• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Cak Man dalam mengembangkan usahanya

Dalam dokumen ANALISIS SWOT PADA USAHA WARALABA Studi (Halaman 86-99)

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

B. Strategi Cak Man dalam mengembangkan usahanya

Strategi yang digunakan Cak Man dalam berbisnis yaitu mendirikan usaha bakso dengan sistem waralaba (franchise), karena dengan menggunakan sistem tersebut resiko yang ada jauh lebih kecil daripada menggunakan sistem yang lainnya selain itu dalam berusaha, seorang wirausaha harus mempunyai sifat selalu semangat, ulet, tak pernah penyerah dan dapat membaca peluang yang ada, itulah yang menjadikan Cak Man sukses.

Keberhasilan Bakso Kota Cak Man dalam berbisnis dalam hal pelayanana konsumen dan kualitas produk yang ditawarkan menyebabkan Bakso Kota Cak Man terus mengalami peningkatan.

Namun demikian, untuk memperoleh pangsa pasar yang lebih besar, Bakso Kota Cak Man dapat melakukan cara memperbanyak jenis variasi produk bakso dan membuka beberapa outlet ke wilayah-wilayah potensial lainnya secara intensif.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, saat ini Bakso Kota Cak Man sedang dalam masa pertumbuhan. Untuk itulah harus mengembangkan jadwal rencana baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Rencana strategis Bakso Kota Cak Man dalam jangka pendek adalah: a. Pengadaan program-program promosi dan agresif dalam beriklan yang

dapat meningkatkan penjualan, seperti promo diskon ketika mengadakan pesta atau jamuan.

b. Mempertahankan kualitas rasa dan bahan produk ke semua outlet franchisee dengan melakukan pengontrolan periodik.

c. Membentuk tim khusus pengontrol dan penilai agar kualitas mutu rasa maupun barang sama di setiap cabang maupun outlet franchisee. d. Selalu continue dalam meningkatkan program pengembangan sumber

daya manusia, karena hal itu merupakan hal yang terpenting untuk pencapaian rencana strategis.

e. Membina hubungan yang baik dengan pemasok.

Sedangkan untuk rencana strategis dalam jangka panjang adalah:

a. Continue dalam melakukan riset dan pengembangan variasi produk agar tidak ketinggalan dari pesaing.

b. Memahami serta memantau perkembangan, kebutuhan serta kecenderungan perilaku konsumen.

c. Terus-menerus membina hubungan kerjasama yang baik dengan franchisee, pemasok dan konsumen sehingga dapat menciptakan

72

sinergi dalam menghadapi pesaing-pesaing yang ada maupun pesaing yang akan muncul.

d. Melakukan survey atau ekspansi ke wilayah lain yang sedang berkembang di dalam memperluas jaringan pemasaran.

Sekarang kita tengok bisnis waralaba “Bakso Kota Cak Man”. Apabila kita melihat potensi pasar, maka dalam dunia atau pasar bakso, terutama jenis bakso malang, nama merk dagang “Bakso Kota Cak Man” tidak perlu diragukan lagi. Sampai sejauh ini, “Bakso Kota Cak Man” merupakan satu-satunya pemegang merk dagang bakso malang yang telah melakukan usaha bisnis waralaba (franchising) dan dianggap telah berhasil. Buktinya, dalam kurun waktu sekitar dua tahun sejak diwaralabakan ternyata telah dibuka lebih dari 60 outlet baru, sehingga kondisi ini membuat brand name dan brand equity semakin tinggi tidak hanya di pasar lokal Kota Malang Raya, akan tetapi sudah secara Nasional. Dapat dikatakan bahwa resiko usaha penjualan bakso dengan merk dagang “Bakso Kota Cak Man” adalah relatif kecil karena pasar telah mengenal bagaimana kualitas, rasa, kebersihan, pelayanan, dan harga produk yang ditawarkan. Di samping itu, berbeda dengan makanan lainnya, bakso dapat dinikmati oleh siapa saja (tua, muda dan anak-anak), kapan saja (pagi, siang, sore dan malam), suasana apa saja (rekreasi, pesta atau kebutuhan makan sehari-hari pengganti nasi), dan dimana saja (bisa dikemas untuk dimakan di tempat yang dikehendaki).

Dengan demikian, resiko usaha yang dihadapi dalam bisnis penjualan dalam format sebagai franchisee merk dagang “Bakso Kota Cak Man” adalah hanyalah berupa kondisi force majeure yaitu hal-hal yang terjadi di luar

kekuasaan manusia yaitu berupa bencana alam, huru-hara, kebakaran, terjadinya peperangan atau pergolakan politik, perampokan dan lain sebagainya. Sudah barang tentu kondisi force majeure ini akan dihadapi oleh siapapun dalam menjalankan kegiatan usaha apapun. Sekali lagi dapat disimpulkan, bahwa resiko ekonomis usaha penjualan suatu produk dalam format waralaba (franchising) ini adalah sangat kecil. Di samping itu, perikatan kerjasama antara franchisor dan franchisee dibuat berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, antara lain Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 1997 dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan tgl. 29 Maret 2006 No.12/M-DAG/PER/3/2006 dihadapan seorang notaris, sehingga dapat dijamin kepastian hukumnya.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan pada bab terdahulu, maka dapat

dikemukakan pokok-pokok kesimpulan sebagai berikut:

1. Bahwa pada saat ini usaha Bakso Kota Cak Man dalam masa pertumbuhan

dan menurut analisis SWOT ada empat faktor yang dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan oleh Cak Man saat ini dan empat faktor yang dimiliki oleh Bakso Kota Cak Man meliputi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman itu dapat menjadi senjata bagi kemajuan perusahaan tersebut.

2. Melihat potensi pasar, produk bakso bukanlah hal yang asing bahkan

sangat digemari oleh semua kalangan dan walaupun bakso sudah marak di Kota Malang ini namun Cak Man dengan sistem franchisenya mampu bersaing dan telah berhasil dengan dibuktikan dalam kurun waktu dua tahun telah dibuka 60 outlet diseluruh Indonesia.

3. Dan Cak Man mampu membaca peluang yakni memaksimalkan kekuatan

yang ada diperusahaan dengan menggunakan sistem waralaba yang terbukti mampu bertahan dalam krisis ekonomi dan memilih makanan yang sangat digemari bukan saja masyarakat yang ada di Malang melainkan seluruh masyarakat di Indonesia sehingga permintaan untuk menjadi mitra kerja Bakso Kota Cak Man semakin banyak.

B. Saran

Dalam penelitian ini perlu kiranya disampaikan beberapa saran yang mungkin dapat berguna bagi pihak Bakso Kota Cak Man maupun bagi pihak-pihak yang memerlukannya yaitu:

1. Tetap menjaga kualitas rasa dan kandungan produk bakso yang dihasilkan,

meningkatkan kemampuan sumber daya manusia untuk pencapaian rencana strategi serta penambahan pelayanan fasilitas yaitu pesan antar (delivery).

2. Dapat menetapkan harga murah dengan diferensiasi harga yaitu

menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada konsumennya dalam hal ini persepsi terhadap keunggulan kualitas produk, mempertahankan kehalalan produk, inovasi produk, dan pelayanan yang lebih baik serta brand image yang lebih unggul dibandingkan dengan pesaing.

DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari. 2006. kewirausahaan Untuk Mahasiswa dan Umum. Bandung: Alfabeta.

Badudu – Zain. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Intergrafika

Budi Suseno, Darmawan. 2006. Waralaba Bisnis Minim Resiko Maksim Di Laba. Yogyakarta: Pilar Media.

Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang. 2006. Pedoman Penulisan Skripsi.

Husein Umar. 2005. Strategic Management In Action. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Lexi J. Moleong. 2004. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Mancuso, Joseph & Boroin, Donald. 2006. Peluang Sukses Bisnis Waralaba Bagaimana Membeli & Mengelola Bisnis Waralaba. Yogyakarta: Dolphin Books.

Mulyana, Deddy. 2004. Metode penelitian kualitatif paradigma baru ilmu komunikasi dan ilmu social lainnya. Bandung: PT. ROSDAKARYA

Nana Syaodih S. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Pearce. Robinson.1997. Manajemen Stratejik Formulasi, Implementasi, dan Pengendalian Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara,

Sarosa, Pietra. 2006. Kiat Praktis Membuka Usaha Mewaralabakan Usaha Anda. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi, Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek

Jakarta: Rineka Cipta.

Soehardja, Jusak. 2007. Orang Indonesia Itu Sensitif Harga. Majalah Info Franchise Indonesia: Edisi 04 tanggal 10 April-09 Mei.

Stephen P. Robbins and Marry Coulter. 1999. Management, Sixth Edition, terj., T. Hermaya. Jakarta: PT Prenhallindo

S. Nasution. 1991. Metode Research. Bandung: Jammars.

Tim Blessing. 2007. Himpunan Undang-undang & Peraturan tentang Waralaba, Direct Selling, UKM. Blessing.

Zainal Abidin, klinik bisnis. http: // republika. co.id/, diakses 27 Desember 2005.

LAMPIRAN A

1. Alat masak untuk memproduksi bakso dan variannya :

Kompor gas dan tabungnya, Penggorengan (wajan), Dandang Kuah, Tampah,

Blender, Saringan, Sendok bakso, Pisau, Serok, Sutil, Irus, Kipas angin, Dandang,

Telenan, Freezer, Rak peralatan dapur.

2. Alat di gerai penjualan

Cash register, meja layanan (untuk menempatkan dandang dan etalase), dandang

saji, meja makan, kursi makan, etalase (display bagi semua produk bakso dan

variannya)/booth, mangkuk, sendok dan garpu, tatakan kecil, kipas angin,

meja-kursi kasir, jepit makanan, gunting, toples seledri & toples bawang goreng,

tempat sambel dan saos, tempat tissue, tempat tusuk gigi, wastafel, kompor gas

beserta tabungnya, nampan, gelas saji, sedotan, tempat mangkuk, lemari dingin

untuk minuman kemasan/botol (bisa kerja sama dengan perusahaan minuman

kemasan botol seperti : coca cola, teh-botol sosro), tempat garam, papan untuk

menuliskan daftar menu, fotokopi/salinan sertifikat halal dalam suatu figura,

tempat sabun tangan, tempat sabun cuci mangkuk, sendok-garpu, dan perangkat

lainnya.

3. Peralatan operator/pegawai/pramusaji

Seragam kerja pegawai, topi, celemek, papan nama / tanda pengenal, serbet/kain

lap, sprayer pembersih meja/kaca, dan sarung-tangan karet.

Brosur/poster, Spanduk/banner, Umbul-umbul, Siaran radio/Koran atau media

lain.

5. Paket bumbu dan bahan pendukung

(Volumenya akan ditentukan dan diatur kemudian oleh pihak franchisor)

Bumbu Kuah, Bumbu Bakso, Bumbu Sambal, Saos Malang, Kecap, Garam, Saos

sambal, Kardus bumbu, Kantong plastik & Karet, Kantong plastik sambal &

Saos, Kresek.

Questioner

1. Bagaimana sejarah berdirinya Bakso Kota Cak Man?

2. Apa visi misi Bakso Kota Cak Man?

3. Apa tujuan Bakso Kota Cak Man?

4. Kapan tujuan tersebut harus dicapai?

5. Bagaimana posisi produk yang harus dicapai?

6. Bagaimana posisi harga yang ditawarkan?

7. Bagaimana kondisi persaingan yang ada?

8. Bagaimana keahlian manajemen yang dimiliki?

9. Siapa pemain yang paling kuat dalam usaha bakso?

10.Bagaimana struktur organisasi yang dimiliki?

11.Bagaimana perencanaan, pengendalian, dan sistem yang dimiliki?

12.Bagaimana mengenai keahlian sumber daya manusia?

13.Bagaimana dengan gaya manajemen?

14.Bagaimana peluang yang ada?

15.Bagaimana kekuatan yang dimiliki?

16.Bagaimana dengan masalah yang dihadapi?

1. Bagaimana sejarah berdirinya Bakso Kota Cak Man?

2. Bagaimana mengenai keahlian SDA yang ada?

3. Bagaimana posisi pasar berdasarkan produk?

4. Bagaimana posisi pasar berdasarkan harga?

Faktor Eksternal Opportunity Treats

1. Bagaimana kondisi persaingan yang ada?

2. Bagaimana keahlian manajemen yang dimiliki?

3. Bagaimana perencanaan, pengendalian, dan sistem yang dimiliki?

Dalam dokumen ANALISIS SWOT PADA USAHA WARALABA Studi (Halaman 86-99)

Dokumen terkait