2.1. Rumah Bersalin dan Kebidanan
Rumah Bersalin merupakan tempat yang menyelenggarakan pelayanan kebidanan bagi wanita hamil, bersalin dan masa nifas fisiologik termasuk pelayanan keluarga berencana serta perawatan bayi baru lahir (Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 20 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan, Bab 1 Ketentuan Umum, Pasal 1, no. 14). Rumah bersalin mepunyai sifat privat dan semi privat, sebab tidak semua orang dapat keluar masuk di dalam area ini. Sifat privat terdapat pada ruang persalinan.
2.1.1. Prasyarat Pendirian Rumah Bersalin
Rumah Bersalin merupakan pertanggungjawaban dari bidan. Hal ini berbeda dengan rumah sakit bersalin. Pada rumah sakit bersalin yang bertanggung jawab di dalamnya adalah dokter spesialis. Namun, pemiliknya dapat diberikan pada seorang bidan atau orang umum sebagai penanam modal di dalamnya. Bidan yang membuka usaha pada rumah bersalin adalah bidan praktek swasta yang sudah memiliki pendidikan dan sertifikasi Bidan Delima, dimana bidan delima merupakan bidan profesional dalam pelayanannya.
Prasyarat berdirinya Rumah Bersalin oleh seorang bidan praktek swasta adalah Seorang Bidan harus memiliki SIB (Surat Izin Bidan) dan mengurus keanggotaan/regristrasi pada IBI (Ikatan Bidan Indonesia) serta memiliki SIPB (Surat Izin Praktek Bidan). Setelah hal tersebut akan diadakan uji kompetensi serta peningkatan pengetahuan Bidan yang mana disebut dengan Bidan Delima.
Lalu akan adanya AMD selama minimal 3 tahun. Setelah hal itu semua maka dapat mengajukan pada Dinas Kesehatan Kota lalu melanjut pada Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai pengajuan rekomendasi Rumah Bersalin. Namun, semua itu harus mempunyai izin dari warga setempat yang berada di sekitar akan berdirinya rumah bersalin tersebut. Penanggung jawab rumah bersalin seorang dokter. Namun, apabila menjadi rumah sakit bersalin harus dipertanggungjawabkan pada seorang dokter spesialis. Selain itu pula banyaknya persalinan dalam satu tahun adalah 600 kelahiran dan mempunyai lebih dari 20 kamar. Berikut ini
merupakan keseluruhan persyaratan pengelolahan rumah bersalin yang dikelola dan dipertanggungjawabkan oleh seorang bidan yang dijabarkan dalam sub bab yang ada.
Beberapa pengertian mengenai istilah-istilah kesehatan :
1. BKIA Swasta adalah fasilitas kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada wanita hamil, wanita menyusukan, wanita dalam masa nifas, bayi, anak balita/prasekolah, dan pelayanan Keluarga Berencana yang diselenggarakan oleh swasta.
2. Rumah Bersalin adalah bentuk pelayanan kesehatan dasar yang menyelenggarakan pelayanan bagi wanita hamil, persalinan fisiologik, masa nifas, bayi baru lahir dan Keluarga Berencana.
3. SID adalah ijin yang dikeluarkan bagi dokter/dokter gigi yang menjalankan pekerjaan sesuai dengan bidang profesinya di wilayah Negara RI.
4. SIB adalah ijin yang dikeluarkan bagi bidan yang menjalankan pekerjaan sesuai dengan bidang profesinya di wilayah RI.
5. SIP adalah ijin yang dikeluarkan bagi dokter/dokter gigi/bidan yang menjalankan pekerjaan sesuai dengan bidang profesinya sebagai swasta perseorangan di samping tugas/fungsi lain pada Pemerintah atau Unit pelayanan kesehatan swasta.
6. Etik kedokteran ialah norma yang berlaku bagi dokter dan dokter gigi dalam menjalankan profesinya sebagai tercantum dalam kode etik masing-masing yang telah ditugaskan oleh Menteri Kesehatan. (”Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Pembinaan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) dan Rumah Bersalin (RB)”, 1987, p. 2 )
Dalam Keputusan Menteri yang diatur kembali pada Peraturan Daerah Kotamadya Malang No. 20 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan yang dimaksud dengan :
1. Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
2. Registrasi adalah proses pendaftaran, pendokumentasian dan pengakuan terhadap bidan, setelah dinyatakan memenuhi minimal kompetensi inti atau standar penampilan minimal yang ditetapkan, sehingga secara fisik dan mental mampu melaksanakan praktik profesinya.
3. Surat Izin Bidan selanjutnya disebut SIB adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pelayanan asuhan kebidanan di seluruh wilayah Republik Indonesia.
4. Praktik Bidan adalah serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga dan masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya.
5. Surat Izin Praktik Bidan selanjutnya disebut SIPB adalah bukti tertulis yang diberikan kepada bidan untuk menjalankan praktik bidan.
6. Standar Profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam melaksanakan profesi secara baik.
7. Organisasi Profesi adalah Ikatan Bidan Indonesia (IBI).
2.1.2. Metode Pelayanan Bidan
Bidan sebagai jabatan profesional mempunyai persyaratan:
• Memberi pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis.
• Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan bidan sebagai tenaga profesional.
• Keberadaannya diakui dan diperlukan masyarakat.
• Mempunyai kewenangan yang disahkan atau diberikan oleh pemerintah.
• Mempunyai peran dan fungsi yang jelas.
• Mempunyai kompetensi yang jelas dan terukur.
• Memiliki organisasi profesional sebagai wadah.
• Memiliki kode etik bidan.
• Memiliki etika kebidanan.
• Memiliki standar pelayanan.
• Memiliki standar praktek.
• Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
• Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan kompetensi.
Metode pelayanan bidan dibedakan menjadi:
• Layanan kebidanan Primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan.
• Layanan kebidanan Kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu urutan dari proses kegiatan pelayanan kesehatan.
• Layanan kebidanan Rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yangdilakukan oleh bidan ke tempat/fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horisintal maupun vertikal atau ke profesi kesehatan lainnya. Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu serta bayinya. (Sofian, Madjid, dan Siahaan, 2006, p. 114,129)
2.1.3. Kewajiban dan Wewenang Bidan 2.1.3.1. Kewajiban Bidan
1. Bidan dalam menjalankan praktiknya harus :
a. Memiliki tempat dan ruangan praktik yang memenuhi persyaratan kesehatan.
b. Menyediakan tempat tidur untuk persalinan 1 (satu), maksimal 5 (lima) tempat tidur.
c. Memiliki peralatan minimal sesuai dengan ketentuan dan melaksanakan prosedur tetap (protap) yang berlaku.
d. Menyediakan obat-obatan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
2. Bidan yang menjalankan praktik harus mencantumkan Surat Izin Praktik Bidannya atau fotokopi Izin Praktiknya di ruang praktik, atau tempat yang mudah dilihat.
3. Bidan dalam praktiknya menyediakan lebih dari 5 (lima) tempat tidur, harus mempekerjakan tenaga bidan yang lain yang memiliki SIPB untuk membantu tugas pelayannya.
4. Bidan yang menjalankan praktik harus mempunyai peralatan minimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan harus tersedia di tempat praktiknya.
5. Peralatan yang wajib dimiliki dalam menjalankan praktik bidan sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan.
6. Dalam menjalankan tugas, bidan harus senantiasa mempertahankan dan meningkatkan keterampilan profesinya antara lain dengan:
a. mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan atau saling tukar informasi dengan sesama bidan.
b. Mengikuti kegiatan akademis dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh organisasi profesi.
c. Memelihara dan merawat peralatan yang digunakan untuk praktik agar tetap siap dan berfungsi dengan baik.
2.1.3.2. Wewenang Bidan
1. Pemberian kewenangan lebih luas kepada bidan dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan kegawatan obstetri dan neonatal kepada setiap ibu hamil/bersalin, nifas dan bayi baru lahir (0-28 hari), agar penanganan dini atau pertolongan pertama sebelum rujukan dapat dilakukan secara cepat dan tepat waktu.
2. Dalam menjalankan kewenangan yang diberikan, bidan harus : a. melaksanakan tugas kewenangan sesuai dengan standar profesi;
b. memiliki keterampilan dan kemampuan untuk tindakan yang dilakukannya;
c. mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku di wilayahnya;
d. bertanggungjawab atas pelayanan yang diberikan dan berupaya secara optimal dengan mengutamakan keselamatan ibu dan bayi atau janin.
3. Pelayanan kebidanan kepada wanita oleh bidan meliputi pelayanan pada masa pranikah termasuk remaja puteri, prahamil, kehamilan, persalinan, nifas, menyusui dan masa antara kehamilan (periode interval).
4. Pelayanan kepada wanita dalam masa pranikah meliputi konseling untuk remaja putri, konseling persiapan pranikah dan pemeriksaan fisik yang dilakukan menjelang pernikahan. Tujuan dari pemberian pelayanan ini adalah
untuk mempersiapkan wanita usia subur dan pasangannya yang akan menikah agar mengetahui kesehatan reproduksi, sehingga dapat berperilaku reproduksi sehat secara mandiri dalam kehidupan rumah tangganya kelak.
2.1.4. Perijinan Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Rumah Bersalin/BKIA Jenis-jenis perijinan penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1), meliputi :
1. Perijinan penyelenggaraan pelayanan Kesehatan di sarana pelayanan Kesehatan yaitu :
a. Balai Pengobatan/Poliklinik;
b. Rumah Bersalin/Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA);
c. Apotik;
d. Toko Obat;
e. Optik;
f. Laboratorium
Penyelenggara Balai Kesehatan Ibu dan Anak harus memenuhi Standarisasi sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud Pasal 4, yang meliputi : 1. Ketenagaan
a. Bagi tenaga medis harus mempunyai STR dan SIP;
b. Surat Penugasan (SP) yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan dan Surat Ijin Praktek Bidan (SIPB);
c. Surat Pernyataan tidak keberatan dari atasan langsung bagi Tenaga Medis/
Paramedis yang telah bekerja sebagai PNS, TNI, POLRI dan Rumah Sakit Swasta.
2. Bangunan
a. Memiliki ruang periksa pasien sesuai dengan standar KIA Set dan/atau ketentuan ukuran dan kelengkapan bangunan yang berlaku;
b. Terdapat ruang inap untuk pasien sesuai dengan standar persyaratan kesehatan yang berlaku;
c. Terdapat ruang tunggu untuk pasien.
2.1.5. Prasyarat, Tugas, Fungsi, dan Sasaran dari Rumah Bersalin Prasyarat Rumah Bersalin Swasta adalah :
a. Tugas dari rumah bersalin swasta adalah:
1) Memberikan penerangan dan penyuluhan tentang : - kehamilan, persalinan, nifas;
- menyusukan dan perawatan buah dada;
- keluarga berencana;
- perawatan bayi dan anak persekolah;
- gizi;
- imunisasi;
- sanitasi dasar;
- membina Posyandu dan taman kanak-kanak;
2) Melaksanakan bimbingan dan pembinaan terhadap dukun bersalin/dukun paraji.
3) Melayani kasus ibu untuk : - pengawasan kehamilan;
- pertolongan persalinan fisiologis (termasuk letak sungsang pada multi para);
- episiotomi dan penjahitan luka perineum tingkat I dan II;
- perawatan nifas dan menyusukan, termasuk pemberian interotinika;
- pelayanan kontrasepsi sederhana, pil KB, IUD (AKDR) 1 dan KB suntik;
- pelayanan imunisasi TT.
4) Melayani bayi dan anak prasekolah untuk : - pengawasan pertumbuhan dan perkembangan;
- pemberian imunisasi dasar dan ulang (BCG, Polio, DPT dan Campak) sesuai kebijaksanaan Pemerintah perawatan termasuk pertolongan diare;
- petunjuk pemberian makanan.
5) Memberikan obat-obatan : - roborantia;
- pengobatan tertentu dalam bidang kebidanan, sepanjang hak itu tidak melalui suntikan, kecuali utero tonika.
b. Dibawah pengamatan dokter, dapat dikerjakan pula : 1) Pengawasan kehamilan
- versi luar
- pengeluaran dengan digital sisa jaringan konsepsi pada keguguran 2) Pertolongan persalinan
- perawatan pra persalinan (kurang 2 hari) - persalinan sungsang primi para
- pertolongan dengan cunam atau extractor vakum pada kepala di luar panggul
- pemberian infusa untuk mempertahankan keadaan ibu 3) Pertolongan pada masa nifas
- perawatan pasca persalinan di RB tanpa komplikasi - pemberian antibiotika pada infeksi (oral maupun suntikan) - pemasangan susuk KB
4) Perawatan bayi baru lahir di RB dengan minimal apgar score 8.
5) Pertolongan kedaruratan
- pencegahan keadaan pendarahan
- mengatasi pendarahan pasca persalinan dengan pengeluaran urine secara digital
- mengatasi kedaruratan eklampsia - mengatasi infeksi bayi baru lahir
c. Hal-hal di luar 1 dan 2 diatas, agar segera dirujuk ke fasilitas rujukan.
d. Pencatatan medik dan pelaporan berkala.
Berikut ini adalah Tugas Rumah Bersalin (“Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Pembinaan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) dan Rumah Bersalin (RB)”, 1987, p. 5-6):
• Menyediakan fasilitas yang memadahi, baik secara fisik maupun perlengkapan pengobatan guna tercapainya proses persalinan pasien.
• Menyelenggarakan program pencegahan, pengobatan atau perawatan dan konsultasi yang semaksimal mungkin bagi pasien yang tengah berada pada kehamilan dan melahirkan.
• Mengusahakan suasana lingkungan yang sehat (therapeutic community) guna
• Memberikan penanganan yang cepat dan sigap demi keselamatan ibu dan bayi.
Fungsi Rumah Bersalin:
• Melaksanakan usaha pelayanan kesehatan kehamilan (pranatal).
• Melaksanakan usaha pelayanan kesehatan persalinan (natal).
• Melaksanakan usaha pelayanan kesehatan kelahiran (pasca natal yang menyangkut kesehatan ibu dan bayi).
Sasaran pelayanan meliputi(Visi dan Misi Rumah Bersalin Prasetya Husada):
Sasaran umum:
• Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga, dan masyarakat, yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan.
Sasaran khusus:
• Memberi pelayanan berupa konsultasi akan masalah kesehatan kehamilan, kesehatan anak, dan pengobatan medis lainnya (Persalinan, papsmear, KB, dll) dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan dan keselamata jiwa ibu dan anak.
• Mempersiapkan calon ibu dalam menghadapi persalinan agar sejauh mungkin dapat melahirkan sang buah hati dalam kondisi yang sehat dan jiwa yang tenang (seperti konseling, riwayat kesehatan, dan senam hamil).
• Menjadikan sang ibu menjadi seorang ibu yang baik dimana dapat merawat sang bayi dan dapat mendidik sang bayi dengan sebaiknya tanpa ada kekahwatiran lainnya.
2.1.6. Prasyarat Ruang Nifas Fasilitas dan Peralatan :
1. Kamar Operasi : adalah unit kerja / instalasi tempat melakukan tindakan operasi.
2. Syarat yang harus dipenuhi :
a. Mudah dicapai, baik untuk kasus rutin maupun kasus darurat.
b. Penerimaan pasien berdekatan dengan perbatasan daerah steril dan non- steril.
c. Ada kebebasan bergerak bagi tempat tidur (brancard) pasien dengan sedikit persimpangan.
d. Ada batas yang jelas antara daerah steril dan non-steril yang dibuat sedemikian rupa sehingga mendorong peningkatan disiplin pemakaian baju steril.
Syarat yang harus dipenuhi terdiri dari :
1. Akses langsung bagi pasien agar dapat cepat dan mudah menuju lokasi kamar bersalin;
2. Lokasi kamar bersalin berdekatan dengan kamar operasi;
3. Ada fasilitas isolasi bagi ibu atau bayi yang terkena infeksi;
4. Ada ruang bagi keluarga penunggu pasien;
5. Tersedia peralatan lengkap;
Sedangkan yang diartikan dengan kecukupan menunjang fungsi adalah apabila tersedia ruangan atau fasilitas :
a. melaksanakan pekerjaan administrasi b. tempat menyimpan barang inventaris c. WC pasien, pengunjung, staf unit d. air bersih
e. sumber listrik cukup, aman dengan tegangan stabil f. ventilasi udara biak
Serta dapat diartikan dengan memenuhi syarat apabila :
a. tempat / lokasi unit mudah dicapai dengan rambu penunjuk yang jelas
b. ada kebebasan bergerak untuk tempat tidur / brandcard dengan sesedikit mungkin melalui persimpangan
c. tersedia fasilitas privacy bagi pasien
Yang diartikan dengan ruangan khusus adalah ruangan yang khusus disediakan untuk menyelenggarakan pelayanan rehabilitasi medik dan tidak disediakan pelayanan lainnya (ruang rehabilitasi medik yang dimaksud adalah ruang yang diperuntukkan bagi pasien untuk proses pemulihan dari kondisi fisik setelah mengalami atau menjalani pelayanan medik. Disini dapat diartikan pula apabila ia setelah melahirkan dari ruang operasi atau ruang bersalinmaka ia dipindahkan pada ruang nifas sebagai tempat rehabilitasi atau pemulihan pasca melahirkan).
Persyaratan ruang perawatan intensif atau khusus, adalah:
a. Unit terbuka 12-16 m2 / per tempat tidur, unit tertutup 16-20 m2 / per tempat tidur
b. Jarak antara dua tempat tidur 2 meter
c. Tempat tidur medis mudah dirubah posisinya d. Peralatan medis mudah dicapai
e. Cukup tersedia obat-obatan
f. Ruang perawat ditempatkan sedemikian rupa sehingga memudahkan perawat mengawasi dan menolong pasien
g. Ruangan ber-AC
h. Berdekatan dengan ruang operasi, ruang pulih standar i. Cukup ruangan untuk peralatan dan sterilisasi
j. Ada cadangan sumber tenaga listrik darurat k. Ada sistem alarm
l. Ada ruangan konsultasi keluarga pasien
Karakter dari ruang intensif termasuk dari segi prasyarat luasan ruang sama dengan prasyarat luasan kamar pasien.
2.1.7. Perlengkapan dan Peralatan Klinik Kamar Bersalin
Perlengkapan dan peralatan pada klinik/kamar bersalin yang tercantum disini dirancang dan cocok untuk daerah wilayah 100.000 penduduk, dengan perkiraan 4.000 persalinan per tahunnya. Karena fasilitas rawat jalan di rumah sakit pada umumnya merupakan gabungan dengan Unit Pelayanan Fungsional (UPF) lain, kebutuhan akan ruangan, peralatan, dan perlengkapan tidak dibahas disini.
Kebutuhan ruangan
• Bangsal perawatan ibu hamil
- Tiga kamar, masing-masing dengan 8 tempat tidur + 3 toilet di tiap bangsal.
- Ruangan terapi/ pengobatan.
• Kamar bersalin
- Kamar bersalin dengan 6 – 8 tempat tidur.
- Ruang bilas/cuci.
- Pojok/ ruangan.
- Ruangan untuk alat-alat pembersih.
- Toilet.
- Kamar mandi.
- Ruang tunggu untuk keluarga pasien.
- Ruang pulih dengan 4 – 6 tempat tidur.
• Kamar operasi
- Kamar operasi utama.
- Ruang anestesia.
- Ruang pemulihan.
Tabel 2.1. Daftar peralatan dan perabot ruang perawatan ibu
Kamar dengan 8 tempat tidur Jumlah
Tempat tidur 8
Kursi 8
Lemari berkunci untuk menyimpan pakaian 8
Meja makan pasien di atas tempat tidur 8
Wastafel 2
Pembatas ruangan yang dapat dipindah-pindah 2 AC atau kipas angin (tidak harus)
Toilet 3
Sumber: Saifudin, et al., 2002, p. A-12.
Tempat tidur sebaiknya berukuran standart 200 x 100 cm. Tempat tidur berpegas, pada awalnya enak ditiduri, tetapi lama kelamaan akan cekung di bagian tempat tidur. Karena alasan itu dapat dipilih tempat tidur berpegas yang pegasnya terfiksir pada kerangka tempat tidur sehingga tidak akan aus dengan waktu.
Sebaiknya tebal kasur 10 cm.
2.2. Penanganan di Rumah Bersalin bagi Ibu Pascanatal pada Masa Nifas 2.2.1. Penilaian dan Penanganan Klinik
Penilaian klinik merupakan proses berkelanjutan yang dimulai pada kontak pertama antara petugas kesehatan dengan ibu hamil dan secara optimal berakhir pada pemeriksaan 6 minggu setelah persalinan. Pada setiap kunjungan
antenatal, petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya masalah atau komplikasi.
• Anamnesis
Tabel 2.2. Tabel Riwayat Hidup dan Kesehatan Sang Ibu
Riwayat kehamilan ini Riwayat obstetri lalu Riwayat penyakit Riwayat sosial ekonomi
• Usia ibu hamil
• Hari pertama haid terakhir, siklus haid
• Peredaran per vaginam
• Keputihan
• Mual dan muntah
• Masalah/kelainan pada kehamilan sekarang
• Jumlah kehamilan
• Jumlah persalinan
• Jumlah persalinan cukup bulan
• Jumlah persalinan prematur
• Jumlah anak hidup
• Jumlah keguguran
• Jantung
• Tekanan darah tinggi
• Diabetes Mellitus
• TBC
• Pernah operasi
• Alergi obat/makanan
• Jumlah anak hidup
• Jumlah keguguran
• Status perkawinan
• Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan
• Jumlah keluarga di rumah yang membantu
• Pemakaian obat-obat (termasuk jamu- jamuan)
• Jumlah aborsi
• Perdarahan pada kehamilan, persalinan, nifas terdahulu
• Adanya hipertensi dalam kehamilan terdahulu
• Berat bayi < 2,5 kg atau berat bayi > 4 kg
• Adanya masalah- masalah kehamilan persalinan, nifas terdahulu
• Epilepsy
• Penyakit hati
• Pernah kecelakaan
• Siapa pembuat keputusan dalam keluarga
• Kebiasaan makan dan minum
• Kebiasaan merokok, menggunakan obat-obat dan alkohol
• Kehidupan seksual
• Pekerjaan dan aktivitas sehari- hari
• Pilihan tempat untuk melahirkan
• Pendidikan
• Penghasilan
Sumber: Saifudin, et al., 2006, p. 91
• Kebiasaan yang lazim dilakukan namun tidak bermanfaat bahkan dapat membahayakan
Kebiasaan yang lazim dan biasa dilakukan dimana tidak menghadirkan orang-orang yang berarti bagi ibu padahal apabila ibu yang selalu ditemani oleh seseorang biasanya masa persalinannya tidak lama, lebih sedikit yang dioperasi, dan menghindarkan depresi postpartum.
• Pemantauan
Masa postpartum merupakan saat paling kritis untuk mencegah kematian ibu, terutama kematian disebabkan karena perdarahan. Selama kala empat (setelah kelahiran), petugas harus memantau ibu setiap 15 menit pada jam pertama setelah kelahiran plasenta, dan setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan. Jika kondisi ibu tidak stabil, maka ibu harus dipantau lebih sering. Apakah membutuhkan minum atau keluhan tertentu.
2.2.2. Nifas Normal
• Prinsip Dasar dari Definisi dan Tujuan
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu:
- Perubahan fisik
- Involusi uterus dan pengeluaran lokhia - Laktasi/pengeluaran air susu ibu - Perubahan sistem tubuh lainnya - Perubahan psikis
Tujuan asuhan masa nifas :
- Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi.
- Melaksanakan skrining (penyaringan) yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
Yang dimaksud dengan komprehensif bila dicari kata dasar dalam KBBI, adalah:
komprehensif = kom·pre·hen·sif/kompréhénsif/a 1) bersifat mampu menangkap (menerima) dng baik; 2) luas dan lengkap (tt ruang lingkup atau isi); 3) mempunyai dan memperlihatkan wawasan yang luas.
- Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
- Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Masa neonatus merupakan masa kritis dari kehidupan bayi, dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60%
kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan pemantauan melekat dan asuhan pada ibu dan bayi masa-masa nifas dapat mencegah beberapa kematian ini.
• Program dan Kebijakan Teknik
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baur lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah- masalah yang terjadi.
Tabel 2.3. Kunjungan Wajib Bagi Ibu Setelah Pasca Persalinan
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam setelah
persalinan • Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
• Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut
• Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
• Pemberian ASI awal
• Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
• Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.
Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil.
Tabel 2.3. Kunjungan Wajib Bagi Ibu Setelah Pasca Persalinan (sambungan)
Kunjungan Waktu Tujuan
2 6 hari setelah
persalinan • Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
• Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
• Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
• Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
• Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tai pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3 2 minggu setelah persalinan
Sama seperti dia tas (6 hari setelah persalinan) 4 6 minggu setelah
persalinan • Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami
• Memberikan konseling untuk KB secara dini
Sumber: Saifudin, et al., 2006, p. 123
• Anamnesis
Tabel 2.4. Riwayat Ibu Pasca Persalinan dan Riwayat Hubungan Ibu dengan Sang Bayi
Riwayat Ibu Riwayat Sosial-Ekonomi Riwayat Bayi
• Nama, umur
• Tanggal dan tempat lahir
• Penolong
• Jenis persalinan
• Masalah-masalah selama persalinan
• Nyeri
• Menyusui atau tidak
• Keluhan-keluhan saat ini, misalnya :
- kesedihan / depresi - pengeluaran pervaginam /
perdarahan / lokhia - putting / payudara
• rencana masa datang: kontrasepsi yang akan digunakan
• Respon ibu dan keluarga terhadap bayi
• Kehadiran anggota keluarga untuk membantu ibu di rumah
• Para pembuat keputusan dirumah
• Kebiasaan minum, merokok dan menggunakan obat
• Kepercayaan dan adat istiadat
• Menyusu
• Keadaan tali pusat
• Vaksinasi
• Buang air kecil / besar
Sumber: Saifudin, et al., 2006, p. 124
• Diagnosis
Untuk menentukan hal-hal sebagai berikut:
- Apakah masa nifas berlangsung normal atau tidak (seperti involusi, uterus, pengeluaran lokhia dan pengeluaran ASI serta perubahan sistem tubuh, termasuk keadaan psikologis)?
- Adakah keadaan gawat darurat pada ibu (seperti perdarahan, kejang dan panas)?
- Adakah penyulit/masalah dengan ibu yang memerlukan perawatan/rujukan (seperti abses pada payudara)?
- Apakah dalam kondisi normal atau tidak (seperti bernafas, refleks, masih menyusu melalui penilaian Apgar, keadaan gawat darurat pada bayi seperti panas, kejang, asfiksia, hipotermi dan perdarahan)?
- Adakah bayi dalam keadaan gawat darurat (seperti demam, kejang, asfiksia, hipotermi, perdarahan pada pusat)?
- Adakah bayi bermasalah perlu dirujuk untuk penanganan lebih lanjut seperti:
kelainan/cacat, BBLR?
2.2.3. Rekam Medik
Seluruh hasil pemeriksaan dicatat dalam kartu ibu dan bayi sehat atau catatan/dokumen lain.
Tabel 2.5. Ringkasan Asesmen dan Penatalaksanaan Masa Nifas
Keterangan 6 jam
pertama 3 hari
2 minggu
6 minggu ASESMEN
Riwayat ibu:
• Riwayat persalinan √ - - -
• Riwayat sosial √ - - -
• Kesedihan/depresi √ √ √ -
Pemeriksaan fisik:
• Umum (varises, edema, refleks, kelembekan
betis/Homan) √ √ √ √
• Payudara - √ √ √
• Perut: Involusi uterus √ √ √ √
• Vagina, vulva, perineum √ √ √ √
• Lokhia - √ √ √
Pemeriksaan Laboratorium (Hb – Jika ada
anemia antepartum atau perdarahan) √
Tabel 2.5. Ringkasan Asesmen dan Penatalaksanaan Masa Nifas (sambungan)
Keterangan 6 jam
pertama 3 hari
2 minggu
6 minggu Riwayat bayi:
• Nilai Apgar √ - - -
• Menyusu √ √ √ √
• Buang air besar √ √ √ √
• Tidurnya √ √ √ √
Pemeriksaan fisik:
• Panjang badan √ - - -
• Berat badan √ √ √ √
• Suhu √ √ √ √
• Denyut jantung √ √ √ √
• Refleks √ - - -
• Aktivitas √ √ √ √
• Kulit √ √ √ √
• Mata √ √ √ √
• Tali pusat √ √ √ -
• Skrining untuk ketidak normalan √ - - -
Sumber: Saifudin, et al., 2006, p. 126
• Penanganan Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu
Tabel 2.6. Deskripsi tindakan yang diberikan bagi kesehatan mental dan fisik ibu pasca melahirkan
Tindakan Deskripsi dan Keterangan
Kebersihan diri • Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
• Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil dan besar
• Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah matahari atau diseterika
• Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya
• Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
Tabel 2.6. Deskripsi tindakan yang diberikan bagi kesehatan mental dan fisik ibu pasca melahirkan (sambungan)
Tindakan Deskripsi dan Keterangan
Istirahat • Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan
• Sarankan ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur
• Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal:
- Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
- Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
- Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
Latihan • Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung
• Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti:
- Dengan tidur telentang dengan lengan disamping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan angkat dagu ke dada: tahan satu hitungan sampai 5. rileks dan ulangan 10 kali
- Untuk memperkuat tonus otot vagina (latihan Kegel)
• Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
Sumber: Saifudin, et al., 2006, p. 127
2.3. Gangguan Jiwa (Psikologi)
Pada ilmu psikologi ganguan psikologi atau perilaku abnormal dapat diartikan disfungsi psikologis dalam diri individu yang berhubungan dengan distress (kemalangan, pelabuhan darurat , dengan penuh tekanan, menyusahkan) pada fungsi dan respons yang atipikal (tidak lazim, tidak biasa, aneh) atau secara kultural tidak diharapkan. (Durand dan Barlow, 2006, p. 3). Secara ilmu kejiwaan disfungsi psikologi mengacu pada gangguan dalam fungsi kognitif, emosional, atau perilaku.
Berikut ini adalah 5 taraf disfungsi psikologis, sebagai berikut:
• Taraf pertama
Berupa gejala kehilangan kontrol dan disorganisasi atau kekacauan yang masih ringan. Yang bersangkutan masih bertingkah laku secara efektif dan merasa nyaman, tetapi menunjukkan tanda-tanda ‘nervous’ berupa rasa terhambat, emosi yang meningkat, gusar, khawatir, mungkin mengalami disfungsi somatik atau sexsual tertentu dan butuh usaha sadar untuk mengendalikan diri.
• Taraf kedua
Berupa pemutusan realitas dan rasa tidak nyaman pada tingkat yang masih ringan. Misalnya, dengan gejala seperti pingsan, disosiasi, atau berbagai bentuk gejala kehilangan kesadaran atau kontrol diri, phobia, konversi histeris, termasuk juga gejala penyakit psikosomatis, kompulsi, atau tingkah laku yang tak terkendali, gangguan seksual seperti impotensi dan adiksi (kecanduan obat).
• Taraf ketiga
Ditandai dengan pelampiasan agresi dalam bentuk tindak kekerasan yang dilakukan secara akut, yaitu sesekali namun dalam intensitas tinggi; atau secara kronis yaitu secara episodis (berulang-ulang) namun biasanya tidak dalam intensitas yang tinggi.
• Taraf keempat
Keadaan disorganisasi atau kekacauan yang ekstrem berupa penyangkalan realitas dan agresi yang lebih lazim dikenal sebagai psikosis. Sindrom- sindromnya meliputi kemurungan, kegembiraan yang tak terkendali, manerisme atau cara bertingkah laku tertentu yang berlebihan dan tak terkendali, delusi atau waham, perasaan dikejar-kejar, kekacauan orientasi atau hilang ingatan, dan kebingungan.
• Taraf kelima
Berupa disintegrasi kepribadian yang besifat total, kemunduran fungsi secara total, dan keputus-asaan yang menjurus pada tindakan bunuh diri.
Etiologi adalah kajian tentang asal muasal, berhubungan dengan mengapa sebuah gangguan muncul (apa yang menjadi penyebabnya) dan memasukkan dimensi-dimensi biologis, psikologis, dan sosial. (Durand dan Barlow, 2006, p. 8).
Berdasarkan sumber asalnya sebab-sebab perilaku abnormal dapat digolongkan sedikitnya menjadi tiga, yaitu faktor biologis (bio-organik), faktor psikososial dan faktor sosiokultural.
• Faktor Biologis (bio-organik)
Faktor biologis adalah berbagai keadaan biologis atau jasmani yang dapat menghambat perkembangan maupun fungsi pribadi/ individu dalam kehidupan sehari-hari, biasanya bersifat menyeluruh, artinya mempengaruhi seluruh aspek tingkah laku, mulai dari kecerdasan sampai daya tahan terhadap stress.
Misalnya pada kasus:
• Kurang gizi
- Hipoglikemi (penurunan glukosa dalam darah) - Defisiensi vitamin B12
- Fenilketonuria (kekurangan enzim untuk menghancurkan fenilalanin, yang bisa mengakibatkan kerusakan otak)
• Kelainan gen
- Sindroma Down (ciri-ciri: mata sipit, muka datar, telinga kecil, jari-jari pendek, dll).
- Sindroma Turner (ciri-ciri: tubuh pendek, leher melebar, infantilisme seksual).
- Cacat Congenital atau sejak lahir, dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.
• Penyakit-penyakit
- Parkinson biasanya diikuti dengan gejala apati dan depresi.
- Huntington’s chorea, memperlihatkan gejala labilitas emosi, impulsive, depresi, halusinasi, delusi.
- Multiple Sclerosis (MS), timbulnya gejala awal yang ringan seperti stabilitas emosi, euphoria, episode psikotik, transient, depresi sampai manifestasi ‘histeria’.
- Infeksi Central Nervous Sistim (CNS), misalnya generic paresis pada CNS syphilis, secara gradual akan meningkatkan dementia (kepikunan), dan menimbulkan gejala-gejala yang membingungkan seperti mimic schizopherenia, mania, depresi, gangguan somatik.
• Faktor Psikososial
- Trauma di masa kanak-kanak, deprivasi dini biologi maupun psikotik yang terjadi pada masa bayi, anak-anak, misalnya anak yang ditolah (rejected child).
- Deprivasi parental, misalnya anak-anak yang kehilangan asuhan ibu di rumah sendiri, terpisah dari ibu atau ayah kandung, tinggal di asrama, dsb.
- Hubungan orang tua dengan anak yang patogenik, menurut Coleman (1997, p. 160) dan Maramis (1994, p. 140-141), bahwasanya keluarga pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian, kadang orang tua berbuat terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi anak kesempatan untuk berkembang, ada kalanya orang tua berbuat terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkan.
Beberapa jenis hubungan yang sering melatarbelakangi adanya gangguan jiwa umpamanya perlindungan berlebihan, manja berlebihan, tuntutan perfeksionis, standar moral yang kaku dan tidak realistik, disiplin yang salah, persaingan antar saudara.
- Struktur keluarga yang patogenik. Struktur keluarga inti, kecil, atau besar mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa anak, apalagi bila terjadi ketidaksesuaian perkawinan dan problem rumah tangga yang berantakan.
- Stres berat. Tekanan stres yang timbul bersamaan dan atau berturut-turut, bisa menyebabkan kurangnya/hilangnya daya tahan terhadap stres.
Contohnya kasus seseorang yang baru saja mengalami perceraian kemudian harus juga kehilangan anak, baik anaknya meninggal ataupun diputus secara paksa, mengakibatkan daya tahan dirinya dalam menghadapi masalah menjadi lebih rentan.
• Faktor Sosiokultural
Faktor-faktor sosiokultural meliputi keadaan objektif dalam masyarakat atau
selanjutnya melahirkan berbagai bentuk gangguan. Misalnya suasana perang di Afganistan dan Irak, bencana alam tsunami, resesi ekonomi Indonesia tahun 1997-1998, konflik politik menjelang pemilu, serta berbagai perubahan sosial dan iptek.
Dalam Maramis (1994, p. 143), Alfin Toffler mengemukakan bahwa yang paling berbahaya di jaman modern, di negara-negara dengan “super industrialisasi” ialah kecepatan perubahan dan pergantian yang makin cepat dalam hal ‘kesementaraan’ (transience), ‘kebaruan’ (novelty), dan
‘keanekaragaman’ (diversity), sehingga individu menerima ransangan yang berlebihan dan kemudian terjadinya kekacauan mental lebih besar. Peristiwa sedemikian lebih besar terjadinya di masa depan sehingga disebut future shock, dengan karakteristik: keberadaan di tengah kebudayaan asing (culture shock), lingkungan fisik masyarakat yang tak ramah, keadaan sosial masyarakat yang merendahkan daya tahan frustasinya, sehingga menciptakan suasana sosial yang tidak baik dan menjurus ke gangguan mental.
Dalam pandangan psikiatri (ilmu kedokteran jiwa), kalau seseorang mengalami gangguan atau penyakit, maka yang sakit atau terganggu itu bukan terbatas pada aspek jiwanya saja atau raganya saja, tetapi kedua-duanya sebagai keutuhan manusia itu sendiri. Menurut pandangan holistik, manusia juga tidak dapat lepas dari lingkungannya, karena itu setiap pengobatan yang dilakukan harus juga memperhatikan ketiga aspek tersebut sebagai satu kesatuan.
Namun, perlu dicatat pula dalam ilmu psikologi dan ilmu kedokteran terdapat perbedaan formal antara tanda dan gejala. Dimana, tanda merupakan indikator obyektif dan gejala merupakan pengalaman. Seseorang yang mengalami depresi biasanya berusaha menekan kesadaran diri dengan cara menggunakan mekanisme pertahanan. Dalam hal seperti ini seorang individu dikatakan dalam keadaan pengingkaran.
Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala-gejala depresi yang penting:
• Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Walau tantangan, dan hobi tidak membuat dia senang. Hal ini disebut anbedonia/abedonia.
• Distorsi dalam perilaku makan. Hal ini ditandai dengan pola makan yang banyak. Namun, bila tingkat depresi yang tinggi maka selera makan yang ada pun hilang.
• Ganguan tidur. Hal ini tak dapat dijadikan acuan karena tergantung faktor penentu dari depresi yang ada, bahkan ada yang lebih banyak tidur saat depresi melanda.
• Ganguan dalam tingkat aktifitas normal seseorang. Dimana seseorang yang work alkholik dapat pula dikategorikan, namun tidak semua. Apabila aktivitas yang ada menurun drastis dalam artian mudah letih dan malas maka dapat pula dikatakan depresi.
• Kurang energi. Dimana biasanya mereka lebih banyak mengatakan bahwa dirinya lelah. Namun, hal ini tidak dikarenakan oleh faktor biologis tetapi lebih dikarenakan oleh faktor emosional.
• Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tak berguna. Hal ini dilihat dari perasaan bahwa dirinya tak berkembang atau stagnan.
• Kapasitas yang menurun untuk bisa berfikir secara jernih untuk memecahkan masalah yang ada.
• Perilaku yang merusak diri sendiri secara tidak langsung. Hal ini biasanya dengan menggunakan obat-obatan terlarang, mengemukkan diri.
• Mempunyai pemikiran untuk bunuh diri.
Dari semua tanda dan gejala yang ada, maka bila seseorang yang mengalami lebih dari lima kategori di atas maka dapat dikatakan sebagai seseorang yang depresi.
Selain dari kesemua tanda dan gejala yang ada, adapula beberapa wujud depresi, antara lain:
• Gangguan depresi utama (major depressive disorder)
Ganguan ini merupakan ganguan yang menendakan gejala dan tanda yang parah bagi penderitanya. Pada gangguan ini dengan alasan apapun ia harus mandapatkan pengobatan. Biasanya gejala yang paling tampak pada saat seseorang hendak untuk bunuh diri.
• Gangguan dysthymic (dysthymic disorder)
Ditandai dengan perasaan sedih ecara umum dan tampak murung. Gangguan
Kata dysthymic diartikan dengan dys merupakan bentuk gabungan dari kata cacat/ tidak normal atau buruk, sedangkan thymos merupakan bahasa latin dari suasana hati. Jadi makna harafiahnya adalah suasana hati yang buruk.
• Ganguan bipolar (bipolar disorder)
Keadaan-keadaan yang berubah dari mania dan depresi. Ganguan ini berkenaan dengan momen-momen kegembiraan serta hal atau ide besar yang tidak realistis. Fase ini cenderung dalam jangka waktu yang lama.
• Gangguan cyclothymic (cyclothymic disorder)
Ditandai dengan adanya periode-periode hipomania yang berganti-ganti dengan periode-periode depresi. Selain itu dari arti bahasanya diartikan sebagai suasana hati yang meningkat ataupun yang depresi. Depresi ini perlu diingat tidak separah depresi utama dan tidak parah.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengobatan dalam psikiatri secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
• Somatoterapi, dengan tujuan untuk memberikan pengaruh-pengaruh langsung yang berkaitan dengan badan, misalnya melalui pembedahan, farmakologi, fisioterapi.
• Psikoterapi, dengan maksud untuk secara langsung memberikan pengaruh- pengaruh yang berhubungan dengan kejiwaan.
• Manipulasi lingkungan, dengan maksud untuk memberikan pengaruh langsung pada lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosialnya.
Selain itu faktor psikologis dapat membantu pemulihan kesehatan penderita yang sedang dalam masa perawatan di rumah sakit. Faktor tersebut dapat dibentuk melalui suasana ruang pada fisik bangunan rumah sakit yang bersangkutan. Kehadiran sebuah suasana tertentu diharapkan dapat mereduksi faktor stress atau tekanan mental yang dialami oleh penderita yang sedang menjalani proses pemulihan kesehatan. Suasana tertentu dalam lingkungan fisik rumah sakit dapat menambah faktor stress penderita, sehingga dapat menghambat atau menggagalkan proses pemulihan kesehatannya. (Kaplan, et al., 1993).
Dengan demikian, penderita tersebut demi kebutuhannya dapat ditolong atau disembuhkan. Akan tetapi, hal mana yang akan diprioritaskan, tergantung pada hasil pemeriksaan yang dilakukan. Yang jelas dalam psikiatri tidak dikenal
terapi tunggal, melainkan ketiga-tiganya diberikan sekaligus. Namun dengan porsi yang berbeda sesuai dengan diagnosis yang dihasilkan.
Dalam proses pengobatan atau penyembuhan, suasana terapi memegang peranan yang sangat penting. Dalam proses terapi, faktor sugesti, persuasi, penghargaan, empati, tranference, dan kepercayaan diyakini masih berperan penting dalam keberhasilan penyembuhan.
2.4. Gangguan Emosional dan Psikologi dalam Pranatal, Persalinan, dan Pascanatal
Kehamilan merupakan proses yang memeras emosi setiap orang. Namun, perlu diingat bahwa kondisi kejiwaan sangat berpengaruh pada kondisi kandungan. Perubahan ini pun tak hanya dirasakan oleh calon ibu, ayah dan calon bayi pun turut merasakannya. Tetapi kondisi wanita lebih cenderung cepat bereaksi pada keadaan tertentu dan lebih mudah stres dan depresi. Setiap wanita memiliki pandangan yang berbeda pada proses kehamilannya.
Ada yang menerima, menolak, dan mengharapkan. Selain itu pula ada yang menerima dengan suka cita diamana mereka terkadang sudah mempersiapkan diri menjadi seorang calon orang tua. Namun, ada pula yang dipenuhi dengan rasa cemas, khawatir, takut bahkan sedih. Hal ini biasanya dikarenakan tidak menginginkan sang anak dengan alasan tertentu, misalnya sudah mempunyai banyak anak, kebrojolan ( anak baru kurang dari 1 tahun sudah hamil beberapa bulan) , tidak ada yang bertanggung jawab, tidak diperhatikan oleh suami dan ditinggal suami. Bahkan pada pada proses kehamilan mereka takut jika proses melahirkan dianggap sebagai ancaman maut yang membahayakan dirinya dan kondisi tubuh berubah. Selain itu pula kecemasan dan ketegangan yang berlebihan saat menjaga kehamilannya karena ditakutkan akan keguguran, anak cacat, dan lainnya.
• Masalah Emosi dan Kejiwaan selama Kehamilan
Prinsip dasar kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah
mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian lagi menganggap sebagai peristiwa yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya.
Perubahan kondisi fisik dan emosional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi.
Konflik antara keinginan prokreasi (penciptaan, pembuatan), kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosiokultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri, dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat.
Dukungan psikologik dan perhatian akan memberi dampak terhadap pola kehidupan sosial (keharmonisan, penghargaan, pengorbanan, kasih sayang, dan empati) pada wanita hamil dan dari aspek teknis, dapat mengurangi aspek sumber daya (tenaga ahli, cara penyelesaian persalinan normal, akselerasi, kendali nyeri dan asuhan neonata).
Hubungan episode kehamilan dengan reaksi psikologis yang terjadi:
• Trimester pertama: sering terjadi fluktuasi lebar aspek emosional sehingga periode ini mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau rasa tidak nyaman.
• Trimester kedua: fluktuasi emosional sudah mulai mereda dan perhatian wanita hamil lebih terfokus pada berbagai perubahan tubuh yang terjadi selama kehamilan, kehidupan seksual keluarga dan hubungan batiniah dengan bayi yang dikandungnya.
• Trimester ketiga: berkaitan dengan bayangan risiko kehamilan dan proses persalinan sehingga wanita hamil sangat emosional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu yang mungkin akan dihadapi.
Kondisi psikologi mulai membaik saat memasuki periode trisemester kedua kehamilan. Pada waktu ini wanita umumnya menerima kehamilannya dengan baik. Namun, tak dapat disangkal bahwa masih ada beberapa wanita yang ketakutan akan perubahan fisiknya. Memasuki trisemester ketiga wanita mengalami tekanan emosi berupa kegelisahan dan kekahwatiran yang disebabkan akan perasaan cemas dan khawatir menghadapi proses kelahiran baik dari segi kondisi bayi maupun nyeri pada persalinan. Belum lagi saat memasuki ruang
persalinan yang berwarna putih memberikan kesan kaku, tegang, dan ketidak nyamanan tersendiri pada sang ibu. Bahkan pada persalinan tersebut ada beberapa wanita menganggap merupakan suatu kondisi antara kehidupan dan kematian. Hal ini dipengaruhi oleh permasalahan:
• Aspek psikologik dan pengaruhnya pola kehidupan keluarga dan tahapan trimester
• Gangguan emosional dapat mengganggu kesehatan dan ibu janin yang dikandungnya
• Hambatan asuhan neonatal pasca persalinan.
Penanganan umum:
• Kehamilan sendiri merupakan risiko terhadap kesehatan ibu, apabila disertai dengan gangguan psikologik diperlukan pendapat bidang keahlian yang sesuai
• Rawat jalan dan dukungan keluarga merupakan pendekatan yang rasional
• Gali faktor-faktor yang berkaitan dengan reaksi kejiwaan dari seseorang, terutama yang mungkin dapat bermanifestasi negatif selama kehamilan atau persalinan (misalnya status perkawinan, kepribadian, hubungan dengan mertua dsb)
• Sedapat mungkin hindarkan penggunaan psikofarmaka, upayakan dulu psikoterapi analitik.
• Rawat inap dan isolasi hanya diperlukan apabila pasien membahayakan dirinya sendiri, bayi yang dikandungnya atau orang lain.
Penanganan khusus:
Pseudosyesis
• Wanita tidak hamil yang percaya bahwa dirinya hamil, diikuti dengan munculnya gejala dan tanda (dugaan) kehamilan
• Bedakan kondisi ini dengan gangguan afektif yang juga dapat menimbulkan keyakinan adanya kehamilan (berkaitan dengan delusi) atau juga terhadap seseorang istri infertile yang ingin tetap dicintai suaminya
• Lakukan anamnesis terarah yang akurat (termasuk latar belakang psikis), pemeriksaan fisik (khloasma/hiperpigmentasi, pelunakan dan keunguan pada serviks, pembesaran uterus) dan pemeriksaan tambahan (uji kehamilan dan
• Lakukan konseling bahwa kehamilan harus dipastikan (perdarahan lucut dengan kombinasi estrogen-progesteron), akan dilakukan upaya pemeriksaan dan pengobatan untuk kehamilan dan dukungan psikososial.
Reaksi Cemas
• Gangguan ini ditandai dengan rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan, terutama sekali terhadap hal-hal yang masih tergolong wajar
• Kecemasan baru terlihat apabila wanita tersebut mengungkapkannya karena gejala klinik yang ada, sangat tidak spesifik (twitching, tremor, berdebar- debar, kaku otot, gelisah dan mudah lelah, insomnia)
• Timbul gejala-gejala somatik akibat hiperaktifitas otonom (palpitasi, sesak nafas, rasa dingin di telapak tangan, berkeringat, pusing, rasa terganjal pada leher)
• Tenangkan dengan psikoterapi. Walau kadang-kadang upaya ini kurang memberi hasil tetapi prosedur ini sebaiknya paling pertama dilakukan
• Hanya pada pasien dengan reaksi cemas berat, berikan diazepam 3 x 2 mg per hari
• Bila pasien tidak mampu untuk melakukan kegiatan sehari-hari atau kekurangan asupan kalori/gizi maka harus dilakukan rawat inap di rumah sakit.
Reaksi panik
• Ditandai dengan rasa takut dan gelisah yang hebat, terjadi dalam periode yang relatif singkat dan tanpa sebab-sebab yang jelas
• Pasien mengeluh nafas sesak atau rasa tercekik, telinga berdenging, jantung berdebar, mata kabur, rasa melayang, takut mati atau merasa tidak akan tertolong lagi
• Pemeriksaan fisik menunjukkan pasien gelisah dan ketakutan, muka pucat, pandangan liar, pernapasan pendek dan cepat dan takhikardi
• Tenangkan secara verbal, sebelum psikoterapi atau medikamentosa. Sebaiknya pasien dirawat untuk observasi terhadap reaksi panik ulangan dan pemberian terapi
• Karena reaksi panik hanya berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, cukup diberikan dosis tunggal diazepam 5 mg IV.
Reaksi Obsesif – Kompulsif
• Gambaran spesifik dari gangguan ini adalah selalu timbulnya perasaan, rangsangan ataupun pikiran untuk melakukan sesuatu, tanpa objek yang jelas, diikuti dengan perbuatan yang dilakukan secara berulang kali
• Pengulangan perbuatan tersebut dapat mencelakai dirinya, bayi yang dikandung atau orang lain
• Adanya potensi gawat darurat pada wanita hamil dengan reaksi obsesif- kompulsif menjadi alasan untuk dirawat di rumah sakit atau dalam pengawasan tim medis yang memadai. Psikoterapi cukup membantu untuk mengembalikan wanita ini pada status emosional yang normal
• Pada kasus yang berat, beri diazepam 5 mg IV dan observasi ketat.
Depresi Berat
• Depresi pada wanita hamil, ditandai oleh perasaan sedih, tidak bergairah, menyendiri, penurunan berat badan, insomnia, rasa tidak dihargai dan pada kasus yang berat, ada keinginan untuk melakukan bunuh diri
• Penelitian di RS. Dr. Sutomo, Surabaya (1999) menunjukkan angka kejadian Depresi Pasca persalinan (Postpartum Blues) sebesar 15,2% (persalinan fisiologis) dan 46,2% (persalinan patologis)
• Sulit untuk melakukan komunikasi karena mereka cenderung menarik diri, tidak mampu berkonsentrasi, kurang perhatian dan sulit untuk mengingat sesuatu
• Gunakan anti depresan Amitryptyline 2 x 10 mg oral
• Tetapi kejutan listrik (ECT) digunakan apabila psikofarmaka gagal dan reaksi depresi membahayakan pasien.
Reaksi Mania
• Reaksi mania ditandai dengan rasa gembira yang berlebihan (eforia), mudah terangsang, hiperaktif, banyak berbicara (logore), mengganggu dan rasa percaya diri yang berlebihan. Angka kejadian reaksi mania adalah 0,5 – 1,5%
dan jumlahnya akan bertambah pada periode pasca persalinan
• Reaksi mania dalam kehamilan merupakan masalah yang cukup rumit karena obat lithium karbonat, dapat menimbulkan berbagai akibat yang merugikan pada janin (Ebstein’s abnormality, struma, kelemahan tonus otot dan menurunnya kemampuan mengisap pada bayi yang baru dilahirkan)
• Ibu-ibu yang menggunakan lithium karbonat, tidak boleh menyusui bayinya karena obat ini diekskresikan melalui air susu ibu
• Wanita hamil dengan reaksi mania, sebaiknya dirawat untuk menentukan dosis yang paling tepat, aman dan efektif untuk lithium karbonat
• Pasien-pasien yang terkontrol pada saat hamil, cenderung mengalami episode mania pada 7 – 14 hari saat pasca persalinan
Skizofrenia
• Skizofrenia ditandai dengan gangguan proses berfikir, persepsi dan realita.
Pada tingkat tertentu, dapat dijumpai halusinasi, waham kebesaran dan kejaran, gangguan bicara dan hilangnya asosiasi dengan realita dan lingkungan sekitarnya.
• Klorpromazine 12,5 mg atau haloperidol 0,5 mg, tidak berpengaruh terhadap janin tetapi pada dosis anti psikotik (klorpromazine 125 – 250 mg atau haloperidol 2 mg) dengan pemberian multi dosis, dapat mempengaruhi kesehatan janin
• Obat ini diekskresikan melalui ASI sehingga tidak dianjurkan untuk menyusui bayinya. Bila psikofarmaka tidak dapat digunakan, dapat digunakan terapi kejutan listrik (ECT).
Rasa kehilangan
• Dengan dukungan teknologi canggih sekalipun, abortus, cacat congenital, janin mati dalam rahim dan mortalitas neonatal, masih akan tetap terjadi
• Rasa kehilangan merupakan adaptasi dari kemarahan, kekecewaan dan kesedihan yang harus dihadapi dan diatasi
• Lakukan konseling dan minta pasangan tersebut untuk memutuskan apa yang terbaik bagi mereka (menyimpan hasil konsepsi, menyaksikan cacat yang terjadi, mendekap janin yang telah dilahirkan, meminta otopsi) agar proses adaptasi terhadap kehilangan dapat berjalan baik
• Perhatikan: kemarahan terhadap situasi yang terjadi, dapat dilampiaskan kepada staf klinik dan terutama terhadap tenaga medik atau penolong
• Beri kesempatan (paling tidak 6 bulan) untuk resolusi, sebelum memulai kehamilan berikut.
2.4.1. Penanganan Masalah Kejiwaan Menurut Tingkat Pelayanan Kesehatan Tabel 2.7. Diagnosis Emosional Ibu Hamil dan Melahirkan
Tanda dan Gejala
• Ibu hamil dengan masalah atau gangguan kejiwaan yang dapat mempengaruhi kesehatan/keselamatan ibu maupun janin yang dikandungnya
Dugaan • Kehamilan dengan gejala cemas, panik, obsesif-kompulsif, depresi, mania atau skizofrenia
Kategori CEMAS PANIK OBSESI DEPRESI MANIA SKIZO
Tingkat UPAYA
Polindes Kenali Rujuk Observasi Pascaterapi
Kenali Rujuk Observasi Pascaterapi
Kenali Rujuk Observasi Pascaterapi
Kenali Rujuk Observasi Pascaterapi
Kenali Rujuk Observasi Pascaterapi
Kenali Rujuk Observasi Pascaterapi Puskesmas Diagnosis
Terapi:
Psikoterapi Sedatif Rujuk bila gejala tetap / memburuk Observasi pasca rujukan
Diagnosis Terapi:
Psikoterapi Sedatif Rujuk bila gejala tetap / memburuk
Diagnosis Terapi:
Psikoterapi Sedatif Rujuk bila terdapat gejala yang berbahaya bagi ibu dan janin / memburuk
Diagnosis Terapi:
Psikoterapi Sedatif Rujuk bila gejala tetap / memburuk
Diagnosis Terapi:
Psikoterapi Sedatif Rujuk bila gejala tetap / memburuk
Diagnosis Terapi:
Psikoterapi Sedatif Rujuk bila gejala tetap/
memburuk
Rumah Sakit
Diagnosis Psikoanalis dan terapi Sedatif Konsultasi psikolog / psikiater
Diagnosis Psikoanalis dan terapi Sedatif Konsultasi psikolog / psikiater
Diagnosis Psikoanalis dan terapi Sedatif Konsultasi psikolog / psikiater ANC / Profil biofisik
Diagnosis Psikoanalis dan terapi Sedatif AD trisiklik ECT / TKL Konsultasi psikolog / Psikiater
Diagnosis Psikoanalis dan terapi Sedatif Li- karbonant Konsultasi psikolog / psikiater ANC / Profil biofisik
Diagnosis Psikoanalis dan terapi Sedatif Psikofarmaka / ECT Konsultasi psikolog / psikiater
Sumber: Saifudin, et al., 2006, p. 331
• Morbiditas Psikologi
Beban emosional pescalahir merupakan hal yang bisa ditemui setelah kehamilan. Hal ini sangat bervariasi, mulai dari gangguan perasaan sendu yang ringan (ditemui pada sekitar 80% ibu) sampai depresi postpartum atau psikosis. Psikosis postpartum dapat menjadi ancaman bagi si ibu maupun bayinya.
Pada proses kehamilan hingga proses persalin sampai pada proses pascanatal, wanita banyak mengalami ganngguan emosional. Terlebih lagi pada saat pascanatal dimana adnya rasa tertekan dan ketidaknyamanan. Hal ini disebut dengan depresi. Gangguan emosional ini disebabkan hormon dalam tubuh belum bekerja secara seimbang usai melahirkan. Tubuh sedang
menyesuaikan diri dengan kondisi barunya. Beberapa jenis depresi yang dialami, antara lain:
- Baby blues
Baby blues adalah bentuk depresi yang paling ringan. Biasanya, timbul antara 2 hari sampai 2 minggu setelah melahirkan. Lamanya depresi juga tidak terlalu berlarut-larut, sekitar 2 minggu saja. Bahwa 80%
ibu yang baru melahirkan mengalami baby bluse. (Maulana, 2007, p. 64).
Namun, ada pula pendapat dari Cristian dan Yusron (2006) pada halaman 144 mengatakan bahwa puncak baby blues adalah hari ke-3 hingga 5 hari setelah melahirkan. Biasanya kondisi emosi ini akan kembali normal setelah melewati hari ke-10. Munculnya baby blues ditandai oleh berbagai gejala. Misalnya, pasien terlalu sedih, sering menangis, dan sensitif.
Biasanya, gejala depresi ini tidak akan memburuk dan tidak perlu terapi khusus. Dukungan dari keluarga mendukung pemulihan emosional ibu.
- Postpartum depression (PPD)
Postpartum depression (PPD) adalah bentuk depresi yang lebih serius. Dimana mempengaruhi sekitar 15% ibu melahirkan. Bedanya dengan Baby blues adalah pada frekuensi, intensitas, dan lamanya gejala.
PPD timbul dari 2 minggu hingga setahun dari proses setelah melahirkan.
Masalah tidur adalah satu cara membedakannya. Jika seorang ibu tidak dapat tidur karena gelisah, bisa terjadi mengalami PPD. Gejala lain adalah kelelahan, mudah marah, kesedihan, kurangnya energi dan motivasi, adanya perasaan tidak mendapat bantuan dan putus asa, hilangnya libido dan nafsu makan, sakit kepala, asma, nyeri punggung, adanya cairan dari vagina, dan nyeri abdomen juga ditemui. Gejala lain yang dapat ditimbulkan yaitu adanya pikiran obsesional, ketakutan akan melukai diri sendiri ataupun bayinya, terpikir untuk bunuh diri, dan depersonalisasi.
Diduga kuat, PPD terjadi pula karena stres, dimana tidak sanggup menjalani peran baru dan ditambah dengan tidak adanya lingkungan yang mendukung. Sehingga bukan hanya dikarenakan hormonal saja. Perlu diketahui, depresi ini dialami 1 dari 10 ibu yang mempunyai peluang
untuk terulang lagi sampai 50%. Penanganan psikolog atau psikiater melalui terapi dan pengobatan medis sangat diperlukan.
Menurut buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Depresi postpartum mempengaruhi sekitar 15% ibu khususnya terjadi pada minggu dan bulan-bulan awal postpartum dan dapat bertahan sampai satu tahun atau lebih. Depresi bukan satu-satunya gejala yang ada meskipun biasanya jelas terlihat namun, gejala lain seperti yang dipaparkan diatas patut diwaspadai..
• Proses Pemulihan Depresi
Prognosis untuk depresi postpartum cukup baik diatasi dengan diagnosis dini dan terapi. Lebih dari dua pertiga ibu sembuh dalam satu tahun.
Adanya orang yang menemani selama proses persalinan dapat menghindarkan terjadinya depresi postpartum.
Setelah pemulihan, ibu yang mengalami depresi postpartum membutuhkan konseling psikologis dan bantuan praktis. Umumnya dengan cara:
- Memberikan dukungan psikologis dan bantuan nyata (pada bayi dan asuhan di rumah).
- Mendengarkan dan memberikan dukungan serta besarkan hati ibu.
- Meyakinkan si ibu bahwa pengalaman tersebut merupakan hal biasa dan banyak ibu lain yang mengalami hal yang sama.
- Membantu ibu untuk memikirkan kembali gambaran keibuan dan bantulah pasangan ini untuk memikirkan peran masing-masing sebagai orang tua baru. Dimana mungkin perlu untuk menyesuaikan apa yang diharapkan dan kegiatan mereka.
- Jika depresinya cukup parah, pertimbangkan pemberian obat-obatan anti depresan jika ada. Perlu diperhatikan bahwa obat-obatan tersebut dapat diberikan melalui air susu dan proses menyusui perlu dikaji ulang.
2.5. Manusia dan Lingkungan Fisik Sebagai Faktor Penyembuhan Secara Emosional (Sari, 2003, p. 141-155)
Banyak pihak pengelola rumah sakit pemerintah maupun swasta yang beranggapan bahwa pemulihan kesehatan hanya dapat dilakukan dengan jalan medis saja. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Salah satu faktor pendukung yang dominan bagi pemulihan kesehatan seseorang adalah faktor psikologis yang mempengaruhi penderita tersebut. Dalam praktek di lapangan tidak jarang faktor tersebut diabaikan dan dianggap tidak penting (Kaplan dkk, 1993).
Menurut Utomo (1999) desain interior ruang rawat inap kelas ekonomi di rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah di Indonesia, terlihat sangat sederhana dan apa adanya. Dalam ruang tersebut faktor psikologis pasien dan faktor kenyamanan pasien dapat dikatakan diabaikan. Ruang tersebut hanya diperuntukkan sebagai penunjang fungsi fisik penyembuhan pasien saja, padahal dengan keadaan ruang demikian, fungsi ruang tersebut tidak akan optimal menunjang proses penyembuhan pasien.
Seperti dipaparkan dalam uraian di atas, artikel ini menegaskan bahwa dengan pendekatan holistik masalah penyembuhan seseorang merupakan kompleksitas yang terjalin antara kondisi fisiologis dengan kondisi psikologis (inner mind) dari pasien. Keduanya mempunyai kontribusi dalam proses penyembuhan seseorang. Untuk mendukung kondisi psikologis pasien perlu diciptakan lingkungan yang nyaman, dalam arti secara psikologis lingkungan memberikan dukungan positif bagi proses penyembuhan. Dalam konteks tersebut kontribusi faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang besar (40%) dalam proses penyembuhan, faktor medis 10%, faktor genetis 20% dan faktor lain 30%
(Kaplan et al., 1993).
Ditinjau dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa faktor lingkungan mempunyai peran terbesar dalam proses penyembuhan, maka seharusnya faktor lingkungan tersebut mendapat perhatian yang cukup besar pada sebuah fasilitas penyembuhan. Desain interior rumah sakit merupakan lingkungan binaan yang keberadaannya berhubungan langsung dengan pasien. Melalui elemen-elemen yang pembentuk ruang dalam (interior) seperti elemen warna, dapat diciptakan sebuah lingkungan atau suasana ruang yang mendukung proses penyembuhan.