BAB I : PENDAHULUAN
A. Dasar Hukum
6. Subjek dan Objek Anjak Piutang
Subjek anjak piutang dan beserta objeknya merupakan para pelaku perdagangan anjak piutang dan juga sesuatu yang dijadikan fokus perdagangan yang tentunya menjadi satu kesatuan utuh yang saling terkait antar satu dengan lainnya, berikut beberapa penjelasan menyangkut subjek dan objek pada pembiayaan anjak piutang, yakni sebagai berikut40
a. Subjek perjanjian anjak piutang, subjek perjanjian anjak piutang adalah pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi anjak piutang. Pihak-pihak-pihak tersebut adalah perusahaan anjak piutang, client, dan nasabah.
:
1) Perusahaan anjak piutang, Menurut Pasal 1 angka (8) Keppres No. 61 Tahun 1988 Jo. Pasal 1 huruf (1) Keputusan Menteri Keuangan No.1251/KMK.013/1988 yang dimaksud dengan perusahaan anjak piutang
(factoring company) adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan
dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan serta pengurusan piutang atau 40
tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam atau luar negeri. Dalam transaksi anjak piutang, perusahaan anjak piutang merupakan pihak pemberi jasa pembiayaan dengan cara membeli piutang client
yang timbul dari transaksi perdagangan dengan nasabah. Adapun yang dimaksud dengan transaksi perdagangan adalah transaksi jual beli barang atau jasa yang pembayarannya dilakukan oleh nasabah secara kredit. Transaksi perdagangan antara client dan nasabah bisa terjadi dalam satu wilayah negara (nasional), dan bisa juga terjadi antarnegara (internasional). Apabila transaksi perdagangan tersebut bersifat internasional, maka dalam konteks anjak piutang terdapat dua perusahaan anjak piutang, yaitu perusahaan anjak piutang domestik (domestic factor/ export factor), dan perusahaan anjak piutang internasional (internasional factor/import factor). Perusahaan anjak piutang domestik merupakan penghubung dengan client, sedangkan perusahaan anjak piutang internasional merupakan penghubung dengan nasabah. Badan-badan usaha yang dapat menjadi perusahaan anjak piutang adalah :
a) Perusahaan yang khusus bergerak dibidang anjak piutang.
b) Perusahaan multifinance, yaitu perusahaan pembiayaan yang disamping bergerak di bidang anjak piutang juga begerak dibidang pembiayaan.
c) Bank juga dapat bergerak dalam bidang anjak piutang. Hal ini berdasarkan Pasal 6 huruf (1) Undang-undang No.7 Tahun 1992 Jo. Undang-undang No. 10 Tahun 1998.
Adapun bentuk badan usaha perusahaan anjak piutang menurut Pasal 3 ayat (2) Keppres No. 61 Tahun 1998 Jo. Pasal 9 ayat (2) Keputusan Menteri Keuangan No.1251/KMK.013/1998 adalah berbentuk perseroan terbatas atau koperasi.
2) Client
Menurut ketentuan Pasal 1 huruf (m) dari Keputusan Menteri Keuangan No.1251/KMK.013/1988 yang dimaksud dengan client (penjual piutang) adalah perusahaan yang menjual dan atau mengalihkan piutang atau tagihannya yang timbul dari transaksi perdagangan kepada perusahaan anjak piutang. Dengan demikian,
client adalah pihak yang mempunyai piutang atau tagihan, piutang atau tagihan mana akan dialihkan kepada perusahaan anjak piutang. Dilihat dari transaksi anjak piutang,
client adalah pihak yang menerima jasa pembiayaan dari perusahaan anjak piutang. Adapun jika dilihat dari transaksi perdagangan (jual beli), client sebagai penjual barang (kreditur), dan nasabah sebagai pembeli barang (debitur). Dalam konteks anjak piutang, client tersebut harus berupa perusahaan, baik perusahaan badan hukum seperti perseroan terbatas, maupun bukan badan hukum seperti firma, CV.
3) Nasabah (Customer)
Nasabah adalah pihak yang membeli barang dari client yang pembayarannya dilakukan secara kredit. Dengan demikian, kedudukan nasabah adalah sebagai debitur (berutang) dan kedudukan client sebagai kreditor (berpiutang). Dalam transaksi anjak piutang, piutang client tersebut selanjutnya dialihkan kepada perusahaan anjak piutang. Melihat hubungan diatas, terlihat bahwa nasabah mempunyai kedudukan yang penting dalam transaksi anjak piutang, karena nasabahlah yang menentukan macet tidaknya serta lunasnya piutang client yang telah dialihkan kepada perusahaan anjak piutang.
h. Objek Perjanjian Anjak Piutang
Berdasarkan batasan anjak piutang dapat diketahui bahwa objek perjanjian anjak piutang adalah piutang atau tagihan. Meskipun objek anjak piutang berupa piutang/tagihan, tetapi tidak semua jenis piutang dapat dianjakpiutangkan. Dalam anjak piutang hanya piutang yang timbul dari transaksi perdaganganlah yang dapat dianjakpiutangkan. Dengan demikian, piutang yang timbul dari hibah, pinjam-meminjam uang (kredit bank) atau perjanjian kerja bukan merupakan objek dari anjak piutang, sehingga tidak dapat dianjakpiutangkan. Pembatasan lain atas objek anjak piutang adalah bahwa piutang yang akan dialihkan tersebut berupa piutang jangka pendek dan belum jatuh tempo (account receivable). Piutang perdagangan jangka pendek biasanya berkisar antara 30-90. Penjual (client) harus menunggu pembayaran sampai penjualan kredit tersebut jatuh tempo. Piutang objek anjak piutang tersebut baik yang dikeluarkan dengan menggunakan surat berharga seperti promis, atau berupa tagihan melalui invoice perdagangan pada umumnya. Singkatnya, piutang yang akan dianjakpiutangkan bukanlah piutang yang sudah macet. Dengan demikian, tidak ada alasan bahwa bisnis anjak piutang sama saja dengan debt collector yang didalamnya ada unsur tekanan dan kekerasan.
Menurut Munir Fuady piutang perdagangan yang biasanya menjadi objek bisnis anjak piutang adalah sebagai berikut.
1) Piutang atau tagihan berdasarkan invoice suatu perusahaan yang belum jatuh tempo.
2) Piutang yang timbul dari surat-surat berharga yang belum jatuh tempo.
3) Piutang yang timbul dari proses pengiriman barang, sebagai pengganti letter of credit (LC).
4) Piutang berupa tagihan-tagihan tertentu yang belum jatuh tempo, seperti yang terbit dari penggunaan kartu kredit (credit card), biro perjalanan (travel bureau).
7. Bentuk Dan Isi Perjanjian Anjak Piutang
Didalam setiap perjanjian, merupakan suatu hal yang mutlak untuk menuangkan beberapa klausula-klausula yang tentunya memuat beberapa hal yang berkenaan dengan perusahaan anjak piutang (factor), client maupun nasabah
(customer) yang mewakili apa yang yang menjadi kepentingan-kepentingan para
pihak tersebut. Sehingga isi perjanjian tersebut dapat mewakili apa yang menjadi keiginan serta aspirasi para pihak yang terlibat didalam transaksi perdagangan Anjak piutang. Menurut Dahlan Siamat dalam perjanjian anjak piutang minimal memuat hal-hal sebagai berikut: 41
a. Ketentuan Umum
1) Ketentuan mengenai penawaran penjualan piutang dari perusahaan client kepada perusahaan anjak piutang, termasuk cara dan persyaratannya.
2) Ketentuan mengenai penawaran yang memuat hak perusahaan anjak piutang untuk menerima atau menolak piutang-piutang yang ditawarkan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang disepakati.
3) Ketentuan mengenai harga penjualan piutang, termasuk kalkulasinya, waktu pembayaran, uang muka (advanced payment).
4) Ketentuan mengenai jaminan yang diberikan oleh client atas piutang yang ditawarkan untuk dijual kepada perusahaan anjak piutang, dan resiko akibat jaminan yang tidak benar.
5) Ketentuan mengenai ruang lingkup administrasi piutang yang dilakukan oleh perusahaan anjak piutang, kewajiban pelaporan kepada client, dan ketentuan biaya administrasi yang diperhitungkan.
6) Ketentuan pembelian kembali piutang dalam hal terjadinya keadaan-keadaan tertentu, dan penetapan harga penjualan kembali piutang tersebut.
41