• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Sumber Daya Industri 1. Sumber Daya Manusia

2. Sumber Daya Alam Bahan Baku Industri

Industri berbasis sumber daya alam dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya alam potensial di Kabupaten Paser sebagai bahan baku industri. Pondasi perekonomian yang berbasis potensi lokal adalah salah satu misi penting dalam perencanaan pembangunan Kabupaten Paser. Misi ini tidak hanya berhubungan dengan tingginya pertumbuhan ekonomi, namun juga berhubungan dengan isu pemerataan, keberlanjutan, mitigasi bencana dan responsif gender. Penerapan konsep pemerataan menjadi penting, karena persoalan disparitas di Kabupaten Paser masih besar. Sedangkan penerapan konsep tentang keberlanjutan, mitigasi bencana dan responsif gender menjadi penting untuk dijalankan, agar pembangunan perekonomian di Kabupaten Paser menjadi semakin baik di masa depan.

Secara garis besar konsep-konsep tersebut diletakkan ke dalam tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan perekonomian Kabupaten Paser, yang di topang oleh pertanian, sektor perkebunan, peternakan, perikanan, pariwisata, perdagangan dan pengelolaan lahan pasca tambang.

Berikut adalah luas lahan pertanian untuk area sawah dan non sawah di Kabupatan Paser (dalam hektar) di tahun 2016.

Tabel 2.7. Luas Penggunaan Lahan

Kecamatan Sawah Pertanian Bukan Sawah Bukan Pertanian Total Luas Lahan

1. Batu Sopang 0 107.027 4.111 111.138

2. Muara Samu 25 82.695 2.805 85.525

3. Batu Engau 0 145.814 4.832 150.646

4. Tanjung Harapan 300 68.722 2.383 71.405

5. Pasir Belengkong 3.585 85.381 10.045 99.011

6. Tanah Grogot 1.456 22.998 9.104 33.558

7. Kuaro 250 68.380 6.100 74.730

8. Long Ikis 3.251 113.591 3.580 120.422

9. Muara Komam 0 174.500 840 175.340

10. Long Kali 2.439 221.693 14.407 238.539

PASER 11.306 1.090.801 58.207 1.160.314

Sumber: BPS Kabupaten Paser Dalam Angka Tahun 2017

Pada aktivitas pertanian selain sawah, masyarakat umumnya menanam tanaman holtikultura dimana produksi terbesar adalah pada tanaman pisang, rambutan, dan semangka.

Gambar 2.5. Pohon Industri Padi PADI

- Beras Pecah Kulit - Beras giling - Beras nutrisi tinggi - Beras Berlembaga

Untuk aktivitas perkebunan, kelapa sawit memiliki luas areal penggunaan lahan dan hasil produksi paling banyak diikuti oleh karet dan kelapa.

Gambar 2.6. Pohon Industri Kelapa Sawit

Permasalahan yang perlu dicermati dalam upaya industrialisasi kelapa sawit adalah tata niaga yang berlangsung saat ini. Kepemilikan lahan sawit secara perorangan dan secara

kelompok usaha memerlukan upaya pengaturan distribusi dan pengelolaan yang dapat mensejahterakan masyarakat di Kabupaten Paser.

Gambar 2.7. Pohon Industri Karet

Kelapa Gambar 2.8. Pohon Industri Kelapa

Tabel 2.8. Luas areal penggunaan lahan perkebunan

Kecamatan Karet Kelapa Kelapa Sawit Kopi Lada Kakao Lainnya

Batu Sopang 1.174,00 67,00 3.627,00 58,00 - 1,00 10,00 Sumber: BPS Kabupaten Paser Dalam Angka Tahun 2017

Bawang merah disebut sebagai komoditas unggulan Kabupaten yang direncanakan ke depan yang diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar nasional.

Gambar 2.9. Pohon Industri Bawang Merah

Pada sektor peternakan, sapi potong memberikan hasil tertinggi dibanding hewan ternak lainnya. Secara umum, jumlah ternak di Kabupaten Paser mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Tabel 2.9. Populasi Ternak Menurut Kecamatan dan Jenis Ternak di Kabupaten Paser

Kecamatan Sapi Perah Sapi Potong Kerbau Kuda Kambing Domba Babi

Batu Sopang 0 641 0 0 379 0 0

Muara Samu 0 423 0 0 211 14 0

Batu Engau 0 1.146 68 0 796 0 0

Tanjung Harapan 0 54 0 0 0 0 0

Pasir Belengkong 0 2.940 0 0 1.243 0 0

Tanah Grogot 0 951 9 0 1.183 16 0

Kuaro 0 3.362 45 0 759 35 1.324

Long Ikis 0 9.428 365 0 2.188 0 1.894

Muara Komam 0 786 72 0 179 0 0

Long Kali 0 1.423 197 0 786 0 0

PASER 0 21.154 756 0 7.724 65 3.218

Daun

Pakan Ternak

Sayur Kering Bibit Bawang

Irisan Kering Acar Tepung Bawang Umbi

Pasta Umbi Konsumsi

Pupuk

Irisan Basah

Kulit

Bahan Bakar

Bumbu Instan Ekstrak Bawang Goreng

Oleorisin

(obat-Sapi potong memiliki potensi dan peluang yang cukup besar untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena permintaan produk sapi potong terhadap peningkatan pendapatan bersifat sangat elastis. Penerapan teknologi beberapa jenis pengolahan hasil ternak relatif sederhana dan mudah dikuasai oleh masyarakat sehingga cukup strategis dalam pengembangan agroindustri pengolahan hasil ternak di pedesaan (skala rumah tangga), Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun skala usaha yang besar (perusahaan).

Kebutuhan kulit dunia cukup tinggi, hal ini merupakan peluang dan prospek yang cukup besar bagi pengembangan industri penyamakan kulit (baik kulit sapi maupun domba dan kambing). Dari komoditas sapi, bagian jeroan berupa hati memiliki prospek untuk dikembangkan mengingat hati sapi mengandung kolin yang tinggi. Kolin dimanfaatkan untuk pengkayaan (enrichment) produk antara lain untuk formula susu anak-anak yang berfungsi untuk memberi nutrisi otak dalam rangka meningkatkan fungsi kecerdasan. Selain itu kandungan kalsium dalam tulang sapi sampai saat ini banyak dimanfaatkan sebagai sumber kalsium dalam pakan ternak dan sebagai suplemen dalam pangan manusia.

Gambar 2.10. Pohon Industri Sapi Potong

Jumlah produksi sektor perikanan di Kabupaten Paser seperti terlihat pada tabel 9 terlihat bahwa perikanan tangkap di laut, tambak, dan rumput laut memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan lebih lanjut, dengan persebaran tidak merata mengikuti wilayah geografis perairan setiap Kecamatan.

SAPI POTONG

Daging Segar

Limbah Kulit Segar

Tulang Jeroan (hati)

Kulit Afkir

Produk daging olahan dalam kemasan Pangan sehari-hari

Kulit Samak Produk Fashion, Furniture

Kolin

Gelatin

Kalsium

Pakan

Krupuk

Kulit Samak

Produk Suplement

Lem

Produk Suplemen

Kerajinan tangan, produk fashion

Tabel 2.10. Produksi Perikanan menurut jenis Produksi

Jenis Produksi 2012 2013 2014 2015 2016

Perikanan Tangkap di Laut 10.073,70 10.123,00 10.223,10 10.451,80 10.684,90

Perikanan Tangkap di Umum 210,50 180,50 114,10 111,60 112,30

Tambak 9.472,70 9.463,70 10.429,50 11.176,80 12.357,00

Kolam 37,30 36,10 43,90 63,90 67,10

Keramba 10,00 6,50 7,10 6,40 6,10

Rumput Laut 9.014,50 412,90 945,70 1.039,90 1.096,20

Sumber: BPS Kabupaten Paser Dalam Angka Tahun 2017

Ikan

Daging

Hati

Sirip

Kepala

Kulit

Tulang

Surimi

Pakan Ternak/ Ikan

Kerupuk Ikan Tepung Ikan

Kerupuk Kulit

Emulsifier Farmasi Gelatin

Ikan Kaleng

Nugget

Bakso

Otak-otak

Sosis

Minyak Ikan

Makanan dari Sirip Ikan Ikan Beku

Gambar 2.11. Pohon Industri Ikan

Gambar 2.12. Pohon Industri Rumput Laut

Selain potensi pengembangan hasil produksi perikanan, wilayah perairan Kabupaten Paser memiliki potensi pengembangan industri pariwisata. Pulau Balabalagan yang Rumput Laut Karaginan

Agar-agar

Alginat

Printing tekstil Pakan ternak ikan

Pasta gigi

Cat Farmasi Shampo

Kertas Pengeboran

Sabun

Bahan gigi buatan

Keramik

Susu coklat

Selai Es krim

Roti Minuman

FARMASI GRADE

INDUSTRIAL GRADE

FOOD GRADE

yang eksotis dengan keindahan pantai dan terumbu karang.

Gugusan kepulauan ini masih menjadi “sengketa” antara Provinsi Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat (dulunya Sulawesi Selatan-sebelum dimekarkan) Kepulauan Balabalagan merupakan sebuah gugusan pulau yang terletak di Selat Makasar. Kepulauan ini masuk dalam Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, walaupun sebenarnya jaraknya lebih dekat ke Kalimantan Timur. Terdapat kendala infrastruktur untuk mencapai kepulauan ini. Karena jaraknya dari Kabupaten Paser sejauh 7-8 jam menggunakan perahu bermotor. Sedangkan jika dari Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) sejauh 8-10 jam.

Pengembangan industri pariwisata dapat menarik perkembangan industri lainnya yang pada akhirnya meningkatkan perekonomian masyarakat dan menambah pemasukan daerah.

Pemanfaatan karst di wilayah Muara Samu juga dapat dikembangkan menjadi sebuah industri semen. Namun perlu adanya kajian mendalam mengenai dampak lingkungan yang kelak ditimbulkan terkait eksploitasi wilayah karst terutama untuk keberlangsungan ekosistem dan ketersediaan air di wilayah sekitar.

Berdasarkan kondisi geografis dan bentang alam Kabupaten Paser, terdapat potensi komoditas sarang burung walet yang dapat dikembangkan menjadi salah satu komoditas unggulan daerah. Produksi sarang walet RI banyak diserap oleh China.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai ekspor Indonesia pada Januari 2017 melonjak 27,71% dibanding periode sama tahnn lalu menjadi USD13,38 miliar. Hal ini salah satunya ditopang harga komoditas yang mulai membaik di pasar global. Potensi komoditas ini selain dapat dikembangkan menjadi suatu industri sarang

burung walet juga dapat menambah Pendapatan Daerah Kabupaten Paser melalui penarikan retribusi pajak.

Persyaratan lingkungan lokasi kandang burung walet adalah:

a. Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.

b. Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat

c. Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging

d. Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.

Berdasarkan kondisi saat ini, terdapat sejumlah bangunan sarang walet yang tersebar di wilayah Kabupaten Paser.

Tabel 2.11. Data Kepemilikan Sarang Burung Walet

No. Wilayah Luas Bangunan

Sarang Walet

1. Kuaro 2.315,8 m2

2. Tanah Grogot 1.694,0 m2

3. Muara Samu 1.661,2 m2

4. Pasir Belengkong 324,0 m2

5. Batu Engau 1.956,0 m6

6. Muara Komam 1.325,0 m2

7. Tanjung Harapan 1.300,0 m2

8. Long Ikis 584,0 m2

Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Paser 2017