BAB III METODE PENELITIAN
C. Sumber Data
Sumber informasi dalam riset ini terbagi atas 2 berbagai ialah informasi pokok serta informasi inferior.
1) Data primer
Yakni Dengan mengamati informasi yang didapat dari poin riset, ialah mencermati dengan cara langsung serta menulis kejadian kejadian yang berarti dan relevan dengan ulasan. Tidak hanya itu, informasi yang didapat lewat tanya jawab dipakai selaku informasi utama.
2) Data sekunder
Informasi ini didapat lewat analisis arsip yang terdapat hubungannya dengan riset, informasi ini bisa lewat buku-buku pembelajaran, materi materi kepustakaan serta sebagainya.
21
C. Informan Penelitian
Subyek riset ini adalah tenaga pendidik serta anak didik.
Identifikasi informan dalam riset ini ialah disengaja, dan peneliti mengidentifikasi berbagai informan dengan cara bertanya dan menjawab secara langsung kepada informan sesuai dengan alasan wawancara. Tes sampel meliputi: :
3. Purposive Sampling, metode determinasi ilustrasi dengan estimasi khusus, dimana periset menjurus mempunyai responden dengan cara variatif bersumber pada( alibi).
4. Snow-Ball Sampling (pencabutan ilustrasi dengan cara bola salju), yakni tata cara penghimpunan ilustrasi pangkal informasi, yang pada awal mulanya totalnya tidak banyak, seiring berjalannya waktu jadi besar. Perihal ini dicoba sebab dari total pangkal informasi yang sedikit itu itu belum sanggup menyampaikan informasi yang lebih detail, alhsil mencari orang lainnya lagi yang bisa dipakai selaku pangkal informasi. Dengan begitu jumlah ilustrasi pangkal informasi hendak terus menjadi besar, semacam bola salju yang menggelinding, lambat- laun jadi besar.
HendarsodalamSuyanto (2009 : 172) Informan yang telah membagikan bermacam data sepanjang cara riset berjalan. Ada pula pengelompokan dari Informan riset purposive sampling antara lain:
Informan kunci (key informan), Ialah mereka yang mengenali serta mempunyai data utama. Dengan ini anak didik tingkatan VII.A di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bissappu.
Informan Pakar, Ialah mereka yang ikut serta dengan cara langsung dalam berinteraksi sosial yang diawasi. Perihal ini adalah Guru di SMP Negeri 2 Bissappu.
Informan tambahan, Ialah mereka yang bisa membagikan bermacam tipe data yang periset butuhkan terpaut apa yang diawasi meski tidak langsung ikut serta dalam berinteraksi sosial yang tengah diawasi. Perihal ini Staff Aturan Usaha di SMP Negeri 2 Bissappu.
Bersumber pada hasil analisa di atas, bisa disimpulkan kalau tujuan peneliti ialah untuk mendapatkan informan yang cermat serta betul- betul penuhi persyaratan sebab informan itu memiliki pengetahuan yang baik tentang bidang atau wilayah penelitian.
Identifikasi informan penelitian yang digunakan peneliti adalah purposive sampling dengan kategori informan kunci, informan ahli dan informan tambahan. Tujuan sampling digunakan hanya sebab periset terdahulu sudah mengenali bagaimanakah tempat yang hendak dipakai buat riset.
Riset kualitatif tidak ditujukan buat menggeneralisasi hasil riset yang dicoba agar dengan sengaja mengidentifikasi poin riset yang sudah terlihat dalam fokus riset. Poin riset hendak jadi informan yang membagikan bermacam data yang dibutuhkan sepanjang tahap riset.
23
D. Instrumen penelitian
Bagi Sugiyoni (2018:306), riset kualitatif selaku Human Instrumen yang berperan buat memastikan fokus riset memilah informan selaku pangkal informasi, pengumpulan informasi berguna untuk fokus riset, memilah informan selaku pangkal informasi, pengumpulan informasi, menilai kualitas data, menganalisis informasi, mengulas informasi serta menarik kesimpulan dari penelitian. Akan tetapi, setelah penelitian yang terfokus sudah nyata sehingga bisa dikembangkan instrumen riset simpel yang diinginkan bisa memenuhi informasi serta membandingkannya dengan informasi yang dijumpai lewat pemantauan serta tanya jawab.
Oleh sebab itu, instrumen penting dalam riset ini terdapat periset itu sendiri selaku instrumen penting dalam penelitian telah melaksanakan pemantauan dengan mencermati dengan cara langsung objek penelitian, kemudian melaksanakan tanya jawab dengan sebagian informan, sebaliknya instrumen lainnya adalah perlengkapan perekam buat merekam dikala periset melakukan wawancara dengan informan. Sebaliknya kamera yang dipakai buat pengambilan gambar selaku pengarsipan dikala melaksanakan riset serta prinsip tanya jawab berbentuk pertanyaan- pertanyaan yang di sediakan periset buat menguak data yang berhubungan dengan riset supaya informasi yang terkumpul asi.
Guna mendapatkan kenyataan dilapangan, oeneliti merupakan instrumen penting serta memenuhi dirinya dengan oedoman Tanya jawab,
pedoman observasi dan sarana dokumentasi misal oerekam serta kamera serta perlengkapan tulis (buku serta pulpen).
E. Teknik Pengumpulan Data
Bagi Sugiyono( 2018: 308) tata cara mengumpulkan informasi yakni tahapan terpenting dalam riset, sebab maksud krusial riset merupakan untuk mendapatkan informasi. Tanpa mengenali tata cara pengumpulan informasi, periset tidak hendak memperoleh informasi yang penuhi standar informasi yang ditentukan. Merujuk pada urgensi penilaian yang dibesarkan dalam riset ini, hingga dipakai sebagian metode pengumpulan informasi selaku selanjutnya:
1) Observasi
Bagi Nasution dalam Sugiyono (2018:310) menyatakan kalau pemantauan merupakan dasar dari segala ilmu. Ilmuwan cuma bisa bertindak berdasar pada informasi, yakni kebenaran terkait dunia nyata yang didapatkan lewat pengamatan. Di tempat itu periset mencermati bermacam perihal yang berkaitan dengan keterampilan interpersonal guru dalam proses pembelajaran PPKn. Hal terpenting dalam proses observasi ini adalah mengamati keterampilan interpersonal guru dalam proses pembelajaran, agar mendapatkan data yang valid tentang latar belakangnya.
2) Wawancara
25
Bagi Sugiyono (2018:317) tata cara Tanya-jawab dipergunakan selaku tata cara untuk mengumpulkan informasi jika periset akan menyelenggarakan riset kata pengantar guna mendapat masalah yang wajib dilakukan penelitian. Perihal ini ditujukan buat mendapatkan informasi langsung dari guru PPKn yang dibantu oleh sebagian informan ekstra ialah siswa.
3. Dokumentasi
Bagi Sugiyono (2018:329) Pemilihan merupakan memo kejadian yang sudah berlangsung. arsip dapat berupa tulisan, gambar, biografi, peraturan, gambar, dll. Dalam peluang ini periset menggali bermacam informasi yang terdapat di sekolah. Tidak hanya itu, cara pengarsipan ini pula sengaja dilakukan periset buat menguatkan hasil riset ini, dengan menyajikan gambar-gambar sepanjang periset melakukan riset.
F. Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2018:334) Analisa informasi yakni cara memperoleh serta mengatur informasi dengan cara analitis, informasi yang didapatkan dari hasil tanya jawab, memo lapangan, serta pemilihan dengan metode mengerahkan informasi ke dalam kategori- kategori yang menguraikan ke dalam satuan-satuan, mensintesis, menyusun menjadi pola-pola pemilihan.
mana yang utama serta dipelajari, yang membuat kesimpulan alhasil gampang dimengerti oleh diri sendiri serta individu lainnya. Tahap tahap yang dicoba merupakan:
1. Pengumpulan data
Seluruh informasi yang didapat mengenai analisis keterampilan interpersonal guru dalam proses pembelajaran PPKn digabungkan serta dicatat dengan cara adil setelah itu diselidiki, disusun kemudian diurutkan dengan cara analitis. Penulis menghimpun informasi bagus dari pemantauan yang dicoba maupun tanya jawab dengan sebagian informan dan diperkuat denganadanya dokumentasi yang disatukan maka mempermudah oeneliti dalam menyajikan data. .
2. Reduksi data
Cara pengurangan informasi memfokuskan atensi pada penyederhanaan abstraksi serta data informasi menrah yang timbul dari memo posisi riset. Sehabis periset mengakulasi informasi, periset hendak memilah informasi yang cocok dengan fokus riset yang diawasi lewat penyederhanaan, alhasil mempermudah periset dalam oenyajian informasi.
3. Penyajian data
Hal ini dicoba dengan metode mendefinisikan berkas data dengan cara tertib serta analitis yang membagikan mungkin terdapatnya pencabutan kesimpulan serta pengumpulan aksi bersumber pada uraian yang didapat. Sehabis periset meresuksi informasi hingga oeneliti hendak mendefinisikan hasil riset bagus dari hasil pemantauan, tanya jawab serta pemilihan buat mempermudah pencabutan kesimpulan dari hasil riset.
4. Verifikasi
27
Usaha untuk memperoleh kejelasan kesahan informasi yang sudah didapat dengan mencermati kejelasan dari tiap- tiap pangkal informasi yang terdapat. dengan begitu, periset bisa menarik kesimpulan bersumber pada informasi dari totalitas cara yang sudah dilakukan. Sehabis periset menyuguhkan informasi dengan mendefinisikan hasil riset, hingga periset hendak menarik kesimpulan dari hasil riset yang ditemui di lapangan.
G. Teknik Keabsahan Data
Ketika menguji kesahan informasi dalam riset kualitatif bagi Sugiyono(
2012: 121) Kesahan informasi ialah aspek yang berarti sebab tanpa kesahan informasi yang didapat di lapangan hendak susah untuk seseorang periset buat mempertanggungjawabkan hasil risetnya. Dalam perihal kesahan informasi, periset memakai tata cara triangulasi, maksudnya kir informasi dari bermacam pangkal dengan bermacam-macam teknie serta masa yang berbeda.
1) Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik dilaksanakan dengan metode memeriksa informasi dari pangkal yang serupa dengan metode yang berlainan.
Contohnya seperti informasi yang didapatkan melalui Tanya jawab kemudian diverifikasi dengan pemantauan dan dokementasi.
2) Triangulasi Waktu
Triangulasi durasi dipakai buat keabsahan informasi yang berhubungan dengan transformasi sesuatu cara serta sikap orang dari masa
ke masa. Buat memperoleh informasi lewat pemantauan sehingga periset harus melakukan observasi bukan sekedar observasi.
3) Triangulasi Sumber Data
Triangulasi pangkal informasi dicoba buat mencoba legalitas informasi dengan metode memeriksa informasi yang duperoleh dari sebagian sumber.
Hasil tinjauan diatas membuktikan kalau legalitas informasi harus diterapkan untuk meyakinkan bukti hasil riset. Dengan tutur lain dengan memverifikasi lewat Tanya jawab dengan objek riset di luar informasi buat kebutuhan selaku pembeda dengan informasi. Triangulasi ini tidak hanya dipergunakan buat memverifikasi keabsahan informasi, tetapu jyga buat memperluas informasi, triangulasi pula memberi metode metode yang oerlu diperhatikan oeneliti agar dapat tersusun secara sistematis.
29 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
SMP Negeri 2 Bissappu merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang berdiri pada tahun 1987 dan terbitnya SK pada tahun itu juga yang telah terakreditasi B.
Adapun yang membatasilokasi SMP Negeri 2 Bissappu dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Sebelah timur berbatasan dengan perumahan warga, SD Inpres Tala-Tala dan SMA Negeri 2 Bantaeng
b. Sebelah Utara berbatasan dengan perumahan warga c. Sebelah Barat berbatasan dengan perumahan warga
d. Sebelah Selatan berbatasan dengan SMP Negeri 3 Bissappu dan SMA Negeri 2 Bantaeng
1. Profil Sekolah Identitas Sekolah
Nama Sekolah : SMP NEGERI 2 BISSAPPU
NPSN :40303997
Jenjang Pendidikan : SMP Status Sekolah : Negeri
Alamat Sekolah : Jln. Hasanuddin No.13
Kode Pos : 92451
2. Kegiatan Ekstrakulikuler
SMP Negeri 2 Bissappu merupakan salah satu sekolah yang aktif dalam berbagai kegiatan di antaranya adalah Praja Muda Karana (PRAMUKA), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Siswa (UKS), Olah Raga, Osis yang di laksanakan oleh siswa-siswi di SMP Negeri 2 Bissappu. Para Siswa-siswinya selalu mengikuti kegiatan-kegiatan yang di adakan oleh sekolah maupun yang di adakan langsung oleh pemerintah daerah atau jajarannya.
3. Sarana dan Prasarana
Luas Tanah SMP Negeri 2 Bissappu mencapai 20.000 m2, yang didalamnya terdapat bangunan ruang belajar 23 Ruang, Ruang Kesenian 1 ruang, Laboratorium IPA 1 ruang, Laboratorium Komputer 2 ruang, Perpustakaan 1 ruang, Ruang AULA, lapangan Basket, lapangan Volly, Lapangan Sepak Takraw, Lapangan Futsal, Lapangan Lompat jauh, Mushollah yang dapat menampung 100 jamaah, ruang Organisasi 3 ruang, ruang BK 1 ruang, UKS 1 ruang, kamar mandi/WC peserta didik 3 ruang dan Internet yang bisa diakses dengan menggunakan beberapa provider.
4. Keadaan Guru
Pendidik di SMP Negeri 2 Bissappu rata-rata usia produktif dengan kualifikasi Sarjana (S1) sudah mencapai 100 % dan 5 orang di antaranya bergelar magister. Pendidik yang sudah tersertifikasi 72 % dan memiliki latar pendidikan yang sesuai serta85% bertempat tinggal sekitar Bissappu.
31
Tenaga kependidikan berjumlah 6 orang, pustakawan 1 orang dan penjaga sekolah 1 orang.
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden dan hasil observasi
Data dalam penelitian ini bersumber dari hasil wawancara terhadap 13 orang dan hasil observasi penulis dilapangan. informan tersebut dipilih secara subjektif proporsional sesuai dengan keterlibatan terhadap analisis interpersonal guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMPN 2 Bisappu Kabupaten Bantaeng. berikut daftar tabel responden dan hasil observasi:
Tabel 1. Menunjukkan Karakteristik Responden
NO RESPONDEN UMUR JENIS KELAMIN KET
1 SC 13 P SISWA
2 RS 12 P SISWA
3 AS 13 L SISWA
4 RD 12 L SISWA
5 MF 13 L SISWA
6 SL 13 P SISWA
7 BM 13 L SISWA
8 ND 12 P SISWA
9 MT 13 P SISWA
10 AF 13 L SISWA
11 MDN 59 P GURU
12 JL 50 P GURU
13 BK L KASEK
2. Interpersonal skills guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu
Interpersonal skills guru atau yang biasa disebut soft skills guru merupakan keterampilan yang dimiliki atau didapatkan dari lingkungan sekitar tentang cara bersikap terhadap sesuatu dengan melalui proses yang panjang atau bisa didapatkan melalui proses belajar.
Selanjutnya untuk bisa menganalisa Interpersonal Skills Guru dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng”
Semua data hasil penelitian ini diuraikan berdasarkan fokus keterampilan yang dimiliki oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran.
a. Keterampilan Bertanya
Dalam proses pembelajaran setelah guru menyampaikan materi, untuk memastikan siswa dapat menangkap pelajaran yang di berikan biasanya guru akan memberikan pertanyaan kepada siswa terkait materi yang telah disampaikan.
Seperti yang disampaikan oleh MDN Guru PPKn terkait wawancara tentang Interpersonal Skills Guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu sebagai berikut;
“Saya mengajar PPKn biasanya saya memberikan pertanyaan anak didik untuk mengetahui sebaik-baiknya bagaimana di apakah dia memahami apa yang
33
saya berikan atau tidak itu dengan adanya bertanya yang dapat saya nilai”
Hal senada juga disampaiakan oleh JL yang juga seorang guru PPKn sebagai berikut;
“Setiap mengajar itu pasti memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana siswa merespon apa yang diajarkan oleh seorang guru dan tentu cara bertanyanya juga secara hangat dan situasinya juga supaya anak-anak tertarik menjawab pertanyaan”
Hal ini juga dibenarkan oleh RD sebagai siswa yang mengungkapkan;
“iya, setelah guru menyampaikan pelajaran biasanya kita dikasih pertanyaan”
Hal senada juga ikut disampaikan oleh SL yang juga merupakan siswa yang turut menyampaikan;
“guru biasanya nakasiki pertanyaan kalau sementara belajar biasa juga ditunjuk menjawab bergantian”
Selanjutnya MDN kembali menambahkan;
“Menurut MDN kalau saya punya cara memberikan soal-soal supaya dia bisa dan saya suruh berpikir kadang juga secara individu kadang kelompok dan saya suruh presentasikan di atas supaya semua dapat melihat temannya bagus dan dia juga termotivasi dan dia bisa lebih bangkit dengan adanya contoh yang dikemukakan temannya saya rasa kita sebagai guru kita percaya siswa tapi kalau kadang diberi tugas tapi dia tidak laksanakan itu saya katakan saya tidak percaya lagi kalau kau tidak kerjakan dengan baik ini maka saya akan kurangi nilai mu karena anak yang jujur dapat mengerjakan apa yang kita
berikan dengan tepat waktu itu yang saya berikan supaya lebih percaya diri”
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa selain menyampaikan materi pelajaran guru juga memberikan pertanyaan kepada siswa dengan cara ditunjuk secara bergantian agar guru bisa menilai apakah materi yang disampaikan sudah dipahami oleh semua siswa.
Sedangkan hasil observasi dilapangan penulis menemukan bahwa dalam proses pembelajaran setelah guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa guru akan memberikan pertanyaan kepada siswa secara antusias terkait materi yang telah disampaikan biasanya guru akan mempersilahkan kepada siswa yang ingin menjawab terlebih dahulu sementara ketika tidak ada siswa yang mengajukan diri guru berinisiatif membuat Quis juga sekaligus memberikan penilaian kepada siswa dan sangat jarang penulis menemukan guru menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
35
Gambar 1.1 Saat MDN memberikan sesi pertanyaan kepada siswa (Sriwahyuni, juni 2020)
Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan bertanya yang dimiliki guru di SMP Negeri 2 Bissappu dalam proses pembelajaran sudah cukup mumpuni hal ini penulis dapat menilai dari hasil wawancara dengan beberapa guru yang kemudian dibenarkan juga oleh beberapa siswa serta hasil pengamatan langsung penulis.
b. Keterampilan menjelaskan
Dalam menyampaikan materi pembelajaranseorang guru dituntut untuk memberikan materi pembelajaran kepada siswa serta penjelasan yang memadai agar siswa dapat menangkap apa yang disampaikan oleh guru dengan baik, karena hal tersebut juga merupakan suatu tantangan terhadap semua guru.
Seperti yang di ungkapkan oleh MDN Guru PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu sebagai berikut;
“Menurut MDN; kita sebagai guru bagaimana cara memberikan penjelasan yang lebih bisa dipahami anak didik supaya anak didik bisa memahami apa yang kita kemukakan di materi itu”
Senada dengan apa yang disampaikan diatas Jl juga menyampaikan;
“pada saat menjelaskan materi saya akan berusaha dengan segala cara atau metode untuk menarik perhatian siswa karena kan sebelum menjelaskan siswa diberi dahulu persepsi supaya siswa fokus atau tertarik pada apa yang disampaikan guru”
Berdasarkan hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa Interpersonal Skills guru yang memadai memang sangat diperlukan oleh karena itu seorang guru harus dianggap cakap dalam menyampaikan materi sehingga pemberian dan penjelasan dari materi yang dibawakan bisa dipahami oleh siswa.
Hal ini juga di benarkan oleh SC salah seorang Siswi di SMP Negeri 2 Bissappu yang mengatakan;
“iya, penjelasan dari guru mudah dimengerti biasa dikasih contoh juga”
Sedangkan AS yang juga seorang Siswa di SMP Negeri 2 Bissappu menyampaikan hal yang berbeda;
“kadang-kadangji bisa dimengerti kalau ceramah terus atau disuruh mencatat biasa dilupaji”
Dari hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran untuk menghadapi siswa yang mempunyai karakter yang beragam merupakan tantangan setiap guru oleh karena itu seorang guru harusnya memberikan penjelasan yang memadai kepada siswa dan memperbanyak interaksi sehingga semua siswa dapat memahami penjelasan yang diberikan.
Selain dituntut untuk menyampaikan materi dan penjelasan yang memadai kepada siswa materi yang disiapkan juga harus sesuai dengan
37
standar kompetensi yang ada sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Terkait dengan hal itu BK sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Bissappu menyampaikan;
“Semua Guru memang dituntut untuk menyampaikan materi yang sesuai standar kompetensi oleh karena itu semua guru diharuskan untuk menyusun modul pembelajaran terlebih dahulu agar tujuan pembelajaran juga dapat dicapai”
Senada dengan hal tersebut JL yang juga seorang Guru PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu turut menyampaikan;
“iya tentu harus sesuai dengan materi yang dijelaskan harus sesuai dengan standar dan kompetensi dasar karena itulah yang menjadi penuntun menjadi petunjuk bagi seorang guru untuk menjelaskan materi jadi harus sesuai dengan standar kompetensi”
Dari hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa materi yang disiapkan dan disampaikan oleh guru kepada siswa memang sudah sesuai dengan kompetensi dasar yang ada hal ini juga dibuktikan dengan adanya modul-modul pembelajaran yang disiapkan sebelum memulai proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi dilapangan penulis dapat mengemukakan bahwa Guru PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu mempunyai keterampilan menjelaskan yang memadai hal ini dapat penulis nilai dari respon siswa terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru selain itu guru juga menyampaikan materi yang sudah sesuai
dengan standar kompetensi yang ada serta relevan dengan tujuan pembelajaran yang ada.
Saud(2009;59) Keterampilan menjelaskan adalah keterampilan menyajikan informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antar satu bagian dengan bagian lainnya.
c. Keterampilan Mendengarkan
Selanjutnya yang tidak kalah penting untuk menunjang proses pembelajaran adalah guru harus jeli untuk memahami siswanya dengan karakter yang berbeda-beda oleh karena itu guru juga dituntut untuk menjadi pendengar yang baik untuk siswanya.
Terkait hal tersebut diatas MDN menyampaikan;
“kita harus mendengarkan peserta didik dengan penuh konsentrasi dan apabila ada kesalahan atau kejanggalan yang dia kemukakan bisa kita berikan arahan supaya dia lebih memahami apa yang kita berikan kepadanya”
Dari hasil wawancara di ataspenulis dapat menarik kesimpulan bahwa seorang guru dapat memahami apa yang dibutuhkan oleh para siswa lewat interaksi secara langsung karena tanpa interaksi guru tidak akan tahu sejauh mana siswa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh karena itu itu guru dituntut untuk menjadi pendengar yang baik untuk siswanya.
39
Berasarkan hasil observasi dilapangan penulis dapat mengemukakan bahwa interaksi guru dengan siswa memang sangat penting mengingat bahwa selain memberikan materi seorang guru juga harus menjadi pendengar yang baik hal ini penulis dapat melihat respon guru terhadap murid yang mengemukakan pendapatnya selain itu guru juga akhirnya meluruskan kembali materi yang diberikan disertai dengan contoh.
Slamet (2009;2) Menyimak (listening) dikatakan sebagai kegiatan berbahasa reseptif dala suatu kegiatan bercakap-cakap (talking) dengan medium dengar maupun medium pandang, menyimak berarti memperhatikan bail-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.
3. Faktor yang mempengaruhi pengembangan Interpersonal Skills Guru dalam proses pembelajaran PPKn di SMP Negeri 2 Bissappu Kabupaten Bantaeng.
Ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi perkembangan Interpersonal Skills guru dalam Proses pembelajaran;
a. Faktor Situasional
Faktor situasional dalam hal ini sikap atau tindakan yang diputuskan oleh guru dalam menghadapi permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran yang dihadapi.
Dalam hal ini fokus siswa dalam proses pembelajaran bisa menjadi rujukan seperti yang di sampaikan oleh MDN;
“itu barangkali dari bagaimana cara kita sebagai guru mengambil hati dari siswa supaya dia bisa fokus dan memberikan arahan-arahan saya rasa itu arahan arahan
“itu barangkali dari bagaimana cara kita sebagai guru mengambil hati dari siswa supaya dia bisa fokus dan memberikan arahan-arahan saya rasa itu arahan arahan