• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PT. PERMATA SUMATERA ABADIRAYA MEDAN

E. Prosedur Penyusunan Anggaran Biaya Operasional

Pada perusahaan kecil penyusunan anggaran dapat dilaksanakan oleh pimpinan perusahaan itu sendiri secara mudah dan cepat. Tetapi pada perusahaan yang besar pengarahan dan keputusan didalam penyusunan anggaran operasional didelegasikan kepada komite anggaran, atau panitia yang berwajib membuat langsung laporan anggaran kepada pimpinan atau manajer tingkat atas. Panitia anggaran dikepalai oleh direktur anggaran yang bertugas menyusun pedoman pembuatan anggaran biaya operasional, atau membuat anggaran operasional yang mengenai instruksi dan pengumpulan data anggaran, realisasi dan laporan.

Penyusunan anggaran untuk perusahaan yang besar biasanya dilakukan dengan membentuk panitia anggaran. Pada umumnya anggaran biaya didasarkan pada rencana – rencana dan program – program tertentu. Pengalaman yang lalu disesuaikan dengan perubahan – perubahan yang diharapkan dalam kebijakan

Melihat prosedur penyusunan anggaran pada PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan yang tidak menggunakan panitia anggaran secara formal, dimana penyusunan panitia anggaran ini memerlukan biaya yang cukup besar, jadi hal ini jika dilihat dari segi biaya mungkin akan menguntungkan bagi perusahaan.

Disamping itu juga, penyusunan anggaran biaya operasional dapat dimengerti oleh bawahan, karena penyusunan dan pelaksanaan anggaran biaya operasional pada PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini tidak begitu rumit sehingga bawahan dapat mengerti maksud dari anggaran tersebut.

Untuk itu kepala bagian dari sub – sub unitnya memberikan pengertian pada saat para bawahan membaca laporan tersebut yang mungkin tidak mereka mengerti. Pengawasan yang dilakukan oleh kepala bagian pembukuan dan kepala bagian keuangan sangat baik, dengan adanya atau dilakukannya pengawasan bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Dengan kedua pengawasan ini diharapkan penyimpangan / spekulasi dan kebocoran dalam penggunaan biaya operasional tidak terjadi.

Dalam penyusunan anggaran biaya operasional PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :

1. Kepala bagian pembukuan dan kepala bagian keuangan memberikan formulir kepada unit – unit kerja yang berada dibawah kepala bagian pembukuan dan kepala bagian keuangan, isi dari formulir ini adalah biaya – biaya yang diperlukan oleh unit – unit kerja masing – masing selama satu tahunnya.

2. Setelah data – data tersebut direvisi, lalu dikembalikan kepada kepala bagian pembukuan dan kepala bagian keuangan dan kepala bagian pembukuan dan

kepala bagian keuangan menyusun dan menyatukan anggaran - anggaran secara keseluruhan. Dalam hal ini terkadang kepala bagian pembukuan dan kepala bagian keuangan masih merevisi terhadap anggaran – anggaran yang diajukan oleh setiap unit, karena belum harmonis atau kurang lengkap, maka tugas kepala bagian pembukuan dan kepala bagian keuangan untuk menyelesaikannya, agar anggaran satu bagian sejalan dengan anggaran bagian lainnya.

3. Anggaran operasional yang telah dikumpulkankan oleh kepala bagian pembukuan dan kepala bagian keuangan lalu dibicarakan kepada pimpinan atau direktur PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan untuk mengesahkan anggaran biaya operasional tersebut.

Itulah beberapa prosedur yang dilakukan oleh PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan untuk menyusun anggaran biaya operasionalnya.

BAB III

ANALISIS DAN EVALUASI

Dalam bab ini penulis akan menganalisis dan mengevaluasi hasil penelitian berupa data dan informasi yang diperoleh dari perusahaan. Penulis telah mendapat gambaran umum mengenai anggaran biaya operasional, penyusunan, dan pelaksanaannya pada PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan.

A. ANGGARAN BIAYA OPERASIONAL.

PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini menggolongkan biaya anggaran yang terdiri dari :

A. Biaya Tetap

Biaya tetap pada PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini terdiri dari biaya gaji, biaya penyusutan aktiva, dan biaya pajak.

B. Biaya Variabel.

Biaya variabel PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini terdiri dari biaya bahan produksi, biaya transportasi, biaya perjalanan dinas, biaya pemeliharaan gudang, biaya pemeliharaan kenderaan, biaya pemeliharaan kantor, biaya air kantor, biaya telephone, biaya pengobatan, dan biaya alat – alat tulis / fhoto copy / cetakan.

C. Biaya Semi Variabel.

Biaya semi variabel PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini terdiri dari biaya kirim dan bongkar barang.

B. PROSEDUR PENYUSUNAN BIAYA OPERASIONAL.

Mekanisme penyusunan anggaran PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan adalah dengan menggunakan metode campuran atau Top Down dan Bottom Up yaitu perusahaan menyusun anggaran dengan mulai dari atas (manajer puncak), yaitu dengan memberikan pedoman anggaran baik berupa pengarahan mengenai sasaran, target maupun omset penjualan yang ingin dicapai oleh perusahaan berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya yang telah diperhitungkan secara ilmiah dan kemudian masing – masing biro dengan unit – unit kerjanya diberi kesempatan untuk menyusun anggaran biayanya dan laba yang diharapkan.

Pada PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini, prosedur anggaran tidak menggunakan komite anggaran. Dari segi biaya cara ini menguntungkan, dimana dalam penyusunan panitia atau komite anggaran ini memerlukan biaya yang cukup besar. Tetapi bagi ketepatan anggaran yang disusun maka penggunaan panitia atau komite anggaran sangat dibutuhkan untuk menyetujui ataupun melakukan penyesuaian atas anggaran.

TABEL. 3.1

PT. PERMATA SUMATERA ABADIRAYA MEDAN MASTER BUDGET Biaya Pegawai Lain – Lain Alat Tulis, Cetakan & Fhoto Copy Biaya Sewa Kantor / Mess Biaya Pemeliharaan Gedung Biaya Pos & Kirim Dokumen Biaya Pemeliharan Alat Kantor

Secara keseluruhan biaya – biaya operasional ini dapat diakumulasikan dengan baik dengan anggaran yang telah ditetapkan, dan pos – pos biaya ini tidak sampai menghabiskan dana yang telah dianggarkan sehingga perusahaan mendapakan keuntungan, ini dapat kita buktikan dari penjualan yang harga pokok penjualannya sebesar Rp.6.338.150.588,- dan penjualannya menjadi Rp.6.945.401.337,- maka perusahaan mengalami kenaikan kas sebesar Rp.607.250.789.

Untuk itu penulis menganalisis satu persatu biaya operasionalnya.

1. Biaya Gaji Dan Upah

Pada pos biaya gaji dan upah, dianggarkan sebesar Rp.106.141.699,- dan realisasi biaya gaji dan upah sebesar yang dianggarkan. Hal ini membuat perusahaan mengeluarkan dana anggaran untuk pos biaya gaji dan upah sesuai dengan yang direalisasikan.

2. Biaya Pengobatan

Pada pos biaya pengobatan, perusahaan menganggarkan Rp.4.000.000,- dan realisasi biaya sebesar Rp.542.000,- dan sisa anggaran sebesar Rp.3.458.000,- hal ini membuat perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa.

3. Biaya Makan Karyawan.

Pada pos biaya makan karyawan, perusahaan menganggarkan Rp.1.300.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.1.257.000,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.43.000,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

4. Biaya Pesangon / THR.

Pada pos biaya pesangon / THR, dianggarkan sebesar Rp.17.314.000,- dan realisasi biaya pesangon / THR sebesar yang dianggarkan. Hal ini membuat perusahaan mengeluarkan dana anggaran untuk pos biaya pesangon / THR sesuai dengan yang direalisasikan.

5. Biaya Astek / Askes.

Pada pos biaya astek / askes, perusahaan menganggarkan Rp.10.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.5.353.265,- sehingga perusahaan dapat

menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.4.646.735,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

6. Biaya Pegawai Lain – Lain.

Pada pos biaya pegawai lain - lain, perusahaan menganggarkan Rp.3.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.3.456.910,- ini berarti dana yang terpakai melewati anggaran yang telah dianggarkan sehingga perusahaan harus mengeluarkan tambahan dana untuk biaya pegawai dan lain – lain sebesar Rp.456.910,-. Hal ini dapat mengurangi modal perusahaan.

7. Alat Tulis, Cetakan & Ft.Copy.

Pada pos alat tulis, cetakan & fhoto copy, perusahaan menganggarkan Rp.6.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.5.851.900,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.148.100,-.

hal ini dapat menambah modal perusahaan.

8. Biaya Perjalanan Dinas.

Pada pos biaya perjalanan dinas, perusahaan menganggarkan Rp.9.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.8.399.500,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.600.500,-, hal ini menambah modal perusahaan.

9. Biaya Telephone Dan Telex.

Pada pos biaya telephone dan telex, perusahaan menganggarkan

perusahaan harus mengeluarkan tambahan dana untuk biaya telephone dan telex sebesar Rp.128.915,-. Hal ini dapat mengurangi modal perusahaan.

10. Biaya Listrik, Air.

Pada pos biaya listrik dan air, perusahaan menganggarkan Rp.50.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.47.024.455,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.2.975.545,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

11. Biaya Packing.

Pada pos biaya packing / pembungkus, perusahaan menganggarkan Rp.1.150.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.1.146.100,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.3.900,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

12. Biaya Pengiriman Barang.

Pada pos biaya pengiriman barang, perusahaan menganggarkan Rp.9.150.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.9.140.520,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.9.480,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

13. Biaya Pajak Daerah.

Pada pos biaya pajak daerah, dianggarkan sebesar Rp.313.250,- dan realisasi biaya pajak daerah sebesar yang dianggarkan. Hal ini membuat perusahaan mengeluarkan dana anggaran untuk pos biaya gaji dan upah sesuai yang dianggarkan perusahaan.

14. Biaya Pemeliharaan Gudang.

Pada pos biaya, perusahaan menganggarkan Rp.8.500.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.8.119.854,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.380.146,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

15. Biaya Asuransi Gudang.

Pada pos biaya, perusahaan menganggarkan Rp.1.800.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.1.728.457,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.71.534,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

16. Biaya Sewa Kantor / Mess.

Pada pos biaya pajak daerah, dianggarkan sebesar Rp.16.666.673,- dan realisasi biaya pajak daerah sebesar yang dianggarkan. Hal ini membuat perusahaan mengeluarkan dana anggaran untuk pos biaya gaji dan upah sesuai dengan yang dianggarkan perusahaan.

17. Biaya Pemeliharaan Gedung.

Pada pos biaya, perusahaan menganggarkan Rp.6.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.5.731.170,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.268.830,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

kembali dana yang tersisa sebesar Rp.1.607,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

19. Biaya Sumbangan Dan Iuran.

Pada pos biaya sumbangan dan iuran, perusahaan menganggarkan Rp.3.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.2.215.200,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.784.400,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

20. Biaya Bahan Bakar.

Pada pos biaya, perusahaan menganggarkan Rp.21.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.20.261.024,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.738.976,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

21. Biaya Pemeliharaan Kenderaan.

Pada pos biaya, perusahaan menganggarkan Rp.25.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.23.227.400,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.1.772.600,- hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

22. Biaya Tol Dan Parkir.

Pada pos biaya tol dan parkir, perusahaan menganggarkan Rp.1.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.1.302.000,- ini berarti dana yang terpakai melewati anggaran yang telah dianggarkan sehingga perusahaan harus mengeluarkan tambahan dana untuk biaya tol dan parkir sebesar Rp.302.000,-.

Hal ini dapat mengurangi modal perusahaan.

23. Biaya Pajak Kenderaan.

Pada pos pajak kenderaan, dianggarkan sebesar Rp.3.080.000.,- dan realisasi biaya gaji dan upah sebesar yang dianggarkan. Hal ini membuat perusahaan mengeluarkan dana anggaran untuk pos pajak kenderaan pas atau balance.

24. Biaya Kenderaan Lainnya.

Pada pos biaya kenderaan lainnya, perusahaan menganggarkan Rp.100.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.130.000,- ini berarti dana yang terpakai melewati anggaran yang telah dianggarkan sehingga perusahaan harus mengeluarkan tambahan dana untuk biaya kenderaan lainnya sebesar Rp.30.000,-. Hal ini dapat merugikan perusahaan.

25. Biaya Asuransi Kenderaan.

Pada pos biaya asuransi kenderaan, dianggarkan sebesar Rp.4.584.085,- dan realisasi biaya asuransi kenderan sebesar yang dianggarkan. Hal ini membuat perusahaan mengeluarkan dana anggaran untuk pos biaya asuransi kenderan balance.

26. Biaya Penyusutan Mesin–Mesin.

Pada pos biaya penyusutan mesin - mesin, perusahaan menganggarkan Rp.1.300.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.1.294.416,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.5.584,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.46.872,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

28. Biaya Pos & Kirim Dokumen.

Pada pos biaya post dan kirim dokumen, perusahaan menganggarkan Rp.1.500.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.1.330.810,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.169.190, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

29. Biaya Pemeliharan Alat Kantor.

Pada pos biaya pemeliharaan alat kantor, perusahaan menganggarkan Rp.800.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.795.000,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.5.000,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

30. Biaya Administrasi Bank.

Pada pos biaya administrasi bank, dianggarkan sebesar Rp.1.995.000,- dan realisasi biaya administrasi bank sebesar yang dianggarkan. Hal ini membuat perusahaan mengeluarkan dana anggaran untuk pos biaya administrasi bank balance.

31. Biaya Pengurusan Izin.

Pada pos biaya pengurusan izin, perusahaan menganggarkan Rp.6.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.6.275.000,- ini berarti dana yang terpakai melewati anggaran yang telah dianggarkan sehingga perusahaan harus mengeluarkan tambahan dana untuk biaya pengurusan izin sebesar Rp.275.000,-. Hal ini dapat merugikan perusahaan.

32. Biaya Jamuan Umum.

Pada pos biaya jamuan umum, perusahaan menganggarkan Rp.4.0000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.3.753.930,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.246.070,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

33. Biaya Kantor Lainnya.

Pada pos biaya kantor lainnya, perusahaan menganggarkan Rp.2.000.000,- dan dana yang terpakai sebesar Rp.1.582.700,- sehingga perusahaan dapat menyimpan kembali dana yang tersisa sebesar Rp.417.300,-, hal ini menguntungkan bagi perusahaan.

Dari laporan anggaran biaya operasional diatas, kita dapat mengetahui bahwa perusahaan PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan dapat meningkatkan efisiensi perusahaannya. Dan dengan ini penulis juga melampirkan perbandingan neraca 31 Desember 2005 dan 31 Desember 2006 dan perhitungan laba rugi sebagai bukti bahwa perusahaan PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini telah mampu meningkatkan efisiensi perusahaannya dari segi biaya sehingga perusahaan mendapatkan laba yang memuaskan.

TABEL 3.2

PT. PERMATA SUMATERA ABADIRAYA MEDAN PERBANDINGAN NERACA

31 DESEMBER 2005 DENGAN 31 DESEMBER 2006 ( Dalam Rupiah )

No Perkiraan 31 Desember 2005 31 Desember 2006

A

Hutang biaya yg msh hrs dibayar Hutang lain – lain

Jumlah hutang lancar :

Modal :

Laba (rugi) yang ditahan Laba (rugi) s/d bulan lalu Laba (rugi) bulan berjalan

Sumber : Laporan Keuangan PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan (Tahun 2006)

Dari laporan perbandingan neraca 31 Desember 2005 dengan 31 Desember 2006 dapat kita ketahui bahwa aktiva PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan mengalami peningkatan, ini dapat kita lihat dari jumlah aktiva pada 31 Desember 2005 Rp.1.919.030.671,- dan pada 31 Desember 2006 Rp.2.101.104.221,-. Ini berarti aktiva pada PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan mengalami peningkatan sebesar Rp.182.073.550,- di tahun 2006.

Sedangkan jumlah hutang lancar pada 31 Desember 2005 Rp.830.098.317,- dan 31 Desember 2006 Rp.1.035.210.055,- ini berarti mengalami penambahan hutang lancar sebesar Rp.205.111.738, dan jumlah modal pada 31 Desember 2005 sebesar Rp.1.655.790.404 dan pada 31 Desember 2006 Rp.1.632.752.216,- ini berarti mengalami penurunan modal sebesar Rp.23.038.188,- jadi untuk jumlah hutang dan modal pada 31 Desember 2005 sebesar Rp.2.485.888.721,- dan di 31 Desember 2006 Rp.2.667.962.271,- ini berarti pada 31 Desember 2006 mengalami peningkatan hutang dan modal sebesar Rp.182.073.550,-.

TABEL. 3.3

PT. PERMATA SUMATERA ABADIRAYA MEDAN PERHITUNGAN LABA RUGI

PERIODE 31 DESEMBER 2005 S/D 31 DESEMBER 2006 ( Dalam Rupiah )

KETERANGAN 31 Desember 2005 31 Desember 2006

Penjualan Pendapatan & biaya lain – lain : pendapatan lain – lain

biaya lain – lain

Jumlah pendapatan & biaya lain – lain LABA RUGI SEBELUM PAJAK :

455.358.929 Sumber : Laporan Keuangan PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan (Tahun 2006)

Dari laporan perhitungan laba rugi periode 31 Desember 2005 s/d 31 Desember 2006 dapat kita lihat penjualan pada PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan mengalami peningkatan besar dan maju pesat, yaitu mengalami peningkatan sebesar Rp.6.490.042.448,- ini menandakan bahwa PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan berhasil menjualkan produknya.

Sedangkan untuk biaya operasional pada bulan Desember 2005 Rp.26.530.994,- dan pada bulan Desember 2006 Rp.357.399.772,- ini menunjukkan biaya operasionil meningkat sebesar Rp.330.868.778,- dan untuk laba rugi sebelum pajak pada tahun 2005 PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan mengalami kerugian sebesar Rp.23.038.188,- dan tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar Rp.252.073.939,-.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis dan sejalan dengan data – data yang telah dikumpulkan mengenai biaya operasional dari PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan, maka dapat disimpulkan :

1. Dalam penyusunan anggaran biaya operasional, PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini dapat meningkatkan efisiensi perusahaan karena anggaran biaya operasional PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini berjalan baik dalam hal prosedur penyusunan anggaran dan pihak yang menjadi koordinatornya adalah kepala bagian pembukuan / keuangan sehingga dapat meningkatkan efisiensi perusahaan.

2. Penyusunan anggaran biaya operasional PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini tidak menggunakan panitia / komite anggaran. Intruksi penyusunan anggaran datang dari direktur utama melalui kepala cabang disetiap cabangnya dan akan bertanggung jawab terhadap penyusunan anggaran biaya operasional perusahaan.

3. Mekanisme penyusunan anggaran biaya operasional PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan ini menggunakan campuran Top Down dan Botton Up dengan mengikut sertakan seluruh unit – unit kerjanya untuk menyusun anggarannya masing – masing, dimana sebelumnya telah diberikan gambaran secara garis besar oleh manajemen puncak mengenai sasaran, target dan omset

yang ingin dicapai perusahaan, dengan cara sejauh inilah PT. Permata Sumatera Abadiraya Medan meningkatkan efisiensi perusahaannya.

4. Dalam anggaran operasionalnya, perusahaan ini menggolongkan biaya – biaya yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel dan perencanaan yang dibuat perusahaan ini sangat baik karena melibatkan semua seksi yang ada dalam perusahaan sehingga semua pihak dapat bertanggung jawab dalam penyusunan anggaran.

B. Saran

Setelah melihat, meneliti dan membaca prosedur anggaran operasional, maka penulis memberikan saran dengan tujuan untuk menjadi masukan kepada perusahaan agar perusahaan dapat mengetahui hal – hal yang dapat diperhatikan : 1. Mengingat pentingnya peranan anggaran, sebaiknya anggaran disusun secara

teliti dan mengawasi lagi pengeluaran biaya – biaya yang tidak begitu penting guna meminimkan pengeluaran.

2. Perlu ditingkatkan pengawasan dari pimpinan perusahaan untuk mencegah terjadinya pemborosan dana dan menghindari penyelewengan dana dari anggaran yang diterapkan.

3. Dalam upaya mewujudkan tujuan perusahaan yang sebenarnya, maka kiranya perlu diambil kebijakan agar perusahaan mampu memperhitungkan estimasi –

4. Peningkatan kualitas sumnber daya manusia (skill) yang sekaligus merupakan modal kerja bagi perusahaan guna peningkatan efisiensi dan efektifitas perusahaan.

5. Karena anggaran tidak terlepas dari mekanisme kerja masing – masing badan organisasi perusahaan, pimpinan perlu mengambil langkah – langkah untuk menciptakan mekanisme kerja yang baik, seperti menciptakan keharmonisan kerja antar badan organisasi sebagai suatu kesatuan yang integral.

6. Hubungan baik antar pegawai (office boy) sebaiknya dipertahankan dengan baik dan komunikasi yang sehat antar atasan dan bawahan guna terciptanya kerjasama yang baik sehingga tujuan perusahaan dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Carter, Usry, Akuntansi Biaya. Buku Satu, Edisi Tiga Belas, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2004.

Firdaus, Akuntansi Manajemen. Cetakan Kesebelas, Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1994.

Kuncoro, Muhrajad, Ph.D. Metode Riset Untuk Bisnis Dan Ekonomi, Penerbit Erlangga, Jakarta 2003.

Madura, Jeff, Pengantar Bisnis, Edisi Revisi, Penerbit Salemba Empat.Jakarta, 2004.

Marzuki, Metode Penelitian, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2000.

Munandar, M, Budgeting, Edisi Satu, Penerbit BPFE Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 2001.

Nafarin M, Penganggaran Perusahaan, Edisi Revisi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2004.

Nasehatun, Apandi, Budget dan Control, Penerbit Grasindo, Jakarta, 1999.

Supriyono R A, Akuntansi Biaya Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok, Buku Satu, Edisi Kedua, Penerbit BPFE, Yogyakarta, 1999.

Sutrisno, Akuntasi Biaya, edisi pertama, Cetakan pertama, Econosia FE UII,

Dokumen terkait