• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stimulan yang diterapkan kepeda para pekerja dalam

Dalam dokumen Manajemen Pendidikan (Halaman 81-85)

d. Tiongkok Kuno

mengemukan 4 prinsip dasar, yaitu; (1) perkembangan manajemen ilmiah yang benar dapat digunakan untuk

6. Stimulan yang diterapkan kepeda para pekerja dalam

bentuk reward atau imbalan akan memunculkan respon

dalam bentuk tingkah laku yang dinamis dalam bekerja. 3. Pendekatan Sistem (Manajemen Sistem)

Manajemen sistem adalah aliran yang memandang organisasi sebagai satu kesatuan yang sinergis yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama secara efektif dalam mencapai tujuan. Setiap komponen saling menunjang satu dengan yang lainnya dalam menentukan arah suatu aktivitas organisasi.

Dalam manajemen sistem terdapat hubungan-hubungan tertentu antar komponen organisasi atau antar sub sistem. Hubungan yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

a. Hubungan fungsional, yaitu hubungan yang berkaitan dengan gerak dari fungsi aktivitas organisasi;

b. Hubungan timbal balik, yaitu hubungan saling menguatkan dan memberi masukan untuk pemenuhan kepentingan organisasi; c. Hubungan sinergitas, yaitu hubungan kerja sama antar bagian

tertentu meskipun tugas dan kewajiban yang berbeda;

d. Hubungan umpan balik, yaitu hubungan yang berkaitan dengan saling melengkapi dan menyempurnakan kinerja organisasi; e. Hubungan sebab akibat, yaitu adanya keterkaitan antara

aktivitas kegiatan organisasi dengan hasil yang dicapai serta dengan dampak yang diterima oleh para pekerja;

f. Hubungan normatif, yaitu hubungan yang berkaitan dengan

peraturan organisasi yang berlaku dan harus dipatuhi oleh semua anggota organisasi.

Elias M. Awad59 menjelaskan bahwa ciri-ciri sistem meliputi:

a) Terbuka

b) Terdiri dari dua atau lebih subsistem c) Saling Ketergantungan

d) Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya e) Kemampuan untuk mengatur diri sendiri

f) Tujuan dan sasaran

William A. Schrode dan Dan Voich Jr. menyebutkan ada enam ciri pokok sistem, yaitu:

a) Purposive Behavior b) Wholisme

c) Terbuka

d) Melakukan kegiatan transformasi e) Saling terkait mekanisme kontrol.

Sistem mempunyai ciri-ciri pokok sebagai berikut: a) Setiap sistem mempunyai tujuan.

b) Setiap sistem mempunyai batas (boundaries).

c) Walaupun terbatas sistem memiliki sifat terbuka dalam arti berinteraksi dengan lingkungan.

d) Suatu sistem terdiri dari berbagai unsur atau komponen (sub

system) yang saling tergantung dan berhubungan.

e) Setiap sistem melakukan kegiatan atau proses trasformasi atau proses mengubah masukan menjadi keluaran (processor or transformator).

f) Setiap sistem memiliki mekanisme kontrol dengan

memanfaatkan umpan balik.

Demikian setiap sistem mempunyai kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Berdasarkan ciri-ciri sistem di atas, maka dapat disimpulkan sistem apabila memiliki ciri-ciri yang meliputi; terbuka dari lingkungan, 59 Anggara, Loc.cit., hlm. 23

kumpulan unsur-unsur, interdependensi satu sama lain, menyeluruh, dapat beradaptasi, memiliki kapasitas, dapat melakukan transformasi, memiliki mekanisme kontrol, serta bekerjasama untuk mecapai tujuan bersama.

Secara sederhana sistem itu merupakan sehimpunan unsur-unsur yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan bersama. Pengertian ini dapat digambarkan dengan beberapa contoh sistem, unsur-unsurnya, dan tujuannya.

Salah satu sifat pokok semua sistem adalah orientasi objektifnya dan perilaku yang memiliki tujuan. Pada umumnya, dapat dikatakan bahwa tujuan suatu sistem adalah menciptakan nilai dengan jalan mengombinasi dan memanfaatkan sumber daya dengan cara tertentu.

Nilai yang diciptakan dengan bantuan sumber daya tersebut mencerminkan tujuan sistem yang bersangkutan. Masing-masing sistem memiliki tujuan berganda yang masing-masing memiliki prioritas lebih tinggi dibandingkan dengan tujuan lain.

Sistem adalah wholism, hal yang bersifat sentral bagi konsep wholism, yaitu teori yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mendeterminasi merupakan keseluruhan yang tidak dapat diurai. Ide wholism adalah bahwa keseluruhan melebihi jumlah dari bagian-bagiannya. Ide tersebut juga merupakan landasan sinergi, atau tindakan yang terkombinasi.

Sinergi berkaitan dengan kemampuan bagian-bagian untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran umum bersama, untuk

keseluruhan. Dalam pengertian wholism, terkandung pula makna

adanya suboptimasi sasaran individual dalam rangka

mengoptimalkan pencapaian sasaran sistem yang bersangkutan secara keseluruhan.

Interaksi dengan lingkungan merupakan sebuah sifat dasar dari semua sistem terbuka. Andaikata ada sistem tertutup riil, berarti mereka gagal berinteraksi dengan lingkungan mereka dalam satu atau lain cara. Sistem riil, sebagai sistem terbuka dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga memengaruhi lingkungan. Lingkungan merupakan sumber yang penyuplai sumber daya yang digunakan oleh sistem terbuka, dan sebagai pemakai nilai yang diciptakan oleh sistem tersebut. Sistem terbuka juga menunjukkan ciri yang disebut equifinality, yang berarti bahwa suatu kearifan final sistem tertentu dapat dicapai dari berbagai macam kondisi awal yang berbeda, dan

sebaliknya. Konsep equifinality menimbulkan implikasi penting bagi

manajemen sistem keorganisasian. Artinya, bahwa dimunculkan kebutuhan akan pendekatan situasional multidimensional terhadap pemecahan problem dan pengambilan keputusan. Inilah intisari pandangan sistem dalam manajemen sistem.

Suatu sistem menciptakan nilai melalui jalan memanfaatkan dan mentransformasi sumber daya menjadi output guna merealisasi

tujuan-tujuannya. Konsep antarketerkaitan berhubungan dengan interaksi internal dan interdependensi berbagai bagian dari sesuatu sistem, beserta interaksi sistem yang bersangkutan dengan lingkungan. Konsep tingkatan juga penting bagi suatu sistem keorganisasian. Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa sebuah perusahaan bisnis besar secara tipikal dibagi dalam berbagai macam divisi, yang dibagi lagi dalam berbagai departemen, dan sebagainya. Pembagian tingkatan secara tradisional demikian, memusatkan perhatian pada antarketerkaitan vertikal dari berbagai bagian sesuatu organisasi, sedangkan sifat transformasi input-output memusatkan perhatian pada antar keterkaitan horizontal dari berbagai kesatuan fungsional yang ada.

Mengingat sifat terbuka suatu sistem dan keterkaitan antar bagian-bagiannya, setiap sistem harus responsif terhadap lingkungan dan kebutuhan internalnya. Dengan perkataan lain, setiap sistem harus dapat mengatur dirinya sendiri sewaktu berkembang melalui siklus kehidupan. Kebanyakan sistem nyata

menunjukkan ciri-ciri "lingkaran tertutup" (close loop) yang

memungkinkan mereka mengatur diri mereka sendiri. Untuk kebanyakan sistem terbuka yang beroperasi dalam lingkungan-lingkungan yang kompleks, keadaan keseimbangan yang terus-menerus mengalami perubahan, kadang disebut sebagai

"keseimbangan dinamik". Upaya mempertahankan kondisi

keseimbangan tersebut mengharuskan sistem yang bersangkutan mengevaluasi kondisi-kondisi yang berubah dan menyesuaikan diri

melalui proses umpan balik (feedback) dan penyesuaian

(adaptation) dengan jalan memanfaatkan tipe mekanisme kontrol tertentu.60

Keuning dalam bukunya Algemene System theories, Systeem

benadering en Organisatie theorie (Keuning, 1973)61 secara rinci

telah berhasil mengumpulkan aneka macam jenis sistem dan klasifikasi sistem, yaitu sebagai berikut:

1. Physical Systems 2. Biological Systems 3. Social/Societal Systems 4. Non-Living Systems 5. Living Systems 6. Natural Systems 7. Mari-Made Systems 8. Mechanistic Systems 9. Organic Systems 10. Deterministic Systems 11. Vitalistic Systems 12. Organismic Systems 60 Ibid, hlm. 24 61Ibid, hlm. 37-38

Dalam dokumen Manajemen Pendidikan (Halaman 81-85)