BAB III PROSES HUKUM PELAKU TINDAK PIDANA
B. Subjek Hukum Dalam Tindak Pidana Terorisme
Subjek hukum adalah subjek yang dapat melakukan perbuatan hukum.
Subjek hukum terbagi kedalam subjek hukum perdata dan subjek hukum pidana.
Subjek hukum perdata merupkan subjek yang dapat melakukan perbuatan perdata, baik perbuatan yang menyangkut hak perdata maupun kewajiban perdata.73
Subjek hukum Pidana adalah Manusia dan Korporasi 1) Manusia sebagai Subjek Hukum Pidana
Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia yang berlaku pada saat ini, aslinya berasal dari KUHP Belanda yang disebut Wetboek van Sraftrecht, berlakunya KUHP Belanda tersebut di Indonesia diberlakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1918 berdasarkan asas Konkordansi. KUHP Belanda berasal dari KUHP Perancis yang diberlakukan oleh Napoleon (1801) yang pada waktu itu menjajah Belanda dalam upaya Napoleon menguasai Eropa.74
73Sutan Remi Sjahdeini, Ajaran Pemidanaan: Tindak Pidana Korporasi dan Seluk Beluknya, Depok, Kencana, 2017, Hal. 16
74Ibid, Hal. 17
KUHP Perancis yang kemudian melahirkan KUHP Belanda dan selanjutnya berdasarkan asas konkordansi tersebut berlaku pula di Indonsia, telah dibuat berdasarkan pendirian bahwa hanya manusia saja yang dapat melakukan tindak pidana. Hal itu dapat diketaui dari frasa hij die yang digunakan dalam rumusan berbagai strafbaar feit (tindak pidana atau delik) dalam Wetboek van Straftrecht. Frasa tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata
“barang siapa” yang berarti”siapa pun”. Karena dalam Bahasa Indonesiakata siapa merujuk kepada “manusia”, maka kata”barang siapa”atau “siapa pun” berarti
“setiap manusia”75
Secara Dogmatis masalah pokok yang berhubungan dengan hukum pidana adalah membicarakan tiga hal, yaitu:76
1. Perbuatan yang dilarang;
2. Orang yang melakukan perbuatan yang dilrang itu;
3. Pidana yang diancamkan terhadap pelanggar itu.
Dalam pandangan KUHP, yang dapat menjadi subjek tindak pidana adalah seorang manusia sebagai oknum. Ini mudah terlihat pada perumusan-perumusan dari tindak pidana dalam KUHP, yang menampakkan daya berpikir sebagai syarat bagi subjek tindak pidana itu, juga terlihat pada wujud hukuman/pidana termuat dalam pasal-pasal KUHP, yaitu hukuman penjara, kurungan dan, denda.77
Disamping KUHP yanghanya ditujukan kepada manusia sebagai pelaku tindak pidana, dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana, baik yang lama (HIR) maupun yang baru taitu UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
75Ibid, Hal 18
76K.H. A Hasyim Muzadi, Op.cit, Hal.67
77Ibid, Hal. 70
Pidana (KUHAP) yang sekarang berlaku, ternyata juga hanya dijumpai pengaturan mengenai penuntutan terhadap manusia. Dalam KUHAP tidak dijumpai pengaturan mengenai penuntutan terhadappelaku tindak pidana yang berupa korporasi.78
Dari pengertian siapa yang dimaksud dengan “tersangka”, “terdakwa”,
“rehabilitasi”, “pengaduan”, dan “terpidana” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 KUHAP dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan pelaku tindak pidana hanyalaah manusia. Mari kita lihat bagaimana KUHAP memberikan pengertian terhadap istilah-istilah tersebut dibawah ini;
Tersangka adalah orang yang akrena perbuatannya atau keadaannya, berdasatkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.
Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan.
Terpidana adalah seorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Rehabilitasi adalah hak seorang untuk dapat pemulihan haknya dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya yang diberikan pada tingkat penyidikan, penuntutan, atau peradilan karena ditangkap, ditahan, dituntut ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.
78Sutan Remi Sjahdeini, Op. cit, Hal.18
Pengaduan adalah pemberitahuan disertai permintaa oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang untuk menindak menurut hukum seorang yang telah melakukan tindak pidana aduan yang merugikannya.79
Pelaku tindak pidana berdasarkan Pasal 55 KUHP yaitu;
a. Orang yang melakukan (plegger);
b. Yang menyuruh melakukan (doen plegger);
c. Orang yang turut serta melakukan (dader);
d. Orang yang membujuk melakukan
Orang yang melakukan (plegger), adalah seseorang yang secara sendiri melakukan semua unsur-unsur dari suatu tindak pidana
Orang yang menyuruh melakukan (doen plegger), dalam hal ini paling sedikit harus ada dua orang, yaitu orang yang menyuruh melakukan dan orang yang disuruh melakukan. Orang yang menyuruh melakukan tindak pidana itu tidak melakukan unsur-unsur dari suatu tindak pidana, akan tetapi orang yang disuruh yang melakukan unsur-unsur dari suatu tindak pidana tersebut.
Orang yang turut serta melakukan (dader), dalam hal ini juga harus ada paling sedikit dua orang yang secara bersama-sama melakukan suatu tindak pidana, mereka ini secarasadar bersama-sama tindak pidana tertentu. Dengan demikian mereka jugasecara bersama-sama dapat dipertanggungjawabi atas tindak pada yang dilakukan itu.
79Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Pasal 1
Orang yang membujuk melakukan, dalam hal ini paling sedikit juga harus ada dua orang, yaitu orang yang membujuk, yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana dan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana dan orang yang dinujuk tau yang gerakkan untuk melakukan tindak pidana; dan kedua-duanya dapt dipertanggungjawabkan. Perbedaannya dengan yang menyuruh melakukan, orang yang disuruh adalah orang-orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak ada digunakan sarana, cara-cara lain dalam hal menyuruh melakukan tersebut, sedangkan dalam hal membujuk, orang yang dibujuk tersebut dapat dipertanggungjawabkan, dan dalam melakukan bujukan atau pergerakan ini ada sarannya atau cara-cara yang dilakukan oleh undang-undang.80
2) Korporasi sebagai Subjek Hukum Pidana
Dalam perkembangan hukum pidana Indonesia, undang-undang pidana diluar KUHP telah memperluas subjek hukum pidana, yaitu tidak hanya terbatas kepada manusia saja tetapi juga koporasi.perkembangan ini sejalan dengan perkembangan hukum pidana di negara-negara lain. Diadopsinya korporasi sebagai subjek hukum pidana di Indonesia, terlihat dari berbagai undang-undang yang dibuat akhir-akhir ini.
Sebenarnya pendirian korporasi dapat menjadi tindak pidana untuk pertamakalinya telah muncul pada 1951, yaitu ketika diberlakukannya Undang-undang darurat No. 17 Tahun 1951 tentang penimbunan barang-barang. Namun
80K H A Hasyim Muzadi, Op.cit , Hal. 71
konsep pertanggungjawaban pidana korporsi dari undang-undang tersebut tidak berkembang.81
Batasan pengertian korporasi atau defenisi korporasi, erat kaitannya dengan masalah dalam bidang hukum perdata. Sebab pengertian korporasi merupakan terminologi yang berkaitan erat dengan istilah badan hukum, dan badan hukum itu sendiri merupakan terminologi yang erat kaitannya dengan bidang hukum perdata.
Korporasi dikualifikasikan sebagai subjek yang dapat melakukan tindak pidana dan dapat dipertanggungjawabkan disamping orang (pengurus). Hal ini merupakan implementasi mengenai dua hal yakni kemampuankorporasi melakukan tindak pidana dan kemampuan korporasi untuk dipertanggungjawabkan dalm hukum pidana.82
Dalam Pasal 59 KUHP, dikatakan “dalam hal-hal di mana pelanggaran ditentukan pidananya diancamkan kepada pengurus, anggota badan pengurus atau komisaris-komisaris, maka tidak dipidana pengurus, anggota badan pengurus atau komisarias yang ternyata tidak ikut campur melakukan pelanggaran tersebut”.
Berdasarkan pasal tersebut, maka hanya pengurusnya yang dibebani pertanggungjawaban pidana sekalipun pengurus dalam perbuatan itu dilakukan utuk atas nama korporasi, atau untuk kepentingan koporasi, atau bertujuan untuk memberikan manfaat bagi korporasi dan bukan bagi pribadi pengurus.
81Ibid, Hal 20
82Ibid, Hal. 72
C. Proses hukum pelaku tindak pidana terorisme dalam sistem peradilan