HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Faktor Sumberdaya
2. Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam melakukan suatu bentuk usaha. Sumberdaya manusia disektor pertanian mempunyai peluang besar dalam menyerap tenaga kerja. Pertanian merupakan sektor yang padat karya dan sangat fleksibel dalam menyerap tenaga kerja yang ada. Perkebunan penghasil tanaman minyak atsiri termasuk kedalam salah satu usaha dalam sektor pertanian yang cukup banyak dalam menyerap tenaga kerja, sebagian besar perkebunan tanaman atsiri yang ada merupakan perkebunan rakyat. Perkebunan rakyat umumnya masih dilakukan dengan sederhana dan menitik beratkan kepada sistem padat karya daripada padat modal. Faktor sumberdaya manusia yang terlibat dalam rantai nilai agroindustri minyak atsiri yaitu petani tanaman atsiri, pengumpul tanaman atsiri, penyuling, pengepul, eksportir.
Perkebunan tanaman atsiri secara umum lebih akomodatif terhadap tenaga kerja yang tersedia dikawasan pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perkebunan tanaman atsiri menjawab permasalahan tenaga kerja yang bertempat tinggal di sekitar perkebunan. Namun selain dapat menjawab permasalahan tenaga kerja, hal ini dapat menjadi permasalahan bagi kondisi mutu minyak atsiri. Salah
98 satu permasalahan agroindustri minyak atsiri Indonesia yaitu berkisar pada petani dan penyuling.
Perkebunan tanaman penghasil minyak atsiri dapat menyerap tenaga kerja yang cukup membantu dalam memecahkan permasalahan tenaga kerja. Seperti pada satu jenis minyak atsiri yaitu minyak akar wangi, pada bidang budidaya tanaman akar wangi dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak yakni sejak pengolahan tanah sampai ke pegangkutan hasil panen untuk dijual dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 471 orang per Ha untuk akar wangi yang ditanam secara monokultur dan menyerap tenaga kerja sebanyak 774 orang per Ha untuk tanaman akar wangi yang ditanam secara polikultur. Hal ini berarti dengan luas 3200 Ha dapat menyerap tenaga kerja sejumlah 6.029-9.907 orang per tahun.
Jumlah ini belum termasuk dengan tenaga kerja di sektor pengolahan atau penyulingan.
Tanaman penghasil minyak atsiri di Indonesia sebagian besar masih diusahakan oleh petani dengan menggunakan benih asalan, teknologi yang sederhana dan sarana produksi yang minimal, oleh karena itu produksi maupun produkstivitas serta mutu minyak yang dihasilkan masih rendah. Kegiatan pemanenan dan penanganan pasca panen belum dilakukan secara baik dan benar.
Berdasarkan kenyataan tersebut maka dilakukan upaya pembinaan kepada petani agar menerapkan teknologi pasca panen yang baik dan benar berbasis Good Handling Practies (GHP) dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip Good Agricultural Practices (GAP). Upaya pembinaan kepada petani dilakukan oleh pemerintah melalui direktorat jenderal perkebunan kementerian pertanian pada
99 subdit tanaman rempah dan penyegar dengan mengeluarkan pedoman-pedoman yang mendukung berkembangnya minyak atsiri Indonesia. Diantara pedoman tersebut yaitu pedoman teknis peralatan dan penanganan pasca panen tanaman perkebunan, pedoman teknis pemberdayaan pekebun tanaman rempah dan penyegar.
Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam upaya mendukung pengembngan agroindustri minyak atsiri serta daya saing minyak atsiri Indonesia di pasar internasional. Berdasarkan data BPS tahun 2013 diketahui bahwa tenaga kerja di sub sektor perkebunan memiliki nilai sebesar 11.778,567 jiwa, yang merupakan sub sektor dengan angka penyerapan tenaga kerja tertinggi ke tiga setelah sub sektor tanaman pangan dan tanaman hortkultura. Banyaknya jumlah tenaga kerja pada sub sektor perkebunan belum sepenuhnya ditunjang dengan kualitas sumberdaya manusia yang baik. Kondisi pelaku agibisnis saat ini terutama pada usahatani dan sub sektor perkebunan lebih dari 70% merupakan tanaman Sekolah Dasar (SD) atau tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Hal tersebut berdampak negatif pada tingkat kemampuan dalam mengadopsi dan menerima teknologi yang diberikan. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah menghambat upaya inovasi iptek dan rekayasa sosial, mekanisme intermediasi iptek atau inovasi yang mampu menjembatani interaksi kapasitas penyedia teknologi dengan kebutuhan pengguna. Sementara itu peran inovasi terhadap peningkatan daya saing sangat penting. Penerapan inovasi pertanian yang ramah lingkungan, selain meningkatkan kuantitas produksi juga mampu meningkatkan kualitas hasil secara signifikan. Melalui aplikasi inovasi,
100 efisiensi proses produksi dapat ditingkatkan, proses pemasaran dapat diperlancar dan diperluas.
Lemahnya SDM petani dan kurangnya penumbuhan serta pengembangan kelembagaan petani maka kementerian pertanian mengupayakan suatu model pemberdayaan masyarakat perkebunan yang terprogram dan utuh serta berkesinambungan melalui suatu sistem kearifan lokal. Salah satu model pemberdayaan petani dan kelembagaan yang dikembangkan adalah melalui Sistem Kebersamaan Ekonomi (SKE) berdasarkan manajemen kemitraan.
Sistem Kebersamaan Ekonomi (SKE) merupakan suatu sistem dalam pemberdayaan petani dan kelembagaan yang dilaksanakan berdasarkan manajemen kemitraan atau dalam suasana penuh persahabatan. Dalam proses pemberdayaan petani melalui SKE terdapat beberapa tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan dalam tahap persiapan yaitu 1)sosialisasi, 2)penyiapan tim asistensi pusat dan daerah, 3) survei awal dengan Rapid Rural Apprasial (RRA), 4) melakukan kegiatan Participatory Rural Apprasil (PRA), dan 5) menyususn program pemberdayaan petani. Kegiatan pada tahap pelaksanaan yaitu 1) sosialisasi, 2) pelatihan fasilitator daerah, 3) pelatihan petani, 4) pendampingan, dan 5) asistensi. Tahapan evaluasi adalah mengevaluasi seluruh proses pemberdayaan petani.
Upaya pembinaan kepada penyuling dilakukan oleh pemerintah melalui Dewan Atsiri Indonesia (DAI) dengan mengeluarkan pedoman-pedoman Good Manufacturing Practices (GMP). Diantaranya yang telah disusun oleh Dewan
101 Atsiri Indonesia (DAI) yaitu pedoman GMP minyak nilam, GMP minyak cengkeh, GMP minyak pala, dan GMP minyak serai wangi.
Penyerapan tenaga kerja pada industri minyak atsiri di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ketahun seiring dengan peningkatan nilai output, nilai tambah, dan jumlah unit usaha. Peningkatan jumlah tenaga kerja industri minyak atsiri bersadarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yakni sebesar 43,8%, sedangkan peningkatan jumlah unit usaha sebesar 9,01%. Berikut merupakan tabel perkembangan industri minyak atsiri berdasarkan KBLI.
Tabel 37. Perkembangan Industri Minyak Atsiri Bersadarkan KBLI
Sumber : Kementerian Perindustrian, 2016