• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kategori I. Informan Dengan Tingkat Kecemasan Rendah Pada Tahap Inti Wawancara.

Informan:

1. Ditta Aditya 2. Taufik Hidayat

Dari awal tahap wawancara Ditta memang tidak sering mengalami kecemasan ”...pokoknya gitu masuk ruangan eksekusi perasaan saya sudah biasa, udah normal. Paling ketar-ketirnya waktu menunggu itu kelamaan (menunggu giliran) jadi cemasnya ini udah nomer berapa ya? Gua udah kelewatan apa belum...”. Ditta menuturkan tidak ada pertanyaan dari pewawancara yang membuatnya cemas, dia berpendapat semua perekrutan memang sama, tujuannya oleh perusahaan untuk mengevaluasi calon karyawan melalui pertanyaan dan beberapa pengamatan yang dipercayakan kepada pewawancara.

Ditta sempat merasa bingung oleh pertanyaan yang diajukan pewawancara mengenai keahlian pribadi, tetapi menurutnya hal itu tidak meningkatkan kecemasannya, “Awalnya bingung, keahlian maksudnya keahlian apa. Menurut yang saya pelajarin sesuai keterampilan, jadi saya tanya balik keahlian yang dimaksud itu sama nggak dengan keterampilan yang kita punya.” Ditta mengaku belum pernah menjumpai pewawancara yang menurutnya jutek.

Ditta memang mengakui kalau pewawancara itu seringkali memiliki wibawa yang dapat membuat orang merasa tertekan jika ia bertanya, dan pewawancara yang ia jumpai selalu bersikap ramah,” Mereka nggak menjaga jarak gitu. Kalau wibawa.. iyalah, secara mereka atasan cuman jadi nyantai gitu.” Katanya. Karena dua belah pihak membawa suasana menjadi santai maka Ditta pun tidak merasakan tekanan yang berarti. Pernah juga ia disurh untuk berdiri dan berjalan dari ujung koridor ke ujung koridor lainnya untuk dilihat postur tubuh dan cara berjalan Ditta, dan sekali lagi ia tidak mengalami peningkatan kecemasan yang berarti.

Dalam kondisi apapun ia masih dapat berpikir positif dan ia dapat berbicara dengan lancar saat diwawancara. Ditta juga tidak canggung untuk melakukan kontak mata sesering mungkin dengan pewawancara. Saat wawancara Ditta juga mengaku tingkat komunikasinya dengan pewawancara cukup tinggi. Ia memiliki pengalaman yang baik saat wawancara.

Peneliti berpendapat Ditta juga pernah merasa lebih mencolok dari pada peserta wawancara lainnya tetapi Ditta malu untuk mengakuinya, bukan dari segi penampilan melainkan dari segi pengamatan dan ingatan yang bagus, jadi ia sama sekali tidak mengalami kecemasan yang berarti saat tes wawancara. Seperti yang dituturkannya, ”....ada kalender, kita disuruh melihat dalam waktu satu detik terus kita jelasin orang itu ngapain dalam waktu satu detik ada berapa kata yang bisa kita ucapkan. Dari semua peserta, cuma saya yang paling banyak. ...iya seneng. Jadi semua hasil-hasilnya itu dikasi tau. ... eh, enggak mencolok juga sih, nggak sampai lebay juga, cuma kaget.”

Ia pernah merasa kecemasannya meningkat saat ia menjawab pertanyaan wawancara dan jawabannya itu berbeda dengan hasil psikotes sebelumnya, “Misalnya kelar wawancara kan ada sesi psikotes, trus setelah itu ditanya lagi, nah disitu langsung nanyain ‘Kamu tadi jawabannya ini ya, kenapa kamu ngambil? .’ Nah kalo yang habis psikotes, jelas pertanyaannya lebih ke psikotes (tes wawancara tahap kedua), itu yang agak-agak ’ Iya tadi gua jawabnya ini.’ gitu, jadi agak ketar-ketir.” Selebihnya ia dapat merasa santai saat tes wawancara.

Dalam tahap inti Taufik mengalami penurunan kecemasan. Ia sudah dapat berbicara lancar, ia juga sudah dapat menguasai keadaan. Hal dapat dicontohkan ketika ia merasa kurang sehat dan ia belum menangkap betul-betul apa yang dimaksudkan oleh pewawancara, maka Taufik memperhatikan isyarat non-verbal dari pewawancara, dan hal itu dapat membantunya. Apabila ia masih merasa bingung barulah ia minta pewawancara mengulang kemali pertanyaannya.

Sebisa mungkin ia tidak meminta pewawancara tersebut untuk mengulangi pertanyaannya. Karena menurut Taufik pewawancara akan mengurangi point Taufik karena perusahaan menginginkan karyawan yang cepat

nangkap (tahu maksud pembicaraan). Ia hanya merasa tekanan dari pewawancara apabila pewawancara berjumlah lebih dari satu orang. Karena menurutnya biasanya salah satu dari mereka adalah orang mengerti tentang Psikologi dan mengamati gerak-gerik peserta wawancara untuk mengetahui mereka menjawab bohong atau jujur karena tidak selalu Taufik menjawab pertanyaan dengan jujur.

Ada kalanya ia menambah atau mengurangi informasi kepada pewawancara agar kesan yang ditimbulkan ia orang yang baik dan bersemangat kerja saat diwawancara. Ia dapat menekan kecemasannya saat wawancara karena ia berpikir kalau perusahaan itu lebih tertarik kepada calon yang lebih berpengalaman bekerja dan sudah memiliki keahlain dalam bekerja, dan Taufik bukanlah contoh yang buruk. Itulah yang membuat dia merasa mencolok diantara peserta wawancara lainnya yang biasanya masih fresh graduate.

Ia selalu merasa ingin buang air kecil saat wawancara karena ia memang tidak tahan ruangan ber-AC, dan hal itu membuat ia sulit untuk rileks pada tahapawal wawancara tapi pewawancara dan ia mulai membuka diri ia akan merasa tenang saat wawancara. Misalnya saat pewawancara merasa respek dengan jawaban atau keseharian kita, terkadang pewawancara ikut bercerita tentang kesehariannya.

Taufik tidak terlalu sering melakukan kontak mata saat menjalani tes wawancara, “ Tidak sering, nggak tau kenapa, paling tidak saya lihat jidat, kening dagu, bibir. Jarang saya lihat kematanya.” Untuk suasana wawancara Taufik selalu menyesuaikan dengan kondisi pewawancara, “....tergantung pewawancaranya aja, dia asik saya bisa asik, dia jaim saya juga. Intinya dia tanya ‘a’ saya juga jawab ‘a’ udah itu aja. Nggak perlu jawab panjang-panjang“. Taufik berpendapat kalau hasil wawancara bagus ia pasti lolos ke tahap selanjutnya, kalau tidak lolos berarti ia harus mengkoreksi diri. Persepsi Taufik mengenai tes wawancara , “ ...intinya semua sama dan semua itu bisa membuat saya jantungan. Yang penting kita jawabnya pake hati saja. Kalau kita rasa jawaban perlu ditambah, tambah. Kalau perlu dikurangi, kurangi. Kalau jawaban kita salah yaa pasrah aja, mogimana lagi kan.” Taufik juga menganggap tes wawancara itu suatu

kedaan yang menantang dan bisa jadi pembelajaran dia untuk lebih mengerti orang lain.

Kategori II. Informan Dengan Tingkat Kecemasan Menengah Pada Tahap Inti Wawancara.

Informan:

1. Dian Febrina 2. Fionita

3. Imanda Rizky Soaloon Lubis 4. Yunita Emilia

Pada tahap inti wawancara Dian sudah bisa mulai beradaptasi dengan situasi wawancara walaupun ia berbicara dengan gemetar ia sudah dapat mengontrol kalimat yang akan ia ucapkan. Ia ingin mendapatkan pekerjaan, tetapi sebanarnya ia lebih ingin mendapatkan gelar Sarjana dulu. Ia tidak ingin kuliahnya tertinggal karena bekerja.

Menurut pengalamannya pada tahap inti wawancara Dian dapat menekan rasa kecemasannya saat pewawancara mengetahui almamaternya dari UI, Dian merasa yakin dengan kualifikasi yang ia punya, tetapi menurut Dian ia tidak diterima karena ia mengatakan kepada pewawancara kalau ia masih kuliah. Dari ungkapan Dian sepertinya perusahaan lebih menyukai calon karyawan yang tidak sedang menjalani perkuliahan, karena akan berpengaruh pada totalitas bekerja karyawan. Seperti ungkapannya, “ Sebenarnya sih untuk masalah kualifikasi saya yakin ya, cuma masalahnya kendala yang saya tangkap setelah saya bilang saya masih kuliah kayaknya dia, mereka merasa kurang yakin untuk merekrut saya. Tapi fifty-fifty lah sebenarnya juga saya nggak ingin kuliah saya terganggu. Kalau diterima juga sebenarnya saya berat kalau harus ninggalin kuliah saya sekarang”.

Pada tes wawancara Dian membuat kontak mata yang sering,” Seringlah, biar dia merasa kita menghargai dia.” Dalam wawancara Dian juga mengalami tingkat komunikasi yang tinggi dengan pewawancara, jadi kesannya seperti obrolan. Dalam memberikan informasi pribadi Dian tidak selalu jujur,

“....pokoknya sih berusaha memberikan jawawban yang terbaik. Intinya gitu sih.” Hal ini menggambarkan kalau ia sudah bisa mengontrol pembicaraannya.

Saat ditanya mengenai bagaimana persepsi Dian kepada dirinya sendiri saat tes wawancara Dian mengungkapkan kalau dia orang yang introvert dan ia tidak berbicara dengan nada yang ‘menggebu-gebu’ . Ia tidak ingin memberikan kesan ‘heboh’ kepada pewawancra. Pada akhir wawancara ia mengungkapkan kalau sebenarnya pewawancara memiliki persepsi yang bagus tentang Dian, seperti pernyataannya berikut.” Kayaknya sih baik ya. Kaarena pas dia tahu saya pernah kuliah dimana kayaknya tanggapan dia itu sesuai dengan harapan saya. Cuma itu tadi, karena masih kuliah itu. Saya sih merasanya disitu. Begitu mereka tau saya masih kuliah kayaknya masih ragu-ragu untuk memilih saya. Tapi itu Cuma mungkin, haha.. tanggapan saya aja ya”.

Fionita merasakan kecemasannya meningkat apabila ditanya pertanyaan yang menurutnya membuatnya bingung. Biasanya apabila ditanya alasaan dia memilih jurusan kuliah alasan diaa melamar kerja disitu. Agar tidak terlalu kelihatan gugup biasanya Fionita mengalihkan pandangan matanya kesamping untuk berfikir sebentar lalu menjawab pertanyaan yang diajukan.

Ia tidak merasa dievaluasi saat menjalani tes wawancara karena dari awal Fio menempatkan dirnya sebagai orang yang butuh pekerjaan dan pewawancara hanya mengambil informasi yang mereka butuhkan saja. Fionita merasa wibawa yang dibawa oleh pewawancara itu tinggi, akibatnya ia merasakan suatu tekanan didalam ruangan wawancara. Fionita menuturkan tekanan yang dialaminya saat wawancara seperti suhu badannya yang meningkat sampai ia berkeringat walaupun didalam ruangan ber-AC.

Ada sebuah situasi tak terduga saat wawancara dimana ia disuruh menyanyi, bukannya semakin cemas Fionitan malah merasakan kecemasannya menurun. Sepertnya dengan menyanyi ia dapat menyalurkan ekspresi dan kecemasan yang dirasakannya sehingga dapat membantunya untuk rileks. Menurut pendapat Fionita ia juga pernah dianggap pewwancara kurang

bersemangat, hal ini dikarenakan saat tes wawancara Fionita merasa kurang sehat dan membuat moodnya jadi tidak bagus.

Beberapa hal tersebut membuat Fionita mempersiapkan taktik untuk menghadapi tes wawancara berikutnya, ” Tidak juga, mungkin lebih tepatnya berdasarkan pengalaman saya kita pelajari taktiknya, karena terkadang pertanyaan itu ada yang menjebak, dan setahu saya pertanyaan ini biasanya untuk mengetahui bagaimana emosi dan bagaimana kita menghandle sebuah masalah. Karena didunia kerja itu pasti adfa tekanan dan mereka ingin tahu kita bisa menyesuaikan diri atau tidak dengan tekanan-tekanan yang akan datang.” Untuk menesuaikan diri dengan situasi wawancara, Fionita biasanya melihat mimik wajah pewawancara jadi ia dapat mengetahui kesan pewawancara itu tertarik atau tidak dengan kita.

Imanda akan mengalami peningkatan kecemasan apabila pewawancara bertanya hal yang membuatnya bingung, seperti apakah kekurangan dan kelebihan dia, dan kenapa ia melamar pekerjaan yang melenceng dari jurusannya. Imanda lulusan Tekhnik Sipil dan ia lebih tertarik untuk bekerja kantoran seperti di Bank atau bagian marketing.

Karena sering mengalami kegagalan pada tahap wawancara imanda juga mengaku kalau ia sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan yang akan membuatnya bingung,” Semakin cemas, tapi ya mau nggak mau harus dijalani juga. Lagian kan saya sudah menyiapkan jawabannya. Yang aku takutkan dia tahu kalau aku mengarang-ngarang aja. Jadi Imanda tidak selalu dapat melihat langsung kearah mata si pewawancara, menurut Imanda dia bisanya tidak berbicara dengan lancar karena keterangan yang ia berikan tidak semuanya benar adanya, ” Kalo aku liat ke matanya nggak bisa, agak kagok aku ngomong. Jadi sambil cerita aku liat kening atau bahunya aja. Tapi kami bicara agak panjang barulah cemas aku ilang. Apalagi kalau aku disuruh menceritakan bagaimana lingkungan tempat tinggal, sosial pertemanan aku, sekolah, pengalaman kerja ada atau enggak.”

Menurut Imanda kecemasannya juga dapat muncul tergantung dari sikap pewawancaranya juga. Ada hal yang tidak terduga saat tes wawancaara berlangsung apabila kecemasannya meningkat, “Secara fisik biasanya saya ingin buang angin karena tekanan dari diri kita sendiri.”

Masalah yang paling ia khawatirkan saat tes wawancara bahwa ia tidak dapat berbicara dengan lancar dan tidak fokus sehingga jawabannya lari dari pembahasan. Biasanya Kalau sudah seperti ini Imanda berdoa dan menarik nafas lebih dalam dan mencoba fokus lagi.

Tingkat komunikasi Imanda dengan pewawancara tinggi, “Akrab, terkadang mereka meminta kita untuk menceritakan kegiatan saat kuliah dan setelah kuliah biasanya kegiatannya apa saja”, dan peneliti bertnya balik untuk memastikan, “Jadi tingkat komunikasi nya tinggi ? ”, dan ia menjawab “Yaa, enggak juga maksudnya tidak selalu timbal-balik lo. Kadang saya yang lebih sering ngomong.”

Imanda juga menyesuaikan diri dengan pewawancara apabila pewawancara tersebut mulai mencoba mencairkan suasana dengan lelucon, “ Terkadang kalo yang wawancara masih muda dan ia yang mulai membawaa lelucon supaya tidak kaku. Jika membandingkan tes wawancara di satu tempat dengan yang lain menurut Imanda memang bebeda, akan tetapi intinyaakan tetap sama, kecemasan itu sulit dihilangkan, hilang dan timbul serta berpengaruh terhadap fokus peserta wawancara untuk menangkap maksud dari pewawancara.

Yunita mengungkapkan kalau tidak ada pertanyaan pewawancara yang menjebak. Menurut dia pertanyaan pewawancara bukan menjebak, tetapi lebih untuk mengetahui kepribadian dia saja. Seperti pertnyaan “Apakah anda pernah mengalami kesuksesan sebelumnya?”, “Sebutkan kelebihan dan kekurangan anda”. Jika ditanya seperti itu Yunita mengakui kecemasannya mulai timbul lagi. Jika sudah begitu, Yunita masih dapat berbicara dengan lancar. Biasanya ia mengambil jeda waktu sekitar lima detik untuk berfikir, lalu menjawab pertanyaan tadi.

Ia tidak selalu dapat menangkap apa yang dimaksudkan pewawancara dengan jelas. Tetapi menurutnya hal itu bukan dari dirinya yang kurang fokus, melainkan pewawancaranya yang memberi pertanyaan secara berbelit-belit. Setelah saya peneliti bertanyalebih lanjut, barulah ia mengakui kalau terkadang ia bisa saja kurang fokus dalam menangkap maksud pewawancara,” Hehe.. gini, biasanya saya sesring sesak buang air kecil saat tes wawancara, tapi saya tahan saja. Akibatnya untuk pertanyaan yang agak panjang saya minta diulang lagi. Juga apabila ada situasi yang tidak terduga apabila handphone nya berbunyi, ia merasa kecemasannya meningkat, “....kalau sudah begini, mau menghilang saja rasanya..”. Walaupun begitu ia tetap dapat mencoba menguasai situasi dengan mencoba terlihat tenang dan meminta maaf kepada pewawancara dengan atas kejadian tersebut.

Untuk menghadapi tes wawancara Yunita meminta nasihat dari kakaknya tentang bagaimana bertindak dan cara menjawab pertanyaan yang baik. Yunita menuturkan “ iya saya rasa karena itu kita kan kalo seneng trus terburu-buru pasti mau buang air kecil kan. Saya pernah kemaren gak sabaran mau diwawancara, soalnya dapat wejangan dari kakak untuk tes wawancara, trus kan udah ada penglaman sebelumnya jadi saya gak sabaran mau ngetes, hehe..”.

Menurut Yunita tes wawancara itu memang bertujuan untuk mengevaluasi calon karyawaan secara menyeluruh, Yunita sudah mengetahui bagaimana ia harus bertindak, dan karena ada desakan dari dalam dirinya ia merasa tes wawancara yang dijalaninya kurang maksimal.

Yunita menganggap kegagalan dalam tahap wawancara sebelumnya sebagai pembelajaran agar kedepannya dapat lebih baik lagi. Dengan pengalaman nya tersebut ia dapat berbicara dengan lancar saat tes wawancara berlangsung. “Intinya pengendalian diri” kata Yunita.

Sama halnya seperti informan lainnya Yunita juga tidak selalu memberikan keterangan dengan juju, “ Sebisa mungkin saya menjawab dengan jujur, tapi kan perusahaan memilih yang terbaik yang bisa bekerjasama dan punya motivasi, jadi kadang ada yang saya tambahin supaya kesannya positif. Selama

menjalani tes wawancara pewawancara selalu bersikap ramah dan mencoba mencairkan wawancara apabila suasana sudah mulai kaku. Yunita juga selalu menyesuaikan diri dengan sikap pewawancara seperti yang dituturkannya “....paling terganaatung tipe pewawancaranya aja, saya bisa menyesuaikan diri kok. Dia senyum saya senyum, dia ramah saya ramah, dia jutek saya ramah.”

Yunita mempersepsikan pewawancara itu sebagai wakil citra dari perusahaan, “ Pewawancara itu mengerjakan apa yang menjadi tugasnya aja kan, jadi saya bisa memakluminya.. tapi ya maunya dicari yang moodnya bagus. Biar bagaimanapunkan saat tes wawancara image perusahaan itu ya si pewawancara itu, iya kan..”. Bagi Yunita yang menjadi tolak ukur tes wawancaranya berhasil hanya apabila ia dipanggil lagi untuk menjalani tahapan berikutnya. “ Saya gak bisa bilang, gak mungkin saya tanya ke dia atau saya baca pikirannya. Kalau saya masih dipanggil lagi berarti kesannya bagus.” Katanya menutup wawancara kami.

Kategori III. Informan Dengan Tingkat Kecemasan Tinggi Pada Tahap Inti Wawancara.

Informan:

1. Aprini Situmorang

Kecemasan Aprini saat memasuki tahap inti wawancara tetap tinggi. Semua informasi yang dia peroleh dari pewawancara lain sebelum wawancara seakan tidak berguna. Bayangannya takut tidak dapat menjawab pertanyaan ini sangat kuat di benaknya. Menurut Aprini ia bisa berbicara dengan lumayan lancar dan dapat menangkap maksud dari pewawancara walaupun ia merasa takut. Persepsi Aprini mengenai pewawancara seperti berikut, “ Aduh.. saya enggak bisa bilang gimana, soalnya merekapun kadang bisa ramah, kadang bisa kek meneror gitu.”.

Sesungguhnya Aprini tidak terlalu ambisi dalam mendapatkan pekerjaan ia ingin kuliahnya beres dulu, sama sperti Dian, Aprini juga merasakan awal kecemasannnya karena merasa minder melihat peserta wawancara lainnya kelihatan lebih bagus, “ Lagian kan saingannya juga ada yang kelihatan lebih

bagus dari kita, jadi saya minder juga..., ...mungkin dari situ juga wala gugupnya ya.”.

Aprini merasa ada tekanan didalam ruangan wawancara. Ia mengatakan kalau pewawancara memiliki kesan wibawa yang tinggi hingga dia merasa tertekan begitu duduk berhadapan dengan pewawancara itu. Bukan hanya itu saja. Aprini juga memiliki tekanan dari dalam dirinya sendiri. Ia menganggap tes wawancara adalah acara formal sehingga ia takut berbuat salah. Jadi ia merasa harus menggunakan kalimat formal, ga bicara yang diatur, pakaian yang bersih dan rapi sampai cara duduk agar terlihat bagus.

Aprini termasuk orang yang introvert. Ia merasa tidak nyaman jika pewawancara bertanya mengenai keluarganya. Dalam situasi seperti itu Aprini sebenarnya mencoba untuk mengendalikan suasana hatinya bahkan apabila ia sudah mulai berkeringat dan merasa ingin buang air kecil ia meyakinkan dirinya “Wawancara ini enggak akan lama.”.

Aprini juga pernah mengalami kegagalan dalam tes wawancara. Menurutnya kualifikasi pendidikan D-3 kurang memadai bila dibandingkan dengan calon karyawan lain. Kegagalan itu juga membuat ia membaca buku-buku tentang menghadapi tes wawancara, jadi sebenarnya ia sudah mempunyai persiapan yang baik. Kecemasannya dalam tes wawancara adalah hal yang mendasar seperti takut salah kostum, takut telat, barangnya yang tinggal, takut bericara berbelit, takut berjumpa dengan pewawancara yang bersifat jutek. Sumber kecemasannya yang besar berasal dari pikiran-pikiran negatif dari dirinya sendiri.

Saat tes wawancara dimulai Aprini berani untuk menatap mata pewawancara, karena memang ia ingin dianggap punya keberanian. Tingkat komunikasi yang dialaminya cenderung kaku. Aprini tidak berani tersenyum jika pewawancaranya tidak mencoba mencairkan suasana, ia taku kalau ia tersenyum pewawancara akan merasa tersinggung karena ini adalah acara formal. Apabila pewawancara mulai melucu maka Aprini pun hanya tersenyum saja.

Aprini tidak selalu terbuka dalam memberi keterangan dalam tahap wawancara, biasanya ia tertutup jika ditanya masalah keluarga. Menurutnya tidak semua masalah keluarga dapat dibagikan dengan orang lain. Mungkin karena hal ini pewawancara terkadang kurang bersikap ramah kepada Aprini, seolah karena kedua pihak tidak mencoba untuk saling membuka diri. Apabila ia belum mengetahui gambaran bagaimana situasi dan kondisi pekerjaan yang ia lamar maka ia tidak akan bertanya kepada pewawancara. Baginya hal itu kewajiban pewawancara untuk memberikan informasi. Apabila pewawancara tidak menyampaikannya maka Aprini pun tidak akan bertanya, dia merasa dirinya tidak ke “pedean” merasa akan diterima di perusahaan tersebut.

Walaupun Aprini mengaku sosok yang ekstrovert saat wawancara, sepertinya ia tergolong orang yang introvert. Menurutnya pewawancara itu yang sulit untuk di akrabkan. Dari keterangan yang diperoleh melalui Aprini, pewawancara penrah mengungkapkan kalau Aprini itu sosok yang pendiam. Menurut Aprini lagi, sebenarnya proses wawancara itu semuanya hampir sama, hanya tingkat akrab pewawancara dan peserta wawancara saja yang berbeda-beda dan cara menyesuaikan diri yang berbeda-beda.

4.2 PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan peneliti, melalui tujuh orang informan, maka dapat dilakukan pembahasan mengenai kecemasan berkomunikasi antar pribadi pelamar kerja dalam tes wawancara kerja dan cara mengatasinya.

44. Kecemasan yang terjadi seringkali berawan dari gambaran- gambaran yang berasal dari diri pribadi. Dalam beberapa kasus informan dapat mengurangi tingkat kecemasan mereka dengan cara melakukan komunikasi bersama orang lain, mendengarkan musik dan mencoba menenangkan diri sendiri. Kebanyakan dari mereka merasakan adanya ketidakpastian akan bagaimana kondisi wawancara nanti. Berger dan Calabrese pernah menuturkan “Untuk dapat berinteraksi denganlancar, terkoordinasi dan dimengerti, orang harus mampu memperkirakan bagaimana rekan bicaranya akan berperilaku, dan berdasarkan

atas perkiraan tersebut, berdasarkan keahlian yang dimilikinya, memberikan tanggapan yang mampu memberikan hasil yang optimal” (Psikologi Komunikasi:88). Secara tidak sadar informan melakukan strategi untuk