• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2) Subjek CL kode siswa N24

a) Analisis jawaban soal tes dan wawancara

Berikut analisis jawaban soal tes dan wawancara terhadap subjek terkait dengan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa:

Jawaban subjek CL kode siswa N24 menjawab soal pada nomor 1 mengenai penjumlahan pada bilangan pecahan biasa terbukti dari 4 butir soal jawaban-jawabannya semua salah. Berdasarkan jawaban soal tes yang dikerjakan subjek CL kode siswa N24 di atas terlihat sangat rancu. Jawaban yang dikerjakan subjek semuanya menggunakan cara yang salah.

Cara melakukan penjumlahan pada pecahan biasa yang dilakukan subjek N24 secara keseluruhan hasil pembilang yakni perkalian antara pembilang dengan penyebut bukan dari hasil perkalian KPK, kemudian penyebutnya tidak disamakan. Dari cara yang salah tersebut otomatis hasil jawaban dari penjumlahan bilangan pecahan biasa juga ikut salah. Cara yang benar untuk melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa yakni:

- Mencari KPK dari penyebut pecahan

- Mengubah atau menyamakan kedua penyebut berdasarkan hasil dari KPK

- Kemudian menentukan hasil penjumlahan kedua pecahan

Contoh penyelesainnya:

+ = + =

Dari jawaban soal no 1 yang dikerjakan subjek CL kode siswa N24, dapat dikatakan memang subjek N24 terduga mengalami miskonsepi dalam cara melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa secara benar.

Berikut hasil dari sebagian cuplikan wawancara terhadap subjek CL kode siswa N24 untuk membuktikan dugaan jika subjek mengalami miskonsepsi dalam mengerjakan soal penjumlahan pada bilangan pecahan biasa:

P-01 : “Apa adik sudah melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa secara benar?”

N24-01 : “Belum...”

P-02 : “Bagaimana cara adik melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa?”

N24-02 : “Emmmmmm....pembilang dan penyebut dijumlahkan”

P-11 : “Bagaimana cara adik untuk menyamakan bilangan penyebut dalam penjumlahan pada bilangan pecahan biasa?”

N24-11 : “Lupa...”

P-15 : ” Jika dalam penjumlahan pecahan biasa, apakah penyebut yang sama juga harus ikut dijumlahkan?”

N24-15 : “Iya...”

Berdasarkan beberapa cuplikan wawancara terhadap subjek CL kode siswa N24, sudah diketahui bahwa subjek N24 mengalami miskonsepsi. Ada beberapa jawaban yang dilontarkan memang mengalami kesalahan. Salah satunya adalah ketika peneliti bertanya kepada subjek N24 bagaimana cara adik melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa? dan subjek N24 menjawab “Emmmmmm....pembilang dan penyebut dijumlahkan”. Kemudian peneliti bertanya lagi bagaimana cara adik untuk menyamakan bilangan penyebut dalam penjumlahan pada bilangan pecahan biasa? subjek N24 menjawab lupa. Dari kedua jawaban yang dilontarkan subjek N24 melalui wawancara tersebut, sudah memperkuat bahwa subjek N24 belum menguasai atau memahami cara dalam melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa.

Berdasarkan analisis hasil jawaban soal tes dan wawancara pada subjek CL kode siswa N24 dalam

mengerjakan mengenai penjumlahan pada bilangan pecahan biasa, selanjutnya peneliti melakukan perbandingan untuk mengetahui valid atau tidaknya atas data analisis hasil jawaban tes dengan wawancara dari subjek CL kode siswa N24 kemudian ditarik kesimpulan. Berikut tabel triangulasi untuk membandingkan antara analisis hasil jawaban tes dengan analisis wawancara subjek CL kode siswa N24:

4.4 Hasil tes tertulis dan wawancara nomor 1 mengenai penjumlahan pada bilangan pecahan biasa subjek CL kode siswa N24

Analisis data tes tertulis Analisis data wawancara

Subjek CL kode siswa N24 mengalami miskonsepsi terbukti jawaban dalam melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa mengalami kesalahan. Subjek N24 melakukan penjumlahan pecahan biasa menggunakan cara dalam mencari hasil pembilang yakni perkalian antara pembilang dengan penyebut bukan dari hasil perkalian KPK, kemudian penyebutnya tidak disamakan.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap subjek CL kode siswa N24, ada beberapa jawaban yang diajukan oleh subjek dan terbukti jawaban tersebut miskonsepsi. bagaimana cara adik melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa? dan subjek N24 menjawab Emmmmmm....pembilang dan penyebut dijumlahkan. Kemudian peneliti bertanya lagi bagaimana cara adik untuk menyamakan bilangan penyebut dalam penjumlahan pada bilangan pecahan biasa? subjek N24 menjawab lupa. Dari jawaban subjek tersebut sudah diketahui memang subjek CL kode siswa N24 mengalami miskonsepsi.

Dari perbandingan dengan menggunakan tabel triangulasi data antara analisis jawaban tes dengan analisis wawancara hampir sama kesalahan konsepnya yakni cara

melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa yang belum benar. Jadi, subjek N24 ini mengalami miskonsepsi terkait cara melakukan penjumlahan pada pecahan biasa. Berdasarkan hasil perbandingan antara analisis hasil jawaban tes dengan analisis wawancara pada tabel triangulasi teknik, bahwa subjek memang mengalami miskonsepsi.

b) Jenis miskonsepsi yang dialami subjek CL kode siswa N24 Berdasarkan kesimpulan atas hasil perbandingan antara analisis hasil jawaban tes dengan analisis wawancara pada tabel triangulasi teknik, subjek N24 termasuk mengalami jenis miskonsepsi teoritik. Karena subjek N24 belum memahami secara benar cara melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa. Cara yang dilakukan subjek N24 untuk melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa yakni mencari hasil bilangan pembilang dengan melakukan perkalian antara pembilang dan penyebut bukan dari hasil perkalian KPK, kemudian penyebutnya tidak disamakan. Sudah diketahui jika cara yang dilakukan tersebut sudah salah.

c) Faktor penyebab-penyebab miskonsepsi subjek CL kode siswa N24

Faktor penyebab miskonsepsi yang dialami subjek CL kode siswa N24 dapat diketahui pada beberapa cuplikan wawancara berikut:

P-01 : “Apa adik sudah melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa secara benar?”

N24-01 : “Belum...”

P-11 : “Bagaimana cara adik untuk menyamakan bilangan penyebut dalam penjumlahan pada bilangan pecahan biasa?”

N24-11 : “Lupa...”

P-15 : ” Jika dalam penjumlahan pecahan biasa, apakah penyebut yang sama juga harus ikut dijumlahkan?”

N24-15 : “Iya...”

Berdasarkan beberapa cuplikan wawancara terhadap subjek CL kode siswa N24 di atas, ada beberapa faktor penyebab terjadinya miskonsepsi yang dialami subjek N24. Faktor penyebab terjadinya miskonsepsi yang dialami subjek N24 tersebut antara lain subjek belum melakukan penjumlahan pada bilangan pecahan biasa secara benar, subjek lupa cara menyemakan bilangan penyebut dalam penjumlahan pada bilangan pecahan biasa, dan subjek menjawab iya ketika peneliti bertanya Jika dalam penjumlahan pecahan biasa, apakah penyebut yang sama juga harus ikut dijumlahkan.