BAB II : KAJIAN TEORI
D. Peserta Didik
2. Tahap Perkembangan Peserta Didik
64
memperhatikan sifat-sifat yang harus dimiliki sebagi seorang peserta didik, diantaranya yaitu:80
1) Membersihkan hati dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum melakukan proses belajar.
2) Menuntut ilmu dengan tujuan untuk meraih keutamaan akhlak, mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk bermegah-megahan atau bahkan mencari kedudukan.
3) Tabah dan sabar dalam mencari ilmu.
4) Menghormati gurunya dan berusaha semaksimal mungkin meraih kerelaannya dengan berbagai macam cara yang terpuji.
5) Sungguh-sungguh dan tekun dalam belajar serta senantiasa mengulang-ulang pelajarannya.
6) Bertekad untuk belajar sepanjang hayat.
2. Tahap Perkembangan Peserta Didik
a. Tahap Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan intelektual atau berpikir. Terdapat empat periode dalam perkembangan kognitif, yakni periode perkembangan, periode pencapaian kematangan, periode tengah baya dan periode lanjut usia.
Menurut Jean Piaget terdapat empat tahapan perkembangan kognitif. Tahap pertama adalah tahap periode sensorik motorik yakni sekitar umur
80 Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam : Menguatkan Epistemologi Islam dalam Pendidikan (Yogyakarta: Ar-RuzzMedia, 2014), 96.
65
lahir 0 – 2 tahun. Pada tahap sensorik motorik ini, bayi menggunakan alat indra dan kemampuan motorik untuk memahami dunia sekitarnya. Tahap kedua adalah periode praoperasional yakni sekitar umur 2-7 tahun. Pada tahap ini anak dapat membuat penyesuaian perseptual dan motorik terhadap objek dan kejadian yang dipresentasikan dalam bentuk simbol.
Tahap ketiga adalah periode konkret operasional yakni sekitar 7-11 tahun. Pada tahap ini anak mendapatkan struktur logikal tertentu yang membuatnya dapat melaksanakan operasi mental yang merupakan tindakan terinternalisasi yang dapat dikeluarkan bila perlu. Tahap terakhir adalah periode formal operasional yakni sekitar umur 11-15 tahun. Operasi mental tidak lagi hanya terbatas pada objek konkret, tetapi juga sudah dapat diaplikasikan pada kalimat verbal atau logika.81
b. Tahap Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia agar dapat mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, alam dan penciptanya serta memposisikan diri sebagai makhluk berbudaya dan makhluk sosial.82 Dengan bahasa manusia bisa berkomunikasi.
Manusia mengalami perkembangan bahasa dimulai dari awal kehidupan. Bayi mulai mengeluarkan suara mendekut pada usia 2 bulan kemudian mulai mengoceh pada usia 4 sampai 6 bulan. Tahap
81 Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap Rentang Kehidupan
Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), 137.
82 Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 118.
66
perkembangan bahasa selanjutnya adalah periode holoprastik yakni pada usia 1 tahun dapat menyebutkan satu kata yang menggambarkan arti seluruh kalimat. Pada usia 18 – 24 bulan anak mengalami percepatan penguasaan perbendaharaan kata dan juga mulai memproduksi dua atau tiga kata.83
Pada usia prasekolah yakni berumur 2,5-5 tahun kemampuan berbahasa anak akan menjadi lebih mirip dengan orang dewasa yang ditandai dengan anak sudah mulai memproduksi ujaran yang lebih panjang. Sedangkan pada masa kanak-kanak sampai awal masa remaja merupakan periode untuk memperhalus bahasa. Pada tahap ini anak mempelajari pengecualian khusus dalam aturan tata bahasa, mengembangkan kemampuan berpikir tentang bahasa dan memberikan komentar dengan sebuah kata sebutan.84
c. Tahap Perkembangan Moral
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya, terutama anak memperoleh nilai-nilai moral dari orang tuanya.85 Terdapat tiga tahap perkembangan moral yakni tingkat prakonvensional, tingkat konvensional dan tingkat pascakonvensional. Pada tingkat prakonvensional terjadi pada anak yang berusia 0 – 9 tahun, pada tahap ini anak berusaha mengikuti aturan untuk
83 Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami,……223 – 227. 84 Ibid., 223 – 227.
67
menghindari hukuman dan untuk mendapatkan kesenangan dalam mencapai tujuan pribadi. Pada tahap konvensional terjadi pada anak yang berusia 10 – 15 tahun. Pada tahap ini anak mematuhi aturan untuk menghindari ketidaksetujuan sosial atau penolakan dan ingin menghindari kritikan dari orang lain atau pihak otoritas. Sedangkan pada tahap pascakonvensional terjadi pada anak yang berusia 16 tahun ke atas. Pada tahap individu memilih prinsip moral untuk hidup dan bertingkah laku dengan cara menghormati harga diri orang lain.86
d. Perkembangan Peserta Didik Madrasah Ibtidaiyah
Pembentukan kemampuan dan karakter peserta didik di madrasah dipengaruhi oleh proses belajar yang ditempuhnya. Proses belajar perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Dalam psikologi perkembangan, usia peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar berada dalam periode late childhood (akhir masa kanak-kanak). Peserta didik berada dalam rentang usia enam/tujuh tahun sampai tiba saatnya anak menjadi matang secara biologis sekitar usia tiga belas tahun. Pada masa ini terjadi perubahan fisik yang menonjol, sehingga dapat mengakibatkan perubahan nilai, sikap dan perilaku yang sangat memengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial peserta didik. Pada tahap ini peserta didik juga mempersiapkan diri secara fisik dan psikologis untuk memasuki masa remaja.
68
Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat beberapa tugas perkembangan peserta didik di madrasah atau sekolah di antaranya: 1) Mengembangkan kata hati, moralitas dan nilai-nilai.
2) Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok dan institusi sosial. 3) Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan
sehari-hari.
Anak usia MI/SD berada pada tahapan operasional konkret. Pada usia tersebut peserta didik mulai menunjukkan perilaku belajar seperti berikut:
1) Mulai memandang dunia secara objektif. Pandangan bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif.
2) Mulai berpikir secara operasional.
3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda.
4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan anturan-aturan, hubungan sebab akibat dan prinsip ilmiah sederhana.
5) Memahami konsep substansi, volume, panjang, lebar, luas dan berat. Dari tahapan perkembangan berpikir di atas, kecenderungan belajar anak usia MI/SD memiliki tiga ciri sebagai berikut:
1) Konkret: proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret, yaitu yang dapat dilihat, didengar, dibuai, diraba dan diotak-atik. Penekanan proses belajar pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
69
2) Integratif: peserta didik memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan. Hal ini dikarenakan proses berpikir anak yang deduktif, yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3) Hierarkis: cara belajar peserta didik berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks.87