LANDASAN TEORI
D. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 1. Suku Bunga
harga mata uang domestik (domestik currency) atau resiprokalnya, yaitu harga
mata uang domestik dalam mata uang asing. Nilai tukar uang merepresentasikan tingkat harga pertukaran dari satu mata uang ke mata uang lainnya dan digunakan dalam berbagai transaksi, antara lain transaksi perdagangan internasional, turisme, inestasi internasional, ataupun aliran uang jangka pendek antar negara, yang melewati batas-batas geografis ataupun batas-batas hukum.
Kurs adalah harga sebuah mata uang dari suatu Negara yang diukur atau dinyatakan dalam satuan mata uang lainnya. Kurs memainkan peranan yan amat penting dalam keputusan-keputusan pembelanjaan, karena kurs memungkinkan bagi kita untuk menerjemahkan harga-harga dari berbagai Negara kedalam satu bahasa yang sama, (Kurgmen, 2004:40).
Jika kurs riil tinggi, barang-barang dari luar negeri relatif lebih murah dan barang-barang domestik lebih mahal. Jika kurs rill rendah, barang-barang dari luar negeri relatif lebih mahal dan barang-barang domestik relatif lebih murah, Mankiw (2006:130).
D. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 1. Suku Bunga
Menurut Samuelson dan Nordhaus (2005:505), interest rate is the price
paid for borrowing money for a period of time, usually expressed as a
18 Menurut Frederic S. Mishkin (2007:4), interest rate is the cost of
borrowing or the price paid for the rental of funds (usually expressed as a
percentage of the rental of $100 per year).
Menurut Kasmir (2003:37), bunga bagi bank berdasarkan prinsip konvensional dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya . Bunga juga dapat diartikan sebagai harga yang harus dibayarkan kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dan yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yang memperoleh pinjaman).
Menurut Sadono Sukirno (2005:375) bunga adalah pembayaran ke atas modal yang dipinjam dari pihak lain. Sedangkan, suku bunga adalah harga yang dibayar “peminjam” (“debitur”) kepada “pihak yang meminjamkan” (“kreditur”) untuk pemakaian sumber daya selama interval waktu tertentu.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa suku bunga adalah suatu harga atau biaya yang diberikan peminjam atau pihak yang memiliki kekurangan dana kepada pihak yang meminjamkan dana atau memiliki kelebihan dana atas penggunaan dana tersebut pada jarak waktu tertentu. Dengan kata lain, orang yang diberi kesempatan meminjam harus membayar biaya atas pinjamannya tersebut. Biaya peminjaman, diukur dalam rupiah per tahun per rupiah yang dipinjam, adalah suku bunga. Jumlah pinjaman yang diberikan disebut principal dan harga yang
dibayar biasanya diekspresikan sebagai presentase dari principal per unit waktu (umumnya, setahun). Dalam bagian ini, dibahas dua teori penentuan
19 suku bunga yang paling berpengaruh yaitu: teori Fisher, yang mendasari loanable funds theory, dan liquidity preference theory dari Keynes.
a. Pendekatan Klasik dari Fisher
Irving Fisher telah menganalisis penentuan tingkat suku bunga dalam ekonomi dengan mempelajari mengapa orang-orang menabung (mengapa mereka tidak mengkonsumsi semua sumber daya mereka) dan mengapa orang lain yang meminjam. Di sini dibahas teori Fisher dalam konteks sebuah perekonomian yang sangat sederhana. Perekonomian tersebut hanya terdiri dari para individu yang melakukan konsumsi dan menabung penghasilan berjalan mereka, perusahaan-perusahaan yang meminjam penghasilan yang tidak dikonsumsi dan berinvestasi;suatu pasar tempat di mana para penabung memberi pinjaman sumber daya kepada para peminjam, dan proyek-proyek tempat perusahaan berinvestasi. Suku bunga atas pinjaman tersebut tidak mengandung premi bagi risiko kegagalan (default risk) karena perusahaan-perusahaan peminjam diasumsikan
akan mampu memenuhi semua kewajibannya, (Sukirno 2004:204). b. Pendekatan Keynes
Keynes menantang pandangan ekonomi klasik, bahwa tingkat bunga tidak menentukan besar kecilnya investasi maupun tabungan masyarakat. Tabungan dan investasi menurut Keynes ditentukan dan dipengaruhi secara langsung oleh tingkat pendapatan masyarakat itu sendiri. Terutama untuk tabungan, menurut Keynes, orang akan
20 menabung jika orang tersebut memiliki kelebihan uang (marginal
prospensity to save), yaitu pendapatannya di atas kebutuhan
konsumsinya. Sehingga Keynes yakin bahwa bunga bukanlah faktor utama dalam menentukan tingkat tabungan masyarakat. Demikian juga halnya dengan investasi, Keynes berkeyakinan bahwa bunga bukanlah faktor utama dalam menentukan tingkat investasi, walaupun diakui bahwa adalah salah satu pertimbangan untuk investasi adalah tingkat bunga. (Judisseno 2005: 83)
Dalam teori, analisis mengenai suku bunga selalu menganggap bahwa dalam perekonomian terdapat hanya satu suku bunga, namun kenyataannya keadaanya jauh berbeda karena terdapat beberapa suku bunga dalam perekonomian.
Menurut Sadono Sukirno (2005:382), hal tersebut karena disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Perbedaan resiko
Bank memberikan suku bunga yang berbeda dalam memberikan pinjaman. Bagi usaha yang telah lama berkembang atau usaha yang tidak mengandung banyak resiko, maka bank bersedia mengenakan suku bunga rendah, sedangkan untuk usaha yang beresiko tinggi, bank juga akan mengenakan suku bunga pinjaman yang tinggi pula.
2. Jangka waktu pinjaman
Semakin lama sejumlah modal dipinjamkan, semakin besar tingkat bunga yang harus dibayar. Salah satu sebabnya karena resiko yang
21 ditanggung peminjam akan semakin besar dengan jangka waktu yang relatif panjang. Disisi lain disebabkan karena pemilik modal kehilangan kebebasan untuk menggunakan modalnya dalam jangka waktu yang lebih lama. Di samping itu, para peminjam bersedia membayar tingkat bunga yang lebih tinggi karena mereka mempunyai waktu yang lebih panjang untuk mengembalikan pinjamannya.
3. Biaya administrasi pinjaman
Jumlah dana yang dipinjam sangat berbeda, sedangkan biaya administrasi untuk memproses pinjaman tersebut tidak banyak berbeda. Dengan demikian, berdasarkan pada pertimbangan biaya administrasi pinjaman, pinjaman yang lebih sedikit jumlahnya akan membayar tingkat bunga yang lebih tinggi.
2. Sertifikat Bank Indonesia
Menurut Surat Keputusan Direksi BI No. 31/67/KEP/DER tanggal 23 Juli 1998 tentang Penerbitan dan Perdagangan Sertifikat Bank Indonesia serta Intervemsi Rupiah, pengertian Sertifikat Bank Indonesia atau SBI adalah surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dengan sistem diskonto.
Sebagai salah satu piranti moneter, perdagangan SBI baik di pasar primer maupun di pasar sekunder, selain ditujukan untuk mengatur jumlah uang primer yang beredar di masyarakat, juga ditujukan untuk mengatur tingkat suku bunga. Peraturan jumlah uang primer dan suku bunga
22 merupakan sasaran dari kebijakan moneter. Sasaran utamanya adalah upaya untuk menekan laju inflasi. Tujuan diterbitkannya SBI, antara lain:
a. Mempengaruhi reserve money bank.
b. Menarik minat bank-bank agar mereka dapat menanamkan kelebihan cadangannya.
c. Menyediakan instrument pasar uang dalam denominasi rupiah yang menghasilkan bunga, likuid dan bebas resiko (yang dapat digunakan sebagai pengatur posisi cadangan bank).
d. Memperbesar likuiditas bank dalam perdagangan SBI di pasar sekunder, selain itu, juga ditujukan untuk mempengaruhi suku bunga pasar.