BAB IV PAPARAN DATA PENELITAN
4.7 Tipologi Gramatikal BBT
Berdasarkan konsep kerja teoretis yang telah diajukan sebelumnya, sifat-perilaku subjek (S) sebagai patokan penentuan tipologi bahasa dapat diperhatikan dengan pengetesan sintaksis, yaitu apakah A atau P yang diperlakukan sama atau tidak sama dengan S, akhirnya dapat diklasifikasikan bahasa tersebut ke dalam tipe bahasa tertentu, apakah BBT termasuk tipe bahasa Akusatif, Ergatif, atau S-Terpilah (bahasa aktif).
(89) Mangan amanguda (DLP) Makan paman
‘Paman makan’
(90) Manuhor jabu amanguda. (DLP) AKT-beli rumah paman
‘Paman membeli rumah.’
(91) Martangiang nasida (DLP) AKT-doa mereka
‘Mereka berdoa’
(92) Manduda eme nasida. (DLP) AKT-giling padi mereka ‘Mereka menggiling padi.’
Konstruksi pada klausa (89) dan (90) memiliki verba intransitif, dan dapat diidentifikasi bahwa amanguda dan nasida merupakan subjek gramatikal yang hanya memiliki satu argumen. Sementara itu, klausa (91) dan (92) memiliki verba transitif. Subjek gramatikal amanguda dan nasida juga diperlakukan sama dengan agen (aktor). Jadi berdasarkan paparan konstruksi di atas, diperkirakan bahwa BBT memperlakukan A pada klausa intransitif sama dengan S klausa transitif.
(93) Marsurak namboruna (DLP) AKT-teriak bibinya
‘Bibinya berteriak’
(94) Mangajar parende namboruna (DLP) AKT-ajar lagu bibinya
‘Bibinya mengajar koor (lagu)’
(95) Mangalului namboruna ibana (DLP) AKT-cari bibinya dia
‘Dia mencari bibinya’
Dalam konstruksi (93) diidentifikasi satu argumen subjek namboruna yang berperan sebagai agen. Pada konstruksi (94), argumen subjek pada klausa transitif namboruna berperan sebagai agen. Dalam hal ini subjek diperlakukan sama dengan klausa di atasnya (93) yakni sebagai agen. Klausa (95) namboruna tidak berperan sebagai agen, tetapi sebagai pasien dan digantikan ibana sebagai agen.
Paparan data BBT di atas belum cukup untuk menunjukkan bahwa BBT diidentifikasi mempunyai tipologi gramatikal akusatif. Hal ini akan dikaji lebih dalam pada bab selanjutnya.
BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
5.1 Struktur Dasar Klausa/Kalimat BBT 5.1.1 Struktur Dasar Klausa BBT
BBT mempunyai klausa dasar berpredikat verba dan juga bukan verba.
Klausa bukan verba yang dapat menduduki predikat dalam BBT adalah nomina, seperti pada contoh berikut ini:
(96) Pandita do tungganena (DLP) Pendeta T ipar laki-lakinya ‘Iparnya pendeta’
(97) Namboruhu do parumaennai (DLA) Bibiku T menantunya itu ‘Menantunya itu (adalah) bibiku’
Klausa berpredikat numeralia, seperti pada contoh berikut ini:
(98) Lima boru ni bapa (DLP) Lima putri M bapak ‘Putri bapak (ada) lima’
(99) Pitu ari pitu borngin pesta I (DLA) Tujuh hari tujuh malam pesta itu ‘Pesta itu tujuh hari tujuh malam’
(100) Saribu hepengna (DLP) Seribu uangnya
‘Uangnya seribu’
Klausa berpredikat adjektiva, seperti pada contoh berikut ini:
(101) Na hancitan panggotilmu, bah! (DLP) PR sakitan cubitanmu I
‘Cubitanmu sakit sekali’
(102) Marniang parnijabum (DLP) Kurus istrimu
‘Istrimu kurus’
Klausa berpredikat adverbia (frase preposisional) sebagaimana terlihat dalam data berikut ini:
(103) Di bagasan do anggim (DLA) Di dalam T adekmu
‘Adikmu ada di dalam’
(104) Tu luar au satongkin (DLP) Ke luar aku sebentar
‘Sebentar aku keluar’
(105) Di balian dope ibana. (DLW) Di sawah T dia
‘Dia masih di sawah’
Pada paparan data di atas, konstruksi yang menduduki predikat bukanlah verba, sehingga memerlukan bentuk lain untuk menduduki predikatnya. Pada konstruksi (96) dan (97) didahului oleh predikat nomina pandita dan namboruku. Pada temuan ini, ini klausa berupa S adalah tungganena, parumaenna; dan nomina pandita, namboruku berfungsi sebagai predikat; konstruksi (101) dan (102) memiliki inti klausa berupa S (panggotilmu, parnijabum) dan adjektiva na hancitan, marniang merupakan predikat; konstruksi (98), (99) dan (100) memiliki inti klausa berupa S (boru ni bapa, pesta, hepeng) dan numeralia lima, pituari pitu borngin, saribu merupakan predikat; konstruksi (103), (104) dan (105) memiliki inti klausa berupa S (anggim, au, ibana) dan adverbia, berupa frase preposisi dibagasan, tu luar, di balian merupakan predikat. Jadi pada konstruksi klausa BBT predikatnya dapat diduduki oleh kategori nonverbal, yaitu: nomina, adjektiva, numeralia, dan adverbia (frase preposisi).
Klausa BBT berpredikat verba akan disajikan dalam data berikut ini.
(1) Klausa Verba
Dalam menganalisis klausa verba harus dicermati dua kriteria dasar yang dibutuhkan dalam proses pengkajian klausa verba tersebut. Pertama, meneliti jenis verba tersebut (apakah trasitif atau intransitif), dan kedua, pemarkah yang terdapat dalam verba tersebut (apakah ada pemarkah afiks atau tidak). Berdasarkan kedua kriteria tersebut, klausa verba BBT dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu:
(a) Klausa Transitif
(106) Marsuan cabe ma nasida dungi. (DLP) AKT-tanam cabe T mereka setelah itu ‘Setelah itu, mereka menanam cabe.’
(107) Manaruhon gogo ni hauma do hami tusan (DLW) AKT-antar sewa ladang T kami ke sana
‘Kami mengantarkan sewa ladang ke sana.’
Berdasarkan konsep teoretis dan pemerolehan data dari lapangan, klausa transitif BBT memiliki uraian bentuk yang dikategorikan ke dalam empat jenis, yaitu:
(1) Klausa Aktif
(108) Marsigotilan bohi do nasida namarbadai. (DIN) AKT- saling cubit wajah T mereka yang bertengkar itu ‘Saat bertengkar mereka saling mencubiti wajah’
Klausa transitif yang dibangun oleh keberadan verba aktif dapat muncul dengan menggunakan afiks. Verba aktif yang mendapat pemarkah afiks juga digunakan di dalam semua jenis kalimat berdasarkan tanggapan yang diharapkan baik dalam kalimat berita, kalimat tanya, maupun kalimat perintah, sehingga disebut verba transitif umum.
(109) Manuhor solop do si Tiur tu lapo. (DLW) AKT-beli sandal T si Tiur ke kedai
‘Si Tiur membeli sandal ke kedai.’
(110) Masiboan anakonna ma nasida tu Puskesmas. (DLP) AKT-saling bawa anaknya T mereka ke Puskesmas
‘Mereka masing-masing membawa anaknya ke Puskesmas.’
Verba klausa di atas (108), (109), (110) menerima afiks sebagai pemarkahnya.
Konstruksi klausa tersebut menunjukkan pola yang lazim dengan urutan V-O-S-K. masing-masing konstruksi menunjukkan posisi S (nasida, si Tiur, nasida) berada setelah V O.
(111) Parrohahon hatani umami, Tiur! (DLP) Perhatikan perkataan ibumu, Tiur ‘Perhatikan ucapan ibumu, Tiur!’
(112) Haholongi donganmu jolma songon dirim sandiri! (DLP) Cintai temanmu manusia seperti dirimu sendiri
‘Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri!’
(113) Tu hau i tombomhon galas na di tanganmi! (DLP) Ke kayu itu sentuhkan gelas yang di tanganmu ‘Pecahkan gelas yang di tanganmu ke kayu itu!’
Konstruksi (111) dan (112) menunjukkan pola yang lazim dengan urutan V-O-S.
Subjek terletak pada posisi di belakang VO. Sementara itu, konstruksi (113) di dahului oleh frase preposisi tu hau yang dapat diletakkan di posisi lain. Akan tetapi jika diidentifikasi, posisi VO tetap berada di depan S, sehingga menunjukkan pola yan lazim dengan urutan V-O-S.
(2) Klausa pasif
Apabila diamati lebih mendalam dari percakapan para informan dan kehidupan sehari-hari penutur BBT, frekuensi pemakaian klausa/kalimat pasif lebih sering digunakan daripada klausa/kalimat aktif.
(114) Dialap ma tugona tu lapo. (DLW) Dijemput T sarapannya ke kedai ‘Sarapannya dijemput ke kedai.’
(115) Disuru nasida ma dakdanak i. (DLW) Disuruh mereka T anak itu
‘Mereka menyuruh anak itu.’
Berdasarkan konsep teoretis dan pemerolehan data dari lapangan, pemarkah pasif yang ditemukan dalam BBT dibagi atas:
Permarkah pasif dengan afiks di-, ni-, dan –in- (116) Dialap ma tugona tu lapo. (DLP)
PAS-jemput T sarapannya ke kedai ‘Sarapannya dijemput ke kedai.’
(117) Nisuru ni Ama i do au. (DLP) PAS-suruh T Bapa itu T aku ‘Aku disuruh Tuhan.’
(118) Jinullahan ma parbue ni manggai dohot arar (DLW).
PAS-jolo T buah M mangga itu dengan galah ‘Buah mangga itu dijolok dengan galah.’
Konstruksi pasif (116), (117), dan (118) yang dibentuk menggunakan afiks di-, ni-, dan –in- dapat dilekatkan pada semua verba transitifni-, baik verba umum maupun verba terbatas, kecuali verba transitif yang memiliki afiks maN-, masi, dan –um- dengan semua ragam afiksnya, baik sebagai konfiks maupun simulfiks.
Permarkah pasif dengan afiks tar- dan ha-an (119) Tarsurat do goarna di rohaku. (DLP) PAS-tulis T namanya di hatiku
‘Namanya tertulis di hatiku.’
(120) Hatangkoan do jabu ni tulangna nantoari. (DLP) PAS-kecurian T rumah M pamannya kemarin ‘Rumah pamannya kecurian kemarin.’
Konstruksi pasif yang terjadi (119) dan (120) mengunakan afiks tar- ‘ter’
dan ha-an ‘ke-an’. Verba yang mengalami afiksasi memiliki makna semantis lain yang menyatakan S dikenai tindakan. Posisi urutan kata yang terbentuk ialah VO, sehingga memiliki pola dasar yang lazim. Bentuk pasif dengan menggunakan prefiks tar- dan konfiks ha-an tidak mengalami perubahan jika digunakan dalam klausa relatif. Bentuknya tetap sama dan hanya menambahkan pronomina penghubung na sebelum tar- dan ha-an.
Permarkah pasif dengan sufiks –on/-an
Pemarkah sufiks –on/-an dapat digunakan dalam bentuk dasar verba transitif baik verba transitif terbatas, maupun verba transitif umum kecuali verba transitif yang memiliki afiks maN-, masi-, -um-, dan –i.
(121) Parhatutuon ni ibana do hatami. (DLP) PAS-setuju T dia T perkataanmu
‘Perkataanmu akan disetujui dia.’
(122) Musuan ni donganmu do ho molo tokkar. (DLP) PAS-musuh T temanmu T kamu jika bandal ‘Kamu akan dimusuhi temanmu jika bandal.’
Konstruksi pasif yang dimarkahi oleh sufiks –on/-an dapat menggunakan agen secara manasuka. Agennya dapat berbentuk enklitik untuk semua pronomina, dapat berbentuk subjektif hanya untuk orang ke III, dan dapat berbentuk nama diri. Akan tetapi, jika agennya pronominal subjektif III atau nama diri, harus didahului oleh preposisi ni (121) dan (122).
Pemarkah pasif proklitik hu-, ta-, dan hu-hami
(123) Hupasuhi pe sude pahean ni bapa nahianan. (DLP) PAS-asingkan T semua pakaian M bapak almarhum
‘Semua pakaian alm. bapak akan kuasingkan.’
(124) Tapias ma pidong i sian toru on. (DLP) PAS-kita panggil T burung itu dari bawah ini ‘Kita panggil burung itu dari bawah ini.’
(125) Hupaboa hami pe sude namasa i sian mulana. (DLP) PAS-Kukasihtau kami T semua yang terjadi itu dari awalnya ‘Semua yang terjadi akan kami beritahu dari awal.’
Jika diidentifikasi pola urutan kata yang terjadi pada konstruksi pasif (123), maka pola yang terjadi adalah V S, yaitu hupasuhi pe sebagai predikator dan sude pahean ni bapa nahianan. Dalam konstruksi ini S melekat pada verba (hupasuhi). Verba yang dapat digunakan untuk membentuk konstruksi pasif dengan menggunakan ketiga proklitik di atas (123-125) adalah verba transitif, kecuali yang berawal dengan afiks maN-, -um- dan masi-.
Pemarkah pasif dengan menggunakan verba hona, dapot, dan jumpang (126) Hona aup do eme i ala tangkuju. (DLP)
PAS-kena hanyut T padi itu karena banjir besar ‘Padi itu dihanyutkan banjur besar.’
(127) Dapothu do hepeng i sian tombara. (DLP) PAS-dapatku T uang itu dari kolong rumah ‘Uang itu kutemukan dari kolong rumah.’
(128) Jumpangmu do napinarsintamu haduan. (DLP) PAS-jumpamu T cita-citamu kemudian hari ‘Cita-citamu akan terwujud di kemudian hari.’
Pada konstruksi (126) hona diikuti oleh verba transitif, dengan agen tidak dapat memiliki pelaku dan apabila hona diikuti oleh nomina, maka nomina tersebutlah yang menjadi agen (aktor) tindakan tersebut. BBT memiliki bentuk pasif khusus menyatakan ‘didapat/didapatkan’, ‘ditemui/ditemukan’. Konstruksi pasif (127) dan (128) menggunakan pelaku berupa enklitik (dapothu dan
jumpangmu) untuk semua pronomina dan bisa juga berupa subjektif nama diri.
Keberadaan verba berada di depan klausa dan menjadi pemarkah konstruksi pasif (hona, dapot dan jumpang).
(b) Klausa Intransitif
BBT mengenal dua jenis verba intransitif, yaitu: verba intransitif dasar dan verba intransitif kompleks. Verba intransitif dasar ialah verba yang tidak mendapat imbuhan, sedangkan verba intransitif kompleks adalah verba yang telah mendapat imbuhan.
(129) Hundul do ibana di balatuk. (DLA) Duduk T dia di tangga
‘Dia duduk di tangga.’
(130) Habang lali i tu tombak. (DLA) Terbang elang itu ke hutan ‘Elang itu terbang ke hutan.’
(131) Maponggol do hau ni sapu i. (DLP) Patah T kayu M sapu itu
‘Gagang sapu itu patah.’
(132) Masihepeng do uma tu balian i. (DLP) AKT-cari uang T ibu ke sawah itu ‘Ibu mencari uang di sawah.’
(133) Marsibalgai anak ni biang i. (DLW) AKT-lain besar anak M anjing itu ‘Anak anjing itu berlainan besarnya.’
Dalam BBT terlihat jelas keberadaan pemarkah dalam verba dapat mempengaruhi keberadaan konstruksinya. Konstruksi (129-133) teridentifikasi verba yang dimarkahi ma-, masi-, marsi-i, tidak memerlukan objek sebagai penderita tindakan. Urutan dasar V berada pada posisi depan, tetapi diikuti oleh S sama seperti dalam konstruksi (129) dan (130) masing-masing diikuti oleh ibana
dan lali. Posisi akhir pada konstruksi di atas memiliki keberadaan FN(Prep) yang dinyatakan dengan di balatuk, tu tombak, di balian, keberadaan unsur FN(Prep) ini sebenarnya bersifat manasuka; misalnya, di balatuk do ibana hunduk (di tangga itu dia duduk).
5.1.2 Struktur Dasar Kalimat BBT
Pembahasan dalam konstruksi kalimat BBT didasari oleh telaah teoretis konstruksi kalimat dan paparan data yang telah disajikan sebelumnya. Perhatian pada delapan tipe kalimat tetap menjadi fokus analisis sintaksis dengan mengaitkannya pada ancangan tipologi linguistik. Akan tetapi, untuk mengkaji lebih dalam konstruksi kalimat BBT tidak lagi seluruh tipe pengklasifikasian tersebut akan dibahas. Hal ini dikarenakan terdapat ragam kesamaan konstruksi kalimat dengan konstruksi klausa yang telah dibahas sebelumnya.
Fokus pembahasan data pada tataran sintaksis akan memperhatikan keterhubungan klausa dalam membangun sebuah kalimat. Hubungan ini memerlukan pemarkah kontruksi kalimat, sering dikenal dengan istilah pemarkah koordinatif, subordinatif, dan superordinatif. Karakteristik klasik sintaksis dapat diidentifikasi berdasarkan dua kajian dasar, yaitu: pertama, kedudukan fungsi-fungsi sintaksis dalam sebuah konstruksi, dan kedua, mendeskripsikan pemarkah-pemarkah yang terdapat dalam kalimat BBT.
(a) Konstruksi Kalimat Majemuk
Konstruksi yang terdapat dalam kalimat majemuk tersusun atas dua klausa. Proses penyusan klausa ini meliputi klausa koodinatif, klausa subordinatif,
dan klausa superordinatif. Masing-masing klausa ditandai dengan konjungsi tertentu sehingga terjadi keterhubungan antara klausa koordinatif dengan klausa koordinatif; klausa superordinatif dan klausa subordinatif; klausa subordinatif, klausa superordinatif, dan koordiantif. Berdasarkan keberadaan pemarkah klausa-klausa tersebut, maka kalimat majemuk dibagi atas tiga tipe, yaitu: kalimat mejemuk bertingkat, kalimat mejemuk setara, dan kalimat majemuk campuran.
Kalimat Majemuk Bertingkat
Untuk melihat hubungan klausa superordinatif dan klausa subordinatif dalam kalimat majemuk bertingkat, dapat diperhatikan kalimat berikut:
(134) Mangombak saba do bapa ditingki manangko hepeng ibana. (DLP) AKT-bajak sawah T bapak disaat mencuri uang dia
‘Bapak sedang membajak di sawah saat ia mencuri uang’
(135) Mangangkati parik do ho, andorang ro udan. (DLW) AKT-lompat parit T kamu, ketika datang hujan ‘Kamu melompati parit, ketika hujan turun.’
Konstruksi kalimat majemuk bertingkat di atas dapat dipilah menjadi dua bagian, yaitu pertama keberadaan sebagai klausa superordinatif (mangombak saba do bapa dan mangangkati parik do ho). Posisi verba pada (134) dan (135) superordinatif berada pada awal klausa, dan diikuti oleh O S, sehingga pola lazimnya adalah VOS. Kedua, keberadaan sebagai klausa subordinatif (di tingki manangko hepeng ibana dan andorang ro udan). Posisi verba pada (134) dan (135) subordinatif berada pada awal inti klausa, dan diikuti oleh O S. Meskipun terdapat adverbia K di awal klausa, tetapi keradaan K dapat sintaksis BBT adalah secara manasuka, sehingga pola lazimnya adalah tetap VOS.
(136) Diboto parhuta ni si Tiur i do ra, manang aha pe na ro. (DLP)
PAS-ketahui sekampung M si Tiur itu T mungkin, entah apapun PR yang datang
‘Orang sekampung si Tiur itu mungkin tahu entah apapun yang terjadi.’
(137) Mannamnam juhutnai do biang i, manang aha pe namasa. (DLA) AKT-lahap dagingnya T anjing itu, entah apapun PR yang terjadi
‘Anjing itu tetap melahap dangingnya, entah apapun yang sedang terjadi.’
Konstruksi superordinatif yang terdapat pada kedua kalimat di atas menunjukkan pola lazim VOS. Verba (diboto (136) dan mannamnam (137) berada di awal O (parhuta (136) dan juhutnai (137)) dan S (si Tiur (136) dan biang i (137).
Konstruksi subordinatif ditandai dengan partikel manang ‘entah’ dan pe
‘pun’. Kedua jenis partikel ini memiliki karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan partikel yang digunakan sebagai konjungsi dalam menghubungkan superordinatif dan subordinatif. Kedua jenis konjungsi ini dapat menggantikan salah satu fungsi sintaksis seperti S, O atau K dalam klausa subordinatif sebagaimana dijelaskan dalam klausa nomina sebelumnya. Konstruksi subordinatif yang pada umumnya dimarkahi oleh konjungsi ini (178) dan (179) berfungsi sebagai S (S dalam kalimat pasif), O, dan K pada klausa subordinatif;
atau hanya memberikan atribut pada objek dan subjek klausa superordinatif.
(138) Umbahen na hutanda itoan i, ala naung leleng do au disi.(DLW) Sehingga yang kukenal wanita itu, karena sudah lama T aku di situ ‘Aku memang sudah lama di situ sehingga kenal wanita itu.’
(139) Andorang mangolu dope amana, sonang do ngoluna. (DLA) Ketika hidup masih bapaknya, senang T hidupnya.
‘Ketika bapaknya masih ada, hidupnya senang.’
Kedua konstruksi kalimat di atas, klausa subordinatif yang dimarkahi konjungsi subordinatif dikedepankan sehingga urutan linearnya menjadi klausa
subordinatif --- klausa superordinatif. Hal ini berarti klausa subordinatif diikuti klausa superordinatif. Akan tetapi, tidak semua klausa subordinatif bersama konjungsi subordinatif yang dimarkahinya dapat dikedepankan.
Kalimat Majemuk Setara
Untuk melihat kalimat majemuk setara perlu diperhatikan hubungan klausa yang direlasikan melalui konjungsi koordinatif yang menyusunnya.
(140 Mangkuling ma ronggur huhut doras ma udan. (DLP) AKT-bunyi T petir dan kuat T hujan
‘Petir berbunyi dan hujan deras.’
(141) Di jabu ma jolo ho paima mulak uma huhut paima masak indahanta on. (DLP)
Di rumah T dahulu kamu sebelum pulang ibu dan sebelum masak nasi kita ini ‘Kamu di rumah dulu sebelum ibu pulang dan sebelum masak nasi kita ini.’
Berdasarkan konstruksi di atas, jika dua klausa koordinatif dihubungkan dengan menggunakan konjungsi koordinatif, hasilnya adalah kalimat majemuk setara. Berdasarkan keberadaan verba yang di depan O S, maka pola lazim masih terdapat dalam konstruksi ini, meskipun terdapat konstruksi yang diawali dengan frase preposisional (141).
(142) Masipatureturean ma hamu dohot hombar nijabumi. (DLA) AKT-saling memperbaiki T kalian dengan tetanggamu itu ‘Saling membantulah kalian dengan tetanggamu itu.’
Unsur yang digariswabahi ma hamu letaknya berada sebelum konjungsi koordinatif. Konjungsi pada data tersebut yakni partikel topik ma dan subjek hamu pada kalimat (142). Apabila konstruksi verba itu memiliki resiprokal (marsipatureturean) maka elipsis dalam konstruksi koordinatif itu kurang tepat jika dikembalikan untuk membentuk dua klausa. Unsur resiprokal itu sudah mengikat konstruksi elipsis sehingga akan mengalami kendala semantis apabila
diperifrasekan menjadi dua klausa. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan dalam data (143) berikut ini.
(143) Marsipastapan do ahu dohot ibana di lapo i. (DLP) AKT-saling tampar T aku dengan dia di kedai itu ‘Aku dan dia saling menampar di kedai itu.’
Keberadaan verba resiprokal berupa prefiks masi- dalam BBT membutuhkan analisis yang lebih mendalam berdasarkan verba dasarnya sehingga akan didapatkan makna dasar kalimat tersebut. Penelusuran konstruksi verba resiprokal ini akan menunjukkan aktor yang diduduki oleh fungsi subjek gramatikal; S tersebut secara bersama-sama melakukan tindakan.
Kalimat Majemuk Campuran
(144) Maringanan ma ibana di Medan ala i san do siahaan nasida, dohot ibotona dohot ala hurang denggan parkaejoaanna na parjolo i. (DIN)
Bermukim T dia di Medan karena di sana T si sulung mereka, dan saudarinya dan karena kurang bagus pekerjaannya yang pertama itu
‘Dia bermukim di Medan sekarang karena di sana saudaranya tertua, dan saudarinya dan karena pekerjaannya yang pertama itu kurang bagus.’
(145) Sai dipaingot ibana do tu hita asa olo mangihuthon ia jala asa ringgas martangiang (DIN)
Selalu diingatkan dia T ke kita supaya mau mengikutinya dan supaya rajin berdoa
‘Dia selalu mengingatkan kita supaya menurut dan rajin berdoa.’
Konstruksi yang terlihat dalam kedua kalimat di atas, dua klausa subordinatif dihubungkan oleh konjungsi koordinatif dan kedua-duanya dirangkaikan pada klausa superordinatif dengan menggunakan subordinatif sehingga terbentuklah kalimat majemuk campuran. Apabila klausa subordinatif dikoordinasikan, maka
distribusi beberapa klausa subordinatif itu bisa di belakang atau di awal kalimat majemu campuran sebagaimana terlihat pada kalimat (144) dan (145).
(146) Pajumpang ma ibana dohot natorasna dung sahat nasida di Tarutung laos dipaboa ibana ma sangkap ni rohana i tu amana. (DIN)
Bertemu T dia dengan orang tuanya setelah tiba mereka di Tarutung dan diberitahu dia T niat M hatinya itu ke bapaknya
‘Dia bertemu dengan orang tuanya setibanya mereka di Tarutung, dan memberitahukan niatnya kepada bapaknya.’
Kalimat (146) terdiri atas dua klausa subordinatif dan satu klausa subordinatif.
Klausa subordinatif dimarkahi konjungsi subordinatif dung yang merupakan bagian fungsi sintaksis klausa superordinatif yang mendahuluinya. Di dalam konsep bertutur, masih tedapat kemungkinan lain mengenai relasi pemarkah dan distribusi klausa (baik koordinatif, subordinatif, dan superordinatif). Akan tetapi jika diperhatikan dari perilaku tutur berupa ujaran-ujaran kalimat , bahwa pemakai bahasa sering menghubung-hubungkan klausa untuk mengungkapkan buah pikiran mereka. Sehingga kemahiran menggunakan konjungsi menjadi faktor penting dalam menyusun pola kalimat dengan cermat.
5.2 Relasi dan Aliansi Gramatikal BBT
Pola urutan kata dapat diperhatikan dalam konstruksi klausa/kalimat yang telah ditemukan dan dianalisis sebelumnya. Hal ini dapat memperlihatkan relasi dan aliansi gramatikal BBT tersebut dalam pembahasan berikut ini.
5.2.1 Relasi Gramatikal BBT
Relasi gramatikal adalah bagian-bagian unsur dari suatu klausa yang dikategorikan sebagai subjek (S), objek langsung (OL), objek tak langsung (OTL), dan relasi oblik (OBL). Relasi gramatikal tersebut perlu ditelaah satu persatu dengan pendekatan tipologi linguistik.
(1) Subjek Gramatikal BBT
Pengujian sifat-perilaku subjek didasari oleh sifat-perilaku gramatikal yang telah dilakukan oleh Artawa (1998: 11-17) terhadap bahasa Bali.
Menurutnya karena subjek adalah relasi gramatikal, maka penentuan/penetapan subjek suatu bahasa hendaknya didasarkan pada sifat perilaku gramatikalnya sendiri. Berdasarkan hal ini, kesubjekan dapat dilihat berdasarkan pengertian: (a) pronominal tidak-terang (PRO), (b) pengembangan penjangka (quantifier float), (c) perelatifan (relativisation). Temuan data kesubjekan BBT dianalisis berikut ini.
(a) Frasa nomina tidak-terang (PRO)
Berdasarkan Teori Penguasaan dan Pengikatan (Government and Binding Theory) yang dikembangkan oleh Chomsky dinyatakan bahwa subjek klausa dengan verba tak terbatas dinukilkan sebagai FN tidak-terang (noun-overt noun phrase) dan diwujudkan sebagai PRO (dalam Artawa, 1998:14).
(147) Ibana naeng [ PRO lao] (DLP) Dia hendak [PRO pergi]
‘Dia hendak pergi’
(148) Ibana naeng [PRO modom] (DLP) Dia hendak [PRO tidur]
‘Dia hendak tidur’
(149a) Bapa naeng [PRO mangalap uma] (DLP) Bapak hendak [PRO AKT-jemput ibu]
‘Bapak hendak menjemput ibu’
(149b) Bapa naeng [PRO dialap uma]
Bapak hendak [PRO PAS dijemput ibu]
‘Bapak hendak dijemput ibu’
(149c) Bapa naeng [PRO uma alap]
Bapak hendak [PRO ibu jemput]
‘Bapak hendak ibu jemput’
Pada konstruksi di atas, subjek tidak-terang (PRO) pada klausa intransitif (147) dan (148) dapat dirujuksilangkan ke subjek yang berperan sebagai agen ibana, PRO yang berperan sebagai agen pada klausa transitif dengan verba alap, dimarkahi /maN/ untuk relasi gramatikal subjek (149). Dalam konstruksi ini, PRO sebelum verba berkoreferensi dengan agen klausa yang lebih tinggi. Apabila pasien yang disubjekkan, maka verba pada klausa yang lebih rendah (subjek PRO) harus dipasifkan (149b), atau verba tersebut diwujudkan dalam bentuk tak bermarkah afiks (149c). Hal ini menunjukkan apabila pasien yang mempunyai relasi subjek PRO, maka ada struktur klausa yang dimungkinkan dengan pemasifan atau dalam bentuk tidak menghadirkan pemarkah afiks.
(b) Pengambangan Penjangka
Moussay (dalam Jufrizal 2007: 37) menyatakan bahwa pengambangan penjangka adalah kata bantu bilangan (quantifier) tak takrif yang merupakan penentu penunjuk jumlah. Penjangka tak takrif dalam BBT pada umumnya dipakai dalam menyatakan (1) jumlah tidak pasti, sedikit ‘saotik’;
bermacam-macam, berjenis-jenis ‘marragam’ (2) jumlah distributif: tiap, setiap, tiap-tiap
‘ganup’ (3) jumlah kolektif: semua, segala, segenap ‘sude(na)’, ‘sasudena’.
Penjangka yang menunjukkan jumlah tidak pasti dan distributif (1) dan (2) dalam kalimat BBT digunakan ada posisi sebelum FN. Sedangkan penjangka yang menunjukkan jumlah kolektif (3), dapat diletakkan sebelum atau sesudah FN.
(150) Saotik do borasna (DLW)
(152a) Mangaranto sudena ianakkonna (DLW) AKT-merantau semua anaknya
‘Semua anaknya merantau’
(152b) Mangaranto ianakkonna sudena AKT-merantau anaknya semua ‘Semua anaknya merantau’
(152c) Sudena mangaranto ianakkonna Semua merantau anaknya
‘Semua anaknya merantau’
(153a) Mangan sudena tondongna (DLP) Makan semua tamunya
‘Semua tamunya makan’
(153b) Mangan tondongna sudena Makan tamunya semua ‘Semua tamunya makan’
(153c) Sudena mangan tondongna Semua makan tamunya ‘Semua tamunya makan’
Dalam klausa intransitif BBT terlihat pada (150) dan (151) posisi penjangka tak takrif saotik dan ganup digunakan ada posisi sebelum FN. Pada (152a-153c) bahwa posisi penjangka sudena dapat berada sesudah maupun
sebelum FN pos-verba menduduki fungsi subjek gramatikal, yang merupakan satu-satunya argumen. Di mana pun posisi sudena selalu menunjukkan jumlah
sebelum FN pos-verba menduduki fungsi subjek gramatikal, yang merupakan satu-satunya argumen. Di mana pun posisi sudena selalu menunjukkan jumlah