BAB II TINJAUAN TEORETIS
B. Pemberdayaan Masyarakat
4. Strategi Pemberdayaan
Strategi pemberdayaan masyarakat pedesaan terpencil dilakukan dengan mewujudkan ke empat elemen pemberdayaan masyarakat: inklusi dan partisipasi,
19
Nana Mintarti, Stadium General Jurusan PMI Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan, (Jakarta: 15 Maret 2007).
akses pada informasi, kapasitas organisasi lokal, profesionalitas pelaku pemberdaya. Tantangan utama yang dihadapi dalam memberdayakan masyarakat pedesaan terpencil adalah pengetahuan yang terbatas, wilayah yang sulit dijangkau, dan pemahaman adat yang kuat pada masyarakat adat.
Dalam beberapa situasi, strategi pemberdayaan dapat saja dilakukan secara individual, meskipun pada gilirannya strategi ini pun tetap berkaitan dengan kolektivitas, dalam arti mengkaitkan klien dengan sumber atau sistem lain di luar dirinya. Dalam konteks pekerjaan sosial, pemberdayaan dapat dilakukan dengan mikro, mezzo dan makro.20
a. Mikro, pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu melalui bimbingan dan konseling. Tujuan utamanya adalah membimbing dan melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai pendekatan yang berpusat pada Tugas (task centered approach).
b. Mezzo, pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi alam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dimilikinya.
c. Makro, pendekatan ini disebut juga sebagai Strategi Sistem Besar (Large System Strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem
20
Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, kajian strategis pembangunan kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial, (Bandung: PT Refika Aditama, 2005), Cet. Ke-1, h. 66-67.
lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, aksi sosial, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. Stategi Sistem Besar memandang klien sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka sendiri dan untuk memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak.
Untuk dapat memasukkan mereka dalam proses perubahan, maka upaya yang pertama kali perlu dilakukan adalah memahami pemikiran dan tindakan mereka serta membuat mereka percaya kepada pelaku pemberdaya. Selanjutnya mereka perlu berpartisipasi dalam proses perubahan yang ditawarkan dengan memberikan kesempatan menentukan pilihan secara rasional. Proses ini dapat memerlukan waktu yang lama, namun hasilnya akan lebih efektif daripada memberikan pilihan yang sudah tertentu. Pengikutan masyarakat dalam proses perubahan dilakukan secara berangsung-angsur dari kelompok kecil menuju masyarakat lebih luas.
Akses pada informasi dibuka dengan memberikan penjelasan mengenai program-program pemerintah yang akan dilakukan, norma-norma bermasyarakat yang perlu diketahui, ilmu pengetahuan dasar, hak-hak yang mereka peroleh, manfaat perubahan yang akan terjadi, masalah-masalah yang mungkin dihadapi, dsb.
Kapasitas organisasi lokal ditumbuhkan dengan melakukan pengorganisasian terhadap kelompok-kelompok dalam masyarakat pada tingkat bawah (seperti kelompok perempuan, kelompok pemuda, kelompok peladang),
dan terhadap tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, aparat desa/dusun, dsb. Tujuan pemerkuatan organisasi lokal ini adalah untuk menjadikan mereka mampu merencanakan perbaikan lingkungan mereka, mampu meningkatkan produktivitas, mampu bernegosiasi dengan pihak lain, mampu melakukan kegiatan-kegiatan bersama yang bermanfaat. Teknik-teknik pemetaan wilayah, penyusunan rencana tata ruang, perbaikan sarana permukiman, pembangunan rumah, cara bercocok tanam, cara mengolah hasil kebun, melindungi mata air, dll. perlu diajarkan atau dipelajari bersama.
Pelaku pemberdaya perlu mempunyai kemampuan profesional yang tinggi agar dapat melakukan pendampingan secara baik. Pelaku pemberdaya yang potensial adalah organ pemerintah daerah atau organisasi berbasis masyarakat lokal, yang mempunyai perhatian, komitmen, dan kemampuan untuk membangun masyarakat miskin dan terbelakang. Upaya pemberdayaan masyarakat pedesaan terpencil, baik masyarakat adat maupun masyarakat lokal, menuntut pola kerja yang fleksibel, tidak terhambat oleh sistem administrasi penganggaran yang ketat. Agar pelaku pemberdaya masyarakat dapat bekerja secara profesional, maka mereka perlu mendapat pelatihan dan pendidikan yang memadai.
C. Pemulung
1. Pengertian Pemulung
Banyak orang yang memandang sebelah mata profesi pemulung. Padahal, keberadaan mereka sangat membantu masyarakat maupun pemerintah, terutama dalam membersihkan limbah plastik yang tidak terurai di dalam tanah. Secara tidak langsung, para pemulung turut menjaga kelestarian lingkungan. Tak hanya
itu, dalam konteks stabilitas sosial di masyarakat, yang patut diacungi jempol pilihan menjadi pemulung merupakan salah satu cara untuk mengatasi menumpuknya pengangguran. Dan seperti kita tahu, banyaknya pengguran dapat memicu permasalahan sosial, dan tindak kriminal. Apalagi hanya meminta belas kasih orang lain dengan meminta-minta.
Para Pemulung bekerja mengumpulkan barang-barang bekas dengan cara mengerumuni muatan truk sampah yang tengah di bongkar. Sebagian pemulung lainnya berputar-putar mengais barang bekas dari tumpukan-tumpukan sampah. Ada juga yang berpendapat bahwa, Pemulung adalah kelompok sosial yang mandiri, pekerja keras, serta tidak menggantungkan diri pada orang lain yang kerjanya mengumpulkan atau memilah barang yang dianggap berguna dari sampah, baik yang ada di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) maupun diluar TPA.21
2. Karakteristik Pemulung
Para pemulung mengumpulkan barang-barang bekas dengan cara mengerumuni muatan truk sampah yang tengah dibongkar, sebagian pemulung lainnya ada juga yang mengais barang bekas dari reruntuhan bangunan atau bekas banjir tragedi Situ Gintung pada 27 maret 2009 lalu.
Barang bekas yang telah terkumpul kemudian dipisah-pisahkan menurut jenis dan bentuknya, sebelum akhirnya dijual dipengepul barang bekas. Pengepul barang bekas adalah orang yang mempunyai modal besaruntuk membeli beberapa jenis barang bekas dari para pemulung. Jasa penampung barang bekas selain
21
Artikel diakses pada 15 Februari 2009 dari http://aliciakomputer.blogspot.com/2008/01/etos-kerja.html
sebagai pembeli tetap, ia juga sangat berperan sebagai sarana transportasi untuk pengumpulan barang bekas dari pemukiman liar, sehingga para pemulung menjadi anak buahnya yang tidak perlu menanggung ongkos angkutan.
Para pengepul barang bekas selanjutnya menjual barang bekas ke industry atau pabrik daur ulang yang menggunanakan bahan baku produksinya dari barang bekas secara langsung maupun melalui pihak perantara. Mengumpulkan barang sebanyak mungkin tentunya dengan menggunakan alat bantu yang berupa:
a. Gerobak roda dua. Alat ini sangat berfungsi sekali untuk mencari dan mengangkut barang yang berguna, sehingga dengan memakai gerobak roda dua ini para pemulung dapat mencari barang sebanyak-banyaknya. b. Karung dengan gincunya. Biasanya alat ini digunakan supaya lebih praktis
dan efektif, karena dengan menggunakan karung dengan gincunya lebih mudah untuk masuk ke jalan-jalan yang sempit. Dan kebanyakan yang memakai dengan alat ini mayoritas anak-anak dan orang dewasa. Setelah mendapat banyak barang yang dikumpulkan ke dalam karung, kemudian dipindahkan ke dalam gerobak kemudian kembali lagi mencari barang bekas sampai pada akhirnya gerobak sudah penuh dan siap untuk dibawa ke pengepul barang-barang bekas.
D. Pendidikan
Dalam sejarahnya pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagogy, yang berarti seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar pelayan. Dalam perkembangan nya pendidkan banyak mendapat pemaknaan yang beragam, namun sesungguhnya memiliki kesamaan substansi yakni pendidikan merupakan
sebuah proses yang melibatkan orang dewasa dan peserta didik dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya dan norma-norma yang berkembang di masyarakat.22
Semua pertukaran informasi pada dasarnya merupakan bentuk pendidikan. Sebagai fungsi dalam pendampingan sosial, pendidikan lebih menunjuk pada sebuah proses kegiatan, ketimbang sebagai sebuah hasil dari suatu kegiatan. Pendidikan sangat terkait dengan pencegahan berbagai kondisi yang dapat menghambat kepercayaan diri individu serta kapasitas individu dan masyarakat.
Dalam pendampingan sosial, pendidikan beranjak dari kapasitas orang yang belajar (peserta didik). Pendidikan adalah bentuk kerjasama antara pekerja sosial (sebagai guru dan pendamping) dengan klien (sebagai murid dan peserta didik). Pengalaman adalah inti “pelajaran pemberdayaan”. Peserta didik adalah partner yang memiliki potensi dan sumber yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran merupakan proses saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Pekerja sosial dan klien pada hakikatnya dapat menjadi pendidik dan peserta didik sekaligus.
Manusia dilahirkan dengan sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi dan potensi yang harus dikembangkan. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya itu, maka manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungannya itu akan menyebabkan manusia mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar. Semakin kuat motif sebagai upaya pemenuhan kebutuhan itu, semakin kuat pula proses belajar yang terjadi, dan pada gilirannya akan
22
Hj. Zurinal Z, Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan; Pengantar dan Dasar-Dasar Pelaksanaan Pendidikan, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), Cet.1, h. 1
semakin tinggi hasil belajar yang dapat dicapainya.
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimanapun wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga dan bukannya menjadi pohon jambu. Pendidikan, seperti sifat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu, maka tidak sebuah batasan pun yang yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap.23
Para pekerja sosial pada umumnya memberikan pelajaran mengenai keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan pengasuhan anak, komunikasi interpersonal dan hidup mandiri.24 Beberapa pedoman di bawah ini dapat membantu para pekerja sosial menjadi pelatih yang baik:
a. Mengajar dan belajar sangatlah berbeda, kegiatan mengajar itu direncanakan dan dikontrol, akan tetapi belajar sebaliknya. Belajar itu bergantung pada individu yang bersangkutan, khususnya motivasi, kemampuan dan kesiapan.
b. Bantulah orang yang mau belajar dengan mengembangkan keterampilan- keterampilan dan teknik-teknik yang dapat menjembatani proses belajar. Keterampilan dan teknik tersebut meliputi: membaca, menulis, menghitung, mendengarkan, memecahkan masalah, membuat keputusan sendiri dan lain-lain.
23
Umar Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: PT. RINEKA CIPTA, 2005), Cet. Ke-2, h. 33.
24
Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, kajian strategis pembangunan kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial, (Bandung: PT Refika Aditama, 2005), Cet. Ke-1, h. 49-50.
c. Evaluasi secara kritis dengan pengajaran yang dilakukan oleh pendidik. Bisa dilakukan dengan cara sederhana, bertanya kepada peserta didik apakah mereka menyukainya cara pengajaran yang disampaikan atau sebaliknya. Kita juga bisa menilai peserta didik dari cara belajar yang baru atau apakah mereka menggunakan pengetahuan dan keterampilan setelah usai belajar. Selain itu, apakah pengetahuan dan keterampilan yang baru berdampak positif bagi pekerjaan dan kehidupannya mereka.
1. Pengertian Pendidikan
Arti pendidikan menurut bahasa Indonesia disebutkan bahwa “Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”.25 Sementara itu, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta diik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.26
Beberapa ahli pendidikan mendefinisikan pendidikan, sebagai berikut:
a. Menurut M. Arifin bahwa “pendidikan adalah usaha orang dewasa secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadiannya serta
25
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), Cet. Ke-1, h. 204.
26
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jokjakarta: Media Wacana Press, 2003), Cet. Ke-1, h. 50.
kemampuan dasar anak didik, baik dalam pendidikan formal maupun non formal.”27
b. Menurut Zuhairini bahwa “Pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.”28
c. SA. Branata, dkk “Pendidikan ialah usaha yang sengaja diadakan, baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung, untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan.”29
Berdasarkan kenyataan yang terkandung dalam pengertian pendidikan yang dikemukakan para ahli di atas, dapat kita simpulkan pendidikan itu adalah usaha sadar dan terencana dari orang dewasa untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran secara teratur dan sistematis ke arah kedewasaan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.30
Definisi pendidikan tersebut sejalan dengan GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Menurut GBHN (Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973) dikatakan bahwa: “Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan
27
M. Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama,Lingkungan Sekolah dan Orang Tua Murid, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990), h. 14.
28
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet. Ke-11, h. 150.
29
M. Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1999), Cet. Ke-1, h. 5.
30
Gunawan Sumidiningrat, Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat. (Jakarta: PT. Bina Rasa Paawira, 2004), Cet. Ke-2, h. 165.
kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup”. Menurut ketentuan umum, Bab I pasal I Undang-Undang Sistem Nasional Nomor 2 Tahun 1989, menjelaskan bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, penajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”.
Dengan demikian dalam prakteknya usaha pendidikan atau usaha sadar untuk membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak didik tersebut harus dilakukan melalui bimbingan, pengajaran dan latihan atau pembiasaan dan diarahkan dalam rangka mengembangkan kepribadian dan kemampuan peserta didik ke tingkat kedewasaan dan hal ini dilakukan di dalam atau di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.31
2. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memliki dua fungsi yaitu memberi arah kepada segenap pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk mendidik dan membantu peserta didik dalam memperoleh informasi, pengetahuan atau keterampilan yang berguna bagi kehidupannya.
Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan tersebut dianggap menyimpang, tidak fungsional, sehingga terjadinya harus dicegah. Di sini terlihat bahwa tujuan pendidikan itu bersifat normatif, yaitu mengandung unsur norma yang bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan
31
M. Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1999), Cet. Ke-1, h. 5-6.
dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik.
Tujuan pendidikan merupakan batas cita-cita yang diinginkan dalam satu usaha, setiap usaha mempunyai tujuan tertentu, termasuk usaha pendidikan sebab tanpa adanya tujuan tersebut maka usaha itu tidak akan berarti apa-apa.32
3. Tingkatan Pendidikan
Berdasarkan sistem pendidikan di Indonesia, tingkatan pendidikan itu terdiri atas pendidika dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
a. Pendidikan Dasar atau Sekolah Dasar yang selanjutnya disebut SD adalah suatu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. Merupakan pendidikan yang melandasi untuk jenjang pendidikan menengah.
b. Pendidikan Menengah: 1. Sekolah Menengah Pertama selanjutnya disebut SMP adalah suatu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD atau bentuk lain yang sederajat. 2. Sekolah Menengah Atas selanjutnya disebut SMA adalah suatu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, atau bentuk lain yang sederajat. Selain merupakan lanjutan pendidikan dasar, pendidikan menengah juga terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.
32
c. Pendidikan Tinggi, mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka, dan juga pendidikan tinggi ini dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas.
4. Jenis-jenis Pendidikan
a. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
b. Taman Penitipan Anak yang selanjutnya disebut TPA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non-formal yang menyelenggarakan program kesejahteraan sosial, program pengasuhan anak dan program pendidikan anak sejak usia enam tahun. c. Kelompok bermain yang selanjutnya disebut KB adalah salah satu bentuk
satuan anak usia dini pada jalur pendidikan non-formal yang menyelenggarakan program pendidikan dan program kesejahteraan bagi anak berusia dua tahun sampai dengan empat tahun.
d. Pendidikan khusus adalah pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil dan mengalami bencana alam, bencana sosial, tidak mampu dari segi ekonomi dan yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses
pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, intelektual, mental, sosial dan memiliki ppotensi kecerdasan dan bakat istimewa.
E. Keterampilan
Menurut bahasa, keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti cakap dalam menyelesaikan tugas.33 Menurut W. Gulo keterampilan tidak mungkin berkembang kalau tidak didukung oleh sikap, kemauan dan pengetahuan. Manusia merupakan pribadi yang unik, dimana aspek rohaniah, mental intelektual dan fisik merupakan satu kesatuan yan utuh.34 Dari pendapat Gulo itu dapat diketahui bahwa suatu keterampilan tidak akan terwujud tanpa ada kemauan, sikap atau pun pengetahuan yang dimiliki seseorang, sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sebenarnya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari seseorang.
1. Pengertian Keterampilan
Keterampilan adalah pelajaran yang berisi kemampuan konseptual, apresiatif dan kreatif produktif dalam menghasilkan benda produk kerajinan dan atau produk teknologi yang memberikan penekanan pada penciptaan benda-benda fungsional dari karya kerajinan, karya teknologi sederhana, yang bertumpu pada keterampilan tangan.
Untuk memperoleh keberhasilan peserta didik yang optimal dalam pembelajaran maka salah satu upaya yang penting adalah melatihkan keterampilan proses. Dengan melatihkan keterampilan proses peserta didik akan lebih mudah
33
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), Cet. Ke-1 h. 935.
34
menguasai dan menghayati materi pelajaran, karena peserta didik secara langsung mengalami peristiwa pembelajaran tersebut. Tujuan lain pendekatan keterampilan adalah sebagai berikut:
a. Memotivasi belajar peserta didik karena dalam keterampilan peserta didik dipacu untuk senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam belajar.
b. Mengembangkan pengetahuan pemulung melalui penelaahan jenis,
bentuk, sifat-sifat, penggunaan dan kegunaan, alat, bahan, proses dan teknik membuat berbagai produk kerajinan dan produk teknologi yang berguna bagi kehidupan manusia, termasuk pengetahuan dalam konteks budaya dari benda-benda tersebut.
c. Memperjelas konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajari peserta didik karena pada hakekatnya peserta didik sendirilah yang mencari dan menemukan konsep tersebut.
d. Mengembangkan keterampilan pemulung untuk menghasilkan berbagai
produk kerajinan bagi kehidupan manusia dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya.
e. Mengembangkan pengetahuan teori dengan kenyataan di dalam kehidupan sehari-hari.
f. Menanamkan apresiasi kepada pemulung akan berbagai tatanan kehidupan
termasuk budaya sehingga dapat menumbuhkan kecintaan budaya berkarya yang bercirikan Indonesia.
g. Mempersiapkan dan melatih peserta didik dalam menghadapi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari untuk bepikir logis dalam memecahkan masalah.
h. Mengembangkan kepekaan kreatif pemulung melalui berbagai kegiatan penciptaan benda-benda produk menggunakan bahan-bahan alam maupun industri.
i. Mengembangkan sikap percaya diri, bertanggung jawab, dan rasa kesetiakawanan sosial dalam menghadapi berbagai problem kehidupan.
2. Jenis-jenis Keterampilan
Mengenai keterampilan menurut Sardiman A.M ada dua jenis keterampilan umumnya meliputi:
a. Keterampilan Jasmani, Yaitu keterampilan yang dapat dilihat dan diamati, sehingga akan menitikberatkan pada keterampilan gerak atau penampilan dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar.
b. Keterampilan Rohani, Yaitu keterampilan yang menyangkut persoalan- persoalan penghayatan, keterampilan berfikir serta kreatifitas untuk menyelesaikan dan merumuskan masalah atau konsep.35
Ada beberapa keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai oleh pendidik untuk anak didiknya:
a. Keterampilan Dasar Bertanya
Bagaimanapun tujuan pendidikan, secara universal pendidik akan selalu menggunakan keterampilan bertanya kepada anak-anak. Cara bertanya memiliki pengaruh yang sangat berarti, tidak hanya pada hasil belajar anak, tetapi juga pada suasana kelas baik sosial maupun emosional. Dengan bertanya akan membantu
35
belajar anak didik dengan kawan-kawannya, membantu lebih sempurna dalam menerima informasi dan mengembangkan keterampilan.
b. Keterampilan Lanjut Bertanya
Masalah-masalah yang muncul pada waktu yang akan datang, sebaiknya dapat diantisipasi sesegera mungkin, sebab hal itu sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Dalam hal ini pendidik harus dapat mengembangkan keterampilan siswa dalam meningkatkan kemampuan berfikir dan hidup mandiri. Saling tukar pendapat di antara anak didik dan meningkatnya pertanyaan tanpa tuntutan dari pendidik, menunjukkan pertumbuhan cara berfikir yang bebas dan kedewasaan anak didik.
c. Keterampilan Memberi Penguatan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal dengan adanya ”hadiah”. Orang yang bekerja untuk orang lain hadiahnya adalah upah/gaji, orang yang menyelesaikan suatu program sekolah hadiahnya adala ijazah. Pemberian hadiah tersebut secara psikologi akan berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang yang menerimanya. Karena hal tersebut akan membantu sekali dalam meningkatkan hasil belajar. Dengan kata lain, perubahan tingkah laku (behavior modification) dilakukan dengan pemberian penguatan.
d. Keterampilan Mengadakan Variasi
Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki kebosanan dalam hidupnya. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.