DALAM MSDM
HAL-HAL YANG AKAN DITERANGKAN
PENGERTIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
DEFINISI DAN PRINSIP HUBUNGAN INDUSTRIAL
RUANG LINGKUP HUBUNGAN INDUSTRIAL SARANA DALAM HUBUNGAN INDUSTRIAL PENDEKATAN STUDI HUBUNGAN
INDUSTRIAL
PERSELISIHAN INDUSTRIAL
KAJIAN FAKTOR PENYEBAB PERSELISIHAN INDUSTRIAL
PENYELESAIAN PERSELISIHAN INDUSTRIAL SECARA HUKUM
STRATEGI MENGELOLA HUBUNGAN INDUSTRIAL DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN SDM.
157
PENGERTIAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
Tuntutan modernisasi dan globalisasi memaksa setiap elemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Tak terkecuali dalam dunia industri. Penyesuaian yang dilakukan akan berdampak pada pihak-pihak yang berkepentingan. Di sinilah hubungan industrial memegang peranan penting dalam menjaga kepentingan pihak-pihak tersebut.Hubungan industrial adalah hubungan antara semua pihak yang berkepentingan (stake holders) atau pihak yang saling terkait atas proses produksi dan pelayanan jasa pada suatu perusahaan.
Hubungan industrial berawal dari adanya hubungan kerja yang lebih bersifat individual antara pekerja dan pengusaha. Pengaturan hak dan kewajiban pekerja diatur melalui perjanjian kerja yang bersifat perorangan. Perjanjian kerja ini dilakukan pada saat penerimaan pekerja, antara lain memuat ketentuan mengenai waktu pengangkatan, persoalan masa percobaaan, jabatan yang bersangkutan, gaji (upah), fasilitas yang tersedia, tanggungjawab, uraian tugas, dan penempatan kerja.
Hubungan industrial melibatkan sejumlah konsep, seperti konsep keadilan dan kesamaan, kekuatan dan kewenangan, individualisme dan kolektivitas, hak dan kewajiban, serta integritas dan kepercayaan. Di tingkat perusahaan, pekerja dan pengusaha adalah dua pelaku utama dalam kegiatan hubungan industrial yang mempunyai hak yang sama dan sah untuk melindungi hal-hal yang dianggap sebagai kepentingannya masing-masing. Di satu sisi, pekerja dan pengusaha mempunyai
158
kepentingan yang sama, yaitu kelangsungan hidup pekerja dan kemajuan perusahan, tetapi di sisi lain hubungan antar keduanya juga mempunyai potensi konflik.
Sementara itu, fungsi utama pemerintah dalam hubungan industrial adalah menyusun peraturan dan perundangan ketenagakerjaan agar hubungan antara pekerja dan pengusaha berjalan harmonis, dengan dilandasi oleh pengaturan hak dan kewajiban yang adil. Pemerintah juga berkewajiban untuk menyelesaikan secara adil perselisihan atau konflik yang terjadi. Kepentingan pemerintah pada dasarnya adalah menjamin keberlangsungan produksi demi kepentingan yang lebih luas.Tujuan akhir pengaturan hubungan industrial sebenarnya adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja maupun pengusaha, serta kestabilan ekonomi bangsa secara lebih luas lagi.
Tujuan ini saling berkaitan, tidak terpisah, bahkan saling mempengaruhi. Namun pengusaha, pekerja dan pemerintah tidak sesederhana itu. Potensi konflik sangat besar. Banyak pihak menyoroti berbagai permasalahan konflik atau perselisihan hubungan industrial baik pada tingkat ringan hingga kompleks. Terlebih selama reformasi di Indonesia mulai bergulir, gerakan serikat pekerja (union) baik berbentuk federasi, tingkat nasional maupun tingkat perusahaan sendiri, terlihat lebih mencolok. Pekerja terus menuntut, pengusaha terus berdalih, pemerintah terus mengubah peraturan-peraturan namun tidak menyelesaikan masalah. Konflik pekerja dengan pengusaha, atau dengan pemerintah, berkisar antara permasalahan kebijakan mengenai outsourcing,
159
penggajian, jaminan sosial, pemutusan hubungan kerja (PHK), jam kerja, keselamatan kerja serta permasalahan ketenagakerjaan lainnya.Situasi ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini, persaingan untuk menarik investor dengan beberapa negara lain menjadi sangat ketat, masing-masing negara berusaha keras untuk menawarkan iklim investasi yang kondusif dan kompetitif. Para pengusaha pun dalam menjalankan usahanya tidak mau dirugikan dengan berbagai biaya yang telah mereka keluarkan.
Salah satu cara yang dilakukan adalah memindahkan biaya produksi tersebut pada pekerja. Bagi pengusaha, upah pekerja merupakan biaya produksi yang paling lentur, sehingga jauh lebih mudah menekan upah daripada harus berhadapan dengan kekuatan birokrasi dan pasar. Cara lain dengan outsourcing, bahkan pemutusan hubungan kerja. Hal ini tentu menyebabkan tekanan bagi pihak pekerja. Sebagai konsekuensinya konflik pun tidak pernah terelakkan.
Sampai saat ini pun masalah-masalah yang dihadapi buruh dan pengusaha masih saja belum terselesaikan. Demonstrasi ribuan buruh beberapa industri atau perusahaan di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya pada beberapa waktu terakhir ini merupakan suatu contoh bahwa perselisihan perburuhan sampai sekarang cenderung menimbulkan ketakutan di kalangan pengusaha daripada menemukan solusi yang menguntungkan dua belah pihak.
160
Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, hubungan industrial seperti tersebut di atas, dapat dilihat dari paradigma yag lebih luas. Jika dalam paradigma lama, topik yang dibahas dalam hubungan industrial adalah posisi tawar-menawar kolektif (collective bargain), serikat pekerja, dan pemogokan. Paradigma baru merupakan model manajemen baru yang berisi beberapa pekerjaan dan inovasi manajemen sumber daya manusia yang meliputi penugasan kerja fleksibel, cross training,
team work, yang didukung oleh sistem kompensasi
berbasis kinerja, partisipasi karyawan formal, dan program keselamatan kerja.
Menurut studi hubungan antar karyawan (human
relations), meskipun karyawan dan pengusaha berada
dalam konflik namun konflik tersebut dapat dihilangkan jika manajer dapat mengadopsi kebijakan dan praktik yang tepat. Kuncinya adalah sistem komunikasi yang lebih baik, desain pekerjaan yang lebih humanistik, dan proses pengambilan keputusan yang lebih partisipatif. Paradigma baru dan paradigma lama tidak perlu diperdebatkan, namun lebih ditekankan pada praktik di tempat kerja dan pengaruhnya pada hasil. Situasi baik di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan selalu dinamis dan lebih menantang terutama di era globalisasi ini. Diperlukan kebijakan yang tepat untuk meminimalkan terjadinya konflik yang memang akan selalu ada dalam hubungan industrial.
161
DEFINISI DAN PRINSIP HUBUNGAN
INDUSTRIAL
Pengertian hubungan industrial di Indonesia dalam UU no. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 1 nomor 16 disebutkan bahwa adalah suatu sistem hubungan yang
terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh, dan pemerintah yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
Hubungan industrial antara para pihak terkait tersebut pada prinsipnya didasarkan pada kepentingan bersama, sehingga mengandung prinsip:
1. Pengusaha dan pekerja, pemerintah dan masyarakat pada umumnya, sama-sama mempunyai kepentingan atas keberhasilan dan kelangsungan perusahaan.
2. Perusahaan merupakan sumber penghasilan bagi banyak orang.
3. Pengusaha dan pekerja mempunyai hubungan fungsional dan masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda dalam pembagian kerja atau pembagian tugas. 4. Pengusaha dan pekerja merupakan anggota keluarga
perusahaan.
5. Tujuan pembinaan hubungan industrial adalah menciptakan ketenangan berusaha dan ketentraman bekerja supaya dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.
162
6. Peningkatan produktivitas perusahaan harus dapat meningkatkan kesejahteraan bersama, yaitu kesejahteraan pengusaha dan kesejahteraan pekerja.