2.1. Teori (Konsep)
Teori (konsep) yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah:
paidekatan uses and gratificxitions, preferensi pemirsa televisi, talent show sebagai kompetisi pencarian bakat berbasis reality show, definisi dan ciri-ciri rem^a, dan minat ren i^a
2.1.1. Pendekatan Uses and Gratifications
Pendekatan Uses and Gratifications yang dikenalkan pertama kali oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz. Teori kegunaan dan kepuasan ini dikenalkan pada tahun 1974 dalam bukunya The Uses o f M ass Communications: Current Perspectives on Gratification Research.Teori ini mengangg£q> bahwa khalayaklah (pengguna media) yang memainkan peran aktif untiik memilih isi media diantara banyaknya altematif yang ditawarkan kepadanya. Artinya, khalayak (pengguna media) mempunyai wewenang untuk memilih isi media diantara berbagai altematif sesuai dengan minat dan kebutuhannya (Nurudin, 2004; 181).
Pandangan dasar dari paidekatan Uses and Gratifications ini dijelaskan oleh Katz, Blumer, dan Gurevitch sebagai berikut:
. . . , the uses and gratifications approach takes the media consumer rather
than the media message as its starting point, and explores his communication behavior in terms o f his direct experience with the media.
It views the members o f audience as actively utilizing media contents, rather than being passively acted upon the media...(Littlejohn, 1999: 349).
Pemyataan Katz menegaskan bahwa paidekatan Uses and Gratifications berfokus pada khalayak pengguna media sebagai elemen utamanya, dibandingkan isi pesan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaim am media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. Jadi, fokus
16 Universitas Kristen Petra
utamanya ialah pada khalayak yang aktif, yang sengaja menggunakan media untuk mencapai tujuan khusus (Effendy, 2003: 289-290). Salah satu ciri khalayak aktif yaitu perilaku selektif yang berhubungan langsung dengan preferensi.
Individu akan menyeleksi hal-hal yang mendukung keyakinannya dan memilih informasi yang menarik minat mereka
Hal ini berarti khalayak memilih isi sualu media berdasarkan kebutuhan yang ingin dicapainya (gratifications sought) dan kepuasan yang ingin dicapainya {gratifications obtained). Menurut Katz, Gurevitz, dan Haas (1973) terdapat tipologi kebutuhan khalayak dalam menggunakan media massa:
1. Kebutuhan kognitif {cognitive needs)
Kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan, dan pemahaman lingkungan.
2. Kebutuhan afektif {affective needs)
Kebutuhan yang berkaitan dengan pengalaman-pengalaman yang estetis, menyenangkan, dan emosional.
3. Kebutuhan pribadi secara integratif {personal integrative needs) Kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individu.
4. Kebutuhan sosial secara integratif {social integrative needs)
Kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman, dan dunia
5. Kebutuhan pelepasan {tension-release needs)
Kebutuhan yang berkaitan dengan upaya menghindarkan tekanan, ketegangan, dankepenatan (Fiske&Hartley, 2003: 53).
Lima karakteristik khalayak aktif, seperti dikemukakan oleh Frank Biocca:
]. Selectivity: pemirsa yang aktif dipertimbangkan untuk menjadi selektif dalam menentukan media yang akan mereka gunakan.
2. Utilitarianism: pemirsa yang aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan yang dimaksud.
3. Intentionality: menunjukkan bahwa salah satu tujuan penggunaan media adalah memberi kepuasan.
Universitas Kristen Petra
4. Involvement or ejfort: pemirsa secara aktif mengikuti, berpikir, dan menggunakan media.
5. Impervious to influence: khalayak atau pemirsa tidak mudah dipengaruhi oleh media tunggal (Littlejohn, 1999: 337).
Karakteristik Biocca menjelaskan bahwa khalayak melakukan seleksi terhadap isi media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai, serta secara aktif memperhatikan, memikirkan, dan menggunakan isi media, sehingga tidak dengan mudah dipengaruhi oleh suatu media tertentu. Lebih tegasnya mengenai perilaku aktif khalayak ini dikemukakan oleh Blumler bahwa komunikasi massa berguna (utility); bahwa konsumsi media diarahkan oleh motif iintentionality); bahwa perilaku media mencerminkan kepentingan dan preferensi (selectivity)-, dan bahwa khalayak sebenamya kepala batu (stubborn) (Rakhmat, 2004: 65). Selektivitas khalayak dalam mengkonsumsi media massa menunjukkan bahwa khalayak berperilaku akiif terhadap berbagai isi media yang ditawarkan kepadanya
2.1.2. Preferensi Pemii^a Televisi
Pemirsa televisi adalah komunikan (khalayak) komunikasi massa yang menjadi target penerima pesan media televisi. Dalam menerima berbagai isi media yakni beragam program acara televisi yang ditayangkan, pemirsa televisi memiliki preferensi (pilihan) terhadap tayangan program acara tertentu yang ditontonnya.
Preferensi berasal dari kata dalam Bahasa Inggris, yakni preference (nomina) dengan bentuk kata keija prefer. Preferensi dalam Kamus Lengkap Psikologi diartikan sebagai: 1. satu seleksi atau pilihan perangsang, jalan, mode, cara-cara, tingkah lakm, dan seterusnya; 2. lebih menyukai sesuatu benda daripada benda lainnya (Chaplin, 1995: 379).
Dalam hal penggunaan media massa, preferensi memiliki makna yang berhubungan dengan seleklivitas, “bahwa perilaku media mencerminkan kepentingan dan preferensi (selectivity)...^^ (Rakhmat; 2004: 65). Selektivitas (selectivity) dalam buku Understanding Mass Communication berarti "the principle that members o f an audience select content from the mass media that is
Universitas Kristen Petra
related to their interest, needs, predispositions, and other psychological characteristics” (DeFleur«&Dennis, 1985: 607). Yakni, prinsip dimana pemirsa/pendengar/pembaca melakukan seleksi diantara berbagai isi media massa yang berhubungan dengan minat, kebutuhan, kecenderungan, dan karakleristik psikologi mereka.
Khalayak yang selektif merupakan ciri dari khalayak aktif. Dalam media televisi berarti pemirsa akan memilih suatu program acara yang sesuai dengan kebutuhan dan menarik minalnya, sehingga memunculkan preferensi khalayak dalam penggunaan isi media. Disebutkan pula oleh Bittner, ‘'...we will select those which support our beliefs and which have programming and information appealing to our own interest’’ (Bittner, 1987; 403). Pemirsa televisi akan memilih hal-hal yang mendukung keyakinannya serta program dan informasi yang menarik minat mereka
2.1.3. Talent Show Sebagai Kompetisi Pencarian Bakat Berbasis Reality Show
Kontes bakat memang sudah ada sebelum reality show hadir di layar kaca televisi. Sejak tahun 1980-an Amerika sudah mempunyai kontes bakat. Dalam kontes ini semua orang berhak menunjukkan keahliannya Siapa yang paling bagus, dialah yang menang. Namun, kontes seperti ini tidak menarik karena emosi pemirsa kurang terbawa. Dahulu di wilayah Asia te rd ^ a t kontes pencarian bakat menyanyi yang bertajuk Asia Bagus, dimana pemenang ditentukan oleh tim juri.
Hal ini terkadang membuat masyarakat merasa kesal karena pilihan ‘ju ara dalam benak orang banyak belum tentu sama dengan pilihan tim juri. Mungkin inilah yang menyebabkan reality show pencarian idola saat ini lebih menarik daripada kompetisi menyanyi se-Asia tersebut.
Beberapa definisi reality show.
a Reality Show adalah suatu acara yang diselenggarakan di televisi dan temanya bisa bermacam-macam, ada yang berupa pencarian bakat hingga menjebak kekasih dan kawan. Yang membedakannya dari acara-acara televisi lainnya adalah tidak adanya naskah atau jalan cerita yang disiapkan sebelumnya, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya pun
Universitas Kristen Petra
bukanlah aktor/aktris. Di Indonesia, acara ini sebenamya sudah cukup lama diselenggarakan. Namun istilah reality show baru saja dikenal di negeri ini padatahun 2000-an {''Reality Show Indonesia'",2005: par.l).
b. Reality television secara umum didefinisikan sebagai "a television program that feature members o f the public in unusual situations, often competing fo r a prize, and often involving audience participation ” (sebuah program televisi yang menempatkan anggota masyarakat pada situasi yang tidak seperti biasanya, berkompetisi untuk sebuah hadiah, dan melibatkan partisipasi pemirsa televisi dalam menentukan juara atau pemenangnya) (“A Definition o f Reality TV”,2005: par. 1).
c. Reality TV in which members o f public compete against each other fo r monetary prizes based on audience popularity {Reality TVdimana peserta yakni masyarakat biasa berkompetisi satu sama lain untuk hadiah uang berdasarkan popularitas pemirsa) (Giles, 2003: 237).
d. Reality game shows to differentiate them from their predecessors, involve placing ‘real ’ people in contrived situations, observing what happens and usually reducing the number until only one remains. {Reality game shows berusaha membedakan diri dari pendahulunya yakni dengan melibatkan orang-orang 'reaV pada situasi buatan, mengamati apa yang teijadi dan biasanya mengurangi jumlah peserta hingga hanya tersisa satu orang sebagai pemenang) (Bonner, 2003; 26).
Berikut beberapa tipe utama reality show { “Reality Television”, 2005:
par. 8-12):
1. Docusoap {documenter and soap opera)yaitu gabungan dari rekaman asli dan plot/cerita Disini pemirsa dan kamera adalah pengamat pasif yang mengikuti orang melakukan aktivitas profesional dan keseharian mereka.
Contoh: The Anna Nicole Show, The Osbournes, Menjelang Hari Bahagia (RCTI).
2. Hidden Cameras yaitu sebuah kamera tersembunyi merekam orang-orang dalam situasi yang sudah di-set (sandiwara). Reaksi dari orang-orang tersebut lucu untuk ditonton, sekaligus menampakkan kebenaran akan
Universitas Kristen Petra
kondisi manusia secara alami. Contoh: Candid Camera, Just for Ixiugh, Sponlan Pilihan (TransTV), Ngaciir (RCTI).
3. Reality Game Shows yaitu sejumlah kontestan direkam secara intensif pada sebuah lingkungan khusus untuk berkompetisi memenangkan sebuah hadiah. Fokus utamanya ialah pertunjukkan kompetisi. Satu perbedaan yang membuat hal ini lebih terlihat seperti "reality television" daripada game shows lainnya yaitu pemirsa umum dapat memainkan peran aktif daiam menentukan hasilnya. Biasanya dengan mengeliminasi peserta yang mendapat dukungan terendah, atau memberi voting terhadap pilihan yang paling populer untuk menang. Contoh: Big Brother, Survivor, American Idol, Indonesian Idol (RCTI), AFI (Indosiar), Penghuni Terakhir (ANTV).
4. Relationship Reality Show yaitu seorang kontestan akan dipasangkan dengan sebuah grup besar pelamar. Selama rangkaian acara, pelamar akan dieliminasi satu per satu, sampai pada akhimya hanya ada kontestan dan pelamar no.l, dan mereka menikah. Contoh: The Bachelor, The Bachelorette, Joe Millionaire Indonesia (RCTI).
Dengan demikian, talent show termasuk dalam ""reality game shows"".
Talent show merupakan acara yang memfokuskan pada orang-orang biasa dengan penekanan pada talenta dan keahlian spesifik yang menunjukkan diri mereka sendiri, hingga menjadi bintang/selebriti jaman sekarang (Holmes, 2004: 157).
Berdasarkan definisi dan tipe reality show yang telah dikemukakan, maka suatu tayangan disebut talent show }ika memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) kompetisi pencarian bakat, (2) orang-orang yang terlibat hanyalah orang biasa/belum terkenal, (3) adanya rekaman kegiatan secara intensif, (4) adanya proses eliminasi, (5) berkompetisi untuk memperebutkan hadiah, (6) melibatkan partisipasi pemirsa televisi dalam penentuan juara yakni berupa voting melalui short message services (SMS) ataupun via telepon (premium call). Pionir akan keberadaan talent show adalah Pop Idol yang disiarkan oleh ITVl (Inggris).
Di Indonesia hampir setiap stasiun televisi memiliki program andalannya masing-masing, mulai yang berlisensi internasional sampai lokal. Jenis talent
Universitas Kristen Petra
show di Indonesia dibedakan atas dasar bakat atau talenta yang sedang dikompetisikan. Bakat-bakat tersebut antara lain:
1. Penyanyi : Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Kontes Dangdut TPI (KDI), Kontes Dangdut Indosiar (KonDang-In), Ajang Boy Band.
2. Pelawak 3. Akting 4. Model 5. Presenter 6. Musik 7. Olahraga 8. Dakwah
Audisi Pelawak TPI (API), Meteor Kampus.
Bintang Akting RCTI.
Indonesian Model, Cantik Indonesia.
Menuju Layar Liputan 6, Indonesian Star.
Ihe Dreamband, CIpta LAgu POPuler (CILAPOP).
Indonesian Football Academy, The Next Great Champ.
Dakwah TPI (DAI), Pemilihan Dai Cilik (Pildacil).
2.1.4. Definisi dan Ciri-ciri Remaja
Terdapat banyak definisi remaja yang dikemukakan para ahli. Menurut Soeijono Soekanto (1990; 51), remaja diartikan sebagai golongan berusia 12-17 tahun (bagi perempuan) dan golongan berusia 13-17 tahun (bagi laki-laki). Sikap tindak mereka rata-rata sudah mendekati pada sikap tindak orang dewasa, walaupun dari sudut perkembangan mental belum sepenuhnya Sedangkan definisi rem ^a untuk masyarakat Indonesia ialah yang berusia 11-24 tahun dan belum menikah. Disebut remaja dengan pertimbangan sebagai berikut; usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya teijadi perubahan fisik (akil balik), mulai ada tanda-tanda penyempumaan perkembangan jiwa, batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal yaitu untuk mereka yang masih belum dapat memenuhi persyaratan kedewasaan secara sosial maupun psikologis, status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh (Sarwono, 1989: 14).
Menurut EHzabeth B.Hurlock (1997: 206), secara harfiah istilah remaja atau adolescence berasal dari kata Latin “adolescere” yang berarti tumbuh menjadi dewasa Secara umum masa remaja dibagi menjadi dua bagian, yaitu awal masa (13-16/17 tahun) dan akhir masa remaja (16/17-18 tahun). Garis pemisah antara awal masa dan akhir masa remaja terletak kira-kira di sekitar usia
Universitas Kristen Petra
17 tahun, usia dimana rata-rata setiap rem ^a memasuki sekolah menengah tingkat atas. Ketika remaja duduk di SMA, biasanya orang tua menganggapnya hampir dewasa dan berada di ambang perbatasan untuk memasuki dunia keija orang dewasa, melanjutkan ke perguruan tinggi, atau menerima pelatihan kerja tertentu.
Status di sekolah juga membuat remaja sadar akan tanggung jawab yang sebelumnya belum pemah terpikirkan. Kesadaran akan status formal yang baru, baik di rumah maupun di sekolah, mendorong sebagian besar remaja untuk berperilaku lebih matang.
Berikut ciri-ciri khas penting masa remaja akhir, antara lain:
1. Stabilitas keadaan psikis timbul dan meningkat
Keadaan yang lebih stabil pada masa remaja akhir termasuk dalam pemiUhan sekolah, pekerjaan, sikap, dan pengambilan keputusan serta tanggung jawab. Campur tangan dari orang dewasa berkurang.
2. Pikiran lebih realistis
Karena bertambah pengalaman dan kemampuannya untuk berpikir realistis, remaja pada masa ini dapat menilai keadaan dirinya sebagaimana adanya. Juga terhadap keluarga dan teman sebaya.
Akibatnya timbul perasaan puas dan tidak emosional.
3. Cara menghadapi masalah lebih matang
Hal tersebut hasil dari perkembangan kognitif. Remaja tidak lagi bersikap bingung dalam berusaha memecahkan masalahnya. Sehingga ia lebih pandai menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi lingkungan dan situasi perasaan dirinya.
4. Perhatian remaja lebih banyak ke perencanaan dan persiapan masa depan serta simbol kedewasaan. Individu remaja akhir benar-benar memikirkan kehidupannya di masa depan. la berusaha memilih studi ataupun pekeijaan sesuai dengan keadaan diri dan kemampuannya.
5. Ketenangan emosional bertambah
Sikap lebih tenang menghadapi masalah menyebabkan individu sedikit demi sedikit mampu menguasai emosinya Sehingga pada masa akhir ini remaja dapat dikatakan lebih mencapai kematangan emosional.
(Soesilowindradini, 1985: 203-206)
Universitas Kristen Petra
Sementara menurut Elizabeth B.Hurlock (1997: 213), remaja masa akhir mencapai kematangan emosi bila anak laki-laki dan perempuan tidak
“meledakkan” emosinya di hadapan orang lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima Petunjuk kematangan emosi yang lain adalah bahwa individu menilai situasi secara kritis terlebih dulu sebelum bereaksi secara emosional.
Selain itu, pencapaian kematangan emosi juga dapat dilakukan dengan menggunakan katarsis emosi untuk menyalurkan emosinya Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, beimain atau bekeija, tertawa atau menangis.
2.1.5. Minat Remaja
Pada masa remaja, minat yang dibawa dari masa kanak-kanak cenderung berkurang dan diganti oleh minat yang lebih matang. Dengan kata lain, remaja akan memilih minat yang benar-benar penting bagi keberlangsungan masa depannya. Minat rem ^a perempuan sangat berbeda dengan minat remaja laki-laki.
Rem ^a perempuan berminat pada hal-hal yang feminin, sedangkan remaja laki- laki pada hal-hal yang maskulin (Hurlock, 1997: 217). Berikut beberapa minat penting rem^a:
I . Minat Rekreasi
Banyaknya tekanan yang berasal dari tugas-tugas sekolah, tugas-tugas rumah, kegiatan ekstrakurikuler, dan pekerjaan sesudah sekolah atau pada akhir pekan, sebagian remaja tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk rekreasi seperti ketika mereka masih muda. Oleh karena itu, mereka memilih jenis-jenis kegiatan yang paling mereka sukai atau mereka kuasai benar. Beberapa bentuk rekreasi yang disukai remaja:
a Permainan dan Olah Raga: remaja lebih menyukai olah raga tontonan.
b. Bersantai: remaja gemar bersantai-santai dan mengobrol dengan teman-teman.
c. Bepergian: remaja senang bepergian selama liburan dan biasanya yang jauh dari rumah.
Universitas Kristen Petra
d. Hobi: rem ^a yang tidak populer lebih berminat pada hobi dibandingkan dengan bentuk rekreasi lainnya.
e. Dansa: merupakan bagian yang penting dari berkencan.
f. Membaca: remaja lebih menyukai membaca majalah atau surat kabar daripada buku-buku.
g. Menonton Film; remaja perempuan lebih menyukai film yang romantis, sedangkan remaja laki-laki menyukai film petualangan.
h. Radio dan Kasel; remaja gemar mendengarkan radio atau tape recorder (kaset) sambil belajar. Yang paling digemari adalah program-prcgram musik populer.
i. Televisi: remaja berusaha memenuhi rasa keingintahuannya akan hal-hal yang menarik minatnya dengan menonton televisi. Karena itu, rem ^a juga semakin kritis terhadap acara-acara televisi.
Pilihan acara televisi yang disukai remaja dipengaruhi oleh orang- orang yang bersama-sama melihat acara tersebut.
j. Melamun: merupakan bentuk rekreasi yang populer diantara rem ^a apabila mereka merasa bosan atau kesepian.
(Hurlock, 1997; 218)
2. Minat Sosial
Minat yang bersifat sosial bergantung pada kesempatan yang diperoleh remaja untuk mengembangkan minat tersebut dan juga pada kepopulerannya dalam kelompok. Berikut beberapa minat sosial yang umum pada remaja (Hurlock, 1997; 219);
a Pesta; remaja perempuan lebih menyukai pesta daripada remaja laki-laki.
b. Minum Minuman Keras; remaja perempuan jarang minum minuman keras dibandingkan dengan remaja laki-laki.
c. Obat-obat Terlarang; banyak remaja mencoba obat-obat ini karena
“harus dicoba”, meskipun beberapa menjadi kecanduan.
d. Percakapan; remaja memperoleh rasa aman bila berada diantara teman-teman untuk membicarakan hal-hal yang (tidak) menarik.
Universitas Kristen Petra
e. Menolong Orang Lain: remaja sangat berminat untuk menolong mereka yang merasa dirinya diperlakukan kurang baik/tertekan.
f. Peristiwa Dunia: melalui pelajaran-pelajaran di sekolah dan media massa, remaja seringkali mengembangkan minat terhadap pemerintahan, politik, dan peristiwa dunia. Minat ini diungkapkan terutama melalui bacaan dan pembicaraan dengan teman-teman, guru-guru, orang tua, dan orang lain.
g. Kritik dan Pembaruan: rem ^a terutama perempuan menjadi kritis dan berusaha memperbaiki orang tua, teman-teman, sekolah, dan masyarakat.
3. Minat Pribadi
Minat pada diri sendiri merupakan minat yang terkuat di kalangan remaja. Berikut beberapa minat pribadi yang umum pada rem^a:
a Minat pada Penampilan Diri: meliputi pakaian, perhiasan pribadi, kerapihan, daya tarik dan bentuk tubuh.
b. Minat pada Pakaian: rem ^a berusaha keras untuk menyesuaikan diri dffligan apa yang dikehendaki kelompok dalam berpakaian.
c. Minat pada Prestasi: prestasi yang baik dapat memberikan kepuasan pribadi dan ketenaran. Karena itu, prestasi baik dalam bidang olahraga, tugas-tugas sekolah maupun berbagai kegiatan sosial, menjadi minat yang kuat sepanjang masa rem ^a Remaja yang realistik tentang kemampuannya lebih banyak mengalami keberhasilan daripada kegagalan. Hal ini akan menimbulkan kepercayaan diri dan kepuasan diri yang lebih besar, sehingga memberikan konsep diri yang lebih baik.
d. Minat pada Kemandirian: keinginan yang kuat untuk mandiri mencapai puncaknya pada akhir masa remaja.
e. Minat pada Uang: semua rem ^a lambat atau cepat akan menemukan bahwa uang adalah kunci kebebasan dan kemandirian.
(Huriock, 1997: 219-220)
Universitas Kristen Petra
2.2. Nisbah Antar Konsep
Preferensi dalam hal penggunaan media massa memiliki makna yang berhubungan dengan selektivitas, “bahwa perilaku media mencerminkan kepentingan dan preferensi (selectivity)..."^ (Rakhmat; 2004: 65). Selektivitas {selectivity) berarti “the principle that members o f an audience select content from the mass media that is related to their interest, needs, predispositions, and other psychological characteristics” (DeFleur&Dennis, 1985: 607). Yakni, prinsip dimana pemirsa/paidengar/pembaca melakukan seleksi diantara berbagai isi media massa yang berhubungan dengan minat, kebutuhan, kecenderungan, dan karakteristik psikologi mereka.
Perilaku selektif merupakan ciri dari khalayak yang aktif. Hal ini sesuai dengan pendekatan Uses and Gratifications yang menganggap bahwa khalayaklah (pengguna media) yang memainkan peran aktif untuk memilih isi media diantara banyaknya altematif yang ditawarkan kepadanya. Artinya, khalayak (pengguna media) mempunyai wewenang untuk memilih isi media diantara berbagai altematif sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Menurut Katz, Gurevitz, dan Haas terdapat tipologi kebutuhan khalayak dalam menggunakan media massa (Fiske&Hartley, 2003: 53):
1. Kebutuhan kognitif (cognitive needs) 2. Kebutuhan afektif (affective needs)
3. Kebutuhan pribadi secara integratif (personal integrative needs) 4. Kebutuhan sosial secara integratif (social integrative needs) 5. Kebutuhan pelepasan (tension-release needs)
Pada media televisi berarti pemirsa akan memilih suatu program acara yang sesuai dengan kebutuhan dan menarik minatnya, sehingga memunculkan preferensi khalayak yang berbeda satu sama lain. Diantara pemirsa televisi yang heterogen, remaja merupakan salah satu segmen paionton yang menjadi target audience dari berbagai stasiun televisi. Remaja secara umum dibagi menjadi dua bagian, yaitu awal masa (13-16/17 tahun) dan akhir masa remaja (16/17-18 tahun). Garis pemisah antara awal masa dan akhir masa rem ^a terletak kira-kira di sekitar usia 17 tahun, usia dimana rata-rata setiap remaja memasuki sekolah menengah tingkat atas. Remaja juga mempunyai minat untuk menonton televisi.
Universitas Kristen Petra
karena remaja juga semakin kritis terhadap acara-acara televisi (Hurlock, 1997:
206).
Salah satu acara televisi tersebut yaitu program talent show. Talent show merupakan acara yang memfokuskan pada orang-orang biasa dengan penekanan pada talenta dan keahlian spesifik yang menunjukkan diri mereka sendiri, hingga menjadi bintang/selebriti jaman sekarang (Holmes, 2004: 157). Suatu tayangan disebut talent show ]\kdi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) kompetisi pencarian bakat, (2) orang-orang yang terlibat hanyalah orang biasa/belum terkenal, (3) adanya rekaman kegiatan secara intensif, (4) adanya proses eliminasi, (5) berkompetisi untuk memperebutkan hadiah, (6) melibatkan partisipasi pemirsa televisi dalam penentuan juara yakni berupa voting melalui short message services (SMS) ataupun via telepon (premium call).
Jenis talent show di Indonesia dibedakan atas dasar bakat atau talenta yang sedang dikompetisikan. Bakat-bakat tersebut antara lain: penyanyi, pelawak, akiing, model, presenter, musik, olahraga, dan dakwah. Dengan demikian, rem ^a sebagai pemirsa televisi akan selektif dalam memilih jenis talent show televisi sesuai dengan minat dan kebutuhannya Sehingga memunculkan preferensi remaja terhadap jenis talent show yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi swasta di Indonesia.
Universitas Kristen Petra
2 3 . Kerangka Pemikiran
Komunikasi Massa
: tl
Televisi
Persainean Stasiun Televisi di Indonesia
i n
i ~
Munculnya Tren Program Reality Show
Dociisoap Hidden Cameras
Reality Game Shows
Jenis Tailent Show
Relationship Reality Show
Penyanyi Pelawak Akting Model I'resenter Musik Olah Raga
Dakwah
Setiap Stasiun TV Swasta Punya Program Unggulan & Segmen Utamanya adalah Remaja
i
Pendekatan Uses and Gratifications
Tipologi Kebutuhan Khalayak
K ognitif - Informasi - Pengetahuan - Pemahaman Lingkungan
A fektif
— Estetis
— Menyenangkan
— Emosional
In te g ra tif P ersonal - Kredibilitas - Kepercayaan - Stabilitas - Status
Individu
In te g ra tif Sosial - Keluarga - Teman - Dimia
P elepasan - Tekanan - Ketegangan - Kepenatan
Pemirsa Remaja Aktif dan Selektif Memilih
Preferensi Siswa SMAK St. Louis 1 Surabaya Terhadap Jenis Talent Show Televisi
Sumber: Olahan Peneliti
Universitas Kristen Petra