• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Analisis per Subtes

5. Subtes Kesamaan

a. Analisis Aitem

Analisis aitem dilakukan dengan menghitung koefisien reliabilitas apabila aitem dihapus, indeks daya beda aitem dan indeks kesukaran aitem pada tiap aitem dalam subtes-subtes WAIS. Penentuan kualitas aitem didasarkan pada kriteria yang tercantum pada subtes sebelumnya. Tabel 23 merupakan hasil analisis aitem pada Subtes Kesamaan.

Tabel 23.

Hasil Analisis Aitem Subtes Kesamaan

Aitem Permasalahan

1 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

2 Indeks kesukaran aitem tinggi

3 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

4 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

5 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

6 Indeks kesukaran aitem tinggi, indeks daya beda aitem

rendah

7 Indeks daya beda aitem rendah

8 Indeks daya beda aitem rendah

9 Indeks daya beda aitem rendah

10 Indeks daya beda aitem rendah

11 Indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem

rendah

12 Menurunkan koefisien reliabilitas, indeks kesukaran aitem rendah, indeks daya beda aitem rendah

Berdasarkan tabel 23, aitem nomor 12 merupakan aitem yang menurunkan koefisien reliabilitas. Keberadaan aitem yang menurunkan koefisien reliabilitas suatu tes akan membuat membuat hasil tes yang bersangkutan tidak dapat dipercaya (Allen & Yen, 1979). Hal ini dapat diperbaiki dengan melihat kembali apakah penggunaan aitem tersebut untuk mengukur kemampuan individu dalam menganalisa hubungan dan menggunakan pola pikir logis serta kemampuan untuk berpikir secara abstrak dapat dipercaya atau tidak.

Aitem 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 dan 13 memiliki indeks daya beda aitem yang rendah. Aitem-aitem yang memiliki indeks daya beda aitem yang tidak sesuai dengan nilai ideal indeks daya beda aitem menunjukkan bahwa aitem tersebut memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi tes. Masalah ini dapat diperbaiki dengan melihat kembali kesesuaian antara fungsi aitem dan fungsi Subtes Kesamaan (Allen & Yen, 1979; Azwar, 1999).

Aitem nomor 11 dan 12 memiliki indeks kesukaran aitem yang rendah sedangkan aitem 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 memiliki indeks kesukaran aitem yang tinggi. Keberadaan aitem yang memiliki indeks kesukaran aitem yang terlalu rendah atau terlalu tinggi juga menunjukkan bahwa aitem tersebut tidak memenuhi indeks kesukaran aitem yang baik. Hal ini dapat diatasi dengan mempermudah soal pada aitem yang memiliki indeks kesukaran

aitem yang rendah maupun mempersulit soal pada aitem yang memiliki indeks kesukaran aitem yang tinggi (Allen & Yen, 1979; Supratiknya, 1998).

b. Reliabilitas

Koefisien reliabilitas pada subtes Kesamaan adalah 0.490 dengan jumlah soal sebanyak 13. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kekuatan relasi dari koefisien reliabilitas termasuk dalam kategori rendah bagi tes intelegensi. Kevin dan Charles (1991) mengungkapkan bahwa batas reliabilitas minimal untuk tes inteligensi adalah 0.90. Koefisien reliabilitas diperoleh dari pendekatan konsistensi internal dan menggunakan teknik estimasi koefisien alpha Cronbach dengan formula umum. Reliabilitas rendah menunjukkan skor murni lebih mengukur eror daripada skor murni yang berarti perbedaan skor antar subyek tidak menggambarkan perbedaan skor melainkan lebih banyak menggambarkan variasi eror yang sifatnya random (Murphy & Davidshofer, 1991).

c. Validitas

Uji normalitas univariate dan mutivariate dilakukan

sebelum analisis SEM. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa

analisis perlu menyertakan matriks analisis kovarian asimptotik untuk mengatasi ketidaknormalan data. Selanjutnya, analisis faktor konfirmatori menghasilkan nilai fit indeks sebagai berikut:

Tabel 24.

Hasil Fit Indeks Subtes Kesamaan

No Fit Indeks Nilai Fit

1 Standardized RMR (SRMR) 0.047 2 Root Mean Square Error of

Approximation (RMSEA)

0.051 3 Comparative Fit Index (CFI) 0.89 4 Non-Normed Fit Index (NNFI) 0.87 5 Incremental Fit Index (IFI) 0.89

Pada subtes ini, nilai χ2

yang didapat menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara model penelitian dan skor

hasil tes. Namun, χ2

sangat peka dengan jumlah subyek. Apabila

jumlah subyek banyak, maka χ2

akan menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan walaupun sebenarnya perbedaannya sangat kecil (Hu & Bentler, 1998). Oleh karena itu, perlu melihat

nilai fit indeks yang lain, yaitu Standardized RMR (SRMR), Root

Mean Square Error of Approximation (RMSEA), Comparative Fit Index (CFI), Non Normed Fit Index (NNFI) dan Incrimental Fit Index (IFI).

Subtes ini menghasilkan nilai SRMR dan RMSEA sebesar 0.047 dan 0.051 sehingga peneliti mempunyai bukti validitas yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan individu dalam menganalisa hubungan dan menggunakan pola pikir logis serta kemampuan untuk berpikir secara abstrak. Di sisi lain, nilai CFI sebesar 0.89, NNFI sebesar 0.87 dan IFI sebesar 0.89 menunjukkan

bahwa ketiga fit indeks tersebut menunjukkan hasil tidak fit karena kurang dari 0.95 (Hu & Bentler, 1998). Berdasarkan hal tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa validitas subtes Kesamaan diragukan. Ini berarti subtes Kesamaan dianggap kurang mampu untuk mengukur kemampuan individu dalam menganalisa hubungan dan menggunakan pola pikir logis serta kemampuan untuk berpikir secara abstrak.

d. Norma

Setelah melakukan analisis aitem dan menghitung reliabilitas dari Subtes Kesamaan, peneliti melanjutkan tahap selanjutnya yakni pembuatan norma yang baru dari data-data yang digunakan dalam penelitian ini. Norma skor standar digunakan karena menyesuaikan dengan norma yang dipakai di Laboratorium Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Norma revisi dibedakan menjadi empat, yaitu norma untuk usia 16-17 tahun, norma untuk usia 18-19 tahun, norma untuk usia 20-24 tahun dan norma untuk usia 25-34 tahun. Norma untuk usia 16-17 dibuat dengan subyek sebanyak 129 orang. Norma untuk usia 18-19 dibuat dengan subyek sebanyak 157 orang. Norma untuk untuk usia 20-24 dibuat dengan subyek sebanyak 217 orang. Norma untuk usia 25-34 dibuat dengan subyek sebanyak 15 orang. Tabel 25 menunjukkan perbandingan antara norma lama dan norma revisi.

Tabel 25.

Norma Subtes Kesamaan

AS Usia16-17 Usia18-19 Usia 20-24 Usia 25-34 NL NR NL NR NL NR NL NR 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 - 1-3 - 1-4 - 1-5 - 1-2 2 - 4 - 5-6 - 6 1 3-4 3 1 5 1 7 1 7 2 5-6 4 2 6-7 2 8 2-3 8-9 3 7-8 5 3 8 3 9 4 10 4 9-10 6 4-5 9 4-5 10-11 5-6 11 5-6 11-12 7 6 10 6 12 7-9 12 7 13 8 7-10 11 7-10 13 10-11 13 8-10 14 9 11-12 12 11-12 14 12-13 14-15 11-13 15-16 10 13 13 13-14 15 14-15 16 14-15 17-18 11 14-15 14 15 16 16 17 16-17 19 12 16 15-16 16-17 17 17 18 18 20-21 13 17-18 17 18-19 18 18-20 19 19-20 22 14 19 18 20 19 21 20 21 23-24 15 20 19-20 21 20-21 22 21-22 22 25 16 21-22 21 22 22 23 23 - - 17 - 22 - 23 24 24 23 - 18 23 23 23-24 24 25 25 24 - 19 24-25 24-25 25 25 - - 25 -

Berdasarkan tabel 25 dapat dilihat bahwa pada bagian awal hingga tengah norma baru memiliki standar skor yang lebih tinggi daripada norma lama. Sebagai contoh, pada usia 20-24 angka kasar 7 dinilai sebagai angka skala 7 pada norma lama, sedangkan norma baru menilai angka kasar 7 sebagai angka skala 3. Hal tersebut menunjukkan bahwa standar kemampuan individu dalam menganalisa hubungan dan menggunakan pola pikir logis serta kemampuan untuk berpikir secara abstrak saat ini berbeda dengan dulu. Oleh karena itu, norma harus selalu ditinjau dan diperbarui

secara berkala karena bisa tidak sesuai lagi jika dipakai dalam jangka waktu tertentu (AERA, APA, NCME, 1999).