BAB III METODOLOGI PENELITIAN
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian atau informan merupakan tempat dimana data untuk penelitian diperoleh (Arikunto, 2010). Subjek dalam penelitian ini yaitu pegawai bidang keuangan OPD Kota Magelang.
27
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer. Menurut Sugiyono (2017), data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari sumber atau objek penelitian yang dipilih sebagai responden.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik angket atau kuisioner. Teknik angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2010).
F. Populasi dan Sampel
Menurut Arikunto (2010), populasi adalah keseluruhan dari subjek penelitian. Populasi yang dipilih dan ditentukan dalam penelitian ini ialah pegawai bidang keuangan yang bekerja di OPD Kota Magelang sebanyak 29 OPD dan terdiri dari kurang lebih 150 pegawai keuangan. Sebagian dari populasi tersebut dipilih menjadi sampel.
Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling menurut Jogiyanto (2010), adalah teknik untuk menentukan sampel penelitian dengan
28
nantinya bisa lebih terwakili atau representatif. Pertimbangan atau kriteria dalam penelitian ini adalah pegawai yang bekerja pada bidang keuangan yang telah bekerja minimal 1 tahun di OPD Kota Magelang.
G. Variabel Penelitian
Variabel merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang atau suatu objek yang memiliki variasi yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan akhirnya ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2017).
Variabel penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu variabel dependen dan independen yang dapat dilihat pada Tabel 3.1.
1. Variabel Dependen (terikat)
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen atau suatu variabel yang menjadi akibat adanya variabel lain (Sugiyono, 2017). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah niat whistleblowing.
2. Variabel Independen (bebas)
Variabel independen adalah variabel yang mampu mempengaruhi variabel dependen atau suatu variabel yang menjadi sebab timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2017). Variabel independen dalam penelitian ini adalah personal cost, status pelanggar, dan pemberian reward.
29
Variabel Dependen
Variabel Definisi Indikator Pengukuran
Niat kasus kepada pihak berwenang.
30
Variabel Independen
Variabel Definisi Indikator Pengukuran
Personal cost Suatu pandangan
31
Variabel Definisi Indikator Pengukuran
Status
32
H. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan program aplikasi SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 21 untuk mengolah data tersebut.
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui kebenaran instrumen dari kuesioner yang diukur dengan melihat valid tidaknya kuesioner tersebut. Suatu uji validitas dilakukan dengan
33
sebesar 5%. Perhitungan r tabel dapat dilihat menggunakan rumus nilai degree of freedom (df) yaitu n-2. Jika hasil uji validitas > r-tabel maka instrumen atau pernyataan yang terdapat dalam kuesioner dinyatakan valid. Suatu kuesioner dianggap valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2007).
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana kuesioner sebagai alat ukur dalam penelitian ini menghasilkan hasil yang konsisten (Ghozali, 2007). Untuk mengukur reliabilitas digunakan uji statistik menggunakan rumus Cronbachs Alpha karena instrumen penelitian berbentuk kuesioner dan skala bertingkat. Jika hasil pengujian reliabilitas dalam penelitian ini ≥ 0,6, maka instrument dalam penelitian ini dapat dikatakan andal atau reliable (Ghozali, 2007).
3. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi dalam suatu penelitian variabel dependen dan variabel independennya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Model regresi yang bagus adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. (Ghozali, 2007). Pengujian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test. Jika nilai probabilitas lebih besar
34 normalitas.
4. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui atau mendeteksi ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik atau persamaan regresi berganda yang digunakan. Hasil pengujian yang baik adalah pengujian yang tidak melanggar asumsi klasik. Beberapa pengujian asumsi klasik adalah sebagai berikut.
a) Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas digunakan untuk melihat ada tidaknya kolinearitas atau hubungan yang signifikan antara variabel independen. Dalam suatu model regresi dikatakan baik apabila tidak terdapat korelasi di antara variabel independen. Untuk membantu perhitungan digunakan nilai tolerance dan variance inflator factor (VIF). Batas dari tolerance value adalah 0,10 atau 10 % dan batas VIF adalah 10. Jika nilai tolerance lebih dari 0,10 atau nilai VIF lebih kecil dari 10, maka model tersebut bebas multikolinearitas, begitu juga sebaliknya (Ghozali, 2007).
b) Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi perbedaan varians dalam
35
atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini dilihat dengan menggunakan uji Glejser.
Pada uji Glejser, indikasi terjadinya heteroskedastisitas pada model regresi apabila variabel independen signifikan diatas tingkat kepercayaan 5% dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengandung heteroskedastisitas (Ghozali, 2007).
5. Uji Analisis Regresi Linear Berganda
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda, bahwa dalam suatu persamaan regresi terdapat satu variabel dependen dan lebih dari satu variabel independen. Analisis linear berganda merupakan cara yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara kedua variabel atau lebih, serta dapat menunjukan arah hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2007).
a. Uji Koefiesien Determinasi (R2)
Uji R2 digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai R2 adalah antara nol dan satu. Jika nilai R2 semakin mendekati satu, maka dapat dikatakan bahwa variabel independen telah memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel independen. Jika nilai R2 nol
36 (Ghozali, 2007).
b. Uji F
Uji F untuk menguji apakah variabel bebas atau independen secara keseluruhan mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat atau dependen (Ghozali, 2007). Hipotesis ini akan diuji dengan menggunakan tingkat signifikan (α) sebesar 5% atau 0.05 dan nilai F. Nilai F tabel dapat dicari pada tabel statistik dengan nilai signifikansi 0,05, jumlah variabel independen (k), dan jumlah responden (n) dengan mengunakan rumus degree of freedom (n-k). Pada uji statistik F, nilai F hitung akan dibandingkan dengan F tabel dengan cara sebagai berikut.
1) Apabila F hitung > F tabel dan nilai probabilitas signifikan
< 0,05, maka terdapat pengaruh secara keseluruhan variabel independen terhadap variabel dependen.
2) Apabila F hitung < F tabel dan nilai probabilitas signifikan
> 0,05, maka tidak terdapat pengaruh secara keseluruhan variabel independen terhadap variabel dependen.
c. Uji t
Uji t untuk menguji apakah variabel independen secara individual berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2007). Tingkat signifikan yang dipakai dalam penelitian ini adalah (α) = 5 % (0,05) dan nilai t tabel dapat dicari pada tabel
37
degree of freedom (n-k-1). Pada uji statistik t, nilai t hitung akan dibandingkan dengan t tabel dengan cara sebagai berikut.
1) Apabila t hitung > t tabel dan nilai signifikansi < 0,05, maka hipotesis diterima dan variabel independen secara individu dikatakan memiliki pengaruh terhadap variabel dependen.
2) Apabila t hitung < t tabel dan nilai signifikansi > 0,05, maka hipotesis ditolak dan variabel independen secara individu dikatakan tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen.
38
GAMBARAN UMUM PEMERINTAH KOTA MAGELANG
A. Gambaran Umum Pemerintah Kota Magelang
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah daerah adalah penyelenggaran urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya. Pemerintah daerah terbagi menjadi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten atau kota.
Pemerintah kota adalah pembagian wilayah administratif di bawah provinsi yang berkedudukan setara dengan kabupaten. Seperti halnya kabupaten, wilayah kotamadya atau sering disebut dengan kota yang terdiri dari beberapa wilayah. Pemerintah kota dipimpin oleh seorang walikota yang dibantu oleh seorang wakil walikota dan perangkat daerah lainnya.
Pemerintah Kota Magelang merupakan salah satu pemerintah daerah kota di Indonesia yang dipimpin oleh seorang walikota yang dibantu oleh perangkat daerah. Walikota Kota Magelang periode 2010 – sekarang dipimpin oleh Walikota Ir. Sigit Widyonindito, MT. Pemerintah Kota Magelang beralamat pusat di Jalan Sarwo Edhie Wibowo No. 2, Kota Magelang, Jawa Tengah.
39
Pemerintahan Daerah, dalam menjalankan tanggungjawab walikota memiliki beberapa tugas dan kewenangan antara lain memimpin pelaksanaan urusan pemerintah kota; mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan; mengajukan rancangan peraturan daerah; menetapkan perda dan keputusan bupati; serta mengambil tindakan tertentu dalam keadaan mendesak yang sangat dibutuhkan oleh daerah dan/atau masyarakat.
Walikota Magelang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh perangkat-perangkat jajarannya yang dapat dilihat pada Gambar 4.1 sebagai berikut:
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pemerintah Kota Magelang
Sumber: Website Kota Magelang
Perangkat-perangkat yang membantu walikota dalam menjalankan tugas-tugasnya yaitu perangkat daerah yang meliputi sekretariat daerah, badan daerah, dinas daerah, dan kecamatan. Dalam hal ini, perangkat daerah tersebut yang menjadi responden dalam penelitian ini.
40 1. Visi
Visi Kota Magelang adalah “Terwujudnya Kota Magelang sebagai Kota Jasa yang Modern dan Cerdas yang Dilandasi Masyarakat yang Sejahtera dan Religius”.
2. Misi
Berdasarkan visi Kota Magelang tersebut ditetapkan misi pembangunan Kota Magelang sebagai berikut:
a. Meningkatkan sumber daya manusia aparatur yang berkualitas dan profesional dengan mengoptimalkan kemajuan teknologi sebagai dasar terciptanya pemerintah daerah yang bersih serta tanggap terhadap pemenuhan aspirasi masyarakat, mampu meningkatkan dan mengelola potensi daerah dalam rangka efektifitas dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat didukung partisipasi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
b. Mengembangkan dan mengelola sarana perkotaan dan sarana pelayanan dasar dibidang pendidikan, kesehatan dan perdagangan yang lebih modern serta ramah lingkungan.
c. Meningkatkan pemerataan pembangunan infrastruktur perkotaan untuk mendukung pemerataan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
41
landasan pengembangan dan pembangunan pariwisata Kota Magelang.
e. Memperkuat kehidupan beragama dan toleransi antar umat beragama melalui penyelanggaraan kegiatan-kegiatan keagamaan dan peningkatan sarana prasarana peribadatan sebagai landasan terbangunnya masyarakat madani.
C. Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Kota Magelang
Pemerintah daerah Kota Magelang dipimpin oleh seorang walikota dan wakil walikota yang dibantu oleh perangkat daerahnya atau disebut dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Menurut PP Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) adalah organisasi atau lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggungjawab kepada kepala daerah dalam rangka penyelenggaran pemerintah di daerah. Pada hal ini kepala daerah yang dimaksud yaitu walikota.
Struktur pemerintahan pada perangkat daerah Kota Magelang terdiri dari 29 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut:
42
OPD Definisi Instansi
Sekretariat pelaksanaan tugas peerangkat daerah.
Tugas sekretariat
DPRD adalah
mendukung
pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD.
1. Sekretariat Daerah 2. Sekretariat DPRD
Badan Daerah Badan daerah berperan dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat khusus. Badan daerah berbentuk badan, kantor, atau rumah sakit umum daerah.
43 daerah dipimpin oleh kepala dinas yang
10. Pendidikan dan kebudayaan (Dikbud);
11. Dinas Kesehatan (DKK);
12. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR);
13. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman
(Perkim);
14. Dinas Sosial (Dinsos);
15. Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disnaker);
16. Dinas Pemberdayaan Masyarakat,
Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMPPAPKB);
44
17. Dinas Pertanian dan Pangan (Dipertan);
18. Dinas Lingkungan Hidup (DLH);
19. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil);
20. Dinas Perhubungan (Dishub);
21. Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik
(Diskominsta);
22. Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP);
23. Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata
(Didporarar);
24. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinas Perpus);
25. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag);
45
26. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP);
Kecamatan Kecamatan adalah
bagian dari
kabupaten/kota yang dipimpin oleh seorang camat, dimana camat tersebut
bertanggungjawab kepada bupati/walikota.
27. Kecamatan Magelang Selatan;
28. Kecamatan Magelang Tengah; serta
29. Kecamatan Magelang Utara.
Sumber: Website Kota Magelang
Berdasarkan tabel diatas, Walikota Magelang melaksanakan tugasnya dengan dibantu oleh 29 OPD yang terdiri dari banyak pegawai dengan bidangnya masing-masing. Pada penelitian ini, pegawai yang menjadi responden yaitu pegawai yang bekerja pada bidang keuangan di OPD Kota Magelang. Dalam setiap instansi OPD Kota Magelang terdapat sekitar 3-6 pegawai keuangan yang terbagi atas jabatan sekretaris, kasubag keuangan dan program, dan beserta stafnya. Ketiga jabatan tersebut memiliki tugas masing-masing yang berhubungan dengan keuangan instansi tersebut.
46
Sistem pengaduan atau pelaporan pelanggaran di Kota Magelang memiliki 2 jalur yaitu Monggo Lapor sebagai sistem yang digunakan secara internal dalam Kota Magelang dan LAPOR! sebagai sistem pelaporan berskala nasional.
1. Monggo Lapor
Monggo Lapor adalah sebuah sistem pengaduan atau pelaporan yang diperuntukkan untuk warga Kota Magelang tak terkecuali pegawai pada Pemerintah Kota Magelang. Sistem tersebut dibuat oleh Dinas Komunikasi, Informatika & Statistik (Diskominsta) Kota Magelang dan dapat diakses secara umum dalam bentuk website &
fitur dalam Aplikasi Magelang Cerdas. Pengguna yang ingin menggunakan sistem tersebut perlu mendaftar dengan mengisi NIK, nama lengkap, email, dan nomor telepon pada halaman masuk sebagai jaminan keabsahan apabila pengguna melakukan pelaporan melalui Monggo Lapor.
Setelah mengirim laporan, pengelola website Monggo Lapor akan melakukan beberapa langkah yaitu (1) merespons aduan atau laporan yang telah dikirimkan melalui Satuan Kerja (OPD) yang berwenang; (2) Satuan Kerja (OPD) yang bersangkutan akan melakukan tindak lanjut terhadap laporan yang telah dikirimkan; serta (3) Penutupan laporan akan dilakukan apabila laporan yang telah
47 persetujuan pelapor.
Pemerintah Kota Magelang memberikan perlindungan bagi pelapor yang ingin melakukan pengaduan atau pelaporan dengan menutupi identitas pelapor. Hal tersebut dapat dilakukan oleh pelapor itu sendiri saat pengisian formulir laporan, dimana laporan yang dikirimkan hanya dapat dilihat oleh pengelola sistem tersebut dan tanpa diketahui pihak lain. Pada formulir laporan pelapor dapat memilih pilihan “rahasia”.
Prosedur pengaduan website Monggo Lapor atau fitur Monggo Lapor dalam Aplikasi Magelang Cerdas dilakukan melalui tahapan sebagai berikut.
1. Tulis laporan: tulis laporan pelapor dengan lengkap dan jelas melalui web atau aplikasi
2. Proses delegasi: laporan akan otomatis terdelegasi ke instansi berwenang.
3. Proses tindak lanjut: dalam waktu cepat instansi akan menindaklanjuti dan membalas laporan dari pelapor.
4. Tanggapan balik: pelapor dapat menanggapi kembali balasan dari instansi berwenang.
5. Selesai: jika tindak lanjut sudah selesai maka instansi berwenang akan menutup laporan dari pelapor.
48
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2013 dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 3 Tahun 2015, Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR!) adalah layanan penyampaian semua aspirasi dan pengaduan masyarakat Indonesia yang dapat dilakukan melalui beberapa kanal pengaduan yaitu website www.lapor.go.id, SMS 1708, twitter @lapor1708 dan aplikasi Android.
Lembaga pengelola SP4N-LAPOR! adalah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB) sebagai Pembina Pelayanan Publik, Kantor Staf Presiden (KSP) sebagai Pengawas Program Prioritas Nasional dan Ombudsman Republik Indonesia sebagai Pengawas Pelayanan Publik. LAPOR! telah ditetapkan sebagai Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional (SP4N).
SP4N-LAPOR! dibentuk oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk merealisasikan kebijakan “no wrong door policy” yang menjamin hak masyarakat agar pengaduan dari manapun dan jenis apapun akan disalurkan kepada penyelenggara pelayanan publik yang berwenang menanganinya. Serta untuk mengintegrasikan sistem pengelolaan pengaduan pelayanan publik dalam satu pintu yaitu satu sistem untuk semua pelaporan seluruh pemerintahan di Indonesia.
Sehingga masyarakat memiliki satu saluran pengaduan secara nasional
49
untuk melakukan penyampaian aspirasi ataupun pengaduan tak terkecuali kategori korupsi.
Pengelola layanan memberikan jaminan kerahasiaan data dan informasi pada SP4N-LAPOR!. Adapun data pribadi yang dikumpulkan meliputi nomer KTP, SIM, NIK sebagai pengenal identitas dan nomer telepon pengguna untuk memverifikasi akun dan mengirim notifikasi laporan. Data pribadi dan data pengaduan dari pengguna akan diberikan kepada instansi terkait yang berhubungan dengan aduan dan yang disampaikan oleh pengguna, namun hanya sebagai jaminan keabsahan dari aduan yang disampaikan.
Kerahasiaan laporan juga dapat dilakukan oleh pelapor melalui fitur yang ada di SP4N-LAPOR!. Fitur-fitur yang tersebut yaitu anonim (pelapor memiliki identitas yang tidak akan diketahui oleh pihak terlapor dan masyarakat umum); rahasia (seluruh isi laporan tidak dapat dilihat oleh publik); dan tracking id (nomor unik yang berguna untuk meninjau proses tindak lanjut laporan yang disampaikan oleh masyarakat).
Prosedur pengaduan dan pelaporan untuk melakukan pelaporan melalui LAPOR! yaitu sebagai berikut.
50 lengkap
2. Proses verifikasi: dalam 3 hari, laporan dari pelapor akan diverifikasi dan diteruskan kepada instansi berwenang
3. Proses tindak lanjut: dalam 5 hari, instansi akan menindaklanjuti dan membalas laporan yang telah dikirim oleh pelapor
4. Beri tanggapan: pelapor dapat menanggapi kembali balasan yang diberikan oleh instansi dalam waktu 10 hari
5. Selesai: laporan yang telah dikirimkan akan terus ditindaklanjuti hingga terselesaikan
Pada tahun 2019, jumlah pelapor pada sistem SP4N-LAPOR!
sebanyak 801.257 pengguna dan total laporan yang telah masuk sebanyak 1.389.891 dengan sumber laporan terbanyak dilakukan melalui website diikuti oleh SMS, twitter dan aplikasi mobile. Sistem tersebut telah terhubung dengan 34 Kementerian, 96 Lembaga, dan 493 Pemerintah daerah di Indonesia termasuk Pemerintah Kota Magelang. Namun, pada Pemerintah Kota Magelang diketahui tidak banyak melakukan pelaporan melalui sistem tersebut.
51
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari jawaban opini pegawai keuangan OPD Kota Magelang yaitu berupa data primer yang berasal dari 102 responden. Jenis pendekatan yang digunakan untuk pengambilan data tersebut yaitu menggunakan pendekatan cross section, dimana pengumpulan data dilakukan satu kali pada satu waktu (Arikunto, 2010).
Data tersebut diperoleh melalui kuesioner yang berkaitan dengan pengaruh personal cost, status pelanggar, dan pemberian reward terhadap niat untuk melakukan whistleblowing.
Pada penelitian ini, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan tujuan tertentu. Dalam hal ini yaitu pegawai keuangan OPD Kota Magelang dipilih sebagai responden. Karakteristik jabatan lebih difokuskan pada responden yang bekerja pada bidang keuangan yang telah mempunyai masa kerja lebih dari satu tahun. Penelitian ini memilih pegawai yang bekerja pada bidang keuangan sebagai responden karena pegawai tersebut memiliki akses istimewa ke informasi milik organisasi dalam menjumpai fraud pada organisasi, sehingga diharapkan pegawai dengan kriteria tersebut dapat menjadi responden yang sesuai dengan penelitian yang kaitannya dengan whistleblowing.
52
dari masing-masing 3 pertanyaan untuk variabel personal cost, status pelanggar, dan niat whistleblowing, serta 4 pertanyaan variabel pemberian reward. Kuesioner dibagikan mulai tanggal 2 Januari 2019 dan diambil secara berangsur-angsur karena setiap instansi memberikan tanggal pengambilan hasil kuesioner yang berbeda-beda. Pengambilan data dilakukan dari tanggal 2 Januari 2020 – 22 Januari 2020 yaitu kurang lebih selama 3 minggu. Hasil dari pendistribusian kuesioner tersebut didapat 102 data kuesioner yang dapat diolah. Gambaran mengenai data responden disajikan dalam Tabel 5.1 sebagai berikut.
Tabel 5.1 Data Responden Penelitian
Keterangan Jumlah Persentase
Total kuesioner yang dibagikan 125 100%
Total kuesioner yang kembali 111 88,8%
Total kuesioner yang tidak kembali 14 11,2%
Total kuesioner yang dapat diolah 102 91,9%
Total kuesioner yang tidak dapat diolah 9 8,1%
Sumber: data yang diolah, 2020
Dalam penelitian ini penulis menyebarkan 125 kuesioner dan jumlah kuesioner yang kembali sebanyak 111 kuesioner dan terdapat 14 kuesioner yang tidak kembali. Dari 111 kuesioner yang kembali, jumlah kuesioner yang dapat diolah sebanyak 102 kuesioner sedangkan sisanya tidak dapat diolah karena 6 kuesioner tidak terisi dengan lengkap serta 3 kuesioner tidak sesuai dengan kriteria dalam penelitian ini.
53 dilihat dalam Tabel 5.2 berikut.
Tabel 5.2 Data Distribusi Responden Penelitian
No Nama Instansi Kuesioner
Dikirim
4 Badan Perencanaan dan Penelitian
Daetah (Bappeda) 5 5
5 Badan Penelitian dan Pengembangan
(Balitbang) 3 3
6 Badan Kepegawaian Pendidikan dan
Pelatihan Daerah (BKPP) 5 5
54
No Nama Instansi Kuesioner
Dikirim
Kuesioner Kembali
15 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) 5 5
16 Dinas Kependudukan dan Pencatatan
Sipil (Disdukcapil) 4 4
17 Dinas Perhubungan (Dishub) 7 4
18 Dinas Komunikasi Informatika dan
Statistika (Diskominsta) 5 5
19 Dinas Perindustrian dan Perdagangan
(Disperindag) 4 4
20 Dinas Pemberdayaan Masyaraakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMPPAPKB)
5 5
21 Dinas Penanaman Modal Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) 5 5
22 Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja
(Disnaker) 4 4
23 Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan
Pariwisata (Didporapar) 3 3
24 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
(Dinas Perpus) 4 4
Total 125 111
Sumber: data yang diolah, 2020
Berdasarkan tabel di atas, hanya terdapat 24 instansi yang menjadi responden dalam penelitian ini, sedangkan sisanya yaitu 5 instansi tidak termasuk responden, seperti RSUD, Satpol PP, dan tiga kecamatan
55
kuesioner pada 24 instansi yang terdiri dari 125 pegawai keuangan.
Berdasarkan kuesioner yang telah dikembalikan dan kuesioner yang dapat digunakan, maka peneliti mendapatkan data responden seperti pada Tabel 5.3 sebagai berikut.
Tabel 5.3 Karakteristik Responden
Karakteristik Kategori Jumlah Persentase
Masa kerja < 1 tahun 0 0%
Sumber: data yang diolah 2020
Tabel tersebut menunjukan bahwa responden dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria yang diajukan yaitu telah bekerja lebih dari satu tahun yaitu dengan persentase 100%. Sehingga diharapkan responden memiliki pemahaman yang cukup terhadap kondisi lingkungan kerja di
56
keuangan yang jumlahnya 100%, yang artinya responden yang diambil datanya telah sesuai dengan subjek penelitian yang dipilih yaitu pada pegawai keuangan di instansi sekretariat, badan dan dinas OPD Kota Magelang.
B. Analisis Data
Data yang dianalisis dalam penelitian ini berjumlah 102 responden dan terdapat 13 pertanyaan dalam kuesioner. Analisis data yang dilakukan meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji analisis regresi linear berganda, uji koefisieen determinasi, uji F, dan uji t.
1. Uji Validitas
1. Uji Validitas