Bagian ini akan dijelaskan hasil dan pembahasan mengenai stock modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas. Stock modal sosial akan dijelaskan berdasarkan unsur-unsur modal sosial, yaitu kepercayaan, jaringan, dan norma. Menurut Putnam (1993), kepercayaan, jaringan, dan norma yang terdapat dalam suatu komunitas dianggap sebagai ‘stock’ modal sosial yang dapat memberikan kekuatan diri pada anggotanya dan secara kumulatif dapat menjadi suatu asset sosial yang dapat memfasilitasi kerjasama di masa depan. Sebelum menjelasakan stock modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas, akan dijelaskan gambaran umum taraf hidup responden dan karakteristik responden terlebih dahulu berdasarkan usia/umur, tingkat pendidikan, dan lama usaha.
Gambaran Umum Taraf Hidup Responden
Responden pada penelitian ini berjumlah 30 orang yang berfokus pada pengusaha industri kecil alas kaki yang ada di Desa Ciomas. Bagian ini akan memaparkan taraf hidup responden secara rinci yang diukur berdasarkan 9 variabel. Variabel-variabel tersebut adalah jumlah pengeluaran dan pendapatan responden selama 1 bulan, status rumah, luas lahan rumah, kepemilikan barang berharga (mobil, motor, televisi, komputer/laptop, video/DVD player, lemari es, mesin cuci), sumber air, bahan bakar untuk memasak, daya listrik, serta tempat berobat.
Biaya Pengeluaran
Biaya pengeluaran yang dimaksud mencakup untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak, dan kebutuhan lainnya selama satu bulan. Jumlah biaya pengeluaran untuk keperluan rumah tangga responden selama satu bulan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Biaya pengeluaran responden selama satu bulan
No. Biaya Pengeluaran Jumlah
Orang Persentase (%)
1. < Rp 1 000 000.00 2 6.67
2. Rp 1 000 000.00 – Rp 2 000 000.00 15 50.00
3. > Rp 2 000 000.00 13 43.33
Jumlah 30 100.00
Berdasarkan data pada Tabel 7, sebanyak 15 orang atau sebesar 50.00 persen responden mengeluarkan biaya Rp 1 000 000.00 – Rp 2 000 000.00 setiap bulannya untuk kebutuhan rumah tangga. Lainnya sebanyak 13 orang atau sebesar 43.33 persen responden mengeluarkan biaya > Rp 2 000 000.00 setiap bulan dan sebanyak 2 orang atau sebesar 6.67 persen responden mengeluarkan biaya < Rp 1 000 000.00 setiap bulannya.
Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan yang dimaksud mencakup keseluruhan pendapatan yang didapatkan oleh seluruh pihak rumah tangga selama satu bulan. Jumlah biaya pengeluaran untuk keperluan rumah tangga responden selama satu bulan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Tingkat pendapatan responden selama satu bulan
No. Tingkat Pendapatan Jumlah
Orang Persentase (%)
1. < Rp 1 000 000.00 - -
2. Rp 1 000 000.00 – Rp 2 000 000.00 15 50.00
3. > Rp 2 000 000.00 15 50.00
Jumlah 30 100.00
Berdasarkan data pada Tabel 8, sebanyak 15 orang atau sebesar 50.00 persen responden memiliki tingkat pendapatan sebesar Rp 1 000 000.00 – Rp 2 000 000.00 dan > Rp 2 000 000.00 setiap bulannya yang diperoleh dari seluruh anggota rumah tangga.
Status Rumah
Status rumah yang dimaksud adalah kepemilikian tempat tinggal responden. Status rumah responden terbagi ke dalam 2 bagian yaitu sewa (kontrak) dan milik sendiri. Status rumah responden dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Status rumah responden
No. Status Rumah Jumlah
Orang Persentase (%)
1. Sewa (kontrak) 6 20.00
2. Milik sendiri 24 80.00
Jumlah 30 100.00
Tabel 9 menjelaskan bahwa sebagian besar pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas memiliki rumah sendiri. Sebanyak 24 orang atau sebesar 80.00 persen responden memiliki status rumah yang berstatus milik sendiri. Sedangkan sebanyak 6 orang atau sebesar 20.00 persen responden memiliki status rumah yang berstatus sewa (kontrak).
Luas Lahan Rumah
Luas lahan rumah yang dimaksud adalah besarnya tempat tinggal yang responden tempati bersama keluarga. Luas lahan rumah yang dimaksud akan dilihat berdasarkan luas lahan rumah dibagi jumlah anggota keluarga sehingga dapat dihasilkan rata-rata luas lahan per orang. Secara rinci luas lahan rumah responden dijelaskan pada Tabel 10.
Tabel 10 Luas lahan rumah responden
No. Luas Lahan Rumah (m²) Jumlah Keluarga Luas Lahan Rumah (m²) per Orang 1. 135 5 27 2. 100 4 25 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 105 180 128 100 100 100 120 250 150 100 100 60 200 90 100 180 200 120 200 150 150 128 120 350 120 100 90 200 4 4 4 4 5 4 5 10 5 6 6 4 4 3 7 5 4 3 5 3 4 7 3 7 5 6 5 3 26.25 45 32 25 20 25 24 25 30 16.67 16.67 15 50 30 14.28 36 50 40 40 50 37.5 18.28 40 50 24 16.67 18 66.67
Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki kriteria untuk menentukan luas bangunan tempat tinggal yang ideal, yaitu tidak kurang dari 8 m² per orang. Tabel 10 menjelaskan bahwa seluruh responden memiliki tempat tinggal yang ideal bagi keluarganya karena dalam hasil bagi antara luas lahan rumah per jumlah keluarga tidak ada yang kurang dari 8 m² per orang.
Kepemilikan Barang Berharga
Kepemilikan barang berharga yang dimaksud adalah kepemilikan barang- barang yang dianggap memiliki harga yang relatif tinggi. Barang berharga yang dimaksud berupa mobil, motor, televisi, komputer/laptop, video/DVD player, lemari es, dan mesin cuci. Kepemilikan barang berharga tersebut akan dikumulatifkan kemudian dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu 1 – 2 buah, 3 – 5
buah, dan 6 – 7 buah. Kepemilikan barang berharga responden akan dijelaskan pada Tabel 11.
Tabel 11 Kepemilikan barang berharga responden
No. Kepemilikan Barang Berharga Jumlah
Orang Persentase (%)
1. 1 – 2 buah 7 23.33
2. 3 – 5 buah 15 50.00
3. 6 – 7 buah 8 26.67
Jumlah 30 100.00
Tabel 11 menjelaskan bahwa sebanyak 15 orang atau sebesar 50.00 persen responden memiliki barang berharga 3 – 5 buah. Sebanyak 8 atau sebesar 26.67 persen responden memiliki barang berharga 6 – 7 buah. Sisanya sebanyak 7 orang atau sebesar 23.33 persen responden memiliki barang berharga 1 -2 buah. Mayoritas barang berharga yang dimiliki oleh responden adalah motor, televisi, video/DVD player, dan kulkas.
Sumber Air
Sumber air yang dimaksud adalah sumber air yang digunakan oleh responden untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, memasak, dan minum. Sumber air tersebut terbagi ke dalah tiga golongan, yaitu PAM, sumur, dan mata air. Tabel 12 akan menjelaskan sumber air yang digunakan oleh responden secara rinci.
Tabel 12 Sumber air yang digunakan oleh responden
No. Sumber Air Jumlah
Orang Persentase (%)
1. PAM 14 46.67
2. Sumur 15 50.00
3. Mata air 1 3.33
Jumlah 30 100.00
Tabel 12 menjelaskan bahwa sebanyak 15 orang atau sebesar 50.00 persen responden menggunakan sumur sebagai sumber air yang digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan yang lainnya menggunakan PAM sebagai sumber air yang digunakan, yaitu sebanyak 14 orang atau sebesar 46.67 persen responden. Sisanya sebanyak 1 orang atau sebesar 3.33 persen responden menggunakan mata air.
Bahan Bakar untuk Memasak
Seluruh responden yaitu sebanyak 30 orang responden menggunakan gas sebagai bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari.
Daya Listrik
Daya listrik yang dimaksud adalah besarnya daya listrik yang digunakan responden untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Daya listrik tersebut terbagi ke dalam tiga golongan yaitu 450 watt, 900 watt, dan 1 200 watt. Tabel 13 akan menjelaskan besarnya penggunaan daya listrik yang digunakan oleh responden untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga.
Tabel 13 Daya listrik yang digunakan oleh responden
No. Daya Listrik Jumlah
Orang Persentase (%)
1. 450 watt 12 40.00
2. 900 watt 16 53.33
3. 1 200 watt 2 6.67
Jumlah 30 100.00
Berdasarkan Tabel 13, sebanyak 16 orang atau sebesar 53.33 persen responden menggunakan daya listrik sebesar 900 watt untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Lainnya sebanyak 12 orang atau sebesar 40.00 persen responden menggunakan daya listrik sebesar 450 watt. Sisanya sebanyak 2 orang atau sebesar 6.67 persen responden menggunakan daya listrik sebesar 1 200 watt. Tempat Berobat
Tempat berobat yang dimaksud adalah layanan kesehatan yang digunakan oleh responden untuk berobat apabila ada anggota rumah tangga yang sedang sakit. Tempat berobat tersebut terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu rumah sakit/dokter praktik, puskesmas, dan dukun/mantri. Secara rinci tempat berobat yang digunakan oleh responden akan dijelaskan pada Tabel 14.
Tabel 14 Tempat berobat yang digunakan oleh responden
No. Tempat Berobat Jumlah
Orang Persentase (%)
1. Rumah sakit/dokter praktek 24 80.00
2. Puskesmas 2 6.67
3. Dukun/mantri 4 13.33
Jumlah 30 100.00
Tabel 14 menunjukkan bahwa sebanyak 24 orang atau sebesar 80.00 persen responden menggunakan rumah sakit/dokter praktik sebagai tempat berobat apabila ada anggota rumah tangga yang sakit. Sebanyak 4 orang atau 13.33 persen responden menggunakan dukun/mantri sebagai tempat berobat dan sebanyak 2 orang atau sebesar 13.33 persen responden menggunakan puskesmas sebagai tempat berobat.
Karakteristik Responden Usia/Umur
Pengelompokkan usia/umur responden yang dalam hal ini adalah usia/umur pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas dibagi menjadi empat
kelompok yakni kelompok umur 29-38 tahun, kelompok umur 39-48 tahun, kelompok umur 49-58 tahun, dan kelompok umur ≥ 59 tahun. Pengelompokan tersebut ditentukan berdasarkan pada data primer di lapangan yang menunjukkan bahwa umur pengusaha yang bekerja sebagai industri kecil alas kaki beragam mulai dari 29 hingga ≥ 59 tahun atau dengan kata lain pengelompokan tersebut didasarkan pada umur terkecil dan terbesar dari responden. Klasifikasi responden berdasarkan umur tersaji dalam Tabel 15.
Tabel 15 Jumlah dan persentase responden menurut kelompok umur di Desa Ciomas Tahun 2013
No. Kelompok Umur Jumlah
Orang Persentase (%) 1. 29-38 tahun 13 32.50 2. 39-48 tahun 10 25.00 3. 49-58 tahun 5 12.50 4. ≥ 59 tahun 2 5.00 Total 30 100.00
Hasil di Tabel 15 menunjukkan sebanyak 32.5 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 13 orang tergolong dalam kelompok umur 29-38 tahun lalu sebesar 25 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 10 orang tergolong dalam kelompok umur 39-48 tahun lalu sebesar 12.5 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 5 orang tergolong dalam kelompok umur 49-58 tahun dan yang terakhir sebesar 5 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 2 orang tergolong dalam kelompok umur ≥ 59 tahun.
Umur minimal responden yang menjadi sampel penelitian ini adalah 29 tahun sedangkan umur maksimal responden yang menjadi sampel penelitian ini adalah ≥ 59 tahun. Penyebaran umur responden dalam penelitian ini tidak seimbang yakni satu kelompok umur tertentu memiliki persentase yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok lain.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan responden yang dimaksud dalam penelitian ini diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti. Kategori tingkat pendidikan responden di Desa Ciomas terbagi menjadi empat kelompok, yaitu tidak sekolah/tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, dan tamat SMA. Data lengkap tentang tentang tingkat pendidikan responden disajikan dalam Tabel 16.
Tabel 16 menunjukkan bahwa mayoritas responden yang berprofesi sebagai pengusaha industri kecil alas kaki adalah mereka yang menempuh tingkat pendidikan rata-rata hingga tamat SD yakni sebanyak 13 orang responden dengan presentase sebesar 32.5 persen lalu terdapat 8 orang responden dengan presentase sebesar 20 persen dapat menempuh pendidikan sampai pada tahap tamat SMP. Sebanyak 7 orang responden dengan presentase sebesar 17.5 persen dapat menempuh pendidikan sampai pada tamat SMA dan sebanyak 2 orang responden dengan presentase sebesar 5 persen tidak sekolah/tidak tamat SD.
Tabel 16 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat pendidikan di Desa Ciomas Tahun 2013
No. Tingkat Pendidikan Jumlah
Orang Persentase (%)
1. Tidak sekolah/tidak tamat SD 2 5.00
2. Tamat SD 13 32.50
3. Tamat SMP 8 20.00
4. Tamat SMA 7 17.50
Total 30 100.00
Profesi sebagai pengusaha industri kecil alas kaki tidak memandang pendidikan formal sebagai faktor penentu dalam menjalankan usaha.Industri berskala kecil pada dasarnya adalah usaha yang bersifat mandiri dan non formal artinya usaha tersebut tidak memandang ijazah pendidikan formal sebagai suatu hal yang sangat penting. Industri kecil alas kaki hanya membutuhkan keterampilan dalam menjalankan usaha dan hal tersebut jarang ditemukan dalam pendidikan formal karena keterampilan dalam menjalankan usaha ditentukan oleh pengalaman pengusaha tersebut dalam menjalankan usahanya.Selain itu, industri kecil lingkup pelaksanaannya hanya sebatas keluarga atau pun orang-orang terdekat karena usaha ini memiliki skala yang kecil sehingga tidak membutuhkan jumlah pekerja yang banyak. Oleh karena itu, industri kecil alas kaki tersebut bersifat mandiri dalam hal pelaksanaan usahanya.
Lama Usaha
Industri kecil alas kaki di Kecamatan Ciomas sudah ada sejak tahun 1920- an. Industri tersebut terus berkembang hingga sekarang sehingga terdapat industri yang sudah lama berdiri dan baru saja berdiri. Meskipun begitu, industri kecil alas kaki yang baru berdiri telah mampu bersaing dengan pengusaha industri yang sudah lama berdiri.
Berkaitan dengan hal tersebut, pengelompokkan lama usaha responden yang dalam hal ini adalah pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas dibagi menjadi empat kelompok yakni lama usaha 1-10 tahun, 11-20 tahun, 21-30 tahun, dan ≥ 31 tahun. Pengelompokan tersebut ditentukan berdasarkan pada data primer di lapangan yang menunjukkan bahwa lama usaha pengusaha yang bekerja sebagai industri kecil alas kaki beragam mulai dari 1 hingga ≥ 31 tahun atau dengan kata lain pengelompokan tersebut didasarkan pada lama usaha terkecil dan terbesar dari responden. Klasifikasi responden berdasarkan lama usaha tersaji dalam Tabel 17.
Hasil di Tabel 17 menunjukkan sebesar 33.33 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 10 orang tergolong dalam kelompok lama usaha 1-5 tahun lalu sebesar 30.00 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 9 orang tergolong dalam kelompok lama usaha 6-10 tahun lalu sebesar 16.67 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 5 orang tergolong dalam kelompok lama usaha 11-15 tahun lalu sebesar 6.67 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 2 orang tergolong dalam kelompok usaha 21-25 tahun dan 31-35 tahun, serta yang terakhir sebesar 3.33 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 1 orang tergolong dalam kelompok lama usaha 16-20 tahun dan 26-30 tahun.
Tabel 17 Jumlah dan persentase responden menurut lama usaha di Desa Ciomas Tahun 2013
No. Lama Usaha Jumlah
Orang Persentase (%) 1. 1-5 tahun 10 33.33 2. 6-10 tahun 9 30.00 3. 11-15 tahun 5 16.67 4. 16-20 tahun 1 3.33 5. 21-25 tahun 2 6.67 6. 26-30 tahun 1 3.33 7. 31-35 tahun 2 6.67 Total 30 100.00
Lama usaha minimal responden yang menjadi sampel penelitian ini adalah 1 tahun sedangkan lama usaha maksimal responden yang menjadi sampel penelitian ini adalah 33 tahun. Meskipun penyebaran lama usaha responden dalam penelitian ini tidak seimbang yakni satu kelompok lama usaha tertentu memiliki persentase yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok lain, namun kelompok lama usaha yang tergolong baru berdiri mampu bersaing dengan kelompok lama usaha yang telah lama berdiri. Responden dengan kelompok lama usaha yang baru berdiri yaitu 1-5 tahun memiliki jumlah yang paling banyak sebesar 33.33 persen.
Rata-rata dari semua responden yang diwawancarai tidak menetapkan jam kerja. Hal tersebut tergantung pada kinerja para pekerja dan jumlah pesanan dari toko. Pada hari-hari biasa kegiatan produksi dilakukan pada pagi hari pukul 07.00 WIB sampai dengan sore hari pukul 17.00 WIB kemuadian dilanjutkan kembali setelah adzan Isya sekitar pukul 19.30 sampai pukul 23.00 WIB. Apabila sedang ramai dan banyak pesanan, jam kerja dapat bertambah hingga dini hari pukul 02.00 WIB bahkan dapat menghabiskan waktu 24 jam. Jumlah hari kerja para pengrajin industri kecil alas kaki biasanya pada hari Senin hingga Sabtu. Pada hari Sabtu jam kerja hanya setengah hari yaitu sampai pukul 16.00-17.00 WIB, sedangkan pada hari Minggu tidak ada jam kerja.
Stock Modal Sosial Pengusaha Industri Kecil
Modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas dalam penelitian ini dilihat dari ketiga unsur modal sosial, yaitu kepercayaan, jaringan, dan norma. Coleman (1999) menyatakan bahwa modal sosial (social capital) dapat didefinisikan sebagai kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama, demi mencapai tujuan-tujuan bersama, di dalam berbagai kelompok dan organisasi. Pengukuran stock modal sosial bertujuan untuk mengetahui keadaan modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas. Menurut Putnam (1993), kepercayaan, jaringan, dan norma yang terdapat dalam suatu komunitas dianggap sebagai ‘stock’ modal sosial yang dapat memberikan kekuatan diri pada anggotanya dan secara kumulatif dapat menjadi suatu asset sosial yang dapat memfasilitasi kerjasama di masa depan.
Penelitian ini mengukur modal sosial dengan menggunakan kuesioner yang ditanyakan secara langsung oleh peneliti kepada responden. Pertanyaan kuesioner
dibuat untuk mengidentifikasi unsur-unsur modal sosial meliputi kepercayaan, jaringan, dan norma (Putnam 1993). Stock modal sosial pengusaha indutri kecil alas kaki di Desa Ciomas kemudian dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu stock modal sosial tinggi, sedang, dan rendah. Pengelompokkan berdasarkan ketiga kategori tersebut disajikan dalam Tabel 18.
Tabel 18 Stock dan presentase modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas
No. Stock Modal Sosial Jumlah
Orang Persentase (%)
1. Tinggi (skor 80-91) 3 10.00
2. Sedang (skor 69-79) 21 70.00
3. Rendah (skor 57-68) 6 20.00
Total 30 100.00
Hasil dari Tabel 18 menunjukkan bahwa secara keseluruhan stock modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas termasuk dalam kategori sedang dengan persentase 80 persen responden sebanyak 24 orang. Sebanyak 4 orang sebesar 13.33 persen responden menyatakan rendah dan sebanyak 2 orang sebesar 6.67 persen responden menyatakan tinggi.
Stock modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas menentukan kekuatan kerjasama yang terjalin diantara pengusaha-pengusaha dalam mencapai keberhasilan usaha mereka. Fukuyama (1995) menyatakan bahwa modal sosial dapat bersifat ekslusif (hanya berlaku untuk keluarga atau kelompoknya saja), atau bersifat inklusif (berlaku bagi kelompok lain yang lebih luas) juga berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas bersifat ekslusif yang hanya terbatas pada lingkup yang sempit yaitu keluarga, kerabat, tetangga, dan kelompoknya saja. Modal sosial tidak berjalan pada secara inklusif, sehingga tidak berfungsi untuk menciptakan kerjasama yang baik dalam seluruh komunitas pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas. Hal ini terlihat dengan tidak adanya paguyuban atau organisasi yang mengelola industri kecil alas kaki di Desa Ciomas, sehingga para pengusaha hanya mengelola masing-masing sesuai dengan kemampuannya.
Stock modal sosial pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas yang tergolong dalam kategori sedang seharusnya dapat dimanfaatkan. Kepercayaan, jaringan, dan norma yang sudah terjalin dapat dikerahkan dan dimanfaatkan sebagai penggerak untuk membentuk sebuah paguyuban atau organisasi sosial untuk mengelola industri tersebut. Paguyuban atau organisasi sosial yang kemudian digerakkan oleh modal sosial tersebut akan menjadi wadah bagi para pengusaha untuk bersosialisasi, memperkuat hubungan personal satu sama lain, memperluas jaringan karena dapat menambah teman, dan dapat berfungsi sebagai wadah untuk menampung aspirasi, keinginan, dan harapan mengenai sesuatu hal tertentu. Modal sosial yang tinggi akan menguatkan wadah tersebut menjadi ruang aspirasi dalam mencapai keberhasilan usaha yang baik.
Kepercayaan
Fukuyama (2007) menyatakan bahwa kunci dari modal sosial adalah trust atau kepercayaan. Kepercayaan mampu memfasilitasi orang-orang untuk bisa bekerjasama dengan baik karena ada kesediaan diantara mereka untuk menempatkan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi. Adanya rasa saling percaya antara individu ataupun kelompok, hubungan sosial yang terjalin akan berlangsung dengan baik sehingga permasalahan-permasalahan sosial yang ditandai dengan munculnya krisis kepercayaan seperti rasa saling curiga akan semakin menghilang. Selain itu, dengan adanya rasa saling percaya, tidak dibutuhkan aktivitas pengawasan terhadap perilaku orang lain agar orang tersebut berperilaku sesuai dengan keinginan kita.
Menurut Lawang (2004) kepercayaan merupakan hubungan antara dua belah pihak atau lebih yang mengandung harapan yang menguntungkan salah satu pihak atau kedua belah pihak melalui interaksi sosial. Damsar (2011) menjelaskan bahwa kepercayaan memperbesar kemampuan manusia untuk bekerjasama. Kerjasama tidak mungkin terjalin kalau tidak didasarkan atas adanya saling percaya diantara sesama pihak yang terlibat. Kepercayaan dapat meningkatkan toleransi terhadap adanya ketidakpastian. Oleh karena itu, rasa percaya akan mempermudah terbentuknya kerjasama. Kepercayaan bagaikan sebuah energi yang dapat membuat kelompok masyarakat atau organisasi dapat bertahan. Semakin kuat rasa percaya kepada orang lain maka akan semakin kuat juga kerjasama yang terjalin antara mereka. Sebaliknya, kepercayaan yang rendah mengakibatkan banyak energi tebuang karena dipergunakan untuk mengatasi konflik yang berkepanjangan.
Bagi para pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas keberadaan rasa saling percaya merupakan modal yang berperan dalam mengelola industri yang telah didirikan. Rasa percaya mampu memperlancar proses kerja dan dapat memaksimalkan produksi. Data lengkap mengenai tingkat kepercayaan pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19 Tingkat dan persentase kepercayaan pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas
No. Tingkat Kepercayaan Jumlah
Orang Persentase (%)
1. Tinggi (skor 34-36) 3 10.00
2. Sedang (skor 30-33) 22 73.33
3. Rendah (skor 27-29) 5 16.70
Total 30 100.00
Hasil di Tabel 19 menunjukkan bahwa sebesar 73.33 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 22 orang tergolong dalam tingkat kepercayaan sedang, lalu sebesar 16.70 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 5 orang tergolong dalam tingkat kepercayaan tinggi dan yang terakhir sebesar 16.70 persen responden dengan jumlah orang sebanyak 3 orang tergolong dalam tingkat kepercayaan rendah. Secara keseluruhan tingkat kepercayaan yang ada pada pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas tergolong kategori sedang.
Kepercayaan pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas cukup baik. Mereka memiliki keeratan serta kekerabatan antara pengusaha dengan para pekerja sehingga dapat membantu proses pembuatan alas kaki. Kondisi kepercayaan antara pengusaha industri kecil dengan pengusaha industri kecil lainnya dapat dikatakan kurang baik. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar responden yang berpandangan bahwa pengusaha lain tidak mampu bersaing secara sehat, contohnya terdapat kecurangan dalam hal meniru model alas kaki dan saling menjatuhkan harga di pasaran.
Seluruh pengusaha industri kecil alas kaki di Desa Ciomas memiliki kepercayaan yang dapat dikatakan tinggi terhadap pekerjanya. Banyak dari responden yang mengatakan bahwa sebagian besar atau beberapa keluarga mereka serta kerabat yang tinggal dalam satu wilayah yang sama menjadi pekerja dalam industri alas kaki yang telah didirikan. Rasa percaya diantaranya sudah tidak diragukan lagi karena mereka telah memiliki hubungan yang erat sehingga rasa percaya yang terbangun semakin kuat hingga saat ini. Jenis modal sosial tersebut dapat dikatakan sebagai modal sosial yang mengikat (bonding) seperti yang diungkapkan oleh Putnam (2000). Terlihat dari hubungan kekerabatan yang kental antara pengusaha dengan para pekerjanya. Fakta tersebut didukung oleh pernyataan responden berikut ini.
“kami disini sama-sama saling membutuhkan dan hidup dari hasil kerja industri alas kaki disini, klo untuk saling percaya sih sudah pasti soalnya