BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
B. Analisis Subjek
2. Subjek 2 (MLS)
Subjek kedua dalam penelitian ini adalah seorang wanita yang berusia 50 tahun dengan inisial MLS. MLS lahir pada tanggal 8 maret
1963 ini memilki tubuh gemuk dan berkulit hitam. MLS adalah pribadi yang ramah dan sopan. MLS beragama kristen protestan. Pekerjaan MLS adalah sebagai PNS.
Subjek adalah ibu dari 2 orang anak. Saat ini subjek tinggal bersama suami dan kedua orang anak subjek. Anak pertama subjek, seorang laki-laki yang masih kuliah di Stikom kota kupang-NTT dan anak kedua sbujek juga msih berkuliah di salah satu universitas undana yang berada di kota kupang-NTT. Suami subjek seorang PNS.
Setiap harinya subjek dan suami bekerja dan anak-anak subjek pergi kuliah menjalani aktivitas masing-masing. Subjek dan keluarga subjek dapat berkumpul bersama ketika semua aktivitas sudah selesai. Subjek dan keluarga subjek sering sharing tentang kesibukan mereka masing-masing. Selain itu, subjek lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga subjek.
b. Hasil wawancara
Pada awal wawancara pertama berlangsung, suasanan di sekitar rumah subjek cukup tenang sehingga wawancara dapat berjalan dengan baik dan lanar. Pada waktu wawancara yang kedua wawancara di lakukan di rumah sakit, suasana di sekitar rumah sakit agak sedikit ribut namun subjek dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jelas.
Subjek menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dengan sanati dan sering tersenyum. Subjek termasuk seorang yang ramah dan sangat terbuka dalam menceritakan kisah seputar kehidupan subjek.
Subjek menceritakan tentang dirinya dengan lancar dan kehidupannya dengan wajah berseri-seri. Dari hasil wawancara ada beberapa poin yang dapat menjelaskan hasil tersebut, yaitu :
1) Perasaan awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II
Subjek sudah 8 tahun menderita penyakit diabetes melitus tipe II. Penyakit ini diketahui ketika mata subjek mulai terganggu bahkan mata subjek kiri dan yang kanan harus dioperasi. Subjek merasa takut karena sudah terjadi komplikasi pada kedua mata subjek dan subjek ingin penyakit diabetes melitus tipe II ini cepat sembuh. Hal ini dikarenakan, subjek dituntut harus melanjutkan keperguruan tinggi S1, karena saat ini subjek hanyalah lulusan D2.
Mata kerana sudah semakin ini sudah katarak kiri kanan
(15).
Dulunya cuma D2 sekarang dituntut untuk S1
(29)
Ini sudah dari tahun 2005 febuari, sekarang sudah 8 tahun
(51-52). 2) Reaksi subjek yang mengidap diabetes melitus tipe II
Reaksi subjek ketika tahu bahwa subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II ini, subjek melakukan pengontrolan tiap bulan dan pengontrolan pola makan menjadi lebih baik. Subjek mengikuti cara pengontrolan pola makan yang baik dan benar oleh dokter.
Tiap bulan harus kontrol supaya cari tahu naik atau turun.
(33-34)
Kalau pola hidup saya hidup pas-pasan, tapi itu di rumah makan pagi, siang dan sore itu sudah pasti tapi tiap konsumsi tidak sama dengan orang sehat, punya saya nasinya sedikit sayurnya yang banyak
3) Efek-efek yang dirasakan karena mengidap penyakit diabetes melitus tipe II
Subjek tidak merasa terganggu dengan keberadaan penyakit diabetes melitus tipe II ini karena pada awalnya subjek menerima diagnosis dari dokter. Tetapi lama-kelamaan jari-jari subjek sering keram dan subjek menjadi sering buang air kecil. Kondisi fisik subjek tidak lagi sekut sebelum subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II. Subjek juga merasakan adanya gangguan di bagian mata. Penglihatan subjek sering kunang-kunang atau kabur. subjek tidak menyadari bahwa penglihatan selalu kunang-kunang atau kabur adalah salah satu tanda-tanda dari penyakit diabetes meltus tipe II.
Mata sudah kunang-kunang jadi saya pikir saja kan mata yang terganggu saya ke dokter mata nanti di sana pertama dikasihkan obat terus janji berapa minggu untuk pergi lagi, terus yang ketiga kalinya kok mata tetap terus yang satunya lagi buang air kecil terus-terus ini permisi kadang pake pembalut kalau tidak tidak cepat ke belakang basah sudah dari situ dokter dokter eko dokter mata itu saya rujukan ke rumah sakit umum waktu saya pindah kesini langsung berobat, perikasa dulu periksa lagi jadi dari situ baru tahu bahwa saya aaa derita penyakit diabetes.
(1-13).
Ini jari keram, mata ini, kan ini harus di operasi, kan sudah tau jelas mata yang ini katarak jadi terakhir harus operasi
(91-93).
4) Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri subjek
Seiring dengan kehidupan subjek bersama dengan penyakit diabetes melitus tipe II di dalam tubuhnya, subjek sempat menjalin operasi dua kali pada mata subjek. Subjek mulai merasa cemas ketika subjek
mengontrol gula dalam darah subjek karen subjek takut gula dalam darahnya naik.
Ketika kontrol gula dalam darah tingkat gula dalam darah pernah mencapai 380 mg/dl dan pemeriksaan berikutnya gula dalam darah subjek menurun mencapai 330 mg/dl dan tidak lama setelah hasil pemeriksaan itu diterima oleh subjek, subjek harus menjalani operasi yang kedua pada mata kanan akibat penyakit diabetes melitus tipe II yang diderita subjek yang menyerang saraf mata.
Itu kalau datang kontrol terus naik itu saya sudah cemas.
(16).
saya berobat berobat berobat dari awal ketahuan tuh 380 jadi saya obati selama berapa tahun, tahun 2009 bulan juni gula turun sampe 330.
(17-19). 5) Gejala kecemasan yang muncul dari dalam diri subjek
Subjek II (MLS) merasakan ketidaknyamanan yang menandakan meningkatnya gula dalam darah di tubuh subjek. Subjek merasa sering buang air kecil, jari keram dan mata kunang-kunang atau kabur. Ketika subjek mengalami tanda-tanda tersebut, subjek segera kontrol ke dokter. Gejala ini cukup sering muncul apabila subjek terlalu berpikir bahwa kenapa harus subjek yang menderita penyakit ini, kenapa bukan orang lain dan karena makanan . Ketika kontrol ke dokter, subjek selalu merasa cemas karena takut gula dalam darah subjek naik sehingga subjek merasa putus asa.
Kadang kalau datang kontrol terus naik itu memang rasa sekali takut dia naik tapi kembali ke diri saya naik karena ingat mungkin
makan salah ko, kadang-kadang tergantung dari pikiran juga kan, kalau pikiran tenang pasti dia tidak naik tapi pikiran kek agak terganggu otomatis dia naik.
(64-68)
Itu cemas tuh ada, cemas juga ada, orang lain tidak derita tapi saya kok derita.
(112-113).
Kadang kek mau putus asa juga tidak.
(119-120). 6) Usaha untuk mengatasi kecemasan
Ketika subjek merasa semakin resah, subjek biasanya mengatasi kecemasan yang muncul dengan bersenang-senang dan jalan-jalan bersama keluarga dan subjek juga memiliki program jalan sehat tiap dua kali sehari.
Ya usaha, senang-senang, jalan-jalan, itu saya di rumah tuh program dua kali.
(144-145). c. Kesimpulan
Subjek mengalami kecemasan yang disebabkan oleh penyakit diabetes melitus tipe II tersbut. Subjek sudah 8 tahun mengidap penyakit tersebut, sehingga subjek merasa takut untuk menjalani kehidupannya. Selain itu, subjek juga mengontrol pola makannya agar gula dalam darahnya tetap normal. Subjek juga merasa cemas akan komplikasi yang sudah terjadi yaitu gangguan pada mata atau mata katarak, karena gangguan mata subjek bukan satu saja yang sudah menjadi katarak tapi kedua mata subjek, sehingga dokter menyarankan subjek untuk mengoperasi kedua mata subjek secara bergantian, karena kalau kedua
mata dioperasi secara bersamaan akan membutuhkan penyembuhan yang sangat lama.
Gejala kecemasan yang muncul akibat penyakit diabetes melitus tipe II yang dialami oleh subjek berupa gejala fisik dan gejala psikologis yaitu jari-jari keram, subjek sering buang air kecil, dan subjek juga mengalami takut dan pikiran pada penyakit yang dialami oleh subjek.
Subjek mengatasi kecemasan yang muncul dengan cara bersenang-senang untuk menghilangkan pikiran yang menyangkut dengan penyakit subjek, selain itu jalan-jalan atau refresing dengan keluarga subjek dapat mengurangi kecemasan yang muncul, dan subjek juga memiliki program jalan atau oleh raga jalan dua kali sehari.
3. Subjek 3 (MRTH)