• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN MODEL KOOPERATIF"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF

TIPE SNOWBALL THROWING (MELEMPAR BOLA SALJU) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP ORGANISASI DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

KELAS V SDN 01 TOHUDAN COLOMADU KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012

SKRIPSI

Oleh :

MUHIBUDDIN FADHLI K7108182

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA MEI 2012

(2)

commit to user

ii

(3)

commit to user

iii

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF

TIPE SNOWBALL THROWING (MELEMPAR BOLA SALJU) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP ORGANISASI DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

KELAS V SDN 01 TOHUDAN COLOMADU KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh :

MUHIBUDDIN FADHLI K7108182

S

kripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar,

Jurusan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA MEI 2012

(4)

commit to user

iv

(5)

commit to user

v

(6)

commit to user

vi ABSTRAK

Muhibuddin Fadhli. PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING (MELEMPAR BOLA SALJU) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP ORGANISASI DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS V SDN O1 TOHUDAN COLOMADU KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012.

Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Surakarta. April 2012.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep organisasi dengan menggunakan model kooperatif tipe Snowball throwing pada siswa kelas V SD Negeri 01 Tohudan Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar.

Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan model siklus, terdapat dua siklus yakni siklus I, dan siklus II. Tiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu tahap perencanaan (planning), tahap pelaksanaan (acting), tahap pengamatan (observing), dan tahap refleksi (reflecting). Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 01 Tohudan, Colomadu, Karanganyar tahun pelajaran 2011/2012 yang jumlahnya 35 siswa.

Variabel yang menjadi sasaran perubahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah peningkatan pemahaman konsep organisasi. Variabel tindakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dokumen dan wawancara. Teknik analisis data menggunkan model interaktif yang terdiri tiga komponen analisis, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Hasil analisis data yang diperoleh adalah bahwa terdapat peningkatan rata- rata nilai hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada materi organisasi yang diperoleh siswa. Pada tes awal sebesar 56,57; kemudian pada siklus I 73; dan 78,2 pada siklus II. Kemudian adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa yang pada tes awal hanya 37,14%; pada siklus I, 77,14% dan pada siklus II menjadi 91,42%. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing dapat meningkatkan pemahaman konsep organisasi dalam pembelajaran PKn siswa kelas V SD Negeri 01 Tohudan, Colomadu, Karanganyar.

Kata Kunci : Pemahaman Konsep Organisasi, PKn, Model Pembelajaran Kooperatif, Snowball throwing.

(7)

commit to user

vii ABSTRACT

Muhibuddin Fadhli. The Implementation of the Cooperative Learning Model of Snowball Throwing Type in Increasing the Comprehension on the Concept of Organization in the Subject of Civics Education on the Fifth-grade Class of SDN 01 Tohudan of Colomadu of Karanganyar Regency in the Academic Year of 2011/2012. Skripsi: The Faculty of Teacher Training and Education, Sebelas Maret University. Surakarta. 2012.

The objective of this research is to increase the comprehension of the 5th- grade students of SDN 01 Tohudan of Colomadu of Karanganyar Regency on the concept of organization by using the cooperative learning model of Snowball Throwing type.

This research used the class action research with the cycle model. There were two cycles in this research, namely: the first cycle and the second cycle.

Each cycle consisted of four cycles, namely: planning, acting, observing, and reflecting. The population of this research was the 5th-grade students of SDN 01 Tohudan of Colomadu of Karanganyar regency in the academic year of 2011/2012 as many as 35 students. The variable which became the target of change in this class action research was the concept of organization. The variable of action which was used in this research was the cooperative learning model of Snowbal Throwing type. The data of this research were collected through observation, test, document, and interview. The data were then analyzed by using the interactive model which consisted of three components, namely: data reduction, data display, and conclusion drawing or verification.

The results of this research are as follows: 1) the ratio of the average test score of the students of the pre-cycle stage to that of the first cycle and that of the second cycle is 56.57: 73: 78.2; and 2) the ratio of the learning completeness percentage of the students of the pre-cycle stage to that of the first cycle and that of the second cycle is 37.14%: 77.14%: 91.42%.

Based on the results of the research, it is concluded that the implementation of the cooperative learning model of Snowball Throwing type can increase the comprehension of the 5th-grade students of SDN 01 Tohudan of Colomadu of Karanganyar regency.

Keywords: comprehension on concept of organization, Civics Education, cooperative learning model, and Snowball Throwing

(8)

commit to user

viii MOTTO

Bawakan Aku Sepuluh Pemuda Dan Akan Aku Rubah Dunia (Ir. Sukarno)

Hidup adalah pilihan, pilihlah yang baik menurutmu dan menurut Tuhan.

(Muhibuddin Fadhli)

Aku tidak akan sukses, dengan cara orang yang gagal.

(Mario Teguh)

(9)

commit to user

ix PERSEMBAHAN

Karya ini dipersembahkan kepada :

Bapak dan ibuku tercinta Drs.Marsaid dan Insiyah, S.Pd.I. yang selalu mendukung, mendoakan dan memberikan motivasi.

Kakak - kakakku Ahsan Fahmi Rozaqi, Betharia NAE Hastuti, Mujiyanto, serta seluruh keluarga besarku.

(10)

commit to user

x KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, karena atas rahmat

dan karunia-Nya Penerapan

Model Kooperatif Tipe Snowball throwing (Melempar Bola Salju) Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Organisasi Dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V SDN 01 Tohudan Colomadu Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012 .

Karena keterbatasan kemampuan dan pengalaman penulis dalam menyusun skripsi ini, sehingga penulis membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, dan akhirnya kesulitan yang timbul tersebut dapat teratasi. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret,

2. Drs. Rusdiana Indianto, M. Pd. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret,

3. Drs. Hadi Mulyono, M. Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univeritas Sebelas Maret,

4. Drs. Samidi, M. Pd. selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan dukungan kepada penulis,

5. Prof. Dr. Heribertus Soegiyanto, S.U. selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis,

6. Drs. Hasan Mahfud, M. Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis,

7. Eko Suparyono S. Pd. selaku Kepala Sekolah SD Negeri 01 Tohudan yang telah memberikan izin melakukan penelitian tindakan kelas,

8. Nurhayati, S. Pd. selaku guru kelas V SD Negeri 01 Tohudan yang telah bersedia berkolaborasi dengan peneliti,

9. Bapak/Ibu guru SD Negeri 01 Tohudan yang sudah membantu penulis selama proses penelitian,

(11)

commit to user

xi

10. Bapak, Ibu, Kakak, dan saudara-saudara tercinta yang telah memberikan dukungan selama proses penyusunan skripsi.

11. Sahabat-sahabaku yang sudah mendukung di saat penyusunan skripsi.

12. Teman-teman mahasiswa S1 Kelas D angkatan 2008 PGSD Universitas Sebelas Maret,

13. Rekan-rekan mahasiswa S1 PGSD Universitas Sebelas Maret.

14. Pembaca dan semua pihak yang telah membantu dalam menysun skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini, masih jauh dari sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu, penulis berharap kepada pembaca guna memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun, sehingga hasil Penelitian Tindakan Kelas ini dapat bermanfaat, khusunya bagi peneliti dan umumnya bagi para pembaca terutama mahasiswa PGSD UNS.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan permintaan maaf bila terdapat kesalahan dalam bertutur kata yang kurang berkenan dihati pembaca sekalian.

Surakarta, 13 Mei 2012

Muhibuddin Fadhli

(12)

commit to user

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ... ii

HALAMAN PENGAJUAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN ABSTRAK ... vi

HALAMAN ABSTRACT ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakan Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Pembatasan Masalah ... 4

D. Perumusan Masalah ... 5

E. Tujuan Penelitian ... ... 5

F. Manfaat Penelitian ... ... 5

BAB II . LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka ... 7

1. Kajian Tentang Pemahaman Konsep Organisasi ... 7

a. Pemahaman ... 7

b. Konsep ... 8

(13)

commit to user

xiii

Halaman

c. Pemahaman Konsep ... 9

d. Pengertian Organisasi ... 10

2. Kajian Tentang Model-model Kooperatif Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ... 16

3. Kajian Tentang Model Kooperatif Tipe Snowball throwing ... 19

a. Pengertian Model Pembelajaran ... 19

b. Model Pembelajaran Kooperatif... ... 21

c. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif ... 23

d. Tujuan Pembelajaran Kooperatif ... 24

e. Unsur -unsur Model Pembelajaran Kooperatif ... 25

f. Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball throwing .... 26

g. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball throwing ... 29

h. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball throwing ... 30

B. Penelitian yang Relevan ... 32

C. Kerangka Berpikir ... 33

D. Hipotesis ... 35

BAB III. METODE PENELITIAN A. Tempat Penelitian ... 36

1. Tempat Penelitian... 36

2. Waktu dan Jadwal Penelitian ... 36

B. Subjek dan Objek Penelitian ... 37

1. Subjek Penelitian ... 37

2. Objek Penelitian ... 37

C. Bentuk dan Strategi Penelitian ... 37

1. Bentuk Penelitian ... 37

2. Strategi Penelitian ... 38

(14)

commit to user

xiv

Halaman

D. Sumber Data ... 40

E. Teknik Pengumpulan Data ... 40

1. Observasi ... 40

2. Tes ... .... 41

3. Dokumen ... 41

4. Wawancara ... 41

F. Validitas Data ... 42

1. Triangulasi Sumber ... 43

2. Triangulasi Metode ... 43

G. Teknik Analisis Data ... 44

1. Reduksi Data ... 45

2. Penyajian Data ... 46

3. Penarikan Kesimpulan / Verivikasi ... 46

H. Indikator Kinerja ... 47

I. Prosedur Penelitian ... 47

1. Rancangan Siklus Pertama ... 48

2. Rancangan Siklus Kedua ... 49

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 51

B. Deskripsi Hasil Pelaksanaan Penelitian ... 52

1. Kondisi Awal (Pra Tindakan) ... 52

2. Siklus Pertama ... 55

3. Siklus Kedua ... 65

C. Perbandingan Perkembangan Hasil Tindakan Antarsiklus ... 77

D. Pembahasan Hasil Penelitian... 78

BAB V. SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan ... 82

B. Implikasi ... 83

1. Implikasi Teoritis ... 83

(15)

commit to user

xv

Halaman

2. Implikasi Praktis ... 84

C. Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA... 87

LAMPIRAN... 90

(16)

commit to user

xvi DAFTAR TABEL

Tabel : Halaman

1. Jadwal Penelitian...

2. Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Belajar Pkn pada Pra Siklus...

3. Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Belajar PKn Pada Siklus I...

4. Perkembangan Hasil Tes Pra Siklus dan Tes Pada Siklus I...

5. Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Belajar Pkn Pada Siklus II...

6. Perkembangan Hasil Tes Siklus I dan Tes Siklus II...

7. Perkembangan Nilai Terendah, Tertinggi, Nilai Rata-Rata, Dan Ketuntasan Pada Siklus I Dan Siklus II...

8. Perkembangan Nilai Hasil Belajar PKn Konsep Organisasi pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II...

36 53 63 64 72 73

77

78

(17)

commit to user

xvii DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka Berpikir...

2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas

3. Analisis Data Model Interkatif ...

4. Model ...

5. Grafik Nilai Hasil Belajar PKn Pada Pra Siklus...

6. Grafik Nilai Hasil Belajar PKn Pada Siklus I...

7. Grafik Hasil Perkembangan Nilai Evaluasi Nilai Hasil Belajar PKn Pada Pra Siklus dan Siklus I Setelah Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball throwing...

8. Grafik Nilai Hasil Belajar PKn Pada Siklus II...

9. Grafik Hasil Perkembangan Nilai Hasil Belajar PKn Pada Siklus I dan Siklus II Setelah Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball throwing...

10. Grafik Perkembangan Nilai Rata Rata, Nilai Tertinggi, Rata- rata Nilai, Ketuntasan Klasikal Pada Siklus I Dan Siklus II...

11. Grafik Perkembangan Nilai Hasil Belajar PKn Sebelum Tindakan, Siklus I dan Siklus II. ...

34 38 45 48 54 64

65 73

74

78

79

(18)

commit to user

xviii DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Waktu dan Jadwal Penyusunan Skripsi...

2. Rekapitulasi Nilai Kelas V pada Pra siklus, Siklus I, dan

Siklus II...

3. Kisi-kisi Soal Evaluasi Pra Siklus...

4. Evaluasi Pra Siklus...

5. Kunci Jawaban Evaluasi Pra Siklus...

6. Silabus Pembelajaran...

7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I Pertemuan I ...

8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I Pertemuan II ...

9. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II Pertemuan I...

10. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II Pertemuan II...

11. Hasil Wawancara Dengan Guru Sebelum Tindakan...

12. Hasil Wawancara Dengan Guru Setelah Tindakan ...

13. Hasil Wawancara Dengan Murid Sebelum Tindakan...

14. Hasil Wawancara Dengan Murid Setelah Tindakan...

15. Lembar Penilaian Kemampuan Guru...

16. Lembar Pengamatan Siswa Pada Siklus I...

17. Lembar Pengamatan Siswa Pada Siklus II...

18. Foto Kegiatan Pembelajaran Pada Saat Penelitian...

90

91 97 97 98 100 103 115 127 141 154 156 158 164 172 184 187 190

(19)

commit to user

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan di Indonesia telah memasuki era dimana pembelajaran berpusat pada siswa ( student-centered learning ) dan bukan berpusat pada guru lagi, hal ini dimaksudkan agar anak dapat secara mandiri mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berpikirnya. Keaktifan siswa itu dapat dilihat dalam bentuk mengajukan pertanyaan pendapat atau pandangan lain bahkan dapat pula berupa bantahan. Dalam pengalaman penulis ketika mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegraaan di kelas V SD Negeri 01 Tohudan, para siswa pasif dan kurang antusias dalam pembelajaran, hal ini terbukti dari sedikit siswa yang memperhatikan dan bertanya tentang materi pembelajaran. Sehingga membuat penulis bertanya-tanya dalam hati, kenapa siswa tidak mau bertanya? Atau ada yang salah dengan cara pengajaran penulis?.

Dalam mengajarkan konsep organisasi ini mula-mula penulis menggunakan model yang konvensional yaitu dengan metode ceramah yang hanya berpusat pada guru, jadi guru hanya menjadi pusat pengetahuan bagi siswa, hal ini berdampak pada kurangnya keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu kebiasaan siswa yang bermain-main di dalam kelas dengan melempar-lempar kertas pada saat pembelajaran berlangsung menambah masalah lagi, sehingga membuat penulis berpikir untuk menemukan sebuah inovasi dalam pembelajaran, penulis mencari sebuah model yang cocok untuk diterapkan dalam situasi seperti ini, dimana siswa yang pasif dalam kegiatan pembelajaran diikuti dengan kebiasaan siswa yang suka bermain-main di dalam kelas, dan akhirnya penulis mencoba menggunakan model Snowball throwing, yang dimaksud dengan model pembelajaran Snowball throwing adalah engembangan model kooperatif yang menekankan pada kemampuan bertanya dan keaktifan murid yang dikemas dengan menggunakan permainan lempar bola salju (Ferayanti, 2010), oleh karena itu model pembelajaran ini dapat membangkitkan keaktifan siswa dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraaan

(20)

commit to user

serta mengarahkan kebiasaan siswa yang ramai dan suka bermain di dalam kelas dengan kegiatan yang lebih positif. Dengan mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK) akar masalah keengganan siswa dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraaan terutama dalam konsep organisasi dapat dikaji, diteliti, dievaluasi dan dicari pemecahan masalahnya.

Untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan konsep organisasi ini sebagian siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep terutama pengertian organisasi, sebagian besar siswa beranggapan bahwa organisasi adalah sekumpulan dari banyak orang, padahal makna sesungguhnya dari organisasi adalah perkumpulan dari dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara bersama (Najib sulhan, 2008), disini jelas bahwa suatu perkumpulan bisa dikatakan sebuah organisasi jika sudah terdapat dua orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan, oleh karena itu perlu adanya sebuah model pembelajaran yang membahas tentang sebuah konsep dan dipahami secara detail kemudian menggabungkannya menjadi pengertian yang utuh, oleh karena itu penulis memlilih menggunakan model kooperatif tipe Snowball throwing untuk lebih memudahkan siswa dalam memahami konsep organisasi karena dalam pembelajaran ini mengedepankan kerja sama kelompok dan didalam kelompok itu membahas tentang sebuah konsep sehingga siswa lebih terfokus dalam memahami konsep tersebut, pembelajaran kooperatif bersinergi dengan konsep organisasi karena pengertian organisasi merupakan perkumpulan dari dua atau lebih orang yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan, jadi lebih memudahkan guru untuk mengaitkan konsep dengan model pembelajaran yang digunakan, karena guru dapat mengambil sebuah contoh dari diskusi yang dilakukan siswa.

Menurut Ingridwati Kurnia, dkk arakteristik perkembangan masa anak akhir 6-12 tahun adalah anak senang bermain dalam kelompoknya dengan melakukan permainan yang konstruktif dan olahraga. Minat dan kegiatan bermain anak semakin meluas dengan kegiatan yang semakin bervariasi (2007: 1.20).

Dari pengertian di atas dijelaskan anak pada usia 6-12 tahun adalah anak senang bermain dalam kelompoknya dengan permaianan yang konstruktif dan olahraga.

(21)

commit to user

Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing terdapat sebuah permainan yang dapat memupuk jiwa sosial dengan temannya yaitu dengan bekerja sama membuat sebuah soal dikertas kemudian kertas itu di bentuk seperti bola kemudian di lempar kepada kelompok lain, hal ini berdampak positif bagi perkembangan anak, karena anak terlatih mandiri dalam membuat soal selain itu lebih mengarahkan kebiasaan buruk siswa yang suka melempar-lempar kertas kepada temannya pada saat pembelajaran berlangsung dengan kegiatan yang lebih positif.

Proses pembelajaran di SDN 01 Tohudan, guru masih banyak menggunakan metode yang di dominasi metode ceramah yang menjadikan guru sebagai pusat pengetahuan (teacher-centered), hal ini berdasarkan pengamatan yang dilaksanakan penulis dengan berbagai masukan dari guru kelas V SDN 01 Tohudan. Keadaan ini menyebabkan siswa menjadi kurang aktif selama kegiatan belajar berlangsung. Siswa pada umumnya hanya mendengarkan, membaca dan menghafal informasi yang diperoleh, sehingga konsep yang tertanam tidak kuat.

Berkaitan dengan hal tersebut maka diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu memfasilitasi siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar. Yaitu model yang memuat kecakapan hidup dan kreatifitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Bila dilihat dari hasil belajar PKN Siswa Kelas V SDN 01 Tohudan yang ditunjukkan kriterianya masih kurang, karena rata-rata nilai siswa hanya sekitar 57,71 dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70, disebabkan karena kreatifitas belajar siswa masih sangat kurang sehingga hasil belajarnya juga rendah. Selain itu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya dalam penggunaan model pembelajaran yang menggunakan metode ceramah dapat menjadikan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran, karena siswa hanya mendengar cerita dari guru saja, sehingga tidak ada interaksi dua arah antara guru dan siswa.

Untuk mengatasi semua permasalahan di atas dapat dilakukan dengan model pembelajaran yang variatif. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing yang telah sedikit dibahas di atas. Prinsip dari model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing ini membagi siswa

(22)

commit to user

menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok mempunyai satu orang ketua yang akan menjelaskan konsep yang diberikan guru kepada anggota kelompoknya. Lalu tiap siswa menulis satu pertanyaan dan dilempar seperti bola salju kepada siswa yang lain. Selain itu pembagian kelompok ini bertujuan agar siswa dapat berkolaborasi dengan teman, lingkungan dan guru sehingga diharapkan setiap siswa akan siap dalam kegiatan pembelajaran dan merangsang siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan di atas maka dilakukan penelitian dengan judul PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING (MELEMPAR BOLA SALJU) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP ORGANISASI DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS V SDN 01 TOHUDAN COLOMADU KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Mengapa siswa kurang antusias dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan?

2. Mengapa guru masih menggunakan pembelajaran yang konvensional, hanya berceramah dan pemberian tugas?

3. Mengapa interaksi antara guru dan siswa kurang ?

4. Mengapa siswa belum memahami konsep organisasi dengan baik dan benar ?

C. Pembatasan Masalah

1. Pemahaman siswa dalam konsep organisasi dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegraaan siswa kelas V SDN 01 Tohudan Colomadu Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012.

2. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran Snowball throwing (melempar bola salju) dimana siswa berkelompok dan membuat

(23)

commit to user

pertanyaan di kertas kemudian kertas di bentuk bulat dan dilempar kepada siswa lainnya kemudian menjawabnya.

D. Perumusan Masalah

Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing (melempar bola salju) dapat meningkatkan pemahaman konsep organisasi pada siswa kelas V SD Negeri 01 Tohudan Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012?

E. Tujuan Penelitian

Untuk meningkatkan pemahaman konsep organisasi dengan menggunakan model kooperatif tipe Snowball throwing (melempar bola salju) pada siswa kelas V SD Negeri 01 Tohudan Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mempunyai manfaat teoritis dan praktis yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat hasil penelitian secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan untuk memperbaiki dan mengembangkan kualitas pendidikan atau pembelajaran, khususnya yang bersangkutan dengan Penerapan Model Kooperatif Tipe Snowball throwing (Melempar Bola Salju) Untuk Meningkatkan Pemahaman Organisasi Dalam Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V SD Negeri 01 Tohudan Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012.

2. Manfaat Praktis a. Bagi siswa :

1) Meningkatkan pemahaman pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan khususnya dalam konsep organisasi.

(24)

commit to user

2) Mengaktifkan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan konsep organisasi dengan menggunakan model kooperatif tipe Snowball throwing (melempar bola salju).

b. Bagi guru (peneliti):

1) Memberikan pengalaman langsung pada guru khususnya peneliti yang terlibat dalam memperoleh pengalaman baru untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing (melempar bola salju).

2) Kualitas isi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dapat meningkat dengan penerapan model kooperatif tipe Snowball throwing (melempar bola salju).

3) Guru mendapat wawasan baru mengajarkan konsep organisasi dengan menggunakan model kooperatif tipe Snowball throwing (melempar bola salju).

c. Bagi sekolah:

1) Memperoleh wawasan dan pengaruh kepada guru lainnya untuk berupaya menciptakan pembelajaran yang berkualitas.

2) Memperoleh masukan dalam usaha proses perbaikan pembelajaran sehingga mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan dapat meningkat.

(25)

commit to user

7

BAB II

LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka

1. Kajian Tentang Pemahaman Konsep Organisasi a. Pemahaman

Dalam mempelajari suatu hal, kita harus memiliki pemahaman, karena dengan pemahaman yang baik, kita akan mudah menangkap pengetahuan tersebut, dalam mempelajari konsep organisasi dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan juga diperlukan sebuah pemahaman, seperti pendapat Suhaenah Suparno, pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menangkap arti dari apa yang tersaji, kemampuan untuk menterjemahkan dari satu bentuk ke bentuk yang lain dalam kata-kata, angka, maupun interpretasi berbentuk penjelasan, ringkasan, prediksi dan hubungan sebab akibat. Pendapat ini lebih menekankan bahwa pemahaman merupakan suatu kemampuan yang kompleks. Pemahaman tidak hanya menangkap arti saja namun makna dari sesuatu yang dipahami tersebut juga harus bisa ditangkap (2001). Sedangkan menurut W.S Winkel Pemahaman mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari (2004: 274).

Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan; mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti rumus matematika ke dalam bentuk kata-kata; membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak dalam data tertentu, seperti grafik..

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman merupakan kemampuan seseorang untuk dapat memaknai suatu hal yang dipelajari. Pemahaman seseorang dapat diwujudkan dalam bentuk kata kerja operasional sebagai berikut: menjelaskan, menguraikan, merumuskan, merangkum, mengubah, memberikan contoh tentang, menyimpulkan, menerangkan, mendemonstrasikan, dan membuktikan.

(26)

commit to user

b. Konsep

Dalam memahami sesuatu kita memerlukan sebuah konsep, W.S.

Winkel berpendapat, lah objek

yang mempunyai ciri- (2004: 113). Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada aneka objek dalam lingkungan fisik. Konsep itu mewakili golongan benda tertentu, seperti meja, kursi, pohon, dan lain sebagianya; golongan sifat tertentu, seperti warna dan bentuk, dan lain sebagainya; relasi tempat diantara benda-benda, seperti atas, dibawah, di samping, dan lain sebagainya; golongan perbuatan tertentu seperti duduk, mengangkat, menurunkan. Orang yang memiliki konsep, mampu untuk menunjukkan benda atau perbuatan tertentu yang diwakili dalam konsep itu, dengan menunjuk pada realitas dalam lingkungan fisik, karena realitas itu tidak berbadan. Realitas yang tidak berbadan atau tidak bermateri, tidak dapat diamati secara langsung. Misalnya, anak A adalah saudara sepupu anak B. Ini merupakan suatu kenyataan, tetapi kenyataan itu tidak dapat diketahui dengan mengamati anak A dan anak B saja. Kenyataan itu diberitahukan melalui penggunaan bahasa dan, sekaligus, dijelaskan apa yang dimaksudkan dengan

ada kemungkinan untuk menunjukkan dua orang bersaudara sepupu hanya dengan mengamati dua orang itu. Konsep yang demikian, biasanya telah

miliki jari-jari sama panja .

, mengungkapkan bahwa

adalah bahan bidang studi yang isinya berupa gagasan, ide, pendapat, teori/dalil, konsep itu bersifat abstrak, namun akan menjadi nyata jika (2010). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konsep merupakan suatu gagasan yang

(27)

commit to user

mengandung sebuah pengertian. Orang yang memiliki konsep, mampu mengadakan abstraksi terhadap segala objek yang dihadapi, sehingga objek ditempatkan dalam golongan tertentu (klasifikasi). Konsep itu bersifat abstrak, namun akan menjadi nyata jika diwujudkan dalam bentuk benda/perbuatan.

c. Pemahaman Konsep

Setiap mata pelajaran perlu dipahami secara mendalam oleh setiap siswa termasuk dalam mempelajari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan terutama konsep organisasi. Pemahaman tersebut mencakup pemahaman konsep dari setiap materi pelajaran yang diberikan agar siswa dapat menerima materi dengan baik, Trianto berpendapat, emahaman konsep adalah pemahaman siswa terhadap dasar kualitatif dimana fakta-fakta saling berkaitan dengan kemampuannya untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi baru (2009: 7). Setelah siswa memperoleh apa yang mereka ketahui kemudian mereka mampu memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam situasi baru dan ini membuat siswa paham benar tentang pengetahuan yang diperolehnya.

Flavell dalam Syaiful Sagala (2003: 72) mengemukakan bahwa pemahaman terhadap konsep-konsep dapat dibedakan dalam tujuh dimensi yaitu:

1) Atribut, atribut setiap konsep berbeda-beda yang mempunyai atribut relevan dan tidak relevan.

2) Struktur, menyangkut cara terkaitnya atau melekatnya konsep-konsep tersebut.

3) Keabstrakan, konsep-konsep yang tidak dapat dilihat secara konkret atau konsep-konsep itu terdiri dari konsep-konsep lain.

4) Keinklusifan, ditunjukkan pada jumlah contoh-contoh yang terlibat dalam konsep tersebut.

5) Generalisasi, bila diklasifikasikan konsep-konsep tersebut dapat berbeda dalam posisi superordinat maupun subordinat.

6) Ketepatan, menyangkut apakah ada sekumpulan aturan-aturan membedakan contoh-contoh dari noncontoh-noncontoh suatu konsep.

(28)

commit to user

7) Kekuatan, kekuatan suatu konsep oleh sejauh mana konsep tersebut penting.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep adalah mengerti dan mengusai konsep untuk dipaparkan kembali dengan jelas dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi baru, dalam hal ini konsep tentang organisasi, dimana nanti siswa dapat memahami konsep organisasi dan dapat memaparkan dengan jelas konsep tersebut, sehingga didapat pengetahuan yang baru.

d. Pengertian Organisasi

Ikhwan Sapto Darmono berpendapat, merupakan suatu perkumpulan yang anggotanya terdiri atas beberapa orang untuk melakukan (2008: 71). Pernyataan ini didukung oleh pendapat Najib Sulhan dkk, bahwa,

perkumpulan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai (2008: 73). Senada dengan kedua pendapat di atas Setiati Widihastuti juga berpendapat tentang pengertian organisasi, iatur untuk bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan bersama (2008: 57). Organisasi memiliki beberapa unsur, antara lain; 1) Adanya tujuan, yaitu sesuatu yang ingin diwujudkan serta dicapai sehingga memunculkan adanya tugas, wewenang, dan tanggung jawab; 2) Adanya pembagian tugas sekelompok orang; 3) Adanya kerja sama diantara orang-orang yang bekerja.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian organisasi adalah suatu perkumpulan yang anggotanya terdiri atas beberapa orang untuk melakukan kerja sama dalam upaya mencapai tujuan bersama. Sebuah organisasi memiliki pengurus, anggota, dan tujuan. Tujuan dibentuknya organisasi adalah agar kegiatan organisasi berjalan dengan lancar, dan para anggota dapat menjalin kerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

1) Manfaat Organisasi

Organisasi merupakan kegiatan yang tidak wajib kita ikuti. Meskipun demikian, tidak ada salahnya kita aktif dalam kegiatan organisasi.

Mengapa? Mengikuti organisasi sangat banyak manfaatnya. Mengikuti

(29)

commit to user

organisasi di sekolah dapat menambah wawasan dan pengalaman. Selain menambah wawasan dan pengalaman, organisasi juga membantu kita mengetahui dan mengembangkan bakat: misalnya, lewat kegiatan organisasi kita bisa menemukan kelebihan dan bakat yang selama ini terpendam. Satu hal yang pasti, aktif dalam organisasi berarti menambah teman yang bukan hanya teman sekelas atau teman di lingkungan rumah. Melalui organisasi, kamu akan mendapat lingkungan pergaulan yang berbeda. Peserta organisasi sangat beragam. Di sana kita bisa berkenalan dengan adik kelas, kakak kelas, dan teman seangkatan lain dari kelas yang berbeda. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwasanya aktif dalam organisasi mampu mendatangkan banyak manfaat, seperti:

a) Menambah wawasan dan pengalaman.

b) Mengetahui dan mengaembangkan bakat.

c) Menambah teman.

d) Mudah bergaul.

e) Melatih diri mandiri.

f) Membagi dan mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.

g) Menimbulkan kepercayaan diri dan tidak mudah mengeluh.

2) Unsur-unsur Organisasi

Banyak hal yang harus ada di dalam organisasi. Semua itu harus dipenuhi agar tujuan bisa tercapai. Unsur-unsur itu adalah sebagai berikut:

a) Anggota (Manusia).

b) Tempat.

c) Tujuan.

d) Tugas.

e) Struktur.

3) Tugas-tugas Pengurus Organisasi

Dalam suatu organisasi terdiri dari beberapa pengurus, dan masing- masing pengurus mempunyai tugas yang berbeda-beda. Pengurus dalam sebuah organisasi terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan lain-lain.

Adapun tugas-tugas dari pengurus suatu organisasi antara lain:

(30)

commit to user

a) Ketua mempunyai tugas:

(1) Mengurus organisasi.

(2) Bertanggung jawab ke luar dan ke dalam organisasi.

(3) Memimpin rapat.

(4) Mengadakan hubungan dengan pihak luar.

(5) Membuat rencana kerja.

b) Wakil ketua mempunyai tugas:

(1) Membantu ketua dalam mengurus organisasi.

(2) Bertanggung jawab dan menggantikan tugas ketua, apabila ketua tidak ada.

c) Sekretaris, mempunyai tugas:

(1) Membantu ketua dalam mengurus organisasi.

(2) Membuat agenda kegiatan organisasi.

(3) Membuat surat-surat yang diperlukan/proposal kegiatan.

(4) Membuat arsip.

(5) Membuat rencana kerja organisasi bersama ketua.

d) Bendahara, mempunyai tugas:

(1) Membantu ketua dalam mengurus organisasi.

(2) Mengurus masalah keuangan organisasi.

(3) Membuat laporan keuangan.

(4) Membantu ketua membuat rencana kerja organisasi.

4) Organisasi di lingkungan rumah dan masyarakat

Ada beberapa jenis organisasi yang ada di lingkungan sekolah.

Organisasi-organisasi tersebut diikuti dan dilakukan oleh guru, siswa, dan warga sekolah lainnya. Sekolah merupakan organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Organisasi sekolah bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara memberikan pendidikan bagi para siswa. Organisasi sekolah dapat berjalan lancar dan tercapai tujuannya jika setiap pengurus bertanggung jawab pada tugasnya masing- masing, selain itu juga harus melaksanakan aturan-aturan yang ada.

Kepengurusan organisasi sekolah terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala

(31)

commit to user

sekolah, tata usaha, komite sekolah, guru, penjaga sekolah, dan siswa.

Masing-masing pengurus mempunyai tugas dan kewajiban. Kepengurusan tersebut dijabarkan dalam struktur organisasi sekolah. Struktur organisasi sekolah berbeda-beda, tergantung dari sarana dan prasarana yang ada di masing-masing sekolah. Di lingkungan sekolah ada beberapa jenis organisasi. Mari kita bahas jenis-jenis dari organisasi tersebut.

a) Organisasi Di Lingkungan Sekolah (1) Koperasi Sekolah

Koperasi sekolah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Koperasi sekolah anggotanya terdiri dari semua siswa, guru, dan karyawan sekolah. Koperasi sekolah didirikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggota sekolah. Apa saja barang- barang yang ada di koperasi sekolahmu? Biasanya koperasi sekolah menyediakan alat-alat tulis (buku, bolpen, pensil, penggaris), seragam sekolah, dan lain-lain. Koperasi sekolah biasanya dikelola oleh guru, dan murid. Anggota koperasi sekolah terdiri dari semua siswa sekolah, guru, dan karyawan sekolah tersebut. Tujuan koperasi sekolah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya, yaitu seluruh warga sekolah.

(2) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Adakah UKS di sekolahmu? Usaha kesehatan sekolah didirikan untuk menangani masalah kesehatan. Kegiatan UKS misalnya memberikan PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Jadi, di UKS disediakan beberapa jenis obat. UKS juga dapat digunakan oleh warga sekolah untuk beristirahat sementara ketika sakit.

(3) Gugus Depan Pramuka

Gugus depan pramuka biasanya merupakan kegiatan ekstrakurikuler. Pernahkan kalian berkemah? Tentunya kalian mengenal gugus depan bukan? Gugus depan biasanya didirikan berdasarkan Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka. Gugus depan dalam kelompok terdiri dari kelompok putra dan putri. Pembina

(32)

commit to user

gugus depan terdiri dari Pembina siaga putra (Yanda), Pembina siaga putri (Bunda), Pembina penggalang putra dan putri (kakak).

(4) Komite Sekolah

Adakah komite sekolah di sekolahmu? Komite sekolah merupakan organisasi yang didirikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Biasanya pengurus komite sekolah terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh agama, dan tokoh-tokoh lainnya yang peduli pada pendidikan.

(5) Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)

OSIS kependekan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah yaitu suatu organisasi di tingkat sekolah di Indonesia, yang dimulai dari sekolah menengah. OSIS diurus dan dikelola oleh murid-murid yang terpilih untuk menjadi pengurus OSIS. Biasanya organisasi ini memiliki seorang pembimbing yaitu guru yang dipilih oleh pihak sekolah. Kita sebagai pelajar secara tidak langsung menjadi anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). OSIS adalah organisasi sah yang merupakan bagian dalam sekolah, serta menampung kegiatan- kegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler yang menunjang kurikulum sekolah. Hal ini berarti siswa sebagai kader penerus cita- cita perjuangan bangsa dan sumber inspirasi dalam organisasi OSIS.

Setiap anggota organisasi tentu mempunyai hak dan kewajiban yang harus dipatuhi, begitu juga OSIS.

b) Organisasi Di Lingkungan Masyarakat (1) RT (Rukun Tetangga)

Tentunya di lingkunganmu terdapat rukun tetangga bukan?

Siapakah ketua RT di lingkunganmu? Rukun tetangga dibentuk oleh masyarakat untuk memberikan pelayanan pada masyarakat di sekitarnya, misalnya pelayanan pembuatan KTP dan urusan administrasi lainnya. Warga baru yang ada di suatu RT wajib melaporkan diri ke ketua RT agar tercatat sebagai warga baru di RT tersebut. Bahkan orang lain atau tamu yang menginap di sebuah

(33)

commit to user

keluarga pun juga harus lapor pada ketua RT, untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

(2) RW (Rukun Warga)

Rukun warga (RW) merupakan gabungan dari beberapa rukun tetangga (RT). Rukun warga ini dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sekitar RW tersebut. Rukun warga biasanya dipimpin oleh ketua RW yang dipilih oleh ketua ketua RT atau perwakilan dari warga RT yang tergabung dalam wilayah RW tersebut.

(3) Karang Taruna

Karang taruna merupakan organisasi para pemuda atau remaja di suatu desa atau kelurahan. Fungsi dari organisasi ini adalah sebagai wadah pembinaan para pemuda desa atau kelurahan.

Biasanya kegiatan karang taruna meliputi kegiatan-kegiatan positif, misalnya olahraga, kerja bakti, bakti sosial, kesenian, membantu acara warga yang mempunyai hajat, keagamaan, dan lain-lain.

(4) Desa Atau Kelurahan

Desa atau kelurahan merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah tertentu. Desa mempunyai wewenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Pengertian tentang desa atau kelurahan diatur oleh Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

Suatu desa dipimpin oleh seorang kepala desa yang dipilih langsung oleh masyarakat suatu desa tersebut. Kepala desa dibantu oleh perangkat desa, seperti sekretaris dan perangkat lainnya. Sedangkan kelurahan dipimpin oleh seorang lurah yang diangkat oleh bupati atau wali kota atas usul camat.

(5) Badan Permusyawaratan Desa (BPD)

Badan Permusyawaratan Desa adalah sebuah lembaga yang dibentuk untuk membantu pengaturan dan penyelenggaraan pemerintah desa. Tugas dari Badan Permusyawaratan Desa ini

(34)

commit to user

biasanya membuat dan melaksanakan peraturan desa, menyusun anggaran pendapatan dan belanja desa serta menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Badan Permusyawaratan Desa adalah organisasi yang bertugas menetapkan peraturan desa bersama kepala desa. Selain sebagai pembuat peraturan desa, BPD juga bertugas untuk menampung dan menyalurkan aspirasi warga desa.

(6) Posyandu

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan organisasi yang didirikan untuk memberikan pelayanan terpadu kepada balita dan ibu-ibu yang sedang melaksanakan program Keluarga Berencana.

Kegiatan ini meliputi pemeriksaan kesehatan bayi, penimbangan bayi, pemberian makanan tambahan bagi bayi, imunisasi bayi, konsultasi kesehatan, dan lain-lain.

2. Kajian Tentang Model model Kooperatif Dalam Pembelajaran PKn

Ada banyak macam tipe dari model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diantaranya adalah:

a. STAD (Student Teams Achievment Divisions)

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawan dari universitas John Hopkins. Metode ini dipandang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan metode STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal maupun tertulis.

Langkah-langkahnya adalah:

1) Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap tim memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (tinggi, sedang, rendah).

2) Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim.

(35)

commit to user

3) Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu guru mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.

4) Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan. Kadang-kadang beberapa atau semua tim memperoleh penghargaan jika mampu meraih suatu kriteria atau standar tertentu.

b. Jigsaw

Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawan dari universitas Texas; kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawan.

Menurut Simpulan Arends (1997) Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas pengusaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya Martinis Yamin (2011: 178).

Langkah-langkahnya adalah:

1) Kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri 4 atau 5 siswa dengan karakteristik yang heterogen.

2) Bahan akademik yang disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut.

3) Para anggota dari beberapa tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut.

(expert group).

4) Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar.

5) Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam (home teams), para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari. Dalam

(36)

commit to user

metode Jigsaw versi Slavin, pemberian skor dilakukan seperti dalam metode STAD. Individu atau tim yang memperoleh skor tinggi diberi penghargaan oleh guru.

c. GI (Group Investigation)

Dasar dasar metode GI dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Sharn dan kawan kawan dari universitas Tel Aviv. Metode GI sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalm pembelajaran kooperatif. Dibandingkan dengan metode STAD dan jigsaw, metode GI melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajaraninya melalui investigasi. Metode ini menuntut siswa untuk mempunyai kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun keterampilan proses memiliki kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode GI umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 hingga 5 siswa dengan karakteristik yang heterogen.

Langkah-langkahnya adalah:

1) Seleksi topik; para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented group) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok bersifat heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik, maupun kemampuan akademik.

2) Merencanakan kerja sama; para siswa dan guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih seperti langkah di atas.

3) Implementasi; para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam

(37)

commit to user

maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.

4) Analisis dan Sintesis; para siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang diperoleh pada langkah sebelumnya dan merencanakan peringkasan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.

5) Penyajian hasil akhir; semua kelompok menyajikan presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa terlibat dan mencapai prespektif yang luas mengenai topik tersebut. Presntasi kelompok dikoordinasikan guru.

6) Evaluasi selanjutnya; guru beserta para siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individual atau kelompok atau keduanya.

Dan masih banyak lagi model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dalam penelitian ini menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing dikarenakan pembelajaran menggunakan model ini dirasa lebih cocok diterapkan dalam kondisi siswa yang kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan, selain itu model pembelajaran ini begitu menarik sehingga siswa akan tertarik mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.

3. Kajian Tentang Model Kooperatif Tipe Snowball throwing a. Model Pembelajaran

Model pembelajaran mempunyai peranan yang penting dalam pengajaran di dalam kelas, menurut Winata Putra odel pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran Sugiyanto (2009).

(38)

commit to user

Sedangkan Joyce dan Weil (1980)

pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang Rusman (2010: 133). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dasar pertimbangan memilih model menurut Rusman (2010: 133) bagi guru, yaitu:

1) Pertimbangan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan adalah:

a) Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan kompetensi akademik, kepribadian, sosial dan kompetensi ranah kognitif, afektif dan psikomotor?

b) Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai?

c) Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademik?

2) Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran:

a) Apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?

b) Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat atau tidak?

c) Apakah tersedia bahan atau sumber-sumber yang relevan untuk mempelajari materi itu?

3) Pertimbangan lainnya yang bersifat nonteknis:

a) Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu model saja?

b) Apakah model pembelajaran yang kita tetapkan dianggap satu-satunya model yang dapat digunakan?

c) Apakah model pembelajaran itu memiliki nilai efektivitas atau efisiensi?

(39)

commit to user

b. Model Pembelajaran Kooperatif

merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pe (2008: 4). Sedangkan Rusman

(cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empa

(2010 : 202).

Cooperative learning is a succesful teaching strategy in which small teams, each with students of different levels of ability, use a variety of learning activities to improve their understanding of a subject.

(http://edtech.kennesaw.edu/intech/cooperativelearning.html,diakses 19 Januari 2012). Diartikan bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi mengajar yang sukses dengan menggunakan tim kecil, dengan beberapa siswa yang memiliki kemampuan beragam, menggunakan berbagai macam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman terhadap suatu materi. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Smith, dan Johnson & Johnson

Cooperative learning is the instructional use of small groups so that students work together to maximize their own and each others learning.

Carefully structured cooperative learning involves people working in teams to accomplish a common goal, under conditions that involve both positive interdependence (all members must cooperate to complete the task) and individual and group accountability (each member individually as well as all members collectively accountable for the work of the group).

(http://www.ce.umn.edu/, diakses 20 Januari 2012).

Yang artinya pembelajaran kooperatif adalah penggunaan intruksional dari kelompok-kelompok kecil sehingga siswa bekerja sama untuk memaksimalkan kemampuan mereka sendiri dan saling belajar. Pembelajaran kooperatif melibatkan orang bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan bersama, dalam kondisi yang melibatkan saling ketergantungan positif (semua anggota harus bekerja sama untuk menyelesaikan tugas) dan tanggung jawab

(40)

commit to user

individu dan kelompok (masing-masing anggota secara individu maupun kolektif semua anggota bertanggung jawab untuk bekerja kelompok).

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memerlukan ketergantungan antar individu, seperti halnya pendapat Martinis Yamin tentang pembelajaran kooperatif, ia berpendapat bahwa ubungan dalam kelompok peserta didik yang memerlukan saling ketergantungan positif (rasa tenggelam atau berenang bersama-sama), akuntabilitas individu (masing-masing dari kita harus berkontribusi dan belajar), keterampilan interpersonal (komunikasi, kepercayaan, kepemimpinan, pemgambilan keputusan, dan resolusi konflik), tatap muka interaksi promotif, dan pengolahan (2011).

Pembelajaran kooperatif merupakan pengajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil sehingga para siswa bekerja sama untuk memaksimalkan kemampuan mereka dan pembelajaran lainnya. Perhatian struktur pembelajaran kooperatif melibatkan orang-orang yang bekerja dalam tim untuk meraih tujuan bersama, dalam kondisi yang melibatkan saling ketergantungan positif (semua anggota harus bekerja sama menyelesaikan tugas) dan tanggung jawab individu dan kelompok (tiap anggota secara individu sama baiknya dengan semua anggota secara kolektif bertanggung jawab pada pekerjaaan kelompok).

Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar. Belajar belum selesai jika salah satu anggota kelompok ada yang belum menguasai materi pembelajaran.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok yang terdiri dari beberapa siswa yang memiliki kemampuan berbeda (kelompok heterogen) guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

(41)

commit to user

c. Ciri ciri Pembelajaran Kooperatif

Menurut Anita Lie (2010: 41) terdapat beberapa ciri yang menonjol dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu:

1) Pengelompokan heterogenitas (kemacamragaman). Kelompok heterogenitas bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang agama sosio-ekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis.

2) Jumlah anggota dalam satu kelompok bervariasi mulai dari 2 sampai dengan 5 anak, menurut jumlah siswa dan kepentingan tugas.

3) Adanya kerja sama antar individu dalam kelompok.

4) Dalam penilaian, siswa mendapat nilai pribadi dan nilai kelompok. Nilai

Sedangkan menurut Rusman (2010: 207) karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pembatasan secara tim, pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2) Didasarkan pada manajemen kooperatif:

a) Fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan.

b) Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif.

c) Fungsi manajemen sebagai kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik dalam bentuk tes maupun nontes.

3) Kemauan untuk bekerja sama, Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran

(42)

commit to user

kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.

4) Keterampilan bekerja sama, kemampuan bekerja sama itu dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara kelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Sedangkam menurut Sugiyanto (2009: 40), ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:

1) Saling ketergantungan positif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif.

2) Interaksi tatap muka, interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling tatap muka dalam kelompok sehingga mereka dapat berdialog.

3) Akuntabilitas individual, pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual.

4) Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi, keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat.

Berdasarkan pendapat di atas, ciri-ciri pembelajaran kooperatif yaitu, adanya perubahan hubungan antara guru dan siswa, adanya pendekatan baru dalam hal pengajaran oleh guru, dan komposisi pembelajaran kooperatif.

d. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Model pemebelajaran kooperatif mempunyai tujuan, tujuan ini yang dijadikan acuan dalam pelaksanaannya, seperti halnya yang diungkapkan Rachmadiarti, ia berpen Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial . Beberapa ahli berpendapat bahwa

(43)

commit to user

model ini sangat unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, dan sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan kemampuan bekerja sama dan kolaborasi.

Keuntungan dari pembelajaran kooperatif adalah dapat menambah kepercayaan diri siswa, mempererat hubungan interpersonal, dan sikap baik terhadap sekolah dan teman sebaya, seperti yang diungkapkan Judith R.

Lampe, Gene E. Rooze dan Mary Tallent-Runnels (1996: 187) dalam jurnalnya yang berjudul Effects Of Cooperative Learning Among Hispanic Students In Elementary Social Studies mereka berpendapat bahwa

has been found to promote self-esteem, interpersonal relations, and improved .

Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif disusun bertujuan untuk; 1) Meningkatkan partisipasi siswa; 2) Memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok; serta 3) Memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakang (Trianto, 2007: 42).

e. Unsur unsur Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Roger dan David Johnson dalam Anita Lie, (2010: 31) terdapat lima unsur dalam pembelajaran kooperatif, yaitu :

1) Saling ketergantungan positif. Keberhasilan kelompok bergantung pada usaha setiap anggotanya. Masing-masing anggota bekerja sama dan sa- ling membantu satu sama lain.

2) Tanggung jawab perseorangan. Setiap anggota dalam kelompok selain bertanggung jawab pada kelompok, juga memiliki tanggung jawabnya sendiri.

3) Tatap muka. Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota.

(44)

commit to user

4) Komunikasi antar anggota. Keberhasilan suatu kelompok bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.

5) Evaluasi proses kelompok. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran model cooperative learning.

Pendapat lain juga menjelaskan tentang unsur-unsur pembelajaran kooperatif, seperti pendapat Bennet dalam Isjoni (2010: 60), Bennet menyatakan ada lima unsur dasar pembelajaran kooperatif yaitu :

1) Positive Interdependence, Hubungan timbal balik yang didasari adanya kepentingan yang sama dan perasaan yang sama diantara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan kelompok.

2) Interaction Face to Face, Interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa terjadi perantara.

3) Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok.

4) Membutuhkan keluwesan.

5) Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas unsur-unsur pembelajaran kooperatif adalah adanya saling ketergantungan positif, adanya interaksi antar siswa yang berdiskusi, dan adanya tanggung jawab baik terhadap diri sendiri dan kelompoknya sehingga akan meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah.

f. Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball throwing

Dalam pembelajaran di kelas guru harus menerapkan model pembelajaran yang tepat untuk anak didiknya, karena model pembelajaran memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan pembelajaran, dalam penelitian ini menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing (melempar bola salju). Permainan melempar bola salju (Snowball throwing) ini

(45)

commit to user

adalah salah satu strategi dalam pembelajaran yang sangat menarik untuk diberikan kepada siswa, karena sangat menyenangkan dan menantang. Selain menghibur, permainan ini juga mewajibkan pesertanya untuk menjawab pertanyaan, Sholeh hamid (2011), pendapat ini juga didukung oleh Martinis Yamin, ia berpendapat bahwa Snowball throwing merupakan strategi pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan. Melalui strategi ini guru dapat mengetahui pola pikir siswa dan akan memberikan pengaruh positif bagi siswa dalam mengikuti proses

(2011: 89).

Pembelajaran Snowball throwing dimulai dengan pembentukan kelompok dan berdiskusi sehingga menghasilkan pertanyaan dan jawaban yang bertingkat, seperti halnya pendapat Menurut Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, dan Sekar Ayu Aryani (2008), mereka berpendapat bahwa embelajaran Snowball throwing dapat digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi siswa secara bertingkat. Dimulai dari kelompok kecil kemudian dilanjutkan dengan kelompok yang lebih besar pada akhirnya akan memunculkan dua atau tiga jawaban yang telah disepakati oleh siswa secara berkelompok .

Ferayanti (2010) dalam penelitiannya menjelaskan pengertian

pembela Salah satu modifikasi dari teknik

bertanya yang menitik beratkan pada kemampuan merumuskan pertanyaan yang dikemas dalam sebuah permainan yang menarik yaitu saling melemparkan bola salju (Snowball throwing) yang berisi pertanyaan kepada sesama teman . Metode yang dikemas dalam sebuah permainan ini membutuhkan kemampuan yang sangat sederhana yang bisa dilakukan oleh hampir setiap siswa dalam mengemukakan pertanyaan sesuai dengan materi yang dipelajarinya.

Pada beberapa sumber, pelaksanaan pembelajaran Snowball throwing memiliki langkah-langkah pembelajaran yang berbed-beda. Menurut Erman Suherman (2009), sintak pembelajaran Snowball throwing adalah Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi

Gambar

Tabel :             Halaman
Gambar     Halaman
Tabel 1. Jadwal Penelitian
Gambar 2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas  Adapun rancangan penelitiannya sebagai berikut:
+7

Referensi

Dokumen terkait

APLIKASI MULTIMEDIA METODE PECS ( PICTURE EXCHANGE COMMUNICATION SYSTEM ) UNTUK MENGEMBANGKAN KECAKAPAN KOMUNIKASI ANAK.. ASD ( AUTISME SPECTRUM

dapat berkomunikasi dengan baik, ramah dan sopan, adalah kemampuan soft skills. yang harus diberikan kepada pemustaka agar tercipta kepuasan yang

Sebagai contoh, jika suatu perusahaan pelayaran memiliki 3.000 TEUs untuk salah satu rutenya, maka dapat dilihat yang paling efisien pada rute tersebut dengan jumlah

Hasil dari penelitian didapat bahwa tataletak dengan menggunakan Travel Chart dipilih sebagai tataletak usulan karena memiliki efisiensi material handling sebesar 15,36% dan

Human error atau kesalahan manusia kerap sering terjadi pada penyusunan data-data, pencatatan transaksi, pembuatan laporan dan pekerjaan yang masih mengandalkan teknologi manual.

Tahun Pelajaran ……… Bulan Januari s.d Maret 2016 Melaksanakan tugas mengajar dengan beban kerja sebanyak ……… Jam Tatap Muka (JTM) yang terdiri

hunian pada apartemen di Surabaya dengan menggunakan metode

pada bahasa Mandailing dan Toba yang digunakan peneliti dalam Perubahan Bunyi Vokal. Proto Austronesia dalam bahasa Mandailing dan Toba yang meliputi adanya