• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

B. Analisis Subjek

3. Subjek 3 (MRTH)

Subjek ketiga dalam penelitian ini adalah seorang wanita yang berusia 49 tahun dengan inisial MRTH. MRTH lahir pada tanggal 26 Mei 1964 ini memilki tubuh kurus, tinggi dan berkulit kecoklatan. MRTH adalah pribadi yang sopan, cerewet dan murah senyum. MRTH beragama kristen protestan. Pekerjaan MRTH adalah sebagai PNS.

Subjek adalah ibu dari 3 orang anak. Suami pertamannya sudah meninggal 6 tahun yang lalu, kemudian subjek menikah lagi. Kini subjek tinggal di rumahnya dengan suami kedua, anak-anak subjek serta menantu dan seorang cucunya. Anak pertama subjek sudah menikah dan memiliki

seorang anak, anak kedua dan ketiganya masih kuliah di salah satu kampus di kota kupang-NTT.

Keseharian subjek selain bekerja mencari uang untuk anak keduan dan ketigianya, subjek juga sangat memperhatikan cucu subjek. Namun, bukan subjek saja yang mencari uang tapi suami subjek juga membantu mencari kerja. Suami subjek adalah seorang guru di subuah sekolah menengah pertama di kota kupang-NTT.

b. Hasil wawancara

Saat wawancara berlangsung, suasana di sekitar rumah subjek cukup sepi sehingga mendukung dalam wawancara antara subjek dan peneliti. Subjek juga dapat menjawab pertanyaan peneliti dengan jelas. Subjek selalu tampak tenang setiap kali peneliti datang dan melakukan wawancara. Subjek seorang yang ramah dan keibuan sehingga suasana percakapan dalam wawancara tidak kaku. Dari hasil wawancara ada beberapa poin yang dapat menjelaskan hasil tersebut, yaitu :

1) Perasaan awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II

Lima tahun yang lalu, kaki subjek terkena paku dan mengakibatkan kaki subjek terluka, karena luka subjek tidak kunjung sembuh akhirnya subjek memeriksa ke rumah sakit untuk memastikan apakah ada infeksi pada kaki yang luka itu atau tidak. Namun, setelah di rumah sakit dokter menyuruh subjek untuk memeriksa gula darah subjek. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ternyata luka yang dialami subjek tidak kunjung sembuh dikarenakan subjek menderita diabetes melitus tipe II. Seharusnya

tingkat gula darah normal pada seseorang yang tidak mengidap penyakit diabetes melitus tipe II adalah 70 sampai 120 mg/dl, tetapi saat itu tingkat gula darah subjek mencapai 400 sampai 425 mg/dl. Subjek mengetahui bahwa dalam sejarah keluarga, penyakit diabetes melitus tipe II ini merupakan penyakit turunan dari keluarga subjek. Meskipun subjek mengetahui bahwa penyakit diabetes melitus tipe II merupakan penyakit turunan, subjek merasa sedih dan mengeluarkan air mata karena subjek tidak menyangka bahwa subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II tersebut. Selain itu, subjek juga merasa putus asa karena subjek takut meninggalkan anak-anak subjek.

Awal mula tuh kaki nih saya punya kaki kena luka kerena kena injak kayu, setelah luka luka nih kok luka terus tidak baik-baik begitu tidak baik tidak pernah sembuh-sembuh, jadi datang ke rumah sakit sampai di rumah sakit dokter periksa habis itu suruh cek gula darah setelah cek gula darah ternyata di nyatakan saya nih penyakit gula karena waktu itu gula 400> 425 disitu dokter kasih bersih luka pkoknya disitu baru tahu kalau saya nih menderita gula darah.

(3-12).

kalau saya nih kalau mau dibilang keturunan memang kita keturunan penyakit gula darah

(15-17).

Kalau saya nih dari tahun kalau mau di bilang dari tahun 2009

(20-21).

sedih pertama saya datang rumah sakit langsung bilang gula darah air mata keluar terus menangis pasti saya sudah mati, tinggalin anak-anak saya

(24-27).

2) Reaksi subjek pada awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Pada awalnya diri subjek mengetahui bahwa subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II subjek tidak dapat menerima begitu saja.

Subjek sempat menangis terus menerus dan selalu berpikir kalau subjek akan cepat mati, namun suster menjelaskan bahwa anak muda yang masih remaja saja sudah mengidap penyakit diabetes melitus tipe II dan mereka sampai saat ini masih hidup. Setelah suster menjelaskan pada subjek barulah pikiran subjek terbuka.

pikiran menangis sampai ibu suster bujukin bilang banyak gula darah artinya banyk juga umur masih muda tapi dia sudah gula darah, jadi tapi sampai sekarang dia masih hidup

(28-31).

disitu baru pikiran saya terbuka

(32). 3) Efek-efek yang dirasakan karena mengidap penyakit diabetes

melitus tipe II

Bagi subjek, penyakit diabetes melitus tipe II ini tidak terlalu menyulitkan pekerjaan sehari-hari. Subjek bisa melalukan semua kegiatan hidup subjek berjalan dengan lancar dan tidak terganggu oleh keluhan apapun. Hanya saja subjek akan merasa sakit pada pinggang sehingga membuat subjek agak lelah dan tenaga hilang sehingga membuat subjek mengalami rasa pusing, mata kabur, keringat dingin, kaki dingin bahkan subjek merasakan sesak pada dada sehingga membuat subjek sulit untuk bernafas.

Lemah, pusing, mata kabur, pinggangrasa sakit

keringat dingin sampai tenaga hilang, dada sesak mau bernafas, kaki dingin

4) Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri subjek

Jika tingkat gula dalam darah subjek meningkat hingga 400 sampai 425 mg/dl, subjek merasakan cemas. Selain itu, subjek juga cemas akan luka yang tidak sembuh-sembuh. Subjek tidak ingin mengidap salah satu dari beberapa komplikasi tersebut dan bisa saja merenggut nyawa subjek. Namun, hasil lab menyatkan bahwa subjek sudah mengalami komplikasi tersebut yaitu ginjal dan mata katarak sehingga subjek menjadi pikiran akan komplikasi tersebut.

Mata kabur dan ginjal

(49).

Tentu cemas, cemas nih karena ini luka sembuh atau tidak, tahu nih sakit kapan bisa sembuh padahal hanya jaga makan saja toh biar bisa sembuh

(58-60). 5) Gejala kecemasan yang muncul dari dalam diri subjek

Subjek merasakan tidak nyaman dengan kondisi yang dialaminya. Hal ini dikarenakan, subjek sering merasakan sedih bahkan subjek menjadi khawatir dengan penyakit yang dideritanya apalagi subjek sudah memiliki dua komplikasi yang berbeda dan harus selalu mengontrol ke rumah sakit sehingga membuat subjek menjadi cemas. Subjek kadang merasa capek dengan dengan kondisi yang dialaminya itu. Namun, kadang subjek senang berobat karena ketika sampai di rumah sakit subjek mendapat teman yang bisa diajak ngobrol, sehingga subjek dapat melupa sakitnya meskipun hanya dalam hitungan jam saja.

Rasanya capek juga, tapi rasa senang juga berobat karena banyak teman yang bisa diajak bicara.

(41-42).

Sedih karena penyakit, khawatir mati

(64). 6) Usaha untuk mengatasi kecemasan

Cara yang dilakukan oleh subjek untuk mengatasi kecemasan yang muncul adalah subjek mengajak keluarga subjek untuk mencari hiburan di luar. Selain itu, subjek juga mencari kesibukan untuk tidak memikirkan penyakit yang dialaminya dengan bercerita dengan teman-teman subjek. Subjek juga menenangkan hatinya dengan membaca Alkitab.

Kadang cari hiburan, baca alkitab, cerita dengan teman dan cari kesibukan.

(70-71).

c. Kesimpulan

Berdasarkan hasil wawancara, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kecemasan yang muncul dalam diri subjek berasal dari dalam diri subjek sendiri. Subjek mengalami penyakit diabetes melitus tipe II sudah lima tahun lamanya. Oleh karena itu, subjek merasa sedih bahkan putus asa dengan apa yang dirasakan saat ini. Subjek juga mengkhawatirkan dengan luka yang dialaminya karena luka tersebut tidak kunjung sembuh dan subjek takut apabila kakinya harus diamputasi. Subjek merasa putus asa karena sudah terjadi komplikasi pada gangguan mata dan pada ginjal.

Gejala kecemasan yang muncul akibat dari penyakit diabetes melitus tipe II berupa gejala fisik dan gejala psikologis yaitu terkadang subjek merasa hilang tenaga apabila subjek terlalu banyak bekerja

sehingga mengakibatkan tangan dan kaki subjek menjadi dingin, lemah, dada terasa sesak, mata kabur bahkan subjek pusing.

Bersadarkan gejala kecemasan yang ada dan kecemasan yang muncul subjek memiliki usaha untuk mengatasi munculnya kecemasan dengan cara mencari hiburan di luar rumah, pada waktu senggang subjek menyempatkan waktu untuk bercerita dengan teman subjek atau dengan tetangga subjek. subjek juga mencari kesibukan dengan membaca alkitab atau firman Tuhan.

4. Subjek 4 (ADQ)

Dokumen terkait