BAB III. METODE PENELITIAN
C. Bentuk dan Strategi Penelitian
2. Strategi Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan strategi model siklus. Wardhani (2007) menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur atau siklus yang terdiri dari empat tahap, yaitu merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan melakukan refleksi seperti tampak pada gambar 2 di bawah ini:
.
Gambar 2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas Adapun rancangan penelitiannya sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan Refleksi
Merencanakan
Melakukan Tindakan
Mengamati
commit to user
Perencanaan adalah tahap untuk peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Peneliti juga menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneilti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung,
Kegiatan ini meliputi:
1) Membuat perencanaan pengajaraan.
2) Mempersiapkan alat peraga.
3) Membuat lembar observasi.
4) Membuat alat evaluasi.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan adalah menerapkan hal yang telah direncankan pada tahap satu, yaitu bertindak di kelas. Dalam tahap ini peneliti harus ingat dan berusaha menaati apa yang dirumuskan dalam rancangan, dan juga berlaku wajar dan tidak dibuat-buat. Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahapan ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan dalam tahap perencanaan.
c. Tahap Observasi
Observasi adalah alat untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Pada langkah ini, peneliti harus menguraikan jenis data yang dikumpulkan, cara mengumpulkan, dan alat atau instrumen pengumpulan data ( observasi, wawancara, dan lain-lain).
d. Tahap Refleksi
Refleksi adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali hal yang telah
hali ini peneliti seolah memantulkan pengalamannya ke cermin, sehingga tampak jelas penglihatannya, baik kelemahan dan kekurangannya. Dalam tahap ini data-data yang diperoleh melalui observasi dikumpulkan dan dianalisis, guna mengetahui seberapa jauh tindakan telah membawa perubahan dan apa atau di mana perubahan terjadi
commit to user
D. Sumber Data1. Siswa SD Negeri 01 Tohudan khususnya kelas V SD Negeri 01 Tohudan, berjumlah 35 orang yang terdiri dari 17 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki.
2. Informasi yang didapat dari hasil pengamatan (observasi) selama proses pembelajaran berlangsung, serta pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam pembelajaran kooperatif.
3. Hasil wawancara dengan guru dan beberapa siswa kelas V.
4. Nilai hasil evaluasi atau tes yang diberikan kepada siswa serta dokumen yang berkaitan dan menunjang penelitian.
5. Lingkungan kelas sebagai tempat berlangsungnya kegiatan penelitian.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan apa yang diharapkan dalam penelitian, diperlukan alat atau metode untuk mendapatkan data yang tepat dan objektif. Penetapan metode untuk pengumpulan data berdasarkan pada tujuan penelitian yang akan dicapai dan juga berdasar pada kebutuhan dan pada tujuan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi
Observasi yang dilaksanakan oleh peneliti dalam penelitian ini sering disebut dengan observasi berperan atau partisipatif. Observasi dilakukan secara formal di dalam kelas pada proses belajar-mengajar berlangsung dan selama proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, untuk mengamati aktivitas siswa dalam pembelajaran. Observasi dilakukan untuk memantau proses dan dampak pembelajaran yang diperlukan untuk menata langkah-langkah perbaikan agar lebih efektif dan efisien. Observasi dipusatkan pada proses dan hasil tindakan pembelajaran beserta peristiwa-peristiwa yang melingkupnya.
Observasi pada penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan aspek afektif dan psikomotor siswa, serta observasi pada keterampilan mengajar guru (peneliti) untuk data tentang observasi ini dapat dilihat pada (lampiran 15 dan 16 pada halaman 172-184).
commit to user
2. TesPengertian tes menurut Bimo Walgito (1987: ebagai suatu metode atau alat untuk mengadakan penyelidikan yang menggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang lain dimana persoalan-persoalan atau pertanyaan-pertanyaan dan sebagainya itu telah dipilih dengan seksama distandarisasikan, artinya telah ada standar tertentu . Dalam penelitian kali ini penulis menggunakan bentuk tes esai, dalam tes esai siswa dituntut untuk berpikir dan mempergunakan apa yang diketahui dan berkenaan dengan pertanyaan yang harus dijawab. Penyusunan instrumen tes dilakukan dengan berdasarkan pada kisi-kisi, indikator, dan jenis item skala pengukuran tes mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan konsep organisasi (aspek kognitif). Tes diberikan pada siswa kelas V SDN 01 Tohudan yang berjumlah 35 siswa, dengan soal dan jumlah yang sama.
3. Dokumen
Istilah dokumen dipakai untuk satu unit informasi tunggal, a single unit of information (informasi yang tunggal), pada umumnya berisi teks, tetapi juga bisa mengandung bentuk lain seperti gambar, suara, dan gambar hidup (moving images). Dokumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah arsip dan dokumen yang dimiliki oleh guru kelas yang akan diteliti, yaitu berupa nilai formatif siswa pada mata pelajaran PKn, khususnya materi organisasi, Silabus, RPP, dan catatan harian guru, serta foto dokumentasi dan video selama proses pembelajaran. Dokumen dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap konsep organisasi, serta mengetahui kekurangan dan kelebihan yang terjadi selama proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
4. Wawancara
Esterbeg (2002) mendefinisikan wawancara sebagai berikut
of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and join construction of meaning about Sugiyono (2009: 317). Wawancara adalah merupakan
commit to user
pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis wawancara berstruktur (structured interview), dalam melakukan wawancara penulis sudah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun sudah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya. Wawancara diberikan pada seluruh siswa kelas V SDN 01 Tohudan dan guru kelas V, untuk wawancara kepada siswa peneliti mengambil jawaban yang sekiranya sudah mewakili jawaban dari satu kelas, untuk melihat data wawancara dapat dilihat pada (lampiran 11-14 pada halaman 154-164).
F. Validitas Data
Data yang sudah terkumpul merupakan modal awal yang sangat berharga dalam sebuah penelitian, dari data yang terkumpul akan dilakukan analisis yang selanjutnya dipakai sebagai bahan masukan untuk penarikan kesimpulan. Melihat begitu besarnya posisi data, maka keabsahan data yang terkumpul menjadi sangat vital. Data yang salah akan menghasilkan penarikan kesimpulan yang salah, demikian pula sebaliknya, data yang sah akan menghasilkan kesimpulan hasil penelitian yang benar. Keabsahan data itu dikenal sebagai validitas data. Untuk memperoleh data yang valid dalam penelitian ini, peneliti menggunakan validitas isi. Uji validitas isi bertujuan untuk menunjukkan sejauh mana peserta didik mengusai materi pelajaran yang disampaikan.
dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah Oleh karena itu, pada penelitian ini data yang diukur menggunakan validitas isi adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan menyelesaikan soal tes konsep organisasi.
Untuk pengecekan data agar memperoleh keyakinan terhadap kebenaran data pada penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan triangulasi. Triangulasi eknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono,
commit to user
2009: 330). Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data. Ada banyak macam triangulasi, penulis menggunakan triangulasi sumber, dan triangulasi metode.
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Triangulasi melibatkan pengumpulan data tentang situasi pengajaran tertentu dari tiga sudut pandang yang berbeda;
yakni sudut pandang guru, siswa, dan observer yang berpartisipasi.
Untuk menggali data yang sejenis bisa diperoleh dari guru yang mengajar di kelas V SD Negeri 01 Tohudan, siswa kelas V, dan observer.
Dalam hal ini observer adalah guru kelas V SDN 01 Tohudan. Dalam penelitian ini data yang dijadikan data triangulasi adalah hasil observasi pada guru (peneliti) dan observasi pada siswa (Lampiran 16 dan 17 pada halaman 184-187).
2. Triangulasi Metode
Pada triangulasi dengan metode diperoleh dengan menggunakan berbagai jenis metode pengumpulan data yang berbeda untuk memperoleh data yang sejenis, sehingga didapat data yang valid. Peneliti menggunakan metode pengumpulan data yang berupa hasil tes yang kemudian di cocokkan dengan data wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa serta dokumentasi.
Dari beberapa data yang diperoleh lewat teknik pengumpulan data yang berbeda tersebut hasilnya dibandingkan dan dapat ditarik kesimpulan agar diperoleh data yang lebih kuat validitasnya, dapat dilihat pada lampiran (lampiran 11-14 pada halaman 154-164) kemudian untuk data dokumentasi dapat dilihat pada (lampiran 18 pada halaman 190).
commit to user
G. Teknik Analisis DataAnalisis data kualitatif menurut Bogdan & Biklen (1982), adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Sugiyono, 2009 : 334).
Dalam penelitian ini data yang disajikan adalah perpaduan antara data kualitatif dan kuantitatif, untuk data kuantitatif peneliti menggunakan model analisis deskriptif komparatif. Menurut Suwandi (2009: 61), analisis deskriptif komparatif dilakukan dengan membandingkan antara hasil tes kondisi awal sebelum dilakukan tindakan, hasil tes siklus I, dan hasil tes setelah siklus II.
Dengan demikian dapat terlihat perbedaan sebelum dan sesudah dilakukannya tindakan. Secara garis besar, langkah-langlah dalam analisis deskriptif komparatif dibagi menjadi empat kegiatan, yaitu: mengolah data, penyajian data, analisis, kesimpulan.
Peneliti melakukan olah data terhadap data yang diperoleh. Data berupa nilai peserta didik pada kondisi awal sebelum tindakan, setelah siklus I, dan setelah siklus II. Penyajian data dilakukan pada saat mengolah dan mengambil tindakan terhadap data yang masuk, kemudian disusun dan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan dinarasikan dalam pembahasan penelitian.
Kemudian untuk data yang bersifat kualitatif peneliti menggunakan analisis data model analisis interaktif, dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan sejak awal penelitian dan selama proses penelitian dilaksanakan. Data diperoleh, kemudian dikumpulkan untuk diolah secara sistematis. Dimulai dari wawancara, observasi, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi selanjutnya aktivitas penyajian data serta menyimpulkan data. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif (Miles dan Huberman 1992: 15), seperti pada gambar 3 di bawah ini:
commit to user
Gambar 3. Analisis Data Model Interaktif ( Miles & Huberman, 1992: 20) Langkah-langkah analisis:
1. Melakukan analisis awal bila data yang didapat di kelas sudah cukup. Maka dapat dikumpulkan.
2. Mengembangkan dalam bentuk sajian data, dengan menyusun coding dan matrik yang berguna untuk penelitian lanjut.
3. Melakukan analisis data di kelas dan mengembangkan matrik antar unsur.
4. Melakukan verifikasi, pengayaan dan penolakan data apabila dalam persiapan analisis ternyata ditemukan data yang kurang lengkap atau kurang jelas, maka perlu dilakukan pengumpulan data lagi secara terfokus.
5. Melakukan analisis antar kasus. Dikembangkan struktur sajian datanya bagi susunan laporan.
6. Merumuskan kesimpulan akhir sebagai temuan penelitian.
7. Merumuskan kebijakan sebagai dari pengembangan saran dalam laporan akhir penelitian.
1. Reduksi Data
Miles dan Huberman menjelaskan yang dimaksud dengan reduksi data adalah Proses pemilihan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan, reduksi merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan dengan cara
Pengumpulan data
Penyajian data
Reduksi data
Penarikan kesimpulan
commit to user
sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi . (Milles dan Huberman, 2000)
Reduksi dilakukan terus menerus selama proses penelitian berlangsung.
Pada tahapan ini setelah data dipilah kemudian disederhanakan, data yang tidak diperlukan disortir agar memberi kemudahan dalam penampilan, penyajian, serta untuk menarik kesimpulan sementara.
2. Penyajian Data
Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
Penyajian data (display data) dimaksudkan agar lebih mempermudah bagi peneliti untuk dapat melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari data penelitian. Hal ini merupakan pengorganisasian data kedalam suatu bentuk tertentu sehingga kelihatan jelas sosoknya lebih utuh. Data-data tersebut kemudian dipilah-pilah dan disisihkan untuk disortir menurut kelompoknya dan disusun sesuai dengan kategori yang sejenis untuk ditampilkan agar selaras dengan permasalahan yang dihadapi, termasuk kesimpulan-kesimpulan sementara diperoleh pada waktu data direduksi.
3. Penarikan Kesimpulan /Verivikasi
Setelah data-data direduksi, disajikan langkah terakhir adalah dilakukannya penarikan kesimpulan/verifikasi. Penarikan kesimpulan ini merupakan bagian dari konfigurasi utuh, sehingga kesimpulan juga diverfikasi selama penelitian berlangsung, verifikasi data yaitu emeriksaan tentang benar dan tidaknya hasil laporan penelitian sedang kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat diuji kebenarannya.
Kekokohannya merupakan validitasnya . (Milles Huberman, 1992: 19 ) Berdasarkan uraian di atas maka reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi sebagai suatu jalinan pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar untuk membangun wawasan umum yang disebut analisis. Kegiatan pengumpulan data itu sendiri merupakan siklus dan interaktif. Oleh karena penelitian ini sifatnya kualitatif maka diperlukan adanya objektivitas, subjektivitas dari
commit to user
peneliti agar hasil penelitian tersebut mudah dipahami bagi para pembaca secara mendalam.
H. Indikator Kinerja
Menurut Sarwiji Suwandi (2008: 70) indikator kinerja merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan tolak ukur dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian. Sebagai indikator keberhasilan kinerja penelitian peningkatan pemahaman konsep organisasi dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing pada siswa kelas V SD Negeri 01 Tohudan adalah adanya peningkatan nilai
rata-dan peningkatan presentase ketuntasan kelas sebesar 80%.
I . Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui siklus-siklus tindakan. Tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai, seperti yang telah didesain dalam faktor-faktor yang diteliti. Untuk mengetahui permasalahan yang menyebabkan rendahnya memahami mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan konsep organisasi pada khususnya kelas V SD Negeri 01 Tohudan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar dengan model kooperatif tipe Snowball throwing.
Prosedur penelitian tindakan merupakan gambaran lengkap mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian. Tindakan yang ditempuh dimaksudkan untuk mengubah kondisi atau perilaku yang mencangkup rencana, tindakan, observasi dan refleksi. Rencana tindakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada gambar 4 di bawah ini:
commit to user
Gambar 4. Model PTK (Suharsimi Arikunto, dkk, 2010: 17) Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas dapat dijabarkan dalam tahap-tahap sebagai berikut:
1. Rancangan Siklus Pertama a. Tahap Perencanaan Tindakan
1) Merencanakan pembelajaran dengan menerapkan model kooperatif tipe Snowball throwing.
2) Menentukan pokok bahasan, yaitu materi organisasi.
3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing.
4) Mengembangkan skenario pembelajaran.
5) Menyusun lembar kerja kelompok.
6) Menyiapkan sumber belajar.
7) Mengembangkan format evaluasi pembelajaran.
8) Mengembangkan format observasi guru dan aktifitas siswa.
9) Menetapkan indikator ketercapaian yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran.
Perencanaan
Siklus I
Pengamatan Perencanaan
Siklus II Pengamatan
Pelaksanaan Refleksi
Refleksi Pelaksanaan
?
commit to user
b. Tahap Pelaksanaan TindakanTindakan pada siklus I dilaksanakan selama dua kali pertemuan.
Masing-masing pertemuan siswa melakukan diskusi kelompok. Pada pertemuan pertama, siswa berdiskusi tentang pengertian organisasi, unsur-unsur dalam organisasi, dan contoh-contoh organisasi. Pada pertemuan kedua masih membahas pengertian organisasi, manfaat berorganisasi, tujuan berorganisasi, serta unsur-unsur dalam organisasi kemudian siswa mengerjakan soal evaluasi.
c. Tahap Observasi
Observasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing, aktivitas siswa selama proses pembelajaran dan diskusi berlangsung, serta observasi pada hasil evaluasi siswa.
d. Tahap Refleksi
Mengadakan refleksi dan evaluasi dari kegiatan pelaksanaan tindakan.
Nilai dalam siklus pertama ini persentase ketuntasan siswa 77,14% atau sebanyak 27 siswa, sedangkan indikator ketercapaian 80%, dapat disimpulkan bahwa penerapan model kooperatif tipe Snowball throwing ini belum berhasil. Maka perlu adanya perbaikan dalam proses pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing ini pada siklus kedua.
2. Rancangan Siklus Kedua a. Tahap Perencanaan Tindakan
1) Identifikasi masalah pada siklus I dan penerapan alternatif pemecahan masalah.
2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing.
3) Perbaikan Skenario pembelajaran pada siklus I.
4) Menyusun Lembar Kerja Kelompok.
5) Menyiapkan sumber belajar.
6) Mengembangkan format evaluasi pembelajaran.
7) Mengembangkan format observasi guru dan aktivitas siswa.
commit to user
8) Menetapkan indikator ketercapaian yang dilaksanakan pada proses pembelajaran.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan siklus II juga dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dengan materi kegiatan yang sama dengan siklus I. Berikut ini merupakan langkah-langkah pelaksanaan tindakan siklus II:
1) Memperbaiki tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah disempurnakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
2) Guru memperbaiki penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing dengan metode yang lebih variatif agar siswa tidak merasa bosan.
3) Siswa bertanya jawab mengenai materi sebelumnya.
4) Guru melaksanakan penilaian dan menutup pelajaran dengan memberikan refleksi kepada siswa.
c. Tahap Observasi
Observasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing, aktivitas siswa selama proses pembelajaran dan diskusi berlangsung, serta observasi pada hasil evaluasi siswa.
d. Tahap Refleksi
Penelitian yang dilakukan guru pada siklus kedua dalam meningkatkan pemahaman konsep organisasi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing pada siswa kelas V hasilnya adalah nilai persentase ketuntasan siswa pada siklus kedua ini telah mencapai 91,42% sebanyak 32 siswa, sehingga telah memenuhi indikator kinerja 80%, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing yang diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan konsep organisasi ini telah berhasil.
commit to user
51 BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian
Sekolah yang menjadi objek penelitian adalah Sekolah Dasar (SD) Negeri 01 Tohudan yang beralamatkan di Jalan Adisumarmo, Desa Tohudan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar sekolah ini berdiri pada tahun 1923 dengan Nomor Statistik Sekolah (NSS) 101031312008. Adapun ruangan yang terdapat dalam sekolah ini yaitu; 6 ruang untuk kelas I sampai dengan kelas VI, 1 ruang Kepala Sekolah, 1 ruang guru, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang UKS, 3 ruang MCK, 1 Mushola, 1 ruang kegiatan, 1 ruang komputer, lapangan upacara.
Keadaaan lingkungan yang dapat mendukung siswa dalam belajar adalah lingkungan yang luas, sejuk, dan bersih. Hanya saja sekolah ini terletak di tepi jalan raya sehingga kondisi ramai lalu lalang kendaraan, namun meskipun begitu murid murid sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, jadi mereka tidak begitu terganggu dalam aktivitas belajarnya. Keadaan lingkungan belajar di Sekolah Dasar Negeri 01 Tohudan Tohudan Colomadu Karanganyar antara lain:
1. Kondisi gedung atau bangunan yang permanen serta dalam kondisi yang baik.
2. Pemisahan ruang kelas sehingga antara ruang kelas yang satu dengan kelas yang lain tidak saling menganggu dalam kegiatan belajar mengajaranya.
3. Tersedianya kursi dan meja belajar dalam kondisi baik serta dalam jumlah yang cukup.
4. Penataan ruang kelas yang baik, rapi, dan teratur yang meliputi meja, kursi, gambar-gambar dan media belajar lainnya.
5. Penanaman pohon di halaman sekolah untuk menbambah keindahan sekolah dan tercipta suasana yang nyaman dan asri.
commit to user
Demi kelancaran dan menunjang proses pembelajaran, sekolah harus memiliki alat-alat pembelajaran. Alat-alat pembelajaran tersebut terdiri dari sarana dan prasarana serta alat peraga. Sekolah Dasar Negeri 01 Tohudan memiliki alat-alat pelajaran yang cukup memadai sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Didukung juga dengan adanya perpustakaan sekolah yang menyediakan buku-buku pelajaran dan bacaan untuk pengetahuan siswa. Media pembelajaran sudah cukup lengkap dari kelas I sampai dengan kelas VI sudah mempunyai media yang mendukung, namun sayangnya pada saat penelitian ini berlangsung sekolah ini belum memiliki LCD, sehingga pada saat peneliti melaksanakan pembelajaran di sekolah tersebut hanya menggunakan media yang sederhana dan tepat guna.
B. Deskripsi Hasil Pelaksanaan Penelitian 1. Kondisi Awal ( Pra Tindakan) Siswa Kelas V SDN 01 Tohudan
Penelitian diawali dengan observasi terhadap objek penelitian yaitu siswa kelas V SD Negeri 01 Tohudan yang berjumlah 35 siswa. Setelah itu peneliti menggunakan teknik pengambilan dokumentasi berupa RPP, silabus, dan daftar nilai siswa kelas V pada mata pelajaran PKn untuk mengetahui kondisi awal kualitas pembelajaran PKn. Dalam daftar nilai PKn ditemukan nilai rata-rata kelas yang paling rendah yaitu nilai rata-rata pada konsep organisasi. Sehingga peneliti kemudian mencari tahu penyebab rendahnya nilai konsep organisasi.
Proses penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Dimana setiap siklusnya terdiri dua kali pertemuan dengan empat tahapan, yakni: 1) perencanaan; 2) Pelaksanaan; 3) pengamatan atau observasi; 4) refleksi.
Sebelum dialksanakan siklus, dilaksanakan pula tindakan pra siklus untuk mengetahui kondisi awal hasil belajar Pkn konsep organisasi.
Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan oleh peneliti pada pembelajaran PKn khusunya konsep organisasi menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas V SDN 01 Tohudan masih kurang variatif, antara lain: 1) guru masih menggunakan metode ceramah saja;