Setiap perintah Allah pasti memiliki tujuan, begitu juga dengan
„iddah. Tujuan diadakannya „iddah adalah sebagai berikut:
a. Untuk menunjukkan betapa pentingnya masalah perkawinan dalam
ajaran Islam. Perkawinan yang merupakan peristiwa amat penting dalam hidup manusia dan merupakan jalan yang sah untuk memenuhi hasrat naluriah hidup serta dalam waktu sama merupakan salah satu macam ibadah kepada Allah itu jangan sampai mudah diputuskan. Oleh karenanya perkawinan merupakan peristiwa dalam hidup manusia yang harus dilaksanakan dengan cara dewasa; dipikirkan sebelum dilaksanakan dan dipikirkan masak-masak pula apabila terpaksa harus bercerai.
b. Peristiwa perkawinan yang demikian penting dalam hidup manusia itu
harus diusahakan agar kekal. Dalam hal terpaksa terjadi perceraian pun
kekekalan perkawinan masih diinginkan. „Iddah diadakan untuk
memberi kesempatan suami isteri kembali lagi hidup berumah tangga, tanpa akad nikah baru.
c. Dalam perceraian karena ditinggal mati, „iddah diadakan untuk
menunjukkan rasa berkabung atas kematian suami bersama-sama dengan keluarga suami. Dalam hal ini factor psikologis yang menonjol.
d. Perceraian yang terjadi antara suami isteri yang pernah melakukan
rahim, untuk menjaga agar jangan sampai terjadi percampuran/ kekacauan neasab bagi anak yang dilahirkan ( Basyir, 1996: 86).
4. Macam dan Perhitungan ‘Iddah
Berdasarkan penjelasan tentang „iddah yang terdapat dalam nas al
Qur‟an maka para fuqaha dalam kitab-kitab fikih membagi „iddah menjadi
tiga yaitu berdasarkan masa haid atau suci, bilangan bulan dan dengan
melahirkan. Kalau dicermati penentuan „iddah itu sendiri sebenarnya
Berdasarkan penjelasan tentang „iddah yang terdapat dalam nas al- Qur‟an
maka para fuqaha dalam kitab-kitab fikih membagi „iddah menjadi tiga
yaitu berdasarkan masa haid atau suci, bilangan bulan dan dengan
melahirkan. Kalau dicermati penentuan „iddah itu sendiri sebenarnya.
disesuaikan dengan sebab putusnnya perkawinan, keadaan isteri dan akad perkawinan.
Sebab putusnya perkawinan dapat dibedakan karena kematian suami,
talaq bain sughra maupun kubra dan faskh (pembatalan) seperti
murtadnya suami atau khiyar bulug perempuan.
Keadaan isteri dapat dibedakan menjadi isteri yang sudah dicampuri atau belum, isteri masih mengalami haid atau belum bahkan sudah menopause, isteri dalam keadaan hamil atau tidak, isteri seorang yang merdeka atau dari hamba sahaya, dan isteri seorang muslim atau kitabiyah.
Sedangkan ditinjau dari jenis akad maka dapat dibagi menjadi akad shahih dan akad fasid.
Secara umum maka „iddah dapat dibedakan sebagai berikut :
1. „Iddah seorang isteri yang masih mengalami haid yaitu dengan tiga kali haid
2. „Iddah seorang isteri yang sudah tidak haid (menopause) yaitu tiga bulan
3. „Iddah seorang isteri yang ditinggal mati oleh suaminya adalah empat bulan sepuluh hari jika ia tidak dalam keadaan hamil
4. „Iddah seorang isteri yang hamil yaitu sampai melahirkan.
Adapun secara rinci pembagian „iddah dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ditinjau dari sebab-sebab putusnya perkawinan dan keadaan isteri
„iddah dibagi menjadi ke dalam beberapa macam. Masing-masing lama perhitungan masanya tersendiri.
a. „Iddah wafat / Cerai mati
Para ulama mazhab sepakat bahwa „iddah wanita yang ditinggal
mati suaminya, sedangkan dia tidak hamil adalah empat bulan sepuluh hari baik wanita tersebut sudah dewasa maupun masih anak- anak, dalam usia menopousa atau tidak, dan sudah dicampuri atau
belum.
Sementara itu jika putusnya perkawinan disebabkan karena
sampai melahirkan. Mayoritas ulama menurut berpendapat bahwa
masa „iddah perempuan tersebut adalah sampai melahirkan, meskipun
selisih waktu kematian suami hingga ia melahirkan hanya setengah bulan atau kurang dari empat bulan sepuluh hari. Sementara menurut
Malik dan Ibn „Abbas dan Ali bin Abi Talib masa „iddah perempuan
tersebut diambil waktu yang terlama dari dua jenis „iddah tersebut
apakah empat bulan sepuluh hari atau sampai melahirkan (Rusyd,
2006: 77)Ini didasarkan atas firman Allah yang berbunyi :
عَ عَععَ باْرعَ َّ نِهنِسُفاْ نعَ نِب عَ اْصَّبعَرعَ تَّ ي ًج عَواْزعَ عَناْوُرعَذعَي عَو اْمُكاْننِم عَناْ َّ فعَ عَ تُ ي عَ اْينِذَّا عَو
، ًراْ عَ َّو ضٍرُهاْشعَ
Artinya: “Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber‟iddah) empat bulan sepuluh hari.
(Departemen Agama, 2007: 38).
Yang demikian itu bila wanita tersebut betul-betul terbukti tidak hamil. Akan tetapi bila diduga hamil atau kemungkinan sedang hamil, maka dia harus menunggu sampai diamelahirkan anaknya atau diperoleh kepastian bahwa dia betil-betul tidak hamil. demikian pendapat mayoritas ulama mazhab (Mugniyyah, 1964: 196).
a. Belum dicampuri
Para ulama mazhab sepakat bahwa wanita yang di talak sebelum
Namun terdapat perbedaan pendapat pada wanita yang telah ber- khalwat namun belum dicampuri. Sebagian mengatakan wajib ber-
„iddah dan sebagian lain sebaliknya.
Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat, apabila suami telah berkhalwat dengannya tetapi tidak sampai dicampuri kemudian ditalak,
maka isteri tersebut wajib ber-„iddah. „Iddah-nya sama dengan isteri
yang telah dicampuri.
Imamiyah dan Syafi‟i berpendapat, khalawat tidak mengakibatkan apapun. Oleh karena itu perempuan yang telah berkhalwat namun
belum dicampuri tidak memiliki „iddah.
„Iddah bagi perempuan yang belum pernah digauli, dalam hal ini apabila seorang wanita dithalak oleh suaminya, padahal ia belum
pernah digauli sama sekali maka tidak ada „iddah bagi perempuan
yang dithalak tersebut (Sudarsono, 2010: 145). b. „Iddah wanita hamil
Bagi isteri yang dalam keadaan hamil, „iddah-nya adalah sampai melahirkan, meskipun waktu antara ditinggal mati dan melahirkan kurang dari empat bulan sepuluh hari. Demikian pendapat jumhur
fuqaha‟. Menurut pendapat sahabat „Ali bin Abi Thalib, apabila antara
kelahiran dan melahirkan kandungan kurang dari empat bulan sepuluh
hari. Jumhur fuqaha‟ berpegang kepada dalil Al Qur‟an Surat At
ُتَثََٰيَث َُُِّٖحَّذِعَف ٌُۡخۡبَح ۡسٱ ُِِإ ٌُۡنِآبَسِّّ ٍِِ ِضٍِذََۡىٱ ٍَِِ َِ ۡسِئٌَ ًِ ـََّٰٓىٱَٗ
َِ ۡعَضٌَ َُأ َُُِّٖيَجَأ ِهبََ ۡدَ ۡلِٱ ُجََٰىُْٗأَٗ َِٖۚ ۡضِذٌَ ٌَۡى ًِ ـََّٰٓىٱَٗ شُٖۡشَأ
ا ٗش ۡسٌُ ۦِِٓش ٍَۡأ ٍِِۡ ۥَُّٔى وَع ۡجٌَ َ َّللَّٱ ِقَّخٌَ ٍََِٗ ََُِّٖٖۚي ََۡد
Artimya: “Sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya” (Departemen Agama, 2007: 558).Terpisah dari ketentuan ayat 234 Surat Al-Baqarah, sedang
sahabat „Ali menggunakan dua ayat tersebut bersama-sama, untuk
lebih jelasnya, Al-Qur‟an Surat Al-Baqarah 234 menentukan: “Orang-
orang yang meninggal dunia diantara kamu dengan meninggalkan
isteri-isteri, hendaklah isteri-isteri itu menjalani masa „iddah selama
empat bulan sepuluh hari.” Al-Qur‟an surat At-Thalaq ayat 4
menentukan: “Isteri-isteri yang sedang hamil „iddahnya adalah sampai
melahirkan kandungan.”
Jumhur fuqaha‟ berpendapat bahwa dua buah ayat tersebut
masing-masing berdiri sendiri dengan ketentuan hukum yang dikandungnya. Sedang sahabat Ali memandang dua ayat itu berhubungan satu sama lain, isteri yang ditinggal mati suaminya harus
menjalani „iddah mana yang terpanjang antara empat bulan sepuluh hari atau melahirkan kandungannya.
c. Sudah dicampuri tidak dalam keadaan hamil
1) Masih haidh
Masa „iddah wanita yang ditalak setelah ia disetubuhi, jika ia
masih haid „iddah-nya adalah tiga kali haid/ quru‟ sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah 228:
ٖۚ ءُٓٗشُق َتَثََٰيَث َِِِّٖسُفَّأِب َِ ۡصَّبَشَخٌَ ُجََٰقَّيَطَُۡىٱَٗ
Artinya: “Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru‟”Kata quru‟ dalam ayat diatas bermakna haidh sesuai dengan
hadist yang diriwayatkan Aisyah bahwa Ummu Habibah pernah
mengalami istihadhah. Ia pun bertanya kepada Rasulullah tentang
persoalan itu. Lalu beliau memerintahkan Ummu Habibah untuk meninggalkan shalat di masa haidh-nya.
„Iddahtiga quru‟ yaitu bagi wanita yang telah mencapai usia
sembilan tahun, tidak hamil, bukan monopouse, dan telah
mengalami haidh. Menurut madzhab Maliki dan Syafi‟i gadis
yang belum layak (kuat) dicampuri tidak wajib menjalani „iddah, tetapi wajib bagi mereka yang sudah bisa dicampuri sekalipun belum berusia sembilan tahun. Sedangkan Imamiyah dan Hambali
berpendapat bahwa tidak ada kewajiban menjalani „iddah bagi
wanita yang belum berusia sembilan tahun sekalipun dia sudah kuat dicampuri.
Demikian pendapatnseluruh ulama mazhab Imamiyah, Maliki
dan Syafi‟i menginterpretasikan quru‟ dengan masa suci (tidak
haidh), sehingga bila wanita tersebut dicerai pada hari-hari terakhir masa sucinya, maka masa tersebut dihitung sebagai
bagian dari masa „iddah, yang kemudian disempurnakan dengan
dua masa suci sesudahnya
2) Tidak haidh
Jika istri yang disetubuhi itu tidak haid, baik karena usianya yang masih belia maupun karena ia telah menopouse, masa
„iddah-nya adalah tiga bulan.. Dasar perhitungannya adalah firman Allah surat At-Thalaq ayat 4:
ُتَثََٰيَث َُُِّٖحَّذِعَف ٌُۡخۡبَح ۡسٱ ُِِإ ٌُۡنِآبَسِّّ ٍِِ ِضٍِذََۡىٱ ٍَِِ َِ ۡسِئٌَ ًِ ـََّٰٓىٱَٗ
َِٖۚ ۡضِذٌَ ٌَۡى ًِ ـََّٰٓىٱَٗ شُٖۡشَأ
….
Artinya: dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu- ragu (tentang masa „iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.
d. „Iddah wanita yang ditalak dalam keadaan yang meragukan
Jika seorang wanita yang masih memiliki siklus menstruasi teratur tiba-tiba tidak lagi haid karena sebab-sebab yang tidak diketahui (bukan karena kehamamilan dan bukan karena menopousa), maka ia berada dalam keadan yang meragukan. Jika
ia ditalak atau ditinggal mati suaminya maka ia harus menuggu
selama 9 bulan kemudian menjalani masa „iddah selama 3 bulan.
dengan demikian masa „iddah-nya secara keseluruhan adalah
setahun
Dasar hukumya adalah ketetapan Umar Ibnul Khaththab,
“Wanita itu hendaknya menunggu selama 9 bulan. Jika tidak ada
tanda-tanda kehamilan selama itu, maka ia ber-„iddah selama 3
bulan. jadi seluruhnya adalah setahun” (Kamal, 2007: 259). Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu Abbas. demikian pula pendapat mazhab Malikiyyah dan Hanabilah.
5. Hikmah ‘Iddah
Ditetapkannya „iddah bagi isteri setelah putusnya perkawinan
mengandung hikmah, antara lain sebagai berikut:
1. „Iddah bagi isteri yang ditalak raj‟i oleh suaminya mengandung arti
memberi kesempatan secukupnya kepada bekas suami isteri itu untuk memikirkan, merenungkan dan memperbaiki diri dan pribadi masing- masing, memahami kekurangannya, mempertimbangkan kemaslahatan hidup bersama-sama dimasa selanjutnya, mengenang jasa dan mengenang kebaikan dari pihak yang satu terhadap pihak yang lain, mempertimbangkan nasib anak-anaknya, kesemuanya itu dianalisa dalam suasana hati yang tenang dan hati yang dingin. Dengan demikian masing-masing pihak berkesempatan luas untuk mempertimbangkan
kesemuanya itu dengan sebaik-baiknya kemudian bersepakat ruju‟ kembali sebagai suami isteri.
2. „Iddah bagi isteri yang ditalak bain oleh suaminya atau perceraian dengan keputusan pengadilan berfungsi antara lain untuk meyakinkan bersihnya kandungan isteri dari akibat hubungannya dengan suami, baik dengan menunggu beberapa kali suci/ haidh, bebrapa bulan tertentu, ayau melahirkan kandungannya, agar dengan demikian terpelihara kemurnian keturunan dan nasab anak yang dilahirkannya itu, tidak
tercampur dengan laki-laki lain. Juga „iddah member kesempatan kepada
bekas suami untuk kawin kembali dengan akad nikah yang baru dengan
bekas isterinya selama dalam masa „iddah tersebut jika itu dipandang
maslahat.„Iddah bagi isteri yang ditinggal mati suaminya adalah dalam
rangka berbela sungkawa dan sebagai tanda setia kepada suaminya yang dicintainya itu, menormalisir kegoncangan jiwa isteri akibat ditinggal
oleh kekasihnya itu. Dalam pada itu selama „iddah tersedia waktu yang
cukup dan dalam suasana tenang bagi isteri dan keluarga suami untuk menyelesaikan segala hak dan kewajiban yang bertalian dengan suaminya, merencanakan dan memikirkan secara matang nasib anak-
anak yang ditinggal mati itu. Ber-‟iddah akibat ditinggal mati suami
menjadi bukti kesetiaan isteri, sebab susah dan gundah hati itu memerlukan waktu untuk menjadi hilang dan pulih kembali. Oleh karena
yakni mencegah diri dari berpakian menyala, bermake up dan memakai wangi-wangian, sesuai dengan suasana berkabung dan tanda kesetiaan.
B. ‘Iddah Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI)
Kewajiban menjalani masa „iddah disebutkan di beberapa ayat dalam
Alquran dan juga dalam Hadis. Namun, penulis akan membahas pula
mengenai masa „iddah yang terdapat dalam KHI.Dalam KHI „iddah disebut
dengan waktu tunggu. Masa „iddah merupakan waktu tunggu yang dijalani
oleh seorang perempuan. Perempuan yang bercerai dari suaminya dalam bentuk apapun, cerai hidup atau mati, sedang hamil atau tidak, masih berada
dalam keadaan haid ataupun tidak, wajib menjalani masa „iddah(Syarifuddin,
2006: 304).
Konsep-konsep mengenai waktu tunggu yang terdapat pada KHI diambil dari fiqh. Berikut akan diterangkan tentang dasar hukum dan macam- macam serta perhitungan waktu tunggu menurut KHI.