Pada mulanya, PT. Jarum mulai memasuki bisnis tembakau Virginia di Pulau Lombok pada tahun 1980 dengan pola yang sama dengan perusahaan-perusahaan sebelumnya. Namun, masuknya PT Jarum tidak membuat usahatani tembakau Virginia berkembang dan tumbuh dengan cepat. Oleh karena itu, pada tahun 1988 mulai dilaksanakan kebijakan pengembangan pola kemitraan melalui program Intensifikasi Tembakau Virginia (ITV). Operasional program ITV mengakselerasi perkembangan Tembakau Virginia di Pulau Lombok, sehingga memiliki daya saing (keunggulan komparatif) dan memiliki ciri khas tersendiri. Akibatnya, pada tahun- tahun berikutnya semakin banyak perusahaan-perusahaan rokok/tembakau lainnya memasuki bisnis ini, sehingga pada tahun 2009 beroperasi sebanyak 18 perusahaan pengelola yang telah mendapatkan izin operasional dari Gubernur Provinsi NTB. Kedelapanbelas perusahaan tersebut bermitra dengan petani dengan persyaratan bahwa setiap petani mitra menguasai (mengusahakan) luas areal garapan minimal 1.5 hektar dengan satu unit oven. Perusahaan membantu petani mitra dengan memberikan pinjaman modal sebesar Rp 2.500.000 dengan bunga 18% per tahun.
Perusahaan-perusahaan bermitra dengan petani di setiap desa dalam wilayah kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat, tetapi dominan berada di Kabupaten Lombok Timur dan Kabuapten Lombok Tengah. Eksistensi perusahaan tersebut berdampak positif terhadap pengembangan tembakau Virginia di Pulau Lombok NTB karena perusahaan-perusahaan tersebut berfungsi sebagai pembina petani secara teknis dan sebagai konsumen (pembeli daun tembakau kering dari petani). Dengan bertambahnya jumlah perusahaan yang bermitra dengan petani mengakibatkan luas areal pengembangan usahatani tembakau virginia mengalami peningkatan di Pulau Lombok seperti ditunjukkan pada tabel 9. Tabel 9 Perkembangan Luas Areal, Produksi Dan Produktivitas Tembakau
Virginia di Pulau Lombok NTB Tahun 1970 - 2012
Tahun Luas Areal (Ha) Produksi (ton) Produktivitas (ku/ha) Tanam Panen 1970 1980 1990 125 1 350 3 600 125 1 350 3 600 100 1 350 3 930 8 10 10.91 1995 1996 1997 1998 1999 2000 5 330 7 327 11 917 11 465 13 926 26 978 5 330 7 324 11 917 11 465 13 926 26 978 7 315 11 993 17 756 17 789 21 401 36 805 13.72 16.37 14.90 15.52 16.10 13.64
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 19 616 17 966 19 400 22 204 21 476 19 753 18 310 22 565 25 759 29 837 21 015 24 000 19 616 17 846 19 400 22 204 21 476 19 753 18 210 22 399 25 221 21 574 21 015 24 000 26 271 20 070 28 265 34 495 38 646 35 040 33 269 45 022 54 580 32 057 40 655 41 964 13.39 12.37 14.57 15.54 17.77 17.74 18.27 20.10 21.64 14.86 19.35 17.49
Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi NTB tahun 2012 dan BPS NTB berbagai tahun
Tabel 9 menggambarkan bahwa selama sepuluh tahun pertama (1970 hingga 1980) luas areal pengembangan tembakau virginia di Pulau Lombok relatif masih sempit dibandingkan dengan kondisi perkembangan luas areal pada tahun 2000an sampai 2012. Jumlah petani yang bermitra dengan perusahaan masih relatif kecil, yakni sebanyak 1 450 KK (Disbun NTB 1992). Dalam kurun waktu itu belum ada petani swadaya yang tertarik untuk mengusahakan tembakau virginia. Tingkat produktivitas pun juga masih rendah, yaitu rata-rata 0,8 ton daun kering (krosok) per hektar pada tahun 1970an dan 1,0 ton krosok per hektar selama tahun 1980an. Produktivitas yang rendah ini mengiindikasikan bahwa penerapan teknologi pada intensifikasi tembakau virginia di Pulau Lombok selama sepuluh tahun pertama, kedua dan ketiga relatif masih rendah. Artinya, pemanfaatan sumberdaya lahan dan teknologi kimia (pupuk dan pestisida) untuk produksi belum optimal.
Seiring dengan peningkatan luas areal tanam, produksipun mengalami peningkatan dari 100 ton menjadi 3 980 ton pada tahun 1990. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa agribisnis tembakau virginia di Pulau Lombok memiliki peluang bisnis yang menguntungkan. Hal ini diindikasikan juga oleh kemajuan dan perkembangan dari segi luas areal tanam dan produksi yang semakin meningkat dari tahun 1990-an sampai tahun 2000. Namun perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas mengalami fluktuasi sejak tahun 2001 samapai tahun 2012. Selama kurun waktu tahun 1990-1995 respon petani untuk mengembangkan usahatani tembakau virginia sudah mulai tumbuh yang diindikasikan oleh luas areal tanam meningkat 48.05%. Kemudian, perkembangan lima tahun berikutnya dari tahun 1995 hingga 1999 meningkat sampai 161% dan dalam kurun waktu lima tahun (1995-2000) luas areal meningkat 406% yang diikuti oleh peningkatan produksi mencapai 403%%. Selama kurun waktu itu, jumlah petani swadaya yang berkemauan untuk turut serta dalam mengembangkan tembakau virginia sudah menjadi kenyataan, meskipun dalam jumlah yang relatif kecil. Selain itu, rata-rata produktivitas yang dicapai para petani binaan dalam kurun waktu 5 tahun (1995 –
1999) adalah 1.53 ton/ha daun kering dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1,09 ton/ha. Peningkatan luas areal, produksi dan produktivitas ini mengindikasikan bahwa pembinaan perusahaan terhadap petani binaannya dalam teknologi usahatani semakin membaik. Peningkatan luas areal yang drastis yang disertai dengan peningkatan produksi seperti terjadi antara tahun
1995 sampai tahun 2000 dipicu oleh harga krosok yang relatif tinggi antara tahun 1995 dan 2000.
Peningkatan harga output tersebut mengindikasikan bahwa petani responsif terhadap harga output antara tahun tahun 1995 dan 2000 terutama harga krosok pada tahun 1998 yang jauh lebih tinggi daripada harga pada tahun sebelumnya karena krosok merupakan salah satu komoditi perkebunan yang diekspor. Kenaikan harga krosok antara tahun 1995 hingga 1998 berdampak pada semakin meningkatnya respon petani untuk memperluas areal tanam tembakau virginia pada tahun 1999 dan 2000. Akibatnya, pada tahun 1998 produksi meningkat tajam dari 17 789 ton menjadi 21 401 ton pada tahun 1999 bahkan pada tahun 2000 meningkat menjadi 36 805 ton. Peningkatan ini disebabkan karena perluasan areal tanam dari 11 465 hektar pada tahun 1998 menjadi 13 296 hektar pada tahun 1999 dan 26 978 hektar pada tahun 2000. Peningkatan produksi bukan hanya disebabkan oleh pertambahan luas areal tanam tetapi juga karena penerapan teknologi sehingga roduktivitas meningkat. Selain itu, peningkatan produksi yang disertai dengan harga krosok yang relatif tinggi pada tahun 1998, yakni untuk top grade mencapai Rp 22 500 per kilogram dan rata-rata Rp 21 250 per kiligram mengakibatkan pendapatan petani sangat tinggi, sehingga ekonomi rumah tangga petani waktu itu membaik.
Tembakau virginia diusahakan pada lahan sawah beririgasi setengah teknis setelah panen padi pada dua jenis tanah sawah, yakni tanah liat dan tanah lempung berpasir. Lonjakan jumlah petani yang mengusahakan tembakau virginia dalam kurun waktu 1996 hingga 2000 karena petani tidak mempunyai pilihan tanaman lain setelah panen padi. Diduga pula, lonjakan tersebut merupakan dampak dari krisis ekonomi dan moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997, yang mana pada saat itu rupiah mengalami depresiasi relatif tajam terhadap dolar. Selama krisis ekonomi dan moneter 1997 hingga 2000 harga produk-produk agribisnis perkebunan yang diekspor seperti jambu mete, coklat, cengkeh termasuk tembakau virginia cukup tinggi. Hamidi (2008) mengemukakan bahwa akibat lanjut kenaikan harga krosok tembakau virginia adalah harga input lokal seperti tanah dan tenaga kerja tentunya meningkat di satu pihak karena supplynya relatif tetap dalam jangka pendek sehingga biaya produksi usahatani tembakau virginia meningkat pada tahun 1998 hingga 2000. Saat itu di satu sisi, krosok relatif peka terhadap harga pasar internasional karena harga jualnya menggunakan harga pasar dunia sebagai patokan. Pada sisi lain, petani menggunakan input non-tradable, sehingga
biaya produksi relatif rendah yang pada gilirannya penerimaan lebih besar daripada total biaya produksi. Perkembangan harga krosok dan sewa lahan dan biaya lainnya sejak tahun 2007 hingga 2012 ditunjukkan pada Tabel 10.
Tabel 10 Perkembangan biaya produksi dan harga rata-rata tembakau virginia di Pulau Lombok Tahun 1997 sampai 2012
Tahun Komponen Biaya (Rp) Harga (Rp/Kg) Sewa Lahan Bahan Bakar Sarana Produksi Tenaga Kerja Lain- Lain Total Biaya/Ha 1997 5276545 2598350 2150235 4678650 1157875 15 861 655 14 257 1998 5357765 2675457 2115425 4725755 1245365 16 119 767 21 250 1999 5155645 2747550 2047654 4798554 1276547 16 025 950 19 895
2000 4976254 2751245 2235475 4825476 1387235 16 175 685 15 000 2001 4815235 2768675 2113750 4987548 1487435 16 172 643 18 550 2002 4763450 2826450 2253819 5115545 1598750 16 558 014 11 789 2003 5005241 2962448 2338990 5254399 1722837 17 283 915 10 646 2004 5000000 2835000 3148400 4849000 1623480 17 455 880 11 500 2005 4611897 3049233 3278490 4676878 1862585 17 479 083 12 011 2006 4759942 7022878 3251748 6276498 2031165 23 342 231 16 192 2007 5806494 6590478 3622457 7561549 2033465 25 614 443 17 756 2008 6605695 9746841 4880574 8498680 4532367 34 264 157 25 000 2009 7849790 9984610 5620924 11449419 5085447 39 990 190 24 000 2010 8432186 9957220 4892853 14117565 5213048 42 612 872 23 000 2011 7693560 11390247 4570350 13777682 5684523 43 116 362 30 500 2012 9465082 7601599 4786612 16663564 5871251 44 388 108 28 000 Sumber : Dinas Perkebunan dan BPS NTB berbagai tahun, diolah.
Harga krosok yang demikian tinggi pada tahun 1998 dan relatif masih bertahan pada tahun 1999 menjadi motivasi petani untuk mengusahakan tembakau virginia pada tahun 2000 dengan harapan harga krosok pada tahun 1998 akan terulang pada tahun 2000. Namun, harapan tersebut tidak menjadi kenyataan karena supply pada tahun 2000 melebihi permintaan perusahaan. Jumlah perusahaan yang membeli krosok pada tahun 2000 masih sangat terbatas. Akibatnya, luas areal pada tahun 2001 turun drastis dari tahun sebelumnya, yakni 26 978 hektar pada tahun 2000 menjadi 19 616 hektar pada tahun 2001 (menurun 27.29%). Hamidi (2008) juga mengemukakan bahwa harapan petani untuk terulangnya harga krosok tembakau virginia yang cukup tinggi seperti yang terjadi pada tahun 1998 tidak terwujud pada tahun 2000, bahkan harga menjadi turun sampai di bawah harga dasar. Turunnya harga krosok pada tahun 2000 telah mengakibatkan menurunnya respon petani untuk memperluas areal pengembangan tembakau virginia seperti tergambar pada tabel 9 yang menggambarkan bahwa luas areal pengembangan usahatani tembakau virginia menurun 33,85% dari luas areal 26 978 hektar pada tahun 2000 menjadi 17.966 hektar pada tahun 2002. Akibatnya produksipun juga menurun sampai 40,04%.
Akan tetapi, gairah petani untuk melakukan bisnis tembakau virginia berangsur-angsur kembali meningkat sejak tahun 2003 sampai tahun 2012, walaupun sempat terjadi fluktuasi luas areal dan produksi, seperti luas areal yang menurun 17.99% dari tahun 2004 hinggga 2007 yang diikuti pula oleh penuruan produksi 13.91% dari tahun 2005 ke 2007 sebagai akibat dari terjadi perubahan iklim (kemarau panjang) pada tahun 2006 dan 2007. Tetapi, sejak tahun 2007 sampai dengan 2009, luas areal cenderung meningkat (38.50%) dengan kenaikan produksi 64.06% dari tahun 2007 hingga 2009. Produksi tertinggi tercapai pada tahun 2009, tetapi menurun t samapi 41.27% pada tahun 2010 karena perubahan iklim dan cuaca ekstrim, curah hujan yang sangat tinggi (La Nina) pada tahun 2010, sehingga banyak petani mengalami kerugian. Hal ini menggambarkan bahwa total produksi nampaknya cenderung stagnan pada tahun 2010.
Upaya memotivasi petani dan mengoptimalkan hubungan kemitraan antara perusahaan pengelola dengan petani binaannya dalam agribisnis tembakau virginia, pemerintah daerah melalui dinas/instansi terkaitnya melaksanakan fungsi bimbingan, pengawasan, pengendalian, monitoring. Selain itu terdapat upaya untuk
memfasilitasi pelaksanaan musyawarah perhitungan biaya dan penetapan harga krosok pada tingkat mutu (grade) sesuai ketentuan yang diatur dalam Surat
Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat nomor: 114 tahun 2000 yang setiap tahun ditinjau kembali dan disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Terakhir adalah Keputusan Gubernur NTB Nomor: 2 tahun 2007 tentang petunjuk pelaksanaan peraturan daerah nomor 4 tahun 2006 tentang usaha budidaya dan kemitraan perkebunan tembakau virginia di Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan data luas areal di atas dapat dikatakan bahwa pemanfaatan luas areal lahan sawah untuk usahatani tembakau virginia belum optimal karena masih terdapat luas areal lahan yang belum dimanfaatkan oleh petani untuk usahatani Tembakau Virginia. Luas areal potensial untuk pengembangan tembakau virginia di Pulau Lombok sekitar 58.516 hektar tersebar di tiga kabupaten dengan luas areal setiap kabupaten seperti pada Table 11.
Tabel 11 Luas areal potensial tembakau Virginia dan areal yang dimanfaatkan tahun 2010
No Kabupaten Luas Areal potensial (Ha)
Luas Areal yang dimanfaatkan (Ha) (%) 1 Lombok Barat 10.098 246 1,12 2 Lombok Tengah 19.264 6.212 28,16 3 Lombok Timur 29.154 15.600 70,72 Pulau Lombok NTB 58.516 22,058 37,70 Sumber : BPS NTB 2011
Pemanfaatan lahan potensial untuk usahatani tembakau virginia di Pulau Lombok belum mencapai mencapai 50% dan belum merata di setiap kabupaten. Data ini menggambarkan bahwa pengembangan agribisnis tembakau virginia pada masa-masa yang akan datang secara besar-besaran sangat memungkinkan jika didukung oleh agroklimat yang sesuai dengan persyaratan pertumbuhan tembakau virginia secara agronomis. Selain itu, pengembangan yang pro petani juga sangat menentukan, artinya pemerintah berkenan memfasilitasi petani untuk memperbaiki sistem kemitraan yang selama ini belum dilaksanakan sesuai dengan harapan. Petani masih memiliki bargaining position yang relatif rendah dalam penjualan output kepada perusahaan.
Pengusahaan agribisnis tembakau Virginia di Pulau Lombok melibatkan empat pelaku, yaitu petani mitra, petani swadaya, perusahaan mitra dan pembeli gelap (Hamidi, 2007). Idealnya pengusahaan agribisnis tembakau virginia dengan pola kemitraan bisnis (contract farming) melibatkan lembaga finansial (Bank), pengusaha lokal, buruh tani, pengusaha sarana produksi pertanian (saprotan) dan pertamina. Dalam perkembangan selanjutnya petani juga mengusahakan secara swadaya tanpa bermitra dengan salah satu perusahaan. Dengan semakin, banyaknya perusahaan memasuki bisnis tembakau virginia di Pulau Lombok dengan pola kemitraan bisnis dengan petani, maka luas areal tanam tiap tahun mengalami peningkatan yang dinamis.
Sistem Agribisnis Tembakau Virginia
Agribisnis tembakau Virginia diartikan sebagai suatu rangkaian kegiatan usaha pertanian yang menangani berbagai aspek siklus produksi secara seimbang
dalam suatu paket kegiatan yang utuh yang dimulai dari pembibitan, pengadaan dan penyediaan sarana produksi, kegiatan budi daya pada on farm, pengolahan hasil
(pengomprongan), pengelolaan pemasaran hasil (krosok) dengan melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders) untuk mendapatkan keuntungan yang
maksimal. Agribisnis tembakau Virginia merupakan suatu sistem kegiatan yang mengintegrasikan pembangunan sub sektor perkebunan secara simultan mendukung pembangunan sektor industri hilir (pabrik rokok) dan jasa yang terkait dalam suatu kluster industri tembakau. Aktualisasi sistem agribisnis tembakau virginia di Pulau Lombok NTB dapat dipilah menjadi dua bagian, yakni on farm agribusiness
(subsistem usahatani) yang memproduksi daun tembakau basah, dan selebihnya adalah off farm agribusiness. Berdasarkan tingkatannya secara struktural,
pengelompokan tersebut dapat dipilah menjadi lima, yakni (1) bagian hulu (upstream agribusiness) atau subsistem input; (2) bagian tengah (midle stream) atau
subsitem usahatani (on farm agribusiness); (3) bagian hilir (down stream), yakni
pengolahan hasil dan diikuti oleh (4) subsistem marketing, (5) dan subsistem jasa penunjang. Secara rinci setiap subsistem agribisnis tersebut dapat dijelaskan implikasinya dalam agribisnis tembakau virginia sebagai berikut :
Subsistem agribisnis hulu (upstream agribusiness)
Secara konseptual, subsistem ini menghasilkan dan memasok sarana produksi pertanian (Saprotan) seperti industri benih/bibit, agrokimia (pupuk kimia dan pestisida), mesin-mesin pertanian (agro-otomotif). Keberadaan dan peran subsistem ini menjadi suatu keharusan untuk menunjang aktivitas produksi pada on farm agribusiness terutama dalam menyediakan pupuk kimia, pestisida dan mesin-mesin
pertanian yang berbahan bakar minyak. Dalam agribisnis tembakau virginia, petani non mitra dapat membeli pupuk dan pestisida secara bebas di pasar input, sedangkan petani mitra membeli di perusahaan sesuai dengan kontrak antara petani mitra dan perusahaan mitra.
Yang dimaksud dengan subsistem input dalam agribisnis tembakau Virginia adalah semua aspek yang meliputi (1) penyediaan dan penyaluran sarana produksi (seperti pupuk kimia, pestisida dan benih serta semua peralatan dan mesin pertanian bahan bakar yang diperlukan untuk memproduksi daun tembakau); (2) perencanaan jumlah, jenis dan sumber input serta cara memperolehnya. Input yang digunakan pada agribisnis tembakau virginia adalah input fisik utama untuk memproduksi daun tembakau adalah lahan sawah (tanah), pupuk kimia dan pestisida, tenaga kerja, bangunan fisik berupa seperangkat alat pengering (oven) dan bahan bakar berupa minyak tanah (kerosene) untuk pengeringan daun tembakau (pengolahan). Dikatakan sebagai input fisik utama karena tanpa kehadiran salah satu dari unsur tersebut dalam proses produksi maka akan mengakibatkan menurunnya tingkat produksi (output). Namun dalam penelitian ini, analisis pasar input tidak dilakukan karena penelitian ini berfokus pada pengaruh kemitraan terhadap efisiensi teknis dan efisiensi keuntungan.
Input lain yang sangat pentingnya dalam aktivitas agribisnis tembakau Virginia adalah management skill, baik manajemen produksi maupun manajemen
finansial. Subsistem input yang akan menjadi fokus deskripsi pada bagian ini adalah cara petani mempeeroleh input fisik utama berupa pupuk kimia dan
pestisida, lahan pertanian serta bangunan fisik berupa oven dan minyak tanah untuk pengeringan daun tembakau.
Ditinjau dari segi hubungan petani dengan pihak lain seperti perusahaan dan lembaga perbankan, maka agribisnis tembakau di Pulau Lombok dilaksanakan oleh petani dengan dua pola yakni pola kemitraan bisnis (business partnerships scheme) dengan perusahaan, dan secara swadaya (tidak bermitra bisnis). Kemitraan bisnis pada agribisnis tembakau virginia bertujuan untuk memberdayakan petani agar mereka menjadi petani tembakau yang mandiri dan menguasai teknologi budidaya dan pasca panen serta mengembangkan wawasan petani dalam hal bisnis tembakau. Dengan demikian diharapkan para petani mampu meningkatkan keuntungannya (profit) yang pada giliriannya akan terwujud peningkatan kesejahteraan. Tujuan ini mencerminkan bahwa kemitraan bisnis pada agribisnis tembakau virginia mempunyai misi yang positif ke arah better farming, better business and better living. Namun dalam prakteknya sering dijumpai hal-hal yang tidak digariskan dalam konsep kemitraan yang telah dilegitimasi. Misalnya, temuan lapangan pada observasi pendahuluan menunjukkan bahwa masih ada diantara petani yang tidak menjual hasil produksinya kepada perusahaan mitranya karena faktor harga yang sering berfluktuasi (tidak sesuai dengan kesepakatan harga yang dijanjikan). Selain itu, faktor lain seperti sistim grading kualitas krosok yang kadang-kadang berbeda diantara perusahaan yang menampung hasil dari petani. Faktor-faktor inilah yang cenderung melupakan etika bisnis dalam agribisnis tembakau virginia.
Agribisnis tembakau virginia membutuhkan dua jenis input, yakni (1) input untuk dialokasikan pada tingkat usahatani (on farm) berupa bibit, pupuk kimia dan
pestisida; (2) input untuk pengeringan berupaka bahan bakar. Pola pengusahaan (bermitra atau nonmitra) mempengaruhi cara perolehan input oleh petani. Petani yang bermitra bisnis dengan perusahaan memperoleh pinjaman (kredit) untuk beberapa jenis pupuk kimia seperti Urea, ZA, TSP, KNO3, Fertila dan KCl untuk proses produksi pada lahan usahatani.
Subsistem pertanian primer (on farm agribusiness)
Subsistem ini sering disebut subsistem usahatani. Subsistem ini menggunakan produk upstream agribusiness (subsistem input) untuk menghasilkan produk pertanian primer (fresh product) berupa daun tembakau basah. Subsistem
usahatani pada sistem agribisnis tembakau virginia merupakan serangkaian aktivitas bercocok tanam yang dimulai dari aktivitas persiapan lahan dan pembibitan, penanaman sampai panen. Aktivitasnya adalah dimulai dari persiapan lahan (pengolahan tanah dengan traktor dan pembuatan guludan dengan tenaga manusia), pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman (pemupukan, pembumbunan atau disebut Dangir/Kres, pengendalian hama penyakit, pemangkasan pucuk atau topping dan pembuangan suli atau succering) sampai kepada panen. Pada subsistem ini perusahaan mitra bisnis selaku pembina berperan dalam transfer teknologi budidaya kepada petani untuk mencapai better farming. Peran ini sangat diperlukan karena agribisnis tembakau selain dikenal sebagai salah satu agribisnis yang tidak lepas dari risiko dan ketidak pastian (risk and uncertainty), agribisnis ini juga dikenal sebagai agribisnis yang memerlukan biaya produksi yang cukup besar untuk proses produksi. Oleh karena itu, sangat diperlukan pengalaman dan profesionalisme serta skill (keterampilan) dari seorang
petani, baik skill secara teknis maupun skill dalam manajemen finansial sehingga
dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Subsistem agribisnis hilir (downstream agribusiness)
Subsisten ini disebut juga dengan agroindustri merupakan subsistem pengolahan sebagai level mengolah komoditas pertanian primer (fresh product)
menjadi produk olahan, baik dalam bentuk produk antara sebagai bahan baku industri maupun produk akhir sehingga memperoleh nilai ekonomi atau nilai tambah yang tinggi. Subsistem pengolahan dalam sistem agribisnis tembakau virginia di tingkat petani produsen adalah serangkaian kegiatan pengeringan daun basah menjadi daun kering (krosok) yang siap dijual ke perusahaan setempat. Serangkaian kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan penggelantangan, sortasi/rempos sampai pengepakan daun kering.
Pengeringan daun diawali dengan penggelantanagn merupakan kegiatan mengikat daun tembakau basah ke kayu gelantang, yakni daun tembakau basah diikat dengan tali goni dengan posisi ikatan di kanan dan di kiri kayu gelantang. Setiap ikat terdapat dua lembar daun dan setiap gelantang berisi 40 – 50 ikat atau 80 – 100 lembar daun tembakau (tergantung kekuatan kayu gelantang). Penggelantangan ini bertujuan untuk memudahkan dalam penataan saat dioven (pengomprongan) dan mencegah daun saling melekat antara daun yang satu dengan daun lainnya. Proses berikutnya adalah pengeringan.
Proses pengeringan ini sering disebut “curing”, yakni proses mengubah
bentuk fisik dan kimia daun tembakau menurut mutu yang dikehendaki pada suhu tertentu. Peralatan untuk pengeringan berupa sebuah bangunan yang tertutup yang disebut dengan oven, sehingga pengeringan ini disebut juga dengan istilah pengovenan. Di dalam bangunan diatur daun tembakau yang sudah digelantang dan jumlah gelantang disesuaikan dengan ukuran oven. Umumnya satu oven berisi 500
– 8000 buah gelantang. Dalam proses curing ini dikenal lima fase yaitu: (1) Fase Yellowing, pemanasan dengan suhu 240 - 370 C selama ± 24 – 48 jam. (2) Fase Fixing Colour, pengubahan warna hijau menjadi warna menjadi kuning
berlangsung pada temperatur 370 - 500 C selama ± 25 – 35 jam. (3) Fase Lamina Driying, menghentikan terjadinya perubahan warna pada temperatur 500 - 550 C
selama ± 25 – 35 jam. (4) Fase Stem Driying, kegiatan melakukan engeringan
tangkai daun yang berlangsung pada suhu 550 - 770 C selama ± 25 – 30 jam. (5)
Fase Conditioning, merupakan tahap akhir dari proses curing yaitu membiarkan
oven sampai dalam keadaan dingin selama ± 10 – 12 jam.
Kegiatan selanjutnya setelah pengeringan adalah kegiatan sortasi daun kering yang merupakan serangkain kegiatan memilah krosok tembakau virginia hasil
curing menjadi kelompok-kelompok kecil yang seragam berdasarkan parameter
seperti posisi daun pada batang, warna dan mutu krosok. Daun yang telah disortasi, kemudian diikat dengan menggunakan krosok itu sendiri, dan besarnya ikatan adalah sebesar genggaman orang dewasa. Setelah itu dilakukan pengepakan (packinging) yang bahasa setempat disebut pengebalan (pengepresan) dengan
menggunakan alat press yang dibuat dari besi. Sedangkan alat pembungkusnya adalah dengan menggunakan tikar yang dibuat dari jenis pandan tertentu. Berat krosok dalam satu bal berkisar antara 60 – 80 kg. Selanjutnya krosok siap dikirim ke perusahaan untuk dijual.
Kualitas (grade) hasil pengeringan daun tembakau ditentukan berdasarkan
jenis dan letak daun di pohon (yakni daun bawah, daun tengah dan daun atas), tingkat kematangan daun di pohon pada saat dipetik, dan pengaturan suhu pada saat pengomprongan. Tenaga kerja yang digunakan dalam proses pengeringan adalah tenaga kerja manusia mulai dari proses penggelantangan, menaikkan gelantang ke oven, penurunan daun kering setelah pengomprongan (bongkar muat), sortasi daun kering dan packaging.
Sarana dan prasarana yang digunakan untuk pengeringan adalah Oven (Tungku), yakni sebuah banguan dibuat dari batu bata merah dengan tinggi 6 – 7 meter dengan lebar 4 m x 4 m). Pada awal pengembangan agribisnis tembakau virginia dengan pola kemitraan, petani mitra memperoleh pinjaman biaya dari perusahaan untuk pembuatan oven. Sejak tahun 1980an pengomprongan tembakau virginia di Pulau Lombok yakni pengolahan daun tembakau virginia menjadi krosok yang berwarna kuning terang dengan kadar gula tinggi menggunakan bahan bakar minyak tanah. Petani menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar sejak tahun 1980an. Oleh karena itu, untuk pengolahan hasil (pengeringan daun tembakau) petani memperoleh kredit berupa bahan bakar minyak tanah.
Minyak tanah sebagai bahan bakar dalam pengomprongan tembakau virginia di Pulau Lombok bersumber dari PT. Migas Mitra Tani (MMT). Secara ringkas mekanisme perolehan bahan bakar ini disajikan pada Gambar 9 (Hamidi dan Sukardi 2010). Keterbatasan quota minyak tanah untuk pengomprongan tembakau mengharuskan (1) Dinas Perkebunan Kabupaten melakukan verifikasi terhadap