• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stimulus Visual dalam Desain Interior

Dalam desain interior, sebagai lingkungan binaan, terdapat beberapa stimulus yang akan mempengaruhi indera manusia. Dari beberapa teori psikologi menyebutkan bahwa ada sembilan alat indera yaitu penglihatan, pendengaran, kinestesis, vestibular, perabaan, temperatur, rasa sakit, perasa, serta penciuman.

Semua alat indera tersebut dapat dijadikan stimulus yang dimunculkan dari sebuah objek desain interior, manusia berinteraksi, berkomunikasi dengan ruang berikut ini bagan interior – environment menurut Bell (1980):

Gambar 2.3. Interior – Environment (Bell, 1980)

Beberapa teori membuktikan bahwa dari berbagai macam stimulus yang ada, stimulus visual mempunyai kemampuan paling dominan dalam menciptakan sensasi. Berdasarkan kemampuan kapasitas otak menangkap informasi (stimulus), maka dapat diperbandingkan kecepatan ragam stimulus dalam mempengaurhi individu.

Gambar 2.4. Kecepatan masing-masing Stimuli (Bell, 1980)

“as we are binaural, we are also binacular, but the visual organ are situated very near to one another – the baseline is about 6 cm long (Vurpillot, 1967) – and on a quasy-plane of the head, on the face. The flexibility of the head and its ability to rotate compensate for the limitation inherent in the directed nature of our sight.

Thought we cannot fix more than one object simultaneously. The ears, however, often have difficulty filtering out the wanted word from the babel of voices. We hear everything and the hear nothing”.

Stimulus visual dalam terminologi desain mempunyai spektrum yang teramat luas. Elemen-elemen desain yang dapat dikategorikan ke dalam stimulus visual antara lain warna, iluminasi, bentuk, dan skala. Penggabungan beberapa elemen desain dapat menghasilkan berbagai variasi stimulus visual menjadi hampir tak terbatas.

Merekayasa stimulus visual agar dapat sesuai dengan kebutuhan pengguna merupakan salah satu aspek terpenting dalam proses perancangan interior. Tingkat

signifikansinya kadang berbeda, tergantung pada tipe bangunan maupun jenis ruang yang dirancang. Walau tidak baku dan mengikat, tiap jenis ruang mempunyai kadar signifikansi yang tidak sama, misalnya ruang bermain di taman kanak-kanak faktor warna dan bentuk menjadi hal yang penting dibandingkan skala ruang. Sedangkan di ruang pengadilan skala ruang yang ekstrim menjadi penting untuk menimbulkan kesan agung.

Lingkungan sebagai suatu sistem tertentu yang mengandung stimulus, akan mengkondisikan manusia untuk melakukan suatu pola perilaku tertentu.

Lingkungan mengundang atau mendatangkan perilaku, menentukan bagaimana seseorang harus bertindak. Ketika seseorang memasuki era yang cukup nyaman untuknya, maka ia akan mengkondisikan untuk beradaptasi sesukanya atau demikian pula sebaliknya.

Warna sebagai stimulus visual dalam lingkungan binaan secara historis, sejak masa Mesir kuno dan Yunani, seringkali telah dipercaya berhubungan dengan masalah kesehatan. Pendekatan-pendekatan psikologi dalam hal penyembuhan secara eksploratif juga memanfaatkan warna. Secara psikologis warna mempunyai pengaruh kuat terhadap suasana hati dan emosi manusia.

Secara fisik sensasi-sensasi dapat dibentuk dari warna-warna yang ada (Pile, 1995). Dalam konteks tersebut, pengalaman tentang warna dalam ruang akan lebih cepat dan lebih langsung direspon pengguna ruang dari pada pengalaman tentang bentuk.

2.7. Warna

2.7.1. Sejarah Warna

Pada zaman prasejarah warna digunakan sebagai alat ekspresi manusia, dimana warna yang ada lebih didominan dengan warna kuning dan merah. Warna yang dipergunakan banyak terbuat dari biji-bijian, tanah liat, atau darah binatang.

Perkembangan penggunaan warna mulai dari lukisan prasejarah sampai kontemporer hingga masa kini sangat penting bagi peradapan sejarah kebudayaan manusia dari dimulai penggunaan bahan yang secara sederhana, perpaduan, hingga kompleksitas pengetahuan dari warna itu sendiri.

Menurut Sulasmi Darmaprawira W.A. dalam buku Warna, teori dan

bidang arsitektur atau desain interior meghargai cara para desainer masa lampau dalam mewariskan seni tersebut. Pertama, mengenal identifikasi warna dengan hakikat seluruh budaya manusia zaman dahulu dan sekarang. Kedua, menyetorkan data otentik setiap gaya dan tradisi zaman untuk menikmati keindahan masa lalu.”

Gambar 2.5. Penggunaan warna pada masa lampau (http//:yob dr_wikipedia, the free encyclopedia_file.)

Pada era moderen warna diartikan sebagai ungkapan emosi. Dan, menurut Sulasmi Darmaprawira W.A. dalam buku Warna, teori dan kreativitas penggunannya, hal. 3 mengatakan bahwa zaman dahulu tidak akan ditemukan warna sebagai ungkapan pribadi, namun sebagai ungkapan pada kekaryaan mereka pada masyarakat,agama, atau untuk raja, sehingga mereka lebih sensitif pada bentuk dan proporsi.

2.7.2. Arti dan Makna Warna

Menurut Sulasmi Darmaprawira W.A. (2002) dalam buku Warna, teori dan kreativitas penggunannya, hal. 18, sejak ditemukannya warna pelangi oleh alih ilmu fisika, Sir Isaac Newton, terungkap bahwa sebenarnya warna itu merupakan salah satu fenomena alam yang dapat diteliti dan dapat dikembangkan lebih jauh dan mendalam.

Bila diruntut kembali warna merupakan kebutuhan mendasar menurut beberapa buku dibahas akan hubungan warna dan cahaya itu sendiri pada dasar terciptanya warna. Cahaya sendiri merupakan sebuah pita sempit dari energi yang bisa terlihat oleh mata biasa dapat dilihat pada gambar1a, ditengah-tengah spektrum yang menangkap semua dari sinar-sinar kosmik samapi gelombang radioseperti pada gambar1b.

Gambar 2.6a. Refleksi cahaya terhadap mata yang diubah pada persepsi warna (Mc. Gowan, Maryrose, 2004, p. 36)

Gambar 2.6b. Gelombang warna yang ditangkap oleh mata (Hindarto, Probo, Yogyakarta, 2006, p. 3)

Gambar 2.6c. merupakan perwujudan akan penangkapan refleksi cahaya terhadap benda yang menimbulkan gelombang warna.

(http://www.Soul Treatment, Linda Brown - Maryborough - Natural Therapy Pages_com_au_files)

Energi/refleksi cahaya tersebut memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda, yang diserap atau dipantulkan oleh permukaan benda yang berbeda pula. Hal inilah yang menciptakan perbedaan warna. Panjang gelombang tersebut diukur dalam satuan nanometer dimana setara pada satu per sejuta milimeter hal ini seperti pada gambar 2.3. Spektrum yang ditangkap oleh mata sekitar 380-760 nanometer. Namun menurut imelda akmal pada buku menata rumah dengan

nanometer,walau sebenarnya jarak tersebut berada pada aturan yang disampaikan oleh Helen Graham pada buku penyembuhan dengan warna hal. 5.

Keterangan:

Gambar 2.7. Gelombang dari warna yang ada dengan frekuensinya (Nanometer) (Biren, Faber, Germany, 2003, ...)

2.7.3. Sistem Warna Munsell

Berbagai tanda warna mencoba mengatur warna dan sifat-sifatnya dalam suatu susunan warna yang dapat dilihat. Sistem dan deskripsi warna yang lebih akurat adalah tanda warna Munsell, yang dikembangkan oleh Albert H. Munsell.

Sistem ini menata warna-warna menjadi tiga tingkatan terurut, dari tingkat-tingkat visual yang seragam, berdasarkan sifat warna, pencahayaan dan intensitasnya.

Gambar 2.8. Munsell dan atlas warnanya

(http://Munsel Color System_wikipedia, the free encyclopedia_file)

Menurut penelitinya, Munsell memprediksi bahwa lingkungan tempat manusia hidup terdiri dari 10 juta warna, dimana setiap warna memiliki tingkat perbedaan baik dari hue, lightness maupun chroma. Akibatnya sering timbul

kesulitan ketika seseorang harus menggambarkan atau mencocokkan sebuah warna dengan warna lainnya, terutama pada sebuah industri cat atau tekstil. Maka dibutuhkan sebuah tanda yang dapat disepakati, dipergunakan dan dimengerti oleh semua kalangan (Sriti, 2003, p.33).

Gambar 2.9. Pohon Warna/ Munsell Color System dan Atlas of Munsel Color (http://Munsel Color System_wikipedia, the free encyclopedia_file)

Pada tahun 1913, Munsell memperkenalkan “Atlas of the Munsel Color System” suatu tanda perpaduan berupa stand 15 warna terdiri dari beberapa ratus standar warna, yang mengklasifikasikan warna menurut hue, chroma dan lightness (value); dan menampilkan ke dalam susunan warna (hue) yang mengelilingi

‘batang sumbu’ berupa tingkatan warna hitam di bagian bawah dan bertahap semakin ke atas menjadi putih (diantaranya merupakan tingkatan nuansa warna abu-abu). Sementara antara ‘batang sumbu’-nya dengan susunan warna yang mengelilingi terdapat tingkatan warna (chroma) (Sriti, 2003, p.34).

Pada tahun 1929, representasi tiga dimensional yang dikenal dengan Munsell Colour Tree selesai disusun. Sejak itu konsepnya dipergunakan secara internasional sebagai spesifikasi standard untuk warna-warna yang tidak transparan pada sebuah obyek padat. Pemetaan ini dibuat untuk kepentingan industri dalam mendeskripsikan pembagian warna secara tepat. Munsell Colour Tree ini kemudian dinilai banyak kalangan sebagai alat yang sangat membantu dalam menggambarkan dan menentukan sebuah warna (Sriti, 2003, p.35).

2.7.4. Jenis Warna

Jenis warna terdiri atas warna primer dan paduannya. Yang mencampur dari warna-warna yang ada sebagai bagian dari diagram warna. Terlihat pada gambar 2.10.

a. b.

c.

Gambar 2.10. Diagram/lingkaran warna a. Akmal, 2006, p. 21

b. (http://Munsel Color System_wikipedia, the free encyclopedia_file)

c. Poore, 2005, p. 15, 18, 19

2.7.4.1. Warna Primer

Warna Primer terdiri atas tiga warna, yaitu merah, kuning, dan biru. Warna ini menjadi dasar dalam lingkaran warna yang mana merupakan warna dasar dan tidak dapat dihasilkan dari kombinasi lain, tetapi justru menciptakan warna lainnya. Warna ini mudah untuk dikenali dan menarik. Oleh karena itu warna tersebut sangat baik dipergunakan sebagai tahap awal seorang anak dalam mengenal warna.

Gambar 2.11. Lingkaran Warna Primer (Akmal, 2006, p. 24)

2.7.4.2. Warna Sekunder

Warna sekunder adalah percampuran dua warna primer dengan bandingan yang sama. Pada lingkaran warna, warna sekunder ini terletak tepat ditengah antara warna-warna primer. Meskipun tidak sekuat warna primer, warna sekunder memiliki warna yang cukup kuat serta menarik mata. Warna ini antara lain warna jingga percampuran merah dan kuning, warna hijau percampuran warna biru dan kuning, serta warna ungu yang dihasilkan dari percampuran warna merah dan biru.

Gambar 2.12. Lingkaran Warna Sekunder (Akmal, 2006, p. 27)

2.7.4.3. Warna Tersier

Warna Tersier merupakan warna percampuran antara warna sekunder dan warna primer disebelahnya dengan perbandingan warna yang sama. Di dalam lingkar warna terdiri atas enam warna tersier yang mengisi separuh dari keselruhan warna pada lingkaran warna. Warna tersier merupakan warna yang unik dan sulit menyebutkan warna itu sendiri. Seperti contohnya warna indigo yang mana biru mengarah keunguan.

Gambar 2.13. Lingkaran Warna Tersier (Akmal, 2006, p. 28)

2.7.5. Dimensi Warna

Untuk mengetahui sejauh mana skala tua atau skala muda sebuah warna, sistem Munsell merupakan petunjuk untuk skala pembatasan kualitas warna dengan interval, untuk tujuan-tujuan rasional serta perancangan warna secara skematis. Hal ini dapat diketahui melalui dimensi warna. Munsell berpendapat bahwa warna dapat diukur berdasarkan tiga dimensi warna, yaitu:

a. Nama warna (hue)

b. Nilai (value) atau derajat dan

c. Kroma (chroma) atau intensitas (Sari, 2003, p.35)

Gambar 2.14. Pohon Warna, Value, dan Chroma a. Poore, 2005, p. 16-17

b. Poore, 2005, p. 16-17 c. Akmal, 2006, p. 31

2.7.5.1. Jenis Warna (hue)

Dimensi pertama adalah nama warna (hue), merupakan nama dari masing-masing jenis warna, seperti misalnya merah, jingga, kuning, hijau, biru. Dengan mengetahui nama-nama warna maka identifikasi warna bisa dikenal dengan mudah. Dengan mengetahui warna merah berarti dapat membedakannya dengan warna kuning, hijau atau biru. Setiap perbedaan atau satu warna dengan warna lainnya diakibatkan adanya perbedaan panjang gelombang cahaya yang dipantulkan dan kemudian diserap oleh mata. Sebagai contoh panjang gelombang

a.

b.

c.

yang dipantulkan warna kuning hanya sedikit lebih pendek daripada panjang gelombang yang dipantulkan warna oranye. Tetapi secara visual perbedaannya sangat besar, yakni yang satu berwarna kuning dan lainnya berwarna oranye.

Perbedaan ini disebut dengan hue atau nama warna. Munsell memperkenalkan 5 warna dasar, yang dikenal dengan warna primer dan sekunder. Dalam praktek, sistem Munsell biasanya menggunakan 6 warna, tiga warna primer, tiga warna sekunder, yang biasa disingkat menjadi R, O, Y, G, B, V (red, orange, yellow, green, blue, violet). Warna intermediate merupakan kombinasi dari enam warna di atas, seperti RO untuk red-orange (merah-oranye), OY untuk orange-yellow (oranye-kuning), dan seterusnya. Warna-warna tersebut disebut warna tertier.

Kombinasi antara dua belas warna yang ada dengan menggabungkan tiga warna, seperti OOY, OYY, YYG dan seterusnya, disebut quartinaries (Sari, 2003, p. 35-36).

Hue bisa digubakan untuk mendeskripsikan sebuah warna, misalnya warna pink mempunyai unsur hue warna merah yang dicampur dengan warna putih, lavender memiliki hue warna ungu dan putih, dan indigo memiliki hue warna ungu dan biru (Akmal, 2006, p.32).

Gambar 2.15. Pohon Hue (Akmal, 2006, p. 32)

2.7.5.2. Nilai Warna (Value)

Dimensi kedua adalah nilai warna (value), merupakan tingkatan atau urutan kecerahan suatu warna. Tingkatannya dapat bergerak dari warna paling gelap sampai dengan warna paling terang tergantung dari intensitas cahaya yang dipantulkan. Dari hitam kemudian setelah mendapat sedikit cahaya maka berbuahlah menjadi abu-abu tua yang terus semakin ‘muda’ menjadi abu-abu muda. Setiap warna menunjukkan intensitas cahayanya, artinya hitam merupakan warna yang paling sedikit dapat merefleksikan cahaya. Sebaliknya putih

ditempatkan pada skala paling atas, ditandai dengan angka 10; hitam, di bawah, ditandai dengan angka 0. skala value di antara mereka terdiri dari 9 langkah abu-abu, dari gelap ke terang (Sriti, 2003, p.36).

Gambar 2.16. Pohon Value (Akmal, 2006, p. 34)

2.7.5.3. Tint

Nilai dapat memberikan efek yang berlainan terhadap warna. Dengan menambahkan nilai pada warna melalui pencampuran pigmen menurut ukuran yang tepat, dapat dihasilkan tingkatan kecerahan warna yang kelak masing-masing warna akan mempunyai kekuatan atau intensitas. Pencampuran warna dengan hitam, putih, atau abu-abu akan menghasilkan tiga macam tingkat kecerahan warna, yaitu salah satunya adalah yang dimakan deretan warna cerah atau tints (Sari, 2003, p.36).

Tint adalah warna atau hue yang dicampur dengan putih. Tint yang tercipta ini biasa disebut dengan warna-warna pastel atau warna pucat. Tint memiliki karakter warna yang lembut, halus sekaligus ringan. Warna pastel ini membangkitkan perasaan “muda”, innocence. Khusus tints pink pucat memiliki karakter yang romantis serta feminin. Tak heran bila warna pink atau merah muda identik dengan wanita dan sangat digemari anak perempuan. Sedangkan warna pastel lainnya juga merupakan warna favorit untuk kamar bayi (Akmal, 2006, p.36).

Gambar 2.17. Pohon Tint (Akmal, 2006, p. 36)

2.7.5.4. Shade

Pencampuran warna dengan hitam, putih, atau abu-abu akan menghasilkan tiga macam tingkat kecerahan warna, yaitu salah satunya adalah yang dimakan deretan warna gelap atau shades (Sari, 2003, p.36). shade adalah warna atau hue yang dicampur dengan hitam sehingga tercipta warna yang lebih gelap (itu sebabnya disebut shade yang artinya bayangan). Karena warna yang dihasilkan cenderung gelap, warna-warna ini memiliki karakter yang lebih kuat dan dalam daripada tint. Apabila digunakan di dalam sebuah ruang atau interior akan menciptakan suasana yang dramatis, terutama apabila terdapat perbedaan shade yang mencolok.

Gambar 2.18. Pohon Shade (Akmal, 2006, p. 37)

2.7.5.5. Tone

Pencampuran warna dengan hitam, putih, atau abu-abu akan menghasilkan tiga macam tingkat kecerahan warna, yaitu salah satunya adalah yang dimakan deretan warna nada atau tones (Sari, 2003, p.36). Tone artinya warna yang dicampur dengan abu-abu. Adanya unsur warna kelabu, menyebabkan warna yang dihasilkan akan memiliki gradasi yang lebih keruh. Warna-warna menjadi tidak kuat intensitasnya atau tidak mencolok sehingga sangat mudah menyatu dengan warna-warna lain terutama warna-warna yang berasal dari bahan alami seperti batu, bata ekspos, kayu dan beton (Akmal, 2006, p.39).

2.7.5.6. Chroma

Chroma adalah deretan hue yang dicampur dengan value atau deretan warna yang dicampur dengan warna abu-abu. Campuran ini menginterpretasikan intensitas atau kekurangan warna. Ketika sebuah warna dicampur dengan warna abu-abu, maka melemahlah intensitas atau kekuatan warna tersebut. Semakin banyak abu-abu yang diberikan semakin lemah warna tersebut. Warna yang paling kuat adalah warna yang memiliki intensitas penuh dan tanpa campuran warna abu-abu sama sekali. Penambahan warna abu-abu-abu-abu mengurangi intensitas atau kekuatan warna dan membuat warna lebih redup dari warna aslinya atau terkesan diam (muted colors) (Akmal, 2006, p.35).

Gambar 2.20. Pohon Kroma (Akmal, 2006, p. 35)

2.7.6. Skema Warna

Gambar 2.21. Skema Warna (Gowan & Maryrose, 2004, p. 37)

Skema warna adalah penyusunan dua atau beberapa warna yang berbeda dalam sebuah komposisi. Skema warna ini dapat membantu kita melihat efek yang dihasilkan ketika sebuah warna dipasukan dengan warna-warna lain. Hal yang unik adalah sebuah warna bisa berubah karakter dan kesannya apabila dipadukan dengan warna lain. Warna juga dapat berubah karakter serta tampilannya apabila memiliki proporsi yang dominan dalam komposisi warna.

Hal ini dijabarkan pada gambar 2.21 dimana menggambarkan keseluruhan skema warna yang ada.

2.7.6.1. Skema Monokromatik

Skema warna monokromatik adalah komposisi yang berasal dari sebuah hue atau warna dengan intensitas value yang berbeda-beda. Dengan kata lain hue atau warna tersebut diberikan tint, tone dan shade yang berbeda. Misalnya komposisi warna yang terdiri atas merah, merah muda pucat (tint) dengan merah gelap (shade). Penggunaan merah merupakan variasi dari merah murni, merah gelap, sampai ke merah pastel dengan menambah hitam, abu-abu, dan putih (Akmal, 2006, p.47).

Gambar 2.22. Skema Monokromatik (Akmal, 2006, p. 47)

2.7.6.2. Skema Analog

Skema warna analog adalah kombinasi warna yang menggunakan warna-warna yang bersebelahan atau berdekatan di dalam lingkaran warna-warna. Misalnya skema warna kuning, kuning jingga, dan kuning. Dapat pula yang berkaitan secara dalam jarak yang sama, misalnya merah dengan jingga dan kuning.

Perpaduan warna analog merupakan salah satu perpaduan yang menciptakan harmoni atau keselarasan, karena perpindahan antar satu warna

kontras terutama apabila dilakukan dengan intensitas value yang konsisten.

Namun perlu diperhatikan bahwa intensitas warna-warna yang dipilih serta kekontrasan value ketiga kombinasi warna tersebut juga akan sangat menentukan suasana ruang yang tercipta (Akmal, 2006, p.44).

Gambar 2.23. Skema Analog (Akmal, 2006, p. 44)

2.7.6.3. Skema Komplementer

Warna komplementer adalah warna-warna yang letaknya berseberangan dalam lingkaran warna. Misalnya merah dengan hijau, kuning dengan ungu, biru dengan oranye. Skema warna komplementer adalah komposisi warna yang menggunakan warna-warna yang berhadapan langsung dalam lingkaran warna seperti perpaduan warna pada Gambar 2.9. perpaduan warna-warna komplementer ini memiliki kekuatan warna yang seimbang sehingga kombinasi komplementer akan saling memperkuat karakter warna yang satu dengan yang lain. Perpaduan warna komplementer yang bersifat kontras ini dapat menciptakan komposisi warna yang menarik, cerah, mengangkat atmosfer, dan menghidupkan suasana.

Namun, dalam interior harus digunakan dengan sangat hati-hati. Di dalam ruang atau bidang yang luas, kedua warna komplementer yang sama-sama kuat ini dapat menciptakan efek melelahkan. Kedua warna ini seolah-olah sama-sama berteriak untuk menarik perhatian pengamatnya (Akmal, 2006, p.47-48).

Gambar 2.24. Skema Komplementer (Akmal, 2006, p. 49)

2.7.6.4. Skema Split Komplementer

Skema split komplementer (komplementer terbelah) adalah komposisi yang terdiri atas satu warna ditambah dua warna yang mengapit warna komplementernya (warna yang berseberangan dalam lingkaran warna).

Contohnya adalah perpaduan antara warna merah dengan warna kuning-hijau dan biru-hijau dihadapannya. Perpaduan warna ini sangat kuat, lebih kuat daripada warna komplementer, sehingga kita perlu berhati-hati untuk menerapkan tiga warna ini di dalam tatanan interior. Namun apabila berhasil dengan baik akan menciptakan kombinasi warna yang sangat dinamis dan hidup. Tiga warna split komplementer dalam proporsi yang seimbang akan menciptakan suasana ruang yang dramatis. Sedangkan untuk menciptakan komposisi yang harmonis, kita dapat menggunakan salah satu warna sebagai warna dominan dengan dua warna lain sebagai aksen (Akmal, 2006, p.50).

Gambar 2.25. Skema Split komplementer (Akmal, 2006, p. 50)

2.7.6.5. Skema Dobel Komplementer

Skema warna ini adalah skema dua pasang warna komplementer yang bersebelahan. Misalnya warna merah dan ungu dengan kuning dan hijau atau dapat juga merah dan jingga berhadapan dengan biru dan hijau. Skema ini memiliki warna yang cerah juga dinamis. Penerapan pada ruang akan menciptakan komposisi warna yang dramatis. Namun sebaiknya skema warna ini juga diterapkan dengan cermat dan hati-hati untuk menghindari penggunaan warna yang terlalu banyak dan berkesan ramai serta penuh dalam ruang. Tips yang aman dalam menerapkan warna ini adalah dengan memilih salah satu pasangan warna dari pasangan warna utama, kemudian masukkan unsur warna dari pasangan warna lainnya sebagai aksen-aksen yang mempermanis ruang anda.

Gambar 2.26. Skema Dobel Komplementer (Akmal, 2006, p. 51)

2.7.6.6. Skema Triad

Warna-warna triad adalah tiga warna yang memiliki jarak yang sama antar masing-masing dalam lingkaran warna jingga, hijau, dan ungu adalah warna-warna triad, demikian pula komposisi tiga warna-warna primer merah, biru, dan kuning.

Dalam kelompok warna ini, setiap warna biasanya memiliki intensitas yang sama kuatnya. Kesan yang dihasilkan sangat tergantung nilai pada masing-masing warna.

Tiga warna dari skema triad yang paling banyak digunakan adalah skema triad dari warna primer, yaitu merah, kuning, dan biru. Kombinasi warna-warna ini biasa digunakan untuk anak-anak, karena warna dasar ini sangat efektif dalam menstimulasi indra penglihatan serta mempermudah proses belajar mengenal warna. Paduan warna-warna triad dengan tint atau triad yang lebih lembut sering dipakai untuk warna-warna produk atau interior kamar bayi. Sedangkan kombinasi triad jingga, hijau, dan ungu, sangat efektif digunakan pada ruang-ruang yang tempat kegiatannya bersifat muda, energik, dan dinamis (Akmal, 2006, p.53).

Gambar 2.27. Skema Triad (Akmal, 2006, p. 53)

2.7.6.7. Skema Tetrad

Skema warna tetrad adalah komposisi empat warna yang jaraknya sama satu sama lain dalam lingkaran warna, misalnya merah, kuning-jingga, hijau, dan biru-ungu. Banyaknya warna yang digunakan dalam skema warna tetrad, biasanya dalam interior penggunaannya hanya dilakukan pada porsi yang kecil seperti pada aksesoris ruang misalnya untuk warna lukisan atau warna bantal-bantal di ruang duduk. Perpaduan warna tetrad juga unik, dan dapat menciptakan karakter ruang yang dramatis, tetapi penggunaan pada bidang yang besar akan berkesan ramai serta penuh. Skema warna ini sering digunakan pada interior bergaya bohemian (Akmal, 2006, p.55).

Gambar 2.28. Skema Tetrad (Akmal, 2006, p. 55)