• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Defenisi Pajak Penghasilan

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap penghasilan yang diperoleh oleh orang pribadi atau perseorangan dan badan selama satu tahun pajak.

pengertian penghasilan menganut arti yang luas yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis dalam nama dan bentuk apapun yang diterima atau diperoleh oleh subjek pajak baik yang bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri. Dasar hukum pengenaan pajak penghasilan adalah undang-undang No.7 Tahun 1984 sebagaimana telah diubah dengan undang-undang No. 17 tahun 2000 dan yang terbaru diubah dengan undang-undang No.36 tahun 2008.

Wajib pajak dalam menghitung dan melunasi pajak penghasilan melalui dua cara,yaitu:

a. Pelunasan pajak berjalan, yaitu pelunasan pajak dalam masa pajak yang meliputi:

¾ Pembayaran sendiri oleh wajib pajak (PPh pasal 25) untuk setiap masa pajak.

¾ Pembayaran pajak melalui pemotongan/pemungutan pihak ketiga (orang pribadi atau badan baik swasta maupun pemerintah) berupa kredit pajak yang dapat diperhitungkan dengan jumlah pajak terhutang selama tahun pajak, yaitu

• Pemotong PPh atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, atau kegiatan (PPh pasal 21),

• Pemungut PPh atas penghasilan dari kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain, dan pembayaran atas penyerahan barang kepada badan pemerintah (PPh pasal 22).

• Pemotong PPh atas penghasilan dari modal atau penggunaan harta oleh orang lain, hadiah, dan penghargaan (PPh pasal 23).

(2)

• Pelunasan PPh di luar negeri atas penghasilan di luar negeri (PPh pasal 24).

• Pemotong PPh atas penghasilan yang terhutang atas wajib pajak luar negeri (PPh pasal 26).

• Pemotongan atas penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan–tabungan lainnya dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek. Penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan serta penghasilan tertentu lainnya (PPh pasal 4 ayat (2)).

b. Pelunasan pajak sesudah akhir tahun

Pelunasan pajak sesudah tahun pajak berakhir dilakukan dengan cara :

¾ Membayar pajak yang kurang disetor yaitu dengan menghitung sendiri jumlah pajak penghasilan terhutang untuk suatu tahun pajak dikurangi dengan jumlah kredit pajak tahun yang bersangkutan.

¾ Membayar pajak yang kurang disetor berdasarkan surat ketetapan pajak atau surat tagihan pajak yang ditetapkan oleh direktorat jenderal pajak, apabila terdapat bukti bahwa jumlah pajak terhutang tidak benar

2.2 Penggolongan Subjek Pajak

Untuk tujuan perpajakan, subjek pajak (orang pribadi dan Badan) dapat digolongkan menjadi dua yaitu :

a. resident atau subjek pajak dalam negeri, dan b. non resident atau subjek pajak luar negeri.

Resident tersebut diartikan sebagai orang dan badan yang dapat dikenakan pajak di Negara tersebut berdasarkan domisili, tempat tinggal, kewarganegaraan, tempat kedudukan manajemen, tempat pendirian, atau kriteria lainnya yang sifatnya serupa. Sedangkan pengertian Nonresident adalah orang dan badan yang tidak mempunyai hubungan yang erat dengan suatu Negara untuk dikenakan pajak atas

(3)

seluruh penghasilannya (wordwide income). Dengan demikian, orang dan badan tersebut hanya dikenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di Negara tersebut.

2.3 Subjek Pajak Berdasarkan Undang-undang PPh

Subjek pajak dalam pasal 2 ayat (1) Undang-Undang nomor 17 tahun 2000 tentang perubahan ketiga atas Undang-Undang nomor 7 tahun 1983 yang selanjutnya diubah dengan Undang-Undang nomor 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan adalah sebagai berikut :

a. 1.orang pribadi

2.warisan yang belum terbagi sebagai kesatuan menggantikan yang berhak b. Badan

c. Bentuk usaha tetap(BUT)

Menurut pasal 2 ayat 2 Undang-Undang PPh, subjek pajak penghasilan terdiri dari Subjek Pajak dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri.di dalam pasal 2 ayat 3 menyatakan bahwa yang dimaksud subjek pajak dalam negeri adalah :

a. orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;

b. badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia;

c. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.

Sedangkan pasal 2 ayat 4 Undang-Undang PPh menyatakan bahwa yang di maksud subjek pajak luar negeri adalah :

a. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia;

(4)

b. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

2.4 Kewajiban Pajak Subjektif

Pajak Penghasilan adalah jenis pajak subjektif di mana pengenaan pajaknya lebih melihat subjeknya dulu daripada objeknya. Dalam pasal 1 Undang-Undang Pajak Penghasilan, yang menyatakan bahwa “Pajak Penghasilan dikenakan terhadap subyek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak”.

Penekanannya yang pertama adalah subyek pajak, baru kemudian obyeknya yaitu penghasilan. Urutan pasal-pasal dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan juga menunjukkan bahwa Pajak Penghasilan adalah pajak subjektif.

Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk subjek pajak orang pribadi dalam negeri : dimulai pada saat orang pribadi tersebut dilahirkan, berada, atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia dan berakhir pada saat meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.

b. Untuk subjek pajak badan dalam negeri: dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia dan berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia.

c. Untuk subjek pajak luar negeri berupa BUT: dimulai pada saat orang pribadi atau badan menjalankan usaha atau melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) UU PPh dan berakhir pada saat tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap.

(5)

d. Untuk subjek pajak luar negeri non BUT: dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia dan berakhir pada saat tidak lagi menerima atau memperoleh penghasilan tersebut.

e. Untuk subjek pajak berupa warisan yang belum terbagi : dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi tersebut dan berakhir saat kewajiban subjektif pada saat warisan tersebut selesai dibagi.

2.5 Asas Pemungutan Pajak

Asas pemungutan pajak meliputi asas domisili, asas sumber, dan asas kebangsaan.

a. Asas domisili( tempat tinggal)

Asas ini mengandung pengertian bahwa Negara dimana wajib pajak tinggal berhak mengenakan pajak terhadap semua penghasilan wajib pajak. Siapa saja yang bertempat kediaman di Indonesia dikenakan pajak atas segala penghasilan yang diperolehnya di Indonesia maupun yang diperolehnnya di luar Indonesia .

b. Asas Sumber

Berdasarkan asas ini pengenaan pajak tergantung pada adanya sumber di suatu Negara. siapapun yang menerima penghasilan di Indonesia, akan dikenakan pajak oleh Negara Indonesia, baik wajib pajak yang bertempat tinggal di Indonesia maupun di luar negeri.

c. Asas Kebangsaan (nasionalited)

Asas ini menghubungkan pengenaan pajak dengan kebangsaan suatu Negara, setiap orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia diperlakukan untuk membayar pajak.

2.6 Penentuan Resident Orang Pribadi

  Alat uji yang digunakan untuk menentukan orang pribadi menjadi resident di suatu Negara antara lain adalah lamanya kehadiran orang tersebut di suatu Negara

(6)

dalam satu tahun pajak atau periode 12 bulan (misalnya selama enam bulan atau lebih atau 183 hari atau lebih), Apakah orang pribadi tersebut mempunyai rumah tetap yang tersedia baginya di Negara tersebut, dan apakah ada hubungan ekonomis atau hubungan lain dengan Negara tersebut .

2.7 Dual Resident Orang Pribadi

Ada dua kemungkinan orang pribadi dapat menjadi resident di dua Negara. Hal ini dapat terjadi apabila seseorang mempunyai tempat tinggal di suatu Negara dan ia menjadi resident di Negara tersebut karena alasan tempat tinggalnya tersebut karena alasan tempat tinggalnya itu. Dan pada saat yang bersamaan, orang pribadi tersebut berada di Negara lain selama beberapa waktu (misalnya lebih dari 183 hari ) yang mana atas keberadaannya tersebut dapat menjadikan dirinya sebagai resident di Negara lain tersebut. Kemungkinan lainnya yang mengakibatkan resident ganda adalah apabila seseorang yang merupakan warga negara di suatu Negara yang mengenakan pajak kepada warga negaranya atas dasar word wide income system, dan seseorang tersebut berada di Negara lain yang mana keberadaannya di Negara lain tersebut mengakibatkan seseorang menjadi resident di Negara lain tersebut. ((Kees van Raad,”dual residence “dalam European Taxation,agustus 1988. p. 24) dalam Hutagaol, Darusalam & Septriadi, 2007) .

Untuk menghindari adanya resident ganda tersebut, Pasal 4 (2) dari model OECD memberikan residency kepada salah satu Negara. Adapun urutan ketentuan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Orang pribadi akan dianggap sebagai resident dari suatu Negara dimana orang pribadi tersebut mempunyai rumah yang tetap (permanent home);

b. Apabila orang pribadi mempunyai rumah tetap di dua tempat maka penentuannya berdasarkan dimana pusat kepentingan pribadi atau ekonominya (center of vital interests) berada;

(7)

c. Apabila tempat pusat kepentingan pribadi atau ekonominya sama maka yang dijadikan dasar adalah dimana orang pribadi tersebut biasa berada (habitual abobe) ;

d. Apabila orang pribadi tersebut biasa ( habitual abobe) berada di kedua Negara tersebut adalah sama lamanya maka ditentukan berdasarkan kewarganegaraannya (citizenship) :

Apabila dari keempat alat uji tersebut di atas tidak dapat menentukan orang pribadi tersebut menjadi resident Negara mana maka harus diselesaikan melalui kesepakatan bersama (mutual agreement) oleh pejabat berwenang dari kedua Negara tersebut.

2.8 Penentuan Resident Orang Pribadi Untuk Singapore Orang pribadi dianggap resident di Singapore apabila :

a. Orang pribadi tersebut berada atau melakukan pekerjaan di Singapore selama 183 hari atau lebih dalam satu tahun (quantitative test); atau

b. Berdasarkan alasan yang sifatnya kualitatatif, orang pribadi yang berada di Singapore dapat dianggap sebagai resident walaupun tidak memenuhi uji waktu 183 hari (qualitative test).

Pok soy Yoong dan Damian C.F.Hong menjelaskan lebih lanjut bahwa status orang pribadi sebagai resident dapat ditentukan melalui kehadiran fisik atau melakukan pekerjaan di Singapore.contoh dari pendekatan ini adalah sebagai berikut: misalkan, Jhon William seorang warga Negara Inggris mengadakan perjanjian (kontrak) dengan salah satu perusahaan di Singapore. Dalam perjanjian tersebut, Jhon harus mulai bekerja pada tanggal 16 juni 2006. akan tetapi sebelum tiba di Singapore, Jhon menerima perintah dari Singapore untuk melakukan transaksi bisnis (untuk kepentingan perusahaan Singapore) dengan beberapa konsumen di Negara-negara Eropa. Akibatnya Jhon tidak jadi datang pada pada tanggal 16 juni, dan baru datang di Singapore pada tanggal 8 juli 2006. Berdasarkan pendekatan kehadiran fisik, Jhon tidak diaanggap menjadi resident di Singapore karena kehadirannya dalam tahun 2006 kurang dari 183

(8)

hari (8 juli 2006 sampai dengan 31 desember 2006= 176 hari). akan tetapi, berdasarkan pendekatan melakukan pekerjaan di Singapore, Jhon dapat dianggap menjadi resident Singapore karena telah memenuhi uji 183 hari ( 16 juni 2006 sampai dengan 31 desember 2006 = 198 hari ). hal ini disebabkan karena Jhon dianggap mulai bekerja dari tanggal 16 juni 2006 ( atas dasar kontrak ). Walaupun baru datang di Singapore pada tanggal 8 juli 2006.

Periode tanggal 16 juni 2006 sampai 8 juli yaitu pada saat Jhon berada di luar Singapore untuk melakukan pekerjaan bagi perusahaannya di Singapore tidak menjadi penghalang untuk menetapkan jhon menjadi resident Singapore sepanjang melakukan pekerjaan di luar Singapore bersifat insidentil (Hutagaol , Darussalam & Septriadi, 2007) .

Berdasarkan pendekatan kualitatif (qualitative test), seseorang dapat dianggap menjadi resident di Singapore dalam suatu tahun jika orang tersebut pernah tinggal di Singapore selama 12 bulan di tahun sebelumnya. dengan demikian, seseorang yang tinggal di Singapore sepanjang tahun 2006 akan dianggap sebagai resident Singapore untuk tahun 2007, Faktor yang menentukan dalam pendekatan kualitatif ini adalah niat untuk bertempat tinggal secara tetap di Singapore .

2.9 Pajak Penghasilan Untuk Singapore

Singapura adalah salah satu negara yang tingkat pajaknya rendah. Badan Pengelola Perpajakan Singapura, atau dikenal pula dengan Inland Revenue Authority of Singapore (IRAS) menyediakan berbagai kemudahan untuk mengisi atau melaporkan pendapatan / pengeluaran untuk setiap individual / perusahaan, antara lain melalui online tax portal.

Inland Revenue Authority of Singapore (IRAS) bertindak sebagai agen pemerintah dan mengelola, menilai, mengumpulkan dan memberlakukan pembayaran pajak. IRAS juga menyarankan pemerintah dan mewakili Singapura secara internasional mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perpajakan.

(9)

Seseorang dianggap penduduk non resident ketika bekerja (atau hidup) di Singapura kurang dari 183 hari per tahun. Seorang penduduk yang pendapatan kerja adalah non pajak sebesar 15% atau tingkat residen, mana yang lebih tinggi.

Pendapatan hanya berasal di Singapura akan dikenakan pajak. Penduduk non resident tidak akan dipertimbangkan untuk personal relieft.

a. Orang Asing yang bekerja di Singapura yang mempunyai employment pass akan dikenakan pajak terlepas dari waktu yang dihabiskan bekerja di singapore.

b. Orang asing yang memiliki pendapatan sewa dari properti di Singapura, biaya direktur atau semua pendapatan lain akan dikenakan pajak sebesar 20 % dari pendapatan masing-masing.

c. Orang Asing yang berada di lapangan kerja untuk jangka pendek kurang dari 60 hari per tahun kalender dibebaskan dari pajak penghasilan bagi pendapatan kerja mereka.

d. Orang Asing yang dimana tempat tinggalnya memiliki Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda dengan Singapura dibebaskan dari pajak penghasilan bagi pendapatan kerja mereka.

Sebagai tax resident, seseorang dikenakan pajak atas semua penghasilan yang diperoleh di Singapura termasuk pendapatan luar negeri yang ditransmisikan, atau dikirim dibawa ke Singapura. Ada personal relief yang diberikan di bawah Undang- Undang Pajak Penghasilan. Penghasilan tanpa personal relief dikenakan pajak pada skala lulus dari 0% - 20%.

Employment pass untuk pekerja asing diberikan apabila memenuhi syarat – syarat sebagai berikut :

a. Pendapatan bulanan berupa gaji pokok lebih dari $2500 :

b. Kualifikasi - umumnya merujuk kepada gelar atau kualifikasi pendidikan tingkat diploma. Kualifikasi teknis dapat dipertimbangkan dan, sangat luas, kursus yang melatih pemohon untuk menjadi teknisi ahli atau spesialis dalam

(10)

bidang pilihan mereka. Ini harus diperoleh setelah setidaknya 1 tahun penuh waktu studi.

c. Job type - umumnya mengacu pada pekerjaan tingkat profesional, spesialis atau teknisi, dan

d. Tahun Pengalaman Kerja - umumnya mengacu pada jumlah tahun pengalaman kerja yang relevan bahwa pemohon memiliki pekerjaan dalam yang dimohonkan.

2.10 Perlakuan Pajak Untuk Wajib Pajak Luar Negeri Dan Wajib Pajak Dalam Negeri

Perbedaan perlakuan pajak untuk Wajib Pajak Dalam Negeri dengan Wajib Pajak Luar Negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain:

a. Wajib Pajak Dalam Negeri dikenakan pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Indonesia dan dari luar Indonesia sedangkan Wajib Pajak Luar Negeri dikenakan pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan dari Indonesia;

b. Wajib Pajak Dalam Negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum, sedangkan Wajib Pajak Luar Negeri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif sepadan; 

c. Wajib Pajak Dalam Negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan sebagai sarana untuk menerapkan pajak yang terhutang dalam suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak Luar Negeri tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan, karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.  

d. Bagi wajib pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan usaha melalui bentuk usaha tetap di Indonesia serta memiliki hubungan ekonomis, pemenuhan kewajiban perpajakannya dipersamakan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam negeri sebagaimana diatur dalam

(11)

Undang-undang ini dan Undang- undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ayat 3 huruf a; 

e. WNI yang terkena kewajiban perpajakan di luar negeri tidak perlu dipermasalahkan karena pajak yang sudah dibayar /dipotong di Negara luar Indonesia bisa dikreditkan dari total pajak yang terhutang yang harus dilaporkan di Indonesia; 

f. Subjek Pajak Luar Negeri yang memiliki penghasilan di Dalam Negeri (misalnya : bengkel, kos, sewa rumah, dll.) tetap memiliki kewajiban melaporkannya dalam SPT dan melaporkan SPT Tahunan paling /lambat tanggal 31 Maret tahun berikutnya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP). 

2.11 Pajak Penghasilan Bagi Pekerja Indonesia di Luar Negeri

Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan aturan yang memberikan penegasan tentang bagaimana Perlakuan Pajak Penghasilan Bagi Pekerja Indonesia di Luar Negeri, dengan PER-2/PJ/2009 Tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Bagi Pekerja Indonesia di Luar Negeri tanggal 12 Januari 2008. Berikut ini merupakan hal- hal yang diatur dalam PER-2/PJ/2009.

a. Defenisi Pekerja lndonesia di Luar Negeri Yang dimaksud dengan Pekerja lndonesia di Luar Negeri adalah orang pribadi Warga Negara lndonesia yang bekerja di luar negeri lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.

b. Status Wajib Pajak Luar Negeri Pekerja lndonesia di Luar Negeri sebagaimana dimaksud di atas merupakan Subjek Pajak Luar Negeri.

c. Perlakuan PPh atas Penghasilan yang hanya dari Luar Negeri Atas penghasilan yang diterirna atau diperoleh Pekerja lndonesia di Luar Negeri sehubungan dengan pekerjaannya di luar negeri dan telah dikenai pajak di luar negeri, tidak dikenai Pajak Penghasilan di lndonesia.

d. Perlakuan PPh atas Penghasilan dari Luar Negeri dan Dalam Negeri Dalam hal Pekerja lndonesia di Luar Negeri menerima atau memperoleh penghasilan

(12)

dari lndonesia maka atas penghasilan tersebut dikenai Pajak Penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku.

2.12 Pengertian Norma Penghitungan Penghasilan Netto

Dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Norma Penghitungan Penghasilan Netto yaitu pedoman untuk menentukan pengahasilan netto wajib pajak, karena wajib pajak tersebut tidak wajib melakukan pembukuan.

Wajib Pajak yang boleh menggunakan norma penghitungan adalah wajib pajak orang pribadi yang memenuhi syarat-syarat berikut :

a. Peredaran bruto dalam 1 tahun tidak mencapai Rp 4.800.000.000,00.

b. Memberitahukan kepada Dirjen Pajak dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun buku.

c. Menyelenggarakan Pencatatan .

Dalam hal wajib pajak tersebut tidak menyampaikan pemberitahuan kepada Dirjen Pajak seperti tersebut di atas, dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan. Wajib Pajak tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan pencatatan atau pembukuan atau tidak memperlihatkan pencatatan atau pembukuan atau bukti- bukti pendukungnya, maka penghasilan netonya dihitung berdasarkan norma Penghitungan Penghasilan Neto atau cara lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Ketentuan peredaran bruto sebesar Rp. 4.800.000.000 berlaku sejak Undang- Undang Pajak Penghasilan No 36 diberlakukan atau sejak tahun pajak 2009.

Sebelumnya batas peredaran bruto adalah 600.000.000

2.13 Kewajiban Pencatatan

Pasal 28 Undang-Undang KUP menyatakan adanya Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban melakukan pembukuan namun Wajib melakukan Pencatatan. Penyelenggara pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/ atau penghasilan bruto sebagai

(13)

dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terhutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak final.

Pengaturan kewajiban pencatatan dengan tetap memperhatikan Pasal 28 ayat 12 yang mengatur Bentuk dan Tata Cara Pencatatan, selanjutnya dengan pengaturan Menteri keuangan Nomor 197/PMK 03/2007 telah mengatur hal tersebut yang diberlakukan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi. Pengaturan tersebut meliputi:

a. Wajib Pajak Orang Pribadi yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib menyelenggarakan pencatatan adalah:

¾ Wajib Pajak orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan penghasilan neto; dan

¾ Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan usaha atau pekerjaan bebas.

b. Pencatatan harus diselenggarakan secara teratur dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya dengan menggunakan huruf latin, angka arab, satuan mata uang rupiah,dan disusun dalam bahasa Indonesia.

c. Pencatatan dalam suatu tahun harus diselenggarakan secara kronologis.

d. Catatan dan dokumen yang menjadi dasar pencatatan harus disimpan ditempat tinggal Wajib Pajak, atau pekerjaan bebas selama 10(sepuluh) tahun.

e. Pencatatan harus dapat menggambarkan antara lain:

¾ Peredaran atau penerimaan bruto dan/ atau jumlah penghasilan bruto yang diterima dan/atau diperoleh;

¾ Penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang pajaknya bersifat final.

f. Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/ atau tempat usaha, pencatatan harus menggambarkan secara jelas masing-masing jenis usaha dan/ tempat usaha yang bersangkutan.

(14)

g. Selain kewajiban menyelenggarakan pencatatan Wajib Pajak Orang Pribadi harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.

2.14 Tarif Dan PTKP

1.Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp. 50.000.000,- 5%

Diatas Rp. 50.000.000,- sampai dengan Rp. 250.000.000,- 15%

Diatas Rp. 250.000.000,- sampai dengan Rp. 500.000.000,- 25%

Diatas Rp. 500.000.000,- 30%

Tarif Deviden 10%

Tidak memiliki NPWP (Untuk PPh Pasal 21) 20% lebih tinggi dari tarif normal

Tidak mempunyai NPWP untuk yang dipungut /potong(Untuk PPh Pasal 23)

100% lebih tinggi dari tarif normal

2. Penghasilan Tidak Kena Pajak

No Keterangan Setahun

1. Diri Wajib Pajak Orang Pribadi Rp. 15.840.000,-

2. Tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin Rp. 1.320.000,- 3. Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung

dengan penghasilan suami.

Rp. 15.840.000,-

4. Tambahan untuk setiap anggota keturunan sedarah semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang diatnggung sepenuhnya , maksimal 3 orang untuk setiap keluarga

Rp. 1.320.000,-

2.15 Pengkreditan Pajak Luar Negeri (PPh pasal 24)

Pajak Penghasilan pasal 24 merupakan pajak yang terhutang atau dibayarkan di luar negeri atas penghasilan yang di terima atau diperoleh dari luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terhutang atas seluruh penghasilan wajib pajak dalam negeri. pengkreditan pajak luar negeri tersebut dilakukan dalam

(15)

tahun pajak digabungkannya penghasilan dari luar negeri tersebut dengan penghasilan di Indonesia.

Pengkreditan pajak luar negeri dilakukan sesuai dengan ketentuan pasal 24 undang – undang nomor 17 tahun 2000 tentang perubahan ketiga atas undang- undang nomor 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan; Keputusan Menteri Keuangan Nomor 164/KMK.03/2002 tentang Kredit Pajak Luar Negeri).

2.16 Permohonan Kredit Pajak Luar Negeri

Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri, wajib pajak wajib menyampaikan permohonan kepada direktur jenderal pajak dengan melampirkan

a. Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri ; b. Fotocopi Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri;

c. Dokumen pembayaran pajak di luar negeri

Permohonan kredit pajak luar negeri tersebut harus disampaikan bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Namun, atas permohonan wajib pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian lampiran-lampiran permohonan tersebut karena alasan – alasan di luar kekuasaan wajib pajak.

2.17 Penggabungan Penghasilan

Untuk menghitung Pajak Penghasilan yang terhutang atas seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Dalam Negeri, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, maka seluruh penghasilan Wajib Pajak tersebut digabungkan.

Untuk penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai berikut

a. Pengahasilan dari usaha yang dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut.

b. Penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diterimanya penghasilan tersebut.

(16)

c. Penghasilan berupa dividen yang diperoleh wajib pajak dalam negeri atas penyertaan modal sekurang-kurangnya sebesar 50% dari jumlah saham disetor, atau secara bersama-sama dengan wajib pajak dalam negeri lainnya sekurang-kurangnya sebesar 50% dari jumlah saham yang disetor pada badan usaha di luar negeri yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek, dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan dividen tersebut.

2.18 Penentuan Sumber Penghasilan

Dalam menghitung batas jumlah pajak atas penghasilan yang dibayar atau terhutang di luar negeri yang boleh dikreditkan, perlu diperhatikan penentuan sumber penghasilan sebagai berikut:

Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya adalah Negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat kedudukan;

a. Penghasilan berupa bunga, sewa, royalty, dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah Negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga, royalty, atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada;

b. Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah Negara tempat harta tersebut terletak;

c. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan adalah Negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada;

d. Penghasilan bentuk usaha tetap adalah Negara tempat bentuk usaha tetap tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan.

Mengingat undang- undang pajak penghasilan Indonesia menganut pengertian yang luas, maka penentuan sumber penghasilan selain penghasilan sebagaimana disebut diatas menggunakan prinsip yang sama dengan prinsip diatas.

2.19 Jumlah Kredit Pajak

Jumlah kredit pajak yang diperbolehkan adalah

(17)

1. Hanya atas pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri; dan

2. Setinggi-tingginya sama dengan jumlah pajak yang dibayar atau terhutang di luar negeri, tetapi tidak boleh melebihi jumlah yang dihitung menurut perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap Penghasilan Kena pajak dikalikan dengan pajak yang terhutang atas Penghasilan kena pajak dalam hal penghasilan kena pajak, atau setinggi-tingginya sama dengan pajak yang terutang atas penghasilan kena pajak dalam hak penghasilan kena pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.

Yang dimaksud dengan pajak atas penghasilan yang terhutang di luar negeri adalah pajak atas penghasilan berkenan dengan usaha atau pekerjaan di luar negeri.

sedangkan yang dimaksud dengan pajak atas penghasilan yang dibayar di luar negeri adalah pajak atas penghasilan dari modal dan penghasilan lainnya di luar negeri misalnya bunga, dividen, dan royalti.

2.20 Pemajakan Terhadap Wajib Pajak Luar Negeri

Sistem pajak penghasilan tidak terkecuali UU PPh, pada umumnya terhadap WPLN, UU PPh mengenakan pajak penghasilan berdasarkan pertalian objektif apabila karena adanya kegiatan ekonomi (menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas / profesi) atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia. Penghasilan dari kegiatan ekonomi dikenakan pajak dengan pendekatan nisbah / ambang batas berdasar kriteria bentuk usaha tetap (permanent establishment). Sementara itu, penghasilan lainnya secara instan dikenakan pajak dengan tarif sepadan (flat rate) atas penghasilan bruto (gross basis) sepanjang sumbernya berada di Indonesia.

Undang PPh yang mengatur tentang WPLN adalah Undang –Undang PPh pasal 26 yang isinya adalah sebagai berikut:

a. Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri,

(18)

penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan:

¾ dividen;

¾ bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;

¾ royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;

¾ imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;

¾ hadiah dan penghargaan;

¾ pensiun dan pembayaran berkala lainnya;

¾ premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau

¾ keuntungan karena pembebasan utang.

b. Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dan premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri dipotong pajak 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto.

c. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

d. Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia dikenai pajak sebesar 20% (dua puluh persen), kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

e. Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (4) bersifat final,kecuali:

¾ pemotongan atas penghasilan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b dan huruf c; dan

(19)

¾ pemotongan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap.

2.21 Yang Wajib Mengisi Dan Menyampaikan SPT Tahunan Orang Pribadi Yang wajib mengisi dan menyampaikan SPT tahunan orang pribadi adalah:

a. Wajib Pajak Orang Pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan dari kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

b. Wajib Pajak Orang Pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan dari modal dan lain-lain.

c. Pegawai yang menerima penghasilan atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan yang jumlahnya telah melebihi PTKP.

d. Kuasa warisan yang belum terbagi.

e. Pejabat Negara, PNS, anggota TNI/POLRI dan pegawai BUMN/BUMD sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1986.

f. WNI yang bekerja pada Perwakilan Asing dan Perwakilan Organisasi Internasional.

g. Orang Asing yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan atau orang yang dalam satu Tahun Pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.

h. Masing - masing suami istri yang dikenakan Pajak Penghasilan secara terpisah dalam hal:

¾ Suami istri telah hidup berpisah

¾ Dikehendaki secara tertulis oleh suami istri berdasarkan perjanjian pisah harta dan penghasilan.

 

Referensi

Dokumen terkait

Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, tetapi berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (serat delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan

BUT adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus

Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan

Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan badan yang tidak

Pegawai dengan status Wajib Pajak Luar Negeri, adalah orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan

Pegawai dengan status Wajib Pajak Luar Negeri, adalah orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan yang menerima

Orang pribadi yang tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 seratus delapan puluh tiga hari dalam jangka waktu 12 dua belas bulan, atau orang pribadi

183 seratus delapan puluh tiga hari dalam jangka waktu dua belas bulan atau orang yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di