BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
7. Struktur Organisasi
Kepala desa Kepala seksi kesejahteraan Kepala seksi pelayanan Kepala dusun I
Kepala urusan dan keuangan Kepala urusan umum
dan perencanaan Sekretariat Kepala dusun II Kepala seksi pemerintahan
55
B. Temuan Penelitian
Berdasarkan penelitian di Desa Singosari, dapat dikemukakan beberapa hasil penelitian sebagai berikut:
1. Pandangan Orang Tua Di Desa Singosari Tentang Sekolah Berbasis Islam
Pandangan orang tua mengenai sekolah berbasis Islam sangat beragam. Pandangan yang mereka sampaikan berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan. Sebagaimana yang diperoleh dari hasil wawancara pada orang tua di Desa Singosari yang menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam.
Pandangan mereka tentang sekolah berbasis Islam adalah suatu lembaga pendidikan yang tidak hanya mengedepankan pelajaran umum tetapi juga pelajaran agama.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh NR:
“Sekolah berbasis Islam itu sekolah yang banyak mengajarkan pelajaran-pelajaran agama”(Wawancara kepada Ibu NR pada tanggal
9-05-2017). Pendapat senada juga diungkapkan oleh Ibu SP dan Ibu SA.
Setiap orang tua pasti menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya, apalagi dalam hal pendidikan agama. Akan rugi ketika anak tidak disekolahkan di sekolah keislaman karena mereka tidak mendapatkan banyak pelajaran agama. Karena dengan disekolahkan di lembaga pendidikan Islam anak akan banyak mendapatkan pengetahuan tentang agama.
56
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu AA:
“Sekolah yang berbasis Islam adalah sekolah dimana porsi mata pelajaran agama Islam lebih banyak dari pada sekolah umum. Kalau di sekolah umum porsi mata pelajaran agamanya hanya sedikit, jadi
untuk pengalaman agamanya anak akan kurang” (Wawancara kepada
Ibu AA pada tanggal 13-05-2017). Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu ZN, Bapak SG.
Lain halnya dengan Ibu KW beliau menyatakan:
“Bahwa sekolah berbasis Islam itu sekolah yang dapat membekali anak dengan ilmu agama dan juga ilmu umum” (Wawancara kepada
Ibu KW pada tanggal 13-05-2017)
Selain mengedepankan pelajaran agama sekolah berbasis Islam tentunya juga memiliki program unggulan di luar jam pembelajaran, seperti ekstrakurikulernya.
Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Bapak TH yaitu sebagai berikut:
“Sekolah berbasis Islam merupakan sekolah yang selain banyak pelajaran agamanya tapi juga banyak program-program keagamaan di
luar jam pembelajaran, seperti ekstrakurikuler” (Wawancara kepada
Bapak TH pada tanggal 14-05-2017).
Sekolah berbasis Islam yaitu sekolah yang dapat memberikan pelajaran pemahaman tentang ajaran-ajaran Islam secara detail.
Seperti yang diungkapkan oleh Ibu TP:
“Sekolah Islam itu jelas berbeda dengan sekolah umum mbak, apalagi
dalam hal agama, kalau sekolah Islam itu waktu pembelajaran agamanya lebih banyak otomatis dalam menyampaikan materi bisa
lebih detail” (Wawancara kepada Ibu TP pada tanggal 14-05-2017). Pendapat senada diungkapkan oleh Ibu TH dan Bapak W.
57
Pendapat lain diungkapkan oleh Ibu S tentang sekolah berbasis Islam, beliau berpendapat bahwa sekolah berbasis Islam yaitu:
“Sekolah yang memberikan ilmu pengetahuan tentang agama juga
memberikan ilmu pengetahuan umum, jadi ilmu dunia dapat akhiratnya juga dapat” (Wawancara kepada Ibu S pada tanggal 27 -05-2017).
Adanya sekolah berbasis Islam dapat membantu orang tua dalam mendidik anak, karena dengan keterbatasannya orang tua tidak bisa memberikan pendidikan agama sepenuhnya kepada anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu SL tentang sekolah berbasis Islam yaitu:
“Sekolah Islam itu sekolah yang dapat memberikan kebutuhan pengetahuan agama kepada anak” (Wawancara kepada Ibu SL pada
tanggal 27-05-2017).
Pendapat mengenai sekolah berbasis Islam sangat beragam. Ada yang mengungkapkan bahwa sekolah berbasis Islam merupakan sekolah yang dapat mendidik karakter anak melalui kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di sekolah. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil wawancara dengan Ibu TP:
“sekolah berbasis Islam menurut saya sekolah yang dapat mendidik karakter anak mbak, melalui kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di sekolah. Misalnya sholat duha sebelum pelajaran dimulai, sholat dzuhur berjamaah, membaca Al-Qur’an” (Wawancara
58
Pendapat hampir sama diungkapkan oleh Ibu RM yang menyatakan bahwa sekolah berbasis Islam adalah:
“Sekolah yang menekankan pada pendidikan karakter yang bersumber
dari nilai-nilai agama Islam” (Wawancara dengan Ibu RM pada
tanggal 11-05-2017).
Pendapat yang lain diungkapkan oleh Ibu WA yang menyatakan bahwa sekolah berbasis Islam adalah:
“Sekolah yang mengedepankan pelajaran agamanya” (Wawancara
kepada Ibu WA pada tanggal 27-05-2017). Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak HD dan Bapak J.
Pendapat yang lain diungkapkan oleh Bapak NH yang menyatakan bahwa sekolah berbasis Islam adalah:
“Sekolah yang kurikulumnya mengarahkan untuk mempelajari apa
-apa yang diperintahkan oleh Allah Swt” (Wawancara kepada B-apak
NH pada tanggal 29-05-2017.
Lain halnya dengan Bapak SB yaitu:
“Sekolah berbasis Islam itu sekolah yang memiliki nuansa keislaman,
mulai dari kurikulumnya, visi misi, ekstrakurikuler, kegiatan
sehari-hari, busananya” (Wawancara kepada Bapak SB pada tanggal 29 -05-2017).
Melalui hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa sekolah berbasis Islam menurut para orang tua wali adalah sekolah yang
59
memiliki nuansa Islami yang memberikan pendidikan agama dengan porsi mata pelajaran agama lebih banyak. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa sekolah keislaman itu sekolah yang dapat membentuk karakter siswa melalui pelajaran dan kegiatan keagamaan.
2. Motivasi Orang Tua Menyekolahkan Anak Di Sekolah Berbasis Islam
Motivasi orang tua dalam menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam sangat beragam. Salah satunya adalah supaya anaknya paham dengan norma-norma ajaran agama Islam yang sesuai syariat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini seperti yang diungkapkan NR selaku orang tua memaparkan alasannya memilih sekolah berbasis Islam sebagai lembaga pendidikan anaknya:
“Alasan saya memilih sekolah berbasis Islam, tentunya supaya anak
mendapatkan pendidikan agama dikesehariannya. Apabila anak tidak biasa diberi pendidikan agama di dalam kehidupan sehari-hari, mungkin anak akan mengerjakan sesuatu yang melanggar ajaran yang sesuai syariat Islam. Selain itu mbak, saya ingin anak saya itu mengetahui dengan benar norma-norma yang sesuai dengan ajaran syariat agama Islam. Dan tidak hanya sebatas tau saja akan tetapi bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari” (Wawancara kepada Ibu
NR pada tanggal 9-05-2017).
Hal yang sama juga dituturkan oleh bapak SG mengenai alasan menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis Islam:
“Sebenarnya anak yang memilih sekolah di MTs mbak, akan tetapi
orang tua juga sangat mendukung keinginan anak tersebut, karena dari orang tua pribadi juga suka dengan yang berbau keagamaan, jadi orang tua juga menginginkan anak memiliki pengetahuan secara mendalam mengenai bab keagamaan supaya nantinya dapat
60
diterapkan di kehidupan keluarga dan masyarakat” (Wawancara
kepada Bapak SG pada tanggal 11-05-2017).
Bapak HD juga memberikan paparan mengenai alasan beliau menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam:
“Anak saya tak sekolahkan di sekolah keislaman karena di sana
pelajaran tentang agamanya lebih banyak mbak, selain itu saya juga ingin anak saya bisa benar-benar paham tentang ajaran agama mbak. Karena di zaman yang semakin maju ini kalau kita tidak bisa membekali anak dengan ilmu agama yang kuat nantinya anak bisa terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Karena saya sebagai orang tua kurang tau mengenai agama makanya saya pilih sekolah yang banyak agamanya mbak supaya anak saya lebih tau tentang agama”
(Wawancara kepada Bapak HD pada tanggal 11-05-2017).
Orang tua menginginkan anaknya supaya tidak hanya pintar illmu akan tetapi juga harus bagus akhlaknya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu RM:
“Yang jelas motivasi saya menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam itu namanya juga orang tua ya mbak pasti menginginkan anaknya tidak hanya pintar ilmu saja akan tetapi juga harus memiliki akhlak yang bagus. Selain itu, di sekolah dengan basis Islam mata pelajarannya banyak yang mengarah ke keagamaan, dan alasan saya
pribadi kurang mampu untuk mengajari anak dalam hal seperti itu”
(Wawancara kepada Ibu RM pada tanggal 11-05-2017).
Hal yang hampir sama juga dipaparkan oleh Ibu AA mengenai alasan memilih sekolah berbasis Islam:
“Agar anak tau dan paham agama, menjadi anak yang sholeh
sholehah, hafidz hafidzoh, da’i da’imah. Karena anak yang sholeh
sholehah bisa menjadi tabungan orang tuanya nanti ketika sudah
meninggal, anak yang akan mendoakan orang tuanya kelak”
61
Pewawancara menanyakan kepada Ibu KW mengenai motivasinya memilih sekolah berbasis Islam:
“Motivasi saya ya supaya ketika nanti orang tua sudah tidak ada, anak-anak bisa menjadi anak yang sholeh sholehah bisa mengirimkan doa untuk orang tuanya dan membuat kita tenang meninggalkan
mereka karena sudah dibekali ilmu agama” (Wawancara kepada Ibu
KW pada tanggal 13-05-2017).
Sedangkan Ibu SP memaparkan hal yang berbeda dengan Ibu KW mengenai alasan beliau menyekolahkan anak di sekolah berbasis keislaman:
“Saya sebagai orang tua pengetahuannya terbatas apalagi tentang
agama jadi ya saya berkeinginan anak saya lebih pintar dari pada saya mbak. Supaya anak memiliki pegangan pengetahuan agama yang kuat dan saya berharap anak bisa menghafal sebagian dari Al-Qur’an, syukur bisa hafal semua” (Wawancara kepada Ibu SP pada tanggal 14 -05-2017).
Mempunyai anak yang sholeh dan sholehah adalah harapan bagi setiap orang tua, menanamkan pendidikan agama harus dimulai sejak sedini mungkin. Hal itu dapat dilakukan dengan memilihkan lembaga pendidikan yang mampu memberikan kebutuhan pengetahuan bagi anak. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Bapak TH mengenai alasannya dalam menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam:
62
“Alasan saya, sebagai orang tua harus menanamkan pendidikan agama
sejak awal, bisa dengan memondokkan atau menyekolahkan anak di lembaga pendidikan Islam. Supaya anak itu mempunyai keimanan yang kuat, aqidahnya benar melebihi saya, kemudian nanti ketika sudah dewasa supaya jadi orang yang bisa membedakan halal dan haram, supaya tau mana yang benar mana yang salah. Akan tetapi kalau tidak ditanamkan pendidikan agama dari awal anak pintar tapi
tidak bisa berbakti kepada kedua orang tuanya ya percuma”
(Wawancara kepada Bapak TH pada tanggal 14-05-2017).
Pendapat lain juga diungkapkan oleh Ibu SA mengenai motivasi menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam:
“Menurut saya sekolah di keagamaan MI, MTs, MA, atau sejenisnya
itu lebih bagus daripada sekolah umum soalnya kalau di sekolah agama itu disamping pelajaran keagamaan diutamakan pelajaran umumnya pun juga tidak kalah. Jadi merangkuh semua, pelajaran
agama ya dapat pelajaran umumnya juga dapat” (Wawancara kepada
Ibu SA pada tanggal 16-05-2017).
Ibu TH juga menjelaskan alasannya beliau menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam:
“Alasan saya menyekolahkan anak di sekolah Islam ya supaya anak
mendapat pendidikan agama yang lebih banyak, saya sendiri sebagai orang tua sadar tidak bisa memberi pendidikan agama dengan baik
ditambah saya sendiri juga sibuk jualan di pasar mbak” (Wawancara
kepada Ibu TH pada tanggal 20-05-2017).
Salah satu alasan orang tua menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam karena di sekolah Islam penyampaian pelajaran agama
63
khususnya mata pelajaran fiqh lebih mendetail. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ibu ZN mengenai alasan menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam:
“Alasan saya memilih sekolah berbasis Islam karena anak saya kan
perempuan mbak, sedangkan di dalam Islam kan banyak tuntutan bagi seorang perempuan seperti haid, nifas dan sebagainya jadi saya penginnya anak saya itu tau betul tentang hal itu. Karena kalau di sekolah umum pelajaran seperti itu tidak dijelaskan secara mendetail.
Itu salah satu alasan saya” (Wawancara kepada Ibu ZN pada tanggal
21-05-2017).
Ada orang tua yang menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam karena keinginan dari anak sendiri, hal tersebut yang membuat orang tua ikut termotivasi menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak W:
“Sebenarnya ini keinginan dari anak sendiri mbak, saya sebagai orang
tua hanya mendukung kemauan anak saja” (Wawancara kepada Bapak
W pada tanggal 21-05-2017).
Ibu S menjelaskan alasan beliau menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam:
“Supaya anak tau aturan-aturan dalam Islam, tau dasar-dasarnya, karena orang tua di rumah tidak bisa memberikan pelajaran agama secara baik. Berbeda kalau di sekolahan, ada bapak dan ibu guru yang
lebih tau tentang ajaran agama Islam” (Wawancara kepada Ibu S pada
64
Alasan yang hampir sama juga dipaparkan oleh Ibu SP mengenai alasan menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam:
“Alasan saya menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam karena
saya ingin anak saya memiliki akhlak yang baik, pintar mengaji, hormat kepada orang tua. Selain itu saya tertarik dengan program yang ada di sekolah tersebut mbak, setiap pagi sebelum mulai pembelajaran ada sholat duha, membaca Al-Qur’an, begitu mbak”
(Wawancara kepada Ibu SP pada tanggal 27-05-2017).
Ibu WA juga memberikan paparan mengenai alasan beliau menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis Islam:
“Saya menyekolahkan anak saya di MIMBA karena di sana visi
misinya bagus mbak, kemudian pelajarannya itu mengutamakan pendidikan akhlak dan keagamaan. Jadi saya tertarik menyekolahkan
anak di situ” (Wawancara kepada Ibu WA pada tanggal 27-05-2017).
Hal yang hampir sama juga dipaparkan oleh Ibu SL mengenai alasan beliau menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis Islam:
“Saya menyekolahkan anak saya di sekolahan yang ada pondoknya
mbak, supaya anak bisa mendoakan orang tuanya, supaya bisa berbakti kepada orang tua. Di samping itu kalau di pondok setiap harinya berkumpul dengan orang-orang baik insyaallah nantinya anak
saya bisa ketularan baiknya juga” (Wawancara kepada Ibu SL pada
tanggal 27-05-2017).
Ibu TP juga memberikan paparan mengenai alasan beliau menyekolahkan anak di sekolah berbasis Islam:
“Alasan saya yaitu karena di sekolah agama itu pelajaran agamanya
lebih banyak mbak, sedangkan orang tua sendiri kan tidak bisa memberi pelajaran agama yang banyak hanya sedikit-sedikit yang
saya tau dan bisa saya ajarkan” (Wawancara kepada Ibu TP pada
65
Bapak J memberikan alasan yang berbeda mengenai alasannya menyekolahkana anak di sekolah berbasis Islam sebagai berikut:
“Saya menyekolahkan anak saya dipondok mbak, karena kalau hanya di sekolah umum biasa yang pelajaran agamanya sedikit takutnya nanti pengetahuan tentang agamanya juga sedikit mbak. Kalau di pondok kan setiap harinya dapat pelajaran agama. Selain itu khawatir juga sama pergaulan anak di jaman sekarang yang semakin bebas, kalau tidak dibekali pendidikan agama dengan kuat anak bisa
terjerumus pada pergaulan bebas” (Wawancara kepada Bapak J pada
tanggal 28-05-2017)
Menurut Bapak NH:
“Alasan saya menyekolahkan anak di sekolah dengan basis Islam
supaya anak bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah, dan anak bisa menjadi anak yang sholeh sholehah itu perlu pendidikan terutama
pendidikan agama” (Wawancara kepada Bapak NH pada tanggal 29 -05-2017).
Lain halnya dengan Bapak SB yang menyatakan:
“Alasan saya, karena inti dari pendidikan bukan hanya sebatas pengetahuan, tapi jauh lebih penting dari itu adalah nilai-nilai akhlak. inilah hal yang paling diharapkan dari pemilihan sekolah Islam oleh
orang tua kepada anaknya” (Wawancara kepada Bapak SB pada
tanggal 29-05-2017).
3. Perkembangan Sikap Religiusitas Pada Anak yang Sekolah Di Sekolah Berbasis Islam
Sekolah berbasis Islam dapat mengembangkan sikap religiusitas pada anak melalui pelajaran dan kegiatan keagamaannya. Mulai dari anak terbiasa berpamitan ketika hendak pergi. Seperti yang diungkapkan oleh NR:
66
“Kalau di rumah ketika hendak mau pergi anak selalu berpamitan, masuk rumah mengucapkan salam, kemudian untuk sholat lima waktu anak sudah mulai tertib, anak juga mulai mengerjakan puasa sunah,
sholat tahajud seperti itu” (Wawancara kepada Ibu NR pada tanggal 9 -05-2017). Hal yang senada juga diungkapkan oleh Bapak NH dan Ibu KW.
Pewawancara menanyakan kepada Bapak SG mengenai perkembangan sikap religiusitas anak setelah sekolah di sekolah berbasis Islam:
“Anak terbiasa dengan kegiatan yang dia lakukan di sekolah, dalam
hal sholat misalnya orang tua tidak harus menyuruh anak sudah melaksanakannya meskipun kadang telat, kadang juga melaksanakan
sholat duha” (Wawancara kepada Bapak SG pada tanggal 11 -05-2017). Hal yang senada juga diungkapkan oleh Bapak J dan Ibu TP.
Ibu RM juga mengungkapkan perkembangan sikap religiusitas anak:
“Untuk perkembangan sikap religiusitas anak alhamdulillah ada mbak,
dalam hal sholat, mengaji, puasa anak ada perkembangannya.
Meskipun dalam hal perilaku terkadang masih bandel” (Wawancara
kepada Ibu RM pada tanggal 11-05-2017)
Ibu SA juga mengungkapkan perkembangan sikap religiusitas anak:
“Setelah anak saya pendidikan di sekolah Islam itu anak saya jadi
rajin mbak, ketika adzan berkumandang anak bergegas sholat mungkin karena disana sudah terbiasa dengan didikan dari ustadz ustadzahnya
juga mbak” (Wawancara kepada Ibu SA pada tanggal 16-05-2017)
Kemudian pewawancara menanyakan hal yang sama kepada Ibu AA mengenai perkembangan sikap religiusitas anak:
67
“Alhamdulillah anak mudah menghafal surat-surat pendek, adab-adab makan, sopan pada orang tua, sholatnya juga alhamdulillah tidak usah
diingatkan sudah sadar sendiri” (Wawancara kepada Ibu AA pada
tanggal 11-05-2017).
Pendapat lain diungkapkan oleh Ibu SP:
“Dalam masalah sholat lima waktu kadang anak saya yang
mengingatkan saya itu salah satunya mbak, terus kalau saya lagi ngaji
ada yang salah anak saya yang membenarkan” (Wawancara kepada Ibu
SP pada tanggal 14-05-2017).
Pewawancara menanyakan kepada Bapak TH mengenai perkembangan sikap religiusitas anak setelah sekolah di sekolah berbasis Islam yaitu:
“Perkembangan sikap keagamaannya banyak mbak, salah satunya anak
kepada orang tua lebih sopan dan manut mbak, yang dulunya tidak bisa baca Al-Qur’an sekarang alhamdulillah sudah bisa melebihi orang tuanya” (Wawancara kepada Bapak TH pada tanggal 14-05-2017).
Kemudian pewawancara menanyakan hal yang sama kepada Ibu ZN mengenai perkembangan sikap religiusitas anak setelah sekolah di sekolah berbasis Islam yaitu:
“Ya ada mbak dulu kalau dibilangin orang tua sering bantah mbak tapi
itu dulu pas kelas 1 lumrah mbak, sekarangkan sudah kelas 4 pastinya
sudah ngerti kalau berani sama orang tua itu dosa, seperti itu mbak”
(Wawancara kepada Ibu ZN pada tanggal 21-05-2017).
Bapak W juga mengungkapkan mengenai perkembangan sikap religiusitas anak:
“Alhamdulillah ada perkembangan dalam menghafal surat-surat
68
Lain halnya dengan Ibu P yang menyatakan:
“Alhamdulillah setelah saya sekolahkan di MI banyak perubahan salah
satunya anak bisa hafal asmaul husna mbak, kemudian surat-surat
pendek juga, ngajinya juga alhamdulillah lumayan lancar”
(Wawancara kepada Ibu P pada tangal 27-05-2017). Pendapat lain diungkapkan oleh Ibu WA yaitu:
“Kalau anak saya itu dalam hal ngaji yang lumayan bagus mbak, untuk
yang lain kadang masih harus dioyak-oyak dulu” (Wawancara kepada
Ibu WA pada tanggal 27-05-2017).
Lain halnya dengan Ibu SL yang mengungkapkan perkembangan sikap religiusitas anak, yaitu:
“Anak saya itu dulu bandel mbak tapi setelah saya pondokkan anak
saya jadi penurut sama orang tua, bicara sama orang tua juga sopan
mbak pakai bahasa kromo alus” (Wawancara kepada Ibu SL pada tanggal 27-05-2017).
Bapak SB juga mengungkapkan perkembangan sikap religiusitas anak sehari-hari:
“Alhamdulillah anak saya setidaknya dalam hal sholat tidak bolong -bolong, selain itu dalam membaca Al-Qur’an tajwidnya sudah
lumayan benar” (Wawancara kepada Bapak SB pada tanggal 29 -05-2017).
69
C. Analisis Data
1. Pandangan Orang Tua Tentang Sekolah Berbasis Islam
Pandangan orang tua di Desa Singosari mengenai sekolah berbasis Islam sangat beragam. Pandangan yang mereka sampaikan berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan.
Menurut Tholhah Hasan, pendidikan Islam tidak terbatas pada label Islam, atau lembaga ke-Islaman, juga tidak terbatas pada pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam. Pendidikan Islam mencakup semua aktivitas, mulai konsep, visi, misi, institusi, kurikulum, metodologi, proses belajar mengajar, dan SDM kependidikan yang disemangati dan bersumber pada ajaran dan nilai-nilai Islam, yang
buitl-in dalam proses semua aktivitas tersebut (Nahidl, 2007: 11). Sekolah berbasis Islam menurut beberapa orang tua di desa singosari adalah sekolah yang memiliki program-program keagamaan di dalam maupun luar jam kegiatan belajar mengajar. Dengan begitu anak akan terdidik karakternya melalui kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh sekolah tersebut.
Lembaga pendidikan sangat mutlak keberadaannya bagi kelancaran proses pendidikan. Apalagi lembaga pendidikan itu dikaitkan dengan konsep Islam. Lembaga pendidikan Islam merupakan suatu wadah dimana pendidikan dalam ruang lingkup keislaman melaksanakan tugasnya demi tercapainya cita-cita umat Islam.
70
Adanya lembaga pendidikan Islam akan sangat membantu orang tua dalam mendidik putra-putrinya. Karena keterbatasan yang dimiliki orang tua sehingga tidak dapat memberikan pendidikan agama secara utuh kepada putra-putrinya. Untuk itu mereka membutuhkan tempat atau lembaga yang dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada putra-purinya.
Orang tua di desa singosari memandang bahwa sekolah dengan basis Islam adalah suatu lembaga pendidikan yang memberikan porsi pendidikan agama lebih banyak. Di sekolah, melalui pendidikan agama yang cukup, diharapkan siswa-siswa akan muncul kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai tugas, peran serta tanggung jawabnya sebagai hamba Allah, siswa, anak dan anggota masyarakat.