• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian

5. Tahap Evaluasi (Evaluation)

Tahap terakhir dalam penelitian ini adalah evaluasi. Pada tahap ini masukan dan saran dari angket respon siswa serta perbaikan selama proses ujicoba dianalisis untuk digunakan sebagai bahan revisi LKS. Berikut beberapa kesalahan pada LKS yang perlu diperbaiki.

a. Terdapat kesalahan jawaban pada LKS 4 halaman 28

Gambar 27. Kesalahan Jawaban pada LKS 4 Halaman 28 b. Terdapat perbedaan soal antara LKS 1 halaman 2 yang dipegang siswa

dan kunci jawaban LKS sehingga, perlu dilakukan perbaikan soal agar sesuai dengan kunci jawaban. Berikut ini perbaikan yang dilakukan.

Diperbaiki menjadi 99,92 kg

108

Gambar 28. Perbaikan Soal LKS 1 Sesuai dengan Kunci Jawaban c. Kurangnya soal latihan pada bagian Ayo Berlatih sehingga, pada bagian

Ayo Berlatih ditambahkan beberapa soal latihan pada masing-masing LKS.

d. Mengingat alokasi waktu, dua kegiatan dalam LKS 2 dijadikan LKS tersendiri sehingga keseluruhan LKS terdiri dari 5 buah LKS yaitu: 1) LKS 1: Penjualan, Pembelian, Keuntungan, dan Kerugian. 2) LKS 2: Diskon

3) LKS 3: Pajak

4) LKS 4: Bunga Tunggal, dan 5) LKS 5: Bruto, Neto, dan Tara.

109 B. Pembahasan

Penelitian pengembangan berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Berbasis Contextual Teaching Learning (CTL) pada Materi Aritmatika Sosial untuk Siswa Kelas VII SMP” bertujuan untuk mendeskripsikan langkah pengembangan perangkat pembelajaran dan mengetahui kualitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan ditinjau dari aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan.

Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan di atas, penelitian pengembangan perangkat pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah pengembangan model ADDIE yang terdiri dari tahap analisis (Analysis), tahap perancangan (Design), tahap pengembangan (Development), tahap implementasi (implementation), dan tahap evaluasi (Evaluation). Penelitian pengembangan perangkat pembelajaran ini menghasilkan produk berupa RPP yang terdiri dari lima pertemuan dan lima buah LKS berbasis pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada materi aritmatika sosial untuk kelas VII SMP. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan memuat tujuh komponen pendekatan CTL yaitu konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Trianto, 2012: 111). Proses pembelajaran yang dilakukan dengan menerapkan lima strategi pembelajaran CTL menurut Crawford (2001: 3) yaitu, REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, dan Transfering).

110

Berikut adalah hasil pengembangan yang dilakukan dengan model pengembangan ADDIE. Tahap analisis (analysis) meliputi analisis kebutuhan, analisis kurikulum, dan analisis karakter siswa. Hasil analisis tersebut diketahui bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan masih berpusat pada guru dan sumber belajar hanya terpaku pada buku paket dari pemerintah, padahal sesuai kurikulum yang berlaku yaitu kurikulum 2013 pembelajaran seharusnya berpusat pada siswa (student centered) dan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Karakter peserta didik yang aktif dalam pembelajaran belum terfasilitasi dengan baik. Selain itu, Menurut Izzaty, et. al (2013: 37) implikasi pembelajaran siswa SMP seharunsya guru memberikan siswa untuk menyelesaikan masalahnya dan menalarnya secara ilmiah dengan berbagai bentuk diskusi untuk menyimpulkan sesuatu. Hal tersebut mendukung jika pembelajaran matematika sebaiknya dilakukan dengan diskusi kelompok agar siswa dapat lebih terlibat aktif dalam pembelajaran. Disisi lain, hasil observasi pembelajaran matematika di SMP 6 Yogyakarta pada salah satu materi yaitu aritmatika sosial siswa masih kesulitan memahami materi dan mengaitkan permasalahan dengan konsep penyelesainnya. Hal serupa juga disampaikan Hayuningtyas (2012: 8) dalam hasil penelitianya tentang kesulitan belajar aritmatika sosial yaitu siswa kesulitan perhitungan dalam mengerjakan soal dan kesulitan dalam hal pemahaman konsep maupun penggunaan rumus. Sejalan dengan hal tersebut Sutarni & Setyono (2013: 72) menyatakan bahwa, kesulitan belajar aritmatika lainya yaitu siswa mengalami kesulitan dalam membaca, mengartikan, dan memahami soal, siswa mengalami kesulitan dalam mencari dan memahami apa yang diketahui serta apa yang

111

ditanyakan dalam soal. Oleh karena itu, dibutuhkan perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS yang dapat mendukung pembelajaran sehingga, siswa dapat memahami materi dengan baik. Hasil tahap analisis ini dijadikan acuan dalam pengembangan perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS dengan pendekatan Contextual Teavhing and Learning (CTL) pada materi aritmatika sosial yang dibutuhkan oleh siswa.

Tahap perancangan (design), dilakukan perancangan RPP dan LKS. Rancangan RPP disusun berdasarkan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Hal utama yang dilakukan adalah menentukan indikator yang diturunkan dari KI dan KD yang harus dicapai. Kemudian menentukan materi, sumber belajar, metode dan pendekatan, kegiatan pembelajaran, dan teknik penilaian. Sedangkan LKS, dirancang menurut peta kebutuhan dan struktur LKS dengan memperhatikan aspek kualitas kelayakan bahan ajar sesuai Depdiknas (2008: 28) yaitu aspek kelayakan isi, kebahasaan, penyajian, dan kegrafikan. Pada tahap ini juga dilakukan penyusunan instrumen penelitian yang kemudian divalidasi oleh dosen. Instrumen penelitian yang disusun berupa lembar penilaian RPP dan LKS, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, dan angket respon siswa.

Tahap selanjutnya adalah pengembangan (development). Pada tahap ini, perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS disusun sesuai dengan rancangan pada tahap design. RPP yang dikembangkan sebanyak empat pertemuan dan LKS sebanyak empat buah. RPP dan LKS sebelum digunakan dalam tahap implementasi dilakukan validasi oleh dosen validator dan guru matematika. Aspek

112

penilaian RPP yang divalidasi yaitu: identitas RPP, rumusan indikator/ tujuan, pemilihan materi, pemilihan pendekatan dan metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran dengan pendekatan CTL, penilaian hasil pembelajaran, dan pemilihan sumber belajar. Sedangkan, aspek penilaian kevalidan LKS yaitu: kelayakan isi, penyajian, bahasa, kegrafikan, kompetensi, dan kesesuaian LKS dengan pendekatan CTL. Hasil RPP dan LKS yang telah divalidasi dinyatakan layak diujicobakan dengan revisi. Masukan dan saran dari lembar penilaian dijadikan sebagai bahan acuan perbaikan RPP dan LKS yang dikembangkan. Beberapa revisi RPP dari lembar penilaian RPP sebagai berikut.

1. Menambahkan KI-1 dan KI-2 karena sebelumnya pada RPP yang telah disusun peneliti tidak mencantumkan KI 1 dan KI 2 mengacu pada struktur RPP yang ada di sekolah, tetapi setelah dikonfimrasi ulang kepada guru ternyata KI-1 dan KI-2 dalam penulisan RPP tetap dicantumkan.

2. Menambahkan materi remedial dan pengayaan pada RPP bagian materi pembelajaran. Penambahan materi ini didasarkan pada masukan dari lembar penilaian yang disesuaikan dengan struktur RPP yang ada di sekolah ujicoba. 3. Memperhatikan kesamaan langkah kegiatan pada masing-masing pertemuan.

Kesamaan langkah ini agar guru lebih mudah dalam menjalankan proses pembelajaran dan adanya kekonsistenan setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Kegiatan yang sudah dilakukan diawal pembelajaran tidak dituliskan lagi pada kegiatan inti. Contohnya: dalam RPP kegiatan pembagian kelompok sudah dilakukan diawal pembelajaran sehingga, pada kegiatan inti tidak lagi menuliskan kegiatan tersebut.

113

4. Pada bagian instrumen penilaian sikap berupa angket diganti menjadi jurnal sikap. Instrumen penilaian sikap sebelumnya berupa angket penilaian sikap, tetapi berdasarkan masukan dari guru matematika penilaian sikap sebaiknya menggunakan jurnal sikap sesuai dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian yang menyatakan bahwa penilaian sikap dilakukan oleh pendidik untuk mendapatkan informasi deskriptif mengenai perilaku peserta didik.

5. Perbaikan penilaian keterampilan siswa dari rentang nilai huruf A-E menjadi nilai angka rentang 0-100. Penilaian tersebut didasarkan pada masukan guru dan juga sesuai dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian yng menyatakan bahwa hasil penilaian pengetahuan dan keterampilan dilaporkan dalam bentuk angka skala 0-100.

Sedangkan revisi dari lembar penilaian LKS sebagai berikut. 1. Memperjelas ilustrasi gambar pada LKS 4 seperti pada Gambar 16.

2. Memberikan contoh pengisian dalam kegiatan Mengumpulkan Informasi LKS 1. Pada kegiatan mengumpulkan informasi LKS 1 sebelumnya tidak ada contoh pengisian jawaban pada tabel yang harus dilengkapi siswa jika jawaban yang diketahui, sehingga perlu menambahkan tanda (-) pada yang bukan jawaban benar seperti pada Gambar 17.

3. Perbaikan perintah kegiatan penyelesiaan dalam kolom mengumpulkan informasi seperti pada Gambar 18.

4. Perbaikan deskripsi gambar yang disajikan dalam LKS. Perbaikan deskripsi gambar didasarkan oleh masukan dari validator yaitu deskripsi gambar

114

kurang menunjukkan permasalahan kontekstual sehingga pada LKS 2 perlu diperbaiki seperti pada Gambar 19.

5. Perbaikan langkah penyelesaian pada kegiatan Ayo Menalar LKS 3. Perbaikan langkah ini agar siswa dalam menemukan konsep materi lebih sistematis seperti dalam kegiatan Ayo Menalar LKS 3 siswa diarahkan untuk mengetahui pola pertambahan bunga per tahun terlebih dahulu. Kemudian menunjukkan langkah untuk menghitung total saldo, seperti pada Gambar 20 sehingga, siswa akan lebih mudah memahami materi yang dipelajari.

6. Perbaikan beberapa tata penulisan dalam LKS 1 seperti pada Gambar 21. Selain itu, data penilaian perangkat pembelajaran oleh validator dan guru matematika digunakan untuk mengukur kualitas perangkat pembelajaran ditinjau dari aspek kevalidan. Hasil penilaian RPP tersebut memperoleh nilai rata-rata 4,08 dari skor maksimal 5,00 dengan kriteria valid. Skor tertinggi pada penilaian RPP diperoleh pada aspek identitas mata pelajaran dan rumusan indikator/tujuan yaitu 4,56 dari skor maksimal 5,00. Skor terendah pada penilaian RPP adalah pada aspek pemilihan sumber belajar yaitu 3,75 dari skor maksimal 5,00. Sumber belajar hanya mengacu pada 4 buku seperti yang tercantum dalam RPP sehingga, perlu adanya penambahan sumber belajar pada materi Aritmatika Sosial. Sementara itu, hasil penilaian LKS memperoleh nilai rata-rata 4,04 dari skor maksimal 5,00 dengan kriteria valid. Skor tertinggi pada penilaian LKS diperoleh pada aspek kompetensi 4,25 dari skor maksimal 5,00 artinya bahwa LKS memenuhi kriteria yang baik dapat mengukur kompetensi yang harus dicapai siswa dalam materi artimatika sosial dan skor terendah adalah pada aspek

115

kelayakan isi 3,9 dari skor maksimal 5,00. Hal tersebut dikarenakan ada kesalahan pengetikan pada isi materi yang disajikan dalam RPP dan LKS sehingga, konsep materi yang disajikan tidak konsisten antara RPP dan LKS tetapi, kemudian diperbaiki pada tahap revisi. Meskipun mendapatkan skor terendah aspek tersebut masih dalam kriteria valid atau baik digunakan dalam pembelajaran. Dengan demikian, perangkat pembelajaran yang dikembangkan memenuhi kriteria valid.

Tahap yang keempat adalah implementasi. Perangkat pembelajaran yang telah divalidasi dan dinyatakan layak tersebut diimplementasikan kepada 34 siswa kelas VII A SMP Negeri 6 Yogyakarta. Tahap implementasi dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2017 sampai dengan 21 Februari 2017. Implementasi perangkat pembelajaran dilaksanakan selama lima kali pertemuan dan satu kali pertemuan untuk tes hasil belajar. Proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan lima strategi pendekatan CTL yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring. Secara umum proses pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yaitu guru membuka pembelajaran dan mengecek kesiapan siswa. Kemudian guru membagikan LKS, memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari, tujuan pembelajaran.

Tahap relating, siswa diberikan motivasi berupa keterkaitan antara materi yang akan dipelajari dengan kehidupan sehari-hari langkah ini dilakukan pada awal pembelajaran. Motivasi yang diberikan dapat berupa penjelasan mengenai manfaat materi yang akan dipelajari. Siswa juga diberikan suatu permasalahan kontekstual untuk memberikan gambaran bagaimana mengaplikasikan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian masalah ini disajikan dalam

116

LKS bagian Ayo Amati yang dirancang agar dapat membantu siswa menggali konsep dan memahami materi yang akan di pelajari. Selain itu, terdapat pertanyaan dalam deskripsi permasalahan dalam bagian Ayo Amati yang dapat memicu siswa untuk bertanya (Questioning). Tahap ini juga sejalan dengan prinsip contructivism dimana siswa diharapkan dapat membangun pengetahuanya sendiri dari permasalahan yang disajikan dalam LKS.

Tahap yang kedua adalah experiencing, tahap ini dirancang untuk membantu siswa menemukan konsep materi, sejalan dengan prinsip (inquiry) pada pendekatan CTL. Tahap ini difasiltasi dalam LKS bagian Mengumpulkan Informasi, dimana ada petunjuk siswa untuk menyelesaikan kegiatan dalam bagian tersebut. Kemudian dilanjutkan pada kegiatan pada Ayo Menalar yang menfasilitasi siswa untuk menemukan konsep materi yang akan dipelajari.

Tahap selanjutnya adalah applying. Menurut Hosnan (2014: 279) dalam tahap applying siswa diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Oleh karena itu, setelah siswa menyelesaikan kegiatan pembelajaran dari Ayo Amati, Mengumpulkan Informasi, dan Ayo Menalar, kemudian guru meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Tahapan cooperating dalam kegiatan pembelajaran diwujudkan dengan pembentukan kelompok-kelompok diskusi yang terdiri dari 4-5 orang. Melalui kelompok diskusi, siswa bertukar informasi, bertukar pikiran, mengkomunikasikan ide mereka kepada teman satu kelompoknya, dan dapat saling bertanya jika terdapat kesulitan (learning community). Kegiatan presentasi hasil diskusi juga menfasilitasi siswa untuk mengkomunikasikan hasil pemikiran

117

kelompoknya ke kelompok lain. Dalam proses mempresentasikan hasil diskusi guru memberikan kesempatan kelompok lain untuk bertanya dan kepada kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi, sehingga siswa saling terlibat aktif dalam pembelajaran. Pada tahap transferring, siswa mengerjakan bagian Ayo Berlatih yang berisi soal-soal yang menyajikan permasalahan kontekstual dalam konteks yang berbeda, tetapi masih terdapat kaitan dengan materi yang dipelajari. Latihan soal dalam Ayo Berlatih digunakan untuk menilai sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang disampaiakan (authentic assessment).

Secara umum kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berjalan dengan baik dan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Siswa aktif bertanya jika terdapat hal yang kurang dipahami dalam LKS. Namun, pada pertemuan kedua dengan menggunakan LKS 2 siswa baru menyelesaikan kegiatan 1 tentang diskon karena adanya pemotongan jam pembelajaran menjadi 2x30 menit, sehingga kegiatan 2 tentang pajak dilanjutkan pada pertemuan ketiga. Hal tersebut menyebabkan pembelajaran materi diskon dan pajak memerlukan tambahan waktu dan diselesaikan dalam dua kali pertemuan.

Pada pertemuan terakhir dilaksanakan tes hasil belajar siswa. Kegiatan tes hasil belajar dilaksanakan pada Selasa, 21 Februari 2017. Tes hasil belajar berupa tujuh soal uraian dengan batas waktu mengerjakan 80 menit dan diikuti oleh 33 siswa dan satu siswa melaksanakan ulangan susulan pada Rabu, 22 Februari 2017 karena pada saat ulangan berlangsung siswa tersebut sedang sakit. Hasil dari tes hasil belajar digunakan untuk mengukur keefektifan penggunaan perangkat

118

pembelajaaran yang dikembangkan. Berikut adalah persentase ketuntasan tes hasil