• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Pendekatan Struktur, Perilaku, dan Kinerja

2.2.1 Struktur Pasar

Struktur pasar dapat dijelaskan sebagai lingkungan persaingan dimana perusahaan berada untuk melakukan operasinya dalam pasar tertentu (Salvatore, 2003). Koch (1974) menjelaskan bahwa struktur pasar adalah unsur-unsur lingkungan yang strategis pada perusahaan yang memiliki pengaruh dan dipengaruhi oleh perilaku dan kinerja perusahaan dalam pasar, dimana perusahaan tersebut beroperasi. Menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 1999, struktur pasar adalah keadaan pasar yang memberikan petunjuk tentang aspek-aspek yang memiliki pengaruh penting terhadap perilaku pelaku usaha dan kinerja pasar, antara lain jumlah penjual dan pembeli, hambatan masuk dan keluar pasar, keragaman produk, sistem distribusi, dan penguasaan pangsa pasar.

Secara teoritis struktur pasar dapat dibedakan menjadi dua kondisi ekstrim, yaitu pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna. Namun kondisi ekstrim ini jarang terjadi, pada umumnya pasar tersegmentasi pada kedua arus tersebut. Kondisi pertama adalah pasar persaingan monopolistik, dimana masing-masing perusahaan mempunyai daya monopoli terbatas. Kondisi pasar kedua adalah oligopoli, yang mana terdapat beberapa

perusahaan di dalam pasar dan mampu menghasilkan daya monopoli jika antar perusahaan bekerja sama (Rahardja, 2010). Struktur pasar dapat dilihat dari tiga hal yaitu jumlah perusahaan yang ada dalam industri, tipe produksi, dan hambatan masuk (Hasibuan, 1993). Ringkasan tipe-tipe struktur pasar dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 : Tipe-tipe Struktur Pasar

Jenis Pasar Jumlah

Perusahaan

Tipe Produksi Hambatan Masuk

1. Persaingan Sempurna Banyak Homogen Bebas

2. Persaingan Tidak Sempurna

a. Persaingan Monopolistik

Banyak Diferensiasi Bebas

b. Oligopoli Sedikit Diferensiasi Terbatas

c. Monopoli Satu atau

Kolusi

Diferensiasi Sangat Terbatas Sumber : Hasibuan, 1993

Karakteristik pasar suatu industri memiliki arti penting bagi iklim persaingan antar perusahaan di dalam pasar khususnya, dan keadaan perekonomian pada umumnya. Jumlah dan distribusi perusahaan di dalam pasar mempengaruhi harga jual yang berlaku dan output yang terdapat di dalamnya. Berikut secara lebih rinci jenis-jenis struktur pasar :

1. Struktur Pasar Persaingan Sempurna

Pappas (1995) menyatakan bahwa pasar persaingan sempurna sebagai struktur pasar yang dicirikan oleh sejumlah besar pembeli dan penjual untuk sebuah produk yang identik. Pasar disebut bersaing secara sempurna jika terdapat sejumlah besar penjual dan masing-masing diantaranya memiliki kekuatan pasar yang relatif sama, sehingga perusahaan dalam pasar persaingan

sempurna merupakan penerima harga (price taker). Kedua, jenis produk yang ditawarkan bersifat homogen. Hal yang penting dalam homogenitas ini adalah keleluasaan para pembeli memilih dari sekian banyak produsen yang menjual produknya, dengan kata lain produk yang dihasilkan memiliki sifat substitusi sempurna. Ketiga, terdapat mobilitas sumber daya yang sempurna. Perusahaan bebas dapat masuk atau meninggalkan suatu sektor industri dan sumber daya harus dapat bergerak bebas tanpa hambatan di antara berbagai alternatif.

Keempat, adanya informasi yang sempurna. Produsen dan konsumen disini

memiliki informasi penuh perihal harga produk dan input yang diperjualbelikan. Informasi yang sempurna menyebabkan pelaku ekonomi tidak membutuhkan pengorbanan apapun untuk mengakses informasi (Miller, 2000).

Dalam hal penentuan harga, harga pada struktur persaingan sempurna terbentuk melalui mekanisme pasar dari hasil interaksi antara permintaan dan penawaran. Di dalam teori mikro ekonomi, kurva permintaan pasar dari sebuah produk hanyalah penjumlahan horisontal dari kurva permintaan seluruh konsumen dalam pasar tersebut, sebagaimana dijelaskan pada Gambar 2.2. Kurva permintaan yang dihadapi rata-rata perusahaan dalam pasar persaingan sempurna diperlihatkan pada d. d bersifat elastis sempurna atau ditentukan oleh garis horizontal pada harga ekuilibrium pasar P1. Ini disebabkan karena para

pesaing murni tidak memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi harga itu dengan cara mengubah tingkat output dan penjualan produknya. Dapat disimpulkan bahwa perusahaan hanya bisa menjual setiap unit produksinya pada harga tersebut.

Jika perusahaan menaikkan harga produknya di atas harga pasar, maka perusahaan akan kehilangan pangsa pasarnya. Di sisi lain, jika perusahaan itu menjual produknya di bawah harga pasar maka perusahaan tersebut relatif akan

mengurangi keuntungannya, karena perusahaan pesaing bisa menjual berapapun jumlah produknya, pada tingkat harga yang berlaku di pasar. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa harga produk bersifat tetap, maka perubahan dalam penerimaan total untuk setiap perubahan dalam output (MR) juga bersifat tetap. Dengan kata lain, perusahaan dalam pasar persaingan sempurna, P = MR (Salvatore, 2003).

2. Struktur Pasar Persaingan Monopolistik

Menurut Salvatore (1995) teori pasar persaingan monopolistik merupakan pasar dimana terdapat banyak perusahaan yang menjual komoditi yang serupa, dan banyak pesaing efektif serta tidak satupun yang memiliki pangsa pasar diatas 10 persen. Kemudian, perusahaan dapat memasuki atau meninggalkan pasar tanpa banyak kesulitan. Lebih lanjut Pappas (1995) menyatakan bahwa pasar persaingan monopolistik sangat serupa dengan persaingan sempurna dalam hal persaingan harga yang ketat. Unsur monopolistik tercipta karena begitu banyak perusahaan yang berada di dalam pasar menjual produk yang terdiferensiasi. Perbedaan pada karakteristik produk yang dihasilkan menyebabkan perusahaan yang ada di dalam pasar ini memiliki kebijakan khusus dalam penentuan harga. Perusahaan didorong untuk melakukan

P P Q Q d=P=MR P1 D S Perusahaan Industri Gambar 2.2

persaingan non harga dan perusahaan dapat mengendalikan harganya, sehingga dengan demikian menghadapi kurva permintaan yang memiliki kemiringan negatif. Akan tetapi, dengan banyaknya substitusi yang serupa sangat membatasi kekuatan perusahaan untuk memonopoli pasar, sehingga kurva permintaan relatif elastis.

Elastisitas permintaan pasar persaingan monopolistik berada diantara pasar persaingan sempurna dan monopoli, seperti yang terlihat pada Gambar 2.3.

Menurut Miller (2000) persaingan monopolistik berbeda dari persaingan sempurna dalam hal mempromosikan produknya, karena dalam persaingan sempurna tidak diperlukan. Strategi promosi dilakukan perusahaan dalam persaingan monopolistik untuk mempengaruhi permintaan produknya atau mempertahankan tingkat penjualan yang sudah ada. Keseimbangan perusahaan monopolistik sebelum masuknya pesaing baru dapat dilihat pada Gambar 2.4.

“d adalah kurva permintaan elastisitas harga yang tinggi yang dihadapi pesaing monopolistik. Tingkat output perusahaan terbaik dalam jangka pendek adalah Q1 ditunjukkan pada titik E yaitu saat MR=MC. Harga yang memaksimumkan keuntungan berada pada titik A, karena titik A berada diatas biaya rata-rata (AC). Pesaing monopolistik memaksimumkan keuntungannya pada AB per unit dan total ABCF. Pesaing monopolistik akan mencapai titik impas jika P=AC.”

Q P d persaingan sempurna d persaingan monopolistik d monopoli Gambar 2.3

Tetapi perusahaan dalam persaingan monopolisitik tidak mempunyai kekuatan pasar yang dominan. Perusahaan dapat bebas masuk dan keluar dalam pasar. Selama industri memberikan keuntungan, perusahaan-perusahaan baru akan masuk sehingga kurva permintaan relatif bergeser ke kiri menggerus pangsa pasar perusahaan yang ada di dalamnya hingga keuntungan ekonomis tercapai (sampai titik nol), dapat dilihat pada Gambar 2.5. Dalam keseimbangan, permintaan bergeser ke kiri sampai kurva d’ menyentuh kurva AC perusahaan. Ekuilibrium jangka panjang untuk industri berada pada titik A’ dimana pada titik tersebut keuntungannya nol atau tidak ada lagi yang tergoda untuk masuk atau keluar pada industri (Samuelson, 2003).

P P2 P1 MC AC MR Q d Q1 A B E F C Gambar 2.4 P P1 MC AC MR’ Q d’ Q1 A’ E’ Gambar 2.5

3. Struktur Pasar Oligopoli

Pasar oligopoli adalah struktur pasar dimana terdapat beberapa pelaku usaha yang memimpin pasar dengan pangsa pasar gabungan sebesar 60 persen sampai 100 persen (Salvatore, 1995). Menurut Rahardja (2010) pasar oligopoli adalah pasar yang terdiri atas sedikit perusahaan dan memiliki kekuatan cukup besar untuk mempengaruhi harga pasar. Sedangkan menurut Pappas (1995), pasar oligopoli merupakan struktur pasar yang memiliki sifat saling ketergantungan antar pelaku usaha dalam menetapkan jumlah keluaran atau harga dan memiliki hambatan masuk pasar yang tinggi.

Struktur oligopoli dapat terjadi akibat dua faktor penting ini yaitu pertama, adanya efisiensi skala ekonomi yang besar. Teknologi padat modal yang dibutuhkan dalam proses produksi menyebabkan efisiensi (biaya rata-rata) baru tercapai bila output diproduksi dalam skala besar. Keadaan tersebut merupakan hambatan untuk masuk bagi perusahaan-perusahaan pesaing. Kedua, kompleksitas manajemen. Struktur pasar ini berkompetisi dalam menentukan harga dan non harga. Perusahaan harus memiliki kemampuan manajemen yang sangat baik agar mampu bertahan dalam industri yang persaingannya begitu kompleks ini (Rahardja, 2010).

Berbagai jenis oligopoli dapat muncul karena ciri-cirinya yang berlainan. Dilihat dari jenis produk, jenis produk yang dihasilkan dalam pasar ini bisa bersifat homogen dan terdiferensiasi. Jika produknya homogen, struktur bersifat oligopoli murni, dan jika produk terdiferensiasi, maka dinamakan dengan oligopoli terdiferensiasi.

Menurut Teguh (2010), perbedaan penampilan produk yang dihasilkan produsen pada gilirannya akan turut menentukan perilaku bersaing bagi

perusahaan-perusahaan yang berada di dalam pasar. Kalau produk yang dihasilkan oleh produsen bersifat homogen, maka perusahaan akan bersaing secara bebas. Sebagai gantinya, sejumlah perusahaan dominan yang ingin menguasai pasar akan menerapkan strategi-strategi bisnis lainnya. Namun sebaliknya keadaan persaingan berubah ketika produk yang dihasilkan terdiferensiasi. Pembedaan corak produk oleh masing-masing pesaing akan memberikan keunggulan ekstra di dalam pasar, dan pada akhirnya akan memiliki wilayah pasar tersendiri.

Lebih lanjut Rahardja (2010) mengemukakan bahwa oligopoli tidak hanya memperhatikan respon pembeli saja, namun memperhatikan juga respon dari para pesaingnya di dalam pasar. Hambatan masuk pada pasar ini cukup tinggi, para oligopolis pun dapat bertindak sebagai monopolis terutama jika mereka melakukan kerjasama. Kerjasama dalam perilaku strategis ini bisa disebut kolusif.

Oligopoli kolusif mempunyai banyak kesamaan dengan pasar monopoli, mereka akan menghasilkan output dan harga yang sama demi mendapatkan keuntungan seperti monopolis. Oleh karenanya, perusahaan yang berada dalam industri ini memiliki sifat saling ketergantungan. Keseimbangan maksimum untuk oligopolis kolusif ditunjukkan dalam Gambar 2.6 pada titik E, perpotongan antara kurva MR dan MC. Disini kurva permintaan yang tepat di (d), yang mempercayai bahwa perusahaan-perusahaan yang lain akan menetapkan harga yang sama dengan (d). Harga optimum untuk oligopolis kolusif ditunjukkan pada titik G, persis diatas E. Harga ini identik dengan harga monopoli, berada diatas biaya marjinal dan oligopolis yang berkolusi mendapatkan keuntungan yang bagus (Samuelson, 2003).

Samuelson (2003) mengungkapkan bahwa meskipun banyak oligopolis akan senang dengan situasi kolusi, pada prakteknya banyak hambatan yang diterima. Pertama, kolusi adalah tindakan ilegal. Kedua, perusahaan-perusahaan dalam industri dapat berlaku curang dengan melanggar perjanjian yang sudah dibuat, seperti pemotongan harga secara sembunyi-sembunyi. Ketiga, pertumbuhan perdagangan internasional yang berarti bahwa banyak perusahaan menghadapi persaingan yang intensif baik dari perusahaan asing maupun domestik.

4. Struktur Pasar Monopoli

Monopoli adalah bentuk organisasi pasar dimana terdapat perusahaan tunggal yang menjual komoditi tanpa adanya komoditi substitusi yang sempurna (Salvatore, 2003). Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, monopoli adalah penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. Pada kondisi struktur pasar seperti ini, kompetitor baru sulit masuk.

Struktur monopoli dapat terjadi secara ekonomi dan non-ekonomi. Secara ekonomi, struktur monopoli dapat terjadi karena skala ekonomi yang besar dalam

P MC AC MR Q d Q1 G E Gambar 2.6

memproduksi barang tersebut, sehingga akan lebih efisien jika produk tersebut diproduksi dengan satu perusahaan saja. Sedangkan secara non-ekonomi, monopoli terjadi jika perusahaan memiliki kewenangan atau kebijakan dari pemerintah. Dalam hal ini, perusahaan ditetapkan sebagai produsen dan penyalur tunggal barang namun tetap pada pengendalian pemerintah. Ini bisa disebut dengan monopoli alamiah. Monopoli juga dapat terjadi jika perusahaan memiliki hak paten pada produknya, untuk menghalangi perusahaan lain memproduksi komoditi yang sama.

Permintaan terhadap output perusahaan merupakan permintaan industri. Dalam penetapan harga, posisi perusahaan monopolis adalah penentu harga (price maker). Gambar 2.6 menggambarkan keseimbangan jangka pendek dalam perusahaan monopoli melalui pendekatan marjinal. Tingkat output jangka pendek terbaik dan laba maksimum tercapai pada output Q1 dimana kurva MC

memotong kurva MR dibawah dan kemiringan kurva MR lebih kecil daripada kemiringan kurva MC (P≥AVC). Pada tingkat output ini, monopolis menentukan harga P2 dan memperoleh keuntungan per unit sebesar selisih antara P2 ke P1.

MR P Q D AC MC Q1 P2 P1 Gambar 2.7

Secara umum struktur pasar memiliki beberapa elemen yang menggambarkan ukuran perusahaan-perusahaan yang bersaing di dalam suatu pasar. Elemen-elemen yang termasuk dalam struktur pasar antara lain pangsa pasar dan konsentrasi pasar yang termasuk dalam elemen internal serta hambatan untuk masuk yang termasuk elemen eksternal.

a. Pangsa Pasar (Market Share)

Pangsa pasar adalah gambaran besarnya tingkat penjualan relatif perusahaan, yaitu rasio antara penjualan suatu perusahaan dengan total penjualan industri. Setiap perusahaan memiliki pangsa pasarnya sendiri, dan besarnya berkisar antara 0 hingga 100 persen dari total penjualan. Pangsa pasar merupakan indikator penting dalam menentukan derajat kekuasaan monopoli. Semakin tinggi pangsa pasar maka kekuasaan monopoli semakin besar, sedangkan jika pangsa pasarnya rendah maka kekuatan monopoli yang dimiliki akan semakin kecil atau bahkan tidak ada sama sekali (Shepherd, 1992).

Pangsa pasar sering digunakan sebagai indikator proksi untuk melihat adanya kekuatan pasar dan menjadi indikator tentang seberapa penting perusahaan di dalam industri. Pangsa pasar yang besar biasanya menandakan kekuatan pasar yang besar dalam menghadapi persaingan dan sebaliknya. Pangsa pasar dapat dihitung dengan beberapa cara yaitu berdasarkan nilai penjualan, unit penjualan, unit produksi, dan kapasitas produksi. Pada produk yang bersifat homogen biasanya pangsa pasar diukur dengan menggunakan unit atau volume penjualan, sedangkan pada pasar yang produknya heterogen pangsa pasar dihitung terhadap total penjualan. Secara umum terdapat korelasi positif antara pangsa pasar dengan profitabilitas.

b. Konsentrasi (Concentration)

Konsentrasi industri merupakan suatu variabel yang dapat diukur dan pada umumnya pengukuran ini lebih banyak dilakukan untuk derajat struktur oligopoli (Hasibuan, 1993). Konsentrasi sering digunakan sebagai ukuran tingkat persaingan. Konsentrasi juga sering dipakai sebagai alat analisis struktur pasar, perilaku, dan kinerja perusahaan yang beroperasi di dalamnya, dan secara tidak langsung menjadi indikator perilaku anti persaingan atau kolusi (Satriawan dan Wigati, 2002). Geroski dalam Satriawan dan Wigati (2002) mengungkapkan bahwa pesaing baru dalam industri akan mengurangi konsentrasi pasar apabila ukuran perusahaan tersebut relatif sama besar dengan ukuran perusahaan-perusahaan yang ada di industri tersebut. Begitu juga dengan keluarnya perusahaan dari suatu industri akan meningkatkan konsentrasi apabila ukuran perusahaan yang keluar relatif kecil dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi dalam industri.

Menurut Greer dalam Hasibuan (1993) menjelaskan bahwa ada empat sebab pokok adanya konsentrasi, yaitu :

1. Kesempatan atau keberuntungan (luck)

2. Faktor teknis berupa; skala ekonomi, kemudahan memperoleh sumber daya, besarnya pasar, dan tingkat pertumbuhan pasar.

3. Kebijakan pemerintah berupa; peraturan, pemberian paten, lisensi, tarif dan kuota.

4. Kebijakan bisnis terdiri dari; merger dan predatory pricing.

Pengukuran konsentrasi tersebut dapat memperlihatkan perubahan-perubahan, namun perubahan tersebut kurang terlihat dalam jangka pendek. Dalam studi empiris mengenai struktur industri, dua indikator konsentrasi yang

digunakan umumnya, yaitu konsentrasi rasio dan Hirscmann-Herfindahl Index (Church dan Ware dalam Sumarno dan Kuncoro, 2002). Indeks konsentrasi (Concentration Ratio) yaitu statistik yang dikembangkan untuk menghasilkan ukuran ringkasan struktur pasar. Ukuran konsentrasi pasar yang umumnya digunakan adalah persentase dari seluruh jumlah produksi yang dipasok oleh empat perusahaan terbesar (CR4). Sedangkan Hirscmann-Herfindahl Index (HHI)

yaitu indeks yang dihitung dengan menjumlahkan kuadrat dari pangsa pasar semua perusahaan dalam sebuah industri. Semakin tinggi indeks Herfindahl, semakin besar tingkat konsentrasi dalam industri (Salvatore, 2003).

c. Hambatan Untuk Masuk (Barrier to Entry)

Menurut Asian Development Bank (2001), barrier to entry dapat didefinisikan sebagai bentuk karakteristik pasar yang menghambat pendatang baru untuk bersaing atas dasar yang sama dengan perusahaan yang sudah ada. Hambatan untuk masuk sangat menentukan degree of competition baik aktual maupun potensial sehingga dapat diduga mempengaruhi kinerja dan struktur pasar. Menurut Geroski dalam Satriawan dan Wigati (2002) entry dapat didefinisikan sebagai berikut :

1. Masuknya perusahaan baru kedalam suatu industri.

2. Entry ditandai dengan didirikannya perusahaan baru dalam satu industri yang serupa oleh perusahaan yang masih beroperasi dalam industri tersebut.

3. Pengambilalihan (akuisisi) suatu perusahaan oleh perusahaan lain satu lingkup industri.

4. Penggabungan beberapa macam produk oleh perusahaan yang masih beroperasi dalam industri tersebut sehingga menciptakan pangsa pasar baru.

5. Masuknya perusahaan yang dimiliki oleh pemodal asing ke industri dalam negeri.

Menurut Bain (1956) penentu utama kondisi hambatan masuk adalah skala ekonomi yang besar, diferensiasi produk dan keuntungan biaya absolut antara perusahaan yang ada dengan yang baru. Menurut Shepherd (1992), ada dua jenis barrier to entry, yaitu hambatan eksogen dan hambatan endogen. Hambatan eksogen merupakan hambatan untuk ke dalam pasar yang bersifat dari luar perusahaan. Hambatan eksogen ini terdiri dari modal, skala ekonomi, diferensiasi produk, intensitas penelitian dan pengembangan, investasi yang besar serta integrasi vertikal. Sedangkan hambatan endogen dapat berupa kebijakan harga dari perusahaan dominan, strategi penguasaan produk, penciptaan kelebihan kapasitas, dan loyalitas konsumen pada suatu produk itu sendiri.

Faktor penghambat masuk dapat dihitung dengan menggunakan tingkat

Minimum Efficiency Scale (MES). Pesaing baru tidak akan masuk, kecuali yakin

akan memperoleh keuntungan setelah masuk ke dalam pasar. Jika MES relatif lebih besar terhadap pasar, maka perusahaan baru tidak akan dapat membuka pabrik yang beroperasi secara efisien tanpa meningkatkan output industri. Perusahaan yang memasuki pasar dengan kondisi di bawah MES tidak akan sanggup bersaing dengan perusahaan yang telah ada di pasar. Beberapa ukuran yang dijadikan proksi bagi MES yaitu output dari perusahaan terbesar, ukuran rata-rata dari seluruh pabrik yang berada pada kelas distribusi tinggi, dan ukuran

rata-rata dari beberapa pabrik terbesar yang menguasai 50 persen output industri.

Dokumen terkait