• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

B. Analisis Subjek

4. Subjek 4 (ADQ)

Subjek keempat dalam penelitian ini adalah seorang laki-laki yang berusia 55 tahun dengan inisial ADQ. ADQ lahir pada 16 Juni 1958 ini memilki tubuh gemuk, pendek, berkulit hitam dan berjanggut. ADQ adalah pribadi yang keras namun tetap sopan pada orang lain. ADQ beragama kristen protestan. Pekerjaan ADQ adalah sebagai PNS.

Subjek adalah ayah dari 2 orang anak. Subjek bekerja sebagai seeorang PNS dan istri subjek adalah seorang ibu rumah tangga. Anak pertama subjek masih duduk di bangku SMA dan anak kedua subjek masih SMP. Keseharian subjek bekerja dan baru pulang ke rumah sore. Setelah di rumah subjek berkumpul dengan keluarga subjek dan bercertia tentang kesibukan masing-masing. Subjek lebih sering menyakan pada kedua anaknya tentang sekolah mereka, apakah anak-anak subjek mampu menerima pelajaran dari gurunya atau bagaimana. Setiap hari minggu

subjek dan keluarga kegereja bersama, karena menurut subjek ketika bersama dengan keluarga subjek lebih menjadi sehat dan semangat.

b. Hasil wawancara

Pada awal wawancara subjek terkesan sangat antusias untuk menceritakan tentang kehidupan subjek. Awal wawancara dilakukan di rumah subjek. Suasana rumah subjek lumayan tenang sehingga subjek dapat menceritakan kehidupan subjek dengan baik. Wawancara kedua dilakukan di laboraturium rumah sakit, subjek tampak agak khawatir dengan hasil lab. Namun, dalam tahap wawancara subjek menjawab semua pertanyaan dengan baik meskipun dengan suasana yang agak ribut. Dari hasil wawancara ada beberapa poin yang dapat menjelaskan hasil tersebut, yaitu :

1) Perasaan awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II

Awalnya subjek pernah di opname di Rumah Sakit Umum Profesor Johanes kupang, setelah itu dokter menyarankan untuk memeriksa lab lengkap dan dari hasil laboraturium yang ada subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II. Setelah subjek mengetahui penyakit yang dialaminya, subjek merasa takut dan cemas dengan penyakit tersebut.

pada tahun 1998, saya di opname di ruamh sakit umum profesor Johanes kupang dan pada saat itu di priksa lab lengkap dan di ketahui bahwa saya menderita penyakit diabetes

(3-27).

jadi saya merasa takut juga dan cemas begitulah

2) Reaksi aawal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II

Pada awalnya subjek kaget dengan penyakit yang dialaminya, karena subjek pernah mendengar bahwa penyakit diabetes melitus tipe II susah untuk disembuhkan. Ketika dokter menganjurkan untuk diet, subjek merasa berat untuk menjalankannya, hal ini dikarenakan pola makan subjek yang banyak kini harus dikurangi. Lama kelamaan subjek mengikuti anjuran dokter dan mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter, akan tetapi subjek tidak sepenuhnya mengikuti anjuran dokter.

Ya saya juga sempat kaget juga ya, kerana sebelumnya saya mendengar bahwa kalau orang yang menderita penyakit diabetes itu sepertinya ya sepertinya ya katnya susah disembuhkan

(23-26)

saya merasa kek susah ya berat untuk mengikuti ini apa eee anjuran dokter untuk diet ya memang rasanya berat begitu, tapi lama kelamaan ya harus dipatuhi anjuran dokter seperti diet ya segala macam itu, tapi sampai sekarang saya memang mengkonsumsi obat dari dokter tapi saya tiak mengkonsumsi secara teatur

(34-40).

3) Efek-efek yang dirasakan karena mengidap penyakit diabetes melitus tipe II

Efek yang dirasakan oleh subjek dari penyakit diabetes melitus tipe II ini adalah ketika mengkonsumsi obat resep dokter, karena ketika subjek mengkonsumsi dengan terus badan subjek lebih menjadi lebih lemas dari sebelumnya, bahkan subjek sering pusing, cepat haus dan sering lapar sehingga menghambat aktivitas subjek dalam bekerja.

Ya efeknya ya memang kalau kita mengkonsumsi dengan di sesuai dengan aturan yang ada ya pasti rasanya ini badannya rasanya lemah, pusing, cepat haus begitu sering lapar begitu

4) Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri subjek

Subjek disaranakan oleh dokter untuk berdiet agar tetap menjaga kestabilan gula dalam darah, namun subjek terkadang sering melanggar aturan yang dianjurkan oleh dokter. Setelah subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II, dua tahun kemudian subjek mengalami komplikasi hipertensi atau darah tinggi sehingga subjek menjadi cemas untuk menghadapi kehidupan kedepannya. Subjek sangat berharap agar subjek bisa hidup seperti orang yang normal. Namun, dengan adanya sakit yang dialami subjek bahkan sampai komplikasi subjek tidak merasa terganggu dalam beraktivistas, subjek bekerja seperti biasanya dengan kemampuannya. Namun, ketika subjek sudah merasa lemah dan tiba-tiba badan terasa tidak enak subjek langsung pulang ke rumah untuk beristirahat.

setelah saya dinyatakan menderita diabetes mungkin dua tahun kemudia tahun 1990 saya menderita apa hipertensi

(57-59).

kadang-kadang saya karena apa ya kalau terlalu diet juga kan badan saya lemas jadi kadang-kadang juga ya ada sedikit melanggar aturan begitu, jadi tidak dengan anjuran dokter toh

(67-71).

saya cemas mengenai kehidupan saya ini, apakah saya bisa hidup normal seperti orang lain yaang tidak mendertia peyakit diabetes atau bagaimana

(107-121).

tidak begitu mengganggulah, saya bekerja sesuai dengan kemampuan saya

kalau memang rasa tiba-tiba badan rasa keringat dingin atau badan lemah saya langsung pulang dan langsung istirahat

(124-128).

saya takut komplikasi yang lain

5) Gejala kecemasan yang muncul dari dalam diri subjek

Gejala kecemasan yang muncul dalam diri subjek mengakibatkan subjek menjadi takut dengan penyakit yang dialaminya karena komplikasi. Subjek merasa sangat beban dengan penyakit diabetes melitus tipe II tersebut. Gangguan fisik subjek yang dirasakan, badan subjek sering terasa lemah dan kurang sehat.

takut dapat serangan penyakit yang lain komplikasi yang lain dan cemas juga

(95-97)

gangguan fisik sendiri saya rasa badannya saya sepertinya kayak kurang sehat, rasanya badannya lemah saja begitu ya tidak segar

(102-105). 6) Usaha untuk mengatasi kecemasan

Usaha yang dilakukan oleh subjek agar subjek tidak cemasa dengan cara subjek meminum obat dengan teratur dan berdoa agar diberi kekuatan dari Tuhan supaya subjek tidak cemas dan tidak pikiran.

Ya itu hanya satu saja tetap doa minta kekuatan dari Tuhan supaya saya tidak cemas dan tidak pikiran, jangan terlalu cemas pikirkan ini penyakit, berdoa saja dan berusaha minum obat.

(141-144).

c. Kesimpulan

Pada awal subjek mengalami penyakit diabetes melitus tipe II, subjek juga sudah mengalami penyakit hipertensi atau darah tinggi. Ketika subjek masuk rumah sakit lagi, dokter menyarankan subjek untuk memeriksa laboraturium untuk memeriksa diabetes melitus subjek. Dari hasil lab subjek divonis mengidap penyakit diabetes melitus tipe II. Pada saat itu, subjek merasa cemas dan takut karena subjek tahu bahwa penyakit

diabetes melitus tipe II tersebut tidak dapat disembuhkan namun hanya dapat dikontrol gula dalam darah agar tetap normal dengan cara menjaga pola makan yang baik dan teratur dan mengikuti anjuran dari dokter.

Pada kecemasan yang dialami oleh subjek juga terdapat gejala kecemasan yang muncul seperti seubjek merasa lemah, subjek juga sering merasa haus dan lapar sehingga membuat subjek menjadi sering pusing.

Subjek juga merasa takut dengan penyakit yang dialaminya itu. Oleh karena itu, subjek mengatasi munculnya rasa cemas dengan cara tidak memikirkan ha-hal yang membuat gula darah subjek menjadi naik dan subjek juga selalu berdoa pada Tuhan meminta kekuatan untuk menjalani penyakit tersebut.

Dokumen terkait