GAMBAR 5.1 JUMLAH PUSKESMAS
TAHUN 20032007
GAMBAR 5.2
RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 20032007
Sumber : Ditjen Binkesmas, Depkes RI GAMBAR 5.3
RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2007
Sumber : Ditjen Binkesmas, Depkes RI
Bila melihat wilayah kerja puskesmas, rasio puskesmas pada tahun 20032007 sudah memenuhi konsep wilayah kerja puskesmas, yaitu ratarata satu unit puskesmas melayani 30.000 penduduk, yang berarti secara nasional puskesmas diharapkan sudah dapat menjangkau penduduk sasaran di wilayah kerjanya.
Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di puskesmas, beberapa puskesmas telah ditingkatkan menjadi puskesmas perawatan. Jumlah puskesmas pada tahun 2007 sebanyak 8.234 unit dan 2.683 unit di antaranya merupakan puskesmas perawatan.
Pada tahun 2003 – 2007 perkembangan jumlah puskesmas perawatan cenderung bertambah, pertambahan yang paling besar terjadi pada tahun 2006 yaitu bertambah 20.22%, kemudian pada tahun 2007 bertambah 7,45%. Perkembangan jumlah puskesmas dan puskesmas perawatan pada tahun 2003 – 2007 disajikan pada Gambar 5.6 berikut ini, sedangkan jumlah puskesmas menurut provinsi disajikan pada Lampiran 5.3.
GAMBAR 5.6
JUMLAH PUSKESMAS DAN PUSKESMAS PERAWATAN TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Ditjen Binkesmas dan Pusdatin, Depkes RI
Sementara itu, jumlah puskesmas keliling kendaraan bermotor roda empat (R4/mobil) pada tahun 20032007 terjadi peningkatan dari tahun ke tahun, peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 14,6%.
Jumlah puskesmas keliling roda empat pada tahun 2007 sebesar 6.631 unit dan puskesmas keliling perahu bermotor berjumlah 838 unit. Rasio puskesmas keliling terhadap puskesmas pada tahun 20032007 berkisar antara 0,8 – 0,9. Jumlah puskesmas keliling dan rasionya terhadap puskesmas pada tahun 2003 – 2007 disajikan pada Gambar 5.7 berikut ini. Sedangkan jumlah dan rasionya menurut provinsi disajikan pada Lampiran 5.4.
GAMBAR 5.7
JUMLAH PUSKESMAS KELILING DAN RASIONYA TERHADAP PUSKESMAS
TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI
Sarana transportasi puskesmas lainnya adalah ambulans dan sepeda motor.
Pada tahun 2007 jumlah ambulans di puskesmas sebanyak 2.465 unit. Jumlah ambulans di puskesmas yang terbanyak tercatat di Provinsi Jawa Tengah (672 ambulans) dan yang paling sedikit di Provinsi Sulawesi Tengah (1 ambulans).
Untuk sepeda motor pada tahun 2007 tercatat sebanyak 32.369 unit, ini berarti setiap puskesmas ratarata mempunyai 34 sepeda motor.
2. Rumah Sakit
Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana rumah sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan menghitung jumlah rumah sakit dan tempat tidurnya serta rasionya terhadap jumlah penduduk.
Pada tahun 2007 jumlah rumah sakit di seluruh Indonesia sebanyak 1.319 unit.
Rumah sakit yang dikelola pemerintah yang terdiri atas rumah sakit milik Departemen Kesehatan, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, TNI/POLRI, dan departemen lain/BUMN sebanyak 667 unit (50,57%) dan yang dikelola swasta sebanyak 652 unit (49,43%)
Pada tahun 2003 – 2007, perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia terus meningkat dengan peningkatan sebesar 6,89%. Perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia tahun 2003 – 2007 disajikan pada Tabel 5.1 di bawah ini, sedangkan jumlahnya menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.5.
TABEL 5.1
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS) DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI
Jumlah rumah sakit umum di Indonesia tahun 2007 sebanyak 1.033 unit yang terdiri atas rumah sakit umum milik pemerintah sebanyak 582 unit (56,34%) dan rumah sakit umum swasta sebanyak 451 unit (43,66%).
Pada periode tahun 2003 – 2007 jumlah rumah sakit umum (pemerintah dan swasta) terus meningkat sesuai dengan meningkatnya kebutuhan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Bila dilihat berdasarkan kepemilikannya, jumlah rumah sakit umum milik pemerintah bertambah 8,98% dengan kenaikan yang paling besar pada tahun 2005 (bertambah 3,14%), sedangkan jumlah rumah sakit umum milik swasta naik sebesar 4,39% dengan kenaikan yang paling besar pada tahun 2007 (bertambah 2,28%). Jumlah rumah sakit umum di Indonesia tahun 2007 menurut provinsi dan pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5.6.
No. Pengelola/Kepemilikan 2003 2004 2005 2006 2007
1 Departemen Kesehatan 31 31 31 31 31
2 Pemerintah Provinsi/
Kab/Kota
396 404 421 433 446
4 TNI/POLRI 112 112 112 112 112
5 BUMN/Departemen Lain 78 78 78 78 78
6 Swasta 617 621 626 638 652
Jumlah 1.234 1.246 1.268 1.292 1.319
GAMBAR 5.8
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI
Pada tahun 2007, jumlah rumah sakit umum milik Depkes dan Pemda yang tergolong kelas A sebanyak 8 rumah sakit (1,99%) yang tersebar di 8 provinsi yaitu Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Selatan. Rumah sakit kelas B sebanyak 79 rumah sakit (19,70%), kelas C sebanyak 246 rumah sakit (61,35%), dan kelas D sebanyak 68 rumah sakit (16,96%).
Rincian dapat dilihat pada Lampiran 5.7
Jumlah rumah sakit khusus (pemerintah dan swasta) pada periode tahun 2003
2007 juga meningkat yang dapat dilihat pada Gambar 5.9. Bila dilihat berdasarkan kepemilikan, jumlah rumah sakit khusus milik pemerintah pada tahun 20032006 tetap yaitu sebanyak 83 rumah sakit. Pada tahun 2007 terdapat penambahan sebanyak 2 rumah sakit khusus sehingga menjadi 85 rumah sakit. Sedangkan jumlah rumah sakit khusus milik swasta pada periode yang sama bertambah 6,71% (dengan pertambahan yang paling besar pada tahun 2006). Jumlah rumah sakit khusus di Indonesia tahun 2007 menurut provinsi dan pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5.5.
GAMBAR 5.9
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI
Selain jumlah rumah sakit, untuk menggambarkan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan perlu pula disajikan data jumlah tempat tidur rumah sakit. Pada tahun 2003
2007 ada kenaikan jumlah tempat tidur rumah sakit (umum dan khusus) yang dapat
dilihat pada Gambar 5.10 di bawah ini. Rincian jumlah tempat tidur rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dapat dilihat pada Lampiran 5.8 dan Lampiran 5.9.
GAMBAR 5.10
PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT TAHUN 20032007
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI
Untuk menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan berikut ini disajikan rasio tempat tidur rumah sakit per 100.000 penduduk yang dihitung berdasarkan jumlah keseluruhan tempat tidur, baik rumah sakit umum maupun rumah sakit khusus. Pada tahun 2003 – 2007, rasio tempat tidur rumah sakit per 100.000 penduduk berkisar antara 61 – 62 per 100.000 penduduk. Jumlah tempat tidur rumah sakit dan rasionya per 100.000 penduduk pada tahun 2003 – 2007 disajikan pada Gambar 5.11 di bawah ini.
GAMBAR 5.11
JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN RASIONYA PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Depkes RI
3. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Salah satu indikator penting untuk menggambarkan ketersediaan sarana kesehatan adalah jumlah sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan. Jumlah sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Jumlah sarana produksi sediaan farmasi dan alat kesehatan menurut jenis tahun 20022006 disajikan pada Gambar 5.12 di bawah ini, sedangkan rincian menurut provinsi pada tahun 2002 – 2006 dapat dilihat pada Lampiran 5.10.
GAMBAR 5.12
JUMLAH SARANA PRODUKSI SEDIAAN FARMASI DAN ALAT KESEHATAN MENURUT JENIS
TAHUN 20022006
Sumber: Ditjen POM dan Ditjen YanfarAlkes, Depkes RI
Jumlah sarana distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan menurut jenis dari tahun 2002 – 2006 disajikan pada Gambar 5.13 di bawah ini, sedangkan jumlah menurut provinsi pada tahun 2002 – 2006 dapat dilihat pada Lampiran 5.11.
GAMBAR 5.13
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI SEDIAAN FARMASI DAN ALAT KESEHATAN MENURUT JENIS TAHUN 2002 2006
Sumber: Ditjen POM dan Ditjen YanfarAlkes, Depkes RI
4. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada, termasuk yang ada di masyarakat. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) di antaranya adalah Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), Polindes (Pondok Bersalin Desa), Toga (Tanaman Obat Keluarga), POD (Pos Obat Desa), dan sebagainya.
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal di masyarakat.
Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi, dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya, Posyandu dikelompokan ke dalam 4 strata, yaitu Posyandu Pratama, Posyandu Madya, Posyandu Purnama, dan Posyandu Mandiri. Pada tahun 2006 jumlah Posyandu sebanyak 269.202 buah. Jumlah Posyandu ini menurun dari tahun sebelumnya, seperti terlihat pada Gambar 5.15 berikut ini.
GAMBAR 5.15
JUMLAH POSYANDU DI INDONESIA TAHUN 20022006
Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI
Rasio Posyandu terhadap desa/kelurahan adalah 3,85 atau ratarata pada tiap desa/kelurahan terdapat 4 Posyandu. Rasio Posyandu terhadap desa/kelurahan terbesar berada di Provinsi Sulawesi Barat (15,84), DKI Jakarta (14,55) dan Jawa Barat (7,47).
Sedangkan rasio terkecil di Provinsi NAD (0,93), Maluku (1,31) dan Papua (1,34). Jumlah dan rasio posyandu menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.12.
Polindes merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam rangka mendekatkan pelayanan kebidanan, melalui penyediaan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk Keluarga Berencana. Polindes ini juga dikelompokkan ke dalam 4 strata atau tingkat perkembangannya yaitu Polindes Pratama, Polindes Madya, Polindes Purnama, dan Polindes Mandiri. Pada tahun 2006, jumlah Polindes sebanyak 25.754 buah. Rasio Polindes terhadap desa/kelurahan adalah 0,37.
Rasio Polindes terhadap desa/kelurahan terbesar adalah di Provinsi Kepulauan Riau (0,91), DKI Jakarta (0,75) dan Gorontalo (0,63). Sedangkan rasio terkecil di Provinsi Jambi (0,06), Banten (0,10) dan Sumatera Utara (0,12).
Pos Obat Desa (POD) dikelompokkan ke dalam 4 strata atau tingkat perkembangannya yaitu POD Pratama, POD Madya, POD Purnama, dan POD Mandiri.
Pada tahun 2006, jumlah POD dilaporkan sebanyak 9.598 buah. Rasio POD terhadap desa/kelurahan adalah 0,14. Rasio POD terhadap desa/kelurahan terbesar berada di Provinsi Sumatera Barat (0,42), Nusa Tenggara Barat (0,28) dan Kalimantan Selatan
(0,27). Sedangkan rasio terkecil berada di Provinsi Jawa Timur (0,02), Kepulauan Riau (0,03) dan Kalimantan Tengah (0,03). Rincian jumlah UKBM menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.12.
5. Pos Kesehatan Desa ( Poskesdes)
Salah satu kriteria desa siaga adalah memiliki minimal satu Poskesdes. Tenaga Poskesdes minimal 1 (satu) orang bidan dan 2 (dua) orang kader. Pada tahun 2006 jumlah Poskesdes dilaporkan sebanyak 27.322 unit. Juka dibandingkan dengan jumlah desa/kelurahan yang ada, maka rasio Poskesdes terhadap desa/kelurahan adalah sebesar 0,39. Rincian jumlah Poskesdes menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.1.
6. Desa Siaga
Desa siaga merupakan salah satu pendukung untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. Jumlah desa siaga pada tahun 2006 sebanyak 12.300 desa seperti terlihat pada Tabel 5.2. Sedangkan target Departemen Kesehatan untuk tahun 2006 sebanyak 12.000 desa siaga. Ini berarti target Departemen Kesehatan untuk tahun 2006 sudah tercapai.
TABEL 5.2 JUMLAH DESA SIAGA
TAHUN 2006
No Provinsi Jumlah Desa Siaga
1 Nanggroe Aceh Darrusalam 250
2 Sumatera Utara 500
3 Lampung 200
4 Sumatera Barat 200
5 Bengkulu 150
6 Jawa Barat 1.000
7 Jawa Tengah 4.300
8 Jawa Timur 5.000
9 Kalimantan Barat 150
10 Kalimantan Tengah 150
11 Sulawesi Tengah 100
12 Sulawesi Selatan 300
Jumlah Keseluruhan 12.300
Sumber: Ditjen Binkesmas, Depkes RI
7. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan
Pendidikan tenaga kesehatan dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan tenaga kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta melalui berbagai institusi pendidikan dan jenjang pendidikan. Dari seluruh institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) yang ada, hanya sebagian yang menjadi
tanggung jawab Departemen Kesehatan dalam koordinasi dan pembinaannya, yang dikelompokkan ke dalam institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) dan institusi Diknakes Non Poltekkes.
Perkembangan jumlah institusi Diknakes di provinsi saat ini semakin bertambah, baik jumlah maupun jenis/jurusan/program studinya. Sampai dengan Desember 2007 jumlah institusi Diknakes baik Poltekkes maupun Non Poltekkes sebanyak 954 institusi yang terdiri dari Poltekkes sebanyak 208 jurusan/program dan Non Poltekkes sebanyak 746 institusi.
Dari 208 jurusan Poltekkes yang diselenggarakan, proporsi jurusan Keperawatan sebesar 64,4%, Gizi 12%, Kesehatan Masyarakat 9,6%, Keteknisian Medis 8,7%, Kefarmasian 3,4%, dan Keterapian Fisik sebesar 1,9% seperti yang terlihat pada Gambar 5.16 di bawah ini.
GAMBAR 5.16
PERKEMBANGAN JUMLAH DAN JENIS POLTAKES DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2007
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Sementara itu, jumlah institusi di luar Poltekkes pada tahun yang sama sebanyak 746 institusi, dengan proporsi terbesar untuk jurusan Keperawatan (74,3%), sedangkan selebihnya adalah jurusan Kefarmasian (10,6%), Keteknisian Medis (9,9%), Kesehatan Masyarakat (1,7%), Keterapian Fisik (2,3%), dan Gizi (1,2%), yang dapat dilihat pada Gambar 5.17 di bawah ini.
GAMBAR 5.17
PERKEMBANGAN JUMLAH DAN JENIS NON POLTAKES DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2007
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Untuk melihat perubahanperubahan yang terjadi dalam Poltekkes, mulai tahun 2004 Pusdiknakes sudah melakukan akreditasi. Sampai dengan Desember 2007, 184 (88,46%) jurusan Poltekkes telah diakreditas (Lampiran 5.17). Dari akreditas yang sudah dilakukan, 78 jurusan (42,39%) termasuk dalam strata “A”, 99 jurusan (53,80%) termasuk dalam strata “B”, dan 7 jurusan (3,80%) termasuk dalam strata “C”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5.18 di bawah ini.
GAMBAR 5.18
PERKEMBANGAN STRATA AKREDITAS JURUSAN POLTEKKES TAHUN 20042007
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Sedangkan untuk institusi non Poltekkes, sebanyak 478 institusi (64,08%) sudah diakreditasi. Dari institusi yang sudah diakreditasi tersebut, sebanyak 60 institusi (12,55%) termasuk dalam strata “A”, 373 institusi (78,03%) termasuk dalam strata “B”, 44 institusi (9,21%) termasuk dalam strata “C”, dan 1 institusi (0,21%) termasuk dalam
”Non Akreditas”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5.19 di bawah ini.
GAMBAR 5.19
PERKEMBANGAN STRATA AKREDITAS INSTITUSI NON POLTEKKES TAHUN 20042007
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Bila dilihat menurut kepemilikannya, jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2007 sebanyak 83,11% adalah milik swasta, sedangkan selebihnya adalah milik Pemerintah Daerah (13%), dan TNI/POLRI (3,89%). Jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes menurut jenis jurusan atau program studi dan status kepemilikan pada tahun 2007 dapat dilihat pada Lampiran 5.18, Lampiran 5.19, dan Lampiran 5.20.
B. TENAGA KESEHATAN
1. Perencanaan Tenaga Kesehatan
Berdasarkan Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 20052009, ratio tenaga kesehatan per 100.000 penduduk berdasarkan kategori pada tahun 2010 diharapkan mencapai angka/target sebagai berikut:
TABEL 5.3
RATIO TENAGA KESEHATAN PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2010
No Jenis Tenaga Rasio per 100.000 penduduk
1 Dokter Spesialis 9
2 Dokter Umum 30
3 Dokter Gigi 11
4 Perawat 158
5 Bidan 75
6 Perawat Gigi 16
7 Apoteker 9
8 Asisten Apoteker 18
9 Sarjana Kesmas 8
10 Sanitarian 10
11 Gizi 18
12 Keterapian Fisik 4
13 Keteknisan Medis 6
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Berdasarkan rasio tenaga kesehatan di atas, dengan menggunakan data proyeksi penduduk pada tahun 2010, maka sampai tahun 2010 jumlah kebutuhan tenaga kesehatan dapat dilihat pada Gambar 5.20 di bawah ini.
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan 2. Persebaran SDM Kesehatan
Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan Depkes RI membuat prediksi jumlah dan rasio tenaga kesehatan tahun 2006 berdasarkan tenaga kesehatan tahun 2003 ditambahkan dengan lulusan per tahunnya. Prediksi jumlah dan rasio tenaga kesehatan tahun 2006 seperti terlihat pada Tabel 5.4 di bawah ini.
TABEL 5.4.
JUMLAH TENAGA KESEHATAN DAN RASIO TENAGA KESEHATAN PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2006
No Jenis Tenaga Jumlah Tenaga Rasio per 100000 penduduk
1 Dokter Spesialis 12.374 5,53
2 Dokter Umum 44.564 19,93
3 Dokter Gigi 11.289 5,05
4 Perawat 308.306 137,87
5 Bidan 79.152 35,4
6 Perawat Gigi 8.230 3,68
7 Apoteker 10.207 4,56
8 Asisten Apoteker 39.106 17,49
9 Sarjana Kesmas 9.739 4,36
10 Sanitarian 18.094 8,09
11 Gizi 15.342 6,86
12 Keterapian Fisik 5.290 2,37
13 Keteknisan Medis 10.318 4,61
Sumber : Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM GAMBAR 5.20
KEBUTUHAN TENAGA KESEHATAN TAHUN 2010 UNTUK MENCAPAI INDONESIA SEHAT 2010
MENURUT JENIS TENAGA
a. SDM Kesehatan di Rumah Sakit
Berdasarkan laporan Ditjen Bina Pelayanan Medik, jumlah sumber daya manusia (yang bekerja di rumah sakit pada tahun 2007 sebanyak 257.555 orang, yang terdiri atas 168.126 orang (65,28%) tenaga kesehatan dan 89.429 orang (34,72%) tenaga non kesehatan.
Provinsi dengan jumlah tenaga kesehatan di rumah sakit terbanyak adalah Provinsi DKI Jakarta (27.718 orang), diikuti Jawa Tengah (22.885 orang), dan Jawa Timur (20.563 orang). Sedangkan provinsi dengan jumlah tenaga kesehatan di rumah sakit yang terendah adalah Provinsi Gorontalo (258 orang) dan Maluku Utara (462 orang). Berdasarkan profesinya, dari 168.126 orang tenaga kesehatan yang ada, terbanyak adalah tenaga keperawatan 109.210 orang (64,95%) dan tenaga medis 26.790 orang (15,93%). Rincian jumlah SDM yang bekerja di rumah sakit per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.21.
b. SDM Kesehatan di Puskesmas
Jumlah sumber daya manusia yang bertugas di Puskesmas pada tahun 2007 tercatat sebanyak 184.445 orang, yang terdiri atas 155.816 orang (84,48%) tenaga kesehatan dan 28.629 orang (15,52%) tenaga non kesehatan.
Jumlah dokter umum yang bekerja di Puskesmas sebanyak 11.701 orang.
Dibandingkan dengan jumlah Puskesmas yang sebanyak 8.234 unit, maka ratarata tiap Puskesmas dilayani oleh 1,4 orang dokter umum. Jumlah dokter gigi yang bekerja di Puskesmas sebanyak 5.246 orang, yang berarti belum semua Puskesmas memiliki tenaga dokter gigi. Beberapa puskesmas telah memiliki tenaga dokter spesialis. Jumlah dokter spesialis yang bekerja di puskesmas pada tahun 2007 tercatat sebanyak 109 orang, 63 orang di antaranya bekerja di Provinsi DKI Jakarta.
Jumlah perawat tercatat sebanyak 56.727 orang sehingga setiap Puskesmas ratarata memiliki 7 orang tenaga perawat. Jumlah bidan sebanyak 56.408 orang sehingga setiap Puskesmas ratarata memiliki 7 orang tenaga bidan. Data selengkapnya dapat dilihat dalam Lampiran 5.22.
3. SDM Kesehatan Status Pegawai Tidak Tetap
Departemen Kesehatan memiliki 3 jenis tenaga kesehatan sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) yaitu dokter umum, dokter gigi, dan bidan. Sampai dengan Desember 2007, tenaga kesehatan PTT yang masih aktif di lapangan tercatat sebanyak 41.658 orang, yang terdiri atas 5.887 orang dokter umum, 1.826 orang dokter gigi, dan 33.945 orang bidan.
Dokter umum PTT terbanyak bertugas di Provinsi Jawa Tengah (648 orang), Sumatera Utara (445 orang), dan Nanggroe Aceh Darussalam (322 orang). Untuk tenaga dokter gigi PTT, provinsi dengan jumlah tenaga terbanyak adalah Provinsi Jawa Timur (198 orang), Jawa Tengah (154 orang), dan Sulawesi Selatan (126 orang). Bidan PTT terbanyak bertugas di Provinsi Jawa Tengah (4.817 orang), Sumatera Utara (4.738 orang), dan Jawa Timur (4.327 orang). Provinsi DKI Jakarta dilaporkan tidak mempunyai
tenaga kesehatan yang berstatus PTT. Rincian tenaga kesehatan sebagai PTT menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.23.
4. Peserta Didik pada Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan
Jumlah peserta didik pada institusi pendidikan tenaga kesehatan dikelompokkan menjadi peserta didik Poltekkes & Non Poltekkes dan peserta didik program khusus.
a. Peserta Didik Poltekkes dan Non Poltekkes
Pada tahun ajaran 2007/2008 jumlah peserta didik sebanyak 201.231 orang terdiri atas peserta didik Poltekkes sebanyak 38.820 orang (19,29%) dan peserta didik non Poltekkes sebanyak 162.411 orang (80,71%).
Proporsi peserta didik di Poltekkes yang tertinggi adalah jenis profesi Keperawatan (63,30%) dan Gizi (11,19%). Demikian juga untuk peserta didik Non Poltekkes yang terbanyak adalah untuk jenis profesi Keperawatan (72,29%). Rincian jumlah peserta didik poltekkes dan non poltekkes menurut jenis profesi dapat dilihat pada Lampiran 5.26 dan Lampiran 5.27.
Bila dilihat periode 2003/2004 – 2007/2008 jumlah peserta didik pada semua institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) cenderung meningkat, yang dapat dilihat pada Gambar 5.24.
GAMBAR 5.24
JUMLAH PESERTA DIDIK PADA INSTITUSI DIKNAKES TAHUN 2003/20042007/2008
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan b. Peserta Didik Program Khusus
Selain peserta didik yang berasal dari jalur umum terdapat peserta didik program khusus (Progsus) yang diselenggarakan oleh institusi Poltekkes dan institusi non Poltekkes dengan persyaratan institusi/program studi yang telah memenuhi kriteria akreditas strata B dengan nilai minimal 80. Jumlah peserta didik Progsus pada tahun 2007 berjumlah 8.242 peserta didik, dengan jumlah terbanyak untuk jenis pendidikan Keperawatan sebesar 4.029 peserta (48,88%) dan Kebidanan sebesar 3.402 peserta
(41,27%). Perkembangan peserta didik progsus tahun 20042007 dapat dilihat pada Tabel 5.6. Rincian peserta didik program khusus menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.28.
TABEL 5.6
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PROGRAM KHUSUS BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN
TAHUN 20042007
TAHUN NO JENIS PENDIDIKAN
2004 2005 2006 2007
1 Keperawatan 4.209 4.333 3.504 4.029
2 Kebidanan 2.095 2.252 3.122 3.402
3 Gizi 160 165 85 103
4 Kesehatan Gigi 99 125 191 345
5 Analisis Kesehatan 116 341 147 255
6 Kesehatan Lingkungan 16 53 54 28
7 Farmasi 0 40 165 80
Total 6.695 7.309 7.268 8.242
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan 5. Lulusan
Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes pada tahun 2007 sebanyak 54.346 lulusan dengan jumlah terbanyak untuk jenis tenaga kesehatan Keperawatan, yaitu sebanyak 40.884 (75,2%). Jumlah lulusan poltekkes dan non poltekkes menurut jenis dapat dilihat dari Tabel 5.7 di bawah ini.
TABEL 5.7
PERKEMBANGAN JUMLAH LULUSAN POLTEKKES DAN NON POLTEKKES BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN
TAHUN 2004 – 2007
JUMLAH LULUSAN No JENIS TENAGA
KESEHATAN 2004 2005 2006 2007
1 Keperawatan 33.716 31.179 33.941 40.884
2 Kefarmasian 4.143 4.130 5.045 5.098
3 Kesehatan Masyarakat 1.923 1.855 1.557 1.396
4 Gizi 1.368 1.519 1.415 1.693
5 Keterapian Fisik 740 739 858 1.010
6 Keteknisan Medis 3.674 3.898 4.075 4.265
Total 45.562 43.320 46.891 54.346
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes tahun 2007 yang sebanyak 54.346 orang tersebut, sebagian besar dihasilkan oleh institusi Non Poltekkes yaitu sebanyak 14.185 lulusan (26,10%) dan sisanya dihasilkan institusi Poltekkes yaitu sebanyak 40.161 lulusan (73,90%).
Untuk Poltekkes, lulusan terbanyak adalah jenis tenaga Keperawatan (73,30%) dan Gizi (8,61%). Demikian juga untuk Non Poltekkes, lulusan yang terbanyak adalah
jenis tenaga Keperawatan (75,91%). Rincian jumlah lulusan menurut jenis tenaga kesehatan dapat dilihat pada Lampiran 5.29.
Tiga provinsi terbanyak menghasilkan lulusan tenaga kesehatan institusi non poltekkes pada tahun 2007 adalah Provinsi Jawa Tengah (6.802 lulusan), Sumatera Utara (6.173 lulusan), dan Jawa Timur (5.356 lulusan).
Untuk institusi Poltekkes yang terbanyak menghasilkan lulusan tenaga kesehatan adalah Poltekkes Malang (1.556 lulusan), Poltekkes Bandung (899 lulusan), dan Poltekkes Surabaya (813 lulusan). Rincian jumlah lulusan institusi diknakes non poltekkes menurut provinsi dan jenis ketenagaan dapat dilihat pada Lampiran 5.31.
6. Peserta Pendidikan dan Pelatihan Pegawai
Pendidikan dan pelatihan dimaksudkan untuk membina profesionalitas pegawai dalam rangka meningkatkan kualitas tenaga kesehatan. Pelatihan bagi tenaga kesehatan terdiri atas pelatihan prajabatan atau pratugas, pelatihan struktural, pelatihan fungsional, dan pelatihan teknis. Data pelatihan bagi tenaga kesehatan didapat dari laporan kegiatan Bapelkes dan dari permintaan sertifikat pelatihan ke Pusdiklat. Sedangkan data pelatihan lainnya yang tidak dilaksanakan di Bapelkes dan sertifikatnya tidak diperoleh melalui Pusdiklat, tidak tersedia.
Jenis pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan Pusdiklat dan Bapelkes nasional tahun 2007 yang tertinggi adalah diklat teknis (52,56%) dan prajabatan (22,64%), sebagaimana disajikan dalam Gambar 5.25 berikut ini.
GAMBAR 5.25
PROPORSI PELATIHAN YANG DILAKSANAKAN PUSDIKLATKES DAN BAPELKES NASIONAL
TAHUN 2007
Sumber : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, Depkes RI C. PEMBIAYAAN KESEHATAN
Pembiayaan kesehatan di Indonesia terdiri atas pembiayaan kesehatan oleh pemerintah dan pembiayaan kesehatan oleh masyarakat yaitu mengenai pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan dan jaminan pemeliharaan kesehatan.
1. Pembiayaan Kesehatan oleh Pemerintah
Alokasi anggaran Departemen Kesehatan tahun 2007 menurut Eselon I sebesar 18.341,41 milyar. Alokasi terbesar adalah Ditjen Bina Yanmed sebesar 8.466,57 milyar
(51,61%), sedangkan alokasi terkecil pada Inspektorat Jendral sebesar 36,71 milyar (0,29%). Realisasi anggaran Departemen Kesehatan tahun 2007 adalah 15.429,82 milyar (84,13%), dengan persentase realisasi terbesar adalah Ditjen Bina Yanmed (89,44%), sedangkan persentase realisasi terkecil adalah Ditjen Bina Yanfar (65,72%). Alokasi dan realisasi anggaran Departemen Kesehatan menurut sumber dana dan Eselon 1 pada tahun 2007 dapat dilihat pada lampiran 5.33.
Pada periode tahun 20032007, jumlah alokasi anggaran Departemen Kesehatan meningkat dan dapat dilihat pada Gambar 5.26 di bawah ini. Peningkatan yang cukup tinggi pada tahun 2005 yaitu bertambah 73,34% dari tahun 2004. Sedangkan realisasinya dari tahun 20032007 di atas 60% .
GAMBAR 5.26
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN DEPKES TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan, Depkes RI 2. Pembiayaan Kesehatan oleh Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, sejak lama sudah dikembangkan berbagai cara untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Pembiayaan kesehatan masyarakat berdasarkan sumber pembiayaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dan pembiayaan non JPK tahun 2003 – 2007 dapat kita lihat pada Gambar 5.27. Proporsi pembiayaan non JPK dalam kurun waktu tersebut menurun sedangkan pembiayaan JPK meningkat. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kartu sehat sejak tahun 2003 seperti yang terlihat pada Gambar 5.28.
GAMBAR 5.27
PROPORSI PEMBIAYAAN KESEHATAN MASYARAKAT BERDASARKAN SUMBER PEMBIAYAAN
TAHUN 2003 2007
Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan
Rincian jumlah dan persentase kepesertaan penduduk dalam jaminan pemeliharaan kesehatan tahun 2007 dapat dilihat pada Lampiran 5.34 dan Lampiran 5.35.
GAMBAR 5.28
PERSENTASE KEPESERTAAN PENDUDUK DALAM JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN
TAHUN 2003 – 2007
Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan
***
Beberapa negara selain sebagai anggota ASEAN juga merupakan negara yang berada di kawasan SEARO, yaitu Indonesia, Myanmar, dan Thailand. Untuk memudahkan membaca gambar dan membedakan antara