• Tidak ada hasil yang ditemukan

Susu Formula

Dalam dokumen T E S I S. Oleh SUKAMTO / IKM (Halaman 47-56)

2. Untuk Ibu

2.4. Susu Formula

Susu Formula adalah produk yang diposisikan sebagai pengganti ASI, hanya jika ibu tidak memungkinkan secara medis untuk menyusui sendiri. Selain itu, tidak perlu khawatir bahwa ASI tidak bisa memenuhi segala kebutuhan bayi, terutama yang berumur 0-6 bulan (Kasminah, 2007). Susu Formula, selain terdiri dari susu sapi, juga memuat banyak unsur kimia yang tidak alami. Kandungan susu formula, meskipun tampak hebat melalui iklannya, sama sekali tidak akrab di perut bayi. Berbagai kandungan 'hebat' itu, sebenarnya hanya mencontek kandungan ASI. Tapi satu hal yang tak bisa dicontek, yaitu berbagai enzim yang sangat penting membantu perut

bayi mencerna apa yang masuk ke dalamnya. Sehebabt apapun cairan yang masuk, tanpa enzim-enzim ini hanya akan menjadi sampah di perut bayi.

Menurut publikasi World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) dalam rangka Pekan Asi se-Dunia 2006 menyatakan bahwa, kasus susu formula tercemar pernah ditemukan paling tidak di Amerika dan Belgia. Dalam pernyataannya WABA menyebutkan Enterobacter sakazakii memang berbahaya dan mematikan jika mencemari susu formula.

Resiko-resiko di atas menegaskan bahwa terkontaminasi atau tidak, susu formula bisa jadi merugikan apabila penggunaannya tidak tepat. Namun sangat disayangkan, hal ini justru luput disebutkan di tengah perdebatan pemerintah dan IPB. Penemuan tersebut hanya berhasil membuat masyarakat waspada pada kontaminasi susu formula saja dan tidak meluas pada kesadaran untuk tidak menggunakan susu formula secara tidak tepat. Penggunaan yang tidak tepat pada pemberian susu formula juga mengandung resiko-resiko di masa depan. Susu formula sebenarnya dapat saja digunakan pada kondisi tertentu ketika, ibu terinfeksi HIV, anak piatu sejak lahir dan tidak ada ibu susu (ibu yang menyusui anak orang lain), bayi memiliki masalah metabolisme atau kondisi-kondisi lain di mana bayi memang membutuhkan susu formula.

Isu pencemaran susu formula seharusnya bisa menjadi momentum untuk kembali pada pemberian ASI dan meningkatkan kampanye pemberian ASI dan ASI Eksklusif. Tidak sebaliknya di mana semua pihak terjebak pada semakin berlarutnya kontroversi yang akhirnya gagal menemukan signifikansinya.

lviii 2.4.1. Bahaya Pemberian Susu Formula dan Makanan Buatan

1. Pencemaran

Makanan buatan sering tercemar bakteria, terlebih bila ibu menggunakan botol dan tidak merebusnya setiap selesai memberi makan. Bakteria tumbuh sangat cepat pada makanan buatan. Bakteria dapat berbahaya bagi bayi sebelum susu tercium basi.

2. Infeksi

Susu sapi tidak mengandung sel darah putih hidup dan antibodi, untuk melindungi tubuh terhadap infeksi. Bayi yang diberi makanan buatan lebih sering sakit diare dan infeksi saluran pernafasan.

3. Pemborosan

Ibu dari keluarga ekonomi lemah mungkin tidak mempu membeli cukup susu untuk bayinya. Mereka mungkin memberikan dalam jumlah lebih sedikit dan rnungkin menaruh sedikit susu atau bubuk susu ke dalam botol. Sebagai akibatnya, bayi yang diberi susu botol sering kelaparan.

4. Kekurangan vitamin

Susu sapi tidak mengandung vitamin yang cukup untuk bayi.

5. Kekurangan zat besi

Zat besi dari susu sapi tidak diserap sempurna seperti zat besi dari ASI. Bayi yang diberi makanan buatan bisa terkena anemia karena kekurangan zat besi.

6. Terlalu banyak garam

Susu sapi mengandung garam terlalu banyak yang kadang-kadang menyebabkan hipernatremia (terlalu banyak garam dalam tubuh) dan kejang, terutama bila anak terkena diare.

7. Terlalu banyak kalsium dan fosfat

Hal ini menyebabkan tetani yaitu kedutan dan kaku otot (kejang-kejang).

8. Lemak yang tidak cocok

Susu sapi mengandung lebih banyak asam lemak jenuh dibandingkan ASI, untuk pertumbuhan bayi yang sehat, diperlukan asam lemak tidak jenuh yang lebih banyak. Susu sapi tidak mengandung asam lenak esensial dan asam linoleat yang cukup, dan mungkin juga tidak mengandung kolesterol yang cukup bagi pertumbuhan otak. Susu skim kering tidak mengandung lemak, sehingga tidak mengandung cukup banyak energi.

9. Protein yang tidak cocok

Susu sapi mengandung terlalu banyak protein kasein. Kasein ini mengandung campuran asam amino yang tidak cocok dan sulit dikeluarkan oleh ginjal bayi yang belum sempuma. Tenaga kesehatan kadang-kadang mengajarkan ibu untuk mengencerkan susu sapi dengan air untuk mengurangi protein total. Tetapi, susu yang diencerkan tidak mengandung asam amino esensial sistin dan taurin yang cukup, yang diperlukan bagi pertumbuhan otak bayi.

10. Tidak bisa dicerna

Susu sapi lebih sulit dicerna karena tidak mengandung enzim lipase untuk mencerna lemak. Juga karena kasein membentuk gumpalan susu tebal yang sulit

lx dicerna. Karena susu sapi lambat dicema maka lebih lama untuk mengisi lambung bayi daripada ASI. Akibatnya, bayi tidak cepat merasa lapar. Bayi yang diberikan susu sapi bisa menderita sembelit, yaitu tinja menjadi lebih tebal dan keras.

11. Alergi

Bayi yang diberi susu sapi telalu dini mungkin menderita lebih banyak masalah alergi, misalnya asma dan eksim.

12. Biaya pemberian makanan buatan

Beberapa hal yang harus diketahui oleh para ibu, yang biasanya diberikan oleh pendidik atau penyuluh kesehatan, adalah :

a. Biaya memberikan makanan pada bayi dengan susu yang cukup

b. Bahaya memberikan susu lebih sedikit pada bayi untuk mencoba menghemat c. Pentingnya mengikuti petunjuk pada label bila para ibu lmenggunakan susu

bubuk.

2.5. Pemasaran Susu Formula 2.5.1. Pengertian pemasaran

Kegiatan pemasaran berbeda dengan penjualan, transaksi ataupun perdagangan. Menurut American Marketing Association dalam (Nurbaiti, 2004), mengartikan pemasaran sebagai berikut: pemasaran adalah pelaksanaan dunia usaha yang mengaarahkan arus barang-barang dan jasa-jasa dari produsen ke konsumen atau pihak pemakai. Defenisi ini hanya menekankan aspek distribusi ketimbang

kegiatan pemasaran. Sedangkan fungsi-fungsi lain tidak diperlihatkan, sehingga kita tidak memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap tentang pemasaran. Sedangkan definisi lain, dikemukakan oleh Philip Kotler dalam bukunya Marketing Management Analysis, Planning, and Control, mengartikan pemasaran secara lebih luas, yaitu:

Pemasaran adalah: Suatu proses sosial, dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan, dan mereka inginkan dengan menciptakan dan mempertahankan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya.

Selama ini terlihat gejala semakin banyak perusahaan memilih pasar sasaran yang akan dituju, keadaan ini dikarenakan mereka menyadari bahwa pada dasarnya mereka tidak dapat melayani seluruh pelanggan dalam pasar tersebut. Terlalu banyaknya pelanggan, sangat berpencar dan tersebar serta bervariatif dalam tuntutan kebutuhan dan keinginannya. Jadi arti dari pasar sasaran adalah: Sebuah pasar terdiri dari pelanggan potensial dengan kebutuhan alau keinginan tertentu yang mungkin maupun mampu untuk ambil bagian dalam jual beli, guna memuaskan kebutuhan atau keinginan tersebut.

Konsumen yang terlalu heterogen itulah maka perusahaan perlu mengkelompokkan pasar menjadi segmen-segmen pasar, lalu memilih dan menetapkan segmen pasar tertentu sebagai sasaran. Dengan adanya hal ini, maka perusahaan terbantu untuk mengidentifikasi peluang pasar dengan lebih baik, dengan demikian perusahaan dapat mengembangkan produk yang tepat, dapat menentuan saluran distribusi dan periklanan yang sesuai dan efisien serta mampu menyesuaikan harga bagi barang atau jasa yang ditawarkan bagi setiap target pasar.

lxii Pergeseran pola perilaku Ibu dari pemberian ASI ke susu formula tidak terlepas dari gencarnya promosi yang dilakukan produsen susu formula baik melalui media massa maupun institusi pelayanan kesehatan. (Siswono, 2001) sehingga jumlah ibu (prevalensi) dan lamanya menyusui di banyak bagian dunia telah menunjukkan penurunan. Dengan dikenalnya teknologi modern dan diserapnya gaya hidup baru yang dapat ditayangkan/diterbitkan membuat makna yang melekat dalam praktik kebiasaan menyusui telah menunjukkan penurunan yang nyata dalam masyarakat. Akan tetapi, tanpa disadari pelayanan kesehatan (tenaga kesehatan yang mencakup dokter, bidan, perawat petugas gizi) sering berperan dalam penurunan tersebut, baik dalam kegagalan upaya mendukung dan mendorong ibu untuk menyusui maupun dalam memperkenalkan cara-cara yang mengganggu kelancaran dimulainya dan dimantapkannya menyusui. Contoh yang lazim ditemui adalah pemisahan perawatan ibu dari bayi yang baru dilahirkannya, memberikan kepada si bayi cairan glukosa dengan botol sebelum ASI keluar, dan secara teratur menganjurkan penggunaan pengganti ASI /susu formula (WHO, 1989).

Bentuk promosi PASI yang ada dalam masyarakat biasanya berbentuk sampel susu gratis yang diberikan kepada ibu menyusui. Kartu menuju sehat (KMS) bayi yang mencantumkan merk produk susu tertentu serta poster/kalender yang berisi pesan produk susu yang sengaja dipasang di dinding yang dapat dilihat (Siswono, 2001).

Berdasarkan hasil penelitian Nurcholish dalam Kasminah (2007) bersama Program Appropriate Technology in Health (PATH) di daerah Cirebon, Kediri,

Cianjur, Blitar tahun 2003 diketahui berbagai ”kenakalan” produsen susu formula dan makanan pendamping bayi, diantaranya promosi dalam berbagai bentuk kepada sarana kesehatan serta tenaga kesehatan, baik dokter maupun bidan untuk turut serta memasarkan produk mereka. Hal ini diperkuat lagi oleh hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Pa‟baeng- baeng Kecamatan Tamalate Makassar tahun 2006.

Pada penelitian ini presentase responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan tidak pernah mendapatkan promosi susu formula sebanyak 40 responden (83,3%), hal ini disebabkan karena ada beberapa responden yang mendapatkan produk susu formula tapi tidak diberikan pada bayinya saat baru dilahirkan malah mereka lebih memilih memberikan air putih, air tajin dan madu saat menunggu ASI mereka keluar karena menurut responden pemberian air putih, madu dan air tajin merupakan kebiasaan keluarga secara turun temurun dimana dapat menjadikan bayi berperilaku sopan, berkata-kata yang baik dan membersihkan hati si bayi hingga bayi besar nantinya.

Pada penelitian ini responden tidak mengetahui bahwa memberikan air putih, madu dan air tajin pada bayi sebelum ASI keluar bukan merupakan tindakan yang tepat karena tidak sesuai lagi dengan standar ASI eksklusif. Selain itu menurut responden susu formula tersebut sudah merupakan bagian dari administrasi pembayaran persalinan jadi harus diambil. Menurut Utami Roesli (2000) ASI eksklusif atau pemberian ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa

lxiv tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim.

2.6. Aturan Promosi Pemasaran Pengganti ASI (PASI) Butir-butir penting dalam kode internasional adalah :

1 Dilarang iklan produk susu (produk yang dipasarkan atau dinyatakan untuk pengganti ASI), botol dan dot.

2 Dilarang memberi sampel atau pasokan gratis atau harga diskon.

3 Dilarang promosi produk susu di atau melalui sarana kesehatan.

4 Dilarang kontak antara petugas promosi susu dengan ibu atau tenaga kesehatan yang digaji perusahaan untuk menghubungi dan memberikan nasehat pada ibu.

5 Label harus dalam bahasa yang dimengerti dan tidak menggunakan kata atau gambar yang mengidealkan makanan buatan pabrik.

6 Informasi kepada tenaga kesehatan harus ilmiah dan faktual.

7 Pemerintah harus menjamin tersedianya informasi yang objektif dan konsisten tentang makanan bayi/anak.

8 Semua informasi tentang makanan bayi buatan pabrik tersebut harus dengan jelas menerangkan manfaat ASI, mengingatkan biaya dan bahaya bila menggunkan makanan buatan.

9 Produk yang tidak cocok, misalnya susu kental manis dilarang dipromosikan untuk bayi.

10 Semua produk harus berkualitas tinggi dan memperhatikan kondisi iklim dan penyimpanan dari negara pengguna.

11 Dengan atau tanpa tindakan pemerintah, perusahaan dan distributor harus secara mandiri mentaati Kode Internasional.

Dalam dokumen T E S I S. Oleh SUKAMTO / IKM (Halaman 47-56)

Dokumen terkait