GAMBARAN UMUM KOTA PADANGSIDIMPUAN 2.1. Wilayah Administrasi
4. Aek Sijorni
2.7. Struktur Organisasi Pasar Kodok
2.8. Sarana Dan Prasarana Pasar Kodok a. Jalan
Jalan merupakan sarana yang sangat penting untuk memperlancar dan mendorong roda perekonomian. Sarana jalan yang baik dapat meningkatkan mobilitas dan memperlancar lalu lintas. Kondisi jalan yang terdapat di Pasar
40
memiliki lebar 3 meter. Jika dilihat dari lebar jalan kondisi yang aa dipikiran kita cukup luas. Akan tetapi luas jalan tersebut sebagian diambil alih fungsikan sebagai kawasan parkir sepeda motor. Memasuki kawasan depan pasar, di bagian sisi kiri dan kanan jalan digunakan untuk parkir sepeda motor. Area parkir sepeda motor tersebut sangat mengganggu pergerakan dari aktivitas pasar. Sisi jalan yang tersisa unuk pejalan kaki sangat sempit, belum lagi jalan yang digunakan untuk sepeda motor yang keluar dari area parkir. Jika dua sepeda motor berlawanan arah sedang melintasi jalan maka salah satu dari mereka harus berhenti untuk saling mendahului agar tidak terjadi kemacetan. Jika hal tersebut terjadi akan mengganggu aktivitas pasar.
Lebih ironisnya jalan menuju belakang pasar, sama sekali tidak bisa dilalui oleh kendaraan dikarenakan jalan tersebut digunakan sebagai tempat pangkalan becak. Jika becak dibelakang mendapat sewa maka becak yang di depannya harus mencari tempat parkir agar becak yang di belakangnya bisa keluar. Becak yang ingin keluar dari dalam pasar membutuhkan waktu 5-10 menit untuk sampai ke depan pasar.
Gambar 2. Parkir sepeda motor Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
41
Gambar 3. Pangkalan becak Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
Tidak hanya dijadikan sebagai tempat pangkalan becak, sisi kiri jalan pun dijadikan sebagai tempat untuk berjualan. Pengelolaan pasar yang kurang baik membuat para pedagang berjualan disisi badan jalan. Sempitnya ruang gerak pasar menambah kesemrawutan pun semakin terlihat disaat melihat ada para pedagang yang berjualan disisi badan jalan. Tidak ada pilihan lain untuk para pedagang melainkah harus berjualan disisi badan jalan. Semua kios sudah terpenuhi dan tidak ada pilihan lain lagi. Kondisi para pedagang yang berjualan tersebut mereka hanya meletakkan barang dagangan di jalanan dilapisi dengan papan dan terpal dan para pedagang duduk lesehan didepan barang dagangan mereka. Hal yang paling di takutkan para pedagang yang berjualan di pinggir jalan adalah ketika musim hujan. Barang dagangan mereka akan basah dan itu akan sangat berimbas kepada penghasilakan yang mereka dapat. Tarif untuk para pedagang emperan Rp. 15.000 per hari. Sistem pembayarannya dikutip tiap hari.
Jika si pedagang tidak berjualan makan tempat dia untuk berjualan bisa ditempati oleh pedagang lainnya.
42
Gambar 4. Pedagang menggunakan badan jalan untuk berjualan Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
Kondisi jalan di Pasar Kodok bisa di katakan kurang layak, hal tersebut karena masih banyak terdapat jalan yang berlubang. Kondisi Pasar Kodok disaat musim penghujan cukup memprihatinkan. Jalan yang berlubang akan digenangi oleh air hujan dan membuat wilayah pasar menjadi kotor. Jika terjadi hal yang seperti itu para pedagang yang memakai badan jalan untuk berjualan untuk mensiasati hal tersebut para pedagang menggunakan papan untuk alas barang dagangannya agar tidak merembes dan mengkotori barang dagangan mereka.
Gambar 5. Jalan berlubang
Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020 b. Kios
Pasar Kodok merupakan pasar permanen yang ditata seapik mungkin untuk ketahanan bangunan dalam waktu yang cukup lama. Dalam Pasar Kodok
43
terdapat empat bagunan utama. Bangunan utama yang pertama merupakan bangunan yang terdapat dua puluh kios permanen yang memanjang sampai ke pintu belakang pasar. Bangunan Perkios memiliki ukuran 2x3 meter, tarif atau sewa yang harus dibayar perkios adalah 15 juta pertahun. Para pedagang yang berjualan dikios memiliki jenis barang yang dijual didominasi oleh pedagang sembako. Setiap pedagang sembako menyewa dua kios sekaligus, satu kios dijadikan sebagai tempat untuk berdagang dan kios lainnya digunakan sebagai gudang atau tempat penyimpanan barang.
Bangunan utama yang kedua berada diseberang bangunan utama yang pertama. Bangunan tersebut juga merupakan kios-kios permanen dengan luas dan biaya sewa yang sama. Hanya saja bangunan ini memiliki lebih sedikit kios, yaitu hanya terdapat delapan kios. Didepan bangunan kios-kios inilah dijadikan sebagai tempat parkir sepeda motor. Hal tersebut pun cukup menggangu pedagang dikos dan para pembelinya. Karena merasa ditutupi oleh sepeda motor yang terparkir.
Bangunan utama ketiga berada di sambing kanan bangunan utama kedua, jarak yang memisahkan antara kedua bangunan tersebut adalah lorong jalan menuju belakang bangunan utama ketiga. Bangunan ini adalah ruko alias rumah toko memiliki lima lantai. Sewa untuk satu ruko adalah 20 juta pertahun.
Bangunan tersebut hanya disewakan untuk lantai bawah saja, sedangkan untuk lantai atas adalah tempat para penjaga pasar atau staf pasar. Kelebihan dari bangunan tersebut adalah ruko lebih besar daripada kios.
44
Gambar 6. Kios
Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
Banguna utama kempat merupakan sebuah pendopo besar dengan berbentuk leter L. Bangunan tersebut memiliki atap yang tinggi dan tiang-tiang yang besar. Didalam bangunan tersebut terdapat kios-kios terbuka lengkap dengan bak-bak kecil. Kios-kios tersebut dikhususkan untuk pedagang ikan seperti ikan mas, ikan nila, ikan lele yang membutuhkan bak sebagai tempat ikan yang masih hidup. Untuk sewa atau tarif yang harus dibayar untuk sewa kios tersebut adalah Rp.300.000 per-bulan.
Gambar 7. Kios pedagang ikan Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
45
Di Pasar Kodok juga tersedia kios-kios non-permanen. Kios-kios tersebut terbuat dari papan. Kios ini cukup kecil hanya muat untuk satu orang. Kios tersebut ditarif Rp.180.000 per-bulan. Kebanyakan dari pedagang mengambil dua kios agar muatan barang lebih banyak dan kios pun disatukan agar lebih besar.
Jika pasar sudah tutup kios tersebut hanya di tutupi dengan terpal saja tidak ada pintu untuk menutupnya.
Gambar 8. Kios kecil
Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020 2.9 Perekonomian Pasar Kodok
Bagi kaum wanita khususnya ibu-ibu dalah hal yang biasa pergi berbelanja ke pasar, karena jarang seorang wanita yang tidak pernah pergi ke pasar. Seiring dengan kemajuan zaman, banyak dari kaum wanita yang tidak pernah lagi menginjak pasar tradisional, namun lebih memilih berbelanja di supermarket.
Karena alasan waktu, berbelanja ke supermarket yang semuanya sudah tertata rapi serta harga tak perlu lagi menawar, lebih memudahkan tanpa proses tawar menawar. Namun belanja di pasar tradisional, tetap memberikan sensasi tersendiri, karena kita bisa berdiskusi dengan penjual, bahkan kalau sudah akrab bisa menjadi pelanggan, karena dia berani mengeluhkan masalahnya kepada kita
46
Pasar Kodok Kecamatan Padangsidimpuan Utara Kota Padangsidimpuan merupakan salah satu pasar yang cukup terkenal di Kota Padangsidimpuan, para pedagang di pasar ini selain menjual bahan-bahan dan perlengkapan dapur, ada juga yang menjual pakaian bekas (monja), pakaian baru, kue-kue tradisional, pecah belah, pedagang kelontong grosir maupun eceran, sarapan pagi, dan masih banyak barang dagangan lainnya. Bagi masyarakat Kota Padangsidimpuan yang sering berbelanja di Pasar Kodok Kecamatan Padangsidimpuan Utara mengatakan bahwa berbelanja dipasar ini cukup lengkap dan barang-barangnya juga termasuk murah. Masyarakat yang berjualan di Pasar Kodok Kecamatan Padangsidimpuan Utara bukan hanya warga Kota Padangsidimpuan saja, tetapi ada juga masyarakat pendatang yang berjualan di Pasar Kodok.
Pasar Kodok merupakan pusat pasar pagi di Kota Padangsidimpuan, tak heran jika masyarakat banyak menggantunkan perekonomian dipasar ini, baik itu sebagai pedagang dan tukang becak. Pasar Kodok mulai beroperasi pada pukul 20:00 WIB. Disaat itulah terjadi transaksi antara si toke dan si pedagang. Barang yang dijual belikan biasanya seperti sayuran, dan buah-buahan. Sayuran dan buahan tersebut didatangkan dari luar kota seperti dari Berastagi dan diluar Kota Padangsidimpuan. Barang yang dibeli oleh si penjual kepada si toke akan dijual kembali pada subuh hari.
47
Gambar 9. Pedagang melakukan transaksi dengan toke Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
Kemeriahan pasar semakin terasa pada hari sabtu dan minggu atau hari libur. Sepeda motor pun memadati area parkir, begitu juga dengan becak yang mangkal, pasar pun menjadi padat, sempit, sesak, dan riuh. Jenis barang yang didagangkan pun lebih banyak dari hari biasanya. Seperti pedagang monja, lauk-pauk, dan buah-buahan. Pedagang monja menjadi langganan yang paling banyak peminatnya dihari libur, monja tersebut didatangkan langsung dari Kota Medan dan Tanjung Balai. Para ibu-ibu dan anak muda memadati pedagang monja memilih dan mencari mana yang bagus diantara banyak pakaian. Semua saling sibuk dan membolak-balik monja. Monja tersebut beragam jenis usia dan model, dari pakaian anak-anak hingga orang dewasa. Bukan hanya pakaian saja ada juga tirai, seprei, selimut dan sarung bantal. Jenis harga monja pun beragam, dari yang ter murah yaitu Rp. 10.000 untuk pakaian anak-anak hingga Rp. 50.000 untuk pakaian dewasa. Monja banyak peminatnya dikarenakan harga yang mudah dijangkau oleh para pengunjung pasar dan kualitas barang pun tidak mengecewakan.
48
Gambar 10. Pedagang Monja Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
Kemeriahan lainnya bukan hanya bagi pedagang monja, melainkan kemunculan buah lokal, seperti buah jottik-jottik. Buah jottik-jottik merupakan buah langka dan sangat jarang ditemui dipasar. Buah tersebut sangat digemari oleh anak-anak sekolah. Bentuk dari buah jottik-jottik adalah berukuran kecil dan rasanya manis dan asam. Buah tersebut tergolong murah, satu ikat dihargai 5 ribu.
Pedagang lebih memilih menjualnya disaat hari libur karena pembeli dan peminat lebih banyak. Untuk dihari biasa jenis barang yang laku hanya bahan-bahan pokok saja.
Gambar 11. Buah jottik-jottik
Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
49
Kemeriahan pasar juga terlihat pada pedagang lauk, dihari biasa hanya sedikit menu yang disajikan, tetapi untuk hari sabtu dan minggu atau hari libur menu yang disajikan pun lebih banyak. Hal tersebut dikarenakan banyak pengunjung yang meminati lauk yang sudah masak dan memilih membeli lauk dipagi hari. Pendapatan penjual lauk pun lebih banyak di hari sabtu dan minggu dari pada hari biasa. Ketika di hari sabtu dan minggu lauk akan cepat habis terjual dan si penjual lauk lebih cepat juga pulang kerumah dibandingkan pada hari biasa atau hari kerja.
Gambar 12. Penjual lauk
Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020 2.10. Pedagang
Pasar tradisional memang belum bisa memberikan kenyamanan setara dengan pasar modern. Tetapi pasar tradisional memiliki keunggulan yang tak dimiliki oleh pasar modern. Interaksi sosial yang kuat dan selalu memanusiakan manusia. Hanya di pasar rakyat, kita bisa unjuk kelihaian dalam seni tawar menawar. Pedagang dapat dikategorikan menjadi pedagang grosir. Pedagang grosir beroperasi dalam rantai distribusi antara produsen dan pedagang eceran.
Pedagang eceran, disebut juga pengecer, menjual produk komoditas langsung ke konsumen. Pemilik toko atau warung adalah pengecer. Dalam melakukan suatu
50
usahanya pedagang akan mencari barang yang memiliki harga lebih murah atau di bawah harga jual dan akan dijual lagi dengan selisih harga yang akan menjadi keuntungan dari pedang itu.
Banyak pedagang yang mengantungkan hidupnya dipasar Kodok.
Pedagang tersebut bukan hanya masyarakat dalam kota saja, melainkan banyak pedagang dari luar daerah untuk berjualan dan menggantungkan hidup di Pasar Kodok. Pedagang-pedagang tersebut berasal dari wilayah Tapsel, yaitu Sipirok, Simarpinggan, Batang Angkola. Hasil ladang dari wilayah tersebut seperti buah-buahan, sayuran kangkung, bayam, daun ubi. Sedangkan sayur jenis kol, worel, labu, kentang dan brokoli didatangkan dari Berastagi.
Parengge-rengge dalam istilah bahasa Tapanuli atau Batak Toba yang artinya pedagang pasar tradisional. Ativitas parrengge-rengge dimulai malam hari dan berakhir disiang hari atau bahkan sampai malam hari. Mereka menggunakan waktu istirahat disela-sela kegiatan berdagang. Parrengge-rengge dari luar kota tidur dilapak beralaskan papan atau tikar bahkan kain sarung yang bersebelahan dengan barang dagangan mereka.
Gambar 13. Parrengge-rengge yang masih tertidur pada pukul 04:09 Sumber: Dokumentasi penulis tahun 2020
51 BAB III
PROSES PRODUKSI IKAN SALE