• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sesuai dengan pasal 153 ayat 4 Kompilasi Hukum Islam (KHI)

perhitungan Awal Masa „iddah dimulai sejak penetapan oleh Pengadilan

Agama yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Penetapan yang dimaksud pasal tersebut adalah penetapan perceraian. Perceraian yang diakui di Indonesia adalah perceraian yang sesuai dengan pasal 115 Kompilasi Hukum Islam (KHI), yaitu perceraian yang dilakukan dihadapan sidang Pengadilan Agama. Jadi perceraian dalam bentuk apapun yang dilakukan diluar persidangan dianggap tidak pernah ada atau dengan kata lain tidak sah.

Hal Ini menyebabkan „iddah dihitung berdasarkan perceraian yang dilakukan

di depan sidang Pengadilan Agama. Sehingga secara hakikat perkawinan putus sejak penetapan didepan pesidangan. Namun dalam pasal 153 ayat (4) KHI „iddah dihitung sejak penetapan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Pasal ini menunjukan bahwa perceraian terjadi secara formal setelah

mempunyai kekuatan hukum.Jika demikian terdapat awal masa „iddah secara

hakikat dan secara formal yang menyebabkan selesainyapun akan berbeda.

Menjadi permasalah jika laki-laki ketika merujuk istrinya pada saat „iddah

belum habis. Apabila itu terjadi maka ruju‟ dapat dikatakan secara hakikat tidak sah namun secara formal sah.

Dalam peraturan perundang-undangan terdapat asas lex specialis derogate

lex generalis yang artinya peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus mengesampingkan peraturan perundangan yang bersifat umum. Berdasar asas tersebut maka pasal yang mengatur perceraian bersifat formal yang dipakai,

karena secara khusus pasal ini mengatur waktu jatuhnya talak yang dipakai

dalam perhitungan masa „iddah. Yang dimaksud mempunyai kekuatan hukum

tetap adalah penetepan yang setelah 14 hari dan tidak terdapat upaya hukum jika keduanya hadir atau 14 hari setelah pemberitahuan kepada pihak yang tidak hadir jika salah satu pihak tidak hadir. Jika ada upaya hukum terhadap penetapan perceraian maka penetapan tersebut belum berkekuatan hukum sehingga kedudukan mereka masih suami istri yang sah . Hak dan kewajiban mereka selama belum jatuh penetapan berkekuatan hukum tetap masih sebagai suami istri. Dan apabila penikahan tetap putus pada penetapan upaya hukum

berikutnya maka „iddah dimulai sejak penetapan tersebut memiliki kekuatan

hukum tetap. Sebagai bukti perceraian Pengadilan Agama mengeluarkan akta cerai.

Dalam bagian isi akta cerai terdapat dua tanggal, tanggal atas dan tanggal bawah. Tanggal atas adalah hari dimana suatu penetapan mempunyai kekuatan hukum, sedangkan tanggal bawah adalah hari dimana jatuhnya putusan. Selisih hari tanggal atas dan bawah antara akta cerai satu dengan akta cerai lain berbeda-beda. Ini disebabkan karena adanya ketidakhadiran dari salah

satu pihak yang berperkara ketika pembacaan putusan atau tergantung pembacaan ikrar talak. Yang menyebabkan awal durasi pengajuan upaya banding diundur, menunggu pemberitahuan kepada pihak yang tidak hadir.

Dilihat dari cara mengajukannya, perceraian di Pengadilan Agama terbagi menjadi dua bentuk yakni cerai talak dan cerai gugat. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 114 Kompilasi Hukum Islam (KHI) yakni:

“Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena

talak ataupun berdasarkan gugatan perceraian.”

Cerai talak adalah perceraian yang diajukan oleh suami ke pengadilan. Dalam prosedur dan prinsip pengajuan cerai talak, masih kental doktrin fiqh yaitu bahwa cerai itu merupakan hak mutlak suami. Cerai talak hanya berlaku bagi mereka yang beragama islam dan diajukan oleh pihak suami. Cerai talak adalah istilah yang khusus digunakaan dilingkunagan Pengadilan Agama agar dapat membedakan para pihak yang mengajukan cerai. Dalam perkara cerai talak pihak yang mengajukan adalah pihak suami sedangkaan cerai gugat yang mengajukan adalah pihak istri.

„Iddah bagi janda yang putus perkawinannya karena perceraian menurut peraturan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 153 ayat 4 dihitung sejak penetapan Pengadilan Agama yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Sebenarnya perkawinan pada hakikatnya putus ketika pembacaan putusan Pengadilan Agama. Hal tersebut juga dikuatkan dalam pasal 115 Kompilasi Hukum Islam (KHI) bahwa:

“Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil

mendamaikan kedua belah pihak.”

Maka yang dipakai dalam menetukan awal masa „iddah adalah pasal 153

ayat (4) Kompilasi Hukum Islam (KHI). Pasal tersebut secara khusus

mengatur tentang dimulainya masa „iddah sedangkan pasal 114 Kompilasi

Hukum Islam (KHI) mengatur secara umum perceraian harus dilakukan di Pengadilan. Suatu penetapan dapat dikatakan memiliki kekuatan hukum tetap setelah 14 hari penetapan dibacakan dan tidak ada upaya hukum baik berupa banding, peninjauan kembali atau kasasi jika keduanya hadir atau 14 hari setelah pemberitahuan kepada pihak yang tidak hadir. Apabila sebelum penetapan mempunyai kekuatan hukum tetap, dilakukan upaya hukum dan

pada upaya hukum tersebut pernikahan tetap putus maka „iddah dihitung sejak

penetapan upaya hukum yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

Untuk penggunaan tanggal bawah dalam penentuan awal „iddah di KUA

Sumowono sudah sesuai secara Fiqh selama „iddah-nya cukup. Sedangkan

dilihat dari ketentuan dalam pasal 153 ayat 4 Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan pasal 115 sangatlah tidak sesuai. Sebagaimana dijelaskan oleh kepala KUA Kecamatan Tuntang dengan kaidah majemuk bertingkat. Tanggal akta cerai yang dipakai KUA Kecamatan Tuntang dalam menetapkan awal masa

„iddah adalah memakai tanggal atas. Dasar KUA memakai tanggal atas adalah merujuk pada kaidah kalimat majemuk bertingkat bahasa Indonesia dalam

kalimat dari tanggal bawah. Anak kalimat berfungsi sebagai penjelas kepala kalimat. Maka inti dari kalimat majemuk dalam akta cerai adalah tanggal atas. Tanggal yang tercantum dalam induk kalimat adalah tanggal terjadinya perceraian sekaligus tanggal akta cerai. Sedangkan tanggal yang tercentum dalam anak kalimat adalah tanggal putusan atau penetapan yang digunakan sebagai dasar pernyataan telah tejadi perceraian.sehingga dapat disimpulkan bahwa perceraian terjadi saat akta cerai keluar. Sehingga menurut hemat

penulis penggunaan tanggal atas dalam penentuan awal masa „iddah lebih

aman karena tidak akan ada banding.

Adanya perbedaan dalam penentuan awal masa „iddah maka timbul

perbedaan dalam berbagai permasalahan sebagai berikut:

1. KUA Sumowono

a. „Iddah sudah habis dikarenakan awal „iddah di KUA Sumowono lebih awal.

b. Tidak boleh berhubungan badan karena „iddah sudah habis

c. Sudah diperbolehkan menikah lagi karena‟iddah sudah habis

2. KUA Tuntang

a. „Iddah belum habis malah bisa saja belum menyandang „iddah

karena Awal „iddah di KUA Tuntang lebih lama dibandingkan

KUA Kecamatan Sumowono. Sedangkan di KUA Sumowono

b. Masih boleh berhubungan badan karena, selama suatu penetapan belum mempunyai kekuatan hukum tetap maka hubungan antara pemohon dan termohon masih sebagai suami istri.

c. Belum diperbolehkan menikah lagi karena „iddah belum

selesai/habis, bisa juga belum menyandang „iddah.

Dari perbedaan diatas menunjukkan bahwa belum adanya kejelasan

mengenai tata aturan yang baku dalam menetapan awal masa „iddah.

Pengadilan Agama sendiri tidak mempunyai wewenang dalam hal tersebut, begitu juga KUA Sumowono. Dari hasil wawancara kepada kepala KUA Sumowono mengemukakan bahwa KUA Sumowono juga

tidak memiliki wewenang dalam hal menetapkan awal masa „iddah.

Menurut rois (2013:39) berdasarkan wawancara dengan Drs. H. Machmud, SH selaku hakim Pengadilan Agama Salatiga menyatakan

bahwa dalam masalah „iddah, Pengadilan Agama hanya berwenang

memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara perceraian. Dalam beberapa kasus yang terjadi sering kali KUA Sumowono menggunakan

tanggal bawah dalam menetapkan awal „iddah. Hal itu dikarenakan

adanya permintaan dari calon pengantin yang ingin segera dinikahkan. Sebelum melakukan penikahan maka maka seseorang harus mendaftar di KUA wilayah tersebut dengan beberapa persyaratan dari kedua calon mempelai. Dan selebihnya adalah kebijakan KUA sebagai pelaksanakan tugas pokok dan fungsi kantor Kementerian Agama dalam wilayah kecamatan berdasarkan kebijakan kepala kantor wilayah Kementerian

Agama Provinsi dan kebijakan kepala kantor Kementerian Agama kabupaten dan peraturan perundang-undangaan. Dalam menentukan awal

masa „iddah menurut pasal 153 ayat 4 Kompilasi Hukum Islam (KHI)

yaitu:

“Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dimulai sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang mempunyai kekuatan hukum tetap, sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian

suami”.

Dalam pasal tersebut menerangkan bahwa untuk menentukan awal masa

„iddah adalah menggunakan tanggal putusan Pengadilan Agama yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Sehingga dari situ penulis dapat menyimpulkan bahwa yang mengeluarkan akta cerai adalah Pengadilan Agama, selanjutnya KUA adalah hanya sebagai pelaksana dalam

menentukan „iddah dengan dasar dari tanggal penetapan yang

berkekuatan hukum tetap yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama. Namun karena belum adanya tata aturan yang pasti dalam mengatur secara khusus mengenai tanggal yang mana yang berkekuatan hukum tetap maka boleh-boleh saja KUA Sumowono menggunakan tanggal

bawah dalam menentukan awal masa „iddah karena dalam Fiqh awal

„iddah dihitung saat suami mengeluarkan kata-kata talak.

Namun dari sisi lain ketika ada dalam cerai talak maka sah-sah saja memakai tanggal bawah, namun ketika cerai gugat maka perlu diketahui

ُِۡإَٗ

َف بٍَََِِْٖۡب َابَقِش ٌُۡخۡفِخ

ْاُ٘ثَعۡبٱ

ِِٔيَٕۡأ ٍِِّۡ ب ََٗنَد

ۦ

ُِإ ٓبَِٖيَٕۡأ ٍِِّۡ ب ََٗنَدَٗ

ِقِّفٌَُ٘ ب ٗذََٰي ۡصِإ ٓاَذٌِشٌُ

َُّللَّٱ

َُِّإ ٞۗٓبٍََََُْٖۡب

ََّللَّٱ

ا ٗشٍِبَخ بحًٍَِيَع َُبَم

Artinya:“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa perceraian dalam cerai gugat harus diputus di depan hakim Pengadilan Agama.

Mari kita sejajarkan dengan pasal 115 Kompilasi Hukum Islam (KHI) bahwa:

“Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama

setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan

kedua belah pihak.”

Maka dapat diambil pengertian bahwa putusnya perceraian dalam cerai gugat hanya bisa di lakukan di Pengadilan Agama. Dan Untuk mengetahui

kapan „iddah-nya maka bisa dilihat dalam pasal 123 Kompilasi Hukum Islam

(KHI) bahwa:

“Perceraian itu terjadi terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan Pengadilan Agama.”

Dari beberapa keterangan diatas menyatakan bahwa perceraian harus di putus di depan hakim. Dan untuk cerai gugat maka harus diselesaikan di

Pengadilan Agama Dan penentuan awal „iddah-nyapun menggunakan penetapan yang berkekuatan hukum tetap yang juga dikeluarkan oleh Pengadilan Agama. Menurut Rois (2013: 39-47) hakim Pengadilan Agama Salatiga Mengutarakan bahwa tanggal yang berkekuatan hukum tetap adalah

tanggal atas. Maka dapat dikatakan bahwa penentuan awal masa „iddah

menggunakan tanggal bawah di KUA Sumowono tidak sesuai dengan

Kompilasi Hukum Islam (KHI), sedangkan penentuan awal masa „iddah di

KUA Tuntang sudah sesuai dengan peraturan yang ada di Kompilasi Hukum Islam (KHI). Namun dilihat dari segi kemaslahatanya tentu itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa setiap kepala masing- masing KUA pasti mempunyai kebijakan sendiri sendiri dalam mengambil tindakan demi memperoleh kemaslahatan bersama. Demi mencapai sesuatu yang maslahat dibutuhkan kebijakan walaupun terkadang serta merta tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

BAB V

KESIMPULAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya mengenai Penentuan Awal

Masa „Iddah yang melakukan Studi komparatif KUA Kecamatan Sumowono dan KUA Kecamatan Tuntang, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Sesuai dengan pasal 153 ayat 4 KHI perhitungan awal masa „iddah

dimulai sejak penetapan oleh Pengadilan Agama yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Penetapan yang dimaksud pasal tersebut adalah penetapan perceraian. Perceraian yang sah adalah perceraian yang sesuai dengan pasal 115 dan 123 Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Sebenarnaya pasal 153 belum memberikan kejelasan, namun dikuatkan pasal 115 dan pasal 123 Kompilasi Hukum Islam. Jadi perceraian dalam bentuk apapun yang dilakukan diluar persidangan dianggap tidak pernah ada atau dengan kata lain tidak sah dan perceraian dikatakan sah terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan Pengadilan Agama.

2. Dilihat dari ketentuan KHI pasal 153 yang dikuatkan dengan pasal 115 dan

pasal 123 Kompilasi Hukum Islam, penentuan awal masa „iddah dengan

menggunakan tanggal bawah dalam akta cerai sangatlah tidak sesuai. Dari

penelitian ini menunjukkan bahwa awal masa‟iddah menurut KUA

hukum tetap. KUA Tuntang dalam menentukan awal masa „iddah berdasar pada tanggal atas dalam akta cerai atau tanggal dimana jatuhnya putusan yang berkekuatan hukum tetap. Pedomanya adalah kaidah kalimat majemuk bertingkat dalam bahasa Indonesia yang ada pada akta cerai. Dan

penggunaan tanggal atas dalam penentuan awal masa „iddah lebih aman

karena sudah tidak akan ada banding. Sedangkan di KUA Sumowono

menggunakan Pedoman Fiqh, karena dalam fiqh awal „iddah dimulai saat

suami mengeluarkan kata-kata talak. Di dalam KHI sendiri masa awal

‟iddah dimulai setelah penetapan perceraian yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Putusan pengadilan dikatakan mempunyai kekuatan hukum tetap setelah 14 hari dari pembacaan putusan dan tidak ada banding. Pasal tersebut dikuatkan juga oleh pasal 115 dan 123 Kompilasi Hukim Islam

(KHI). Maka penggunaan tanggal bawah dalam menentukan „iddah di

KUA Kecamatan Sumowono tidak sesuai dengan peraturan di Kompilasi Hukum Islam (KHI). Sedangkan penggunaan tanggal atas dalam

menentukan awal masa „iddah di KUA Kecamatan Tuntang sudah sesuai

dengan peraturan di Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Mengenai siapa yang berwenang dalam menentukan awal masa „iddah

adalah bukanlah KUA melainkan Pengadilan Agama. Karena yang mengeluarkan akta cerai adalah Pengadilan Agama. Sehingga bisa disimpulkan bahwa yang menetapkan akta cerai adalah Pengadilan Agama dan dalam hal itu tentu KUA adalah hanya sebagai pelaksana dalam

menentukan „iddah dengan dasar dari tanggal penetapan yang berkekuatan hukum tetap dalam akta cerai yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama.

B. SARAN

Belum ada peraturan yang secara jelas mengatur mengenai penggunaan tanggal dalam akta cerai untuk menentukan kapan dimulainya

awal masa „iddah. Ada perbedaan pendapat mengenai tanggal mana yang

berkekuatan hukum tetap dan siapa yang berwenang dalam menentukan

awal „iddah. Misalnya KUA Tuntang yang memakai tanggal atas dalam

menentukan awal masa „iddah karena kepala KUA Tuntang berpendapat bahwa tanggal yang berkekuatan hukum tetap adalah tanggal atas. sedangkan KUA Sumowono menggunakan tanggal bawah dalam

menentukan awal masa „iddah.

Agar dalam penentuan masa „iddah ini dapat berjalan dengan lancar,

sesuai dengan aturan yang berlaku, maka perlu dilakukan hal sebagai berikut :

1. Lebih memikirkan banyak pertimbangan dalam menentukan awal

masa „iddah di KUA.

2. Perlu Undang-undang yang lebih jelas yang mengatur mengenai

penetapan awal masa „iddah supaya ada kejelasan mengenai mana

tanggal yang berkekuatan hukum tetap yang ada di dalam akta cerai. Sehingga instansi yang terkait tidak dengan mudah menyalahgunakan

3. Perlu dilakukan pembinaan/ sosialisasi kepada Instansi terkait dalam memahami Undang-undang yang berlaku di Indonesia.

4. Membuka seluas-luasnya kesempatan bagi semua orang khususnya

mahasiswa yang ingin melakukan penelitian, untuk dapat mengetahui

bagaimana penentuan awal masa „iddah, karena hal itu merupakan

Dokumen terkait