• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber-sumber Penafsiran

BAB III BIOGRAFI WAHBAH AL-ZUHAILI DAN

B. Tafsīr al-Munīr

4. Sumber-sumber Penafsiran

Mengenai pembahasan kitab tafsir ini, Wahbah al-Zuhaili mengkompromikan antara sumber-sumber Tafsir bi al-Ma’tsūr dengan Tafsīr bi al-Ra’yi; yang berkaitan dengan Tafsīr bi al-Mat’sūr adalah riwayat-riwayat dari hadis Nabi dan perkataan para Salafush al-Shalih sedangkan Tafsīr bi al-Ra’yi adalah yang sejalan dengan kaidah-kaidah yang telah diakui, dengan menggunakan gaya bahasa dan ungkapan-ungkapan yang jelas, yaitu gaya bahasa kontemporer yang mudah dimengerti dan dipahami bagi masyarakat pada saat ini. Oleh karena itu, ia membagi ayat-ayat berdasarkan topik atau judul untuk memelihara pembahasan dan penjelasan di dalamnya. Yang terpenting diantaranya ada dua:44

Pertama, Penjelasan Nabawi yang shahih, dan perenungan secara mendalam tentang makna kosa kata al-Qur’an, kalimat, konteks ayat, sebab-sebab turunnya ayat, dan pendapat para mujtahid, ahli tafsir dan ahli hadits, serta para ulama yang tsiqah.

Kedua, Memilah dan memilih berbagai pendapat dalam buku-buku tafsir dengan berpedoman kepada maqāshid syariat yang mulia, yakni rahasia-rahasia dan tujuan-tujuan yang ingin direalisasikan dan dibangun oleh syariat.

Diantara sumber-sumber referensi yang digunakan Wahbah al-Zuhaili dalm kitab Tafsīr al-Munīr adalah sebagai berikut:

a. Dalam bidang akidah, akhlak, dan penjelasan keagungan Allah swt di alam semesta, merujuk kepada: Tafsīr al-Kabīr karya Fakhruddīn al-Rāzī, Tafsīr al-Bahr al-Muhīt karya Abū Hayyān al-Andalūsī, Rūh al-Ma’ānī karya al-Alūsī.

44 Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdat wa al-Syari’at wa Manhāj, XIII-XIV.

b. Dalam bidang terkait dengan penjelasan cerita-cerita atau kisah-kisah dalam al-Qur’an dan sejarah islam, ia merujuk kepada Tafsīr al-Khāzin dan al-Baghawī.

c. Dalam bidang terkait dengan penjelasan kaidah-kaidah atau hukum-hukum Fiqh, ia merujuk kepada beberapa literatur seperti al-Jāmi’ Fī Ahkām al-Qur’an karya al-Qurtubī, Ahkām Qur’ān karya Ibn ‘Arabī, Ahkām Qur’an karya al-Jaṣṣās, Tafsīr al-Qur’an al-‘Ażīm karya Ibnu Katsīr.

d. Dalam bidang kebahasaan, ia merujuk kepada al-Kassyāf karya al-Zamakhsyārī.

e. Dalam bidang Qira’at, ia merujuk kepada Tafsīr al-Nasafī.

f. Dalam bidang sains dan teori-teori Ilmu alam, ia merujuk kepada al-Jawāhir karya Tantāwī Jauharī, dan masih banyak yang lainnya.

Wahbah bin Mustafā al-Zuhaili adalah seorang ulama fikih dan ulama tafsir kontemporer periangkat dunia. Pemikiran tafsir dan fikihnya menyebar keseluruh dunia Islam melalui karya-karyanya. Wahbah bin Mustafā al-Zuhaili mulai belajar al-Qur’an dan memulai sekolah ibtidāiyyah di kampung halamannya, dan mengakhiri pendidikannya dengan meraih gelar doktor dalam bidang Syarī’ah di Universitas al-Azhar, Kairo pada tahun 1382 H / 1963 M.

Satu catatan penting bahwa, syaikh Wahbah al-Zuhaili senantiasa menduduki rangking teratas pada semua jenjang pendidikannya.

Menurutnya, rahasia kesuksesannya dalam belajar terletak pada kesungguhannya menekuni setiap pembelajaran yang dijalaninya dan menjauhkan diri dari segala hal yang menggangu belajarnya. Maka dari itu

ia memikili banyak guru serta menjadi guru terhadap murid-muridnya dalam bidang fiqh dan tafsir.

Syaikh Wahbah al-Zuhaili sangat produktif dalam menulis, mayoritas kitab menyangkut fikih dan ushul al-Fiqh. Tetapi, ia juga menulis kitab tafsir sampai enam belas jilid yaitu kitab Tafsīr al-Munīr kitab tafsir ini sangat lah terkenal hingga diterjemahkannya kedalam beberapa bahasa di berbagai Negara termasuk Indonesia. Hal ini menyebabkan Syaikh Wahbah al-Zuhaili juga layak disebut sebagai ahli tafsir.

39 BAB IV

ANALISIS PENAFSIRAN WAHBAH AL-ZUHAILI DALAM Q.S AL-MUMTAHANAH (60): 8-9 DAN RELEVANSI

PENAFSIRANNYA DALAM WACANA TOLERANSI

A. Pendekatan Linguistik

Analisis linguistik memiliki peran yang sangat penting dalam memahami kandungan isi al-Qur’an sebagaimana diketahui bahwa satu kata dari al-Qur’an dapat memiliki makna yang beranekaragam hal ini diantara yang menyebabkan perbedaan penafsiran, pemahaman, hingga ragam praktek keagamaan. Bahkan, sekian banyak corak tafsir sastra yang disajikan oleh para mufasir.

Keunggulan tafsir al-Munīr karya Wahbah al-Zuhaili ini tersaji dari analisis linguistik secara tersetruktur disetiap pengelompokan ayatnya mulai dari analisis makna leksikal, balagah, ilmu bayan, dan ilmu bād’i hal ini tentu dapat menjadikan penafsiran secara utuh dan komprehensif. oleh karenanya, analisis bahasa mulai dari pembentukan kata, susunan kalimatnya, hingga balagahnya merupakan suatu keniscayaan bagi mufasir dalam menafsirkan al-Qur’an.

Dalam surat al-Mumtahanah ayat 8-9 langkah pertama yang ditempuh oleh Wahbah al-Zuhaili adalah mengemukakan struktur tata bahasa dalam ayat 8, yakni, badal Isytimāl45

45 Dalam gramatika bahasa arab yang biasa disebut dengan ilmu Nahwu ada empat jenis badal yang pertama, Badal Muṭhābiq (Badal yang Mubdal Minhu merupakan Badal itu sendiri), kedua, Badal al-Ba’dhu min kulli (Badal yang merupakan bagian dari Mubdal minhu-nya), ketiga, Badal Isytimāl (Badal yang merupakan bagian dari Mubdal minhu-Nya, namun dalam urusan maknawi), keempat, Badal mubayyan (Badal keliru atau salah jadi Badal Mubayyan ini hadir atas dasar kesalahan si pembicara).

م ه ي ل ا ا ٓ و ط س ق ت و م ه و ُّر ب ت ن ا yang merupakan kata pengganti sebelumnya yakni, م ك و ل تا ق ي م ل ن ي ذَّلا, ia pun menafsirkan kata

ا ٓ و ط س ق ت و

(berbuat baiklah) padahal makna awalnya tidak demikian asal katanya adalah

– طسقا

طسقي

artinya Adil 46 penafsiran semacam ini sangat mengesankan, bahwa

interaksi dengan non-Muslim tidak hanya keadilan dalam menetapkan hukuman saja tapi juga mencangkup jenis semua kebaikan. Dari sisi bahasa saja, ayat ini dapat dipahami sebagai pijakan dasar bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi beragama.

Selain sisi tata bahasa (‘ilmu al-Nahwu), Wahbah al-Zuhaili juga menyoroti sisi balagahnya dalam hal ini ia menjelaskan tentang ṭibāq al-salbi, yakni, berkumpulnya dua makna yang berlawanan dalam satu

Dalam penafsiran al-Qur’an sisi balagah juga penting dijelaskan karena dengannya akan banyak diketahui sisi keindahan struktur kata-katanya, dimana tidak ada yang menandingi keindahan al-Qur’an sekalipun seorang sastrawan yang sangat ahli dalam bidang sastra.

46 Ibrahim Mustafa dkk, Mu’jam al-Wasīth, (Mesir: Maktabah Asy-Syuruq ad-dauliyyah, 2011), 734.

47 ‘Alī Jarīm dan Musthafa Amin, Balagah Wadhiah Bayān wa al-Ma’ānī wa al-Bad’ī ,(Mesir: Dār al-Ma’arif, 1957), 280

Hal lain, yang disajikan Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya adalah penjelasan beberapa kosakata yang dapat mempermudah para pengkaji dan para pembacanya dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an, penulis menganggapnya sebagai tafsir singkat atau kata kunci untuk masuk menuju gerbang pemahaman yang lebih mendalam. Sebagai misal, ia menafsikan kata

ا و ر ها ظ و

dengan “usaha dan saling tolong menolong sebagaimana kaum Musyrikin Mekkah yang berusaha mengeluarkan kaum Mukmin Mekkah dan sebagiannya ada yang menolong orang-orang Mukmin yang terusir”.48 Melihat dari sisi penjelasan kosa kata tersebut Wahbah al-Zuhaili hendak memberikan pesan bahwa tidak semua orang-orang kafir (non-muslim) itu memusuhi orang-orang-orang-orang Islam dan intimidasi yang dilakukan kaum Musyrikin Mekkah pada saat itu bukan disebabkan oleh faktor agama tapi oleh faktor-faktor lainnya. Jika demikian, agama bukanlah faktor utama konflik antara muslim dan non-muslim.

Langkah pendekatan bahasa sebagai pendahuluan dalam menafsirkan al-Qur’an ini tidak hanya ditempuh oleh Wahbah al-Zuhaili tapi juga oleh ulama kontempoler lainnya. Seperti Alī al-ṣhabuni dengan karya tafsirnya Shafwat Attafasīr, Ahmad Mustafa al-Maraghi dengan karya tafsirnya Tafsīr Marāghī, Muhammad Quraish Shihab dengan karya tafsirnya al-Miṣhbāh, dan ulama-ulama tafsir lainnya.

B. Sebab Turunnya ayat

Islam membangun interaksi beda agama atas dasar komunikasi damai.

Dalam Q.S al-Mumtahanah (60) : 8, pembangunan relasi harmonis dan keadilan terhadap orang lain harus selalu diupayakan selama ia yang berbeda agama tadi berbuat baik kepada umat Islam. Perang boleh

48 Wahbah Zuhaili, Tafsīr Munīr fī ‘Aqīdah wa Syarī’ah wa al-Manhaj, Jilid 14, cet I (Damaskus: Dār al-Fikr, 2009), 510

dilaksanakan ketika umat Islam diperangi dan kebebasan beragama dihambat.

Sebab turunya ayat ini merespons sensitivitas interaksi ibu dan anak yang berbeda agama. Ada seorang ibu yang bernama Qathīlah binti

‘Abdul al-‘Uzzā. Ia adalah janda yang ditalak Abū Bakar pada masa Jahiliah. Qathīlah adalah seorang non-muslim. Qathaīlah datang membawa hadiah, samin (nasi arab) dan keju untuk anaknya yang bernama Asma’. Namun, Asma’ tidak menerima, bahkan tidak mempersilahkan ibunya masuk rumah. Kemudian, Asma’ bertanya kepada Nabi SAW. Lewat perantara ‘Āisyah, turunlah ayat tersebut yaitu surat al-Mumtahanah (60) ayat 8. Barulah kemudian Asma’ menerima hadiah dan mempersilahkan ibunya masuk rumah.49

Adapun yang melatarbelakangi turunya ayat ini Wahbah al-Zuhaili berpijak pada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim :

ي ف ة ك ر ش م ي ه و ي م أ َّي ل ع ت م د ق ت لا ق ٍر ك ب ي ب أ ت ن ب ءا م س أ ن ع هي ب أ ن ع ل ع َّاللّٰ ىَّل ص َّاللّٰ لو س ر ت ي ت ف ت سا ف م ه د ها ع ذ إ ٍش ي ر ق د ه ع ا ي ت ل ق ف مَّل س و ه ي

كَّم أ ي ل ص م ع ن لا ق ي م أ ل ص أ ف أ ة ب غا ر ي ه و ي م أ َّي ل ع ت م د ق َّاللّٰ لو س ر )ملسم و يراخبلا هاور(

“Dari Asma’ binti Abu Bakar ia berkata; (Ketika terjadi gencatan senjata dengan kaum Quraisy) ibuku mendatangiku yang ketika itu masih musyrik. Lalu aku meminta pendapat Rasulullah SAW, saya bertanya,

“Wahai Rasulullah ibuku mendatangiku karena rindu padaku. Bolehkah aku menjalin silaturahmi dengan ibuku?” Beliau menjawab: “ya, sambunglah silaturahmi dengan ibumu.” (H.R al-Bukhari Muslim).

Dari riwayat di atas kita dapat menyimak sikap nabi memperlakukan orang non-muslim secara santun terlebih kepada kedua orang tua, bahkan dalam al-Qur’an dapat perintah seorang anak wajib berbakti kepada kedua

49 Imam Taufiq, Al-Qur’an Bukan Kitab Teror Membangun Perdamaian Berbasis Al-Qur’an (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2016), 200-201.

orang tuanya meskipun kedua orang tuanya non-muslim selagi tidak berkaitan dengan akidah.

م ل ع ه ب ك ل س ي ل ا م ي ب ك ر ش ت ل كا د ها ج ن إ و ۖ اًن س ح ه ي د لا و ب نا س ن لإا ا ن يَّص و و ا م ب م ك ئ ب ن أ ف م ك ع ج ر م َّي ل إ ۚ ا م ه ع ط ت لا ف نو ل م ع ت م ت ن ك

”Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-ku-lah kembalimu.

Lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS.

al-‘Ankabūt [29] : 8).

ۖ ا م ه ع ط ت لا ف م ل ع ه ب ك ل س ي ل ا م ي ب ك ر ش ت ن أ ى ل ع كا د ها ج ن إ و ع بَّتا و ۖ اًفو ر ع م ا ي نُّدلا ي ف ا م ه ب حا ص و م ك ع ج ر م َّي ل إ َّم ث ۚ َّي ل إ با ن أ ن م لي ب س

نو ل م ع ت م ت ن ك ا م ب م ك ئ ب ن أ ف

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

(QS. Lukmān [31] : 15).

Kedua ayat ini hubungannya dengan riwayat di atas menunjukan pentingnya toleransi dan anjuran hidup yang harmonis antar pemeluk agama. Keduanya juga menjelaskan bahwa dalam hal akidah seorang anak dilarang untuk mentaati ibu bapaknya, jika mereka memerintahkan untuk menyekutukan Allah SWT, yang dia sendiri memang tidak mengetahui bahwa Allah mempunyai sekutu, karena memang tidak ada sekutu baginya. Selanjutnya Allah SWT memerintahkan agar seorang anak tetap bersikap baik kepada kedua ibu bapaknya dalam urusan dunia.

Seperti menghormati, menyenangkan hati dan mengucapkan kata-kata yang baik kepada keduanya.

C. Munasabah Ayat

Langkah pertama dalam menggali makna al-Qur’an adalah dengan mencari penafsirannya di ayat lain karena Pada dasarnya al-Qur’an itu antara satu ayat dengan ayat lain saling memberikan penafsiran, ini yang dinamai dengan munasabah ayat. Pengetahuan tentang munasabah atau hubungan antara ayat-ayat atau antar surat-surat itu bukan tauqifi (tidak dapat diganggu gugat karena telah ditetapkan oleh Rasul) tetapi didasarkan pada ijtihad seorang mufassir dan tingkat penghayatannya terhadap kemukjizatan al-Qur’an. Tidak semua mufassir menyajikan pembahasan munasabah ayat di kitab-kitab tafsirnya hanya sebagian saja termasuk dianataranya adalah Wahbah al-Zuhaili, M Quraish Shihab Ali al-ṣhabuni dan ulama-ulama tafsir lainnya.

Munasabah ayat adalah keserasian ayat-ayat al-Qur’an sehingga seolah-olah merupakan suatu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi.

Adapun munasabah ayat ini dalam tafsir Kementrian Agama yaitu pada ayat-ayat sebelumnya Allah memerintahkan kaum Muslimin menjadikan Ibrahim sebagai teladan, ketika ia tidak mau bekerjasama dengan kaumnya yang ingkar kepada Allah. Dalam ayat ini diterangkan sikap orang-orang yang beriman terhadap orang-orang kafir yang tidak memusuhi kaum Muslimin, bahkan mereka mengulurkan tangan persaudaraan dan hubungan baik, maka hal ini harus disambut baik pula oleh kaum Muslimin.50

Dalam surat al-Mumtahanah ayat 8-9 ini Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat sebelumya yakni surat al-Mumtahanah ayat 1-3 melarang untuk bersahabat dekat dengan orang-orang kafir,

50 Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi Yang Disempurnakan), jilid 10, cet. I (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), 96.

memerintahkan untuk memutus tali persahabatan dengan mereka dan memberi kabar kepada orang-orang mukminin bahwa Allah maha kuasa untuk merubah kondisi orang-orang musyrikin dari kekafiran menuju keimanan. Selanjutnya ia menghubungkannya dengan ayat setelahnya yakni surat al-Mumtahanah ayat 8-9 bahwa, Allah swt memberikan keringanan untuk bersahabat dan menjalin ikatan yang baik dengan orang-orang kafir yang tidak memerangi orang-orang-orang-orang muslim dan tidak mengusir orang-orang muslim dari negeri-negerinya51. Jadi, dari sini kita dapat memahami pentingnya keterkaitan ayat satu sama lain dimana surat Mumtahanah ayat 1 sampai 3 bersifat umum, Allah berfirman di dalam al-Qur’an surat al-Mumtahanah (60): 1-3: sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih

51 Wahbah Zuhaili, Tafsīr Munīr fī ‘Aqīdah wa Syarī’ah wa al-Manhaj, Jilid 14, cet I (Damaskus: Dār al-Fikr, 2009), 135.

mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. 2. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. 3. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Mumtahanah [60]: 1-3)

.

Surat ini dibuka dengan seruan kepada orang-orang yang beriman agar tidak mengambil musuh-musuh Allah sebagai penolong dan teman, dan agar orang-orang yang beriman tidak menampakkan kepada musuh-musuh Allah kecintaan dan kasih sayang, dan agar jangan mempercayai mereka, dimana kalian menyampaikan kabar-kabar tentang Rasul serta orang-orang beriman, yang itu semua tidak semestinya dikabarkan kepada musuh-musuh Allah.

Ayat-ayat yang ditafsirkan semacam ini termasuk dalam katagori penafsiran secara ‘Ām (umum) Dalam kajian Ushul al-Fiqh ayat-ayat yang bersifat ‘Ām52 (umum) masih memerlukan penjelasan ayat-ayat yang mengkhususkannya, surat al-Mumtahanah ayat 1 sampai 3 bersifat umum dengan melarang menjadikan orang kafir sebagai teman tanpa terkecuali sementara dalam surat al-Mumtahanah ayat 8 sampai 9 tidak demikian, akan tetapi hanya orang-orang kafir yang mendzolimi kaum Muslimin saja lah yang tidak boleh dijadikan teman dekat. Maka dari sini kita bisa memahami pentingnya munasabah ayat.

52 Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan ‘Ām yaitu lafadz yang menurut arti bahasanya menunjukan atas mencangkup dan menghabiskan semua satu-satuan yang ada di dalam lafadz itu dengan tanpa menghitung ukuran tertentu dari satuan-satuan itu.

Ataupun pengertian ‘Ām secara umum ialah lafadz yang menunjukan pengertian yang meliputi seluruh objek-objeknya. (lihat Abdul Wahab Khalaf, ‘Ilmu Ushul al-Fiqh, 181).

Sementara Khas menurut Abdul Wahab Khalaf adalah lafadz yang digunakan untuk menunjukan satu orang tertentu atau pengertian Khas secara umum ialah sesuatu yang tidak mencapai sekaligus dua atau lebih tanpa batas.(lihat Abdul Wahab Khalaf,

‘Ilmu Ushul al-Fiqh, 187).

D. Pendekatan Tematik

Tafsir tematik atau yang biasa disebut tafsir Maudhu’ī adalah mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang sama, yang sama-sama membahas topik/judul/tema tertentu dengan menertibkannya sebisa mungkin sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya. Kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungannya dengan ayat lain serta mengistimbat hukum.53

Sedangkan menurut Zahir bin Awadh, Tafsir Maudhu’i adalah suatu metode tafsir yang berupaya menghimpun ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai surat dan yang berkaitan pula dengan persoalan atau tema yang ditetapkan sebelumnya, kemudian membahas dan menganalisa kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi suatu kesatuan yang utuh.

Dalam konteks memahami hubungan muslim dan non-muslim sangat diperlukan pendekatan tematik agar penafsiran yang dihasilkan menjadi komprehensif dan berdampak pada praktek beragama yang inklusif.

Dalam hal ini, Quraish Shihab menuturkan bahwa Islam tidak mungkin melarang bertetangga dan membantu non-muslim yang bersifat baik dan objektif, bahkan kerja sama dengan non-muslim dalam kebaikan merupakan anjuran al-Qur’an. Dalam pendekatan tematik ini Quraish Shihab menyajikan ayat lain tentang anjuran berbuat baik kepada nonmuslim dalam Q.S al-Māidah(5): 2.54 Allah berfirman:

ى ل ع او ن وا ع ت لَ و ۖ ى و قَّتلا و ر ب لا ى ل ع او ن وا ع ت و ۖ َّاللّٰ او قَّتا و ۚ نا و د ع لا و م ث لإا

با ق ع لا دي د ش َّاللّٰ َّن إ

53 Abdul Djalal, Urgensi Tafsir Maudhu’i (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), 83-84.

54 M. Quraish Shihab, Islam Yang Salah Dipahami Menepis Prasangka Mengikis Kekeliruan, (Tangerang: Lentera Hati, 2018), 360-361.

“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. al-Māidah[5]: 2).

Dalam banyak riwayat yang shahih Nabi saw, Nabi juga pernah dibantu oleh non-muslim diantaranya saat hijrah dari mekkah ke madinah bersama Abu Bakar ra. Beliau membawa Abdullah Ibnu Uraiqith yang non-muslim untuk menjadi penunjuk jalan.

Demikian juga dalam perang Khaibar yang terjadi dua tahun setelah perang Badr, beliau bekerja sama dengan orang-orang Yahudi dari suku Qainuqah, sebagaimana beliau bekerjasama dengan Shafwan bin Umayah yang Musyrik pada perang Hunain pada abad ke-8 Hijriyah. Jika demikian maka kalau kita menggabungkan larangan dan praktik Nabi saw. Maka kita dapat berkesimpulan bahwa kerja sama tidak dilarang selama tidak merugikan kaum Muslimin dan tidak ada hubungannya dengan akidah.

Dalam pandangan ulama sunni, petunjuk Nabi saw dalam kehidupan bermasyarakat/kebijakan politik tidak selalu harus diikuti karena ia berkaitan dengan kemaslahatan umum.

Wahbah al-Zuhaili juga berpendapat terkait Interaksi Sosial dengan non-muslim bahwa Allah tidak melarang berbuat baik dan berlaku adil, kepada orang-orang non-muslim yang menjaga hubungan baik dan tidak mendzalimi kaum Muslimin. Seperti wanita dan orang-orang tua dari kalangan mereka beragam kebaikan seperti, menyambung pertemanan, memberi manfaat kepada tetangga, memberi manfaat kepada tamu dan lain sebagainya. Allah juga tidak melarang kepada orang-orang muslim untuk berlaku adil seperti, memenuhi kebutuhan hak-hak orang non-muslim, memenuhi janji, menjalankan amanah, dan lain sebagainya.55

55 Wahbah Zuhaili, Tafsīr Munīr fī ‘Aqīdah wa Syarī’ah wa al-Manhaj, Jilid 14, cet I (Damaskus: Dār al-Fikr, 2009), 136.

Dalam pendekatan tematik ini, Wahbah al-Zuhaili tidak banyak menampilkan ayat-ayat tematik. Dalam pembahasan hubungan muslim dan non-muslim dalam interaksi sosial ini, ia hanya menampilkan satu ayat saja yakni surat al-Māidah (5): 51, Allah berfirman:

هُّي أ ا ي ءا ي ل و أ م ه ض ع ب ۘ ءا ي ل و أ ى را صَّنلا و دو ه ي لا او ذ خَّت ت لَ او ن مآ ني ذَّلا ا

ني م لاَّظلا م و ق لا ي د ه ي لَ َّاللّٰ َّن إ ۗ م ه ن م هَّن إ ف م ك ن م م هَّل و ت ي ن م و ۚ ٍض ع ب

“Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. al-Māidah [5]: 51).

Setelah Wahbah al-Zuhaili menjelaskan mengenai batasan-batasan pergaulan muslim dengan non-muslim ia juga melarang untuk menjadikan orang-orang kafir (non-muslim) sebagai pemimpin orang-orang yang beriman.

Memaksakan untuk berfokus kepada penafsiran tunggal adalah salah satu faktor pemicu terjadinya keretakan interaksi sosial antara muslim dan non-muslim dan ini akibat tidak menggunakan penafsiran yang komprehensif seperti pendekatan tematik, munasabatul ayat, asbab al-Nuzul dan kurangnya pemaknaan yang leksikal. Wahbah al-Zuhaili melalui tafsirnya telah menyajikan tahapan penafsiran yang komprehensif.

Sehingga dengan sumbangsih penafsirannya interaksi sosial muslim dan non-muslim akan semakin hangat dan harmonis. Maka dari sini kita dapat memahami pentingnya pendekatan tematik.

E. Pendekatan Hukum

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hukum memiliki beberapa pengertian:

1. Peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah

2. Undang-undang, peraturan, dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat

3. Patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam dan sebagainya) yang tertentu

4. Keputusan (pertimbangan) yang diterapkan oleh hakim (dalam pengadilan)56

Bila melihat pengertian hukum dalam kamus KBBI ini dapat

Bila melihat pengertian hukum dalam kamus KBBI ini dapat

Dokumen terkait