peubah kebutuhan latihan, kemudian menyerahkan untuk dinilai tiga orang anggota tim juri yang terdiri atas dua orang pakar penyuluhan sosial, dan seorang pakar pekerjaan sosial.
Ketiga anggota tim juri yang bekerja secara terpisah melakukan penilaian kebenaran kisi-kisi instrumen dalam mengukur peubah kebutuhan latihan, dan memberi masukan untuk memperbaiki kemampuan instrumen dalam mengukur peubah tersebut.
Item kisi-kisi yang oleh mayoritas anggota tim juri dinyatakan benar-benar dapat mengukur peubah kebutuhan latihan dijadikan item pertanyaan atau per- nyataan dalam instrumen, sedangkan yang salah dibuang.
Berdasarkan prosedur tersebut, instrumen dinyatakan sahih, atau benar- benar dapat mengukur peubah kebutuhan latihan pegawai Dinas Sosial dalam penyuluhan sosial.
Keandalan Instrumen
Keandalan adalah tingkat kemampuan instrumen penelitian untuk mengum- pulkan data secara tetap dari sekelompok individu (Hadari dan Martini, 1995: 190). Jenis tes keandalan yang digunakan untuk mengetahui keandalan dalam mengukur peubah kebutuhan latihan pegawai Dinas Sosial dalam penyuluhan sosial adalah Cronbach’s Alpha.
Pemilihan jenis uji keandalan tersebut didasarkan pada pendapat Santos (1999:1) yang menyatakan bahwa Cronbach’s Alpha mampu menyatakan kon- sistensi asosiasi antar item dalam instrumen pengumpulan data sebagai dasar ukuran keandalan instrumen tersebut.
Koefisien Cronbach’s Alpha berkisar dalam rentang nilai 0 – 1. Juliandi (tt:2) menyatakan suatu instrumen dinyatakan mempunyai keandalan tinggi atau baik jika memiliki koefisien Cronbach’s Alpha > 0.5, sedangkan menurut Ghozali (Juliandi, tt:2) menyatakan > 0.6, sementara itu menurut Nunally (Santos, 1999:2) ≥ 0.7.
Dalam penelitian ini ukuran koefisien Cronbach’s Alpha yang menggambar- kan derajat keandalan yang tinggi, adalah mengikuti pendapat Nunally yaitu se- besar 0.7. Hal itu dimaksudkan untuk menerapkan standar yang relatif tinggi da- lam penetapan derajat keandalan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung koefisien Cronbach’s Alpha menurut Juliandi (tt:1) adalah:
(
)
⎥
⎥
⎥
⎥
⎦
⎤
⎢
⎢
⎢
⎢
⎣
⎡
−
⎥
⎦
⎤
⎢
⎣
⎡
−
=
∑
= 2 1 21
1
t k i ik
k
r
σ
σ
Keterangan:r = koefisien keandalan instrumen (Cronbach’s Alpha) k = banyaknya butir pertanyaan
∑
2i
σ
= varian butir pertanyaan, i = 1,...,118 2t
σ
= total varianUji coba untuk mengetahui keandalan keempat macam instrumen dilaku- kan pada tanggal 15–19 September 2008, masing-masing instrumen kepada sepuluh orang pegawai Dinas Sosial. Hasil uji coba diperoleh koefisien Cronbach’s Alpha untuk Instrumen I sisi A sebesar 0.988, dan sisi B sebesar 0.968, Instrumen II sebesar 0.977, Instrumen III sebesar 0.988, dan Instrumen IV sebesar 0.993.
Selanjutnya dilakukan analisis butir pada instrumen, tujuannya untuk memperbaiki item pernyataan yang memiliki koefisien korelasi yang rendah. Caranya dengan memperbaiki rumusan kalimat pada item tersebut.
Berdasarkan koefisien Cronbach’s Alpha yang menunjukkan nilai >0.700, dan hasil perbaikan pada beberapa item pernyataan, instrumen dinyatakan an- dal.
Pengumpulan Data
Untuk keperluan pengumpulan data dengan menggunakan empat macam instrumen, total anggota sampel yang berukuran 228 orang ditempatkan secara acak dengan bantuan perangkat lunak SPSS 13, ke dalam empat kelompok sam- pel, sehingga setiap kelompok berjumlah 57 orang.
Selanjutnya, secara acak dengan cara undian ditetapkan penggunaan instrumen untuk setiap kelompok sampel, sehingga setiap kelompok mengisi instrumen yang berbeda.
Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti pada tanggal 13 Oktober–14 Nopember 2008 di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru, Kabupaten Barito Kuala, Tanah Laut, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong.
Sebelum mengisi instrumen, responden diberi penjelasan tentang tujuan pengumpulan data dan tata cara mengisi. Setelah diisi, instrumen diperiksa ke- lengkapan jawaban masing-masing item pertanyaan dan pernyataan. Kemudian instrumen yang telah terisi dikelompokkan menurut jenisnya (I, II, III, dan IV). Selanjutnya data karakteristik, dan skor jawaban setiap responden pada setiap item instrumen sejenis, dimasukkan ke dalam tabel Kj x Ni. Dimana j adalah item
pertanyaan ke-1,...,118; dan i adalah responden ke-1,...,57. Akhirnya, diperoleh empat tabulasi yang masing-masing berisi data karakteristik dan kebutuhan latih- an pegawai Dinas Sosial dalam penyuluhan sosial.
Proses tabulasi tersebut menggunakan perangkat lunak SPSS 13 dan Microsoft Excell 2003.
Analisis Data
Pertanyaan penelitian pertama yaitu “Bagaimana distribusi pegawai Dinas Sosial pada sejumlah karakteristik yang diamati?” Dijawab melalui distribusi fre- kuensi untuk menghitung jumlah kasus dan persentasenya.
Pertanyaan penelitian kedua yaitu “Bagaimana peringkat kebutuhan latihan pegawai Dinas Sosial dalam penyuluhan sosial?” Dijawab melalui pemeringkatan skor tertimbang data pada setiap unsur kebutuhan latihan pegawai Dinas Sosial dalam penyuluhan sosial, kemudian dilanjutkan dengan analisis konkordansi Kendall W.
Analisis konkordansi Kendall W digunakan berdasarkan pada pendapat Siegel (1994:283) yang menyatakan apabila terdapat k himpunan ranking, dapat ditentukan asosiasi antara himpunan-himpunan ranking itu dengan mengguna- kan koefisien konkordansi Kendall W. Kemampuan Kendall W dalam menyata- kan derajat asosiasi simultan antara beberapa set ranking, membuatnya sesuai untuk menghitung hubungan simultan antara lima konfigurasi peringkat kebutuh- an latihan yang dihasilkan oleh empat macam instrumen dalam penelitian ini. Koefisien W berkisar antara 0–1. Angka 1 menunjukkan kesesuaian sempurna.
Menurut Siegel (1994:285) persamaan untuk menghitung W adalah:
(N
N)
k
s
W
−
=
3 212
1
Keterangan :W = koefisien konkordansi Kendall k = jumlah himpunan ranking N = banyak keseluruhan kasus
s = jumlah kuadrat deviasi Rj dari harga rataan ranking
2 1
∑
∑
⎟ ⎟ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ − = = N Ri R s N i j Keterangan:Rj = jumlah ranking dalam kolom atau sampel ke-j
Prosedur untuk menghitung W menurut Siegel (1994:285) adalah pertama dicari jumlah ranking Rj dalam setiap kolom pada suatu tabel k x N. Kemudian
jumlahkan Rj, hasilnya dibagi dengan N untuk menemukan harga rata-rata Rj.
Masing-masing Rj dapat dinyatakan sebagai deviasi dari harga rata-rata itu.
Akhirnya s yaitu jumlah kuadrat deviasi-deviasi tersebut dapat ditemukan.
Pertanyaan penelitian ketiga yaitu “Bagaimana derajat kesepakatan pega- wai Dinas Sosial berdasarkan sejumlah karakteristik yang diamati pada pe- meringkatan kebutuhan latihan pegawai Dinas Sosial dalam penyuluhan sosial?” Dijawab melalui analisis konkordansi Kendall W dan korelasi rank Kendall τ.
Menurut Siegel (1994:264): ”Korelasi rank Kendall τ cocok sebagai ukuran korelasi dengan jenis data sekurang-kurangnya ordinal, sehingga setiap subyek dapat diberi peringkat...maka τ akan memberikan suatu ukuran tingkat asosiasi antara dua himpunan peringkat”.
Koefisien τ berkisar antara -1 sampai dengan 1. Angka -1 menunjukkan asosiasi negatif (ketidaksesuaian) sempurna, sedangkan 1 menunjukkan asosia- si positif (kesesuaian) sempurna antara satu himpunan peringkat dengan satu himpunan peringkat lain.
(
1)
2 1 − − = N N n nc dτ
Keterangan:nc = jumlah pasangan yang sesuai
nd = jumlah pasangan yang tidak sesuai
N = banyak obyek yang diurutkan pada X dan Y
Langkah-langkah penggunaan koefisien rank Kendall τ (Siegel, 1994:275) adalah:
1) Beri peringkat observasi-observasi pada peubah X dari 1 hingga N. Begitu juga untuk peubah Y.
2) Susun N subyek sehingga peringkat-peringkat X untuk subyek- subyek itu ada dalam urutan wajar, yakni 1,2,3,...,N.
3) Amati peringkat-peringkat Y dalam urutan yang bersesuaian de- ngan dengan peringkat X yang ada dalam urutan wajar. Tentukan harga nc dan nd untuk urutan peringkat Y ini.
4) Jika tidak terdapat angka sama di antara observasi-observasi X maupun Y, gunakan rumus berikut untuk menghitung harga τ.
(
1)
2 1 − − = N N n nc dτ
Jika terdapat angka sama, gunakan rumus berikut untuk meng- hitung harga τ.
(
)
X(
)
Y d cT
N
N
T
N
N
n
n
−
−
−
−
−
=
1
2
1
1
2
1
τ
Keterangan: TX = 0
TY =
∑
t( )t−1
2
1
t = banyak observasi berangka sama
Pertanyaan penelitian keempat yaitu “Instrumen apa yang sahih dan andal untuk mengukur kebutuhan latihan dalam penyuluhan sosial?” Dijawab dengan analisis Cronbach’s Alpha, dan analisis varian yang dilanjutkan dengan penghi- tungan koefisien keandalan.
Analisis varian digunakan karena dapat menghitung harga varian error sua- tu himpunan skor. Hal ini terkait dengan pernyataan Kerlinger (2004:713) bahwa setelah menerapkan suatu instrumen pada sehimpunan obyek dan memperoleh sehimpunan skor, dapat dihitung suatu harga varian yang di dalamnya terkan- dung varian galat (error).
Selanjutnya, Kerlinger (2004:715) menyatakan bahwa keandalan suatu instrumen atau alat pengukur dapat ditetapkan melalui galat: Makin banyak galat, makin besar ketidakandalan. Makin sedikit galat, makin besarlah keandalan. Berdasarkan hal tersebut, keandalan didefinisikan sebagai proporsi varian galat pada varian total yang dihasilkan suatu instrumen pengukur yang dikurangkan pada 1.00; dengan indeks 1.00 menunjukkan keandalan sempurna.
Definisi tersebut dinyatakan oleh Kerlinger (2004:716) dalam bentuk persamaan: t e tt V V r =1− Keterangan: rtt = koefisien keandalan
Ve = varian error (galat)
Vt = varian total
Nazir (2005:137-139) menyatakan prosedur untuk analisis varian sebagai berikut:
1) Membuat lembar kerja (Ni x kj). Ni adalah individu 1,...,n. kj adalah skor
2) Menghitung faktor koreksi, jumlah kuadrat antar item, jumlah kuadrat antar individu, jumlah kuadrat galat, jumlah kuadrat total, dan rata-rata kuadrat atau varian dari masing-masing item.
Untuk mengetahui koefisien keandalan, masukan nilai-nilai rata-rata kua- drat varian individu dan varian error ke dalam persamaan:
individu error individu error individu V V V V V r = − =1− Keterangan: r = koefisien keandalan
Vindividu = varian yang diperoleh individu
Verror = varian error (galat)
Proporsi (persentase) varian sebenarnya suatu himpunan skor, dihitung de- ngan cara mengkonversi koefisien keandalan ke dalam persentase. Proporsi (persentase) varian error dihitung dengan mengurangkan angka 100 kepada har- ga persentase varian sebenarnya. Analisis data dibantu oleh perangkat lunak SPSS 13, dan Microsoft Excell 2003.