BAB II LANDASAN TEORI
D. Distorsi Pasar Menurut ekonomi Islam
1. Tadlish
Tadlis merupakan transaksi yang mengandung suatu hal yang tidak diketahui oleh satu pihak (Penipuan). Setiap transaksi dalam Islam harus didasarkan pada prinsip kerelaan antara kedua belah pihak (pedagang dan pembeli) mereka harus mempunyai informasi yang sama sehingga tidak ada pihak yang dicurigai atau ditipu. Kondisi ideal dalam pasar adalah apabila penjual dan pembeli mempunyai informasi yang sama tentang barang yang akan diperjualbelikan.
Apabila salah satu pihak tidak mempunyai informasi seperti yang dimiliki oleh pihak lain, maka salah satu pihak akan merasa dirugikan dan terjadinya kecurangan/penipuan.38
38Adiwarman A Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2012) hal 226
Dalam kitab suci Al-qur’an dengan tegas melarang semua transaksi bisnis yang mengandung unsur penipuan dalam segala bentuk terhadap pihak lain, Firman Allah SWT QS. Al-An’am Ayat : 152
َسْحَا َيِه ْيِتَّلاِب َّلِْا ِمْيِتَيْلا َلاَم ا ْوُب َرْقَت َلْ َو هتَح ُن
َي ى َغُلْب َوۚ ٗهَّدُشَا ْيِمْلا َو َلْيَكْلا اوُف ْوَا َلْ ِۚطْسِقْلاِب َنا َز
ْوَل َو ا ْوُلِدْعاَف ْمُتْلُق اَذِا َو ۚاَهَعْس ُو َّلِْا ااسْفَن ُفِ لَكُن اَذ َن اَك
َعِب َو ۚىٰب ْر ُق ِلٰذ ٖۗا ْوُف ْوَا ِ هاللّٰ ِدْه
هِب ْمُكىهص َو ْمُك
ََۙن ْو ُرَّكَذَت ْمُكَّلَعَل ١٥٢
Artinya:”dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu bebicara sejujurnya, sekalipun dia kerabat (mu) dan penuhilah janji allah demikianlah dia memerintahkan kepada mu agar kamu ingait.”
Didalam ekonomi islam terdapapat beberapa jenis-jenis tadlish:
a. Tadlis Kualitas
Tadlis kualitas yaitu penjual menyembunyikan cacat atau kualitas suatu barang yang buruk dan tidak diketahui oleh pembeli.39
Tadlish (penipuan) dalam kalitas termasuk juag menyembunyikan cacat atau kulaitas barang yan buruk yang tidak sesuai dengan yang di sepakati oleh penjul dan pembeli.
Contoh tadlish dalam kualitas adalah pada pasar penjualan computer bekas. Pedagang menjual hendphone denga kualita 80% dengan harga Rp 1.000.000. pada kenyataanya, tidak semua penjual menjual hendphone bekas dengan kualifikasi yag sama. Sebagian penjual menjual hendphone dengan kualifikasi yang lebih rendah, tetapi menjualnya dengan harga yang sama, yaitu Rp 1.000.000. pembeli tidak dapat membedakan mana hendphone dengan kualifikasi rendah mana kualifikasi yang tinggi,hanya penjual saja yang mengetahui dengan pasti kulifikasi hendphone tersebut.
Ekuilibrium kana terjadi bila penjual menjual hendphone kulitas buruk kepada pembeli yang melihat hendphone itu sebagai berkualitas buruk. Atau bila penjual menjual hendphone kulitas baik kepada pembeli yang melihat hendphone berkualitas baik. Dengan kata lain, hendphone kulitas buruk mempunyai pasar sendiri, dan hendphone berkualitas baik mempunyai pasar sendiri juga.
39 Adiwarman Azwar Karim , Ekonomi Mikro Islam ... hal 229
Itulah Rasulullah melarang penukaran satu sak kurma kelitas baiak dengan 2 sak kurma kualitas buruk. Kurma kualitas baik mempunyai pasarnya sendiri, kurma kulitas burung mempunyai pasarnya.
b. Tadlis Harga
Tadlis harga, yaitu menjual barang dengan harga yang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga yang berlaku di pasar karena ketidaktahuan penjual.
Tadlish (penipuan)dalam harga ini termasuk menjual barang dengan harga yang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar karena ketidak tahuan pembeli atau penjual.
Didalam fiqih di sebut ghaban.
Katakana lah seorang musafir dating dari Jakarta mengunakan pesawat, tiba di padang . ia kemudian menaiki taksi, namun tidak tahu harga pasaran taksi dari bandara ke bukit tinggi. Katakana pula, harga pasaran ongkos tasis untuk jarak itu adalah Rp50.000. sopir taksi menawarkan harga dengan Rp.100.000. tetelah melakukan tawar menawar mak di sepakatilah harga Rp 80.000. meskipun kedua belah pihak rela sama rela. Namun hal tersebut di larang Karen kerelaan musafir bkan lah kerelaan yang sebenarnya, ia rela dalam ke adaan tertipu.
Di zaman Rasulullah. Perdagangan seperti berikut ini juga di larang, seperti di riwayatkan oleh Abdullah Ibn Umar.”
Kami pernah keluar mencegat orang-orang yang datang membawa hasil panen merka dari luar kota, lalu kami membelinya dari mereka. Rasulullah. Meralang kami membelinya sampai nanti barang tersebut di bawa kw pasar.
c. Tadlis Dalam Penakaran (kuantitas)
Tadlis Dalam Penakaran, yaitu pembeli melakukan penipuan dalam penakaran suatu barang dengan cara melebihkan takaran.
Tadlish (Penipuan) dalam kuantitas termasuk juga kegitan menjual barang kuantitas sedikit dengan harga barang kuantitas banyak maupun sebailiknya. Misalnya menjual baju sebanyak satu container. Karenan juamlahnya banyak dan tidak mungkin menghitung satu persatu, penjual berusaha melakukan penipuan dengan mengurangi jumlah barang yang dikirim kepada pembambeli. Perlakuan penjual untuk tidak jujur di samping merugikan pihak penjual juga merugikan pihak pembeli. Apapun tindakan pembeli, penjual yang tidak jujur akan mengalami penurunan utility. Begitu juga dengan pembeli yang mengalami penurunan utility.
Praktik mengurangi timbangan danmengurangi takaran merupakan contoh klasik yang selalu digunakan untuk menerangkan penipuan kuantitas ini. Sedangkan kejahatan ini serin kali terjadi dan fenmena kecurangan dalam transksi berdagangan.
d. Tadlis Waktu Penyerahan.
Tadlis Waktu Penyerahan, yaitu penjual barang tidak menyerahkan barang yang telah di janjikan saat transaksi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Seperti juaga pada tadlish dalam kuantitas, kualitas, dan harga, tadlis dalam waktu penyerahan juga dilarang. Yang termasuk penipuan jenis ini adalah bila si penjual tahu persis iaya tidak akan dapat menyerahkan barang pada besok hari namum menjanjikan aka menyerahkan barang tersebut pada esok harinya walau konsekuensi tadlish dalam waktu penyeahan tidak berkaitan secara lansung dengan harga ataupun jumlah bang yang di transaksikan, namum masalah waktu adalah suatu yang sangat penting.40
2. Ba’i Najasy
Transaksi Ba’I Najasy diharamkan karena si penjual menyuruh orang lain memuji barangnya atau menawar dengan harga yang tinggi agar orang lain tertarik pula untuk membeli. Si penawar ini sendiri tidak bermaksud untuk benar-benar membeli barang tersebut, ia ingin menipu orang lain yang ingin benar-benar membeli. Sebelum orang ini telah mengadakan kesepakatan dengan penjual untuk membeli dengan harga tinggi pula dengan maksud untuk menipu. Akibatnya terjadi tingkat permintaan yang tercipta tidak dihasilkan secara alamiah.
40 Veithzal Rivai, Amiur Nuruddin, Faisar Ananda Arfa, Islamic Bussines and Economic Ethics hlm 147
3. Ihtikar
Ihtikar merupakan penimbunan barang, penimbunan barang ini merupakan halangan terbesar dalam pengaturan persaingan pasar dalam Islam. Hal tersebut dikarenakan pengaruhnya terhadap jumlah barang yang tersedia dari barang yang ditimbun, dimana beberapa pedagang memilih untuk menahan barang dagangannya dan tidak menjualnya karena menunggu naiknya harga. Perilaku ini mempunyai pengaruh negatif dalam fluktuasi kemampuan persediaan dan permintaan barang.41
Dalam perdagangan, menimbun barang merupakan penyebab terbesar dari terjadinya krisis ekonomi yang dialami oleh manusia sekarang, dimana beberapa negara kaya dan maju secara ekonomi memonopoli produksi dan perdagangan beberapa kebutuhan makan dan industri dunia dan sebagainya. Bahkan negara-negara tersebut memonopoli pembelian bahan baku dari negara yang terbelakang ekonominya dan memonopoli penjualan barang industri yang dibutuhkan oleh negara yang terbelakang ekonominya. Hal tersebut merupakan bahaya besar pada keadilan distribusi kekayaan dan pendapatan dalam tingkat dunia. Ekonomi Islam menetapkan adanya monopoli dengan cara melihat perilaku individu, produsen, dan penjual. Ketika ada barang yang ditahan yang membahayakan kepentingan umum, dengan tujuan menaikkan harga, maka hal tersebut adalah monopoli yang tidak diperbolehkan oleh Islam.
Suatu kegiatan dalam ihktikar apabila terdapat tiga unsur berikut :
41 Adiwarman A Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2012) hlm 222
1) Mengupayakan adanya kelangkaan barang, dengan cara menimbun barang.
2) Menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang sebelumnya.
3) Mengambil keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan keuntungan normal pada umumnya.
4. Tallaqi Rukban
Tallaqi Rukban adalah mencegat pedagang yang membawa barang dari tempat produksi sebelum sampai di pasar. Rasullulah melarang praktek perdagangan seperti ini dengan tujuan menghindari ketidaktahuan penjual dari daerah produsen akan harga barang yang berlaku di kota.
Rasullulah memerintahkan supply barang hendaknya langsung di bawa ke pasar sehingga penjual dan pembeli dapat mengambil manfaat dari adanya harga yang alamiah. Mencegah masuknya pedagang ke pasar kota dapat menimbulkan pasar tidak kompetitif. Gambaran pasar yang Islami adalah pasar yang didalamnya terdapat persaingan yang sehat yang dibingkai dengan nilai dan moralitas Islam yang terdiri dari norma yang berlaku untuk muslim dan norma yang berlaku untuk masyarakat umum seperti persaingan yang sehat, transparansi, kejujuran, keterbukaan dan keadilan.
Talaqi Rukban dilarang karena petani tidak memiliki informasi yang benar tentang harga di pasar.42
42 Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami . hlm 224
5. Taghrir
Taghrir berasal dari kata bahasa Arab yaitu Gharar merupakan suatu jual beli yang mengandung suatu hal ketidakjelasan atau ketidakpastian. gharar dan tadlis sama-sama dilarang karena keduanya mengandung informasi yang tidak jelas. Namun berbeda dengan tadlis, dimana ketidakjelasannya hanya dialami satu pihak yaitu pembeli saja atau penjual saja. Sedangkan dalam gharar, ketidakjelasannya dialami dua belah pihak, pembeli dan penjual sama-sama mengalami ketidakjelasan.43
Dalam Ekonomi Islam terdapat bermacam-macam Taghrir : a. Taghrir dalam Kuantitas
Taghrir dalam Kuantitas terjadi dalam sistem jual beli ijon, misalnya petani sepakat untuk menjual hasil panennya (beras denan kualitas A) kepada tengkulak dengan harga Rp. 75000. Padahal pada saat kesepakatan dilakukan, sawah si petani belum bisa di panen, dengan demikian, kesepakatan jual beli yang dilakukan tanpa menyebutkan spesifikasi mengenai berapa kuantitas yang dijual (berapa Kg, Kuintal) padahal harga sudah ditetapkan, dengan demikian, terjadi ketidakpastian menyangkut kuantitas barang yang di transaksikan.
b. Taghrir dalam Kualitas
Taghrir dalam Kuantitas adalah misalkan seseorang dalam menjual anak sapi yang masih dalam kandugan
43 Adiwarman A Karim, Ekonomi Mikro Islami hlm 236
induknya, penjual sepakat dengan menyerahkan anak sapi tersebut segera setelah anak sapi tersebut lahir, seharga Rp.
1000.000. dalam hal ini, baik si pemjual maupun si pembeli tidak dapat memastikan kondisi fisik anak sapi tersebut bila nanti sudah lahir. Apakah lahir normal ,cacat atau lahir dalam keadaan mati. Dengan demikian, terjadi ketidakpastian menyangkut barang yang di trasnsaksikan.
c. Taghrir dalam Harga
Taghrir dalam harga terjadi ketika, misalkan seseorang dalam menjual menyatakan bahwa ia akan menjual satu unit panci merk A seharga Rp. 10.000, bila di bayar tunai, atau 20.000, bila dibayar dengan kredit selama dua bulan, kemudian si pembeli menjawab “setuju”.
Ketidakpastian muncul karena adanya dua harga dalam satu akad. Tidak jelas harga mana yang berlaku, yang Rp.
10.000 atau yang 20.000. katakanlah ada pembeli yang membayar lunas pada bulan ke-3, berapa harga yang akan berlaku atau satu hari setelah penyerahan. Dalam kasus ini walaupun kualitas dan kuantitas barang yang sudah ditentukan, tetapi terjadi ketidakpastian dalam harga barang karena si penjual dan si pembeli tidak mensepakati satu harga dalam satu akad.
d. Taghrir dalam Waktu Penyerahan
Taghrir dalam Waktu Penyerahan adalah misalkan Andi kehilangan mobil Avanza. Rozi kebetulan belum lama ini ingin memiliki mobil Avanza seperti yang dimiliki oleh Andi, dan karena itu ia ingin membelinya. akhirnya andi dan Rozi membuat kesepakatan. Andi menjual mobil Avanza yang hilang tersebut kepada Rozi dengan harga Rp.70.000.000. harga pasar mobil Avanza adalah Rp.
150.000.000. mobil itu diserahkan ketika telah di temukan.
Dalam transaksi ini terjadi ketidakpastian menyangkut waktu penyerahan barang, karena barang yang dijual tidak diketahui keberadaannya.44
6. Tas’ir
Tas’ir merupakan salah satu praktek yang tidak diperbolehkan dalam syari’at islam. Pemerintah atau pun yang memilki otoritas ekonomi tidak memiliki hak dan wewenang untuk menentukan harga terhadap sebuah komoditas. Kecuali pemerintah telah menyediakan untuk para pedagang, jumlah yang cukup untuk dijual dengan menggunakan harga yang ditentukan, atau pemerintah melihat mendapati adanya kedzalimankedzaliman didalam sebuah pasar yang mengekibatkan rusaknya mepasar yang sehat.45
44 Adiwarman Azwar Karim, Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Mikro Islami..
hal.204
45 Syekh Abdurahman, Syekh abdul Aziz Bin Abbas, Syekh Shalih Al-Utsaimin, Syekh AlFurqan, Fiqh Jual Beli Panduan Praktis Bisnis Syariah . hlm 138
7. Maysir
Maysir berarti memperoleh sesuatu keuntungan dengan cara yang mudah tanpa harus keras atau menempuh dengan cara menempuh jalan yang susah payah akan tetapi mencari jalan pintas dengan harapan dapat mencapai apa yang dikehendakinya tanpa mempedulikan kerugian berbagai pihak baik kelompok maupun individu.
E. Kajian Terdahulu
Sejauh ini penulis menemukan beberapa skripsi yang juga berkaitan dengan karya tulis yang penulis buat, yakni skripsi yang ditulis oleh Farida Rahmawati (1602090094) mahasiswa IAIN METRO jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah angkatan tahun 2016 dan tamat pada tahun 2020. Judul skripsi yang ia tulis, yaitu Faktor-faktor Penyebab Pemotongan Timbangan Pada Jual Beli Sawit Perspektif hokum ekonomi syari’ah.
yang mana di dalamnya membahas tentang apa saja yang menyebabkan terjadinya pemotongan timbangan saat jual beli kelapa sawit.
Skripsi yang ditulis oleh Siska Dewi (1215051) mahasiswa angkatan 2015 yang tamat pada tahun 2019. Judul skripsi yang ia tulis, yaitu Pelaksanaan Penimbangan Dalam Jual Beli Buah Kelapa Sawit Melalui Peron Ditinjau Menurut Hukum Positif Dan Hukum Islam. Yang mana di dalamnya membahas tentang bagaimana pelaksanaan penimbangan dalam jual beli kelapa sawit melaui peron dan bagaimana tinjauan Hukum Positif dan Hukum Islam terhadap pelaksanaan penimbangan jual beli buah kelapa sawit.
Skripsi yang ditulis oleh Rahmat Hidayat (3214143) mahasiswa IAIN Bukittinggi jurusan Ekonomi Islam angkatan 2014 yang tamat pada tahun 2018. Judul skripsi yang ia tulis, yaitu Distorsi Pasar Kelapa Sawit Akibat Perilaku pedagang. Yang mana di dalam nya ada terjadi penyimpang (Distorsi Pasar) di dalam pasar kelapa sawit akibat pedagang yang mengakibat kan petani kelapa sawit menjadi di rugikan oleh pedangang.
Perbedan dari ketiga penelitian di atas dengan penelitian yang penulis teliti lebih mebahas pada sering kali terjadi petadi merasa rugi karena hasil panen kelapa sawit apakah ada terjadi penipuan terhadap hasil panen kelapa sawit koleh pedagang (toke). Jadi yang penulis bahas dalam skripsi ini adalah pola prilaku pedagang dalam hal menimbang secara umum apakah yang mereka sudah melakun penimbangan secara akurat sesuai dengan penimbangan setiap melakukan transaksi jual beli kelapa sawit.
Agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai denga aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional objektif, serta dapat dipertanggung jawabkan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian Jenis
Penelitian yang penulis lakukan adalah dengan metode field research atau penelitian lapangan yang bersifat kualitatif yaitu mengumpulkan dan menggambarkan data yang diperoleh di lapangan dari hasil penelitian dan mengamati semua yang berkaitan dengan masalah yang terdapat di dalam penelitian ini.46 Disini penulis akan menggambarkan fenomena yang terjadi di masyarakat Jorong IV Koto Kecamatan Kinali yaitu praktek tadlish kuantitas jual beli kelapa sawit.
B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Dalam pelaksanan penelitian ini dilakukan di daerah jorong IV Koto, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.
Waktu penelitian akan di laksanankan pada bulan Mai 2021 sampai dengan skipsi ini di siding munaqasahkan.
C. Sumber Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diambil dari lapangan (enumerator) yang di peroleh melalui pengamatan,47 wawancara dan kuesioner. Data primer dalam penelitian ini adalah pernyataan lansung yang di tanyakan kepada pedagang (toke) dan petani mengenai masalah yang dibahas yaitu
46 Lexy J. Maleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995, cet. Ke-5), hlm. 3
47 Danang Sunyoto, Teori, Kuesioner dan Analisis Data Untuk Pemasaran dan Prilaku Konsumen, (Yogyakarta: GrahaI lmu, 2013), hlm. 153
analisis praktek tadlish kuantitas jual beli kelapa sawit dan kebijakan untuk mengatasi.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh penelitian secara tidak lansung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh intansi terkait atau pihak lain).48 Adapun data sekunder dalam penelitian ini adalah laporan-laporan dokumentasi yang berkaitan dengan penelitian yang ada pada praktek tadlish kuantitas jual beli kelapa sawit di Jorang IV Koto, Kecamatan Kinali Pasaman Barat.
D. Informan
Informan adalah orang yang dijadikan sebagai tempat untuk mendapatkan yang berkenaan dengan permasalahan penulis pecahkan.49 Informan adalah orang yang dijadikan tempat untuk memperoleh informasi tentang situasi dan kondisi praktek tadlish kuantitas jual beli kelapa sawit di Jorong IV Koto, Kecamatan Kinali.
Menurut peneliti, informan dalam penelitian ini adalah:
1. Informan kunci (key informan) adalah merka yang mengetahuhi dan memiliki informasi pokok yang di perlukan penelitian ini.
Informan kunci(key informan) dalam penelitian ini adalah 2 orang
48 Danang Sunyoto, Teori, Kuesioner dan Analisis Data Untuk Pemasaran dan Prilaku Konsumen, (Yogyakarta: GrahaI lmu, 2013), 155-156
49 0 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm.
215
pedagang/toke kelapa sawit yang berada di Jorong IV Koto, kecamatan kinali, Kabupaten Pasaman Barat.
2. Informan utama yaitu mereka yang terlibat lansuang dalam interaksi social yang teliti. Dalam penelitian ini yang berperan sebagai informan utama adalah seluruh petani yang berjumlah 20 petani yang memiliki jumlah perkebunan lebih 1 hektar yang kisaran panen 1ton lebih yang berada di Jorong IV Koto, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang penulis terapkan dalam pengumpualan data adalah sebagai berikut:
1. Dokumentasi
Dokumentasi adalah seorang peneliti mencari sekumpulan berkas yakni mencari data mengenai hal-hal berupa catatan, trankip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda dan sebagainya yang berhubungan dengan seputaran perkebunan kelapa sawit yang berada di daerah Jorong IV Koto, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.
2. Wawancara (interview)
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang lain. Pelaksanaanya dapat dilakukan secara lansung behdapan dengan yang diwawancarai, tetapi dapat juga secara tidak lansung seperti memberiakan daftar pertanyaan untuk di jawab pada kesempatan
lain.50 Wawancara dilakukan dalam hal ini yaitu wawancara terbuka, yaitu wawancara yang dilakukan dengan informan/narasumber yang menjadi subjek sesuai dengan lembar pedoman wawancara di Jorong IV Koto Kecamatan Kinali. Wawancara atau Tanya jawab yang penulis lakukan yaitu kepada toke (pedagang) dan petani kelapa sawit.
F. Metode Analisa Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori menjabarkan dalam unit unit melakukan sintesa, ke dalam pola mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.51 Adapun metode analisis data yang dimaksud dalam model ini yaitu; data reduction, data display dan consulusion drawing /verification. Ada pun penjelasannya sebagai berikut:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Secara singkat dapat diartikan memilih hal yang mendukung hasil penelitian ini. Sehingga data memberikan gambaran yang jelas terhadap informasi-informasi yang berkaitan dengan pokok permasalahan.
2. Data Display (Penyajian Data)
50 Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 51
51 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif, dan R &D, (Bandung:
alfabeta,2012).hal 224
Selanjutnya setelah data direduksi dan memberikan gambaran yang jelas. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dengan uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori dan sejenisnya, tetapi yang paling sering digunakan adalah teks .
3. Conchuction Drawing/Verification (Kesimpulan/Verifikasi) Langkah terakhir dalam analisis mode ini adalah penarikan kesimpulan yang bersifat sementara akan dapat berubah jika tidak di temukan bukti pendukung yang kuat dalam proses pengumpulan data berikutnya. Simpulan dari penelitian kualitatifdapat berubah jika tidak ditemukan data pendukung dalam proses pengumpulan data berikutnya. Simpulan berupa temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang dulunya belum jerlas sehingga dapat diperjelas setelah dilakukan penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Jorong IV koto, Kecamatan Kinali.
1. Sajarah Jorong IV Koto
Nagari dalam sejarah dan perkembangannya merupakan suatu wilayah Pemerintah Daerah. Pengakuan Nagari sebagai kesatuan manyarakat hukum adat terdapat pada pasal 18 B ayat 2 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi
”Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang”.
Istilah Nagari merupakan penyebutan lain dari Desa di Minangkabau. Hal ini sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat 2 Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menyatakan bahwa penyebutan Desa/ Desa Adat yang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyebutannya disesuaikan dengan penyebutan yang berlaku di daerah setempat.
Berdasarkan peraturan Provinsi Sumatera Barat No. 2 Tahun 2007 pada pasal 25 ayat (1) dijelaskan bahwa Pemerintah Nagari dapat dibentuk, dimekarkan, dihapus dan/ atau digabungkan setelah memperhatikan aspek kepentingan masyarakat dan kondisi Daerah dengan mengacu kepada kriteria tertentu serta tidak merusak
kelestarian adat/ struktur adat pada kesatuan masyarakat dan wilayah hukum Adat Nagari tersebut.
Berdasarkan Permendagri No 1 Tahun 2017 tentang Penataan Desa/Nagari dan dilanjutkan dengan Peraturan Bupati Pasaman Barat No. 40 Tahun 2007 tentang Pembentukan Pemerintahan Nagari
Berdasarkan Permendagri No 1 Tahun 2017 tentang Penataan Desa/Nagari dan dilanjutkan dengan Peraturan Bupati Pasaman Barat No. 40 Tahun 2007 tentang Pembentukan Pemerintahan Nagari