• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Analisis per Subtes

7. Subtes Kelengkapan Gambar

a. Analisis Aitem

Analisis aitem dilakukan dengan menghitung koefisien reliabilitas apabila aitem dihapus, indeks daya beda aitem dan indeks kesukaran aitem pada tiap aitem dalam subtes-subtes WAIS. Penentuan kualitas aitem didasarkan pada kriteria yang tercantum pada subtes sebelumnya. Tabel 29 merupakan hasil analisis aitem pada Subtes Kelengkapan Gambar:

Tabel 29.

Hasil Analisis Aitem Subtes Kelengkapan Gambar

Aitem Permasalahan

1 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

2 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

3 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

4 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

5 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

6 Indeks daya beda aitem rendah

7 Indeks daya beda aitem rendah

8 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

9 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

10 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

11 Indeks daya beda aitem rendah

12 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

13 Indeks daya beda aitem rendah

14 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

15 Indeks daya beda aitem rendah

16 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

17 Indeks daya beda aitem rendah

18 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

19 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

20 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

21 Menurunkan koefisien reliabilitas, indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem rendah

Berdasarkan tabel 29, aitem nomor 21 merupakan aitem yang menurunkan koefisien reliabilitas. Keberadaan aitem yang menurunkan koefisien reliabilitas suatu tes akan membuat membuat hasil tes yang bersangkutan tidak dapat dipercaya (Allen & Yen, 1979). Hal ini dapat diperbaiki dengan melihat kembali apakah penggunaan aitem tersebut untuk mengukur kemampuan persepsi visual, kesiapan, memori, konsentrasi, kemampuan membedakan dan perhatian terhadap detil dapat dipercaya atau tidak.

Seluruh aitem dari Subtes Kelengkapan Gambar memiliki indeks daya beda aitem yang rendah. Aitem-aitem yang memiliki indeks daya beda aitem yang tidak sesuai dengan nilai ideal indeks daya beda aitem menunjukkan bahwa aitem tersebut memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi tes. Masalah ini dapat diperbaiki dengan melihat kembali kesesuaian antara fungsi aitem dan fungsi Subtes Kelengkapan Gambar (Allen & Yen, 1979; Azwar, 1999).

Aitem 4, 8, 9, 10, 12, 16, 18 dan 19 memiliki indeks kesukaran aitem yang rendah sedangkan aitem 1, 2, 3, 5 dan 14 memiliki indeks kesukaran aitem yang tinggi. Keberadaan aitem yang memiliki indeks kesukaran aitem yang terlalu rendah atau terlalu tinggi juga menunjukkan bahwa aitem tersebut tidak memenuhi indeks kesukaran aitem yang baik. Hal ini dapat diatasi dengan

mempermudah soal pada aitem yang memiliki indeks kesukaran aitem yang rendah maupun mempersulit soal pada aitem yang memiliki indeks kesukaran aitem yang tinggi (Allen & Yen, 1979; Supratiknya, 1998).

b. Reliabilitas

Koefisien reliabilitas pada subtes Kelengkapan Gambar adalah 0.504 dengan jumlah soal sebanyak 21. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kekuatan relasi dari koefisien reliabilitas termasuk dalam kategori rendah bagi tes intelegensi. Kevin dan Charles (1991) mengungkapkan bahwa batas reliabilitas minimal untuk tes inteligensi adalah 0.90. Koefisien reliabilitas diperoleh dari pendekatan konsistensi internal dan menggunakan teknik estimasi koefisien alpha Cronbach dengan formula umum. Reliabilitas rendah menunjukkan skor murni lebih mengukur eror daripada skor murni yang berarti perbedaan skor antar subyek tidak menggambarkan perbedaan skor melainkan lebih banyak menggambarkan variasi eror yang sifatnya random (Murphy & Davidshofer, 1991).

c. Validitas

Uji normalitas univariate dan mutivariate dilakukan

semua variabel tidak berdistribusi normal (p≤0,05). Ini berarti analisis perlu menyertakan matriks analisis kovarian asimptotik untuk mengatasi ketidaknormalan data. Selanjutnya, analisis faktor konfirmatori menghasilkan nilai fit indeks sebagai berikut:

Tabel 30.

Hasil Fit Indeks Subtes Kelengkapan Gambar

No Fit Indeks Nilai Fit

1 Standardized RMR (SRMR) 0.050 2 Root Mean Square Error of

Approximation (RMSEA)

0.037 3 Comparative Fit Index (CFI) 0.64 4 Non-Normed Fit Index (NNFI) 0.60 5 Incremental Fit Index (IFI) 0.66

Pada subtes ini, nilai χ2

yang didapat menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara model penelitian dan skor

hasil tes. Namun, χ2

sangat peka dengan jumlah subyek. Apabila

jumlah subyek banyak, maka χ2

akan menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan walaupun sebenarnya perbedaannya sangat kecil (Hu & Bentler, 1998). Oleh karena itu, perlu melihat

nilai fit indeks yang lain, yaitu Standardized RMR (SRMR), Root

Mean Square Error of Approximation (RMSEA), Comparative Fit Index (CFI), Non Normed Fit Index (NNFI) dan Incrimental Fit Index (IFI).

Subtes ini menghasilkan nilai SRMR dan RMSEA sebesar 0.050 dan 0.037 sehingga peneliti mempunyai bukti validitas yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan persepsi visual, kesiapan, memori, konsentrasi, kemampuan membedakan

dan perhatian terhadap detil. Di sisi lain, nilai CFI sebesar 0.64, nilai NNFI sebesar 0.60 dan IFI sebesar 0.66. Ketiga fit indeks tersebut menunjukkan hasil tidak fit karena kurang dari 0.95 (Hu & Bentler, 1998). Berdasarkan hal tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa validitas subtes Kelengkapan Gambar adaptasi diragukan. Ini berarti subtes Kelengkapan Gambar dianggap kurang mampu untuk mengukur kemampuan persepsi visual, kesiapan, memori, konsentrasi, kemampuan membedakan dan perhatian terhadap detil.

d. Norma

Setelah melakukan analisis aitem dan menghitung reliabilitas dari Subtes Kelengkapan Gambar, peneliti melanjutkan tahap selanjutnya yakni pembuatan norma yang baru dari data-data yang digunakan dalam penelitian ini. Norma skor standar digunakan karena menyesuaikan dengan norma yang dipakai di Laboratorium Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Norma revisi dibedakan menjadi empat, yaitu norma untuk

usia 16-17 tahun, norma untuk usia 18-19 tahun, norma untuk usia 20-24 tahun dan norma untuk usia 25-34 tahun. Norma untuk usia 16-17 dibuat dengan subyek sebanyak 129 orang. Norma untuk usia 18-19 dibuat dengan subyek sebanyak 157 orang. Norma untuk untuk usia 20-24 dibuat dengan subyek sebanyak 217 orang.

Norma untuk usia 25-34 dibuat dengan subyek sebanyak 15 orang. Tabel 31 menunjukkan perbandingan antara norma lama dan norma revisi.

Tabel 31.

Norma Subtes Kelengkapan Gambar

AS Usia16-17 Usia18-19 Usia 20-24 Usia 25-34 NL NR NL NR NL NR NL NR 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1-4 1 1-4 1 1-4 1 1-4 2 2 5 2 5 2 5 2 5 3 3-4 6 3 6 3 6 3 5 4 5 7 4 7 4 6 4 6 5 6 7 5-6 7 5 7 5 7 6 7 8 7 8 6-7 8 6-7 8 7 8-9 9 8-9 9 8-9 9 8-9 9 8 10 10 10-11 9 10-11 9 10-11 9 9 11-12 10 12 10 12-13 10 12-13 10 10 13 11 13-14 11 14 11 14 11 11 14 12 15 11 15-16 12 15-16 12 12 15-16 12 16 12 17 12 17 12 13 17 13 17 12 18 13 18 13 14 18 14 18 13 19 14 19 14 15 19 15 19 14 - 15 - 15 16 - 16 20 15 20 15 20 16 17 - 16 - 15 - 16 21 17 18 20 17 21 16 21 17 - 18 19 21 18-21 - 17-21 - 18-21 - 19-21

Berdasarkan tabel 31 dapat dilihat bahwa pada bagian awal hingga tengah norma baru memiliki standar skor yang lebih tinggi daripada norma lama. Sebagai contoh, pada usia 18-19 angka kasar 5 dinilai sebagai angka skala 5 pada norma lama, sedangkan norma baru menilai angka kasar 5 sebagai angka skala 2. Di sisi lain, norma baru memiliki standar skor yang lebih rendah pada bagian tengah hingga akhir. Sebagai contoh, pada usia 18-19 angka kasar

16 dinilai sebagai angka skala 12 pada norma lama, sedangkan norma baru menilai angka kasar 16 sebagai angka skala 18. Hal tersebut menunjukkan bahwa standar kemampuan persepsi visual, kesiapan, memori, konsentrasi, kemampuan membedakan dan perhatian terhadap detil saat ini berbeda dengan dulu. Oleh karena itu, norma harus selalu ditinjau dan diperbarui secara berkala karena bisa tidak sesuai lagi jika dipakai dalam jangka waktu tertentu (AERA, APA, NCME, 1999).